MAIN KE BELITUNG #GarudaPoin

Oh! Her Smile 😉 #PulauLengkuas

Suami saya memiliki kartu anggota GarudaMiles Silver yang artinya beliau telah melakukan 10 kali penerbangan / akumulasi perjalanannya mencapai 10.000 tier miles dengan maskapai Garuda. Dari web GarudaMiles.com saya mengetahui beberapa keuntungan dari keanggotaan GarudaMiles Sliver, antara lain : 
1. Mendapatkan miles

2. Menghadiahkan award tiket

3. Menukarkan miles dengan Upgrade Award

4. Checkin counter khusus di Bandara Soekarno-Hatta

5. Mendapatkan 5 kg tambahan kuota bagasi

6. Persentase Tier Miles

7. Prioritas dalam daftar tunggu reservasi tiket

Nah, tanggal 23 Desember 2016 lalu, suami saya mendapatkan info Confirmed! 90% OFF Garuda Miles Redemptions dan beliau langsung meminta saudara kami yang rumahnya dekat dari Mall Kota Kasablanka untuk meng-issued tiket kami ber-enam ke Belitung long weekend ini, 22-24 April 2017. Berikut kutipan dari web-nya :

Garuda Indonesia is launching a promotion on award ticket redemptions. Through the end of the year, you can get 90% off when you use Garuda Indonesia miles for redemptions for flights between February 1 and May 31, 2017. This is absolutely incredible.

Diskon yang ditawarkan sangat menggiurkan lho,yaitu 90% off! Jadi untuk berangkat dari Jakarta menuju Belitung yang jarak penerbangannya terhitung 4000 miles itu, kami hanya perlu membayar 400 miles. Kalau diuangkan biayanya sekitar Rp. 300.000/orang PP. Lumayan banget yaaa mengingat Belitung adalah salah satu heaven on earth-nya Indonesia yang kaya akan eksotisme pantai. 

Alhamdulillaaah, rezeki Aisya jalan-jalan lagi, jalan-jalan hemat maksudnya, yes we are low budget family traveler! Kalau bisa menekan pengeluaran dengan mendapatkan tiket promo/menukarkan poin saat maskapai Garuda memberi diskon 90% seperti ini kenapa engga? Kami juga lebih memilih menginap di Hotel bintang 2 atau bintang 3 yang fasilitasnya cukup bagus dengan harga yang pas di kantong, rata-rata hotel bintang 3 dilengkapi dengan kolam renang, kamar yang nyaman dan breakfast yang beragam. Hotel bintang 2, rate per night-nya lebih murah meski tidak ada pool dan sarapannya sederhana, kalau begini artinya kami memang sengaja tidak mengutamakan makan pagi di hotel dan siap untuk wisata kuliner di tempat yang kami kunjungi! Lupakan pool sejenak, di Belitung banyak pantai, jadi main air-nya di Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, dan pantai lainnya saja. Menghemat uang dengan mencari tiket promo dan memilih hotel yang terjangkau seperti ini, membuat budget yang ada bisa dialokasikan untuk menyewa alat transportasi, menjajal kuliner khas di tempat wisata dan membeli oleh-oleh yang (agak) banyak untuk keluarga.

A Little ‘DRAMA’ In Soekarno-Hatta

Playground di Bandara

Liburan kali ini ada ada beberapa kejadian yang in the end terasa lucu. Pertama, malam hari sebelum berangkat saya mendapatkan informasi bahwa naskah yang saya kirimkan untuk proyek buku 99 Me Time Stories grup ODOP For 99 Days terpilih dari sekian banyak yang mengirimkan naskah, saya sudah deg-deg-an dan berharap kalau memang tahun ini bisa menerbitkan beberapa buku ((AMIIN)), tidak masalah baik buku Antologi/Solo, goal saya adalah berkarya dan ingin agar tulisan-tulisan saya menjadi Amal Jariyah bagi saya kelak, sama seperti apa yang Mbak Inggi utarakan dalam Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi. Alhamdulillah saya senang bukan kepalang, langsung sujud syukur, akhirnyaaa satu keinginan terwujud, saya berdoa semoga tahun ini Allah SWT memberi saya banyaaak kebahagiaan, Amiiin.

Kedua, malam Sabtu itu juga, teman kami Dea dan Mustafa datang berkunjung. Mereka mau berburu buku di Bih Bad Wolf sekalian memenuhi undangan pernikahan kerabat mereka di Bekasi. Saya juga senaaang karena bisa silaturahim dan cerita-cerita sama pasangan Indonesia-Turki ini, buat yang pengen tahu lebih banyak tentang interaccial marriage yang mereka jalani, Dea sudah pernah berbagi dengan saya di Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki). Kebetulan they both kangen sama Turkish Delight dan pas banget di rumah masih ada teh Doguz oleh-oleh dari teman kami yang baru pulang studi dari Turki dan Lokum-manisan khas Turki yang juga oleh-oleh dari saudara kami sepulang Umroh. Semoga green tea Turki dan manisan yang kami suguhkan bisa mengobati rasa kangen kalian sama Turki yaa 🙂

Dea, Emus, Ayah dan Aisya

Ketiga, ini paling lucu. Saya pikir Trip ‘SERU’ Ke Langkawi adalah satu-satunya perjalanan kami yang penuh drama, saya nggak menyangka kalau kali ini juga ada derai-derai keringat hehe. I already pack all the things, sejujurnya 2 hari sebelum berangkat kepala saya migrain, jadi sedikit kurang fokus menyiapkan semua hal. Suami saya juga mendadak sakit pulang dari Diklat, saya sempat bilang, “Yaudah ngga usah berangkat aja gimana?”, secara gitu ya kami berdua lagi kurang fit. Tapi semangat suami untuk jalan-jalan tidak padam, minum campuran air perasan jeruk nipis dan madu serta tidur yang cukup. Saya cek semua, baju, sendal jepit untuk di pantai, alat main pasir Aisya, bekal susu dan camilan Aisya, semua sudah dibawa.
Saya santai saja di Bandara, ketika sampai ke counter check in, “Bu, KTP-nya?”

“KTP-nya, bu?”, tagih petugas-nya lagi.

“KTP saya ketinggalan”, saya langsung sadar kalau KTP saya bersatu dengan Paspor dan tidak saya bawa karena minggu depannya akan berangkat lagi ke Bangkok, supaya praktis dan ngga tercecer maksudnya, eh jadi malah blass lupa!

“Identitas yang lain ada? Apa pun deh, Bu”, ucap petugasnya.

“Nggak ada”, saya jarang bawa dompet kalau traveling karena tas rilakkuma kecil yang saya bawa selalu penuh dengan perbekalan Aisya. 

Ketinggalan KTP Di Bandara, What To Do?

TETAP TENANG, ‘Kalau tenang pasti ada jalan’, batin saya. Saya mencoba take it easy dan at that moment saya benar-benar legowo, tawakal kalau memang ngga bisa banget check in tanpa ID saya nggak jadi berangkat juga ngga apa-apa. 

Dari sekian banyak penerbangan yang saya lakukan (buset dah! Emang udah berapa kali mak?), baru kali ini saya ketinggalan yang namanya kartu identitas. Tepatnya sih karena sudah lama ngga melakukan penerbangan domestik (masa sih? Kan tahun lalu Ke Bali Berdua Sama Aisya), pasti karena migrain (yakali). Ya intinya mah LUPA, yaudah mau digimanain lagi kan? Namanya juga manusia, ada khilafnya, please jangan di bully ya. Air mata sih setetes dua tetes ngeclak, tapi inner voice dari Bapak saya tiba-tiba berdesir di telinga..

“Mbak, hal yang kamu tangisi hari ini, akan kamu tertawakan di kemudian hari” – Bapak.

Saya usap bulir air mata yang sempat menetes, berusaha tetap tenang dan yakin in the future saya pasti menertawakan ke-konyol-an saya hari ini DAN ini menjadi PELAJARAN BERHARGA buat saya, next time I’ll always bring my ID.

Kemudian saya mendengar petugasnya bilang, “Ada orang ngga di rumah, Bu? Minta kirim foto KTP Ibu aja kirim via bbm trus Ibu ke bagian Help Desk For Special Needs minta surat keterangan ya Bu”.

That was the first sign of a result of being calm, ‘Tuh kan kalau tenang bakal terbuka jalannya’, saya bergumam sendiri lalu segera menghubungi adik ipar. Alhamdulillah Sarah sudah pulang dari Tahsin dan ada di rumah, saya langsung minta beliau untuk memfoto dan mengirimkan foto KTP saya. Tak lama foto KTP saya delivered Alhamdulillaaah wasyukurillah, tante-nya Aisya jadi malaikat penyelamat saya hari ini – this is the second prove that a clear mind will lead us to the solution. Di kounter Special Needs saya hanya diminta menunjukkan foto KTP dari HP saya dan tanda tangan sebanyak 3x. Setelah itu saya diberikan surat keterangan yang bisa saya tunjukkan pada petugas saat boarding. “Kun faya kun”, Allah Maha Menghendaki, kalau di Lauh Mahfuz sudah tertulis bahwa takdir akan membawa saya menemani suami dan Aisya ke Belitong, maka jadilah. Subhanallah.

Di Punthuk Setumbu, Rangga bilang sama Cinta kalau traveling itu penuh kejutan. Kejutan ini yang bikin traveling lebih dari sekedar wisata. 

One problem solved, saya masih agak deg-deg-an sih. Bismillah, mari kita lihat ada kejutan apa lagi di traveling keluarga kali ini.. 

Modo, Hara dan Poli dari Garuda

Halooo, ini Hara!

To cool down the ‘atmosphere’, now I want to talk about happy things that we experienced during our flight with Garuda Indonesia. Di penerbangan kali ini banyaaaak banget hal yang bikin happy terutama karena Garuda Airlines memberi banyak fasilitas buat penumpangnya, terutama buat anak piyik kaya Aisya. Karena masih batita, Aisya diberikan selimut selama perjalanan (ini sih pas pulang) dan selama 3 kali penerbangan, Aisya dapat 3 boneka. Kok tiga kali? Iya penerbangan pertama dari Jakarta-Belitung, Aisya dapat boneka Modo, lalu pulangnya kami naik pesawat kecil dulu dari Belitung-Palembang (transit sebentar di Bangka), Aisya dikasih Hara dan lanjut naik pesawat dari Palembang-Jakarta, Aisya diberi Poli.

“Mami look its a tiger, rawwrr. Mami look it has a tail!”, Aisya girang banget waktu main sama Hara – sang Panthera Tigris Sumatrae. Begitu dikasih Poli, Aisya juga langsung mengepakkan kedua sayap boneka Elang tersebut ke udara. Daaan, ini pertama kalinya Aisya kenalan sama yang namanya Komodo, hmm saya memang belum pernah menunjukkan hewan jenis ini pada Aisya. Modo ini unik lhoo karena warnanya putih! Jadilah selama penerbangan kami nggak bobo, karena asik bikin mini puppet show di pesawat. Hihi lucu dan seru.

Selamat Datang Di Kabupaten Belitung


Saya pernah menonton film Laskar Pelangi yang fenomenal itu, tapi sudah cukup lama. Penulisnya, Andrea Hirata membuat turis lebih banyak datang ke Belitong setelah film-nya rilis. Belitong, is really beautiful and peaceful. Its like a hidden treasure to me. 

Jalanan di Belitung sangat bagus, lengang tidak banyak motor, mobil, dan yang lalu lalang. Udara di Belitong juga sangat sangat sangat FRESH! Rumah penduduknya rata-rata masih bergaya tempo dulu, dengan pintu kayu dan jendela garis-garis, beberapa rumah memiliki sumur di luar yang digunakan untuk menimba air dan mencuci piring. Uniknya, rumahnya berwarna-warni dengan taman dan pagar sederhana, bikin adem mata. Ada keinginan untuk memotret rumah-rumah disana tapi khawatir kurang ahsan, Alhamdulillah museum kata Andrea Hirata desainnya mirip colorful housing yang ada di Belitong, jadi cukup merepresentasikan rumah-rumah disana. Nanti saya tunjukkan fotonya yaa.

Fasilitas Di Central City Hotel

Disini Hotel-hotel pun baru mulai dibangun. Mall dan bioskop juga nggak ada, adanya toko yang lumayan besar, itu juga hanya 2 tingkat. Speaking about Hotel, kami menginap di Central City Hotel. Memang sih letaknya tidak terlalu dekat dengan pantai, but we’re lucky karena airnya bersih. Ada hotel yang lokasinya di dekat pantai dan air-nya berwarna kuning. Kamarnya nyaman dan cukup luas, dilengkapi AC dan water heater, koneksi wifii juga lumayan bagus tapi not all the timebreakfast-nya cukup beragam, ada nasi, mie, sayur, daging ayam, bubur, roti, kopi, teh dan susu. Biaya menginap disini Rp. 200.000/malam, affordable right? Karena di Belitong ini belum ada layanan grab/uber/gojek, taxi pun adanya baru-baru ini, kami memilih untuk sewa motor dengan charge Rp. 70.000/hari. Disini juga jarang ada SPBU jadi untuk mengisi bahan bakar motor yang disewa dari Hotel, kami beli bensin literan di warung-warung. 

Kalau teman-teman mau menginap disini, lokasinya ada di Jalan Veteran No.7, Parit, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung ya.

Pantai Tanjung Pendem

Pesawat yang kami naiki landing di tanah yang basah habis terguyur hujan, katanya memang 2 hari ini hujan lebat terus. Berhubung sudah sore, setelah menyimpan barang di Hotel, kami main dulu ke pantai yang dekat. Namanya pantai Tanjung Pendem. Sebelum masuk, kita harus membayar retribusi sebesar Rp. 2000/orang. Di dekat pantainya ada area bermain untuk anak. Pantai Tanjung Pendem ini didominasi oleh pasir, area lautnya lumayan jauh dari tempat parkir. Lautnya tenaaaaang sekali, disini Aisya dan Fayyadh (anaknya saudara) main pasir saja di pinggir pantai karena banyak anak-anak kepiting yang keluar dari lubang di dekat area lautnya. 

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Aisya dan Fayyadh di Ruma Makan

Malamnya kami menjajal kuliner khas Belitung di Ruma Makan Belitong Timpo Duluk di Jalan Lettu Mad Daud, Kampung Parit, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.

Desainnya lagi-lagi jadul, di dindingnya ada banyak foto, nampan dan pajangan lainnya. Mereka juga memajang TV klasik di sudut ruangan.
Makanannya? Hmm sedaaap. Saya memesan Nasi Gemok seharga Rp. 20.000, nasinya gurih seperti nasi uduk, disajikan dengan ikan bilis (ukurannya lebih besar dari ikan bilis yang ada di RM Minang) dan kuah santan bercampur Belimbing. Selain menu satuan, rumah makan yang lokasinya berhadapan dengan Masjid Jamek Hidayatullah ini juga menyediakan paket menu untuk beberapa orang, yaitu 1 bakul nasi dengan beragam lauk. Oia satu lagi yang saya suka, mereka menggunakan piring seng lho untuk tempat makannya. Kalau main ke Belitung, I recommend you to eat here.

Setelah makan kami strolling around sebentar sambil cari baju renang buat Fayyadh karena besok kami akan Island Hopping ke beberapa pulau. Ke pulau mana saja dan berapa budget-nya? Aisya senang ngga naik boat? Pulau mana yang paling bening? Click this post yaa Island Hopping Di Belitong

Advertisements

4 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s