Island Hopping Di Belitong

Crystal clear water at Pulau Pasir

Are you ready to follow our journey? šŸ˜‰ Buat teman-teman yang belum tahu gimana ceritanya Aisya bisa ‘terdampar’ di pulau-pulau di Belitong, please kindly visit Main Ke Belitung #GarudaPoin 

Disitu, saya sharing tentang garuda poin dan diskon 90% dari Maskapai Garuda pluuus drama di Bandara karena saya lupa bawa KTP, sure I’m not proud of this, but perhaps the information that I put there could give a little help to those who needs, cheers!

Ok, lanjut yaa. Hari kedua di Belitong, kami berencana untuk Island Hopping. Island Hopping ini starting point-nya dari Tanjung Kelayang yang jaraknya sekitar 20 Km dari Centra City Hotel. Hm, lumayan jauh juga ya secara dari Dago ke Caheum saja yang jaraknya 10 Km bisa memakan waktu 1 jam kalau naik mobil, eh tapi itu kan Bandung yang ada beberapa layer macet dan lampu merahnya. Karena jalanan di Belitong ini lengang banget, jarak 20 Km bisa ditempuh dengan waktu lebih cepat, kira-kira 50 menit-lah, didukung oleh kondisi jalan yang bagus, no traffic light, dan naik motor. Di tengah jalan, kami sempat isi ulang bensin literan dulu sambil beli snack untuk Aisya dan Fayyadh.

Jalanan kosong, ‘pertamini’ & Aisya

Sampai di Tanjung Kelayang, kami langsung ganti pakaian (saya engga, hanya suami dan saudara). Disana ada toilet yang bersih. Lalu kami menyewa pelampung dan boat dari Kedai Asahan (rumah makan di pinggir pantai). Kami berenam naik satu boat, pengemudinya Bapak-bapak yang sudah ubanan tapi masih jagjag, makasih ya Pak sudah membawa kami jalan-jalan di laut šŸ™‚
Pulau yang kami tuju pertama kali adalah Pulau Lengkuas, perjalanan menuju dan dari Pulau Lengkuas ini sangat berkesan buat saya, kenapa? Baca terus yaa..

Naik Boat Ke Pulau Lengkuas

View from our boat

Waktu kami ajak naik ke boat, Aisya nggak mau. Diminta pakai pelampung juga ogah. Tapi setelah dibisiki oleh Ayah, Aisya lama-lama mau pakai pelampung, selama di boat Aisya diaaam saja, biasanya kan ceriwis, malah sempat nangis.. Setelah sampai di Pulau Lengkuas, Aisya masih kerung, main pasir nggak mau, main ke pantai belum mau. Maunya peluk saya saja sambil minum air kelapa.

“De, Ayah mau naik ke mercusuar, dede disini aja ya”, kata Ayah, bikin Aisya melepas pelukannya dan tertarik ikut Ayahnya. Tapi nggak jadi, karena ada 360-an anak tangga yang harus dinaiki untuk sampai ke atas dan Ayah nggak kuat kalau sambil bawa Aisya. 

Tiba-tiba Aisya bilang, “Mami, aku mau ganti baju”.

“Ganti baju beach?”, saya memastikan.

“Iya”, jawab Aisya.

Saya tersenyum dan mengganti pakaian yang Aisya pakai dengan baju renang lungsuran tante Arum. Yipiiiee Aisya sudah semangat lagi nih. Langsung deh Aisya-nya lari ke pinggir pantai, nyanyi lagu Moana sambil main ombak dan menghampiri Fayyadh yang sudah lebih dulu main pasir.

Main pasir di beningnya pantai Pulau Lengkuas

Sekarang mau bahas sedikit tentang asal muasal nama Pulau ini ya. Awalnya sih saya pikir pulau ini dinamakan Pulau Lengkuas karena bentuknya seperti Lengkuas kalau dilihat dari atas mercusuar, dimana lengkuas adalah bumbu masak yang suka saya pakai kalau bikin opor, kari dan tumis-tumisan. Ternyata analisis sotoy saya itu meleset. Jadi yang betul adalah, di pulau ini ada mercusuar dan rumah panjang berwarna putih, dahulu orang Belanda menyebutnya “Long House”. Karena agak sulit melafalkan “Long House”, orang Belitong bilangnya “Lengkuas”, sejak saat itulah pulau ini famous dengan sebutan Pulau Lengkuas. Pasir di pantai ini lembuuut sekali, di bagian atas ya yang belum tersentuh air pantai, kalau di pinggir pantai nggak terlalu lembut tapi juga nggak nempel ke tangan. Ada batu-batu kecil di pantainya sehingga kita, terutama anak-anak harus hati-hati saat berjalan di pantai supaya nggak kecugak kaki-nya. Saat Aisya main air dan pasir saya iseng-iseng mengumpulkan potongan kerang yang lucu-lucu.

Pasir putih yang lembut di Pulau Lengkuas

Aisya masih asik main di pantai saat Ayah mengajak kami hopping to another island, Bapak nelayan yang membawa kami menyarankan agar kami pergi ke Pulau Pasir, saya setuju saja sama Bapaknya dan di tengah jalan Ayah dan Abi Fayyadh ditawari untuk snorkeling sama Bapaknya. Tentu saja suami saya said yes untuk snorkeling. Aisya memperhatikan Ayahnya yang terlihat lucu memakai peralatan snorkeling sambil ketawa-ketawa, setelah Ayah nyebur, Aisya menaburkan remahan cracker yang kami beli agar ikannya berkumpul mendekati Ayah. Kami nggak lama kok berhenti di tengah lautnya karena ingin segera melihat Pulau Pasir. 

Ada yang mood-nya lebih happy nih šŸ™‚

Mesin perahu kembali menyala, bau bensinnya sedikit tercium, kami mulai berlayar dan terombang-ambing lagi di lautan yang luas, tapi ada yang berbeda. Aisya terlihat lebih senang, nggak takut lagi duduk di boat, bahkan senyum-senyum gembira. Hihi Alhamdulillah Aisya sudah berani yaa, saya senang deh lihat Aisya enjoy selama di boat.

‘Surga’ Di Pulau Pasir

Perahu yang kami naiki berlabuh dengan smooth di Pulau Pasir. Saya memilih untuk loncat dari boat dan tidak turun menggunakan tangga. Pantainya sangat mempesona, its dreamy..

Pulau Pasir, oh Subhanallah indah bangeeet. Berasa di Maldives saya mah ahaha, nggak usah jauh-jauh ke Maladewa disini juga lautnya beniiiing banget. Pulau pasir ini kecil sekali, pulaunya terbentuk dari gundukan pasir putih yaaang kalau diinjak itu lembut syekali. Disini sudah nggak pakai aba-aba, Aisya langsung nyemplung dengan berani dan main air dengan bahagia. Lagi-lagi saya ikut bahagia melihatnya. Ombak di pulau-pulau Belitong cenderung landai jadi relatif aman untuk anak-anak bermain. Suasana disini so peaceful, rasanya ingin berlama-lama disini.. Its so pretty, you have to see it by yourself to feel what I feel. Subhanallah.. Its like a heaven on earth..

My brave girl!

Karena pulau-nya berada di tengah laut dan kecil, otomatis pulau pasir ini bersih banget. Nyaman banget laying down disini. Kita bisa bermanja-manja dengan air lautnya, mengagumi keindahan warna air lautnya yang bak gradasi warna dari krem – bening – hijau toska – biru, melihat pulau lain dari sini dan memandangi langit yang luas. Dan kalau beruntung kita bisa menemukan bintang laut disini..

Crystal clear water at Pulau Pasir

Oh, could we stay here longer?
Ahaha, sayangnya kami harus beranjak menuju pulau selanjutnya, kurang puas sih tapi harus lihat sikon juga ya. Matahari semakin terik, kulit anak-anak sudah terlihat tanned, jadi kami lanjut lagi hopping ke pulau Garuda dan Kepayang tapi nggak turun. Di Pulau Kepayang ini katanya best buat makan ikan, tapi suami memilih untuk kembali ke Tanjung Kelayang, sekalian kami meneruskan traveling hari ini ke Tanjung Tinggi, tempat syuting film Laskar Pelangi.

Tanjung Kelayang

Sementara Ayah dan saudara kami berteduh di rumah makan Asahan, Aisya yang masih ingin berlama-lama di pantai asik sendiri main di Tanjung Kelayang. Pantai ini juga nggak kalah indah meski Pulau Pasir tetap juara. Tanjung Kelayang adalah pantai yang tenang, tidak berombak, kalau pun ada kecil sekali. Banyak perahu yang parkir di pantai ini, para nelayannya dari pagi sampai sore mengantar penumpang ke pulau-pulau dan malam harinya memancing. Mumpung pakaian saya belum kering, saya temani Aisya bermain. Kami berburu harta karun, harta karunnya itu cangkang kerang!

Saya dan Aisya akan mencari sea shell, kalau kelihatan ada cangkang kerang, Aisya akan menggali pasir dan mengambil cangkang kerangnya. “Mami, aku mau clean up sea shell-nya ya”, kata Aisya sambil membawa ‘harta karun’ temuannya ke laut. Semua cangkang kerang yang berhasil dikumpulkan kami masukan ke keresek dan dibawa pulang, lumayan buat oleh-oleh untuk grandpa, uti, aunty, uncle, bibi, seeemuanya! Hehehe.

Look, we find many sea shell šŸ™‚

Tibalah waktunya makan siang, kami memesan 1 porsi ikan Bulat dan tumis kangkung untuk dimakan bersama. Aisya dan Fayyadh makan siang dengan telor ceplok karena ikannya berbumbu pedas. Untuk minumnya, suami saya meminta segelas jeruk hangat dan ketika dihidangkan, lho kok kaya air mineral? Hehe. 

Ternyata jeruk yang mereka gunakan adalah jeruk kunci, jeruk khas Belitong yang air perasannya berwarna bening, tapi rasa jeruknya kuat. Jeruk kunci ini biasa ditanam di rumah masing-masing, jadi semacam home industry juga bagi orang Belitong. Di rumah makan Asahan ini juga kita bisa mandi, ada banyak kamar mandi untuk bilas disana. Beberapa baju yang basah juga kami jemur sambil menunggu sore tiba, lumayan kan jadi nggak terlalu berat di tas.Oia untuk biaya sewa pelampung, snorkeling, dan Island Hopping kami hanya perlu membayar Rp. 600.000 dan untuk makan siangnya all Rp. 191.000, murah yaaa. Ya Allah semoga rizki Bapak-bapak ini makin lancar ya Allah, Amiin.

Ikan Bulat

Ada satu hal lagi yang menarik dari orang-orang Belitong. Mereka sangat ramah, helpful dan cinta damai. Sampai ada yang bilang, “Disini orang simpan motor ada kuncinya di pinggir jalan pun nggak ada yang ambil. Disini aman”. 

Daaan benar saja, saat kami mau berangkat ke Tanjung Tinggi, saudara kami baru sadar kalau kunci motornya ngegantung sedari tadi di motornya dan nggak ada yang bawa kabur itu motor sewaan. Tapi sayangnya, mesinnya nggak bisa nyala saat di-starter. Beberapa orang datang membantu menyalakan motor, mendorong dan memeriksa motornya, mereka bilang, kemungkinan ACCU-nya habis. Alhamdulillah orang Belitong ramah-ramah, pihak hotel pun segera mengirim motor baru setelah suami saya menelepon, hebatnya lagi, mereka tidak membuat kami menunggu lama, hanya 30 menit! Padahal jaraknya 20 Km, mungkin mereka ngebut yaa.. Service excellent deh. 

Tanjung Tinggi – Pantai Laskar Pelangi

“Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

Laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa”

Lantunan lagu Laskar Pelangi diatas reflek berputar di kepala saya saat tiba di pantai ini. Tanjung Tinggi dikenal juga dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi, jelas karena lorong yang terbentuk oleh banyaknya batu granit raksasa di pantai ini menjadi tempat Ikal, Arai dan teman-teman lain berlarian di film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata – orang asli Belitong -, pasca rilis, film dan novelnya membuat lebih banyak orang berkunjung ke Belitong, and this actually good. Bang Fedi yang mengantar kami jalan-jalan ke Belitong Timur di hari ketiga mengatakan bahwa, sekarang banyak orang Belitong yang tidak bekerja di tambang timah lagi, beberapa tambang sudah tutup sehingga mata pencaharian penduduk disini sekarang adalah berkebun dan menjadi nelayan, seperti yang saya sebutkan di atas, pagi-sore mereka mengantar tamu ke pulau dan malamnya mencari ikan. Masyarakat Belitong berharap dengan berkembangnya pariwisata di Belitong, perekonomian mereka akan membaik, itulah mengapa saat ini beberapa hotel mulai dibangun, begitu juga dengan pengadaan taxi. Masih banyak yang harus diperbaiki agar Belitong makin cantik dan memikat lebih banyak turis.

“Ibarat anak sekolah, Bali itu udah kuliah. Kalau Belitong masih anak SD”, lagi kata Bang Fedi. Bang Fedi ini lulusan sekolah pariwisata dan bekerja di pemerintahan, kalau libur beliau ambil job sampingan yaitu menyewakan mobil sekaligus jadi driver dan tour guide-nya.
Balik lagi ke Tanjung Tinggi, di pantainya itu banyak anak-anak dan remaja yang berenang, baik dengan ban biasa, pelampung, ban angsa yang lagi hits di foto-foto selebgram, ada juga yang pakai boat karet sambil mendayung. Kami menahan diri untuk bergabung dengan pengunjung lainnya di pantai karena Ayah mengajak kami mengitari batu-batu granitnya terlebih dahulu. Kami masuk ke lorong yang terbentuk dari dua batuan yang saling berhadapan, manjat ke batu granit yang agak besar (saya harus ekstra hati-hati karena licin), turun lagi ke bawah dan menyusuri jalan di antara batu granit. Jujur saya kagum sama Aisya yang berani naik-naik ke batu granit dan ber-pose disana hihi peace.

Ayah melompat, terlihat Aisya dan Fayyadh sedang main pasir dari kejauhan.

Beberapa lorong terlalu sempit untuk kami lewati dan enaknya manjat-manjatnya lepas alas kaki supaya lebih kuat berpijak. Puas berkeliling, kami cari tempat yang cukup private, tinggi airnya cukup aman buat Aisya main air dan cukup dekat untuk Aisya dan Fayyadh main pasir. Kalau dilihat-lihat area ini mirip teluk mini yaa šŸ™‚ Beberapa remaja pria berlarian dan loncat dari atas batu granit langsung ke air, lalu mereka main perang-perangan dengan saling melempar segenggam pasir. Spirit of the youth yaa..

Happy Jasmine chillin’ with Ayah

Di area Tanjung Tinggi ini juga dilengkapi dengan tempat bilas dan Masjid, jadi buat yang mau mandi dan solat terfasilitask dengan baik yaa. Sebagai penutup perjalanan kami hari ini, malam harinya kami mencicipi Mie Atep Belitung yang terkenal. Kabarnya, kalau artis-artis main ke Belitong pun makannya disini. 

Mie Atep Belitung

Pic taken from Trip Advisor

Tempatnya sederhana di rumah yang berbentuk ruko, pas kami datang tempatnya penuh jadi kami antri dulu. Nggak lama, banyak orang yang ikut mengantri di belakang kami, wiiih kayaknya everyone favorite nih Mie Atep Belitung. Saya yang memang lapar bersyukur banget ketika dua orang Bapak mempersilakan kami duduk di tempatnya karena mereka sudah selesai makan. Kami memesan 2 piring Mie dan 2 gelas teh hangat (Aisya sepiring dengan saya). Mie Atep ini khas banget karena koki-nya hanya satu dan sudah nenek-nenek, sudah lama juga nenek tersebut jadi chef disini. Ada 4 orang lain yang membantu, semuanya wanita, yang satu kasir, dan yang 3 lagi bantu-bantu menambahkan cakue, emping, mengambilkan minum, memasangkan sendok dan garpu serta mengantarkan Mie ke meja-meja pengunjung. But nobody touch the noodle and the kuah but the grandma..

Rasanya gimana? Hmm kuahnya itu manis, agak sedikit mirip rasa kwetiau Langkawi tapi thank God, kuah Mie Atep ngga se-lekoh kwetiau Langkawi. Nah rasa manisnya itu seperti rasa manis yang jadi ‘selai’ di lumpia basah. Mungkin bahannya sama hanya yang ini ditambah kuah jadi lebih encer. Isian di dalamnya ada mie, cakue, emping, udang dan kentang. Enak disantap hangat-hangat. Makin malam, antrian makin panjang, kami segera membayar dan pulang ke hotel karena besoknya kami harus berangkat ke Belitong Timur pagi sekali. Artinya, malam ini harus beres packing supaya subuh-subuh nggak hectic hehe.

Thanks for reading our traveling story. To be continued to Ada Apa Aja Di Belitong Timur? Yaa šŸ™‚

Advertisements

4 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s