Ada Apa Aja Di Belitong Timur?

Perahu – Aisya – Pantai Serdang

Ini adalah hari terakhir kami di Belitung, kami bersiap sejak subuh, memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal dan membopong Aisya yang masih mengantuk untuk sarapan. “Bobo-nya dilanjutkan di mobil ya de”, ucap Ayah.
Pagi ini kami akan berangkat ke Belitung Timur, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Belitung Timur menggunakan mobil sewa dari tempat kami menginap. Review Central City Hotel ada di MAIN KE BELITUNG #GarudaPoin ya. Selesai menyantap mie dan roti panggang (dua-duanya karbo ya), kami naik ke mobil dan meluncur ke Belitong Timur.

Bang Fedi, driver kami nampaknya sudah biasa menyetir jauh. Lagi-lagi jalanan terlihat sepi, hanya ada satu dua mobil yang melintas di jalan yang kami lalui. Kalau lagi traveling begini, saya sulit memejamkan mata karena tidak mau melewatkan pemandangan yang indah di luar jendela mobil. Di kiri-kanan jalan bisa kita lihat kebun-kebun, rawa, sungai, rumah-rumah lucu, toko-toko, alun-alun dan lain-lain. 

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata – tampak depan
Tujuan pertama kami pagi ini adalah mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata. Saya sudah semangat ingin masuk dan membaca karya-karya yang ada di dalam, hanya perlu membayar Rp. 50.000 rupiah kok dan kita bisa mendapatkan buku saku. Sayangnya saat kami tiba masih tutul, jadi kami hanya berfoto di depan bangunannya saja. Desain museum ini yang saya bilang cukup merepresentasikan rumah-rumah timpo duluk yang berwarna-warni di Belitung. 

Museum yang luas ini dikelola oleh Andrea Hirata sendiri (bukan sama pemerintah) dan di dekat museum bisa kita lihat rumah orang tua Andrea Hirata yang berwarna kuning. Daripada menunggu lama sampai museumnya buka, kami memilih untuk meneruskan wisata ke sekolahnya Lintang.
Baca juga : Island Hopping Di Belitong

SD Muhammadiyah Gantong

Ini adalah replika dari sekolahnya Lintang, Ikal, Arai yang ada di film Laskar Pelangi. Sengaja dipindahkan ke tempat yang lebih mudah dijangkau oleh pengunjung karena lokasi aslinya berada jauuuh di dalam hutan. Disini kami bertemu dengan anak laki-laki bernama Dendi. Dendi sengaja mengayuh sepedanya untuk main kesini. 

Aisya dan Dendi di depan pintu kelas

“Mami, gurunya ada ngga?”, tanya Aisya mengintip dari celah pintu.
“Ngga ada sayang, libur”, jawab saya sekenanya, hehe.

“Boleh masuk ngga ke kelasnya?”, tanya Aisya lagi.

“Boleh kalau udah dibuka sama Pak Tua”, jawab Dendi.

“Dendi sekolahnya kelas berapa?”, kali ini saya yang bertanya.

“Kelas enam”, jawab Dendi.

Setelah ngobrol dan berfoto di beberapa spot, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Serdang.

Pantai Serdang

Kami sampai ke pantai Serdang sekitar pukul 10 pagi. Pantainya sepiiii sekali, hanya ada 3 orang warga lokal yang berendam di pinggir pantai, yaitu seorang Ibu dan dua orang anaknya. Pantainya indaaah sekali, pasirnya putih, sayang di beberapa area ada sampah sisa maraknya turis di malam Senin. Di pinggir pantai ada beberapa perahu dengan warna mencolok yang parkir, mungkin para nelayan yang pulang tadi pagi sengaja menambatkannya disana. Air lautnya bersih, pantulan sinar matahari di air membuat saya terkesima. Subhanallah beautiful.

Kalau dikelola dengan baik, pantai ini pasti akan menarik lebih banyak pengunjung. Di area pantainya ada playground untuk anak, sementara Aisya dan Fayyadh main ditemani Ibu-ibunya, para Bapak memesan air kelapa dan gorengan. 

Taman Cemara ini masih satu lokasi dengan Pantai Serdang

Ada satu makanan yang menurut saya enyaaak, rasanya seperti pempek, isinya telur dan diberi bumbu kacang, mereka menyebutnya Bakso. Whatever the name is, makanan ini enak dan bikin kenyang 🙂

Danau Kaolin

Tempat terakhir yang kami singgahi sebelum ke Bandara adalah Danau Kaolin. Danau ini terbentuk dari limbah pabrik kaolin, kaolin ini bahan yang bisa kita jumpai di beberapa kosmetik. Amazingly, limbah yang dihasilkan terbendung dan jadi daya tarik yang indah, warna danaunya hijau toska. Sayangnya area ini terasa sangat silau dan panas, jadi kalau kesini sebaiknya bawa payung dan kacamata yaa.

Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin

Bandara di Belitung ini tidak terlalu besar, begitu sampai di depan pintu kita bisa langsung masuk, memeriksakan tas dan koper kita di mesin X-Ray kita, lalu check in. Untuk kepulangan ini, saya kembali menunjukkan foto KTP saya, plus fotokopi KTP suami saya, baru setelah itu saya diberi surat keterangan yang bisa saya gunakan sampai Bandara Soekarno Hatta.

“Disini ngga ada Starbucks ya?”, tanya saudara saya. Jawabannya ngga ada, resto fast food juga ngga ada, adanya satu kantin yang menjual berbagai minuman dengan beberapa menu seperti soto daging dan soto ayam. That’s what we order for lunch. 

Okey, for this last post of Main-Ke-Belitung-Trilogy, I just want to keep it this simple. Thank u for visiting my blog. Ayo main ke Belitung! 😉

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s