Serundeng Suir Ayam 

Haaaii Moms 🙂 malam Senin nih, kebetulan habis masak serundeng ayam jadi mau sekalian bagi-bagi resep ya. Seperti biasa, its a Mami Jasmine simple recipe. Bahannya mudah didapat dan cara bikinnya sangat simpel.

Kalau biasanya saya pakai satu ekor ayam yang dipotong-potong, sekarang saya sengaja pakai dada ayam berukuran sedang. Daging ayamnya saya iris tipis-tipis, seperti disuir namun dengan ukuran yang lebih besar.

Dengan disuir seperti ini, bumbunya lebih meresap saat diungkep bersama parutan kelapa dan bumbu ayam goreng instan.

Baca juga : Tahu Bandung Bumbu Pecel

Sekarang kita lanjut ke bahan dan cara bikinnya. Jangan lupa baca bismillah saat menyiapkan bahan dan mulai memasak ya agar masakan kita tidak hanya terasa enak tapi juga menjadi ibadah bagi kita 🙂

Bahan :

1. Dada ayam ukuran sedang satu potong

2. Kelapa parut satu plastik

3. Bumbu ayam goreng instan

4. Garam dan gula

5. Air untuk merebus bahan 1,2 dan 3

6. Minyak untuk menggoreng

7. Piring saji

Cara Memasak :

1. Cuci bersih dada ayam lalu iris tipis-tipis. Bisa disesuaikan dengan selera masing-masing ya, kalau saya sekitar 2 ruas jari tangan.

2. Panaskan air, setelah mendidih masukkan sedikit garam, gula, ayam potong beserta parutan kelapa juga bumbu ayam goreng instan.

3. Ungkep hingga air di panci surut dan bumbu meresap dengan baik. Lalu matikan api dan diamkan sebentar.

4. Masukkan ayam suir yang sudah diungkep secara bertahap ke dalam wajan berisi minyak dan goreng dengan api sedang.

5. Sesekali dibalik dan dioseng-oseng agar dasarnya tidak gosong. Sabar yaa it takes time to get it really cooked. 

6. Setelah ayam suir dan kelapa parutnya sudah terlihat matang, warnanya golden brown, bisa kita angkat ya.

7. Ambil piring saji, tata serundeng suir ayam yang sudah ditiriskan, lalu hidangkan di meja bersama nasi hangat, bisa ditambah sambal juga timun kalau mau 🙂

One thing I’ll add to this recipe, menggoreng ayam serundeng ini agak tricky karena kadang kelapa parutnya keburu berwarna cokelat dan ayamnya belum benar-benar matang.

Cara menggorengnya pun bervariasi, ada yang digoreng ayamnya dulu lalu kelapanya digoreng di akhir. Ada juga yang ditumis dengan sedikit minyak dan digalo-galo hingga matang sempurna, namun teknik ini membuat ayamnya tidak krispi sedangkan saya lebih suka yang terasa crunchy.

Nah dengan menyuir ayam dan merebusnya bersama kelapa parut hingga empuk, kita tidak membutuhkan waktu lama saat menggorengnya. Saya pun berani menggorengnya dengan api sedang, sambil sesekali membalik-balikkan ayamnya. Dengan teknik ini, ayam suir dan kelapa parutnya meraih kematangan dalam waktu yang sama.

Kelapa parutnya memang akan nampak lebih cokelat and that’s taste better. Ayamnya yang berwarna ke-kuningan juga terasa renyah.

Oia, kalau kita mau menyimpan serundeng suir ayam yang sudah diungkep di kulkas juga bisa. Tinggal kita keluarkan saat mau menggoreng. Praktis kan? 🙂

Hmm, writing this recipe make me hungry. Now I’m going to eat Serundeng Suir Ayam that I made yaa. 

Selamat mencoba resep ini Mami-mami cantiiik 😉

Tahu Bandung Bumbu Pecel

Assalamu’alaykum. Ibu-ibu suka tahu? Sama dooong 🙂 biasanya masak tahu-nya di-apa-in nih?

Dibikin tahu bejek cabe garam, digoreng tepung, dibuat perkedel tahu, disayur, digoreng garing lalu ditumis bareng kentang atau digoreng hangat-hangat lalu dimakan? Banyak yaa resepnya.

Nah kali ini saya mau berbagi resep tahu yang praktis banget tapi rasanya endeeeus. Bahannya cuma dua, yaitu tahu Bandung yang enak dan bumbu pecel.

Baca juga : Resep Praktis Serundeng Suir Ayam

Tahu-nya tinggal dipotong jadi segitiga, saya suka menyayat bagian tengahnya sedikit agar bagian tengahnya ikut krenyes krenyes saat digoreng. Sambil menunggu tahu-nya matang kita bisa menyiapkan bumbu pecelnya.

Seduh bumbu pecel (saya beli di warung) dengan air panas secukupnya. Usahakan tidak terlalu encer yaa. Setelah bumbu pecelnya teraduk rata, kita hidangkan di meja bersama goreng tahu.

Supaya lebih enak, bisa kita tambahkan kerupuk dan tauge (kalau suka). For me this is enough. Nyammm selamat makaaan 😉

SAWADEE KHA! BANGKOK (part1)

IMG_20170502_125200

Assalamu’alaykum Mommies & friends 😊 Minggu ini saya mau share cerita traveling keluarga ke Bangkok awal Mei lalu. Ya this is a very late post, pending sekitar 1 bulan lebih, hehe. Kenapa ya? Sebetulnya sih karena ada banyak hal yang ingin diceritakan and because I want to write a lot of things, jadinya saya perlu waktu khusus untuk menuangkan memori-memori perjalanan kami ke Bangkok dan Pattaya 1-5 Mei 2017 ini.

Ok now, I’m ready. Bismillah.

This is our first time going to Bangkok. Saya excited banget dari setahun yang lalu saat suami mem-booked tiket AirAsia – ya lagi-lagi AirAsia, pelanggan setia nih karena banyak promo – pas lagi ada promo juga saat itu. Dan traveling kali ini waktunya lebih lama dari traveling sebelum-sebelumnya, terhitung 5 hari include berangkat dan pulang. Karena banyak artis dan event internasional yang dihelat di Bangkok, saya pikir Bangkok is a very beautiful big city yang penampakannya lebih kece dari Malaysia. So, Bangkok is on our list to go!

Persiapan Traveling Ke Bangkok

Ceklist

  1. Bikin Check-list
    Masih inget kan a little drama that I have di bandara Soekarno Hatta saat mau Main Ke Belitung? Yap! Gara-gara pernah ketinggalan KTP, untuk liburan kali ini saya sengaja bikin yang namanya check list. Dalam check list yang saya buat, saya bagi-bagi barang mana saja yang harus ada di koper dan di ransel. Alhamdulillah checklist ini sangat membantu. Pas pulang juga saya cek lagi barang-barang, mengantisipasi supaya ngga ada barang yang tertinggal.
  2. Membawa 2 koper dan 2 ransel
    Karena jalan-jalan ke Bangkok memakan waktu 5 hari dan kami berniat membeli cukup banyak oleh-oleh dari Bangkok, kami membawa 2 koper. Koper yang satu full berisi pakaian dan susu kotak Aisya. Dan satunya lagi hanya beberapa baju, jadi sangat ringan. Koper yang berat kami masukkan ke bagasi, sementara koper yang ringan kami taruh di cabin.Ransel tetap harus bawa. Ransel saya seperti biasa, berisi bekal Aisya, mainan, baju ganti dan barang-barang penting milik saya. Sementara ransel Ayah berisi his stuff dan kamera.

Baca juga : Tips Traveling Dengan Anak (Balita)

Penerbangan Pagi Dari Soekarno Hatta – Don Mueang

IMG_20170501_171630

Antrian Taxi di Bandara Don Mueang

Persiapan yang cukup baik membuat suasana keberangkatan lancar. Penerbangan kali ini cukup lama, jadi saya membawa beberapa boneka juga buku gambar untuk mengisi aktivitas Aisya selama di pesawat. Biasanya kan kalau flight-nya hanya 1-2 jam Aisya ngga bakal tidur. Ajaibnya, seolah tahu bakal lama di perjalanan, begitu tinggal landas, Aisya langsung bobo pules. Alhamdulillah 5 jam terlewati dengan smooth. Thanks Aisya.

Di bandara Don Mueang ada beberapa fasilitas yang menguntungkan bagi para Ibu dan Ayah yang membawa anak. Mereka punya counter khusus Orang tua dan anak, sehingga antrian untuk saya dan Aisya di bagian imigrasi lebih cepat.

Begitu menuruni eskalator, hendak mengambil koper dari bagasi, ada seorang Ibu mendekati suami dan menawari Sim Card Thailand dalam bahasa Indonesia. Waw! I think it’s a prove that many Indonesians coming here. Oh wait, you’ll be more surprise, saat belanja di Asiatique, ada pedagang yang lancar berbahasa Indonesia dan mereka orang Thailand. I’ll share more later, keep reading ya.

Oia, kami traveling ke negeri Gajah Putih barengan sama teman suami. Dari tempat kerja yang sama, membawa serta istri dan anaknya juga. Ini yang bikin travelingnya makin asik. Aisya punya teman main selama keliling Bangkok dan Pattaya.

Masih dari Don Mueang, you know what? Antrian taxi disini rapiii dan panjaaang sekali. Karena antriannya cukup panjang, saya duduk saja menunggu, sementara suami saya mengantri bersama temannya. Sempat ke toilet sebentar, petugasnya ramah sekali, mereka menyapa Aisya dalam bahasa Thailand yang tidak saya pahami. But we both throw smile, a universal language.

Lagi duduk, Bapak tua beruban di sebelah saya bertanya, “Indonesia?”

Yes”, jawab saya.

From Bangkok?”, saya tanya balik.

Yes”, sahut beliau.

Child? How old?”, Bapak tersebut memperhatikan Aisya.

Three”, jawab saya lagi.

From Jakata?”, tanya beliau lagi.

Saya mengangguk. My first impression, orang sini ramah-ramah ya 🙂

Taxi & Tuk Tuk Ceria Di Bangkok 

IMG_20170504_164222

Taxi di Bangkok ceria-ceria lho. Ada yang berwarna kuning, pink, hijau, warna-warnah cerah yang lumayan menghibur mata kala macet. Tuktuk-nya juga lucu-lucu, dihias semenarik mungkin. Tiap tuk tuk memiliki desain yang berbeda, at least cover jok-nya dan beberapa printilan di dalam tuk tuk, kalau malam hari lampunya menyala. Tampilan tuk tuk yang menarik ini bikin Aisya terus menerus ingin naik tuk tuk sampai-sampai kami membeli oleh-oleh pajangan berbentuk tuk tuk.

Kami umpel-umpelan di Taxi berwarna pink dari bandara menuju hotel, nama hotelnya Grand Alphine yang berada di kawasan Pratunam.

Datang di saat Bangkok lagi macet-macetnya memang kurang enak. Sore adalah jam pulang kantor, jalanan dipenuhi berbagai kendaraan. Macetnya kurang lebih sama dengan kemacetan di Jakarta, bagusnya disini mereka ngga saling beradu klakson. Macet ya wayahna, seolah begitu.

Lebih sakti lagi waktu di dekat hotel tempat kami mengincap, ada tuk tuk yang balik arah di jalanan kecil dengan kecepatan yang dasyat. Masya Allah, hihi di Indonesia kayaknya pengendara ngga seberani itu deh. Belum lagi di sepanjang jalan Pratunam, ada gang masuk pasar, nah disitu pasedek lah pejalan kaki dan pengendara motor. Macet tapi macet orang plus motor, luar biasa kan? Hehe.

Untuk menghindari kemacetan, besoknya kami diberi pilihan lewat highway oleh driver taxi. Tiap naik jalur bebas macet ini kami harus membayar 50 baht.

Neon Market – Platinum Mall

IMG_20170501_201540

Teman-teman menyarankan kami untuk mencicipi berbagai makanan Thailand di Neon Market, jadi setelah check in di hotel, meluruskan kaki, dan rebahan sebentar, malamnya kami berjalan kaki ke Neon Market. Sebetulnya kami mau naik tuk tuk, kendala bahasa membuat pesan dari supir tuk tuk-nya kami salah artikan.

Ketika saya tanya, “Neon Market is open tonight?”.

 Supirnya menjawab, “Open, open”.

Ya we want to go there, 100 baht ya?”, ucap saya.

Dan supirnya melambaikan tangan, seolah bilang tidak sambil menawari kami untuk diantar ke market lainnya dalam bahasa Thailand. Kami keukeuh ingin ke Neon market dan memutuskan untuk jalan kaki menikmati jalanan di pratunam. Kalau lihat di google maps sih, jaraknya tidak jauh.

Begitu sampai di Neon Market, barulah kami paham maksud dari supirnya. Ternyata NEON MARKET TUTUP SETIAP SENIN MALAM. Mungkin saat menjelaskan dalam bahasa Thailand, supirnya bilang kalau Neon Market buka tapi khusus hari Senin tutup, itulah mengapa beliau mengajak kami ke market lain. Oalaaah..

Karena perut sudah lapar, suami mengajak kami naik tuk tuk ke Platinum Mall yang jam segitu sudah mau tutup juga. Alamak!

Alhamdulillah di depan Platinum Fashion Mall sedang ada bazaar makanan, ada beberapa makanan halal, seperti seafood tapi O My God harganya 600 baht. Haha sayang untuk mengeluarkan uang sebanyak itu di hari pertama. Pilihan ter-aman jatuh pada buah-buahan. Suami memesankan Mango Sticky Rice yang terkenal lezat dan Coconut Water yang disajikan dengan unik untuk kami santap. Mangga-nya terasa sangaaat manis, lebih enak dari mangga arum manis dan ketan yang dibanjur santan bikin perut kami kenyang. A night well spent.

Baca juga : 9 Makanan Yang Wajib Kamu Coba Saat Ke Bangkok

Grand Palace And Royal Temple

Hari kedua di Bangkok, awalnya kami ingin berkunjung ke Floating Market. Tapi kami urungkan karena harga tiket masukanya cukup besar, yaitu 1000 baht/orang. Setelah dipikir-pikir, 1000 baht akan lebih wise jika kami belanjakan untuk oleh-oleh. Bisa beli banyak untuk keluarga, saudara dan teman-teman kami. Jadi Selasa pagi menuju siang, kami berangkat ke Grand Palace.

Suami saya bilang, rasanya tidak sah pergi ke Bangkok kalau tidak mengunjungi Grand Palace. What you have to know, hawa di Grand Palace ini puanas syekali lhooo, oleh karena itu kami memakai payung dan topi. Bangkok sendiri suhu-nya mencapai 38 dercel, nah di Grand Palace terasa lebih panas, bahkan orang Thailand pun mengatakan, “I feel the same with you, in Grand Palace it’s so hot”.

Sebelum masuk ke Grand Palace, kami makan dulu di restoran namanya Nai Fhun. Pelayan restoran mengangguk saat kami bertanya apakah makanannya hala atau tidak. Lalu kami naik ke lantai 2 dan memesan tom yum kung, mango sticky rice, mint chicken dan jus, sementara Aisya makan nasi goreng yang kami beli di Seven Eleven.

Grand Palace hari itu dipenuhi oleh warga Thailand yang mengenakan pakaian hitam-hitam, mereka datang ke untuk memanjatkan doa atas wafatnya Raja Bhumibol. Rakyat Thailand memang diwajibkan untuk berkabung selama setahun dan harus menggunakan pakaian berwarna hitam saat berdoa di Royal Temple, kecuali anak-anak yang baru pulang sekolah, mereka diperbolehkan mengenakan seragam. Selepas berdoa untuk almarhum Raja, masyarakat Thailand yang jumlahnya banyak tersebut berbaris rapi menuju gerbang keluar dan diberikan makanan gratis oleh pihak kerajaan.

Grand Palace Blacl Dress

Di pintu sebelah kanan terlihat warga Thailand berpakaian hitam yang hendak masuk memanjatkan do’a untuk almarhum Raja Bhumibol

Pengunjung yang hendak masuk ke Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan, menutup tubuh hingga di bawah lutut. Turis yang datang mengenakan celana pendek akan diminta keluar untuk membeli atau menyewa celana panjang/kain menutup kaki yang dijual dan disewakan oleh beberapa Ibu yang berada di sekitaran gerbang Grand Palace.

IMG_20170502_123847

Loket untuk membeli tiket masuk ke Grand Palace

Isi tas juga akan diperiksa, kita perlu membuka tas untuk menunjukkan apa saja barang yang dibawa. Setelah proses pemeriksaan selesai, selanjutnya kita bisa mulai berfoto di area luar Grand Palace. Di area ini, masih free. Kalau mau masuk ke dalam, kita bisa antri di loket pembelian tiket dan membayar 500 baht/orang (anak-anak gratis). Tentu saja kami masuk ke dalam, sayang kalau sudah sampai disini dan tidak melihat Grand Palace And Royal Temple dari dalam.

Di dalam Grand Palace ada banyak bangunan yang indah. Indahnya seperti apa? Sulit digambarkan dengan kata-kata, yang jelas keindahannya kami abadikan melalui foto.

Ada satu kuil yang boleh dimasuki, tapi semua pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto di dalamnya. Padahal desain di dalam kuilnya subhanallah indah sekali. Beberapa orang yang sedang berdo’a nampak dibatasi dengan pita berwarna putih dan dijaga oleh petugas.

Selesai berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Istirahat, dan sore-nya jalan-jalan ke Asiatique.

Asiatique – Sungai Chao Phraya

Asiatique adalah area belanja yang dilengkapi dengan restoran dan tempat bermain untuk anak. Letaknya yang berbatasan dengan sungai Chao Phraya membuat banyak turis yang datang bisa menikmati berbagai fasilitas disini.

Kami datang sore hari, ikut bersama pengunjung lainnya menaiki perahu di sungai Chao Phraya. Setelah itu makan di restoran India, Aisya naik carrousel dan belanja di Toko Kun Fai.

Dua orang pria warga Thailand yang melayani kami di Toko Kun Fai ini bisa berbahasa Indonesia, cukup fasih. Halm dan Yun belajar bahasa Indonesia dengan merekam apa-apa yang pembeli mereka katakan. Pembeli yang banyak mengunjungi toko mereka adalah Ibu-ibu dari Indonesia.

“Ini berapa?”, saya menunjuk tas bergambar gajah yang saya taksir untuk Ibu dan Mama mertua saya.

“Ha, ni 120 baht”, jawab Yun.

“Kalau ini?”, saya menunjuk tas jinjing yang lebih kecil untuk kakak ipar saya.

“Ini 70 baht”, jawab Yun lagi.

“Ini apa?”, saya masuk ke dalam dan menyentuh kain yang mereka pajang.

“Ini pashemina, harganya 85 baht. Buat mba 80 baht aja”, ucap Halm.

“Ha, yang ini pashemina bahan silk. Lebih bagus lagi, harga sama”, Halm memberi saya sampel pashima yang akhirnya saya beli untuk Ibu saya.

“Kalau yang ini dompet, beli lima gratis satu”, Halm mengasongkan contoh dompetnya pada saya.

“Beli banyak dapat diskon lagi”, tambahnya.

“Hahaha”, saya tertawa mendengar cara beliau menawarkan. Udah hafal banget ya cara menawarkan barang ke Ibu-ibu.

Paling lucu waktu saya meminta pendapat Halm, “Bagus mana tas untuk ibu saya?”, saya mengambil dua tas.

“Ha, banyak Ibu-ibu kesini beli warna bilu dan hijau”, jawabanya.

Lucu karena mirip orang yang sedang flu, agak sengau suaranya. Dalam bahasa Thailand, mereka tidak memiliki huruf ‘r’, oleh karena itu Jakarta jadi Jakata, biru jadi bilu dan suami saya Irfan, dipanggil Ilfan.

Dari sekian banyak penjual yang kami temui, di pasar, di seven eleven, supir taxi, pedagang di pinggir jalan, rata-rata mereka kurang memahami bahasa inggris dan menimpali pertanyaan kami menggunakan bahasa Thailand. Somehow we understand. Makanya pas ketemu pedagang yang lancar berbahasa Inggris plus bahasa Indonesia, senang banget. Kalau di hotel, resepsionisnya juga bisa bahasa Inggris, tapi tidak semua.

Toko ini juga menerima pembayaran dengan uang rupiah loh, bahkan jadi lebih murah harganya. Mau menukarkan rupiah kita dengan baht juga bisa. Sudah murah-murah, dapet diskon karena beli banyak, dikasih hadiah juga karena belanja lebih dari 1000 baht, pedagangnya ramah daaan sabar menjawab semua pertanyaan saya, membantu memilihkan tas yang bagus untuk oleh-oleh, Mamangnya bisa bahasa Inggris juga bahasa Indonesia lagi. Favorit deh!

Oia toko Kun Fai di Asiatique ini lebih banyak menjual aneka tas khas Thailand ya, termasuk dompet, pajangan, gantungan kunci, dan beberapa oleh-oleh lainnya. Sayangnya mereka tidak menjual baju dan makanan. Jadi untuk membeli baju, kami belanja di pasar pratunam, makanan di Big C dan supermarket di Central Marina Pattaya.

Bangkok

Sawadee kha, Khob khun kha

Okey, part1 sampai sini dulu ya. Insya Allah saya sambung lagi dengan cerita hari ke-3 saat kami main ke Pattaya 😊 Thanks for reading good people.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nanan Nuraini – Lanjut Studi Ke Bristol Dengan 2 Balita

IMG-20170630-WA0000

Nanan Nuraini adalah seorang Ibu dari 2 anak, juga founder komunitas Ceria – Cerita Ibu dan Anak yang saat ini sedang merampungkan kuliah di Bristol, Inggris.

Saya sendiri tergabung dalam komunitas Ibu Ceria setelah berkenalan dengan Nuy – sapaan akrabnya,  ketika mengunjungi saya pasca melahirkan Aisya di Borromeus. Beliau adalah teman suami saya di PAS Salman.

Tahun lalu, Umay Wafi dan Nuraisya ini mengatakan bahwa beliau dan keluarganya akan pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi. Wah, menurut saya ini kabar yang luar biasa. Saya tertarik untuk mendengar cerita Nuy yang lanjut S2 lagi setelah memiliki 2 anak. Untuk itu, saya menghubungi Nuy di momen Ramadan-Lebaran yang masih hangat ini untuk sharing di Cerita Ibu Muda.

Teruntuk para Ibu Muda, melalui wawancara ini, Nuy berbagi mengenai motivasi sekolah lagi, perjuangan mendapatkan beasiswa LPDP, alasan memilih jurusan yang sekarang ditekuni, apa saja yang harus dipersiapkan ketika istri akan bersekolah di LN dan membawa serta keluarga. Selamat menyimak yaa 😊

Assalamu’alaykum Nuy. Apa kabar nih? Sehat-sehat kan Umay, Abah, Abang dan Nuraisya?

‘Alaykumussalam Alhamdullillah semunya sehat, tapi Abang lagi batuk. Disini lagi musim panas, kemarin suhu-nya mencapai 25 dercel. Terus kadang-kadang hujan dan suhu-nya sampai 18 dercel. Jadi anak-anak pada batuk.

Gimana rasanya melewatkan Ramadan di Bristol yang jarak antara selesainya tarawih dengan sahur hanya terpaut 2 jam saja?

Awalnya terasa berat karena melihat jam-nya, “Wah lama banget nih puasanya, 19 jam. Sahur jam 2, adzan shubuh jam 3 terus adzan magrib jam setengah  10”, batin saya.

Ternyata, pas dijalani sama kaya shaum di Indonesia, memang lebih lama sih tapi ngga terasa capek atau lapar. Terus, kalau mau buka dengan masakan Indonesia ngga bisa jajan, harus masak sendiri. Jadi mau ngga mau terpaksa belajar bikin cireng, bihun goreng, rendang, segala macem masak sendiri atau ngga main ke rumah teman-teman yang orang Indonesia juga.

Kalau lagi Ramadan gini, aktivitas apa yang paling terasa perubahannya?

Nah, yang paling terasa adalah perubahan jam tidur anak-anak. Biasanya anak-anak tidur paling lambat jam 10. Sekarang karena buka jam setengah 10 malam di Masjid, pulang dari Masjid jam 22.15. Sholat isya jam 23.00 terus tarawih sampai 12. Jadi anak-anak tidur jam 11 atau 12. Akibatnya anak-anak bangunnya siang, kalau Abang ikut sahur terus tidur lagi, bakal bangun jam 11 siang. Tapi kalau ngga ikut sahur bangunnya jam 9 atau jam 10 pagi sudah bangun.

Gimana suasana Idul Fitri di Bristol?

Tentang suasana Idul Fitri di Bristol bisa dilihat di netcj.co.id/Suka-Cita-Lebaran-di-Bristol-Inggris ya. Yang bisa saya ceritakan disini, saat Idul Fitri banyak tempat untuk melaksanakan sholat Ied. Sholat Ied dimulai jam 7 dan penuh banget karena umat muslimnya banyak dan masjidnya kecil. Kami sholat di AshShahaba Masjid, dekat dari rumah hanya perlu berjalan kaki selama 5 menit. Khutbah pada sholat Ied menggunakan bahasa yang berbeda, tergantung Masjid-nya. Ada yang menggunakan bahasa Inggris, Arab atau Somali.

Usai sholat, kami bersalaman dan menyantap makanan ringan, kue-kue khas timur tengah, berbagai minuman seperti teh, kopi, susu, jus juga roti, kue tart dan lain-lain.

Anak-anak banyak yang diajari sedekah disini. Mereka bawa bungkusan untuk anak-anak lainnya. Isinya permen, cokelat, biskuit, balob dan dibagi-bagikan di Masjid.

Anak-anak perempuan yang masih kecil mengenakan gaun yang cantik lengkap dengan rambut yang dihias. Sedangkan orangtua-nya berpakaikan sederhana, didominasi oleh warna hitam.

Karena kami tinggal di flat dengan 3 keluarga muslim lainnya, pulang dari Masjid kami lanjutkan dengan sarapan di saah satu flat yang paling besar. Makan opor, balado, tauco, sup buah, telur, capcay dan lainnya.

Siang jam 12-an kami berkunjung ke rumah orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Bristol. Ruamhnya luas sekali, halaman rumahnya seperti lapangan bola dilengkapi dengan prosotan, trampoline besar, ride on, jadi anak-anak anteng main di playground rumah ini. Makanan Indonesia pun banyak tersaji. Di area ini kami juga berfoto dan bernyanyi.

Panitia dari Al Hijrah Bristol, bikin kuis buat anak-anak tentang pengetahuan Islam. Hadiah yang disediakam membuat anak-anak semangat menjawab dan tambah happy karena dapat hadiah saat lebaran. Acara ini di-organize oleh beberapa komunitas orang Indonesia di Bristol.

Lalu tamat. Lebarannya hanya satu hari dan tidak ada libur lebaran. Alhamdulillah karena kami memiliki sahabat orang Malaysia, jadi hari Rabu-nya kami ‘Lebaranan’ lagi dengan makan-makan di rumahnya.

Selama Ramadan, kuliah tetap jalan yaa. By the way, Nuy kuliah dimana? Dan apa yang bikin Nuy merasa sreg dengan jurusan ini?

Alhamdulillah jadi selama ini hanya dua kali kuliah dan setelah itu kuliahnya udah beres, jadi hanya pernah merasakan puasa sambal kuliah 2 kali. Kuliahnya di University of Bristol jurusan Psychology Of Education.

Sebetulnya saya selalu tertarik dengan perkembangan anak dan dunia ibu terutama ibu muda. Tapi sayangnya, saat memilih jurusan, saya ngga kepikiran nyari jurusan family studies. Jadi saya ngambilnya langsung ke psikologi atau perkembangan Pendidikan. Nah yang Perkembangan Pendidikan ini kemarin saya ngga nemu, nemunya di Belanda.

Akhirnya saya mencari universitas di Inggris yang memiliki development of psychology dan ngga nemu. Ternyata sebenarnya ada di Lanchester. Tapi karena saat itu saya ngga tahu jadi saya ngga ambil jurusan itu. Dan jurusan Psychology Of Education adanya di UCL dan di Bristol. Ke UCL ini saya sudah terlambat daftarnya, satu-satunya pilihan daftar ke Bristol dan Alhamdulillah diterima.

Biasanya kan ibu-ibu memutuskan untuk S2 saat belum memiliki momongan atau baru mempunyai satu anak dengan konsekuensi anaknya tinggal di Indonesia atau ada pihak keluarga yang ikut. Nah Nuy kan sudah memiliki 2 anak, keduanya balita. Kalau boleh tahu, apa yang memotivasi Nuy untuk mantap bersekolah kembali?

Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah sebelum menikah. Saya tidak ada rencana menikah sambal kuliah. Plan awal saya, setelah lulus S1 langsung S2 ambil profesi psikolog. Tapi faktanya saya menikah selagi kuliah dan melahirkan selepas wisuda.

Nah setelah jadi ibu mikir-mikir lagi nih, beneran mau kuliah lagi? Ntar ninggalin anak, apalagi kalau ambil Master Psikologi itu padat banget, Sabtu saja masih ada kuliah. Akhirnya saya tunda keinginan untuk kuliah itu dan saya melupakannya.

Kemudian suami sekolah lagi, ambil master. Saya juga belum kabita saat melihat suami kuliah lagi, hanya komentar, “Oh dia kuliah lagi. Yaudah”, gitu aja.

Tapi saat hamil anak kedua (Nuraisya), suami bilang, “Gimana kalau kamu coba ambil kuliah lagi. Cobain yang LPDP”.

Terus saya bilang, “Males ah ngapain? Anak udah mau dua, ngapain sih kuliah lagi?”.

“Ya cobain aja, ngga ada salahnya kan mencoba”, kata suami lagi.

Kemudian saya nurut sama suami. Saya coba belajar Bahasa inggris, ambil tes IELTS, ketika hasilnya keluar dan cukup, saya langsung daftar LDPD. Eh ternyata dapat deh.

Habis itu baru saya mikir, “Haduh dapet nih LDPD, artinya harus beneran kuliah nih”.

Ini bikin saya galau, mikirin gimana nih harus kuliah, dah dapet beasiswa tapi saat itu saya belum bener-bener pengen kuliah, baru merasa, “Kayaknya asik nih kuliah di luar negeri tapi belum betul-betul mantap”.

Saking stress-nya, saya sakit tipes. Selama 1 minggu saya dirawat di Rumah Sakit dan hampir sebulan istirahat total di rumah. Setelah sembuh dari tipes, saya ikut program persiapan beasiswa dan nyari tempat kuliah. Terus dapet deh disini, di Bristol Alhamdulillah.

Selain dorongan dari suami, saya juga ingin mempunyai ilmu yang bisa saya pertanggungjawabkan pada komunitas saya. Saat ini saya mengelola satu komunitas namanya Ceria (Cerita Ibu dan Anak).

Dan supaya lebih percaya diri dalam memfasilitasi teman-teman lainnya di komunitas ini, saya harus cari ilmu lagi. Salah satunya dengan kuliah lagi. Semoga nanti bisa mempraktekkan ilmunya kepada para Ibu. Dan juga saya pengen punya sebuah rumah yang bisa memfasilitasi para ibu khususnya Ibu muda untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang keluarga, perkembangan anak, psikologi anak dan sebagainya secara cuma-cuma.

Di Inggris ini ada yang namanya Family and Children Center, di tempat ini para ibu dari mulai ibu hamil dan Ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun difasilitasi oleh pemerintah berupa informasi seputar Ibu dan anak, dibantu kebutuhannya, susu-nya, segala macam.

Ada semacam support group yang memang difasilitasi oleh pemerintah. Jadi ngga perlu ikut seminar berbayar, karena semuanya sudah difasilitasi oleh pemerintah. Jujur saya jarang banget ada seminar parenting disini atau saya gaptek? Entahlah. Yang jelas, semuanya memang sudah difasilitasi disini.

Bahkan saya juga ingin memberikan fasilitas yang namanya home visit bagi  para Ibu. Disini, ibu-ibu sejak hamil hingga anaknya berusia 5 tahun tadi bakal dikunjungi secara berkala oleh health visitor dan mereka akan menanyakan bagaimana keadaan ibunya, keadaan anaknya, kondisi ekonominya. Kalau ekonominya kurang bagus, para Ibu ini bisa mengajukan benefit.

Benefit ini berupa pengajuan uang untuk membeli kebutuhan ibu ini. Itulah impian saya.

Sekarang kita ngobrolin tentang beasiswa LPDP yaa. Dari semua tahapan yang ada, proses mana yang Nuy anggap paling menantang?

Sejujurnya, untuk proses penerimaan beasiswa saya santai banget. Kalau diterima Alhamdulillah, ngga juga ngga apa-apa. Karena awalnya tadi ngga begitu ingin pengen kuliah, cuma pengen terus dimotivasi suami untuk daftar LPDP.

Namun saya tetap yakin akan menerima beasiswa LPDP ini, tujuannya untuk menenangkan diri. Tenang, saya pasti diterima, karena nanti kan akan ditanya, “Kenapa kamu yakin diterima? Kenapa kamu yang harus jadi penerima beasiswa?”, oleh pewawancara.

Jadi salah satu tips-nya untuk pemburu beasiswa, kita harus yakin diterima. Usaha dulu, urusan hasil serahkan sama Allah. Husnudzan sama Allah, Insya Allah apa pun yang terjadi kita bakal tetap tenang dan bersyukur.

Selanjutnya, tantangannya buat saya adalah melawan diri sendiri.
Karena saat itu saya lagi hamil trimester akhir dan harus persiapan IELTS, administrasi LPDP dan lainnya.

Terus merasa deg-degan meski awalnya santai banget karena orang yang daftar LPDP keren-keren banget!

Beneran deh, bikin saya jiper pas kenalan sama orang-orang di sesi wawancara, apalagi LGD. Di LGD ini saya ngga banyak ngomong karena teman-teman yang lain pada jago ngomong. Apalah saya ini, grogi, hehe.

Jadi, bisa dibilang saya ini santai tapi harap-harap cemas. Antara ingin kuliah tapi ngga pengen ninggalin anak lama-lama pas kuliah, soalnya sejak melahirkan saya ngga pernah ‘kerja’ fulltime seharian. Tidak kebayang sama saya, kuliah full ninggalin anak-anak. Sedih banget pasti disana.

Eh, ternyata, di UK ini kuliahnya ngga selama yang saya kira. Alhamdulillah.

Satu lagi, sebagai penerima beasiswa ini harus ada yang dipertanggungjawabkan saat nanti saya kembali ke Indonesia, ini juga tantangan untuk saya.

Sambil kuliah kan Nuy juga jualan tempe nih. Ide jualan tempe ini datang karena Nuy suka banget tempe atau gimana? Boleh berbagi bagaimana cara bikin tempe ala Nuy? Dan kepada siapa saja biasanya Nuy menjual tempe-nya?

Saya ngga bikin tempe. Tapi saya jadi distributor tempe. Suami saya punya teman pembuat tempe dari Birmingham, tempe-nya itu enak sekali. Kami membeli tempe dari beliau, lalu tempenya dikirim dan kami jual di Bristol. Karena di Bristol hanya ada tempe beku – tidak fresh, saat saya berjualan tempe, orang-orang pada nyariin deh.

Dengan ikut menemani Nuy, otomatis Abay turut mencari pekerjaan disana ya. Susah ngga sih kalau pas baru pindahan terus langsung cari kerja disana? Dan apa saja yang perlu dipersiapkan kalau kita mau memboyong seluruh anggota keluarga ke UK?

Hal  ini pernah di post oleh suami saya di blog saya, silakan berkunjung ya, ke nanannuraini.wordpress.com

Untuk mendapatkan pekerjaan di UK, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari kenalan yang sudah bekerja di UK.

Di UK ini untuk bekerja profesional agak sulit karena membutuhkan sertifikasinya tersendiri. Contoh jika saya kita ingin menjadi guru TK maka saya harus memiliki sertifikasi mengajar sebagai guru TK. Dan setrifikasi ini berbeda-beda untuk guru TK, guru SD dan seterusnya, bukan hanya ijazah dan ada level-levelnya.

Juga tergantung bekerjanya dimana. Saat tiba disini saya silaturahim dengan teman yang sedang menempuh Phd dengan kerjaan sampingan sebagai cleaner/pembersih. Sangat wajar seorang student memiliki pekerjaan kasar seperti buruh, karena ini merupakan pekerjaan yang paling mudah dicari dan gajinya lumayan jika dibandingan dengan kurs di Indonesia.

Awalnya suami saya kerjanya illegal. Kerja illegal itu kita melamar ke sebuah tempat, gajinya tidak ditransfer dan kita tidak menandatangani kontrak kerja. Setelah itu, dengan pengalaman kerja yang beliau miliki akhirnya suami melamar kerja dan diterima kerja di kantor POS, di supermarket, di kampus Bristol juga pernah.

Dari segi persiapan, untuk melamar kerja, kita harus membuat National Insurance Number dan bikin rekening di Bank. Nah, syaratnya kalau mau bikin NIN kita harus benar-benar terdaftar sebagai orang yang benar-benar tinggal di Inggris.

Dan untuk memboyong keluarga ke UK ini harus mempersiapkan uang dalam jumlah besar, karena biayanya mahal sekali. Untuk info biayanya bisa langsung cek ke link ini www.immigration-health-surcharge.service.gov.uk/checker/type

Hal ini penting, karena saat membuat visa, ada uang minimal yang harus ada di tabungan. Ini bisa diakali dengan meminjam uang dari teman dan diendapkan di rekening kita selama satu bulan. Kalau tiketnya pintar-pintar saja cari yang murah.

Dalam hal biaya hidup selama di Bristol, saya sangat berterimakasih pada beasiswa LPDP karena uang dari LDPD selama 6 bulan pertama yang saya terima sebagai living allowance sendiri, cukup untuk menghidupi saya dan keluarga selama disini. Apalagi di bulan ke-7 saya juga mendapatkan tunjangan keluarga, jadi beasiswa ini sangat membantu.

Kalau Abang Wafi dan Dik Nuraisya sendiri gimana? Betah kah disana, suka main kemana saja dan bagaimana adaptasinya di sekolah?

Awalnya Abang ingin cepat pulang ke Indonesia. Sekarang Abang sudah sekolah di Nursery yaitu sekolah untuk anak usai 3-4 tahun dan Abang happy banget di sekolahnya karena Abang sudah bisa Bahasa Inggris dan mengobrol serta bermain dengan teman-temannya. Dan, disini kami tinggal bersama tiga keluarga Indonesia lainnya yang memiliki anak-anak yang masih kecil juga, jadi Abang senang banget.

Karena disini banyak banget taman, biasanya kami main ke taman dan ruang hijau terbuka untuk piknik, main, lari-lari, main scooter, ya main ke taman saja sudah bikin anak senang.

Bristol sendiri merupakan salah satu kota terbaik untuk keluarga, fasilitasnya benar-benar ramah anak. Ada family room hampir di setiap mall, ada tempat main di setiap library-nya terus ada children center yang free. Sekolah juga free dari umur 3 tahun.

Kalau Abang adaptasinya lumayan bagus karena pada dasarnya anaknya gaul dan cepat belajar Bahasa Inggris. Makin lama, Abang makin mudah bergaul dengan teman-temannya, bahkan jadi bos di sekolah. Guru di sekolah Abang bilang, setiap anak di Nursery mendengarkan Abang dan kalau tidak mendengarkan, Abang bakal ngomel-ngomel.

Terakhir, whats your message to all mother who also have a desire to continue their study again?

Pertama, tanya sama suami. Kalau suami mengizinkan, apa lagi yang ditunggu? Segera cari beasiswa dan universitas yang disukai.

Kuliah di luar negeri itu asik banget. Jadwalnya ngga padat, paling lama seminggu itu kuliah hanya 8 jam. Rekor lain ada kuliah tambahan yang full dari jam 10.00-17.00. Untuk lecture – duduk manis menghadiri kuliah hanya sebentar, namun tugasnya sangat banyak dan harus menggunakan Bahasa inggris yang tidak semudah menulis dalam bahasa Indonesia. Harus betul grammar-nya, tata bahasa-nya dan lain-lain. Tantangannya terbesarnya adalah memanaje waktu untuk belajar, mengerjakan tugas kuliah sembari mengurusi rumah, mengasuh anak dan melayani suami karena disini tidak ada yang namanya ART.

Kalau suami mengizinkan dan rizkinya ada, pergilah bareng-bareng dengan keluarga. Suami sangat mendukung saya kuliah lagi, namun saya ingin berangkat bersama-sama. Saya pribadi sangat tidak menyukai LDR, baik sama suami maupun dengan anak. Saya lebih memilih hidup susah senang bersama. Kami berdua sudah sepakat untuk menjalani hidup ini bareng-bareng.

Harus ekstra sabar dan rela mengorbankan waktu tidur.

Dengan 2 anak yang aktif saya tidak bisa mengerjakan tugas dengan tenang kecuali ada suami yang menjaga anak. Berhubung suami kerjanya shift malam sehingga pagi hari istirahat, biasanya saya gantian menjaga anak dengan suami. Kalau suami saya menjaga anak, saya bisa mengerjakan tugas, pergi ke lounge di atas, atau ke perputakaan. Saya juga sering mengerjakan tugas saat anak-anak sudah tidur di malam hari.

Itu saja, terimakasih teh Ai atas kesempatannya. Assalamu’alaykum.

*

‘Alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah Nuy, harusnya saya yang berterimakasih nih karena sudah bersedia berbagi di Cerita Ibu Muda. Well, subhanallah ya ada impian ada kemudahan jalan, ridho suami jadi salah satu penetunya ya untuk melanjutkan sekolah lagi atau tidak.

Gimana nih Ibu-ibu yang sudah membaca cerita Nuy, terpicu untuk melanjutkan studi lagi kah? 🙂 Semoga Allah SWT beri rizki-Nya untuk kita ya. Anyway terimakasih sudah mampir, semoga postingan ini menginspirasi banyak Ibu dan menuai banyak manfaat ya. Amiin.