SAWADEE KHA! BANGKOK (part1)

IMG_20170502_125200

Assalamu’alaykum Mommies & friends 😊 Minggu ini saya mau share cerita traveling keluarga ke Bangkok awal Mei lalu. Ya this is a very late post, pending sekitar 1 bulan lebih, hehe. Kenapa ya? Sebetulnya sih karena ada banyak hal yang ingin diceritakan and because I want to write a lot of things, jadinya saya perlu waktu khusus untuk menuangkan memori-memori perjalanan kami ke Bangkok dan Pattaya 1-5 Mei 2017 ini.

Ok now, I’m ready. Bismillah.

This is our first time going to Bangkok. Saya excited banget dari setahun yang lalu saat suami mem-booked tiket AirAsia – ya lagi-lagi AirAsia, pelanggan setia nih karena banyak promo – pas lagi ada promo juga saat itu. Dan traveling kali ini waktunya lebih lama dari traveling sebelum-sebelumnya, terhitung 5 hari include berangkat dan pulang. Karena banyak artis dan event internasional yang dihelat di Bangkok, saya pikir Bangkok is a very beautiful big city yang penampakannya lebih kece dari Malaysia. So, Bangkok is on our list to go!

Persiapan Traveling Ke Bangkok

Ceklist

  1. Bikin Check-list
    Masih inget kan a little drama that I have di bandara Soekarno Hatta saat mau Main Ke Belitung? Yap! Gara-gara pernah ketinggalan KTP, untuk liburan kali ini saya sengaja bikin yang namanya check list. Dalam check list yang saya buat, saya bagi-bagi barang mana saja yang harus ada di koper dan di ransel. Alhamdulillah checklist ini sangat membantu. Pas pulang juga saya cek lagi barang-barang, mengantisipasi supaya ngga ada barang yang tertinggal.
  2. Membawa 2 koper dan 2 ransel
    Karena jalan-jalan ke Bangkok memakan waktu 5 hari dan kami berniat membeli cukup banyak oleh-oleh dari Bangkok, kami membawa 2 koper. Koper yang satu full berisi pakaian dan susu kotak Aisya. Dan satunya lagi hanya beberapa baju, jadi sangat ringan. Koper yang berat kami masukkan ke bagasi, sementara koper yang ringan kami taruh di cabin.Ransel tetap harus bawa. Ransel saya seperti biasa, berisi bekal Aisya, mainan, baju ganti dan barang-barang penting milik saya. Sementara ransel Ayah berisi his stuff dan kamera.

Baca juga : Tips Traveling Dengan Anak (Balita)

Penerbangan Pagi Dari Soekarno Hatta – Don Mueang

IMG_20170501_171630
Antrian Taxi di Bandara Don Mueang

Persiapan yang cukup baik membuat suasana keberangkatan lancar. Penerbangan kali ini cukup lama, jadi saya membawa beberapa boneka juga buku gambar untuk mengisi aktivitas Aisya selama di pesawat. Biasanya kan kalau flight-nya hanya 1-2 jam Aisya ngga bakal tidur. Ajaibnya, seolah tahu bakal lama di perjalanan, begitu tinggal landas, Aisya langsung bobo pules. Alhamdulillah 5 jam terlewati dengan smooth. Thanks Aisya.

Di bandara Don Mueang ada beberapa fasilitas yang menguntungkan bagi para Ibu dan Ayah yang membawa anak. Mereka punya counter khusus Orang tua dan anak, sehingga antrian untuk saya dan Aisya di bagian imigrasi lebih cepat.

Begitu menuruni eskalator, hendak mengambil koper dari bagasi, ada seorang Ibu mendekati suami dan menawari Sim Card Thailand dalam bahasa Indonesia. Waw! I think it’s a prove that many Indonesians coming here. Oh wait, you’ll be more surprise, saat belanja di Asiatique, ada pedagang yang lancar berbahasa Indonesia dan mereka orang Thailand. I’ll share more later, keep reading ya.

Oia, kami traveling ke negeri Gajah Putih barengan sama teman suami. Dari tempat kerja yang sama, membawa serta istri dan anaknya juga. Ini yang bikin travelingnya makin asik. Aisya punya teman main selama keliling Bangkok dan Pattaya.

Masih dari Don Mueang, you know what? Antrian taxi disini rapiii dan panjaaang sekali. Karena antriannya cukup panjang, saya duduk saja menunggu, sementara suami saya mengantri bersama temannya. Sempat ke toilet sebentar, petugasnya ramah sekali, mereka menyapa Aisya dalam bahasa Thailand yang tidak saya pahami. But we both throw smile, a universal language.

Lagi duduk, Bapak tua beruban di sebelah saya bertanya, “Indonesia?”

Yes”, jawab saya.

From Bangkok?”, saya tanya balik.

Yes”, sahut beliau.

Child? How old?”, Bapak tersebut memperhatikan Aisya.

Three”, jawab saya lagi.

From Jakata?”, tanya beliau lagi.

Saya mengangguk. My first impression, orang sini ramah-ramah ya 🙂

Taxi & Tuk Tuk Ceria Di Bangkok 

IMG_20170504_164222

Taxi di Bangkok ceria-ceria lho. Ada yang berwarna kuning, pink, hijau, warna-warnah cerah yang lumayan menghibur mata kala macet. Tuktuk-nya juga lucu-lucu, dihias semenarik mungkin. Tiap tuk tuk memiliki desain yang berbeda, at least cover jok-nya dan beberapa printilan di dalam tuk tuk, kalau malam hari lampunya menyala. Tampilan tuk tuk yang menarik ini bikin Aisya terus menerus ingin naik tuk tuk sampai-sampai kami membeli oleh-oleh pajangan berbentuk tuk tuk.

Kami umpel-umpelan di Taxi berwarna pink dari bandara menuju hotel, nama hotelnya Grand Alphine yang berada di kawasan Pratunam.

Datang di saat Bangkok lagi macet-macetnya memang kurang enak. Sore adalah jam pulang kantor, jalanan dipenuhi berbagai kendaraan. Macetnya kurang lebih sama dengan kemacetan di Jakarta, bagusnya disini mereka ngga saling beradu klakson. Macet ya wayahna, seolah begitu.

Lebih sakti lagi waktu di dekat hotel tempat kami mengincap, ada tuk tuk yang balik arah di jalanan kecil dengan kecepatan yang dasyat. Masya Allah, hihi di Indonesia kayaknya pengendara ngga seberani itu deh. Belum lagi di sepanjang jalan Pratunam, ada gang masuk pasar, nah disitu pasedek lah pejalan kaki dan pengendara motor. Macet tapi macet orang plus motor, luar biasa kan? Hehe.

Untuk menghindari kemacetan, besoknya kami diberi pilihan lewat highway oleh driver taxi. Tiap naik jalur bebas macet ini kami harus membayar 50 baht.

Neon Market – Platinum Mall

IMG_20170501_201540

Teman-teman menyarankan kami untuk mencicipi berbagai makanan Thailand di Neon Market, jadi setelah check in di hotel, meluruskan kaki, dan rebahan sebentar, malamnya kami berjalan kaki ke Neon Market. Sebetulnya kami mau naik tuk tuk, kendala bahasa membuat pesan dari supir tuk tuk-nya kami salah artikan.

Ketika saya tanya, “Neon Market is open tonight?”.

 Supirnya menjawab, “Open, open”.

Ya we want to go there, 100 baht ya?”, ucap saya.

Dan supirnya melambaikan tangan, seolah bilang tidak sambil menawari kami untuk diantar ke market lainnya dalam bahasa Thailand. Kami keukeuh ingin ke Neon market dan memutuskan untuk jalan kaki menikmati jalanan di pratunam. Kalau lihat di google maps sih, jaraknya tidak jauh.

Begitu sampai di Neon Market, barulah kami paham maksud dari supirnya. Ternyata NEON MARKET TUTUP SETIAP SENIN MALAM. Mungkin saat menjelaskan dalam bahasa Thailand, supirnya bilang kalau Neon Market buka tapi khusus hari Senin tutup, itulah mengapa beliau mengajak kami ke market lain. Oalaaah..

Karena perut sudah lapar, suami mengajak kami naik tuk tuk ke Platinum Mall yang jam segitu sudah mau tutup juga. Alamak!

Alhamdulillah di depan Platinum Fashion Mall sedang ada bazaar makanan, ada beberapa makanan halal, seperti seafood tapi O My God harganya 600 baht. Haha sayang untuk mengeluarkan uang sebanyak itu di hari pertama. Pilihan ter-aman jatuh pada buah-buahan. Suami memesankan Mango Sticky Rice yang terkenal lezat dan Coconut Water yang disajikan dengan unik untuk kami santap. Mangga-nya terasa sangaaat manis, lebih enak dari mangga arum manis dan ketan yang dibanjur santan bikin perut kami kenyang. A night well spent.

Baca juga : 9 Makanan Yang Wajib Kamu Coba Saat Ke Bangkok

Grand Palace And Royal Temple

Hari kedua di Bangkok, awalnya kami ingin berkunjung ke Floating Market. Tapi kami urungkan karena harga tiket masukanya cukup besar, yaitu 1000 baht/orang. Setelah dipikir-pikir, 1000 baht akan lebih wise jika kami belanjakan untuk oleh-oleh. Bisa beli banyak untuk keluarga, saudara dan teman-teman kami. Jadi Selasa pagi menuju siang, kami berangkat ke Grand Palace.

Suami saya bilang, rasanya tidak sah pergi ke Bangkok kalau tidak mengunjungi Grand Palace. What you have to know, hawa di Grand Palace ini puanas syekali lhooo, oleh karena itu kami memakai payung dan topi. Bangkok sendiri suhu-nya mencapai 38 dercel, nah di Grand Palace terasa lebih panas, bahkan orang Thailand pun mengatakan, “I feel the same with you, in Grand Palace it’s so hot”.

Sebelum masuk ke Grand Palace, kami makan dulu di restoran namanya Nai Fhun. Pelayan restoran mengangguk saat kami bertanya apakah makanannya hala atau tidak. Lalu kami naik ke lantai 2 dan memesan tom yum kung, mango sticky rice, mint chicken dan jus, sementara Aisya makan nasi goreng yang kami beli di Seven Eleven.

Grand Palace hari itu dipenuhi oleh warga Thailand yang mengenakan pakaian hitam-hitam, mereka datang ke untuk memanjatkan doa atas wafatnya Raja Bhumibol. Rakyat Thailand memang diwajibkan untuk berkabung selama setahun dan harus menggunakan pakaian berwarna hitam saat berdoa di Royal Temple, kecuali anak-anak yang baru pulang sekolah, mereka diperbolehkan mengenakan seragam. Selepas berdoa untuk almarhum Raja, masyarakat Thailand yang jumlahnya banyak tersebut berbaris rapi menuju gerbang keluar dan diberikan makanan gratis oleh pihak kerajaan.

Grand Palace Blacl Dress
Di pintu sebelah kanan terlihat warga Thailand berpakaian hitam yang hendak masuk memanjatkan do’a untuk almarhum Raja Bhumibol

Pengunjung yang hendak masuk ke Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan, menutup tubuh hingga di bawah lutut. Turis yang datang mengenakan celana pendek akan diminta keluar untuk membeli atau menyewa celana panjang/kain menutup kaki yang dijual dan disewakan oleh beberapa Ibu yang berada di sekitaran gerbang Grand Palace.

IMG_20170502_123847
Loket untuk membeli tiket masuk ke Grand Palace

Isi tas juga akan diperiksa, kita perlu membuka tas untuk menunjukkan apa saja barang yang dibawa. Setelah proses pemeriksaan selesai, selanjutnya kita bisa mulai berfoto di area luar Grand Palace. Di area ini, masih free. Kalau mau masuk ke dalam, kita bisa antri di loket pembelian tiket dan membayar 500 baht/orang (anak-anak gratis). Tentu saja kami masuk ke dalam, sayang kalau sudah sampai disini dan tidak melihat Grand Palace And Royal Temple dari dalam.

Di dalam Grand Palace ada banyak bangunan yang indah. Indahnya seperti apa? Sulit digambarkan dengan kata-kata, yang jelas keindahannya kami abadikan melalui foto.

Ada satu kuil yang boleh dimasuki, tapi semua pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto di dalamnya. Padahal desain di dalam kuilnya subhanallah indah sekali. Beberapa orang yang sedang berdo’a nampak dibatasi dengan pita berwarna putih dan dijaga oleh petugas.

Selesai berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Istirahat, dan sore-nya jalan-jalan ke Asiatique.

Asiatique – Sungai Chao Phraya

Asiatique adalah area belanja yang dilengkapi dengan restoran dan tempat bermain untuk anak. Letaknya yang berbatasan dengan sungai Chao Phraya membuat banyak turis yang datang bisa menikmati berbagai fasilitas disini.

Kami datang sore hari, ikut bersama pengunjung lainnya menaiki perahu di sungai Chao Phraya. Setelah itu makan di restoran India, Aisya naik carrousel dan belanja di Toko Kun Fai.

Dua orang pria warga Thailand yang melayani kami di Toko Kun Fai ini bisa berbahasa Indonesia, cukup fasih. Halm dan Yun belajar bahasa Indonesia dengan merekam apa-apa yang pembeli mereka katakan. Pembeli yang banyak mengunjungi toko mereka adalah Ibu-ibu dari Indonesia.

“Ini berapa?”, saya menunjuk tas bergambar gajah yang saya taksir untuk Ibu dan Mama mertua saya.

“Ha, ni 120 baht”, jawab Yun.

“Kalau ini?”, saya menunjuk tas jinjing yang lebih kecil untuk kakak ipar saya.

“Ini 70 baht”, jawab Yun lagi.

“Ini apa?”, saya masuk ke dalam dan menyentuh kain yang mereka pajang.

“Ini pashemina, harganya 85 baht. Buat mba 80 baht aja”, ucap Halm.

“Ha, yang ini pashemina bahan silk. Lebih bagus lagi, harga sama”, Halm memberi saya sampel pashima yang akhirnya saya beli untuk Ibu saya.

“Kalau yang ini dompet, beli lima gratis satu”, Halm mengasongkan contoh dompetnya pada saya.

“Beli banyak dapat diskon lagi”, tambahnya.

“Hahaha”, saya tertawa mendengar cara beliau menawarkan. Udah hafal banget ya cara menawarkan barang ke Ibu-ibu.

Paling lucu waktu saya meminta pendapat Halm, “Bagus mana tas untuk ibu saya?”, saya mengambil dua tas.

“Ha, banyak Ibu-ibu kesini beli warna bilu dan hijau”, jawabanya.

Lucu karena mirip orang yang sedang flu, agak sengau suaranya. Dalam bahasa Thailand, mereka tidak memiliki huruf ‘r’, oleh karena itu Jakarta jadi Jakata, biru jadi bilu dan suami saya Irfan, dipanggil Ilfan.

Dari sekian banyak penjual yang kami temui, di pasar, di seven eleven, supir taxi, pedagang di pinggir jalan, rata-rata mereka kurang memahami bahasa inggris dan menimpali pertanyaan kami menggunakan bahasa Thailand. Somehow we understand. Makanya pas ketemu pedagang yang lancar berbahasa Inggris plus bahasa Indonesia, senang banget. Kalau di hotel, resepsionisnya juga bisa bahasa Inggris, tapi tidak semua.

Toko ini juga menerima pembayaran dengan uang rupiah loh, bahkan jadi lebih murah harganya. Mau menukarkan rupiah kita dengan baht juga bisa. Sudah murah-murah, dapet diskon karena beli banyak, dikasih hadiah juga karena belanja lebih dari 1000 baht, pedagangnya ramah daaan sabar menjawab semua pertanyaan saya, membantu memilihkan tas yang bagus untuk oleh-oleh, Mamangnya bisa bahasa Inggris juga bahasa Indonesia lagi. Favorit deh!

Oia toko Kun Fai di Asiatique ini lebih banyak menjual aneka tas khas Thailand ya, termasuk dompet, pajangan, gantungan kunci, dan beberapa oleh-oleh lainnya. Sayangnya mereka tidak menjual baju dan makanan. Jadi untuk membeli baju, kami belanja di pasar pratunam, makanan di Big C dan supermarket di Central Marina Pattaya.

Bangkok
Sawadee kha, Khob khun kha

Okey, part1 sampai sini dulu ya. Insya Allah saya sambung lagi dengan cerita hari ke-3 saat kami main ke Pattaya 😊 Thanks for reading good people.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Ani says:

    enak banget bacanya, tulisannya mengalir

    1. Alhamdulillah mba 🙂

  2. Wida says:

    seru banget ya..unik

  3. muti mimut says:

    Naksir buah mangganya mba, warnanya kuning kinclong kayaknya manis banget yaa 🙂

    1. Iya enak banget mba buah Mangganya 🙂

  4. hihihi,,, lucu bgt taxinya ya mirip kereta kelinci 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s