Homemade Almond Crispy Cheese – by me

Assalamu’alaykum 🙂 Night Moms, rasanya senang banget ya kalau anak kita lahap makan masakan kita. Waktu saya bikin Almond Crispy Cheese Cookies ini Aisya langsung habisin banyak banget lho. Sampai-sampai, cookies ini ga sempet masuk toples, sudah ludes dicemilin begitu keluar dari oven.

Saya juga suka sama Almond Crispy Cheese Cookies yang kres kres gurih-manis ini. Yaa yang paling banyak ngabisin saya dan Aisya memang, hehehe.

Sebetulnya hari itu saya bikin another cookies that I like, yaitu kastengel. Nah karena bikin kastengel ini dalam adonannya hanya memerlukan 2 butir kuning telur (dan bahan-bahan lainnya), saya merasa sayang banget dong kalau putih telur-nya dibuang.

Lalu saya ingat Resep Biskuit Almond yang saya pelajari dari Kokiku TV – saya memang suka mampir ke channel ini untuk mempelajari beberapa resepnya. Selain Almond Crispy Cheese, saya juga beberapa kali membuat Klappertart versi Kokiku TV. Semoga saya bisa share resepnya di lain waktu yaa.

Selain menjadi bahan utama untuk membuat Almond Cripsy Cheese, leftover egg-white juga bisa dimixer dengan kecepatan tinggi, ditambahkan cream of tar tar dan tepung maizena agar menjadi Pavlova – giant marshmallow look alike – yang manis.

But this time, I prefer to make an Almond Crispy Cheese karena saya punya semua bahannya di rumah.

Untuk bikin Almond Crispy Cheese Cookies ini, kita hanya membutuhkan putih telur dari one whole egg beserta ingredients lainnya.

Preparation time-nya memang cukup lama ketimbang bikin Chewy Cookies (resepnya bisa dilihat disini ) atau kastangel tapiii because Aisya like it, saya happyhappy aja saat menyiapkan dan sabar menilik-nilik ke dalam oven, membalikan loyang serta memindahkan loyang dari atas ke bawah secara bergantian agar heat-nya tersebar merata dan bikin cookies ini matang sempurna.

Sempurna itu gimana sih? Yang jelas ga gosong ya, karena jenis cookies ini sangat tipiiis sehingga waktu memanggangnya juga tidak boleh terlalu lama plus api-nya di setel di kecil ke sedang aja (saya pakai Otang ya Moms).

Awal memasukkan ke oven, adonan cookies-nya terlihat pale. Kalau sudah matang, warna cookies-nya akan berubah menjadi kuning-kecokelatan, taburan keju juga almond slice-ya berwarna gold, dan cookiesnya sedikit mengembang.

Secret Ingredients Untuk Bikin Almond Crispy Cheese

 

 

Apa secret ingredients-nya supaya sukses bikim Almond Cheese Cookies? Ini penting banget, Moms : Siapkan baking paper yang kualitasnya bagus. 

Saya mencoba membuat cookies oleh-oleh khas Surabaya ini beberapa kali, ada yang berhasil dan gagal. Saya pernah menggunakan baking paper biasa (warnanya abu-abu), beli di pasar karena yang warnanya putih (kualitasnya lebih bagus) sedang kosong. Dan cookies-nya sukses gagal total haha..

Tidak menyerah, saya pun ke warung membeli kertas minyak yang teksturnya licin. Saya gunakan kertas yang juga disebut kertas wajik ini untuk menjadi alas saat memanggang kastangel, putri salju dan sugar cookies menjelang lebaran and no problem. All cooked well & yummy in our tummy. 

Saya sudah pede nih kalau Almond Crispy Cheese Cookies yang saya buat juga ga bakalan lengket dengan kertasnya. Eh, ternyata tebakan saya meleset Moms, setelah matang dan diambil dari oven, cookies-nya rapet pet pet. Hiks.

Apa daya, all goes to rubbish basket dear..

Saya pun rehat dari per-baking-an sampai akhirnya dapat kesempatan belanja ke Superindo Dago, Bandung sama suami. Nyimpang bentar doang sebelum ke Informa yang ada di seberangnya karena saya ingin mencari baking paper yang bagus disini.

Dulu, pertama kali bikin Almond Crispy Cheese itu saya pakai baking paper dari Superindo. Adanya di lorong peralatan pesta, sedotan, plastik dan lain-lain. Kalau Mommy-mommy mau kesana langsung cari aja atau bisa juga tanya ke petugasnya dulu supaya lebih mudah ya.

Alhamdulillaaaaah ternyata sudah re-stock lagi mereka (sempat kesini juga tapi lagi out of stock). Harganya memang jauh lebih mahal dari baking paper abu-abu. Tekstur kertasnya lebih tebal dan lebih licin on both side.

1 pack berisi 4 lembar baking paper berwarna putih yang cukup lebar, bisa dipotong-potong sesuai ukuran loyang. Saya pakai 4 loyang untuk memanggang Almond Crispy Cheese ini aaand whats make me happier is, kertasnya bisa dipakai 2 kali ya. Selesai memanggang adonan yang pertama bisa dipakai untik term kedua 🙂 jadi lebih hemat kan.

Pas dipakai ga lengket sama sekali, tinggal dicongkel dikit pakai sendok, cookies yang sudah jadi bisa kita ambil seutuhnya. Thanks God.

Sekarang saya mau share bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk membuat Almond Crispy Cheese dan cara bikinnya yaa.

Resep Almond Crispy Cheese-nya Mami Jasmine

Ready Moms? Resep ini saya modifikasi dari resep aslinya ya, dan saya tidak memakai baking powder maupun baking soda. Kukis-nya tetap enak, renyah, ngeju dan almond-nya kriuk-kriuk lhooo 🙂

Bahanbahan :

1. Mentega 2 Sdm, saya pakai Blue Band Cake and Cookies

2. Gula halus 3/4 dari sebungkus gula halus ukuran seperempat, saya beli di pasar

3. Putih telur dari 2 butir telur, saya hanya pakai 3/4-nya saja agar adonannya tidak terlalu banyak

4. Garam, sejumput saja

5. Tepung terigu serba guna 4-5 Sdm

6. Keju parut

7. Almond slice

8. Baking paper berkualitas

9. Whisk

10. Sendok teh

Cara Membuat :

1. Kocok mentega dan gula halus dengan kecepatan sedang ke tinggi menggunakan whisk hingga all blended together. Jika adonannya belum halus kocok lagi hingga teksturnya lembut dan halus

2. Masukkan putih telur, kocok lagi hingga semua tercampur rata seperti adonan pancake

3. Masukan tepung terigu 4 Sdm, aduk rata, jika adonan belum kental, tambahkan lagi terigu dan gula halus sedikit agar seimbang rasa manis dan gurih-nya. Terlalu banyak gula halus dapat menyebabkan adonan cepat gosong, tapi jika kurang maka rasa manisnya tidak akan terlalu terasa. Upayakan agar adonan mendekati adonan kue

4. Bila adonan sudah jadi, ambil 1 sendok teh bater lalu tuangkan ke loyang yang sudah dialasi baking paper. Selanjutnya, kita tipiskan dengan punggung sendok hingga berbentuk bulat tipis

5. Tata almond slice di atas adonan, saya membeli almond slice yang masih mentah sehingga saya sangrai dulu tanpa minyak dengan api kecil agar kacang almondnya matang

6. Next, taburkan keju parut di sekitar Almond slice-nya, saya sengaja tidak mencampurkan keju ke dalam adonan dan hanya menggunakannya untuk toping

7. Panggang di dalam Otang dengan api kecil selama kurang lebih 20 menit, balikan loyang dan pindahkan loyang atas ke bawah secara bergantian per 5 menit sekali

8. Setelah matang tiriskan dan sajikan, saya menggunakan pisin dan langsung dimakan bisa juga dimasukkan ke toples ya Moms 😉

Berbeda dengan memanggang kue, kita tidak boleh sering-sering membuka tutup oven. Paling hanya sekali untuk mengecek tingkat kematangan. Dalam memanggang kukis, 4 kali membuka pintu oven tidak memberi pengaruh yang signifikan pada kukisnya.

Kukis yang kita panggang akan tetap matang, setelah diangkat biarkan kukis-nya berinteraksi dulu dengan udara luar hingga mengeras dan siap disusun ke dalam toples maupun digigit langsung.

Baca juga : Banana Bread Ala Mami Jasmine

Bagaimana? Mudah kan? Tanpa baking soda dan baking powder, adonannya tetap mengembang, mungkin agak berbeda dari versi aslinya but my family like it, so this my version of Almond Crispy Cookies 🙂

Semoga Mami Jasmine Simple Recipe ini bermanfaat ya, I’m happy that I could share with you guys 😉

Advertisements

“Khob Khun Kha” PATTAYA

IMG_20170503_173026

Assalamu’alaykum 🙂 Hi all, welcome to part-2 of Bangkok-Pattaya Trip. If you ask me, what do I miss the most from Pattaya? My answer would be Central Marina Pattaya. Kenapa? Menginap dimana? Dan kemana saja selama kami di Pattaya, semua ada di postingan ini.

Ok, I will start from, transportasi yang kami gunakan dari Bangkok menuju Pattaya.

Naik Bis Dari Stasiun Ekkamai Bangkok Ke Pattaya

Pagi-pagi, kami berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap di Bangkok ke stasiun BTS. Alhamdulillah jaraknya dekat. Lalu kami membeli tiket BTS dari Phaya Thai ke stasiun Ekkamai. Dari stasiun Ekkamai inilah kami melanjutkan perjalanan menggunakan bis ke Pattaya.

Jika di Malaysia token yang digunakan di KTM-nya berupa koin, di Bangkok, tiket untuk naik ke kereta apinya berbentuk kartu. Petugas di pintu masuk akan bertanya terlebih dahulu, stasiun mana yang kita tuju. Kemudian petugas tersebut akan memberi arahan dan membantu kita memasukan kartu ke dalam mesin, karena scan-nya bergerak cepat sekali.

Sampai di stasiun Ekkamai, sementara saya duduk di kursi, suami bersama temannya mengantri untuk membeli tiket bis ke Pattaya. Bis menuju Pattaya ini berangkat setiap 20 menit sekali, jadi datang mendadak pun insya Allah akan dapat tiketnya. Harga tiketnya 124 baht/orang. Harga ini lebih murah ketimbang menyewa taxi dari Bangkok.

Sebelumnya, ada driver taxi, agen travel dan pihak hotel yang menawari kami paket antar juga keliling Pattaya. Biayanya 1000 baht (untuk paket di-drop saja) dan 3000 baht Jika kita mau diantar – one day strolling around Pattaya – kembali lagi ke Bangkok.

Naik bis menjadi pilihan yang hemat dan tepat menurut saya, mungkin karena kami senang mencoba berbagai alat transportasi juga karena saya suka mengamati dan ngobrol dengan orang baru. Sayangnya di Bangkok tidak banyak orang yang mahir berbahasa Inggris, pun saya tidak mengerti bahasa Thailand sehingga komunikasi sedikit terhambat.

Namun berbaur dengan banyak orang dan turis lainnya saja sudah membuat saya bahagia.

Di dalam bis, kami harus duduk sesuai nomor yang ada di kursi. Bis-nya lumayan nyaman, jarak sekitar 149,5 km yang kami tempuh dari Bangkok menuju Pattaya terasa cukup singkat, hanya 2 jam karena jalanannya lancar.

Btw, selama lima hari disini, saya belajar percakapan sederhana dalam bahasa Thai, seperti :

  1. Sawadee kha (greeting)
  2. Kun sabai deemai kha ? (how are you?)
  3. Sabai deemai kha (I’m fine)
  4. Khob Khun Kha (thank you)

Fyi, akhiran – kha – digunakan oleh wanita sedangkan pria menggunakan akhirnya khap/krap. Contohnya untuk bilang terimakasih, pria harus mengucapkan “Khob kun khap”.

Biasanya sih, setelah tersenyum dan menyapa, “Sawade khaaa”, pembicaraan saya dengan beberapa warga Thailand terhenti akibat roaming, paling-paling Aisya menambahkan “Khob kun khaaa”, begitu. Hehe.

Seperti saat kami sampai di Pattaya, driver grab yang suami pesan mengatakan kalau dia menunggu kami di “Shippo Mekko”. That’s what we heard, ketika dia menelepon. Karena bingung, saya masuk ke satu kantor yang terlihat seperti agen travel dan bertanya dimanakah Shipo Mekko.

Sawade khaaa”, ucap mba-mba yang membuka pintu.

Sawade khaa”, sahut saya.

Do you speak English?”, tanya saya.

A little bit”, ah jawabannya melegakan saya.

Tapi setelah saya tanyakan, beliau menggelengkan kepala. Seems that Shippo Mekko is not familiar in her ear.


Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki, melewati beberapa tukang ojeg yang mangkal dekat stasiun bis di Pattaya tersebut. Hingga akhirnya teman suami saya bilang, “Sepertinya itu deh”.

Beliau menunjuk ke sebuah mall bertuliskan ‘Macro Center’.

Kami semua berpandangan lalu tertawa, “Kayaknya iya deh itu, tapi kok jadi jauh amat ya kedengarannya, dari Macro Center jadi Shippo Mekko”.

Dan benar saja ternyata driver-nya sudah stand by di area parkirannya. Mas driver pun meminta kami segera masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas ke hotel tempat kami menginap di Pattaya. Alhamdulillaah.

Menginap di A-One Star Hotel Pattaya

Kami hanya menghabiskan satu malam di Pattaya. Satu malam yang cukup berkesan buat saya. Ada kejadian yang menyenangkan juga yang tidak mengenakan. Apakah itu? Keep reading yaa 😊

A-One Star Hotel Pattaya ini letaknya sangaaaaat dekat dengan Pattaya Beach, tinggal jalan kaki, sampai deh. Hotel bintang 4 ini tetanggaan dengan sederet hotel lainnya di North Pattaya Beach Road.

Review dikit tentang hotelnya ya. Saya suka banget hotel ini, restoran tempat kami sarapannya cukup luas dan terbagi menjadi dua, ada yang indoor juga outdoor. Di bagian luar lobby ada kolam ikan, nah sambil nunggu check in anak-anak main disini. Liat ikan-ikan mas jumbo yang berenang kian kemari.

And my most favourit part is the room. Karena saya pecinta desain interior bergaya minimalis, kamar di A-One Star Hotel ini bikin saya merasa nyaman. Konsepnya space-savingnya keren. Di bawah tempat tidur ada stop kontak, di bagian atas kasur juga ada lampu yang bisa dibengkokkan. Aisya senang bermain dengan lampu ini.

Dan tahukah Anda, biaya menginap per-malamnya murah banget lho, cuma 100 RIBU RUPIAH SAJA. It made this Hotel very recommended to stay.

Wisata Di Pattaya

Pattaya

When it comes to the question, where to go in Pattaya? Sebetulnya ada banyak ya, antara lain :

 

  1. Nong Nooch Tropical Garden
  2. Pattaya Floating Market
  3. Sanctuary Of Truth
  4. Tiffany Cabaret Show
  5. Pattaya View Point
  6. Pattaya Beach
  7. Buddha Mountain
  8. Coral Island
  9. Water Parks
  10. And many more

Berhubung sehari semalam disini, jadi kami hanya mengunjungi tempat yang dekat-dekat saja yaitu Central Marina Pattaya, Pattaya Beach, Pattaya View Point, Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque di Pattaya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pantai Pattaya, hanya untuk foto-foto karena hari masih siang, panas dan kami lapar. Setelah itu kami bergerak mencari kedai makan.

Di sekitaran hotel tidak ada kedai makan. Sambil panas-panasan kami berjalan kaki menuju jalan raya (bukan ke arah pattaya beach ya tapi berlawanan arah ke atas). Jalannya tidak begitu jauh sih, hanya saja panasnya Pattaya bikin meleleh..

Alhamdulillah di seberang jalan, kami menemukan Central Marina, one of the cutest mall in town, I must said.

Central Marina Pattaya

 

Dari luar, Central Marina ini lebih terlihat seperti factory outlet dengan banyaknya jendela dan pintu yang bercat putih, ketika masuk ke dalam, ternyata ini merupakan mall yang cukup besar. Di dalam mall ini ada food court, big C, dan toko yang menjual berbagai jenis barang.

Why do I say that this Mall is one of the cutest small I’ve ever seen? Karena desain-nya yang lucu, warna-warni, ceria, light, beachy dan anak-anak sekaliiii.

Lihat saja kids corner di food court-nya, Aisya dan Hamka loncat-loncat disini sambil menonton kartun sambil menunggu pesanan datang sebelum akhirnya saya menyuapi Aisya di tempat duduk anak. Mall ini juga dilengkapi dengan playground yang cukup besar, gratis lagi, bikin Aisya dan Mami happy main disini.

Oia, disini kami lagi-lagi memesan masakan india. Relatif lebih aman ditambah penjualnya mengatakan kalau makanan yang mereka jual halal.

Sama satu lagi, mall ini punya toilet anak yang lucuuuu abiiiss. Jarang kan lihat toilet khusus anak di Mall? Hehehe.

Gimana? gemaaay kan? 🙂

Berbagai fasilitas yang ramah anak, bikin saya nyaman di mall ini. Malam harinya kami pergi kesini lagi untuk berbelanja oleh-oleh di Big C. Saya juga membeli madu Raja untuk Bapak saya disini. Kemasannya beragam, saya memilih best seller honey yang sama mba penjaganya disebut “Product of the King”.

Baca juga : 8 Thailand Snack Yang Cocok Dijadikan Oleh-oleh

Ada 2 jenis madu dengan kemasan botol ini, ada yang dari kaca juga plastik. Penjaga toko menyarankan kami untuk membeli madu dalam botol plastic, agar lebih aman dibawa selama perjalanan pulang katanya. Kalau yang kaca khawatir pecah.

Alhamdulillah Bapak suka madu ini, sekarang sudah habis nih 😊

Pattaya Beach – Pattaya View Point

Setelah siang harinya kami makan, ngadem, dan jalan-jalan di Central Marina, sore harinya kami menyewa motor untuk berkeliling beach road, berfoto di Pattaya View Point dan menemani anak-anak bermain ombak di Pattaya Beach.

Untuk sampai ke Pattaya View Point, kami harus melewati satu gang yang mirip dengan area bar di Bali, yang bikin gang ini mencolok adalah, para kathoey yang berdiri sambil memanggil pengendara yang lewat untuk mampir.

Beberapa lady boy yang berbusana teramat sexy ini terlihat sedang menemani pengunjung pria, baik di bar-nya maupun di pinggir jalan. Buat saya, cukup sekali deh lewat gang ini. Peace, hehehe.

Sejauh mata memandang, baik di Bangkok maupun Pattaya, kita memang akan mudah menemukan atau sering melihat waria dimana-mana. Waria-waria ini ada yang bekerja sebagai penjaga toko, tukang pijat, bekerja di bar, menjadi penari dan lain-lain. Bahkan saat di Pattaya View Point, kami juga bertemu dengan waria-waria yang sedang jalan santai.

Kembali ke Pattaya View Point ya. Di area ini terdapat taman yang difasilitasi dengan berbagai alat olahraga, beberapa lansia juga terlihat menggelar matras tipis untuk senam bersama instruktur. Senam sore gitu.

Untuk sampai dan berfoto di dekat tulisan PATTAYA, kami harus memarkirkan motor di dekat taman tersebut dan menuruni anak tangga dengan berjalan kaki. Nah begini pemandangan Pattaya Beach di sore hari dari Pattaya View Point, kalau malam hari lampu-lampunya akan berpijar cantik.

Karena anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain dengan ombak, kami tidak berlama-lama di Pattaya View Point dan langsung cuuus ke pantai.

Ombak di Pattaya Beach sangat landai. Dari pinggir pantai kita bisa melihat berbagai jenis perahu, ada boat, hingga yacht yang parkir disana. Pantainya sepi pengunjung, mungkin Pattaya Beach hanya ramai di waktu-waktu tertentu. To be honest, pantai di Belitung dan Bali masih jauh lebih indah.

Baca juga : Island Hopping Di Belitong

Oia, ada baiknya kita ekstra hati-hati saat memarkirkan motor di area Pattaya Beach Road ini. Seperti yang sudah saya tulis di atas, selama berkunjung ke Pattaya, ada pengalaman buruk yang kami alami.

Begini ceritanya, ketika kami memarkirkan motor sewaan di seberang pantai di sebelah motor-motor lainnya, di tempat itu ada orang yang berjaga. Dan tidak tertera larangan apa pun. Kami pun merasa aman-aman saja memarkirkan motor disitu.

Tapi sekembalinya kami dari pantai, ZONK! Motornya HILAAANG. Kemanakah? Alhamdulillah ada orang di dekat sana yang bisa berbahasa inggris, beliau memberitahu kami kalau motor sewaan yang kami parkir disana diangkut oleh polisi.

Saya, Aisya, Mba Minnie dan Hamka sepakat untuk kembali ke hotel sementara Bapak-bapaknya mengurusi motor sewaan ini ke kantor polisi. Awalnya sih terpikir untuk menghubungi pihak yang menyewakan motor, tapi karena ingin segera selesai akhirnya para suami memilih untuk langsung ke kantor polisi.

Kira-kira pukul 08.00 malam, suami saya balik ke hotel, membawa serta motornya. Beliau bilang, sebelumnya memang pernah baca blog traveler yang juga kena scam di Pattaya. Jadi saat parkir, tidak ada orang yang mencolek atau memperingatkan kita agar tidak parkir disana, seperti kasus kami tadi. Toh tukang parkir yang ada disana ngga bilang apa-apa.

Desas-desusnya sih preman di sekitaran sana bekerjasama dengan polisi. Jadilah suami-suami kami membayar sejumlah uang pada preman dan polisi agar motor sewaannya bisa diambil kembali. Habis berapa? Kira-kira 600 baht lah untuk menebus motornya 😊

Banyak hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Intinya kalau teman-teman mau main ke Pattaya, hati-hati ya saat parkir motor. Lebih baik parkir-kan motor sewaan dihotel saja dan jalan kaki ke pantai-nya, dengan catatan hotelnya dekat dengan pantai ya. Kalau jauh trus jalan kaki mah gempor atuh hehe.

Saat berkendara ke mall juga, parkirlah di dalam, jangan di pinggir jalan. Di pinggir mall ada banyak sekali motor yang parkir, but who knows right? Daripada kena scam, mending parkir di dalam mall. Di Central Marina biaya parkirnya juga gratis kok.

Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque di Pattaya

Sebelum kembali ke Bangkok, pagi hari kami menyempatkan diri jalan-jalan dulu di sekitaran Pattaya, yaitu ke Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque Pattaya.

I am very amazed to see a Masjid and Islamic school in Pattaya, despite its night life. Di Darul Ibadah ini ada Islamic School untuk anak-anak TK. Para pengajar yang mostly wanita mengenakan jilbab, anak-anak perempuan juga ada yang memakai jilbab.

Saya sangat tertarik untuk bercakap-cakap dengan staff disana, namun kembali, kendala bahasa membuat saya urung. Sebelum saya, ada turis dari Arab yang menanyakan tempat makan yang halal di sekitar sana pada guru-gurunya.

Ada seorang guru kemudian datang, beliau nampaknya cukup mengerti bahasa Inggris dan menjelaskan arah-arah jalan. Setelah itu guru ini langsung pergi lagi ke dalam kelas, sepertinya sedang sibuk ya hehe. Akhirnya saya mengamati dari luar saja.

Ada beberapa kelas di Taman Kanak-kanak ini. Di tiap kelas ada bendera-bendera dari negara ASEAN. Bendera Indonesia juga terpampang disana. Di area Masjid juga terdapat kantor yang mengurusi bidang dakwah.

Selesai mengunjungi kedua tempat ini, kami langsung kembali ke hotel untuk packing, mengembalikan motor sewaan dan memesan grab menuju stasiun bis yang akan membawa kami kembali ke Bangkok.

Okey, part-2 sampai disini dulu, yang belum baca part-1 bisa klik SAWADEE KHA! BANGKOK

Semoga catatan #travelingkeluarga ini memberi cukup informasi untuk teman-teman yang mau berkunjung ke Pattaya (Amiin). Terimakasih sudah mampir yaa 😊

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KILOMETER NAYA

Asap rokok mengepul di udara bercampur dengan gulungan uap bubur yang sedang diaduk dalam panci besar. Kipas jerami dikibas-kibaskan di atas panggangan roti. Tengah malam di kafe ini, masih saja diminati pengunjung. Ada yang berpasangan, bersama colega, dan ada juga yang berkumpul dengan rekan sejawat. Seperti Naya dan beberapa temannya. Baru kali pertama Naya bersantap malam di bilangan Alfus itu, bersama wajah-wajah yang beberapa baru dia kenal. Tadi pagi, notifikasi penanda adanya pesan baru yang masuk ke WhatsApp-nya berbunyi.

Dimas
Hari ini
Nay, gue dah di Jakarta nih. Lu ada acara gak ntar malem?

Naya membalas,

Horeee, welcome to hometown!
Hmm, ngga ada sih, knapa? Lu mau ngajak jalan ya?

Hore juga! Haha.
Iya nih mau ngajak lu maen.
Tau aja lu, hehe, gimana bisa gak?

Bisa, gue free. Mau kemana emang?

Blom tau kemana, yang penting jalan dulu.
Gue jemput ya? Kantor lu dimana?

Di depan E&Y aja yaa. Jam 7 malam.

Oke. See yaa.

Sekali lagi gadget Naya itu bergetar,

Jalanan lama itu lengang. Naya mengelus lehernya canggung, menggulung ujung rambutnya yang bergelombang, salah tingkah. Kompak dengan pria yang duduk disampingnya, ia mengusap hidungnya berkali-kali. Dari balik kaca mobil, Naya memandang langit gelap. Baru kali pertama Naya kopi darat dengan Dimas, panggilan untuk pria yang menjemputnya di kantor tadi. Kejadiannya cukup menghebohkan karena Naya mendadak harus lembur.

“Dimas! Halo! Lu dimana? Kayaknyanya gue gak bisa ikut acara, malem ini gue lembur”, ucap Naya agak panik.

“Hah? Masa gak jadi? gue dah di depan kantor lu. Gue tunggu deh di parkiran”, jawaban Dimas meluluhkan hati Naya.

Setengah jam kemudian, ada pesan masuk lagi ke smartphone Naya.

Dimas
Hari ini, 19:43
Nay, gue kepanasan.
Boleh masuk ke kantor lu, gak?

Begitu membuka isi pesan, Naya langsung menuruni anak tangga, dan mencari sosok Dimas di parkiran.

“Dimas, lu di mobil yang mana?”, tanya Naya, menelepon yang kedua kali.

“Di mobil seberang lo, coba tebak yang manaaa?”, Dimas menggodanya.

Naya memandangi mobil mungil ber-plat KT, persis di depan tempat ia berdiri, pria berkupluk melambaikan tangan dan membuka pintu mobil, mendekati Naya.

Tanpa ber-hai ria, Naya yang panik berkata, “Aduh, Dimas gue gak enak banget nih. Gak apa-apa nunggu? Tadi kan udah gue bilang gausah kesini, gue gak ikut aja deh daripada ngerepotin”, lidah Naya bersilat dengan otaknya.

It’s ok, santai, gue tungguin ko”, Dimas hanya tersenyum manis.

Dinginnya AC mobil merambat ke celah kulit Naya.

Oh God! This man is too cute!’, batin Naya.

“Maaf banget ya, tadi lo harus sampe nunggu 2 jam”, Naya memasang tampang bersalah.

“Santai”, jawab Dimas cool.

‘Ya Tuhaaan, selamatkan gue!”, saat itu juga Naya ingin menangis.

Naya membuka jendela Starlett hitam itu, sedikit angin malam yang dirindukannya berhembus ke dalam, memberikan rasa nyaman. Musik yang dihentak pun membuat suasana hatinya riang, padahal ia cukup lelah seharian. Mereka hampir sampai ke tempat yang dituju, dimana teman-teman Dimas sudah menunggu.

Ya, kafe roti bakar itu.

Masih dengan asap-asap yang mengepul menghangatkan malam. Makanan kini sudah terhidang.

Sebelum turun dari mobil, Dimas sempat bertanya, “Lo suka musik, Nay?”.

“Banget!”, kata Naya.

“Suka fotografi juga?”, tanya Dimas lagi.

“Iya, suka dipotret dan motret”, jawab Naya.

Dimas tersenyum renyah, “Sama dong. Eh ntar tolong ingetin kita parkir dimana ya, gue suka lupa”.

Naya mengangguk.

Sambil melahap roti bakar isi keju, meneguk cappuccino dingin, Naya melebur di pembicaraan antar engineer tersebut. Mereka berbicara soal berapa lama di site, nominal digit gaji berapa, tentang pria-pria dan wanita yang menggemari mereka di lapangan, onderdil, bola, sampai tentang penampilan.

‘Dasar cowok-cowok metroseksual!’, batin Naya.

“Kalo lu suka sama mantan temen lu, ya nggak apa-apa kali dibilang ke orangnya. Orang udah putus juga”, kata Dimas tiba-tiba.

Naya yang sempat melamun ketinggalan hot topic.

“Kecuali kalo lo suka ama pacar temen lo, nah gak usah lapor!”, Dimas meneruskan kata-katanya.

“Eh, kenapa? Bisa di-rewind gak?”, tanya Naya sok nyambung.

3 pria di depan Naya melakukan gaya memutar balik gerakan seperti di film-film, mengundang gelak tawa.

“Jadi, tadi kita lagi ngomongin soal Gilang yang menghubungkan drama percintaannya dengan sebuah sitkom, nah dari situ kita coba mencocokkan, masing-masing kita ada di posisi siapa di sitkom itu. Sekaligus nebak-nebak siapa kira-kira cewe yang disukai si Gilang. Clue-nya dari film itu adalah si cewe yang disukai Gilang adalah mantan dari salah satu anggota geng kita”, jelas Dimas.

“Kan banyak tuh cowok-cowok di geng ini, makannya kita rada susah nebaknya”, lanjutnya lagi.

“Ah, bahasannya malesin”, komentar Naya. Ia tidak tertarik dengan perbincangan itu.

Malam semakin larut. Gelas-gelas berisi ovaltine, milkshake, jeruk peras, sudah terseruput habis. Tenggorokan mulai kering, angin malam semakin dingin. Waktu berdetak, pagi masih panjang.

“Besok Naya masuk kerja, kan? Balik yuk! Kasian tuh dia udah ngantuk-ngantuk”, Dimas menunjuk muka Naya yang pias.

Lantas bangku-bangku pun ditinggalkan, bill serta uang makan pun dibayarkan.

“Ambil aja kembaliannya”, kata Dimas lagi, membahagiakan penjual roti bakar tersebut.

Naya kembali duduk di samping Dimas yang menyetir, dalam hati ia tak ingin pulang. Mobil, jalanan, angin malam adalah kesukaan Naya.

“Lu sampai kapan di Jakarta?”, tanya Naya di sela kerasnya musik dari radio favorit Dimas.

“Minggu depan gue balik ke offshore. Kenapa?”, Dimas melirik Naya.

“Ajarin gue nyetir dong!”, ucap Naya sekenanya. Ia memencet tombol membuka jendela, menutupi kegugupannya.

“Boleh”, jawab Dimas menyeka keringat kecil di hidungnya.

“Besok ya, gue jemput jam 7 malam, lu harus udah beres kerja ya”, Dimas mengultimatum Naya dengan lembut. Tentu saja, Naya mengiyakan, pun ia akan kabur jika ada tugas lembur.

***

Sore itu, kala senja mulai menabur warna, Naya masih sempat membubuhkan perona pipi di wajah mungilnya. Ia berjingkrak-jingkrak dengan heels-nya. Menunggu malam tiba. Kantor sudah sepi.

“Ah! Giliran gue yang nungguin dia, padahal kemarin Dimas yang nunggu gue sampai 2 jam”, Naya menonjok tangan kirinya pelan. Ia memandangi setiap mobil yang melintas, berharap Dimas segera datang. Apa mau dikata, macet adalah rutinitas biasa. Dan jarak Tangerang- Jakarta minimal ditempuh dalam waktu 1 jam.

“Kenapa lu gak pake jokey sih?”, Tanya Naya saat Dimas memberitahu bahwa ia akan berangkat setelah magrib supaya aman masuk jalur 3 in 1.

“Nggak ah. Gue males masuk-masukkin orang yang gak gue kenal ke dalam mobil”, jawab Dimas.

Naya tidak bisa berpikir betapa baiknya orang yang baru saja dia kenal kemarin, mau mengajarinya menyetir mobil cuma-cuma. Naya sudah tidak tahan untuk bertemu lagi dengan Dimas.

Dimas.
Hari ini, 19:35.
Gue di seberang lo.
Liat mobil gue, kan?
Ksini ya, nyebrang.

Begitu bunyi pesan yang diterima Naya.

Tidak sampai 5 menit, mereka sudah tiba di tempat latihan.

Change seat”, ucap Dimas, sambil keluar membukakan pintu untuk Naya.

Never treated like this before’, Naya membatin dalam sipu malu di pipi-nya.

So, explain!”, Naya memerintah dengan nada sok.

Dimas nyengir, “Okeee!”.

Dan tutorial singkat pun dimulai. Naya mulai menstater mobil, menyalakan lampu, menyelaraskan antara melepas kaki kiri dari kopling perlahan dan menginjak gas. Setirnya masih miring-miring ke kiri, sehingga Dimas masih harus memegangi setirnya agar seimbang.

Gelapnya jalanan malam membuat Naya kurang mampu melihat beberapa portal dan trotoar di depan jalan, bukan hanya sekali dua kali Naya hampir menabrak. Setelah berputar berkali-kali dan mesin mobil 5 kali mendadak mati, Naya mulai merasa kaki kirinya tegang. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan meminta feed back dari Dimas.

“Lo terlalu panik, Nayaaa. Santai aja”, Dimas mengusap kepala Naya.

“DEG!”, Jantung Naya berdegup.

‘Masih pukul 9 malam’, perasaan tidak enak menjalari tubuh Naya.

“Udah dulu yuk? Gue bosen muter-muter disini”, Naya me-reka-reka alasan.

“Beneran mau udahan nih?”, Dimas sangsi.

“Iya, gimana kalau kita keliling Jakarta ngabisin bensin?”, Naya asal bicara lagi, pupil matanya berkeliaran.

“OK, kita ngalong dah ya! Change seat”, ucapan Dimas melegakan Naya.

Sisa malam itu dihabiskan dengan canda, ada saja hal yang bisa membuat Naya dan Dimas tertawa bersama. Naya sengaja membuka jendela mobil lebar-lebar, kadang berteriak, kadang ia bersenandung. Hatinya melonjak-lonjak, pipinya bersemu merah, Naya sangat bahagia.

***

“Nyebuuuut Nay! Nyebut!”, Ayu mengusap punggung Naya yang naik turun riuh rendah.

“Jangan sampai kamu silau sama hal-hal yang nggak abadi, Nay!”, lanjutnya lagi.

“Harta, ketampanan, mobil, uang, itu semua bersifat duniawi, Nay”, ucap sahabat Naya.

Naya sesegukan kencang. Menahan luapan emosi.

“Nyebut, Nay…”, Ayu menuntun Naya untuk tenang.

“Lagian, who knows? Bisa jadi kan you know who sengaja ngirimin Dimas, buat nge-tes elu?”, Ayu melontarkan argumentasinya lagi.

Kedatangan Dimas memang tiba-tiba, too sweet, too good to be true. Naya sempat berpikir kalau pria yang disebut you know who oleh Ayu memang sengaja meminta Dimas, sahabatnya sendiri untuk lebih mengenal Ayu. Karena setelah hampir 2 tahun Naya menjalin hubungan dengan you know who, Naya belum pernah bertemu Dimas.

‘But what’s the purpose?’, hati Naya enggan kompromi.

“Aku dan you know who udah nggak pernah komunikasi selama 2 bulan ini. I even think that this relationship is over. Gimana kalau Dimas memang one nice guy yang pure pengen temenan sama gue? There’s still a possibility kan, Ay?”, Naya bersikeras.

“Naya, please think about this, aku memang pernah bilang kalau, you deserve a better man than you know who, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, Ayu menjejalkan berbagai logika ke telinga Naya.

Naya terdiam. Ia pernah berkata, jika Tuhan membiarkannya jatuh cinta sekali lagi, maka ia akan menjaga cinta itu. Namun jatuh cinta di waktu yang tidak tepat, ternyata menorehkan lebih banyak luka.

Antara sadar dan tidak, Naya memperhatikan kilometer demi kilometer yang mulai berkurang jaraknya. Sinar matahari sore memantul tajam, melantunkan lagu pengantar tidur untuknya. Ia bersembunyi dibalik tirai. Tangannya menggengam erat kotak brownies. Wangi Cheese Cream-nya menusuk, menggoda untuk dicuil. Ingin rasanya Naya mencomot satu, namun oleh-oleh khas Bandung itu hanyalah titipan.

Angka-angka di penunjuk kilometer pun mulai kabur. Ah! Hari ini keinginannya membeli kacamata silindris terlewat lagi. Begitu banyak agenda di hari Sabtu dan Minggu. Weekend feels like weekdays!

“Itu resiko, Nay! Elu yang mau jabanin bisnis, udah jelas ortu lu ngelarang-larang, lu sendiri nerabas palang”, teringat lagi pertemuannya dengan teman-teman lama.

“Ya mau gimana lagi, namanya juga gue bisnis baju. Traffic paling sibuk ya pas weekend”, ucap Naya.

“Emang hari ini lu ngapain aja?”, tanya Ayu yang jadi teller di Bank.

Deal with supplier kain, meet up buyers, masukin stock baju ke butik-butik disini, ya gitu-gitu deh”, jawab Naya, agak lelah.

“Akhirnya, setelah putus nyambung berkali-kali, lu officially break up juga sama you know who. Patut dirayakan nih! Traktir dooooong!”, hahaha, sahabat-sahabat yang bisa saja menghibur Naya.

Perut Naya kembali gelisah, dirogohnya Apple iPhone7 baru miliknya, hasil hunting Sabtu kemarin di BEC2, jam menunjukkan pukul 6.30 maghrib. Kalau ditahan, bisa maag. Ia memutar otak untuk menyiasati rasa lapar. Oh ya! Ada potongan buah mangga terbungkus dalam kotak bekal, ia lahap juga tanpa mencuci tangan. ‘Banyak vitamin!’, ajaran papa-nya.

“Nay lu kurusan, ya”, kata Mira,

“Minum weight gain deh!”,
“Habisin makannya!”,

“Kalau makan itu, ngunyahnya pakai gigi geraham, Nay, jangan pakai gigi susu”,

Serententan komentar sahabat-sahabatnya yang bak rekaman radio, Mira dan Ayu sama-sama gemas dengan Naya yang makan setengah piring pun tidak habis.

“Mending lain kali lo pesennya setengah porsi aja deh dari pada mubazir”, Ayu menimpali.

“Seneng deh, masih ada yang care sama gue”, Naya tersenyum manis.

Dari ledek-ledekkan tentang fisik, obrolan pun beranjak ke afternoon sharing yang agak berat. Udah kaya ganti session di channel radio aja.

Mira yang memulai, spontan, “Tau gak? Kepala gue peniiiing banget jam 3 malem tadi”.

Tidak ada yang merespon.

“Biasanya kan gue kalo minum bir cuma segelas ya! Ini 3 gelas dong! Kepala gue puyeng abis dah!”, kata Mira sambil meremas-remas kepalanya.

Naya dan Ayu beradu pandang, maklum.

“Asal lu jaga diri aja, Mir. Udah tau kebanyakan bikin pusing. Jangan diulangi”, Naya unjuk bicara.

“Iya, semalem dingin banget sih. Muter-muter Bandung, kuliner malem ampe gempor”, keluhnya.

“Nah Nay, kenapa bisa putus sama you know who?”, todong Mira.

Naya tersedak.

“Hmm, there are two types of goodbye. The one with words, and the one that said long time ago, with silence”, ucap Ayu.

Naya hanya menaikkan alisnya, menegaskan kepada kedua sahabat-nya, “I don’t want to talk about it”.

Kebanyakan orang mengenal sosok You Know Who sebagai  tokoh voldermort dalam film fantasy yang diadaptasi dari novel laris karangan JK. Rowling, Harry Potter. Voldermort adalah penyihir kejam yang bagi Naya sedikit mirip dengan mantan-nya.

Sikapnya yang kurang manly, suka merendah-rendahkan Naya dan hilang tanpa jejak selama 2 bulan cukup untuk menyandingkannya dengan musuh bebuyutan Harry Potter itu. That’s why mereka bertiga sepakat menjulukinya you know who.

Beberapa kali Ayu mengutarakan, “Nay, you deserve a better man”.

Atau yang terakhir kali Ayu katakan, “You deserve a better man than ‘you know who’, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, saat Naya terjebak antara ketidakpastian ‘you know who’ dan peluang hubungan baru dengan sahabat ‘you know who’.

Just so you know, Nay. You’ll seem very cheesy on both side if you going with Dimas”, kalimat pamungkas Ayu ini bikin Naya sadar, sesadar-sadarnya kalau harga dirinya lebih penting dan nggak ditentukan dari dengan siapa dia berhubungan atau apakah dia sudah punya calon suami atau belum, melainkan dari integritas Naya sendiri sebagai individu, karya-karya dan dedikasi Naya dalam hidupnya.

“Ayu, lu tau kan kalau kebanyakan perempuan nggak akan melepaskan hubungan yang lama sebelum ada ancang-ancang hubungan baru? I’m so afraid of being alone again”, ucap Naya insecure.

“You’re not alone, Naya. You’ll become a single and happy lady. It’s time for you to learn to be happy before you really ready to jump into a relationship again”, Ayu membesarkan hati Naya.

You know Naya, a person could only have a happy relationship only if that person is a happy soul all by herself. Plus, you have me and Mira, we’ll stand by you”, lanjut sahabat Naya yang berparas se-ayu namanya.

Butuh keberanian bagi Naya untuk merelakan 2 tahun yang ia jalani, – meski lebih banyak pahitnya – untuk disudahi. Pasalnya you know who adalah mantan pertama Naya yang bikin Naya nggak tega nolaknya saat ditembak. Gimana mau say nolha wong cowok metroseksual itu nangis-nangis sambil bilang, “I could see our future through your eyes”.

Sekarang Naya yakin itu bullshit. Nampaknya pernikahan butuh lebih dari sekedar yang namanya cinta ya..

“I owe you, Ayu”, mata Naya berkaca-kaca ketika ia akhirnya memilih menata hati-nya, menarik diri baik dari Dimas maupun you know who.

Dan hari ini Ayu menagih janji Naya tempo hari, saat Naya bilang “I owe you, Ayu” atas jasanya menyadarkan Naya dari kegalauan hubungannya. Ayu hanya meminta Naya untuk mentraktir Ayu dan Mira, dua sahabat Naya di restoran yang lagi hits di Bandung. Hits karena sambil makan, setengah betis mereka nyelup ke kolam berisi air. Lumayan lah sensasi adem-nya sampai ke hati dan kepala.

Matcha ice cream yang dipesan Naya mulai mencair, luruh seperti harapannya untuk menikah yang makin absurd.

Ayu yang menyadari adanya ke-kaku-an diantara mereka menetralisir suasana dengan cerita. Melulu itu, tentang cerita Long Distance Relationship Ayu dan Azwan, kekasih-ganteng-melayu-nya.

“Lu sendiri kenapa masih bertahan LDR-an sama cowok Melayu itu?”, selidik Mira.

“Abis ganteng, Mba. Orangnya sopan, kerjaannya juga bagus, keluarganya oke, prospek ke depannya cemerlang lah”, Ayu mesem-mesem.

“Dih, makan tuh ganteng”, Mira mendengus kesal.

“Dimana-mana yang namanya cewe itu butuh kepastian, Ra. Lu jangan mau deh digantung kaya gitu. Jemuran aja kelamaan digantung bakal kering kaku, apalagi hati elu”, Mira meluncurkan kalimat pedas lagi.

Ayu langsung manyun, “Masa hati disamain sama jemuran tho, Mbak!”.

“HAHAHA!”, tawa Naya meledak.

“Hmm, kenapa nggak tunangan dulu aja?”, Naya tiba-tiba tergelitik untuk ngerecokin.

“Wah, bakal panjang nih”, Ayu menyingsingkan lengan bajunya dan memesan lasagna.

Ya, topik tentang cinta memang tidak pernah basi. Seperti warna hitam dalam dunia fashion, abadi. Mau dibicarakan kapan pun, akan menjadi bahasan yang membuat kita, memesan lagi banyak makanan dan minuman. Kalau menginap jadi tidak tidur semalaman.

Usia Naya, Mira dan Ayu tak lagi muda. Dulu mereka memang idaman para pria, sekarang, mau dibilang cantik, karir mapan, rasanya nggak ada harganya kalau belum jadi Nyonya. Teman kuliah, kolega di kantor rata-rata sudah berumah tangga.

Pernah suatu kali bos minta ditemenin keluar kota saat weekend, teman kantor yang satu nggak bisa nemenin karena anaknya baru berusia 7 hari mau akikahan, Mbak senior panutan Naya mau check up bareng suaminya – mereka lagi program untuk punya anak tahun ini -, teman yang duduk sebelah Naya ambil cuti beberapa hari karena mau ada acara lamaran, sementara Naya?

Naya tidak punya alasan kuat untuk menolak ajakan bos-nya yang berarti ia harus siap diomeli sepanjang perjalanan dan jadi tumbal kalau-kalau presentasi-nya tidak berjalan lancar. Apes deh. Makannya Naya ingin cepat-cepat berkeluarga supaya bisa excuse kalau bos super killer-nya ngajakin meeting dadakan lagi.

‘Nah kan, niat mau nikahnya aja masih recehan begini..’, Naya ditegur suara hatinya sendiri.

“Gue sih menyiapkan diri gue untuk hidup tanpa menikah”, pengakuan Mira membuat Naya dan Ayu tersentak.

Is that weird?”, dan kini Mira malah tampak ragu dengan pilihannya.

Berebut komen, Naya menyumpal mulut Ayu dengan suapan lasagna, “No, It’s is not. If u ready”, kata Naya.

“Gue sih gak berani, karena gimana pun, gue hidup di lingkungan yang pasti akan bertanya kapan gue nikah. Begitu pula Emak gue, pasti dia mencak-mencaklah kalo anak cewe-nya gak nikah-nikah”, susah payah Ayu berontak sambil menelan cheesy lasagna.

“Ya, secara, bokap gue dah passed away, dan gue harus biayain adik-adik gue kuliah”, curhat Mira.

“Asal lu gak apa-apa, ya it’s okey”, Naya mencondongkan badan ke muka Mira, memberi dukungan.

“Gue fine, gak tau nyokap gue”, Mira memastikan.

Well, when it comes to a marriage. Things are getting more complicated”, Naya menaik-turunkan alisnya lagi.

“Eeh, complicated yang gue maksud disini itu maksudnyaaa, keputusan buat nikah itu melibatkan banyak pihak, ada kesepakatan bersama dan kita nggak bisa seenak udel ujug-ujug mau nikah”, Naya cepat-cepat meluruskan supaya Mira nggak salah tangkap.

“Setuju! Buat milih pasangan juga kan harus bagus bibit bebet bobot-nya, kata Rasulullah pilih yang bagus agamanya, pekerjaannya, keturunannya dan yang pasti ganteng Mbaa!”, Ayu semangat nimbrung lagi.

“Ckckck, itu ganteng masih dibawa-bawa juga”, Mira sewot lagi.

“Gue tambahin satu deh kriteria-nya, gelem karo koe!”, Naya berkelakar.

Ayu manyun lagi, “Bang Azwan gelem ko karo aku”, gumannya.

“Ahahahaaa, nah itu dia yang lagi susah buat gue sekarang. Nyari yang mau sama gue dulu deh sebelum masuk ke kriteria yang Ayu sebutin tadi”, timpal Naya.

“Yaa, gue sih pengen nikah. Tapi bukan karena latah. Masa hanya karena temen-temen kita dah pada merit, kita jadi pengen buru-buru juga . Well, kalo gue pribadi sih, pengennya sekarang tuh nyenengin ortu gue dulu. Ngehajiin mereka dan biayain adek gue sampe lulus kuliah”, Mira memperjelas misinya.

Kata-kata Mira yang notabene cewek boyish abis bikin hati Naya dan Ayu terenyuh.

Stick together”, Ayu merangkul pundak Naya dan Mira.

However, di saat-saat down, entah itu patah hati, jadwal merit yang diundur, maupun kehilangan kepercayaan diri, girls time always help.

Naya melayangkan pandangannya, ia menyibak tirai yang sedari tadi menutupi wajahnya dari keindah malam. Raga dan pikirannya telah kembali ke detik ini. Matanya mengedip. Baru kali ini dia benar-benar mendengarkan curhatan sahabat-sahabatnya sejak SMA itu. Mereka sempat juga berebut teman sebangku. Habis ganjil sih.

Ternyata masing-masing manusia, memiliki cerita hidup yang berbeda meskipun tumbuh besar bersama.

Naya berbisik di hati, “Mungkin alasan kenapa gue masih juga single, karena Tuhan pengen gue mendengarkan keluhan temen-temen gue dan saling menguatkan satu sama lain. Ada buat orang-orang yang menyanyangi gue”.

Kilometer demi kilometer sudah dilewati, hingar-bingar Ibukota mulai berpijar. Naya mengerenyitkan dahinya, pose dia kala berpikir. Ia berpikir, mungkin seperti itu juga perjalanan hidup manusia. Untuk menempuh keseluruhan jarak, kendaraan yang penumpang naiki harus melewati 1 kilometer dulu sebelum sampai ke kilometer selanjutnya, dengan kecepatan yang tidak konstan, kadang ngebut dan kadang ngesot seperti keong terjebak macet. Selama perjalanan pun, tidak jarang kita beristirahat  sejenak di rest area, untuk sekedar cari angin, buang angin, buang air, buang uang beli kopi, teh, susu telor madu jahe, menyeduh mie kuah, ngeborong tahu Sumedang maupun gorengan.

5 jam ditempuh dengan kesabaran menuju kilometer 0. Dan setelah mencapai kilometer akhir, Naya siap melangkahkan kaki di sepi-nya malam. Memulai kilometernya yang baru.

***

 

 

 

 

 

 

 

 


Pancake Pisang – Oatmeal Buatan Jasmine

 Pancake Aisya

Pagi sekali, Jasmine sudah bangun.

Jasmine sangat bersemangat hari ini.

Tadi malam, sebelum tidur, Bunda berjanji akan membuatkan Jasmine pancake untuk keesokan harinya.

Ya, Jasmine suka sekali pancake.

“Bunda, bunda, lagi masak ya?”, tanya Jasmine, menghampiri Bunda-nya ke dapur.

“Wah, anak Bunda sudah bangun”, Bunda Jasmine kaget.

“Iya sayang, Bunda sedang masak”, jawab Bunda.

“Masak pancake ya Bunda?”, tanya Jasmine lagi.

“Iya, Jasmine mau bantu?”, ajak Bunda.

“Mau, mau mau!”, seru Jasmine gembira.

“Hari ini, kita akan membuat pancake spesial”, ucap Bunda.

“Pancake spesial?”, Jasmine penasaran.

“Iya, pancake-nya dibuat dari oatmel dan pisang”, jelas Bunda.

“Waaah, pakai pisang ya Bunda? Hmm yummiii”, Jasmine membayangkan betapa lezat pancakenya.

“Yuk kita mulai”, Bunda memperkenalkan satu per satu bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat pancake.

Ada oatmel, pisang, susu, telur, garam, gula dan mentega cair.

Jasmine memperhatikan dengan antusias.

“Pertama-tama, kita blender dulu oatmeal-nya. Sampai bentuknya seperti terigu”, ucap Bunda.

“Kenapa nggak pakai terigu, Bunda?”, tanya Jasmine.

“Pakai oatmel juga bisa, sayang”, jawab Bunda.

Bunda menjelaskan, bahwa oatmeal dan pisang lebih sehat.

“Bunda boleh minta tolong Jasmine memasukkan oatmeal-nya ke dalam blender?, tanya Bunda.

“Boleh Bunda”, Jasmine membantu dengan senang hati.

Setelah oatmeal-nya masuk, Bunda menyalakan blendernya.

Terdengarlah bunyi blender yang bising, Jasmine menutup telinganya sambil tertawa.

Bunda menekan tombol agar blender berhenti berputar dan menuangkan oatmeal bubuk ke dalam sebuah mangkok.

“Waaah, jadi halus ya Bunda”, ucap Jasmine saat melihatnya.

“Iya sayang, jadi seperti terigu ya”, Bunda tersenyum.

Jasmine mengangguk.

“Nah, sekarang Jasmine bantu Bunda ya”, kata Bunda.

“Bantu apa Bunda?”, tanya Jasmine.

Jasmine melihat Bunda memecahkan sebutir telur dan memasukkan isinya ke dalam mangkok besar.

“Jasmine, tolong masukkan mentega cair-nya ke dalam telur ya”, Bunda meminta tolong pada Jasmine.

“Oh iya Bunda”, Jasmine mengambil mangkok besar berisi telur dan menuangkan mentega cair ke atasnya.

Bunda mengambil whisk, alat pengocok adonan kemudian mulai mengocok campuran telur dan mentega cair-nya.

“Aku mau, aku mau, Bunda”, teriak Jasmine.

Rupanya Jasmine ingin mencoba mengocok telur-nya.

“Boleh, pelan-pelan ya sayang”, Bunda memberikan whisk-nya pada Jasmine.

Saat Jasmine sedang asik mengocok telur, Bunda memasukkan bahan lainnya ke dalam mangkok besar.

“Kita tambahkan susu cair ke dalam telurnya ya”, Bunda menuangkan sedikit susu.

“Aku mau, aku mau”, Jasmine tertarik untuk mencoba menambahkan susu-nya.

“Boleh, sedikit-sedikit ya sayang”, Bunda meminta Jasmine untuk menuangkan susu cair perlahan.

“Terus, kita tambahkan apa lagi, Bunda”, Jasmine semangat sekali membantu.

“Ini tolong masukan oatmeal yang sudah dihaluskan ya”, Bunda tersenyum melihat Jasmine yang sigap membantu.

Jasmine menuangkan semua oatmeal ke dalam mangkok besar

“Ambil sejumput garam”, Bunda menambahkan garam dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Kok pakai garam Bunda, nanti asin dong?”, tanya Jasmine.

“Garam-nya sedikit aja kok sayang. Supaya rasa dari semua adonan bisa menyatu”, Bunda menjelaskan kegunaan garam pada Jasmine.

“Gula-nya sama akuuu”, Jasmine ingin memasukkan gula pasir ke dalam mangkok berisi adonan.

“Boleh, gula pasirnya 1 sendok saja ya”, ucap Bunda.

“Kenapa satu sendok, Bunda”, Jasmine penasaran lagi.

“Kan pisang-nya sudah manis, jadi gula-nya secukupnya aja”, jawab Bunda.

“Oh iya, nanti kemanisan ya Bunda”, Jasmine berseri-seri.

“Kita aduk dulu adonannya yuk”, ajak Bunda.

“Sama aku, sama aku”, Jasmine berseru semangat.

Jasmine mengaduk semua adonan menjadi satu.

“Boleh gantian? Kan Jasmine sudah, sekarang giliran Bunda mengaduk ya”, pinta Bunda.

“Oh, boleh-boleh”, rupanya Jasmine asik sekali melihat gumpalan-gumpalan di mangkok adonan.

Bunda mengocok adonan dengan cepat.

Membuat gumpalan-gumpalan besar yang Jasmine buat menjadi halus.

“Waaah, adonannya jadi seperti es krim ya Bunda”, ucap Jasmine saat Bunda selesai mengaduk.

“Iya sayang, lembut dan halus ya”, ucap Bunda.

Jasmine mencelupkan jari telunjuk ke dalam mangkok berisi adonan dan menjilatnya.

“Hmm, maniiiis”, ucap Jasmine.

“Jasmine, sayang. Ini belum matang, harus dimasak dulu ya sebelum dimakan”, Bunda mengingatkan Jasmine.

“Oh iya, lupa Bunda. Habis, bentuknya seperti es krim sih”, Jasmine tersipu malu.

“Pisangnya kapan dimasukkan, Bunda”, Jasmine teringat pisang-nya masih utuh.

“Oh iya, boleh kita masukkan sekarang ya”, jawab Bunda.

Jasmine melihat Bunda mengupas pisang dan memotong pisang menjadi dua.

“Wah potongannya besar sekali, Bunda”, ucap Jasmine, bingung karena potongan pisangnya besar sekali.

“Aku potong kecil-kecil ya Bunda”, Jasmine menawarkan diri untuk memotong pisang menjadi bagian-bagian yang kecil.

“Oh, nggak perlu dipotong sayang, kita haluskan dengan garpu saja”, jawab Bunda.

Bunda mengambil garpu kemudian menekan-nekan pisang hingga pipih dan halus.

“Ini namanya pisang tumbuk”, kata Bunda.

“Nggak perlu terlalu halus ditumbuknya, agar pancake-nya bertekstur”, jelas Bunda lagi.

“Naaah, selesai, kita masukkan pisangnya ke dalam mangkok adonan ya”, ajak Bunda.

“Aku mau, aku mau!”, ucap Jasmine yang ingin mencampurkan pisang ke dalam adonan pancake.

“Diaduknya pakai sendok saja ya sayang”, kata Bunda.

“Pelan-pelan ya Bunda?”, tanya Jasmine.

“Wah pintar Jasmine”, puji Bunda.

“Iya pelan-pelan saja sayang, agar adonannya nggak keluar mangkok”, Bunda tersenyum.

“Oke, sekarang kita nyalakan kompor dan taruh adonan pancake di atas teflon ya”, ucap Bunda.

“Aku mau, aku mau”, kata Jasmine lagi.

“Dimasak sama Bunda ya karena teflonnya panas”, Bunda meminta Jasmine untuk melihat saja.

Bunda membalikkan pancake-nya, agar semua sisi matang.

“Taraaa, pancake-nya sudah matang!”, ucap Bunda.

“Asiiiik”, teriak Jasmine.

“Sekarang kita hias pancake-nya ya”, ajak Bunda.

“Aku mau pakai selai cokelat”, Jasmine mengambil selai cokelat.

“Boleh”, kata Bunda.

Jasmine mengoleskan selai cokelat ke atas pancake-nya.

“Gimana rasanya, enak pancake-nya?”, tanya Bunda.

“Hmm, yumiii”, jawab Jasmine.

“Enaaaak sekali”, ucap Jasmine lagi.

“Bunda mau?”, Jasmine menawari Bunda.

“Mau, mau mau”, Bunda mengikuti gaya bicara Jasmine.

Jasmine dan Bunda tertawa bersama.

Pagi itu, Jasmine senang sekali. Ia belajar membuat adonan pancake. Jasmine jadi tahu berbagai bahan untuk membuat pancake dan ikut mengaduknya.

“Bunda”, panggil Jasmine sambil mengunyah.

“Iya, sayang”, jawab Bunda.

“Ini pancake pisang-oatmeal buatan Jasmine!”, seru-nya.

“Hebat! Jasmine sudah bisa buat pancake ya sekarang”, puji Bunda.

“Aku suka pancake!”, Aisya berseru gembira.