KILOMETER NAYA

Asap rokok mengepul di udara bercampur dengan gulungan uap bubur yang sedang diaduk dalam panci besar. Kipas jerami dikibas-kibaskan di atas panggangan roti. Tengah malam di kafe ini, masih saja diminati pengunjung. Ada yang berpasangan, bersama colega, dan ada juga yang berkumpul dengan rekan sejawat. Seperti Naya dan beberapa temannya. Baru kali pertama Naya bersantap malam di bilangan Alfus itu, bersama wajah-wajah yang beberapa baru dia kenal. Tadi pagi, notifikasi penanda adanya pesan baru yang masuk ke WhatsApp-nya berbunyi.

Dimas
Hari ini
Nay, gue dah di Jakarta nih. Lu ada acara gak ntar malem?

Naya membalas,

Horeee, welcome to hometown!
Hmm, ngga ada sih, knapa? Lu mau ngajak jalan ya?

Hore juga! Haha.
Iya nih mau ngajak lu maen.
Tau aja lu, hehe, gimana bisa gak?

Bisa, gue free. Mau kemana emang?

Blom tau kemana, yang penting jalan dulu.
Gue jemput ya? Kantor lu dimana?

Di depan E&Y aja yaa. Jam 7 malam.

Oke. See yaa.

Sekali lagi gadget Naya itu bergetar,

Jalanan lama itu lengang. Naya mengelus lehernya canggung, menggulung ujung rambutnya yang bergelombang, salah tingkah. Kompak dengan pria yang duduk disampingnya, ia mengusap hidungnya berkali-kali. Dari balik kaca mobil, Naya memandang langit gelap. Baru kali pertama Naya kopi darat dengan Dimas, panggilan untuk pria yang menjemputnya di kantor tadi. Kejadiannya cukup menghebohkan karena Naya mendadak harus lembur.

“Dimas! Halo! Lu dimana? Kayaknyanya gue gak bisa ikut acara, malem ini gue lembur”, ucap Naya agak panik.

“Hah? Masa gak jadi? gue dah di depan kantor lu. Gue tunggu deh di parkiran”, jawaban Dimas meluluhkan hati Naya.

Setengah jam kemudian, ada pesan masuk lagi ke smartphone Naya.

Dimas
Hari ini, 19:43
Nay, gue kepanasan.
Boleh masuk ke kantor lu, gak?

Begitu membuka isi pesan, Naya langsung menuruni anak tangga, dan mencari sosok Dimas di parkiran.

“Dimas, lu di mobil yang mana?”, tanya Naya, menelepon yang kedua kali.

“Di mobil seberang lo, coba tebak yang manaaa?”, Dimas menggodanya.

Naya memandangi mobil mungil ber-plat KT, persis di depan tempat ia berdiri, pria berkupluk melambaikan tangan dan membuka pintu mobil, mendekati Naya.

Tanpa ber-hai ria, Naya yang panik berkata, “Aduh, Dimas gue gak enak banget nih. Gak apa-apa nunggu? Tadi kan udah gue bilang gausah kesini, gue gak ikut aja deh daripada ngerepotin”, lidah Naya bersilat dengan otaknya.

It’s ok, santai, gue tungguin ko”, Dimas hanya tersenyum manis.

Dinginnya AC mobil merambat ke celah kulit Naya.

Oh God! This man is too cute!’, batin Naya.

“Maaf banget ya, tadi lo harus sampe nunggu 2 jam”, Naya memasang tampang bersalah.

“Santai”, jawab Dimas cool.

‘Ya Tuhaaan, selamatkan gue!”, saat itu juga Naya ingin menangis.

Naya membuka jendela Starlett hitam itu, sedikit angin malam yang dirindukannya berhembus ke dalam, memberikan rasa nyaman. Musik yang dihentak pun membuat suasana hatinya riang, padahal ia cukup lelah seharian. Mereka hampir sampai ke tempat yang dituju, dimana teman-teman Dimas sudah menunggu.

Ya, kafe roti bakar itu.

Masih dengan asap-asap yang mengepul menghangatkan malam. Makanan kini sudah terhidang.

Sebelum turun dari mobil, Dimas sempat bertanya, “Lo suka musik, Nay?”.

“Banget!”, kata Naya.

“Suka fotografi juga?”, tanya Dimas lagi.

“Iya, suka dipotret dan motret”, jawab Naya.

Dimas tersenyum renyah, “Sama dong. Eh ntar tolong ingetin kita parkir dimana ya, gue suka lupa”.

Naya mengangguk.

Sambil melahap roti bakar isi keju, meneguk cappuccino dingin, Naya melebur di pembicaraan antar engineer tersebut. Mereka berbicara soal berapa lama di site, nominal digit gaji berapa, tentang pria-pria dan wanita yang menggemari mereka di lapangan, onderdil, bola, sampai tentang penampilan.

‘Dasar cowok-cowok metroseksual!’, batin Naya.

“Kalo lu suka sama mantan temen lu, ya nggak apa-apa kali dibilang ke orangnya. Orang udah putus juga”, kata Dimas tiba-tiba.

Naya yang sempat melamun ketinggalan hot topic.

“Kecuali kalo lo suka ama pacar temen lo, nah gak usah lapor!”, Dimas meneruskan kata-katanya.

“Eh, kenapa? Bisa di-rewind gak?”, tanya Naya sok nyambung.

3 pria di depan Naya melakukan gaya memutar balik gerakan seperti di film-film, mengundang gelak tawa.

“Jadi, tadi kita lagi ngomongin soal Gilang yang menghubungkan drama percintaannya dengan sebuah sitkom, nah dari situ kita coba mencocokkan, masing-masing kita ada di posisi siapa di sitkom itu. Sekaligus nebak-nebak siapa kira-kira cewe yang disukai si Gilang. Clue-nya dari film itu adalah si cewe yang disukai Gilang adalah mantan dari salah satu anggota geng kita”, jelas Dimas.

“Kan banyak tuh cowok-cowok di geng ini, makannya kita rada susah nebaknya”, lanjutnya lagi.

“Ah, bahasannya malesin”, komentar Naya. Ia tidak tertarik dengan perbincangan itu.

Malam semakin larut. Gelas-gelas berisi ovaltine, milkshake, jeruk peras, sudah terseruput habis. Tenggorokan mulai kering, angin malam semakin dingin. Waktu berdetak, pagi masih panjang.

“Besok Naya masuk kerja, kan? Balik yuk! Kasian tuh dia udah ngantuk-ngantuk”, Dimas menunjuk muka Naya yang pias.

Lantas bangku-bangku pun ditinggalkan, bill serta uang makan pun dibayarkan.

“Ambil aja kembaliannya”, kata Dimas lagi, membahagiakan penjual roti bakar tersebut.

Naya kembali duduk di samping Dimas yang menyetir, dalam hati ia tak ingin pulang. Mobil, jalanan, angin malam adalah kesukaan Naya.

“Lu sampai kapan di Jakarta?”, tanya Naya di sela kerasnya musik dari radio favorit Dimas.

“Minggu depan gue balik ke offshore. Kenapa?”, Dimas melirik Naya.

“Ajarin gue nyetir dong!”, ucap Naya sekenanya. Ia memencet tombol membuka jendela, menutupi kegugupannya.

“Boleh”, jawab Dimas menyeka keringat kecil di hidungnya.

“Besok ya, gue jemput jam 7 malam, lu harus udah beres kerja ya”, Dimas mengultimatum Naya dengan lembut. Tentu saja, Naya mengiyakan, pun ia akan kabur jika ada tugas lembur.

***

Sore itu, kala senja mulai menabur warna, Naya masih sempat membubuhkan perona pipi di wajah mungilnya. Ia berjingkrak-jingkrak dengan heels-nya. Menunggu malam tiba. Kantor sudah sepi.

“Ah! Giliran gue yang nungguin dia, padahal kemarin Dimas yang nunggu gue sampai 2 jam”, Naya menonjok tangan kirinya pelan. Ia memandangi setiap mobil yang melintas, berharap Dimas segera datang. Apa mau dikata, macet adalah rutinitas biasa. Dan jarak Tangerang- Jakarta minimal ditempuh dalam waktu 1 jam.

“Kenapa lu gak pake jokey sih?”, Tanya Naya saat Dimas memberitahu bahwa ia akan berangkat setelah magrib supaya aman masuk jalur 3 in 1.

“Nggak ah. Gue males masuk-masukkin orang yang gak gue kenal ke dalam mobil”, jawab Dimas.

Naya tidak bisa berpikir betapa baiknya orang yang baru saja dia kenal kemarin, mau mengajarinya menyetir mobil cuma-cuma. Naya sudah tidak tahan untuk bertemu lagi dengan Dimas.

Dimas.
Hari ini, 19:35.
Gue di seberang lo.
Liat mobil gue, kan?
Ksini ya, nyebrang.

Begitu bunyi pesan yang diterima Naya.

Tidak sampai 5 menit, mereka sudah tiba di tempat latihan.

Change seat”, ucap Dimas, sambil keluar membukakan pintu untuk Naya.

Never treated like this before’, Naya membatin dalam sipu malu di pipi-nya.

So, explain!”, Naya memerintah dengan nada sok.

Dimas nyengir, “Okeee!”.

Dan tutorial singkat pun dimulai. Naya mulai menstater mobil, menyalakan lampu, menyelaraskan antara melepas kaki kiri dari kopling perlahan dan menginjak gas. Setirnya masih miring-miring ke kiri, sehingga Dimas masih harus memegangi setirnya agar seimbang.

Gelapnya jalanan malam membuat Naya kurang mampu melihat beberapa portal dan trotoar di depan jalan, bukan hanya sekali dua kali Naya hampir menabrak. Setelah berputar berkali-kali dan mesin mobil 5 kali mendadak mati, Naya mulai merasa kaki kirinya tegang. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan meminta feed back dari Dimas.

“Lo terlalu panik, Nayaaa. Santai aja”, Dimas mengusap kepala Naya.

“DEG!”, Jantung Naya berdegup.

‘Masih pukul 9 malam’, perasaan tidak enak menjalari tubuh Naya.

“Udah dulu yuk? Gue bosen muter-muter disini”, Naya me-reka-reka alasan.

“Beneran mau udahan nih?”, Dimas sangsi.

“Iya, gimana kalau kita keliling Jakarta ngabisin bensin?”, Naya asal bicara lagi, pupil matanya berkeliaran.

“OK, kita ngalong dah ya! Change seat”, ucapan Dimas melegakan Naya.

Sisa malam itu dihabiskan dengan canda, ada saja hal yang bisa membuat Naya dan Dimas tertawa bersama. Naya sengaja membuka jendela mobil lebar-lebar, kadang berteriak, kadang ia bersenandung. Hatinya melonjak-lonjak, pipinya bersemu merah, Naya sangat bahagia.

***

“Nyebuuuut Nay! Nyebut!”, Ayu mengusap punggung Naya yang naik turun riuh rendah.

“Jangan sampai kamu silau sama hal-hal yang nggak abadi, Nay!”, lanjutnya lagi.

“Harta, ketampanan, mobil, uang, itu semua bersifat duniawi, Nay”, ucap sahabat Naya.

Naya sesegukan kencang. Menahan luapan emosi.

“Nyebut, Nay…”, Ayu menuntun Naya untuk tenang.

“Lagian, who knows? Bisa jadi kan you know who sengaja ngirimin Dimas, buat nge-tes elu?”, Ayu melontarkan argumentasinya lagi.

Kedatangan Dimas memang tiba-tiba, too sweet, too good to be true. Naya sempat berpikir kalau pria yang disebut you know who oleh Ayu memang sengaja meminta Dimas, sahabatnya sendiri untuk lebih mengenal Ayu. Karena setelah hampir 2 tahun Naya menjalin hubungan dengan you know who, Naya belum pernah bertemu Dimas.

‘But what’s the purpose?’, hati Naya enggan kompromi.

“Aku dan you know who udah nggak pernah komunikasi selama 2 bulan ini. I even think that this relationship is over. Gimana kalau Dimas memang one nice guy yang pure pengen temenan sama gue? There’s still a possibility kan, Ay?”, Naya bersikeras.

“Naya, please think about this, aku memang pernah bilang kalau, you deserve a better man than you know who, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, Ayu menjejalkan berbagai logika ke telinga Naya.

Naya terdiam. Ia pernah berkata, jika Tuhan membiarkannya jatuh cinta sekali lagi, maka ia akan menjaga cinta itu. Namun jatuh cinta di waktu yang tidak tepat, ternyata menorehkan lebih banyak luka.

Antara sadar dan tidak, Naya memperhatikan kilometer demi kilometer yang mulai berkurang jaraknya. Sinar matahari sore memantul tajam, melantunkan lagu pengantar tidur untuknya. Ia bersembunyi dibalik tirai. Tangannya menggengam erat kotak brownies. Wangi Cheese Cream-nya menusuk, menggoda untuk dicuil. Ingin rasanya Naya mencomot satu, namun oleh-oleh khas Bandung itu hanyalah titipan.

Angka-angka di penunjuk kilometer pun mulai kabur. Ah! Hari ini keinginannya membeli kacamata silindris terlewat lagi. Begitu banyak agenda di hari Sabtu dan Minggu. Weekend feels like weekdays!

“Itu resiko, Nay! Elu yang mau jabanin bisnis, udah jelas ortu lu ngelarang-larang, lu sendiri nerabas palang”, teringat lagi pertemuannya dengan teman-teman lama.

“Ya mau gimana lagi, namanya juga gue bisnis baju. Traffic paling sibuk ya pas weekend”, ucap Naya.

“Emang hari ini lu ngapain aja?”, tanya Ayu yang jadi teller di Bank.

Deal with supplier kain, meet up buyers, masukin stock baju ke butik-butik disini, ya gitu-gitu deh”, jawab Naya, agak lelah.

“Akhirnya, setelah putus nyambung berkali-kali, lu officially break up juga sama you know who. Patut dirayakan nih! Traktir dooooong!”, hahaha, sahabat-sahabat yang bisa saja menghibur Naya.

Perut Naya kembali gelisah, dirogohnya Apple iPhone7 baru miliknya, hasil hunting Sabtu kemarin di BEC2, jam menunjukkan pukul 6.30 maghrib. Kalau ditahan, bisa maag. Ia memutar otak untuk menyiasati rasa lapar. Oh ya! Ada potongan buah mangga terbungkus dalam kotak bekal, ia lahap juga tanpa mencuci tangan. ‘Banyak vitamin!’, ajaran papa-nya.

“Nay lu kurusan, ya”, kata Mira,

“Minum weight gain deh!”,
“Habisin makannya!”,

“Kalau makan itu, ngunyahnya pakai gigi geraham, Nay, jangan pakai gigi susu”,

Serententan komentar sahabat-sahabatnya yang bak rekaman radio, Mira dan Ayu sama-sama gemas dengan Naya yang makan setengah piring pun tidak habis.

“Mending lain kali lo pesennya setengah porsi aja deh dari pada mubazir”, Ayu menimpali.

“Seneng deh, masih ada yang care sama gue”, Naya tersenyum manis.

Dari ledek-ledekkan tentang fisik, obrolan pun beranjak ke afternoon sharing yang agak berat. Udah kaya ganti session di channel radio aja.

Mira yang memulai, spontan, “Tau gak? Kepala gue peniiiing banget jam 3 malem tadi”.

Tidak ada yang merespon.

“Biasanya kan gue kalo minum bir cuma segelas ya! Ini 3 gelas dong! Kepala gue puyeng abis dah!”, kata Mira sambil meremas-remas kepalanya.

Naya dan Ayu beradu pandang, maklum.

“Asal lu jaga diri aja, Mir. Udah tau kebanyakan bikin pusing. Jangan diulangi”, Naya unjuk bicara.

“Iya, semalem dingin banget sih. Muter-muter Bandung, kuliner malem ampe gempor”, keluhnya.

“Nah Nay, kenapa bisa putus sama you know who?”, todong Mira.

Naya tersedak.

“Hmm, there are two types of goodbye. The one with words, and the one that said long time ago, with silence”, ucap Ayu.

Naya hanya menaikkan alisnya, menegaskan kepada kedua sahabat-nya, “I don’t want to talk about it”.

Kebanyakan orang mengenal sosok You Know Who sebagai  tokoh voldermort dalam film fantasy yang diadaptasi dari novel laris karangan JK. Rowling, Harry Potter. Voldermort adalah penyihir kejam yang bagi Naya sedikit mirip dengan mantan-nya.

Sikapnya yang kurang manly, suka merendah-rendahkan Naya dan hilang tanpa jejak selama 2 bulan cukup untuk menyandingkannya dengan musuh bebuyutan Harry Potter itu. That’s why mereka bertiga sepakat menjulukinya you know who.

Beberapa kali Ayu mengutarakan, “Nay, you deserve a better man”.

Atau yang terakhir kali Ayu katakan, “You deserve a better man than ‘you know who’, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, saat Naya terjebak antara ketidakpastian ‘you know who’ dan peluang hubungan baru dengan sahabat ‘you know who’.

Just so you know, Nay. You’ll seem very cheesy on both side if you going with Dimas”, kalimat pamungkas Ayu ini bikin Naya sadar, sesadar-sadarnya kalau harga dirinya lebih penting dan nggak ditentukan dari dengan siapa dia berhubungan atau apakah dia sudah punya calon suami atau belum, melainkan dari integritas Naya sendiri sebagai individu, karya-karya dan dedikasi Naya dalam hidupnya.

“Ayu, lu tau kan kalau kebanyakan perempuan nggak akan melepaskan hubungan yang lama sebelum ada ancang-ancang hubungan baru? I’m so afraid of being alone again”, ucap Naya insecure.

“You’re not alone, Naya. You’ll become a single and happy lady. It’s time for you to learn to be happy before you really ready to jump into a relationship again”, Ayu membesarkan hati Naya.

You know Naya, a person could only have a happy relationship only if that person is a happy soul all by herself. Plus, you have me and Mira, we’ll stand by you”, lanjut sahabat Naya yang berparas se-ayu namanya.

Butuh keberanian bagi Naya untuk merelakan 2 tahun yang ia jalani, – meski lebih banyak pahitnya – untuk disudahi. Pasalnya you know who adalah mantan pertama Naya yang bikin Naya nggak tega nolaknya saat ditembak. Gimana mau say nolha wong cowok metroseksual itu nangis-nangis sambil bilang, “I could see our future through your eyes”.

Sekarang Naya yakin itu bullshit. Nampaknya pernikahan butuh lebih dari sekedar yang namanya cinta ya..

“I owe you, Ayu”, mata Naya berkaca-kaca ketika ia akhirnya memilih menata hati-nya, menarik diri baik dari Dimas maupun you know who.

Dan hari ini Ayu menagih janji Naya tempo hari, saat Naya bilang “I owe you, Ayu” atas jasanya menyadarkan Naya dari kegalauan hubungannya. Ayu hanya meminta Naya untuk mentraktir Ayu dan Mira, dua sahabat Naya di restoran yang lagi hits di Bandung. Hits karena sambil makan, setengah betis mereka nyelup ke kolam berisi air. Lumayan lah sensasi adem-nya sampai ke hati dan kepala.

Matcha ice cream yang dipesan Naya mulai mencair, luruh seperti harapannya untuk menikah yang makin absurd.

Ayu yang menyadari adanya ke-kaku-an diantara mereka menetralisir suasana dengan cerita. Melulu itu, tentang cerita Long Distance Relationship Ayu dan Azwan, kekasih-ganteng-melayu-nya.

“Lu sendiri kenapa masih bertahan LDR-an sama cowok Melayu itu?”, selidik Mira.

“Abis ganteng, Mba. Orangnya sopan, kerjaannya juga bagus, keluarganya oke, prospek ke depannya cemerlang lah”, Ayu mesem-mesem.

“Dih, makan tuh ganteng”, Mira mendengus kesal.

“Dimana-mana yang namanya cewe itu butuh kepastian, Ra. Lu jangan mau deh digantung kaya gitu. Jemuran aja kelamaan digantung bakal kering kaku, apalagi hati elu”, Mira meluncurkan kalimat pedas lagi.

Ayu langsung manyun, “Masa hati disamain sama jemuran tho, Mbak!”.

“HAHAHA!”, tawa Naya meledak.

“Hmm, kenapa nggak tunangan dulu aja?”, Naya tiba-tiba tergelitik untuk ngerecokin.

“Wah, bakal panjang nih”, Ayu menyingsingkan lengan bajunya dan memesan lasagna.

Ya, topik tentang cinta memang tidak pernah basi. Seperti warna hitam dalam dunia fashion, abadi. Mau dibicarakan kapan pun, akan menjadi bahasan yang membuat kita, memesan lagi banyak makanan dan minuman. Kalau menginap jadi tidak tidur semalaman.

Usia Naya, Mira dan Ayu tak lagi muda. Dulu mereka memang idaman para pria, sekarang, mau dibilang cantik, karir mapan, rasanya nggak ada harganya kalau belum jadi Nyonya. Teman kuliah, kolega di kantor rata-rata sudah berumah tangga.

Pernah suatu kali bos minta ditemenin keluar kota saat weekend, teman kantor yang satu nggak bisa nemenin karena anaknya baru berusia 7 hari mau akikahan, Mbak senior panutan Naya mau check up bareng suaminya – mereka lagi program untuk punya anak tahun ini -, teman yang duduk sebelah Naya ambil cuti beberapa hari karena mau ada acara lamaran, sementara Naya?

Naya tidak punya alasan kuat untuk menolak ajakan bos-nya yang berarti ia harus siap diomeli sepanjang perjalanan dan jadi tumbal kalau-kalau presentasi-nya tidak berjalan lancar. Apes deh. Makannya Naya ingin cepat-cepat berkeluarga supaya bisa excuse kalau bos super killer-nya ngajakin meeting dadakan lagi.

‘Nah kan, niat mau nikahnya aja masih recehan begini..’, Naya ditegur suara hatinya sendiri.

“Gue sih menyiapkan diri gue untuk hidup tanpa menikah”, pengakuan Mira membuat Naya dan Ayu tersentak.

Is that weird?”, dan kini Mira malah tampak ragu dengan pilihannya.

Berebut komen, Naya menyumpal mulut Ayu dengan suapan lasagna, “No, It’s is not. If u ready”, kata Naya.

“Gue sih gak berani, karena gimana pun, gue hidup di lingkungan yang pasti akan bertanya kapan gue nikah. Begitu pula Emak gue, pasti dia mencak-mencaklah kalo anak cewe-nya gak nikah-nikah”, susah payah Ayu berontak sambil menelan cheesy lasagna.

“Ya, secara, bokap gue dah passed away, dan gue harus biayain adik-adik gue kuliah”, curhat Mira.

“Asal lu gak apa-apa, ya it’s okey”, Naya mencondongkan badan ke muka Mira, memberi dukungan.

“Gue fine, gak tau nyokap gue”, Mira memastikan.

Well, when it comes to a marriage. Things are getting more complicated”, Naya menaik-turunkan alisnya lagi.

“Eeh, complicated yang gue maksud disini itu maksudnyaaa, keputusan buat nikah itu melibatkan banyak pihak, ada kesepakatan bersama dan kita nggak bisa seenak udel ujug-ujug mau nikah”, Naya cepat-cepat meluruskan supaya Mira nggak salah tangkap.

“Setuju! Buat milih pasangan juga kan harus bagus bibit bebet bobot-nya, kata Rasulullah pilih yang bagus agamanya, pekerjaannya, keturunannya dan yang pasti ganteng Mbaa!”, Ayu semangat nimbrung lagi.

“Ckckck, itu ganteng masih dibawa-bawa juga”, Mira sewot lagi.

“Gue tambahin satu deh kriteria-nya, gelem karo koe!”, Naya berkelakar.

Ayu manyun lagi, “Bang Azwan gelem ko karo aku”, gumannya.

“Ahahahaaa, nah itu dia yang lagi susah buat gue sekarang. Nyari yang mau sama gue dulu deh sebelum masuk ke kriteria yang Ayu sebutin tadi”, timpal Naya.

“Yaa, gue sih pengen nikah. Tapi bukan karena latah. Masa hanya karena temen-temen kita dah pada merit, kita jadi pengen buru-buru juga . Well, kalo gue pribadi sih, pengennya sekarang tuh nyenengin ortu gue dulu. Ngehajiin mereka dan biayain adek gue sampe lulus kuliah”, Mira memperjelas misinya.

Kata-kata Mira yang notabene cewek boyish abis bikin hati Naya dan Ayu terenyuh.

Stick together”, Ayu merangkul pundak Naya dan Mira.

However, di saat-saat down, entah itu patah hati, jadwal merit yang diundur, maupun kehilangan kepercayaan diri, girls time always help.

Naya melayangkan pandangannya, ia menyibak tirai yang sedari tadi menutupi wajahnya dari keindah malam. Raga dan pikirannya telah kembali ke detik ini. Matanya mengedip. Baru kali ini dia benar-benar mendengarkan curhatan sahabat-sahabatnya sejak SMA itu. Mereka sempat juga berebut teman sebangku. Habis ganjil sih.

Ternyata masing-masing manusia, memiliki cerita hidup yang berbeda meskipun tumbuh besar bersama.

Naya berbisik di hati, “Mungkin alasan kenapa gue masih juga single, karena Tuhan pengen gue mendengarkan keluhan temen-temen gue dan saling menguatkan satu sama lain. Ada buat orang-orang yang menyanyangi gue”.

Kilometer demi kilometer sudah dilewati, hingar-bingar Ibukota mulai berpijar. Naya mengerenyitkan dahinya, pose dia kala berpikir. Ia berpikir, mungkin seperti itu juga perjalanan hidup manusia. Untuk menempuh keseluruhan jarak, kendaraan yang penumpang naiki harus melewati 1 kilometer dulu sebelum sampai ke kilometer selanjutnya, dengan kecepatan yang tidak konstan, kadang ngebut dan kadang ngesot seperti keong terjebak macet. Selama perjalanan pun, tidak jarang kita beristirahat  sejenak di rest area, untuk sekedar cari angin, buang angin, buang air, buang uang beli kopi, teh, susu telor madu jahe, menyeduh mie kuah, ngeborong tahu Sumedang maupun gorengan.

5 jam ditempuh dengan kesabaran menuju kilometer 0. Dan setelah mencapai kilometer akhir, Naya siap melangkahkan kaki di sepi-nya malam. Memulai kilometernya yang baru.

***

 

 

 

 

 

 

 

 


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s