3 FAKTA UNIK THAILAND

IMG_20170503_140457
I really like when it rain, it makes my heart peaceful and grow a happy feeling inside of me
.

Hujan bikin saya tenang dan semangat, seneng aja gitu. Adik saya bilang, saya Pluviophile. Dari 7 ciri yang dipaparkan dalam IDNTimes most of them betul sih, cuma saya ngga sampai pengen hujan-hujanan dan justru malah kurang suka lihat awan gelapnya. But I enjoy when the rain fall, membuka pintu, membiarkan hawa sejuk yang dibawa hujan masuk, mencium aroma tanah yang diguyur hujan dan merenung-menatap rintik air yang turun.

Aisya sampai heran kenapa saya anteng lihatin hujan, dan akhirnya dia menutup pintu rumah dan berkata, “Mami, jangan lihatin hujan, ayo temenin Aisya di dalam”. Hihi, ternyata Aisya kurang suka saya menikmati hujan lama-lama.

Some people probably think, saya kurang kerjaan. But I don’t know, I just like it.

Hujan juga seringkali mengajak saya mengingat momen-momen yang sudah berlalu, kerinduan terhadap masa muda, hal-hal mellow yang pernah saya lewatkan.

Ya, saya lagi kangen jaman kuliah dan nge-mall sama teman-teman, hang out, ngobrol ngalor ngidul. Having besties around you, to hear whatever that I say.. I miss those moment.

I miss talking a lot and meet many people.

Hujan 4 hari ini sukses bikin saya nostalgia. Salah satunya ke momen saat saya jadi panitia AUDC saat kuliah. Asean Universities Debate Championship mempertemukan saya dengan banyak orang dari negara-negara yang ada di ASEAN.

Di event ini saya juga kenalan sama seorang Bikshu dari Thailand, he was a student of Mahidol University that time. I remembered that we walked together, talk and accompanied him to looking for a vegan birthday cake for his friend.

Mumpung ingatannya masih hangat, saya mau gabungkan dengan 3 memori mengesankan lainnya saat saya mengunjungi Thailand Mei lalu ya.

3 FAKTA UNIK TENTANG THAILAND

  1. Monks Are Everywhere

     

    IMG_20170502_073907

    Monks on the street

    Sebelum saya berangkat ke Thailand, saya sudah mencari-cari kontak teman lama saya itu – Phra Chainarong namanya – dipanggil Elpi. But I didn’t find either his email or instagram or facebook.

    Memang sih, ngga semua participants yang saya kenal ketika AUDC berlangsung masih keep in contact sama saya. Hanya beberapa saja yang lumayan sering ngobrol.

    So, keinginan reunian sama Elpi di Bangkok kayaknya gagal deh. Terakhir nge-google sih, sekarang beliau jadi dosen di Mahidol University, Wallohualam bishowab 🙂

    Nah, pas ke Bangkok saya melihat banyaaaak banget bikshu yang tersebar di berbagai tempat. Seperti di pasar, di terminal bus, di pinggir jalan, di kuil juga di bandara.

    IMG_20170503_092410

    Para bikshu di terminal bus

    Para bikshu ini sudah stand by dari pagi. Mereka menunggu orang-orang yang mau melakukan ibadah. Dari yang saya perhatikan, orang-orang yang beribadah ini datang membawa bungkusan berisi makanan, lalu Bikshu-nya akan memasukkan ke dalam kantong. Kalau sudah terkumpul banyak mereka pergi membawa buntelan tersebut ke kuil untuk dimakan bersama dan dibagi-bagikan.

    Bikshu yang saya temui juga beragam, ada yang jubahnya berwarna lebih tua dan agak lecek namun ada juga Bikshu yang kece abis. Ganteng, looks intelligent, jubahnya bagus dan memegang smartphone di tangan mereka.

    Elpi pernah cerita pada saya kalau menjadi bikshu adalah keinginannya sendiri. Awalnya beliau tinggal di Kanada, lalu pindah ke Thailand. Disana, orang tuanya menawari Elpi, apakah ia tertarik jadi bikshu? After saying yes, his parent then sent him to Temple. 

    Elpi learn to be a monk since he was a child.

    Picture 049

    AUDC memory – berfoto bersama Elpi (pria gundul berjubah oranye di belakang saya)

    “You cannot touch me”, ucap Elpi saat saya sedang berjalan di sela bangku kelas tempat perlombaan debat berlangsung dan Elpi duduk di salah satu bangku – beliau takut saya mengenainya.

    Bagi saya hal ini cukup unik, seorang bikshu tidak boleh disentuh oleh siapa pun, kecuali oleh keluarganya, seperti Ibu dan Ayah-nya. Lebih lanjut lagi, seorang bikshu hanya boleh makan solid food dari pagi menjelang siang. Lewat pukul 12.00 hingga keesokan pagi-nya, mereka hanya diperkenankan minum. Wow!

    Para bikshu tidak menikah, jika sebelumnya mereka menikah, ketika menjadi bikshu otomatis mereka akan terputus dari hubungan yang mengikat mereka sebelumnya.

    Iseng-iseng, saya tanya Elpi, “Do u ever have a feeling for woman?”. And he said no, hihi.

    Lanjut ke fakta unik ke-2 yaa.

  2. Lese Majeste Di Thailand

     

    Grand Palace Blacl Dress
    Saat musim panas, suhu di Bangkok bisa mencapai 40 dercel. Alhamdulillah saat kami berkunjung kesana, panasnya masih di 38 dercel and its already felt really HOT.
    That’s why we bring our hat & umbrella when we were strolling around the Grand Palace and Royal Temple.

    Ketika kami tiba di Grand Palace terlihat banyak warga Thailand yang mengenakan pakaian hitam-hitam, mereka berkumpul untuk memanjatkan doa untuk almarhum Raja Bhumibol Adulyadej.

    Masyarakat Thailand memang diwajibkan berkabung selama 1 tahun atas permintaan Maha Vajiralongkorn (anak laki-laki almarhum Raja).

    Masih berhubungan dengan Kerajaan, di Thailand diberlakukan Lese Majeste.

    Lese Majeste adalah pasal yang melindungi keluarga kerajaan dari hinaan & ancaman. Jika ada masyarakat yang ketahuan melakukan segala bentuk penghinaan terhadap keluarga kerajaan, mereka bisa langsung dihukum bahkan masuk bui.

    Foto-foto almarhum Raja Bhumibol juga terpampang di banyak tempat, baik di pertokoan, gedung-gedung tinggi, dan di jalanan. Thailand people menganggap keluarga kerjaan dan raja-nya sebagai keturunan dewa, oleh karena itu mereka sangat menyanjung Raja-nya.

    Btw, Grand Palace And Royal Temple area is really gorgeous. Catch the beauty here SAWADEE KHA BANGKOK.

  3. Beside Monks, Lady Boy Also Everywhere

    IMG_20170502_133158
    Di Indonesia ada waria, yang suka mangkal di perapatan, dan mendekati mobil-mobil saat lampu berubah jadi merah – bernyanyi sambil bawa kecrek. Tapi tidak banyak.
    Di Bangkok dan Pattaya, para lady boy ini ada dimana-mana. Di jalan, di bus, di toko, everywhere. Its easy to find Kathoey in Thailand.

    Ada yang memang wajahnya cantik, seperti wanita, namun ada juga yang masih ketara banget wajah laki-lakinya. Bahkan ada yang memelihara janggut, berbadan kekar tapi jari-jarinya lentik.

    Banyaknya Kathoey di Thailand ini tidak terlepas dari kepercayaan orang Thailand yang meyakini bahwa tidak hanya ada 2 gender (pria dan wanita), namun ada juga gender ketiga yaitu waria.

    Saya tidak berani berfoto dengan mereka, meskipun beberapa lady boy yang kami temui seem ramah-ramah. Ada yang menyapa Aisya dan mengajak Aisya bergandengan tangan di Pattaya Point, tapi Aisya lebih memilih lari-lari dengan Hamka.

    Di Pattaya juga ada satu gang yang dipenuhi oleh sexy-lady-boy, cerita lengkapnya ada di postingan ini ya PATTAYA – Khob Khun Kha.

3 hal di atas adalah ke-unikan yang tidak saya temukan di Indonesia. Okey, nostalgianya saya cukupkan sampai disini dulu 🙂 please correct me if I’m wrong yaa. 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s