Sayur Pecel Rumahan

IMG_20171014_111434

Menghidangkan makanan yang sehat, enak dan praktis adalah prioritas kebanyakan Ibu-ibu. Kenapa? Karena seorang Ibu memiliki sederet to-do-list yang harus diselesaikan, dan hidangan yang bergizi juga praktis will save more time 😊

Nah, di jum’at ceria ini saya mau berbagi resep Sayur Pecel Rumahan yang bisa dibuat di rumah. Sayurannya tinggal dicemplungin aja ke panci berisi air yang sudah mendidih.

Tapi sebelumnya, saya mau sharing memori masa kecil saya tentang pecel sayur ini ya.

Saat kecil dulu, ada pedagang pecel keliling yang suka lewat di depan rumah. Saya dan teman-teman yang sedang bermain biasanya akan langsung menyerbu Ibu yang membawa tampah di kepala bak model ini. Kalau dipikir-pikir, keren banget ya, tampah berisi aneka sayuran itu tidak tumpah.

Ibu berkebaya dengan rambut yang digelung ke belakang ini menata sayuran di atas kerupuk berwarna kuning dan mengguyurnya dengan sambal pecel. Hmmmm, enak!

Pas kecil sih belum nyadar kalau pecel sayur ini termasuk hidangan yang healthy. Taunya sedap aja, kayaknya sih sambal pecelnya yang bikin lahap.

Baca juga : Tahu Bandung Bumbu Pecel

Ibu saya juga sering membuat pecel sayur di rumah, tapi sekarang tidak lagi. Semua sayurannya dikukus, dan setelah matang dihidangkan di piring besar dengan semangkok sambal pecel. Sayurannya antara lain, waluh, keciwis, tauge, sawi, dan kacang panjang.

Kakak ipar saya juga ternyata suka bikin sayur pecel ini di rumah. Kalau saya perhatikan, sayuran yang digunakan lebih sedikit dan sayurannya direbus.

Akhirnya saya ikutan bikin pecel sayur ini di rumah. Di antara sayuran berkuah yang saya suka buat, sayur pecel ini jadi selingan yang fresh dan fun.

Resepnya? Ini dia.

Resep Sayur Pecel Rumahan

IMG_20171014_111358

Alat dan Bahan :

  1. Wortel
  2. Tauge
  3. Kacang Panjang
  4. Pisau
  5. Talenan
  6. Panci
  7. Air

Cara Membuat :

  1. Kupas kulit wortel, iris-iris tipis
  2. Potong kacang panjang sebesar 1 ruas jari
  3. Cuci bersih wortel, kacang panjang dan tauge ini
  4. Didihkan air lalu masukkan semua sayuran
  5. Di mangkok terpisah, lumatkan bumbu pecel
  6. Jika sayuran sudah matang, angkat dan tiriskan. Kalau saya biasanya setengah matang saja agar sayurnya tidak terlihat layu
  7. Terakhir, hidangkan di atas piring dengan bumbu pecel

Saya biasanya memisahkan antara sayurannya dengan bumbu pecelnya. Jadi anggota keluarga yang mau mengambil bisa menentukkan porsinya sendiri. Dan saya lebih suka merebusnya karena menurut saya ini lebih praktis daripada mengkukus (baca : cucian piring lebih sedikit).

Suami saya sukaaa sekali sayur pecel ini. Ah andalan banget ini, ditambah ayam serundeng atau goreng Nila bakal lebih mantap!

Baca juga : Serundeng Suir Ayam

Yuk praktekan di rumah 😊

 

 

 

 

 

Advertisements

6 THINGS I ADORE FROM AISYA

IMG_20171015_150303_612

Taare Zamen Par – Every child is special.

Pernah nonton film ini?  Taare Zamen Par saya tonton ketika masih kuliah. Ceritanya sangat menyentuh – tentang anak yang dyslexia, bikin saya nangis Bombay deh.

Orang tua sang anak sangat bingung dan berpikir anaknya tidak mampu membaca. Alhamdulillah, guru seni di sekolah barunya justru menemukan metode yang tepat untuk mengembangkan potensi lain yang dimiliki anak ini. Dengan using this kid strength, akhirnya anak ini bisa menangani disleksia-nya and become stand out.

Every child is special – if only as a parent, we can see their potential, appreciate it, and find the right method to develop it.

I’m not an expert in parenting world, in fact I’m still learning to be a better parent. Dan saya percaya, masing-masing anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kalau saya amati, dari 20 anak yang berada di kelas yang sama dengan anak saya (usia 3 tahun-an), kelebihannya berbeda-beda. Ada anak yang jago menghapal – sekali duakali dengar saja sudah bisa mengulang nyanyian ataupun surat-surat. Ada juga anak yang mewarnanya sudah smooth, ada yang aktivitas fisiknya lebih menonjol sehingga saat lomba lari atau senam baby shark, dia jadi yang paling semangat.

Ada yang suaranya sangat keras ketika menjawab pertanyaan dari Ibu guru. Ada pula yang lembut tutur katanya. Ada anak yang betah duduk di kelas. Ada juga yang curi-curi keluar kelas dan main ayunan saat yang lain belajar di kelas.

Ada yang sudah mengenal angka dan huruf, ada yang belum.

Each child have their own strength and weakness, like us – their parent.

Nah, dari sekian banyak anak ini, saya ingin lebih fokus melihat kelebihan anak saya. Bagaimana saya menyikapi kelebihan serta kekurangan Aisya sebetulnya menjadi refleksi bagi saya sendiri.

In which, sejujurnya saya yang punya banyak kekurangan.

Actually, Aisya never stop making me amazed. And these are 6 things that I adore from her.

While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about – Angela Schwindt

6 THINGS I ADORE FROM AISYA

1. A Heart Of Gold

 

IMG_20171017_141726

Beberapa kali Aisya disakiti oleh temannya – mungkin tidak sengaja. Sebagai Ibu, hati saya perih kalau melihat Aisya dipukul, diteriaki, dicakar atau didorong temannya.

It’s so classic, right?
Di lingkungan pertemanan, selalu ada yang lebih dominan, lebih bossy, lebih slengean dan ada yang lebih kalem. The thing is, saya tidak ingin Aisya mengalami hal-hal buruk (bully-ing) yang saya alami ketika kecil. I want to protect her. Sayangnya sedekat apa pun saya dengan Aisya, kadang kecolongan.

Things that I didn’t understand is, meski Aisya beberapa kali mengalami hal yang ga enak ini, dia tetap berteman dengan anak yang membuatnya menangis.

She always open her heart, saying hai, call her friend name and ask them to play with her.

Sedangkan saya pengennya, ya jaga jarak sajalah sama anak yang suka bikin sakit hati dan mumet kepala Bunda mah. For Aisya’s own safety.

Mungkin sikap saya ini salah, tapi that moment, saya belum menemukan cara yang tepat untuk menjauhkan Aisya dari tindakan temannya yang reaktif. Saya juga agak khawatir Aisya bakal ketularan jahil.

Alhamdulillah, Aisya tidak pernah balas memukul, mendorong dan mencakar temannya.

Saya ingat percakapan kami, saat Aisya mau bermain dengan temannya ini.

“Mami, Aisya mau main dengan dia?”, – dia yang dimaksud adalah anak yang cukup reaktif.

“Main sama yang lain aja ya. Kan teman Aisya banyak”, rayu saya.

“Ngga mau, aku mau main sama dia”, Aisya keukeuh.

“Nanti Aisya dipukul lagi, Mami sedih lihatnya”, ucap saya.

“Ngga, Mami. Nanti Aisya minta maaf sama dia”, jawab Aisya.

“Harusnya dia yang minta maaf ke Aisya karena kemarin mukul Aisya”, ucap saya lagi.

“Aisya juga sama-sama, minta maaf. Sekarang dia udah baik, ko”, timpal Aisya.

Kalau udah gini, saya bakal izinkan Aisya main tapi hanya sebentar dan saya temani.

Kalau udah mulai rebutan, udah deh saya ajak Aisya pulang karena ujung-ujungnya kalau ngga salah satu nangis ya bakal terjadi hal yang lebih buruk.

Beberapa orang tua akan mengatakan hal ini wajar. Wajar lah anak-anak suka berantem mah. Kalau rebutan doang trus nangis trus salah satu ngalah dan baikan lagi sih ga apa-apa.

Kalau sampai mukul atau nyakar sih, saya ga prefer ya. Coba deh, kalau Ibu-ibu ada di posisi saya, bakal ngapain?

Jadi solusi buat saya adalah memilihkan Aisya teman-teman yang baik. Biar aman dan saya tenang saat Aisya bermain.

The thing is, Aisya always comeback to this friend. Meskipun beberapa kali disakiti.

Sifat pemaafnya, dan hatinya yang selalu terbuka, memandang hari ini adalah hari ini dan kemarin adalah kemarin nampaknya membawa perubahan ke arah yang positif.

Aisya never give up to approach that friend.

 Sekarang this-friend sudah tidak terlalu reaktif. Kadang masih teriak, tapi sangat jarang. Terpenting, Alhamdulillah sudah tidak pernah memukul lagi saat bermain terus rebutan. Sudah mau ikut mengalah. Lebih soft.

Saya bersyukur dengan perubahan ini, bikin saya merasa lebih tenang saat Aisya main dengan temannya yang satu ini. Tapi tetap saya batasi dan dampingi.

Yang jelas saya melihat banyak perubahan dalam diri teman Aisya ini.

Mungkin kalau Aisya traumaan, dan tindakan saya yang berusaha menjauhkan Aisya dari temannya ini berhasil, kejadiannya bakal berbeda. Wallahualam.

Saya tidak tahu, apakah temannya ini memang betul inspired by Aisya yang selalu membalas keburukan dengan kebaikan atau mungkin ada peran-peran lain yang mendukung perubahannya. Seperti wejangan ortu dan lain-lain.

Aisya easy to forget & forgive.

Bagi saya, ini adalah hikmah yang besar. Saya harus belajar seperti Aisya. Membuka hati lebar-lebar, menjadi pribadi yang pemaaf dan melihat hari ini sebagai hari ini, dan kejadian kemarin sudah berlalu.

New day, new hope. Live in present time 😊

Kejadian lain yang tak kalah mengiris hati (lebay banget yak), adalah saat Aisya sedang menaiki tangga seluncuran, ada anak laki-laki nyerobot dan menginjak tangan Aisya. Anak ini langsung naik ke atas Aisya dan merosot duluan. Saat itu saya sedang duduk di bangku, mengamati Aisya dari jauh.

Anak ini memang suka menyerobot teman-temannya yang menunggu giliran naik seluncuran. Dan kalau ada anak ini, lagi-lagi saya mengajak Aisya main yang lain dulu.

Minggu lalu, seperti biasa sambil menunggu kakak TK keluar kelas, Aisya main dulu. Tiba-tiba datang anak yang suka menyerobot bersama adiknya.

Aisya yang lagi naik tangga langsung turun, mempersilakan sang adik naik duluan. Lalu Aisya naik lagi ke tangga.

Kakaknya datang menghampiri Aisya. Saya sudah berdiri, mau stand for Aisya, takut Aisya diserobot dan jatuh atau tangannya keinjek lagi.

Tapi belum sempat melangkah, saya FREEZE duluan.

Anak yang selama ini suka nyerobot ini mengangkat tangannya ke atas, mengikuti gerakan Aisya saat mempersilakan adiknya naik duluan tadi. Dan menunggu hingga Aisya sampai ke atas, meluncur, baru ia naik.

WOW.

Hal kecil seperti itu bisa memberi impact yang besar ya. Subhanallah, ternyata kebaikan itu menular.

Bertakwalah kepada Allah dimana pun kau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.

[HR. Tirmidzi]

2. Berani Dan Suka Tantangan

Screenshot_2017-05-08-08-37-19
Aisya adalah anak yang pemberani. Dia suka manjat, tidak takut ombak dan berendam di pantai. Kepengen jalan sendiri kalau ke warung dan sekolah terus Mami-nya ngintilin dari belakang.

Saat mami ketakutan gara-gara ada tikus di dapur (sewaktu kami di Bintaro), Aisya menguatkan saya dengan bilang, “Mana tikusnya, Mami? Mau lihat. Mami, jangan takut ya. Kan ada Aisya”.

Dan dia berani lihatin tikus yang lewat got tanpa meloncat geli.

Ketika ada kodok di halaman belakang rumah sebelum dibangun, sementara Mami menjerit, Aisya malah mantengin berkali-kali, “Mau lihat kodok lagi”, gitu ucap Aisya.

Aisya juga suka mencoba hal-hal baru dan SUKA TANTANGAN. Aisya pernah manjatin pintu pagar, karena saat itu Aisya belum bisa membuka gemboknya. Awalnya saya kaget karena Aisya sudah masuk ke rumah, saat itu saya baru beres mandi dan Aisya baru pulang dari rumah temannya. Saya cek, pagarnya masih digembok, tapi kok Aisya sudah ada di dalam. Wah ternyata Aisya manjat, Alhamdulillah safely landed.

Aisya juga berani tampil (percaya diri) saat manggung di acara 17-an. Aisya dan teman-teman kobernya menampilkan senam baby shark dan bernyanyi. Saat MC menyodorkan mic, tanpa malu-malu Aisya langsung mendekatkan mulutnya ke mic sehingga suaranya terdengar lebih keras.

Dan, sebelumnya Aisya ikut lomba dulu. Alhamdulillah Aisya larinya lebih cepat ketimbang teman-teman seusianya yang lari bareng Aisya saat memasukkan bendera ke dalam botol. Menang deh Aisyaaa, Alhamdulillah.

Malam harinya memang Aisya latihan dulu sama Mami pakai sedotan yang dimasukkan ke botol, Aisya mempelajari strateginya dan melihat beberapa tayangan di youtube mengenai lomba tersebut.

Ikut lombanya 2 kali, yang pertama di sekolah dan yang kedua di lingkungan RT. Sayangnya di tingkat RT, Aisya berlomba dengan kakak TK dan SD sehingga tidak imbang. Kakak-kakak ini larinya lebih cepat, so she loose. But that’s okay.

Aisya tetap menikmati lombanya dengan sportif. Dari semua lomba yang Aisya ikuti, yaitu lomba lari, tiup balon, mencocokan sandal, dan makan choki-choki, Alhamdulillah Aisya berhasil meraih juara 1 di lomba makan choki-choki.

Saya senang Aisya memiliki sifat yang berbeda dengan saya – dia pemberani dan suka tantangan.

 3. Empati-nya Tinggi

IMG_20170623_110427

Akung-nya Aisya pernah mengatakan. “Jarang lho anak umur segini sudah bisa menunjukkan empati-nya pada orang lain. Anak-anak cenderung ingin jadi center of attention”.

Ketika Uti batuk-batuk di kamar, tanpa ada yang meminta tolong, Aisya langsung lari ke meja makan dan mengambilkan gelas berisi teh untuk Uti.

“Uti minum dulu, Uti batuk ya”, ucap Aisya.

Sikap ini bikin saya kagum, sekaligus mengingatkan saya untuk peka. Kalau ada yang butuh bantuan, segera ditolong tanpa menanti dipanggil.

Saat Akung menyetir dan Aisya duduk di sebelahnya, Aisya kadang bertanya, “Akung capek ga nyetirnya?”

Mendengar itu, Akung seperti mendapatkan suntikan semangat dan menjawab, “Engga, ga capek kok”.

Kalau Uti lagi mau minum obat, Aisya suka duduk di samping Uti dan mengambilkan obatnya, lalu menyimpannya di meja.

Pas Ayahnya pulang kantor dan minta dipijitin, Aisya suka naik ke punggung Ayah dan mijit dengan kakinya.

Saat Mami mengusap-usap punggung Akung, Aisya juga suka ikut-ikutan mengelus punggung Akung.

Aisya juga mudah berempati pada temannya. Bulan lalu semua anak di sekolah Aisya diharapkan mau mengikuti program vaksin MR. Aisya datang dan berbaris di depan sehingga ia disuntik di awal- awal.

Alhamdulillah Aisya berani, tidak nangis dan tetap ceria.

Sudah setengah perjalanan menuju rumah ketika Aisya ingat, ada seorang temannya yang belum diimunisasi. Aisya berinisiatif untuk kembali ke sekolah.

Sampai di Kober, Aisya melihat temannya nangis kejer, takut disuntik. Langsung Aisya ajak bermain dan menuntunnya ke dalam kelas sambil berkata, “Ngga apa-apa kok, ngga sakit. Ayo masuk”.

Saya menghargai usaha Aisya ini. Its a beautiful moment too see that Aisya care a lot to her friend.

Satu lagi deh contohnya, waktu adzan berkumandang dan kami berbuka di bulan Ramadan, Aisya yang tahu saya agak kecapean menghampiri saya sambil bawa piring mainan berisi kukis dari pasir. Lalu Aisya bilang, “Nih, Mami buka dulu. Aisya udah bikinin special buat Mami. Nanti kalau Aisya udah besar, Aisya yang masak buat Mami yaa”.

Saya tahu, yang ia sodorkan adalah kukis pasir. Tapi niatnya itu lho, peka banget, biasanya saya yang serving others, eh tiba-tiba Aisya mengambilkan saya sesuatu meski mainan.

Subhanallah, langsung nyeeesssss hati saya.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu Dan Bersenang-senang Dengan Anak

4. Supel & Suka Ngobrol

IMG_20171009_204723_138

Aisya mudah banget akrab sama orang baru, mau teman sebaya ataupun teman Mami dan Ayah, semua suka disapa, diajak ngobrol dan main sama Aisya.

Aisya suka memanggil teman-temannya yang lewat di depan rumah dan bertanya, “Mau kemana?”, diikuti pertanyaan lanjutan, “Mau main ke rumah Aisya ngga? Masuk yuk, banyak mainan lho”. Haha.. ramah banget yak.

Jangankan teman-temannya, sama Bapak Ibu yang ketemu di jalan saja, Aisya suka say hai, sama penjual seblak, tukang ojeg juga diajak ngobrol. Kadang Bapak Ibu yang disapa suka kaget atau merasa heran disapa anak kecil.

“Bibi seblaaak, Aisya mau sekolah duluuu. Dadaaah”, ini kalimat yang suka Aisya ucapkan saat melewati warung bibi Seblak.

“Pak Tarjooo, mau kemana?”, panggil Aisya saat berpapasan dengan tukang ojeg langganan kami di jalan.

“Eh Pak, Bu”, biasanya Aisya bilang ini sih pas ketemu.

Lalu terutama Bapak-bapaknya bakal berlagak kaget sedikit dan menjawab, “Eh, dede..”, gitu aja hehe.

Sekarang itu, sudah 2 minggu-an Aisya pindah rumah ke area baru. Dan Aisya sudah sibak-sibak tirai, cari teman, mengamati siapa saja yang lewat depan rumah hingga berhasil kenalan sama 2 anak tetangga dan sukses mengajak mereka main ke rumah.

Alhamdulillah gain new friends within 1 week, makin betah deh di lingkungan baru.

Saya senaaang sekali melihat sifat Aisya yang supel dan punya interpersonal yang baik ini. Selain suka menyapa, kenalan, ngajak ngobrol dan main, Aisya juga suka berbagi sama teman-temannya. Bagi-bagi permen, susu, biskuit, apa saja yang Aisya punya.

Pernah kami membeli 4 bungkus snack untuk bekal ke sekolah. Ketika saya cek isi tas-nya sepulang sekolah, eh tinggal satu. Aisya bilang, ia memakan 1 snack dan 2 snack lainnya diberikan ke temannya. Sisa satu lagi buat saya 😀

Oia satu cerita lagi, kalau saya mau ketemuan sama teman saya, Aisya akan bertanya, “Mami, teman Mami masih kecil atau sudah besar?”

“Sudah besar”, jawab saya.

“Jadi Aisya manggilnya tante atau apa?”, tanyanya lagi.

“Tante aja, sayang”, ucap saya sambil tersenyum.

Pertanyaan ini menunjukkan kalau Aisya sudah lumayan dewasa ya, ia bertanya lebih dulu how should she call my friend hehe. Dan begitu ketemu, seperti biasa, Aisya langsung ajak tante dan anaknya main ke rumah Aisya sambil ngobrol ini itu. Hihi.

Di sekolah, saat Bu Guru membunyikan kecrek tanda anak-anak harus berbaris sebelum masuk kelas, Aisya juga suka ikut mengajak temannya yang keluar barisan agar berbaris dengan rapi. Dan kadang menggandeng tangan temannya yang baru datang untuk bersalaman dengan Bu Guru, “Salam dulu sama Bu Guru”, ucap Aisya.

5. Mandiri (Mau Apa-Apa Sendiri)

IMG_20171018_092958

 

Aisya sudah memperlihatkan sifat mandirinya sejak usia 1 tahun-an. Saat itu Aisya sudah bisa makan menggunakan sendok sendiri.

Sekarang di usia 3 tahun, perkembangan kemandiriannya makin pesat.

Aisya ingin gosok gigi sendiri, ia memenuhi gelasnya dengan air, kumur-kumur, membuka tutup odol dan mengoleskan sedikit tooth paste di sikat giginya, mencelupkannya ke air lalu menggosok giginya.

Kadang sambil nyanyi, “Brush your teeth, up and down, up and down”, gitu.

Saya masih suka mengingatkan untuk menggosok gigi gerahamnya, lalu mengulangi kalau Aisya perbolehkan. Setelah itu Aisya akan kumur-kumur dan menyatukan peralatan gosok giginya sendiri.

Aisya juga suka memakai sabun dan shampoo sendiri, naik ke closet duduk sendiri, serta menekan flush toilet sendiri.

Nah, minggu ini Aisya menunjukkan ‘special talent-nya’ yang baru, yaitu memakai baju sendiri.

Setelah mandi dan memakaikannya minyak telon, lotion dan bedak, Aisya akan meminta saya keluar kamar.

“Aisya mau pakai baju sendiri, Mami. Aisya udah besar”, pintanya.

“Oke”, ucap saya.

Aisya akan keluar kamar and dress up well.

Saya benar-benar surprise ketika Aisya berhasil memakai seragammnya dan mengancingkan semua kancingnya serta memakai luarannya. Hebaaattt!

Aisya memang suka banget pakaian berkancing dan berusaha mengkancingkannya satu per satu.

Dan tahukah Anda apa kemajuannya hari ini? Aisya sudah bisa membuka kunci pintu rumah Akung SENDIRI!

Hari ini ada tamu yang mengetok pintu (kami sedang di rumah Akung), tapi saya (lagi-lagi) sedang di kamar mandi dan tidak bisa buru-buru keluar untuk membuka pintu sedangkan pintunya saya kunci.

Lalu saya keluar dari toilet dan bergegas ke ruang tamu, mau membukakan pintu tapi tamunya sudah masuk. Sontak saya kaget.

“Buka pintunya gimana? Kan dikunci”, tanya saya.

“Sama Aisya, Mami. Aisya yang buka pintunya”, jawab Aisya.

“Masa siiih?”, saya ga percaya.

Saya reka adegan dengan mengunci dulu dan meminta Aisya membukanya. Aisya langsung memperlihatkan pada saya bagaimana dia membuka kunci.

TERNYATA, Aisya sudah KUAT untuk ‘menceklek’ kucinya sodara-sodara. WOOOOW Subhanallah.

Baca juga : Anak Adalah Hak Prerogatif Allah

6. Solutif

IMG_20170911_130014

Aisya selalu punya alternatif dari setiap respon yang kami berikan untuk kejadian tertentu atau permintaannya.

Seperti saat kami mau berangkat sekolah dan hujan turun. Deras lagi. Saya udah kebayang jalanan becek dan licin, jadi saya tawarkan, Aisya mau sekolah atau tidak.

“Aisya hujan tuh. Mau sekolah ngga?”, tanya saya.

“Mau sekolah Mami”, jawab Aisya.

“Tapi deras hujannya”, ucap saya, setengah berharap Aisya memilih di rumah saja.

“Sekolah aja Mami. Ga apa-apa, pakai payung aja”, Aisya mantap pergi.

Melihat semangatnya saya pun langsung, “Oke, ayo kita pakai payung!”.

DAAAN sampai ke sekolah ternyata hanya ada 8 orang yang masuk, yang lain tidak berangkat karena hujannya deras banget.

Contoh lain adalah saat Aisya keukeuh ingin membeli mainan dengan Akungnya malam-malam. Akung bilang, “Aisya sudah malam, gelap tuh. Besok aja ya beli mainannya”.

“Sekarang aja Akung, di jalannya kita nyalakan lampu aja supaya terang”, jawab Aisya.

“Tapi dingin di luar Aisya, nanti masuk angin lho kalau naik motor malam-malam”, ucap Akung.

“Naik mobil aja atuh Akung, supaya ga keanginan”, Aisya menawarkan solusi.

Dan Akung merespon, “Aya-aya wae budak ieu mah. Selalu punya alternatif”.

Dan percakapan terakhir kami ini bisa dibilang lucu banget.

“Mami, Aisya mau jajan”, pinta Aisya saat menemani Mami belanja ke warung.

“Ga jajan dulu yaa. Uang Mami habis nih”, lantas saya perlihatkan isi dompet saya yang kosong.

Beneran habis saat itu.

“Kok kosong, Mami?”, tanya Aisya.

“Iya, dipakai semua buat belanja”, jawab saya.

“Mami ga punya uang lagi. Jadi Aisya ga jajan dulu yaa”, tambah saya.

“Mami pasti punya uang”, balas Aisya.

“Udah habis. Kan tadi Aisya udah lihat dompet Mami kosong”, respon saya.

“Yaudah ambil dulu atuh di ATM uangnya”, ucap Aisya.

Saya tertawa mendengarnya. Ya Allah, anak-anak jaman now mah solutif banget deh!

Untuk menyalakan lampu atau mengambil barang yang letaknya cukup tinggi, Aisya biasanya mengambil kursinya lalu naik dan meraih apa yang ia mau. Its either turning on the lamp, taking an umbrella or toys.

Aisya suka belajar, dia senang diberi petunjuk untuk bisa melakukan sesuatu. Dan gigih. Sekarang Aisya lagi suka mengisi majalah Mombi, kalau ada yang kurang dipahami, Aisya akan bilang, “Mami, ajari Aisya, ini gimana caranya?”.

“Aisya bisa”, Aisya akan mengatakan ini, setelah saya beri contoh. WHAT A SPIRIT, AISYA!

Sebetulnya masih banyak bakat-bakat dan sifat Aisya yang saya kagumi. Buat sekarang saya rangkum 6 sifat/sikap ini dulu ya. Because these really inspire me.

I think, Allah give her as a gift for me. So I can ‘born again’ to restart my life 😊

How about you? What inspiration that you get from your child today?

 

 

 

 

 

 

 

Smoothie For Brunch

IMG_20171013_114112

Making a healthy smoothies for brunch at home is easier with Blender Philips Hr 2057! hehehe, udah kaya iklan aja.

Tapi, serius lho, sejak suami membelikan blender ini, saya jadi lumayan sering bikin smoothies dan jus. Awalnya sih karena Aisya sempat radang tenggorokan yang bikin anak lincah ini rada ogah ngunyah.

Jadinya, saya minta tolong suami saya untuk mengirimkan food processor kami yang masih ada di Bintaro ke Bandung. Namun alih-alih mengirimkan alat yang suka saya pakai untuk menggiling oat menjadi tepung oat, suami saya malah membeli blender baru. Langsung dikirim oleh Mamang gojek ke rumah dan bisa segera dipakai.

Baca juga : 5 Langkah Mudah Bikin Tepung Oat Di Rumah

Mau kasih review dikit ya. Blender Philips Hr 2057 ini desainnya simpel banget, tombolnya juga hanya ada 2 untuk memulai dan menghentikan proses menghaluskan. Alhamdulillah blender ini cukup kuat untuk menggiling frozen fruit juga es.

Saat Aisya sakit, saya ga pernah pakai es dalam smoothie-nya. Setelah Aisya sehat, saya suka menambahkan satu-dua balok es ke dalam smoothie atau jus-nya agar terasa lebih segar.

Mami Aisya suka bikin jus dan smoothie apa aja nih? Hm, biasanya jus melon dan semangka karena dua buah ini ga begitu manis, kalau dibuat jus saya tambahkan gula dan kadang perasan jeruk lemon pada jus semangka.

Dengan cara ini, biasanya lebih masuk ke perut Aisya ketimbang memakannya langsung.

Sedangkan untuk orang dewasa seperti saya, kadang suka saya mix dengan Fanta, haha. Tapi kadang-kadang aja.

Pernah juga bikin jus jambu, pas ada.

Suami saya suka jus nanas.

Kalau Aisya?

Aisya ini sukaa sekali jus strawberry.

And me? Personally, I always like banana smoothie.

Nah, hari ini saya bikin paduan stroberi dan pisang. Saya tambahkan oat juga susu plain agar menjadi smoothies yang sehat dan cukup mengenyangkan untuk brunch karena Aisya sudah sarapan pagi.

Stroberinya saya beli dari ibu-ibu penjual jus di dekat sekolah Aisya. Frozen strawberry yang harganya lebih murah ketimbang beli di supermarket, sudah dicuci bersih lagi.

Dengan membayar Rp. 10.000,- saya dapat cukup banyak strawberry, bisa buat dua kali nge-jus lah. Pisang ambon-nya juga saya beli di warung, hanya setengah sisir agar tidak mubazir.

Mudah pake banget kok bikin healthy smoothie for brunch ini, silakan dicoba yaa

Strawberry-Banana Smoothie

IMG_20171013_114638

Alat dan Bahan

  1. Buah stroberi beku (cukup banyak)
  2. 1 buah pisang
  3. 1 pcs Oat Choco
  4. Susu Plain secukupnya
  5. 2-3 balok es batu
  6. Gula pasir 5 sdt
  7. Blender

Cara Membuat :

Cara buatnya super easy, tinggal cemplungin semua bahan ke dalam blender. Sebetulnya untuk tingkat ke-asam-an dan rasa manisnya bisa disesuaikan dengan selera kita aja. Saya suka dengan takaran di atas karena asamnya terasa, manisnya ada, segar juga dan bananary.

I guess I just like banana flavour.

Baca juga : Banana Bread Ala Mami Jasmine

Sahabat saya bilang, mencampurkan oat ke dalam smoothie juga bikin smoothie-nya jadi lebih halus. Saya sengaja pakai oat choco, praktis aja gitu.

Setelah semua tercampur rata dan halus, kita bisa menuangkannya ke dalam gelas. Tadi saya saring dulu, Aisya prefer this way. Harusnya kalau smoothie ga disaring yaa :p

Ini diaa smoothie-nya, udah jadi dan siap diminum sama Aisya dan sayaa hehe.

IMG_20171013_120918

Enak banget deh, yuk bikin di rumah 🙂

Oya btw, kalau teman-teman suka bikin jus/smoothies apa aja? Sharing dooong..

 

 

 

 

 

Taman Mungil Aisya #ScandinavianHome

22154677_10155111419248230_7014335613456686514_n

I always like the idea of minimalist design with a space saving concept and a multifunction area. Saya suka warna putih, to me it’s the best color for the wall. Saya juga mengimpikan rumah dengan jendela kaca besar yang memungkinkan saya melihat indahnya taman di belakang dan terutama, membuat saya bisa menikmati hujan through the window.

Ah, rasanya syahdu ketika saya sholat sambil diiringi rintik hujan.

Tahun ini, kami memutuskan untuk merenovasi rumah yang sudah 2 tahun ditempati pengontrak. Rumah sederhana ini kami beli pada tahun 2015, saat Aisya berusia 1 tahun. Tapi kemudian suami saya daftar dan lolos seleksi CPNS sehingga kami pindah ke Bintaro.

Baca juga : 8 Tips Agar Kamu Lolos Seleksi CPNS 2017

Bintaro adalah kawasan yang cukup nyaman untuk ditinggali, disana ada supermarket yang menjual barang-barang dengan harga yang hampir sama dengan harga di pasar, Harmoni dan Hari-Hari namanya – tempat saya suka belanja sayuran dan lauk pauk.

Tempat main juga banyak, ada Living Plaza dengan amusement playground-nya yang free entry. Belum lagi BxChange yang memiliki taman yang luas dan asri. Kita bisa olahraga, main bola juga piknik disana. Banyak hal lain yang bikin betah.

Tapi masih tetap lebih nyaman Bandung. Somehow.

Mungkin karena saya lahir dan besar di Bandung. Didukung oleh suami yang sepakat menyekolahkan Aisya di Bandung. Just because we think that, iklim belajar di Bandung enakeun.

Jadilah 3 bulan ini, kami membangun kembali rumah kami. Disesuaikan dengan budget yang ada dan desain yang sudah kami rancang. Agar lebih hemat, tukangnya diambil dari Arjasari (kampung halaman suami saya) dengan mandor Pak Aki – Bapak mertua saya.

Ketika mendesain rumah, saya ceritakanlah pada suami, konsep rumahnya ingin seperti apa. Lalu beliau mulai browsing tipe-tipe rumah dan menggambarkannya. Memperlihatkan beberapa foto pada Pak Aki dan para tukang. Suami saya juga rajin memantau perkembangan rumah seminggu sekali. Hasilnya? Alhamdulillah memenuhi ekspektasi kami.

Ralat, lebih dari ekspektasi saya malah 😊

Baru seminggu ini saya officialy pindah. Masih adaptasi sih. Barang-barang juga sebagian besar masih di Jakarta, dicicil aja ngisi-nya. Bertahap, makannya saya seringnya post foto di taman mungil Aisya. Karena other part of our home masih ditata-tata, hehe.

Nah, dari beberapa foto yang saya upload ke instagram dan facebook, saya mendapatkan banyak feedback positif dari teman-teman. Bahkan ada yang minta hometour, mengulas biaya renovasi plus foto beforeafter-nya di blog, menanyakan harga printilan yang menghiasi rumah, juga teman-teman yang bilang ingin berkunjung ke rumah.

Sabar yaa, semoga nanti saya bisa mengulas lebih banyak tentang my semi-scandinavian home.

My Semi-Scandinavian Home

22221599_10155115533543230_8818317099240871742_n.jpg

Kok, kenapa namanya Semi-Scandinavian?
Ini berhubungan sama salah satu komentar dari teman saya di salah satu foto ruangan di rumah. “Sesama penyuka Scandi ya”, tulis beliau.

Saya langsung tanya sama suami, apa maksudnya.

Suami saya menanggapi dengan, “Scandinavian yaa style rumah kita ini, Bun”.

Oh! I just know.

Saya pernah melihat postingan teman saya yang berisi foto dapurnya dengan hashtag #scandinavian And I was thinking, gaya rumah dari negara Scandinavia harus plek plek seperti itu.

Saya memang menyukai desain rumah minimalis, dinding dan lantai yang berwarna putih, dengan ornamen kayu, a little black and colorful furniture to decorate the living room, backyard, etc. But I dunno that it’s a part of Scandinavian Style.

Silly me.

And then, I browse about Scandinavian home and found a very nice article about it.

Situs Freshome.com memuat 10 ciri rumah bergaya Scandinavia. Interesting, because almost all of them applied in my house. That’s why I prefer to call it “My Semi-Scandinavian Home”.

I’m going to take one line from Freshome.com that represent our home.

“Functionality reigns supreme within these minimalist Scandinavian designs. Homes are meant to be open, airy and have a flow that allows easy living” – Freshome.com

Now that I know, I realize that we are putting a Scandinavian touch in our home. Such as applying a big window-door to let the light in, have a wooden table in our kitchen and other part at home, giving a white and grey colors on the wall, include decorate a simple yet cozy corner to show our love to nature. An this cute-backyard become one of our favorite place, we could gathered around here, turn it into Aisya Little Cafe or just chilling there.

Apa saja sih 10 ciri rumah bergaya Scandinavia? Ok, saya akan tulis rangkumannya disini sambil mencocokan dengan isi rumah kami. Buat yang mau baca artikel lengkapnya, silakan klik link ini yaa http://freshome.com/2014/09/15/10-design-lessons-you-can-learn-from-scandinavian-interiors/

Ciri Rumah Bergaya Scandinavia

22281783_10155117993643230_5239590792465753874_n.jpg

1. Neutral Colors in Scandinavian Designs

Warna-warna rumah bergaya Scandinavian ternyata didominasi oleh warna putih, abu, dan krem. And in our house, we have all these 3 colors. Bagian ruang tamu, semua cat-nya berwarna putih. Bagi saya, warna putih membuat suasana rumah adem, cerah, dan kesannya jadi lebih luas.

Mulai dari ruang keluarga, dapur yang terintegrasi dengan taman mungil Aisya dan kamar mulai di-blend, satu sisi dindingnya berwarna putih dan sisi lain berwarna abu-abu. Sementara sentuhan berwarna krem ada pada furnitur yang menghiasi rumah, seperti meja dapur dan rak bunga.

2. White Wood Floors

Kami mendesain tangga dan lantai 2 dengan ubin bercorak kayu. Its not a real wood. And the color is light-brown. So, I guess, kriteria wood-nya masih ada. Wood like, but the color is not white. Dari ciri nomer 2 ini, rumah kami mulai terlihat semi-scandinaviannya yaa.

3. Let In The Light

Inilah gunanya pintu geser dengan kaca besar yang ada di belakang rumah, yang saya bilang terkoneksi dengan taman itu lho, dan bisa melihat hujan tanpa kebasahan. Di atas tamannya juga ada kanopi transparan, jadi cahaya dan hawa segar pagi bisa masuk ke dalam rumah.

4. A Love Of Nature

This kind of a love to the nature kami wujudkan dengan memasang rumput sintesis di sudut rumah dan menempatkan beberapa pot with artificial flowers, plants inside the house. Ini bikin suasana rumah lebih segar dan hidup.

Insya Allah di halaman depan juga akan kami tanami dengan bunga asli dan beberapa tanaman. Minggu ini saya sudah menyebarkan bibit cengek dan tomat. Harapannya saya bisa juga menanam daun jeruk, agar bisa dipetik dan dimasak.

5. A Touch Of Elegant Country In Scandinavian Home

We don’t have crystal chandelier and Swedish antique clocks, but we have a white walls and simple flower arrangements Jadi masih masuk kategori halfScandinavian home kan?

6. Add A Sauna – Skip, cause we don’t have it.

7. Form And Function Of Scandinavian Home

Desain rumah bergaya Scandinavia menitikberatkan pada fungsi-fungsi furniture yang ada di rumah. Simple and useful.

That’s why, sebisa mungkin barang-barang yang mengisi rumah kami sifatnya multifungsi dan menjunjung tinggi space-saving konsep. Jangan sampai mengkoleksi banyak barang yang bikin rumah ‘penuh’. Tujuannya agar rumah terasa lebih lega, kita juga leluasa bergerak.

8. Scandinavian Furniture

No matter what decade their furniture is derived from, one thing is certain—attention to detail and high-quality materials will always show-up in Scandinavian furniture designs – Freshome.com

Belajar memilih furniture dari Scandinavian people, kami memilih barang-barang yang selain multifungsi, tahan lama, harganya juga terjangkau. Sebelum membeli barang, kami akan browsing, diskusi, membandingkan harga di online shop dan di toko, menyambangi toko-toko yang menjual furniture sampai pegal kaki, hingga akhirnya memutuskan which one that has a good quality and also having a good price.

9. Simple Yet Cozy Corner Fireplaces

Nope, we don’t have fireplaces at home. Tapii, kami punya cozy corner yang kami sebut Taman Mungil Aisya yang bisa jadi tempat bermain, tiduran, ngobrol dan makan sama teman-teman juga menyulapnya jadi Aisya Little Café 😊

10. Eco-Friendly Interiors

Yang ini, kayaknya kami juga masih half and half deh. Therefore, I called it Semi-Scandinavian Home!

Gimana? Dari 10 ciri di atas sekarang sudah lebih jelas kan kenapa saya menyebut rumah saya ini Semi-Scandinavian Home 😊

Taman Mungil Aisya

 

Nah, untuk mendekorasi taman mungil ini, kami menggunakan rumput sintesis berukuran 2 x 1,5 meter yang tinggal diteplokkan saja ke lantai. Off course granit-nya dibuat lebih rendah dulu dari granit lainnya.

Awalnya saya ingin menanam rumput asli, jadi bawahnya tanah saja. Tapi dengan memakai rumput sintesis ternyata kami mendapatkan lebih banyak keuntungan, terutama dari segi perawatan.

So far, kalau ada kotoran yang terlihat biasanya saya pungut saja. Kalau basah kena percikan air hujan pun bakal cepat kering.

Bagian atasnya ditutupi oleh solarflat yang kami pesan dan dipasang oleh Mamang kanopi langganan (Rp. 450.000/meter, tahu beres).

Solarflat ini ada di lantai 2, otomatis masih ada angin yang masuk dan bikin suasana dapur serta ruang tengah adem saat pintu kaca dibuka. Ketika hujan pun, tetesannya tidak langsung mbrebes ke bawah. Paling air hujan masuk dari sela-sela teralis yang tidak ditutup, itu pun kalau hujan deras saja.

Di bagian barat, kami taruh rak kayu dan floating shelves berisi artificial flowers and plants.

Cukup asri dan cantik, kan taman mungilnya? 😊

Kalau lagi main kafe-kafean, saya akan menempatkan meja dan kursi plastik kecil yang bisa diisi barang, ceritanya itu tempat duduk untuk para costumer Aisya.

Taman mungil ini juga kami gunakan untuk makan bareng teman-teman dan keluarga yang berkunjung. Pernah juga jadi tempat Aisya ngumpul dan main sama saudara-saudaranya.

Taman mungil Aisya ini, jadi corner yang segar dan multifungsi. This little touch giving so many freshness to our semi-scandinavian home. Alhamdulillaaah.