6 THINGS I ADORE FROM AISYA

IMG_20171015_150303_612

Taare Zamen Par – Every child is special.

Pernah nonton film ini?  Taare Zamen Par saya tonton ketika masih kuliah. Ceritanya sangat menyentuh – tentang anak yang dyslexia, bikin saya nangis Bombay deh.

Orang tua sang anak sangat bingung dan berpikir anaknya tidak mampu membaca. Alhamdulillah, guru seni di sekolah barunya justru menemukan metode yang tepat untuk mengembangkan potensi lain yang dimiliki anak ini. Dengan using this kid strength, akhirnya anak ini bisa menangani disleksia-nya and become stand out.

Every child is special – if only as a parent, we can see their potential, appreciate it, and find the right method to develop it.

I’m not an expert in parenting world, in fact I’m still learning to be a better parent. Dan saya percaya, masing-masing anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kalau saya amati, dari 20 anak yang berada di kelas yang sama dengan anak saya (usia 3 tahun-an), kelebihannya berbeda-beda. Ada anak yang jago menghapal – sekali duakali dengar saja sudah bisa mengulang nyanyian ataupun surat-surat. Ada juga anak yang mewarnanya sudah smooth, ada yang aktivitas fisiknya lebih menonjol sehingga saat lomba lari atau senam baby shark, dia jadi yang paling semangat.

Ada yang suaranya sangat keras ketika menjawab pertanyaan dari Ibu guru. Ada pula yang lembut tutur katanya. Ada anak yang betah duduk di kelas. Ada juga yang curi-curi keluar kelas dan main ayunan saat yang lain belajar di kelas.

Ada yang sudah mengenal angka dan huruf, ada yang belum.

Each child have their own strength and weakness, like us – their parent.

Nah, dari sekian banyak anak ini, saya ingin lebih fokus melihat kelebihan anak saya. Bagaimana saya menyikapi kelebihan serta kekurangan Aisya sebetulnya menjadi refleksi bagi saya sendiri.

In which, sejujurnya saya yang punya banyak kekurangan.

Actually, Aisya never stop making me amazed. And these are 6 things that I adore from her.

While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about – Angela Schwindt

6 THINGS I ADORE FROM AISYA

1. A Heart Of Gold

 

IMG_20171017_141726

Beberapa kali Aisya disakiti oleh temannya – mungkin tidak sengaja. Sebagai Ibu, hati saya perih kalau melihat Aisya dipukul, diteriaki, dicakar atau didorong temannya.

It’s so classic, right?
Di lingkungan pertemanan, selalu ada yang lebih dominan, lebih bossy, lebih slengean dan ada yang lebih kalem. The thing is, saya tidak ingin Aisya mengalami hal-hal buruk (bully-ing) yang saya alami ketika kecil. I want to protect her. Sayangnya sedekat apa pun saya dengan Aisya, kadang kecolongan.

Things that I didn’t understand is, meski Aisya beberapa kali mengalami hal yang ga enak ini, dia tetap berteman dengan anak yang membuatnya menangis.

She always open her heart, saying hai, call her friend name and ask them to play with her.

Sedangkan saya pengennya, ya jaga jarak sajalah sama anak yang suka bikin sakit hati dan mumet kepala Bunda mah. For Aisya’s own safety.

Mungkin sikap saya ini salah, tapi that moment, saya belum menemukan cara yang tepat untuk menjauhkan Aisya dari tindakan temannya yang reaktif. Saya juga agak khawatir Aisya bakal ketularan jahil.

Alhamdulillah, Aisya tidak pernah balas memukul, mendorong dan mencakar temannya.

Saya ingat percakapan kami, saat Aisya mau bermain dengan temannya ini.

“Mami, Aisya mau main dengan dia?”, – dia yang dimaksud adalah anak yang cukup reaktif.

“Main sama yang lain aja ya. Kan teman Aisya banyak”, rayu saya.

“Ngga mau, aku mau main sama dia”, Aisya keukeuh.

“Nanti Aisya dipukul lagi, Mami sedih lihatnya”, ucap saya.

“Ngga, Mami. Nanti Aisya minta maaf sama dia”, jawab Aisya.

“Harusnya dia yang minta maaf ke Aisya karena kemarin mukul Aisya”, ucap saya lagi.

“Aisya juga sama-sama, minta maaf. Sekarang dia udah baik, ko”, timpal Aisya.

Kalau udah gini, saya bakal izinkan Aisya main tapi hanya sebentar dan saya temani.

Kalau udah mulai rebutan, udah deh saya ajak Aisya pulang karena ujung-ujungnya kalau ngga salah satu nangis ya bakal terjadi hal yang lebih buruk.

Beberapa orang tua akan mengatakan hal ini wajar. Wajar lah anak-anak suka berantem mah. Kalau rebutan doang trus nangis trus salah satu ngalah dan baikan lagi sih ga apa-apa.

Kalau sampai mukul atau nyakar sih, saya ga prefer ya. Coba deh, kalau Ibu-ibu ada di posisi saya, bakal ngapain?

Jadi solusi buat saya adalah memilihkan Aisya teman-teman yang baik. Biar aman dan saya tenang saat Aisya bermain.

The thing is, Aisya always comeback to this friend. Meskipun beberapa kali disakiti.

Sifat pemaafnya, dan hatinya yang selalu terbuka, memandang hari ini adalah hari ini dan kemarin adalah kemarin nampaknya membawa perubahan ke arah yang positif.

Aisya never give up to approach that friend.

 Sekarang this-friend sudah tidak terlalu reaktif. Kadang masih teriak, tapi sangat jarang. Terpenting, Alhamdulillah sudah tidak pernah memukul lagi saat bermain terus rebutan. Sudah mau ikut mengalah. Lebih soft.

Saya bersyukur dengan perubahan ini, bikin saya merasa lebih tenang saat Aisya main dengan temannya yang satu ini. Tapi tetap saya batasi dan dampingi.

Yang jelas saya melihat banyak perubahan dalam diri teman Aisya ini.

Mungkin kalau Aisya traumaan, dan tindakan saya yang berusaha menjauhkan Aisya dari temannya ini berhasil, kejadiannya bakal berbeda. Wallahualam.

Saya tidak tahu, apakah temannya ini memang betul inspired by Aisya yang selalu membalas keburukan dengan kebaikan atau mungkin ada peran-peran lain yang mendukung perubahannya. Seperti wejangan ortu dan lain-lain.

Aisya easy to forget & forgive.

Bagi saya, ini adalah hikmah yang besar. Saya harus belajar seperti Aisya. Membuka hati lebar-lebar, menjadi pribadi yang pemaaf dan melihat hari ini sebagai hari ini, dan kejadian kemarin sudah berlalu.

New day, new hope. Live in present time 😊

Kejadian lain yang tak kalah mengiris hati (lebay banget yak), adalah saat Aisya sedang menaiki tangga seluncuran, ada anak laki-laki nyerobot dan menginjak tangan Aisya. Anak ini langsung naik ke atas Aisya dan merosot duluan. Saat itu saya sedang duduk di bangku, mengamati Aisya dari jauh.

Anak ini memang suka menyerobot teman-temannya yang menunggu giliran naik seluncuran. Dan kalau ada anak ini, lagi-lagi saya mengajak Aisya main yang lain dulu.

Minggu lalu, seperti biasa sambil menunggu kakak TK keluar kelas, Aisya main dulu. Tiba-tiba datang anak yang suka menyerobot bersama adiknya.

Aisya yang lagi naik tangga langsung turun, mempersilakan sang adik naik duluan. Lalu Aisya naik lagi ke tangga.

Kakaknya datang menghampiri Aisya. Saya sudah berdiri, mau stand for Aisya, takut Aisya diserobot dan jatuh atau tangannya keinjek lagi.

Tapi belum sempat melangkah, saya FREEZE duluan.

Anak yang selama ini suka nyerobot ini mengangkat tangannya ke atas, mengikuti gerakan Aisya saat mempersilakan adiknya naik duluan tadi. Dan menunggu hingga Aisya sampai ke atas, meluncur, baru ia naik.

WOW.

Hal kecil seperti itu bisa memberi impact yang besar ya. Subhanallah, ternyata kebaikan itu menular.

Bertakwalah kepada Allah dimana pun kau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.

[HR. Tirmidzi]

2. Berani Dan Suka Tantangan

Screenshot_2017-05-08-08-37-19
Aisya adalah anak yang pemberani. Dia suka manjat, tidak takut ombak dan berendam di pantai. Kepengen jalan sendiri kalau ke warung dan sekolah terus Mami-nya ngintilin dari belakang.

Saat mami ketakutan gara-gara ada tikus di dapur (sewaktu kami di Bintaro), Aisya menguatkan saya dengan bilang, “Mana tikusnya, Mami? Mau lihat. Mami, jangan takut ya. Kan ada Aisya”.

Dan dia berani lihatin tikus yang lewat got tanpa meloncat geli.

Ketika ada kodok di halaman belakang rumah sebelum dibangun, sementara Mami menjerit, Aisya malah mantengin berkali-kali, “Mau lihat kodok lagi”, gitu ucap Aisya.

Aisya juga suka mencoba hal-hal baru dan SUKA TANTANGAN. Aisya pernah manjatin pintu pagar, karena saat itu Aisya belum bisa membuka gemboknya. Awalnya saya kaget karena Aisya sudah masuk ke rumah, saat itu saya baru beres mandi dan Aisya baru pulang dari rumah temannya. Saya cek, pagarnya masih digembok, tapi kok Aisya sudah ada di dalam. Wah ternyata Aisya manjat, Alhamdulillah safely landed.

Aisya juga berani tampil (percaya diri) saat manggung di acara 17-an. Aisya dan teman-teman kobernya menampilkan senam baby shark dan bernyanyi. Saat MC menyodorkan mic, tanpa malu-malu Aisya langsung mendekatkan mulutnya ke mic sehingga suaranya terdengar lebih keras.

Dan, sebelumnya Aisya ikut lomba dulu. Alhamdulillah Aisya larinya lebih cepat ketimbang teman-teman seusianya yang lari bareng Aisya saat memasukkan bendera ke dalam botol. Menang deh Aisyaaa, Alhamdulillah.

Malam harinya memang Aisya latihan dulu sama Mami pakai sedotan yang dimasukkan ke botol, Aisya mempelajari strateginya dan melihat beberapa tayangan di youtube mengenai lomba tersebut.

Ikut lombanya 2 kali, yang pertama di sekolah dan yang kedua di lingkungan RT. Sayangnya di tingkat RT, Aisya berlomba dengan kakak TK dan SD sehingga tidak imbang. Kakak-kakak ini larinya lebih cepat, so she loose. But that’s okay.

Aisya tetap menikmati lombanya dengan sportif. Dari semua lomba yang Aisya ikuti, yaitu lomba lari, tiup balon, mencocokan sandal, dan makan choki-choki, Alhamdulillah Aisya berhasil meraih juara 1 di lomba makan choki-choki.

Saya senang Aisya memiliki sifat yang berbeda dengan saya – dia pemberani dan suka tantangan.

 3. Empati-nya Tinggi

IMG_20170623_110427

Akung-nya Aisya pernah mengatakan. “Jarang lho anak umur segini sudah bisa menunjukkan empati-nya pada orang lain. Anak-anak cenderung ingin jadi center of attention”.

Ketika Uti batuk-batuk di kamar, tanpa ada yang meminta tolong, Aisya langsung lari ke meja makan dan mengambilkan gelas berisi teh untuk Uti.

“Uti minum dulu, Uti batuk ya”, ucap Aisya.

Sikap ini bikin saya kagum, sekaligus mengingatkan saya untuk peka. Kalau ada yang butuh bantuan, segera ditolong tanpa menanti dipanggil.

Saat Akung menyetir dan Aisya duduk di sebelahnya, Aisya kadang bertanya, “Akung capek ga nyetirnya?”

Mendengar itu, Akung seperti mendapatkan suntikan semangat dan menjawab, “Engga, ga capek kok”.

Kalau Uti lagi mau minum obat, Aisya suka duduk di samping Uti dan mengambilkan obatnya, lalu menyimpannya di meja.

Pas Ayahnya pulang kantor dan minta dipijitin, Aisya suka naik ke punggung Ayah dan mijit dengan kakinya.

Saat Mami mengusap-usap punggung Akung, Aisya juga suka ikut-ikutan mengelus punggung Akung.

Aisya juga mudah berempati pada temannya. Bulan lalu semua anak di sekolah Aisya diharapkan mau mengikuti program vaksin MR. Aisya datang dan berbaris di depan sehingga ia disuntik di awal- awal.

Alhamdulillah Aisya berani, tidak nangis dan tetap ceria.

Sudah setengah perjalanan menuju rumah ketika Aisya ingat, ada seorang temannya yang belum diimunisasi. Aisya berinisiatif untuk kembali ke sekolah.

Sampai di Kober, Aisya melihat temannya nangis kejer, takut disuntik. Langsung Aisya ajak bermain dan menuntunnya ke dalam kelas sambil berkata, “Ngga apa-apa kok, ngga sakit. Ayo masuk”.

Saya menghargai usaha Aisya ini. Its a beautiful moment too see that Aisya care a lot to her friend.

Satu lagi deh contohnya, waktu adzan berkumandang dan kami berbuka di bulan Ramadan, Aisya yang tahu saya agak kecapean menghampiri saya sambil bawa piring mainan berisi kukis dari pasir. Lalu Aisya bilang, “Nih, Mami buka dulu. Aisya udah bikinin special buat Mami. Nanti kalau Aisya udah besar, Aisya yang masak buat Mami yaa”.

Saya tahu, yang ia sodorkan adalah kukis pasir. Tapi niatnya itu lho, peka banget, biasanya saya yang serving others, eh tiba-tiba Aisya mengambilkan saya sesuatu meski mainan.

Subhanallah, langsung nyeeesssss hati saya.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu Dan Bersenang-senang Dengan Anak

4. Supel & Suka Ngobrol

IMG_20171009_204723_138

Aisya mudah banget akrab sama orang baru, mau teman sebaya ataupun teman Mami dan Ayah, semua suka disapa, diajak ngobrol dan main sama Aisya.

Aisya suka memanggil teman-temannya yang lewat di depan rumah dan bertanya, “Mau kemana?”, diikuti pertanyaan lanjutan, “Mau main ke rumah Aisya ngga? Masuk yuk, banyak mainan lho”. Haha.. ramah banget yak.

Jangankan teman-temannya, sama Bapak Ibu yang ketemu di jalan saja, Aisya suka say hai, sama penjual seblak, tukang ojeg juga diajak ngobrol. Kadang Bapak Ibu yang disapa suka kaget atau merasa heran disapa anak kecil.

“Bibi seblaaak, Aisya mau sekolah duluuu. Dadaaah”, ini kalimat yang suka Aisya ucapkan saat melewati warung bibi Seblak.

“Pak Tarjooo, mau kemana?”, panggil Aisya saat berpapasan dengan tukang ojeg langganan kami di jalan.

“Eh Pak, Bu”, biasanya Aisya bilang ini sih pas ketemu.

Lalu terutama Bapak-bapaknya bakal berlagak kaget sedikit dan menjawab, “Eh, dede..”, gitu aja hehe.

Sekarang itu, sudah 2 minggu-an Aisya pindah rumah ke area baru. Dan Aisya sudah sibak-sibak tirai, cari teman, mengamati siapa saja yang lewat depan rumah hingga berhasil kenalan sama 2 anak tetangga dan sukses mengajak mereka main ke rumah.

Alhamdulillah gain new friends within 1 week, makin betah deh di lingkungan baru.

Saya senaaang sekali melihat sifat Aisya yang supel dan punya interpersonal yang baik ini. Selain suka menyapa, kenalan, ngajak ngobrol dan main, Aisya juga suka berbagi sama teman-temannya. Bagi-bagi permen, susu, biskuit, apa saja yang Aisya punya.

Pernah kami membeli 4 bungkus snack untuk bekal ke sekolah. Ketika saya cek isi tas-nya sepulang sekolah, eh tinggal satu. Aisya bilang, ia memakan 1 snack dan 2 snack lainnya diberikan ke temannya. Sisa satu lagi buat saya 😀

Oia satu cerita lagi, kalau saya mau ketemuan sama teman saya, Aisya akan bertanya, “Mami, teman Mami masih kecil atau sudah besar?”

“Sudah besar”, jawab saya.

“Jadi Aisya manggilnya tante atau apa?”, tanyanya lagi.

“Tante aja, sayang”, ucap saya sambil tersenyum.

Pertanyaan ini menunjukkan kalau Aisya sudah lumayan dewasa ya, ia bertanya lebih dulu how should she call my friend hehe. Dan begitu ketemu, seperti biasa, Aisya langsung ajak tante dan anaknya main ke rumah Aisya sambil ngobrol ini itu. Hihi.

Di sekolah, saat Bu Guru membunyikan kecrek tanda anak-anak harus berbaris sebelum masuk kelas, Aisya juga suka ikut mengajak temannya yang keluar barisan agar berbaris dengan rapi. Dan kadang menggandeng tangan temannya yang baru datang untuk bersalaman dengan Bu Guru, “Salam dulu sama Bu Guru”, ucap Aisya.

5. Mandiri (Mau Apa-Apa Sendiri)

IMG_20171018_092958

 

Aisya sudah memperlihatkan sifat mandirinya sejak usia 1 tahun-an. Saat itu Aisya sudah bisa makan menggunakan sendok sendiri.

Sekarang di usia 3 tahun, perkembangan kemandiriannya makin pesat.

Aisya ingin gosok gigi sendiri, ia memenuhi gelasnya dengan air, kumur-kumur, membuka tutup odol dan mengoleskan sedikit tooth paste di sikat giginya, mencelupkannya ke air lalu menggosok giginya.

Kadang sambil nyanyi, “Brush your teeth, up and down, up and down”, gitu.

Saya masih suka mengingatkan untuk menggosok gigi gerahamnya, lalu mengulangi kalau Aisya perbolehkan. Setelah itu Aisya akan kumur-kumur dan menyatukan peralatan gosok giginya sendiri.

Aisya juga suka memakai sabun dan shampoo sendiri, naik ke closet duduk sendiri, serta menekan flush toilet sendiri.

Nah, minggu ini Aisya menunjukkan ‘special talent-nya’ yang baru, yaitu memakai baju sendiri.

Setelah mandi dan memakaikannya minyak telon, lotion dan bedak, Aisya akan meminta saya keluar kamar.

“Aisya mau pakai baju sendiri, Mami. Aisya udah besar”, pintanya.

“Oke”, ucap saya.

Aisya akan keluar kamar and dress up well.

Saya benar-benar surprise ketika Aisya berhasil memakai seragammnya dan mengancingkan semua kancingnya serta memakai luarannya. Hebaaattt!

Aisya memang suka banget pakaian berkancing dan berusaha mengkancingkannya satu per satu.

Dan tahukah Anda apa kemajuannya hari ini? Aisya sudah bisa membuka kunci pintu rumah Akung SENDIRI!

Hari ini ada tamu yang mengetok pintu (kami sedang di rumah Akung), tapi saya (lagi-lagi) sedang di kamar mandi dan tidak bisa buru-buru keluar untuk membuka pintu sedangkan pintunya saya kunci.

Lalu saya keluar dari toilet dan bergegas ke ruang tamu, mau membukakan pintu tapi tamunya sudah masuk. Sontak saya kaget.

“Buka pintunya gimana? Kan dikunci”, tanya saya.

“Sama Aisya, Mami. Aisya yang buka pintunya”, jawab Aisya.

“Masa siiih?”, saya ga percaya.

Saya reka adegan dengan mengunci dulu dan meminta Aisya membukanya. Aisya langsung memperlihatkan pada saya bagaimana dia membuka kunci.

TERNYATA, Aisya sudah KUAT untuk ‘menceklek’ kucinya sodara-sodara. WOOOOW Subhanallah.

Baca juga : Anak Adalah Hak Prerogatif Allah

6. Solutif

IMG_20170911_130014

Aisya selalu punya alternatif dari setiap respon yang kami berikan untuk kejadian tertentu atau permintaannya.

Seperti saat kami mau berangkat sekolah dan hujan turun. Deras lagi. Saya udah kebayang jalanan becek dan licin, jadi saya tawarkan, Aisya mau sekolah atau tidak.

“Aisya hujan tuh. Mau sekolah ngga?”, tanya saya.

“Mau sekolah Mami”, jawab Aisya.

“Tapi deras hujannya”, ucap saya, setengah berharap Aisya memilih di rumah saja.

“Sekolah aja Mami. Ga apa-apa, pakai payung aja”, Aisya mantap pergi.

Melihat semangatnya saya pun langsung, “Oke, ayo kita pakai payung!”.

DAAAN sampai ke sekolah ternyata hanya ada 8 orang yang masuk, yang lain tidak berangkat karena hujannya deras banget.

Contoh lain adalah saat Aisya keukeuh ingin membeli mainan dengan Akungnya malam-malam. Akung bilang, “Aisya sudah malam, gelap tuh. Besok aja ya beli mainannya”.

“Sekarang aja Akung, di jalannya kita nyalakan lampu aja supaya terang”, jawab Aisya.

“Tapi dingin di luar Aisya, nanti masuk angin lho kalau naik motor malam-malam”, ucap Akung.

“Naik mobil aja atuh Akung, supaya ga keanginan”, Aisya menawarkan solusi.

Dan Akung merespon, “Aya-aya wae budak ieu mah. Selalu punya alternatif”.

Dan percakapan terakhir kami ini bisa dibilang lucu banget.

“Mami, Aisya mau jajan”, pinta Aisya saat menemani Mami belanja ke warung.

“Ga jajan dulu yaa. Uang Mami habis nih”, lantas saya perlihatkan isi dompet saya yang kosong.

Beneran habis saat itu.

“Kok kosong, Mami?”, tanya Aisya.

“Iya, dipakai semua buat belanja”, jawab saya.

“Mami ga punya uang lagi. Jadi Aisya ga jajan dulu yaa”, tambah saya.

“Mami pasti punya uang”, balas Aisya.

“Udah habis. Kan tadi Aisya udah lihat dompet Mami kosong”, respon saya.

“Yaudah ambil dulu atuh di ATM uangnya”, ucap Aisya.

Saya tertawa mendengarnya. Ya Allah, anak-anak jaman now mah solutif banget deh!

Untuk menyalakan lampu atau mengambil barang yang letaknya cukup tinggi, Aisya biasanya mengambil kursinya lalu naik dan meraih apa yang ia mau. Its either turning on the lamp, taking an umbrella or toys.

Aisya suka belajar, dia senang diberi petunjuk untuk bisa melakukan sesuatu. Dan gigih. Sekarang Aisya lagi suka mengisi majalah Mombi, kalau ada yang kurang dipahami, Aisya akan bilang, “Mami, ajari Aisya, ini gimana caranya?”.

“Aisya bisa”, Aisya akan mengatakan ini, setelah saya beri contoh. WHAT A SPIRIT, AISYA!

Sebetulnya masih banyak bakat-bakat dan sifat Aisya yang saya kagumi. Buat sekarang saya rangkum 6 sifat/sikap ini dulu ya. Because these really inspire me.

I think, Allah give her as a gift for me. So I can ‘born again’ to restart my life 😊

How about you? What inspiration that you get from your child today?

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “6 THINGS I ADORE FROM AISYA

  1. Fanny Fristhika Nila says:

    Saluuuut ama anakmu.. Msh 3 thn tp sifat2 baiknya banyak bgt. Berharap anakku bisa seperti itu jg mba 🙂 . Ini anakku 2, tp sifat keduanya bedaaa bgt. Kalo si kaka 5 thn lbh sabar sih. Walo kdg nangis jg diisengin adeknya. Cm yg aku salut dia ga mau balas, dan ttp sayang bgt ama adeknya yg baru 1.5 thn.

    Kalo kelebihan mnrut ku sih, anakku yg pertama ini berbakat di bidang bahasa mba. Krn dia cepet meniru dan ngerti, pdhl paud nya ga pake bhs inggris. Aku ga prnh ajarib juga. Dia cm bljr dr you tube dan ngedengerin sepupunya yg memang pake bhs inggris di rumah. Makanya mau aku poles lg kelebihan dia yg itu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s