Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri

Screenshot (16)

Suatu ketika Bondowoso dan teman-temannya dari Kerajaan Pengging bermain ke taman milik Kerjaaan Prambanan. Sampai di playground ternyata sudah ada Roro Jongrang dan dayangnya yang sedang bergantian menaiki seluncuran.

Bondowoso memperhatikan Roro Jongrang yang sedang asik bermain. “Wah, ia sangat cantik dan lembut nampaknya. Aku ingin berteman dengannya,” batinnya.

Bondowoso yang kikuk mencoba menarik perhatian Roro Jongrang dengan menciptakan kegaduhan bersama teman-temannya. Mereka naik jungkat-jungkit sambil berteriak keras, mendorong ayunan tinggi-tinggi dan berlarian kesana kemari.

Alih-alih membuat Roro Jongrang tertarik, tindakan mereka malah membuatnya merasa terganggu. Ketika Bondowoso dan teman-temannya menyerbu seluncuran, Roro Jongrang segera berkata, “Jika kamu ingin bermain bersama, ada syaratnya!”.

“Apa syaratnya?” tanya Bondowoso bersemangat.

“Kamu dan temanmu harus ikut mengantri saat naik seluncuran. Agar semua bisa mendapatkan kesempatan bermain. Bagaimana, apakah kamu menyanggupi syaratku?” tantang Roro Jongrang.

Bondowoso dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka mengangguk dan berjanji untuk antri.

Roro Jongrang berdiri paling depan, lalu dayangnya. Di belakang dayang, berbarislah Bondowoso dan teman-temannya. Roro Jongrang meluncur disusul dayangnya, kemudian mereka mengantri di belakang teman-teman Bondowoso.

Bondowoso dan teman-temannya mengantri dengan rapi, namun lama-lama mereka saling dorong dan berebut naik ke seluncuran. Ketika tiba giliran Roro Jongrang naik, Bondowoso berlari cepat dan menyerobot.

Akibatnya Roro Jongrang menjerit karena kakinya terinjak oleh Bondowoso. Di kesempatan lain, ada juga yang mendaki seluncuran tidak melalui tangga. Hingga puncaknya, Roro Jongrang bertabrakan dengan Bondowoso. Sontak Bondowoso jatuh dan terluka.

Karena kesal, Bondowoso mengeluarkan Bandung, senjatanya yang sakti. Ia mengarahkan Bandung-nya membabi buta dan mengenai semua yang ada di hadapannya. Tak terelakkan, teman-temannya pun menjadi korban.
Beruntung Roro Jongrang bisa menangkis serangan Bandung Bondowoso dengan Sampur biru ajaibnya.

Bandung yang ditangkis oleh Roro Jongrang mengenai Bondowoso. Ia pun ambruk dan meringis kesakitan.

“Sekarang, aku tidak mau bermain denganmu lagi!” Roro Jongrang meluapkan kekecewaannya.

Mendengar hal itu, hati Bondowoso bertambah sakit. Ia menyesal tidak antri saat bermain, sehingga menyebabkan dirinya dan orang lain terluka. Bondowoso meminta maaf dan meminta Roro Jongrang memberinya satu kesempatan lagi.

“Baiklah, ayo kita bermain sekali lagi. Jika kamu membuktikan bisa antri dan bermain sama, aku bersedia berteman denganmu,” ucap Roro Jongrang.

Bondowoso dan teman-temannya bangkit, kini mereka belajar antri sekali lagi. Karena belum terbiasa, beberapa kali Bondowoso dan teman-temannya ingin menyerobot, tapi mereka memilih untuk sabar menunggu giliran.

Memang sulit pada awalnya, namun lama-lama mengantri terasa menyenangkan. Semua bisa kebagian kesempatan bermain dengan aman dan nyaman tanpa harus ada sikut-sikutan.

Dengan belajar mengantri, kini Bondowoso pun bisa berteman baik dengan Roro Jongrang seperti yang ia inginkan sejak awal. Ternyata mengantri itu banyak manfaat ya.

Cerita dan Ilustrasi oleh Sundari Eko Wati.

Cerita berjudul Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri ini merupakan modifikasi dari Legenda Roro Jongrang yang tersohor. Dimodifikasi untuk keperluan mendongeng pada balita, semoga suka dengan ceritanya yaa 🙂

Ayo Membacakan Nyaring :)

IMG-20180210-WA0004

Malam ini saya mempraktekan ilmu yang saya dapat dari Workshop Membacakan Nyaring bersama Bu Roosie Setiawan. Beliau adalah penulis buku Membacakan Nyaring, Aktivis Read Aloud dan Founder Komunitas Reading Bugs Indonesia @readingbugs

Saya membacakan cerita berjudul “Cookie Soup” dari kumpulan cerita Sesame Street. Dan ketika kami sampai di halaman dimana Monster Cookie sedang makan, saya bertanya pada anak saya,

“What did he eat?,”

“Cookie soup” jawab Aisya,

“Gimana dia makannya?” tanya saya lagi,

“Gini, Mami” Aisya berdiri sambil menggerakan tangannya ke atas dan ke bawah lalu kepalanya digeleng-gelengkan.

Aisya mengembangkan imajinasinya sendiri setelah melihat gambar Cookie Monster yang makan dengan terlalu semangat, sampai-sampai sayuran di dalam mangkuknya berhamburan kemana-mana.

At this point, saya mencoba mengingat apa yang beliau sampaikan.

“Membacakan nyaring ini kegiatan sederhana yang tujuan utamanya adalah membangun pengalaman membaca yang menyenangkan. Oleh karena itu, bukan menuntaskan bukunya yang kita kejar, tapi membuat anak menikmati proses membaca. Harapannya, anak jadi mau membaca, bisa membaca, dan gemar membaca” – Bu Roosie Setiawan.

Saya pun menahan diri untuk mengajak Aisya lanjut ke halaman berikutnya dan membiarkan ia tertawa, menirukan gaya Cookie Monster makan, membuat ia merasa kalau membaca buku itu menyenangkan.

Ada banyak hal yang saya catat selain perkataan Bu Roosie di atas. Insya Allah saya mau share disini, karena it’s eye opening banget buat saya 🙂

Flasback dikit ya, ketika pertama kali lihat poster workshop ini, saya langsung tertarik lho. Saya sangat suka bercerita, membacakan buku dan mendongeng untuk anak saya. Dan saya ingin bergabung dengan komunitas read aloud.

Harapannya, saya bisa mendapat lebih banyak ilmu dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengan saya.

Benar saja, setelah bertemu dengan Bu Roosie dan teman-teman lain hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018 lalu, saya mendapatkan banyak pencerahan mengenai aktivitas membacakan nyaring.

I’d like to share my experience here, but before telling you what I get during the workshop I want to say my first impression to Bu Roosie.

Here is my first impression : salut banget sama Ibu Roosie, in her age, beliau masih berkarya dan semangat menebarkan ajakan positif bagi para orang tua.

Yaitu ajakan untuk membacakan cerita pada anak dengan metode read aloud selama minimal 10 menit sehari.

Beliau bilang, “Dengan membaca nyaring selama 360 jam, maka anak akan bisa membaca sendiri”.

Ok, ini dia catatan dari workshop-nya, semoga menggugah hati para orang tua untuk bisa meraup manfaat dari membacakan nyaring pada anak yaa.

Apakah Membacakan Nyaring Itu?

IMG_20180210_095349.jpg

Membaca nyaring/read aloud adalah kegiatan membacakan cerita dengan suara yang nyaring, enak didengar, dengan pelafalan dan intonasi yang tepat, ini yang saya tangkap.

Dalam membaca nyaring hanya diperlukan 3 komponen, yaitu :

  1. Buku cerita
  2. Anak yang mendengarkan cerita
  3. Ibu/Ayah/Orang dewasa yang membacakan cerita

Apa Saja Manfaat Dari Membacakan Nyaring?

“The single most activity for building the knowledge required for eventual success in reading is reading aloud for children” – Jim Trelease, The Read-Aloud Handbook.

Ada banyak sekali manfaat yang bisa kita reguk dari membacakan nyaring lho. Salah satunya sudah saya sebutkan di atas ya. Jika kita (para orang tua) rutin membacakan cerita melalui buku dengan metode read aloud, kita tidak perlu takut anak kita tidak bisa membaca.

Karena tahapan membaca juga ada beberapa, dari pramembaca, membaca dini, membaca awal, membaca lancar hingga membaca kritis. Yang awalnya saat batita anak kita masih “pura-pura membaca”, lama-lama ia akan tahu “Oh, kata yang ini bunyinya seperti ini”, sampai akhirnya ia benar-benar mengenali hurufnya. Bertahap.

11 Manfaat lainnya adalah sebagai berikut :

  1. Membantu perkembangan otak lebih optimal
  2. Memperkenalkan dan melatih kemampuan mendengar
  3. Menambah kosakata yang didengar
  4. Melatih rentang perhatian dan mengingat
  5. Mengajarkan kata-kata yang jarang dipergunakan sehari-hari
  6. Mengajarkan arti kata-kata
  7. Memperkenalkan konsep media cetak dan tulisan
  8. Memperkenalkan gambar dan ilustrasi
  9. Mampu membuat tenang
  10. Merangsang Imaginasi dan indera lain
  11. Memperkenalkan anak dengan buku dan media belajar

Penjelasannya bisa dilihat di foto di atas yaa. Itu foto kiriman teh Shanty (ceritashanty.com) di grup WA workshop Membacakan Nyaring yang di-capture dari buku Bu Roosie Setiawan.

Bonus Manfaat

IMG_20180210_105954

Selain manfaat-manfaat tadi, masih ada bonusnya juga lho.

Ada 2 ya bonus tambahannya :

  1. Merekatkan bonding antara orang tua dan anak

    Kenapa kegiatan membacakan nyaring ini bisa merekatkan bonding antara orang tua dengan anak? karena ketika membacakan cerita, kita butuh waktu khusus dan biasanya tidak bisa sembari mengerjakan yang lain. Fokus gitu.

    Dengan begini, anak merasa perhatian orang tua tertuju padanya. Dan yang namanya anak itu pasti suka mendengarkan suara orang tuanya, apalagi ketika bercerita. Jadi yuk luangkan waktu untuk membacakan buku pada anak.

  2. Anak-anak kita jadi mempunyai reading role model, yaitu kita!

Terus Dari Kapan Dong Kita Bisa Mulai Membacakan Nyaring?

IMG_20180210_100631.jpg

Setelah membaca manfaatnya yang luar biasa, pasti Ibu-Ibu dan Bapak-bapak jadi pengen tahu kan, kapan usia yang tepat untuk memulai?

Bu Roosie bilang, kita bisa mulai sejak bayi masih di dalam perut Ibu lhooo. Tepatnya di trimester ke-3, saat pendengaran bayi sudah tercipta dengan sempurna.

Ketika sudah lahir, masa-masa balita, anak-anak bahkan sampai dewasa juga boleh 🙂 tidak ada batasan usia mau sampai kapan dibacakan cerita.

Jujur, saya saja masih senang ketika didongengin. Serius.

Samakah Membacakan Nyaring Dengan Mendongeng?

Baik membaca nyaring maupun mendongeng, keduanya sama-sama dibacakan dengan nyaring. Namun pada membaca nyaring, anak-anak digiring untuk berkenalan dengan media cetak berupa buku, majalah dan lain-lain. Tujuannya lebih ke menumbuhkan kecintaan pada buku. Menghidupkan budaya membaca buku.

Sedangkan mendongeng mengedepankan budaya bertutur, cenderung menggunakan alat peraga, tujuan utamanya tidak menggugah untuk membaca buku dan ketika bercerita, pendongeng harus hapal ceritanya.

Pada Read Aloud (membaca nyaring), para orang tua tidak perlu menghapal, karena ada buku yang menjadi panduan.

Tahapan Anak Bicara

IMG_20180210_100118.jpg

Kegiatan membacakan nyaring juga erat kaitannya dengan tahapan anak bicara.

Masa siiih? Iya siiih 🙂

Seorang anak perlu mendengar banyak kosa kata sebagai modal bagi ia untuk berbicara dan menulis kelak. Dan stimulus literasi usia dini bisa dirangsang dengan membacakan nyaring. Supaya lebih memahami, yuk kita lihat 4 tahapan bicara ini :

  1. Listening (Mendengar)

    Tahap pertama adalah mendengar. Dengan sering mendengar, kosa kata anak bertambah. Semakin banyak kosa kata yang masuk, otak anak akan dengan mudah me-recall dan memakainya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting sekali mengajak anak ngobrol dan membacakan juga buku cerita padanya.Seringkali, kata-kata yang tidak biasa kita pakai dalam bahasa lisan, muncul pada buku cerita anak. Ini akan membuat baik kita maupun anak makin kaya dengan kata.

    Sekarang, saya sedang membacakan buku Sesame Street yang menggunakan bahasa Inggris. Jangankan anak saya, saya saja berkenalan dengan banyak kata baru di buku ini!

  2. Speaking (Bicara)

    Ketika anak sering diajak bicara, mendengar banyak kosa kata, maka otaknya anak penuh dengan kata sehingga ‘tumpahlah’ isi otaknya tersebut dalam bentuk ucapan-ucapan.

    Disini, anak akan mulai belajar bicara. Dimulai dengan mengeluarkan bunyi, berceloteh, hingga bisa berbicara dengan baik dan benar, sampai akhirnya nyambung ketika diajak ngobrol, makin banyak bertanya dan jadi talk-active banget.

    Oia, anak banyak bertanya itu artinya critical thinking dia jalan lho. And it’s a good thing. So, as a parent, cobalan untuk menghindari respon sebagai berikut,

    “Cerewet ih,”
    “Nanya mulu,”
    “Gak tau ah apa jawabannya”.

    Kata-kata seperti ini bisa menyurutkan antusiame-nya, let’s be wise. Bu Roosie justru menyarankan agar kita membuka ruang untuk berdiskusi dengan anak kita.

    Orang tua perlu belajar mendengar dan meminta feed back dari anak. Sementara anak belajar bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

    Sebelum mulai membacakan cerita, kita bisa memancingnya dengan, “Ini gambar apa dek?,”

    Untuk “Cookie Soup” yang saya bacakan tadi sore misalnya, sambil bercerita, saya  bertanya, “Itu yang lagi masak namanya siapa? Masak apa ya dia? Coba hitung wortelnya ada berapa? Nah kalau tomat yang ini warnanya apa, dek? Kira-kira berhasil ga yaa dia masaknya?” daaan pertanyaan lain yang lebih kreatif yaa ini mah contoh aja hihi.

    Kalau sudah khatam (berkali-kali dibacakan), kita bisa meminta anak gantian bercerita. Aisya belum ingat semua kalimat per halaman tapi she can tell and know whats the story about. Biasanya dengan melihat gambarnya, Aisya akan ingat percakapan atau ceritanya tentang apa 🙂

  3. Reading (Membaca)

    Setelah mendengar dan bicara, selanjutnya anak akan termotivasi untuk mulai membaca. Pada awalnya ia akan tertarik mendengarkan cerita dari buku yang dibcakan oleh orang tuanya.

    Next-nya ia akan antusias membaca sendiri buku dan media cetak lainnya. Tentunya setelah melewati tahapan membaca.

    Nah, Aisya sudah di tahap berkeinginan membaca buku sendiri. Kadang ia ambil beberapa buku kemudian menceritakannya pada temannya. As if she can read.

  4. Writing (Menulis)

    Apa yang anak dengar, katakan dan baca dapat dirangkum dalam sebuah tulisan nantinya. Keseluruhan proses (tahapan) ini akan melahirkan tulisan yang ciamik.It just like me, saya suka mendengar, mengamati, ngobrol dengan banyak orang, lalu membaca dan akhirnya, saya tuangkan hasil observasi saya tersebut, didukung dengan pemikiran juga literatur yang ada menjadi sebuah tulisan yang hopefully memberi manfaat.

Tahapan Membaca

Dari paparan Bu Roosie, saya jadi tahu kalau tahapan membaca itu ada 7, yaitu :

  1. Pra-membaca (0-24 bulan)

    Pada tahapan ini, ketika membacakan buku, anak kita seolah-olah sedang membaca. Oleh karena itu, buku yang pas untuk anak usia 0-24 bulan adalah buku-buku yang bergambar. Hanya ada beberapa warna, dan disertai 1 kata per halaman.

  2. Membaca dini (3-4 tahun)

    Pada tahapan ini, kita sudah diperbolehkan mengenalkan anak pada buku-buku yang berisi 1-2 kalimat per halaman. Masih didominasi dengan gambar, namun ada kalimat pendukung. Sambil membacakan buku, usahakan sambil menunjuk kata-katanya agar anak tahu, kata tersebut suaranya seperti apa.

    Berhubung Aisya sudah 4 tahun, saya menunjukkan salah satu buku bacaan favoritnya dari koleksi Peppa Pig. Bu Roosie bilang, ya buku seperti ini bagus untuk anak 3-4 tahun. Tapi disarankan juga untuk memilih buku yang ada penjenjangan huruf (antar huruf tidak rapat).

    Oia, dan saat Aisya bercerita, ia akan menunjuk beberapa kata, terutama judul dan kata yang mudah sesuai bunyinya. Sekarang Aisya sudah mengenal beberapa huruf juga.

  3. Membaca Awal

    Tidak dijelaskan terlalu detail, namun saya menangkap ini adalah saat anak-anak mulai mengenal huruf, mengejanya dan mampu merangkaikan kata demi kata.

    Untuk selanjutnya ada

  4. Membaca Lancar
  5. Membaca lanjut
  6. Membaca Mahir
  7. Membaca Kritis

Baca juga : “Peppa Pig And I Love You Game” (Review)

Membaca Nyaring & Hubungannya Dengan Literasi Usia Dini

Pada literasi usia dini, ada 6 hal yang perlu dikuasai seorang anak, yaitu :

  1. Bunyi (fonem) berupa vokal dan konsonan. Kita bisa memperkenalkan berbagai bunyi pada anak melalui nyanyian, juga ketika membacakan cerita padanya
  2. Mengenalkan abjad, selain mengetahui bagaimana bunyinya, anak juga mengenal bentuk abjadnya
  3. Penambahan kosakata
  4. Anak sadar materi cetak seperti buku, koran, poster, TV dan lain-lain
  5. Anak termotivasi melihat buku
  6. Re-telling. Kemampuan akhir ini adalah anak mampu menceritakan kembali apa yang ia dengar dari bacaannya

Dan stimulus untuk literasi usia dini ini bisa banget dirangsang melalui membacakan nyaring.

Tahapan Membacakan Nyaring

Memilih buku cerita yang bagus tentunya sangat penting untuk mendukung aktivitas membacakan nyaring.

Menurut Bu Roosie, buku yang bagus untuk dibacakan pada anak adalah buku yang less words dalam artian tidak berisi terlalu banyak kalimat, disertai ilustrasi yang menarik, ada pengulangan kata termasuk kata-kata yang positif bagi anak, dan membuat daya imajinasinya berkembang.

Dan  membacakan nyaring juga ada tahapannya juga lhooo, silakan lihat slide ini ya..

This slideshow requires JavaScript.

Tantangan Membacakan Nyaring

As for me, this is what made me happy the most haha..

Setelah mengunyah semua materi dari Bu Roosie, tiba saatnya untuk mempraktekannya! Bu Roosie pun menantang 3 orang peserta untuk berani membacakan cerita di depan semua audience.

Awalnya saya ragu buat ikutan, but my heart told me to try. Ya kadang kesempatan tidak datang dua kali, dan saya meskipun gugup, akhirnya ngacung.

Alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk tell a story daaan dapat hadiaaah! Hadiahnya adalah buku cerita yang kami bacakan. Saya kebagian membacakan cerita dari buku “Hari Yang Melelahkan” karya Widya Ross dan Vannia.

Buku ini bercerita tentang Gandos, Gendis dan Gandas, tiga domba yang ingin makan di Peternakan Rumput Segar milik 3 domba gemuk. Ilutrasinya kereeen dan ceritanya sederhana namun dikemas dengan seru. Indonesia banget deh!

This slideshow requires JavaScript.

Bu Roosie mengatakan, buku cerita anak dari luar memang bagus. Tapi kini Indonesia juga sudah mengembangkan banyak buku cerita anak yang bagus. Seperti yang kami baca dan ada satu judul lagi yang Bu Roosie bacakan, berjudul “Aku Suka Caramu”.

Penulisnya juga hadir di acara ini. Hari itu Bu Roosie bawa banyak sekali buku cerita anak yang kece-kece. Ada buku cerita saat Bu Roosie masih kecil, buku Pak Gatot terbitan tahun 1972, dan buku-buku menarik lainnya.

Peserta yang membawa anak diperbolehkan membaca buku yang dibawa beliau selama workshop berlangsung. So sweet Bu Roosie 🙂

Selesai mengantongi banyak ilmu di Workshop Membacakan Nyaring plus a new book for Aisya, saya langsung ingin pulang dan menceritakan tentang petualang Gandos, Gendis dan Gandas buat Aisyaaa hihi.

Was very happy that day, thank you yaa Allah.

 

 

[Review] Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda

Screenshot (15)

“Maka, tidak ada yang lebih penting dari bangkit..”

Melalui Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda, saya meneguk banyak hikmah. Isi di dalamnya bagus sekali. Tiap halamannya mengandung makna yang mendalam.

Alhamdulillah perjuangan membaca saya sampai ke garis finish juga. Bulan Januari kemarin, selain 88 Love Life-nya Diana Rikasari, saya juga berhasil membaca tuntas buku Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Yang bikin saya tertarik membuka halaman demi halaman dari karya Ahmad Zairofi AM ini adalah selain judulnya yang bikin jatuh cinta pada pandangan pertama, buku terbitan Tarbawi Press ini dikemas dengan ringan namun sarat makna.

Dalam buku ini terdapat 32 judul, dimana masing-masing judul terdiri dari 6 halaman. Ini membuat saya yang masih berusaha disiplin membaca buku bisa menyelesaikan satu judul, meresapi kalimat-kalimat yang ada disana. Menutupnya sejenak, kemudian siap membuka lembaran selanjutnya.

I think its a good start. Buat orang yang sedang belajar mengisi diri dengan membaca buku seperti saya, ternyata membaca buku yang dikemas dengan ringan, memuat tulisan yang berisi kutipan-kutipan, kalimat sederhana, berisi poin-poin adalah langkah yang baik.

Ringan dalam artian, halamannya tidak banyak dan tidak butuh berpikir keras untuk mencerna halaman demi halaman agar bisa tersambung dengan keseluruhan cerita seperti ketika membaca novel.

Satu hari saya bisa mencerna hingga 3 judul. Kadang dibaca berulang dan dibaca dengan agak keras agar benar-benar paham.

Paling enak membaca buku ini sambil menunggu anak selesai sekolah dan di perjalanan (seperti di grab car, di kereta). Juga pagi saat suasana masih tenang dan sore sambil menunggu adzan magrib.

Dan saya memilih untuk mengawali tahun ini dengan membaca buku-buku yang ada di rumah ketimbang membeli yang baru dan berakhir menumpuk di rak buku.

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda yang merupakan cetakan I (tahun 2006) ini adalah buku milik Bapak saya. Saya meminjamnya selama sebulan karena buku ini juga jadi favoritnya Bapak.

Di sela waktu kerjanya, kadang beliau membuka 1-2 halaman untuk me-refresh diri di kantor.

Ya, saya rasa buku ini memang bisa jadi penyejuk, pengingat juga memotivasi di kala kita sedang penat, bingung maupun meluruskan tujuan hidup. Ini tipe buku yang bisa saya buka ketika mengalami hal-hal di atas, kemudian kembali menjalani rutinitas.

70% kalimat yang ada dalam buku inibisa saya beri highlight menggunakan stabilo. Kebayang kan, ‘daging’ semua isinya.

Baca juga : “Peppa Pig And I Love You Game” (Book Review)

Saya akan mengutip beberapa kalimat dari 4 judul yang sangat menyentuh relung hati saya :

Masa Lalu

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” [QS. Hud : 114]

Membayar keburukan dengan kebaikan, ibarat melapisi sisi-sisi gelap kita dengan ornamen hidup dan hiasan diri yang indah. 

Setiap kita pasti punya masa lalu, hitam maupun putih, baik maupun buruk, gelap maupun terang. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin diubah. Apa yang telah menjadi masa lalu, tidak mungkin dihadirkan kembali dalam lembaran hidup yang baru. 

Karena hidup tak lebih ibarat rantai panjang. Setiap mata rantainya hanya hadir sekali dalam seluruh rentang usia kita. Waktu dan sejarah hidup yang telah pergi tidak akan kembali, kecuali sebuah kemiripan baru yang berulang dan tidak akan sama persis.

Masa lalu yang baik harus kita jadikan tenaga pendorong untuk terus berlangsungnya kebaikan itu. Sementara masa lalu yang buruk harus kita taburi bunga-bunga kebaikan, pada sisa-sisa umur dan nafas kita.

Setiap kali pagi datang, hal pertama yang harus kita pancangkan adalah deklarasi kebaikan. Bahwa hari ini, kita harus lebih baik dari kemarin. 

Maka, tidak ada yang lebih penting dari bangkit.

Ya. Kita harus bangun, bergegas dan bersegera membayar kesalahan-kesalahan dengan amal-amal kebajikan.

Hidup ini pasti berakhir. Sepanjang apa pun masa lalu kita, dalam sisa umur yang entah masih berapa. Tiada yang lebih indah dari merasakan manisnya iman, dalam paduan rasa syukur dan permohonan ampunan.  

Melangkah Terus Di Jalan Ketaatan 

Melakukan amal ibadah, amal shalih, dan seluruh perbuatan baik secara terus-menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri.

Menata batu bata satu persatu secara terus menerus, hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, yakni melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti, meskipun hanya sedikit.

Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus, juga ibarat menanam benih pohon, memberinya pupuk dan menyiraminya dengan air. Pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Pupuk dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan.

Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-mnenerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tak layu. Alhasil jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik, menapaki tangga-tangga ke arah yang lebih baik.

“Ahabbul a’maali ilallahi adwamuha wa in qalla” artinya “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun hanya sedikit” [HR. Bukhari dan Muslim].

Optimalkan usia yang masih tersisa. Yang terpenting dalam hidup adalah terus-menerus melakukan amal shalih sampai ajal menjemput.

Detik Genting Sebagai Penghela

Detik genting dalam hidup akan selalu hadir dalam diri setiap orang, setiap kelompok manusia, organisasi da’wah, juga sebuah bangsa. Detik-detik dimana peristiwa-peristiwa pada sepotong waktu itu akan menjadi sangat vital bagi keseluruhan hidupnya.

Sukses pada detik itu, akan memberi arti yang sangat mendalam bagi sisa-sisa kehidupan berikutnya.

Menyadari bahwa hidup punya detik-detik gentingnya adalah keharusan bagi kita. Itu bahkan salah satu seni hidup yang paling rumit. Kerumitannya bukan terletak pada bagaimana mengerti bahwa hidup ada saat-saat sulitnya. Bukan itu.

Tapi yang paling rumit adalah mengenali bahwa detik-detik sulit tertentu adalah bagian vital dari kesinambungan kehidupan sesudahnya. 

Semacam kanal penyambung atau jembatan penghubung. Yang tanpa kesuksesan di detik itu, kita tak akan pernah sampai ke ruang hidup di seberang sana, secara waktu dan usia, atau secara perjalanan peran dan fase-fase pencapaian.

Lebih jauh lagi, mengerti bagaimana bersikap di saat-saat genting adalah keterampilan jiwa yang lain, yang juga bagus untuk kita pelajari.

Tidak mudah, memang. Keberanian bisa saja muncul begitu saja di saat genting, tetapi bisa juga tidak. Karena itulah tidak ada jaminan bahwa setiap orang bisa sukses di saat gentingnya hanya dengan mengandalkan “naluri keberanian mendadak”.

Ada proses yang harus disiapkan. Ada pengantar yang harus dihayati. Ada kedewasaan yang harus diasah. Ada kematangan yang harus ditempa.

Keluh Kesah Itu Menghentikan

Pada mulanya adalah ketidaksiapan menghadapi beban hidup, lalu keluh kesah, tapi hanya tindakan yang kemudian membuktikan atau menafikkan keluh kesah itu menjadi sebuah perilaku aneh dan menyimpang.

Berkeluh kesah merupakan watak dasar yang dibawakan Allah ke dalam anatomi fisik dan jiwa manusia. 

“Sesungguhnya, manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir ” [QS. Al-Ma’arij : 19].

Tetapi lingkungan dan situasi memberi pemicu dan rangsangan yang kuat bagi lahirnya pola hidup yang dibangun di atas sikap keluh kesah. Di sisi lain, keluh kesah adalah potret ketidakdewasaan. Sebab keluh kesah hanya memberi ruang pelampiasan psikologis sesaat atas segala macam kekesalan. 

Seperti anak kecil yang tergiur dengan merahnya manisan, hanya untuk melampiaskan hausnya sesaat. Tapi sesudah itu, rasa haus datang lebih kencang.

Keluh kesah justru akan menyumbat terbukanya jalan pikiran yang segar, yang dimungkinkan akan memberi temuan-temuan alternatif perbaikan atas masalah dan kesulitan yang terjadi.

Keluh kesah hanya layaknya sampah yang menyumbat saluran air.

Tetapi seorang mukmin punya caranya sendiri yang berbeda untuk menghadapi watak dasar keluh kesah itu. Seorang mukmin yang sudah diciptakan dengan watak dasar itu menghiasi dirinya dengan keimanan. 

Disini iman berfungsi sebagai kanal pengalih, yang mengalihkan keluh kesah menjadi kehati-hatian. Kadang ia menjadi tembok pembatas yang menghalangi munculnya ledakan naluri yang tidak sehat, atau kadang sebagai pendingin yang menurunkan suhu naluri buruk yang ada pada jiwa kita. 

*

Ini baru 4 judul yang saya sarikan, masih ada 28 judul lagi yang ‘berisi’. Gimana merinding ngga bacanya? Bakal lebih enak saat membaca bukunya sendiri. Indah, memberi sudut pandang yang membuka pikiran, dan membangun diri saya pribadi secara positif 🙂

Terakhir, saya akan tulis info buku ini ya.

Judul Buku : Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda
Penulis : Ahmad zairofi AM
Jumlah Halaman : 218
Penerbit : Tarbawi Press, 2006

Sekian review-nya, semoga memberi gambaran yang cukup tentang buku ini yaa. Terimakasih sudah mampir semuanya..

 

 

Bubbly-Stay At Kasira Residence Bintaro

deluxe

Photo from Traveloka.com

Akhir Januari 2018 kami staycation lagi di Kasira Residence Service Apartement Bintaro. Its a bubbly-stay, we like staying here, therefore, saya mau kasih review penginapan ini yaa.

Apartemen Kasira ini terletak di  Jl. Unta Raya no. 19, RT 03/06 Bintaro sektor 7, Tangerang Selatan. Terdiri dari 4 lantai, dimana lantai 1 hingga lantai 3 berisi kamar-kamar yang variatif, sedangkan lantai 4 adalah taman.

Kamar-kamarnya antara lain :

  1. Deluxe (1 Bed King Size)
  2. Suite Family (2 Bedrooms)
  3. Execuitve Suite Family (2 Bedrooms)
  4. Luxury Penthouse (2 Bedrooms)

Kami memesan kamar deluxe. Kamarnya luas lho! di dalamnya ada lemari baju, dapur kecil berisi kitchen set (tanpa kompor) dan wastafel, kulkas berukuran sedang, juga terdapat rak buku dan laci-laci di meja panjang, juga TV.

Ada dua kursi dan meja bundar untuk ngeteh cantik di pagi hari plus balkon. Dan yang paling menarik buat anak saya adalah kamar mandinya.

She was asked, “Mami, ada kolam renang ngga disini?”,

“Ngga ada, but you have a private pool here“, ucap saya sambil menunjuk ke bathtub-nya.

Ia langsung senang dan minta berendam dengan banyaaak gelembung. Now you know why I call this bubbly-staycation 🙂

Baca juga : Staycation At Ayaartta Hotel Yogyakarta

Foto-foto kamarnya bisa dilihat di album berikut ini yaa.

 

This slideshow requires JavaScript.

Saat check in saya hanya perlu menunjukkan KTP dan deposit dulu sebesar Rp. 100.000,- yang nantinya akan dikembalikan ketika check out. kamar kami berada di lantai 1, dekat dengan respsionis.

Kami menginap disini selama 2 hari 2 malam. So far sih enak-enak saja. Kekurangannya adalah wifi dan tempat makan. Wifi di lobby kencang namun di kamar sangat lemah, kecuali kalau ke balkon kadang dapat sinyal wifi.

Untuk tempat makan, tidak ada kedai dekat situ yang bisa dicapai dengan jalan kaki. Jadi untuk makan siang, saya titip ke sahabat yang mau mampir dan beliau pesan via go-food. Untuk sarapan serta makan malam, kami jalan keluar naik motor suami.

Mudah juga kok memesan grab/gojek dari sini. Apalagi kalau bawa kendaraan pribadi bisa cus kemana-mana. Tapi saya sarankan lebih baik pakai kendaraan roda dua saja. Jalan menuju Kasira Residence tidak terlalu lebar jadi sering macet pada sore dan malam hari.

Biaya menginapnya berapa? hm, suami membayar Rp. 390.000 (untuk 2 malam) menggunakan telkomsel poin. Ada list harga kamar di meja resepsionis, namun maaf tidak saya catat.

Dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Kasira Residence Service Apartement, saya ga kapok kok buat nginep disini lagi. Terutama sih karena kamarnya nyaman, harganya terjangkau dan bathtub-nya bikin betah hihi.

Sekian review dari saya. Mau menginap di Bintaro? apartemen ini mungkin bisa dipertimbangkan yaa.

Etiket Warga Kelas Dunia & Gizi Anak

IMG_20180107_103606

Masih ingat postingan saya 2 minggu yang lalu tentang TAMAN PINTAR YOGYAKARTA : Taman Anak Yang Edukatif, Asik, Murah Meriah ? kalau belum, silakan dibaca dulu ya. Taman ini recommended buat keluarga yang membawa anak-anak balita saat berlibur ke Yogyakarta.

Seperti yang pernah bilang, Aisya suka banget main di PAUD Barat & Timur Taman Pintar. Saya juga senang, karena sambil menunggu Aisya bermain di dalam, saya dan suami mendapatkan ilmu baru mengenai “Menanamkan Gaya Hidup Holistik Pada Anak : Guna Memunculkan Yang Terbaik Pada Diri Anak” yang diadakan oleh Sari Husada.

Okay, isi seminar ini cukup menarik buat saya. Berikut catatan kaki yang bisa saya share ke teman-teman semua 🙂

Kesehatan Holistik

Seminar ini dibuka dengan paparan pihak Sari Husada mengenai kesehatan holistik yang mencakup :

  1. Fisik
  2. Energi
  3. Pikiran/Emosi
  4. Intelegensia (hati nurani)
  5. Jiwa

Agar anak kita bisa menjadi generasi yang lebih baik, maka kita perlu menanamkan gaya hidup holistik. Gimana caranya? ada beberapa saran yang diberikan Sari Husada saat seminar namun lebih menitik beratkan pada aspek fisik.

Ini dia..

Menanamkan kesadaran pada keperluan tubuh akan nutrisi mikro : Vitamin dan Mineral

Vitamin dan mineral adalah zat yang diperlukan tubuh. Selain itu kita juga memperhatikan piring makanan anak kita. Usahakan agar dalam satu piring, tersaji 50% sayuran serta buah, dan 50% lagi terdiri atas karbohidrat (20%) juga protein (30%).

Ini idealnya ya, saat ini saya belum bisa fifty-fifty seperti ini. Namun paling tidak, saya memasak sayur untuk anak saya setiap minggu. Not everyday, kadang seminggu 3-4 kali.

Pada foto di atas bisa kita lihat contoh vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh anak, yaitu vitamin A, kalsium dan zat besi.

Memberi ASI Dan Asupan Gizi Yang Baik Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

1000 hari pertama adalah masa sejak anak berada dalam kandungan hingga seorang anak berusia 2 tahun.

Ketika kita tahu bahwa kita mengandung, maka kita perlu sadar diri untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang halal dan bergizi. Begitu pun saat menyusui, seorang Ibu dianjukan untuk makan makanan yang sehat sebagai ikhtiar agar ASI yang diberikan pada anak kualitasnya bagus.

Sebetulnya ASI diproduksi oleh hormon prolaktin, namun saya memandang ini sebagai ikhtiar saja ya. Toh kalau makan yang sehat-sehat, kita jadi lebih kuat kan mengurus bayi 🙂

Mengapa 1000 hari pertama ini sangat penting? karena, pada periode ini terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat, yang mendukung seluruk proses pertumbuhan anak dengan sempuran.

Yak, bagi para Ibu yang sedang mempersiapkan kehamilannya, atau sedang hamil silakan dipersiapkan baik-baik asupan gizi untuk Ibu dan bayinya yaa 🙂 Semangat!

Baca juga : Eat Clean, Would You?

Selain 2 hal di atas, ada satu lagi nih yang tidak kalah penting untuk ditanamkan pada anak kita, yaitu etiket-etiket yang perlu dikuasai agar bisa menjadi warga kelas dunia.

Etiket Warga Kelas Dunia

IMG_20180107_105203

Saya baru tahu lho, ada ya etiket-etiket yang perlu kita kuasai agar bisa menjadi warga kelas dunia. Saya langsung kebayang table manner yang saya skip saat SMA, cara duduk tegak dan lain-lain hihi.

Tapi ternyata, etiketnya bukan seperti yang saya bayangkan. Nah, etiket apa saja yang perlu kita kuasai? bisa dilihat di poster ini yaa.

Kenapa penting menguasai etiket-etiket seperti ini? tujuan akhirnya adalah agar sebagai individu kita bisa diterima oleh masyarakat, bisa bergaul dengan baik di lingkungan sosial termasuk di dunia kerja nantinya.

Karena katanya, jaman now itu sudah banyak perusahaan yang menilai seseorang bukan hanya dari IQ-nya tapi juga dari bagaiman seseorang bersikap. Ya, sudah waktunya kita mengasah Emotional Quotient kita ya.

IMG_20180107_105009

Ketiga aspek di atas : memenuhi kebutuhan anak di 1000 hari pertama, memberi vitamin dan mineral juga menanamkan etiket di atas memiliki satu tujuan yang sama yaitu agar anak kita bisa memunculkan potensi terbaiknya.

Tentunya didukung juga oleh pengendalian emosi, spiritual dan energi yang baik.

Baca juga : Staycation At Ayaartta Hotel Yogyakarta

Terakhir banget, ada simulasi untuk mentransfer energi positif kita (kasih) pada orang yang kita bayangkan. Bisa anak, pasangan, orang tua, sahabat dan lain-lain.

Yang kami lakukan adalah memejamkan mata, menarik nafas panjang menggunakan pernafasan perut beberapa kali. Setelah itu kami meletakkan tangan di bahu kami, seolah-olah sedang memeluk diri sendiri sambil mengatakan, “Aku mencintai diriku sendiri”.

And right after that, kami membuka tangan posisi hendak merangkul orang yang kami bayangkan, lalu mengucapkan, “Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri”.

Katanya, dengan melakukan hal ini, orang yang kita bayangkan bisa merasakan energi yang kita berikan lho meski jauh 🙂 boleh dicoba kalau mau.

Sekian oleh-oleh seminarnya, semoga menambah wawasan meski sedikit yaa. Saya paling suka part etiket yang perlu dikuasai agar menjadi warga kelas dunia karena ada banyak hal yang nampaknya kecil namun mendasar banget untuk ditanamkan pada anak dan diaplikasikan oleh kita semua.

Siapa yang mau jadi warga kelas dunia? saya mauuu! 🙂