[Review] Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda

Screenshot (15)

“Maka, tidak ada yang lebih penting dari bangkit..”

Melalui Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda, saya meneguk banyak hikmah. Isi di dalamnya bagus sekali. Tiap halamannya mengandung makna yang mendalam.

Alhamdulillah perjuangan membaca saya sampai ke garis finish juga. Bulan Januari kemarin, selain 88 Love Life-nya Diana Rikasari, saya juga berhasil membaca tuntas buku Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Yang bikin saya tertarik membuka halaman demi halaman dari karya Ahmad Zairofi AM ini adalah selain judulnya yang bikin jatuh cinta pada pandangan pertama, buku terbitan Tarbawi Press ini dikemas dengan ringan namun sarat makna.

Dalam buku ini terdapat 32 judul, dimana masing-masing judul terdiri dari 6 halaman. Ini membuat saya yang masih berusaha disiplin membaca buku bisa menyelesaikan satu judul, meresapi kalimat-kalimat yang ada disana. Menutupnya sejenak, kemudian siap membuka lembaran selanjutnya.

I think its a good start. Buat orang yang sedang belajar mengisi diri dengan membaca buku seperti saya, ternyata membaca buku yang dikemas dengan ringan, memuat tulisan yang berisi kutipan-kutipan, kalimat sederhana, berisi poin-poin adalah langkah yang baik.

Ringan dalam artian, halamannya tidak banyak dan tidak butuh berpikir keras untuk mencerna halaman demi halaman agar bisa tersambung dengan keseluruhan cerita seperti ketika membaca novel.

Satu hari saya bisa mencerna hingga 3 judul. Kadang dibaca berulang dan dibaca dengan agak keras agar benar-benar paham.

Paling enak membaca buku ini sambil menunggu anak selesai sekolah dan di perjalanan (seperti di grab car, di kereta). Juga pagi saat suasana masih tenang dan sore sambil menunggu adzan magrib.

Dan saya memilih untuk mengawali tahun ini dengan membaca buku-buku yang ada di rumah ketimbang membeli yang baru dan berakhir menumpuk di rak buku.

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda yang merupakan cetakan I (tahun 2006) ini adalah buku milik Bapak saya. Saya meminjamnya selama sebulan karena buku ini juga jadi favoritnya Bapak.

Di sela waktu kerjanya, kadang beliau membuka 1-2 halaman untuk me-refresh diri di kantor.

Ya, saya rasa buku ini memang bisa jadi penyejuk, pengingat juga memotivasi di kala kita sedang penat, bingung maupun meluruskan tujuan hidup. Ini tipe buku yang bisa saya buka ketika mengalami hal-hal di atas, kemudian kembali menjalani rutinitas.

70% kalimat yang ada dalam buku inibisa saya beri highlight menggunakan stabilo. Kebayang kan, ‘daging’ semua isinya.

Baca juga : “Peppa Pig And I Love You Game” (Book Review)

Saya akan mengutip beberapa kalimat dari 4 judul yang sangat menyentuh relung hati saya :

Masa Lalu

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” [QS. Hud : 114]

Membayar keburukan dengan kebaikan, ibarat melapisi sisi-sisi gelap kita dengan ornamen hidup dan hiasan diri yang indah. 

Setiap kita pasti punya masa lalu, hitam maupun putih, baik maupun buruk, gelap maupun terang. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin diubah. Apa yang telah menjadi masa lalu, tidak mungkin dihadirkan kembali dalam lembaran hidup yang baru. 

Karena hidup tak lebih ibarat rantai panjang. Setiap mata rantainya hanya hadir sekali dalam seluruh rentang usia kita. Waktu dan sejarah hidup yang telah pergi tidak akan kembali, kecuali sebuah kemiripan baru yang berulang dan tidak akan sama persis.

Masa lalu yang baik harus kita jadikan tenaga pendorong untuk terus berlangsungnya kebaikan itu. Sementara masa lalu yang buruk harus kita taburi bunga-bunga kebaikan, pada sisa-sisa umur dan nafas kita.

Setiap kali pagi datang, hal pertama yang harus kita pancangkan adalah deklarasi kebaikan. Bahwa hari ini, kita harus lebih baik dari kemarin. 

Maka, tidak ada yang lebih penting dari bangkit.

Ya. Kita harus bangun, bergegas dan bersegera membayar kesalahan-kesalahan dengan amal-amal kebajikan.

Hidup ini pasti berakhir. Sepanjang apa pun masa lalu kita, dalam sisa umur yang entah masih berapa. Tiada yang lebih indah dari merasakan manisnya iman, dalam paduan rasa syukur dan permohonan ampunan.  

Melangkah Terus Di Jalan Ketaatan 

Melakukan amal ibadah, amal shalih, dan seluruh perbuatan baik secara terus-menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri.

Menata batu bata satu persatu secara terus menerus, hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, yakni melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti, meskipun hanya sedikit.

Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus, juga ibarat menanam benih pohon, memberinya pupuk dan menyiraminya dengan air. Pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Pupuk dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan.

Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-mnenerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tak layu. Alhasil jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik, menapaki tangga-tangga ke arah yang lebih baik.

“Ahabbul a’maali ilallahi adwamuha wa in qalla” artinya “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun hanya sedikit” [HR. Bukhari dan Muslim].

Optimalkan usia yang masih tersisa. Yang terpenting dalam hidup adalah terus-menerus melakukan amal shalih sampai ajal menjemput.

Detik Genting Sebagai Penghela

Detik genting dalam hidup akan selalu hadir dalam diri setiap orang, setiap kelompok manusia, organisasi da’wah, juga sebuah bangsa. Detik-detik dimana peristiwa-peristiwa pada sepotong waktu itu akan menjadi sangat vital bagi keseluruhan hidupnya.

Sukses pada detik itu, akan memberi arti yang sangat mendalam bagi sisa-sisa kehidupan berikutnya.

Menyadari bahwa hidup punya detik-detik gentingnya adalah keharusan bagi kita. Itu bahkan salah satu seni hidup yang paling rumit. Kerumitannya bukan terletak pada bagaimana mengerti bahwa hidup ada saat-saat sulitnya. Bukan itu.

Tapi yang paling rumit adalah mengenali bahwa detik-detik sulit tertentu adalah bagian vital dari kesinambungan kehidupan sesudahnya. 

Semacam kanal penyambung atau jembatan penghubung. Yang tanpa kesuksesan di detik itu, kita tak akan pernah sampai ke ruang hidup di seberang sana, secara waktu dan usia, atau secara perjalanan peran dan fase-fase pencapaian.

Lebih jauh lagi, mengerti bagaimana bersikap di saat-saat genting adalah keterampilan jiwa yang lain, yang juga bagus untuk kita pelajari.

Tidak mudah, memang. Keberanian bisa saja muncul begitu saja di saat genting, tetapi bisa juga tidak. Karena itulah tidak ada jaminan bahwa setiap orang bisa sukses di saat gentingnya hanya dengan mengandalkan “naluri keberanian mendadak”.

Ada proses yang harus disiapkan. Ada pengantar yang harus dihayati. Ada kedewasaan yang harus diasah. Ada kematangan yang harus ditempa.

Keluh Kesah Itu Menghentikan

Pada mulanya adalah ketidaksiapan menghadapi beban hidup, lalu keluh kesah, tapi hanya tindakan yang kemudian membuktikan atau menafikkan keluh kesah itu menjadi sebuah perilaku aneh dan menyimpang.

Berkeluh kesah merupakan watak dasar yang dibawakan Allah ke dalam anatomi fisik dan jiwa manusia. 

“Sesungguhnya, manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir ” [QS. Al-Ma’arij : 19].

Tetapi lingkungan dan situasi memberi pemicu dan rangsangan yang kuat bagi lahirnya pola hidup yang dibangun di atas sikap keluh kesah. Di sisi lain, keluh kesah adalah potret ketidakdewasaan. Sebab keluh kesah hanya memberi ruang pelampiasan psikologis sesaat atas segala macam kekesalan. 

Seperti anak kecil yang tergiur dengan merahnya manisan, hanya untuk melampiaskan hausnya sesaat. Tapi sesudah itu, rasa haus datang lebih kencang.

Keluh kesah justru akan menyumbat terbukanya jalan pikiran yang segar, yang dimungkinkan akan memberi temuan-temuan alternatif perbaikan atas masalah dan kesulitan yang terjadi.

Keluh kesah hanya layaknya sampah yang menyumbat saluran air.

Tetapi seorang mukmin punya caranya sendiri yang berbeda untuk menghadapi watak dasar keluh kesah itu. Seorang mukmin yang sudah diciptakan dengan watak dasar itu menghiasi dirinya dengan keimanan. 

Disini iman berfungsi sebagai kanal pengalih, yang mengalihkan keluh kesah menjadi kehati-hatian. Kadang ia menjadi tembok pembatas yang menghalangi munculnya ledakan naluri yang tidak sehat, atau kadang sebagai pendingin yang menurunkan suhu naluri buruk yang ada pada jiwa kita. 

*

Ini baru 4 judul yang saya sarikan, masih ada 28 judul lagi yang ‘berisi’. Gimana merinding ngga bacanya? Bakal lebih enak saat membaca bukunya sendiri. Indah, memberi sudut pandang yang membuka pikiran, dan membangun diri saya pribadi secara positif 🙂

Terakhir, saya akan tulis info buku ini ya.

Judul Buku : Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda
Penulis : Ahmad zairofi AM
Jumlah Halaman : 218
Penerbit : Tarbawi Press, 2006

Sekian review-nya, semoga memberi gambaran yang cukup tentang buku ini yaa. Terimakasih sudah mampir semuanya..

 

 

3 thoughts on “[Review] Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda

  1. naniknara says:

    Pas baca judulnya tadi, langsung ingat kayak pernah baca di mana… gitu.
    Setelah baca isinya, jadi ingat ternyata pernah baca di Majalah tarbawi. Dulu sempat langganan majalah ini pas jaman kuliah. entah masih ada atau nggak.

    Tulisan-tulisan yang ada di buku ini, kalau nggak salah ingat, adalah kumpulan artikel yang ada di majalah tarbawi. Saya sepakat, tulisannya enak di baca dan mudah pula di cerna isi dan pesannya

  2. ikapratidina says:

    Kalau 70% isi bukunya di stabiloin. Uwow…kebayang isi bukunya. Pasti akan menambah warna juga ya… Itulah hebatnya tulisan ya mba, sekalipun udah terbit kapan tau, tapi tetap bisa memberikan manfaat sampai sekarang. Nice review mbaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s