7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Quote Ali Bin Abi Thalib

Saya merasa cukup beruntung mempunyai hobi baru, yaitu membaca. Terutama buku-buku seputar psikologi suami-istri dan parenting.

Semakin banyak membaca, semakin tahu kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. Makin ingin belajar memperbaiki. Makin ingin memetakan what’s important and which one is the most important. Learning and doing. Not only knowing and didn’t do anything in order to change. And never give up!

Bisa jadi, pada waktu tertentu kita melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Seperti ‘meledak’ ketika lelah fisik serta hati melanda, dan anak kebetulan lagi caper. But its not all the time, right? Tidak perlu buru-buru melabeli diri “I’m not a pretty good Mom”.

Learn, read book, practice, tried again and again.

Dengan tidak mudah menyerah, kita sudah membantu diri dan anak kita untuk berkembang. Saling memaafkan. Grow up together.

Setidaknya itu yang saya renungkan akhir-akhir ini. Anak makin besar, tantangan makin besar pula. Dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya dulu banyak yang tidak relevan lagi.

Don’t get me wrong, saya sangat menghormati orang tua saya. Dan pola asuh yang mereka terapkan cukup berhasil making me who I am today with all the values.

TAPI, anak-anak sekarang nampaknya lebih kritis dan berani daripada anak jaman baheula.  

Seperti kata-kata Ali bin Abi Thalib di atas, anak kita adalah milik zamannya. Ada baiknya, as a parent, kita juga menyesuaikan dengan zaman ini.

Kids jaman now
Parent jaman now

Memang apa saja sih kesalahan umum yang biasa kita lakukan sebagai orang tua? Dalam The Secret Of Enlightening Parenting, Mba Okina Fitriani merangkum 11 kesalahan yang biasa dilakukan dalam pengasuhan anak.

Baca juga : Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

But, I will only mention 7 things. Please take a look 🙂

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak 

Tidak Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

Kesalahan nomor wahid adalah tidak membiasakan mengambil tanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah ketika anak jatuh, ada orang tua yang memukul lantai/tanah sambil mengatakan, “Nakal ya lantainya! bikin kamu jatuh. Dah, dah dipukul tuh lantainya.”

Setelah itu, orang tua akan mengusap lutut anak dan meredakan tangisnya.

Menurut mba Okina, kata-kata yang terdengar menghibur ini malah mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya, mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain/kondisi.

And this is not good.

What we can do to fix this?

Daripada menghibur dengan cara di atas, sebagai orang tua, kita bisa mengajak anak berdiri, lalu mengajaknya main dokter-dokteran. Gantian anak jadi dokter lalu kita. Ini cara yang asik untuk meredakan tangisnya dan mengobati lukanya.

Setelah suasana kembali tenang, kita bisa mengevaluasi bersama kejadian jatuh tadi. Saya mau kasih contoh dari apa yang saya lakukan sama Aisya ya. Saya terapkan saran dari Mba Okina ini saat Aisya jatuh.

“Mamiiii sakiiiit. Lutut Aisya berdarah.”
“Barusan jatuh ya? Sok nangis dulu, boleh kok. Kalau pas Aisya jatuh dan merasa sakit, itu bagus! artinya syaraf dalam tubuh Aisya bekerja dengan baik.”
“Iya Mam.”
“Udah puas nangisnya? kita basuh pakai air dan dikasih plester ya lukanya. Supaya sembuh.”
“Iya Mam,”
“Tadi kok bisa jatuh?”
“Iya tadi Aisya lari, trus ada batu. Aisya kepeleset.”
“Ooh, gitu. Lain kali pas lari dan di depannya ada batu, supaya ngga jatuh lagi gimana caranya menurut Aisya?”
“Aisya-nya loncat!”
“Ok, loncat yaa. Ada lagi ngga yang bisa Aisya lakukan?”
“Aku larinya hati-hati.”
“Ok, next time hati-hati ya saat lari.”

Se-simpel apa pun jawabannya, hargai ya Moms. Dengan begini, anak kita akan terbiasa mengambil tanggung jawab atas peristiwa yang ia alami. Dan bukan menyalahkan batu, jalan atau orang lain 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Menanamkan Keyakinan Yang Salah

Beberapa orangtua terlihat sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak didasari riset maupun dalil yang benar. Contohnya, minum es bikin sakit perut, lari-lari bisa jatuh, hujan menyebabkan masuk angin, dan sebagainya. Ini memungkinkan anak mengalami “alergi buatan” terhadap ketiga hal di atas – begitu kata Mba Okina.

Pernah bicara seperti itu pada anak ngga Moms? saya pernah bilang “Jangan lari nanti jatuh.”

Setelah baca ini, saya mengubah kalimat saya jadi, “Hati-hati ya larinya. Jalan aja dengan langkah besar seperti  Mami. Bakal cepat sampai juga kok.” and this sound more positive to us.

Hindari juga installing wrong believe seperti ini, “Belajar dong! pelajaran ini susah lho. Nanti teman-teman kamu udah bisa, kamu belom.”

Saya sendiri prefer memotivasi Aisya dengan bilang, “Ayo dicoba, semua hal bisa kita pelajari. Aku mau berusaha! gitu kan kata bu guru.” misalnya saat Aisya mengerjakan sesuatu yang menurutnya susah.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring 🙂

Labeling

Label akan menjadi sebuah keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadar. Dear parent, let us choose the proper label 🙂

Suatu hari Aisya terus menerus bicara, ia bertanya mengenai berbagai hal dan keep asking “Kenapa Mami?” kenapa begini dan begitu. Jika jawaban yang saya beri belum detail dan bisa dicerna logikannya (Aisya logis banget anaknya), maka ia akan terus menggali jawabannya.

Saya pun nyeletuk, “Aisya, kamu cerewet ih.”

Lalu Bapak saya – the wise man – menghampiri saya, “Mbak, cerewet itu konotasinya negatif lho. Lebih baik bilang Aisya, kamu talk-active sekali ya, ini konotasinya positif.” Begitu ucap Grandpa-nya Aisya.

Dan segera saya meralat ucapan saya pada Aisya.

Tahan lidah kita untuk melabeli anak : ‘kamu bandel ya’, ‘tuh kan ngeyel’, ‘dikasi tahu malah ngga mendengarkan’. ‘kok ngga nurut sih?’ daaaan segambreng kata-kata berkonotasi negatif lainnya ya Moms. And replace it with a better words.

Saya masih belajar untuk mengerem mulut nih, biasanya kata-kata seperti ini muncul di saat ‘genting’. Pas mood positif, saya bisa lebih sabar dan bersikap proaktif pada Aisya.

Baca juga : 6 THINGS I ADORE FROM AISYA

Pelit Menggunakan Hal Ajaib

Empat hal ajaib ini pasti sudah hafal di luar kepala ya Moms :

  • Minta maaf. Saat kita (sengaja/tidak) menyakiti perasaan anak, mintalah maaf padanya. Saya suka minta maaf pada Aisya setelah saya marah padanya. Saya jelaskan juga, bahwa saya tidak suka marah, dada saya sakit ketika emosi. Lalu kami mencari solusi bersama, what we can do, supaya Mami ga marah-marah. Sesudah ngobrol, tanpa diminta, Aisya akan reflek bilang, “Maafin Aisya juga ya Mami, tadi bikin Mami marah.”
  • Mengucapkan terimakasih. Dengan sering mengucapkan terimakasih pada anakia akan merasa dihargai. Ini pengalaman pribadi ya. Dan dengan kebiasaan baik ini, anak pun akan dengan mudah mengucapkan terimakasih pada siapa pun. I thank Aisya for any little things that she did, dan saat saya hanya membacakan buku ketika ia mau tidur pun, Aisya masih sempat bilang, “Makasi ya Mami udah bacain buku untuk Aisya.” sweetest dah! Aisya juga terbiasa berterimakasih pada Ayah, kakek-nenek, paman-bibi, saudara-saudara, guru, teman-temannya, bahkan ke driver grab juga.
  • Menunjukkan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dengan ucapan, sentuhan, pelukan, ciuman dan lain-lain. Terkadang bahasa cinta melalui sentuhan ini lebih mengena di hati anak dibanding kata-kata lho. Anak yang memiliki tabungan kasih sayang yang cukup akan tumbuh dengan jiwa yang sehat, percaya diri, dan penuh empati.
  • Memuji. Kata mba Okina, latihlah telinga, mata, dan rasa untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan saat anak kita melakukan kebaikan, meski sederhana, pujilah ia. Dengan pujian yang efektif, bukan yang lebay. Kadang orang tua abai memuji hal kecil yang dilakukan sehari-hari karena menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal kecil yang sudah baik inilah, muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik yang lebih besar, jika dihargai.

Nah, jangan pelit melakukan empat hal ini ya Moms. Let’s do it, not just understand about it!

Baca juga : Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

Fokus Pada Kekurangan, Suka Mencela, Doyan Mengeluh

Kekeliruan yang ini, kata Mba Okina, berkaitan erat dengan pelitnya melakukan 4 hal ajaib di atas. Kemudian jadi cenderung fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk keluhan.

Contoh keluhan seorang Ibu :

“Kak, tuh kan PR-mu ketinggalan lagi. Masih muda kok pelupa, sih? Makannya siapkan bukunya sebelum tidur. Minggu lalu juga seperti ini kan? Kalau sudah gini kan Ibu yang repot. Ayo bereskan bukunya, jangan jadi anak pemalas!”

Kira-kira reaksi anaknya bakal gimana yaa?

Pada keluhan di atas terdapat kata ‘pelupa’ dan ‘pemalas’, lagi kata Mba Okina, kedua kata ini akan melukai konsep diri anak. Bahkan bisa jadi membentuk konsep diri yang buruk, “Saya anak pemalas, saya anak pelupa.”

Padahal Allah Swt tidak suka dengan orang yang mengutuk dan memberi gelar buruk.

Kesalahan yang dibuat anak ini sebetulnya bisa diperbaiki. Dengan suntikan semangat dari orang tua tentunya.

Masih untuk kasus lupa bawa PR ke sekolah, katakanlah,

“Kak, Ibu perhatikan kamu akan ingat membawa PR-mu kalau sebelum tidur bukunya sudah disiapkan dan dimasukkan ke tas. Ibu yakin, kamu bisa lebih baik dari hari ini.”

As for me, complaining is like burning myself. Mengeluh hanya membuat sesuatu yang buruk menjadi 1000 kali lebih buruk. Mengotori hati dan melemahkan saya. Sehingga saya lebih memilih untuk meminimalisir keluhan, dengan begini solusinya akan lebih terlihat.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Ancaman Kosong

Mba Okina mengatakan, ancaman kosong adalah kombinasi dari kebohongan, inkonsistensi dan lalai menenggakan aturan. 

Menurut saya memberi ancaman pada anak adalah cara cepat agar anak mau menuruti kita. Cara cepat saat kita kehabisan cara kreatif dalam mem-persuasi anak.

Misal nih ya, “Ayo makan, kalau ngga nasinya Ibu kasih ke kucing lho!”. Dengan begini anak tergerak untuk mengunyah makanannya.

Atau, “Berhenti main gadget! Nanti Papa buang gadget-nya ke got!”, anak yang ketakutan pun langsung memberikan gadget pada Papa-nya.

Saat kita mengancam, seringkali anak merespon dengan cepat. Permintaan/perintah kita didengar. Tapi ketika anak tak bergeming, masih keukeuh juga, akankah kita meng-eksekusi ancaman tersebut?

Pasti hati nurani akan membatin, ‘Masa dibuang gadget-nya? sayang dong, belinya kan pakai uang bukan daun’. ‘Daripada dikasih ke kucing, mending Ibu makan Nak, nasinya. Ibu juga lapar’.

Pada akhirnya, kita hanya memberi ancaman kosong. Semakin sering kita memberi ancaman kosong, semakin hancurlah nilai kita di mata anak. Kata-kata yang kita ucapkan akan dianggap tidak ada harganya. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Terlebih lagi, mba Okina menyebutkan bahwa perilaku mengancam pada dasarnya menunjukkan diri yang lemah dalam perencanaan. Perencaan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga.

Instead of ‘mengancam’, saya belajar mengajak Aisya ngobrol dengan metode using choice to reach goal.

Seperti misalnya kesepakatan makan, saya suka tanya sama Aisya, “Aisya makannya mau 5 suap atau 10 suap?” kalau sudah deal, insya Allah Aisya will fulfiil her promise. Tujuannya tercapai, yaitu Aisya makan.

Untuk penggunaan gadget, Alhamdulillah Aisya bukan tipe anak yang keranjingan gadget. Dia lebih senang bermain, melakukan aktivitas fisik, mengerjakan workbook, bantu saya masak-masak di dapur dan membaca buku.

Tentang main, saya kadang bikin perjanjian dulu, “Main di rumah temannya 1 jam ya, terus kita pulang.” 

Kadang Aisya minta tambahan waktu, “5 more minutes, Mami.” Dan saya tunggu sampai 5 menit, trus dia beneran pulang. 

Metode ini saya rasakan lebih efektif, ketimbang memberi ancaman kosong.

Baca juga : THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

Disuapi Solusi

Dari yang saya baca, saya jadi tahu kalau parental coaching adalah kemampuan yang penting. Kita orang tua, kita juga seorang coach.

Sebagai coachada baiknya kita memberi bimbingan pada anak. Giving clue. Bukan selalu menyuapi solusi.

Beberapa orang tua mungkin akan bergegas membantu anaknya saat kesulitan mengerjakan sesuatu. Atau ngga sabar dengan prosesnya. Dan bahkan terlalu memanjakan.

To be honest, saya seringkali diberi solusi oleh orang tua saya dulu. Sebelum saya mengeksplor pikiran saya lebih dalam, problem already solved by my parent.

Setelah saya punya anak, dan tentunya membaca, saya jadi tahu kalau hal ini kurang baik.

Anak perlu belajar memecahkan masalahnya sendiri. Kegiatan mencari pemecahan ini akan melatih diri mereka menjadi anak yang percaya diri dan kreatif. Karena solusi dari sebuah tantangan bisa jadi lebih dari satu.

Catatannya adalah, ketika anak masih perlu dibimbing ya dibimbing, jangan di biarkan begitu saja. Perhatikan daya memahaminya juga usianya 🙂

Saya suka merasa kagum dengan solusi-solusi yang Aisya beri. Misalnya waktu kami melakukan eksperimen “Cloud In A Jar”. Untuk membentuk awan dalam toples, kami memerlukan beberapa bahan seperti, toples, korek api, air panas dan es batu.

Kami kumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, namun sayangnya tidak ada korek api di rumah!

“Aisya, tanpa korek api, kita ngga bisa bikin cloud in a jar. Aisya ada ide ngga pakai apa untuk pengganti korek apinya?” tanya saya.

Matanya melihat ke rak-rak yang ada di dapur dan memberi saya ide.

“Gimana kalau pakai tusuk sate aja, Mam? Kan di rak ada tusuk sate, terus api-nya dari lilin”, usulnya.

“Wah iya juga ya, oke kita coba ya pakai tusuk sate dan lilin,” saya terpukau dengan ide anak usia 4 tahun ini. Kami mencoba men-substitusi korek api dengan tusuk sate yang disulut menggunakan api dari lilin.

And you know what? we succeed making a cloud in a jar! Alhamdulillah.

Semakin dilatih untuk memecahkan masalah, Aisya semakin kreatif. Ada saja alternatif solusi yang ia ajukan saat kami menghadapi tantangan.

IMG_20180417_201132

Alright Moms, itulah 7 kesalahan dalam pengasuhan anak yang masiiiih BISA BANGET kita perbaiki. Asal kita mau terus berlatih, coba terus, evaluasi lagi. Bertumbuh bersama dengan anak, tidak ada kata terlambat. Saat kita mendewasa, anak juga mendewasa.

At one point, we’ll understand each other better, I believed.

Buat yang mau tahu apa saja kesalahan lainnya, langsung baca The Secret Of Enlightening Parentingnya Mba Okina Fitriani yaa. Asli ini bacaan bergizi untuk para orang tua 🙂

Sebagai penutup, saya mau mengutip kata-kata ‘sakti’ dari Mba Okina ini.

Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

Semangat terus Moms. Cheers!

 

21 thoughts on “7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

  1. simatapanda says:

    aku beberapa minggu ini aware banget sama namanya parenting…
    Melihat keponakan2 yang dibiarkan berlama-lama dengan gadget plus tantrum yang cukup parah…
    Melihat kakak sendiri kerepotan mendidik anak…
    Dan akhirnya menyadari diri, “kudu belajar dari sekarang…
    Nice share teh…
    Semoga aku bisa mempraktekkannya

  2. Zia says:

    Dari pertama kali baca blog Ai, aku udah suka. Ulasannya keren dan bagus-bagus. Tulisan ini juga bisa jadi renungan untuk para orang tua dalam mendidik anak. Thanks for sharing ya, Ai. 🤗

  3. Nurul Fitri Fatkhani says:

    PR bangeet, mendidik anak tanpa merendahkan harga dirinya. Apalagi kalau lagi marah, harus ekstra hati-hati berkata pada anak.
    Dan saya setuju dengan kalimat yang terakhir, hadiah mengasuh anak itu, surga. Dan bukan mini power bank hihihi

  4. sandraartsense says:

    Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
    Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

    Subhanallah makasih teh sharingnya salam kenal yaaa

  5. Enny-dudukpalingdepan says:

    wah saya juga kepengen baca buku itu karena sudah lihat blognya enlightning parenting. Kebiasaan dari ibu saya adalah menyalahkan benda kalau saya kepentok, tapi pas saya jadi ibu sebisa mungkin untuk nggak melakukan hal yang sama. Kalau dipikir logika lucu juga, anak yang lari-lari lantai yang salah 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s