Fitrah Anak Itu Baik

Screenshot (1)

Beberapa waktu lalu saya berpikir, gimana ya supaya anak bisa selalu nurut sama orang tuanya? Aisya anak yang baik, tapi ada kalanya saat saya meminta sesuatu, ia tidak langsung melakukan apa yang saya minta.

Ini wajar harusnya, cuma kadang saya over-thinking. Salah saya dimana ya? padahal saya sudah membersamainya hampir setiap saat, mengasuhnya sejak lahir, tapi kenapa yaa ada waktu-waktu Aisya lebih memilih mendengarkan instingnya sendiri atau mengikuti kata orang lain?

Lalu secara tidak sengaja saya melihat insta-story teman saya Dhefimaputri dan mendapatkan jawaban yang mencerahkan, kira-kira begini kalimatnya,

“Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak dan lain-lain. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus jadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.” – Ustadzah Poppy Yuditya

Wah, ini jawaban dari pertanyaan saya banget! saya jadi sadar kalau apa-apa itu ya balik ke Allah. Sekarang PR saya adalah mencari ridho Allah. Caranya gimana? salah satunya adalah dengan terus berdo’a dan taat pada Allah SWT. Dan taat pada suami.

Lalu saya mencoba mengingat kembali fitrahnya anak yang dipaparkan dalam buku The Secret Of Enlightening Parenting.  Saya mau merangkum 6 fitrah tersebut di tulisan kali ini ya.

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Judul asli di bukunya adalah “Manusia Lahir Fitrah, Yaitu Membawa Potensi Baik”. Saya re-write menjadi “Fitrah Anak Itu Baik”.

FITRAH ANAK ITU BAIK

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Apalagi Allah SWT telah melengkapi otak manusia dengan bagian yang tidak dimiliki oleh mahluk mana pun, yaitu Pre-Frontal Cortex (PFC).

PFC ini memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol.

Kemudian Mba Okina menjabarkan 7 fitrah manusia, yaitu :

  • Fitrah Iman. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Wujud nyata potensi iman adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku yang dilarang Tuhan.
  • Bertahan Hidup. Manusia dikarunia peranti dasar untuk bertahan hidup. Inisiasi dini untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir adalah bukti konkret dari potensi ini. Bayi lahir dibekali Tuhan dengan refleks menghisap, mengenggam, berenang, menjerit ketika lapar, dan lain-lain (Hoffman, Paris & Hall, 1994).
  • Belajar Hingga Piawai. Setiap anak adalah pembelajar tangguh sejati yang pantang menyerah. Saat anak belajar jalan, meski berkali-kali jatuh, ia akan selalu berusaha bangun dan mencoba berjalan kembali. Anak juga suka mengajukan pertanyaan terus-menerus sampai paham dan hafal. Potensi belajar hingga piawai ini menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi.
  • Kasih Sayang. Manusia lahir dengan fitrah kasih-sayang, yaitu menyayangi dan suka disayangi. Anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya sedih dan menunjukkan ekspresi bahagia ketika dibelai atau disapa dengan suara lembut. Serta akan menangis dan takut ketika mendengar suara keras atau ekspresi yang tidak menyenangkan. Dan kasih sayang ini berkaitan erat dengan hormon oksitosin yang mengatur rasa saling percaya, ketenangan, rasa aman, keinginan untuk menolong, keterikatan, kehangatan, kasih sayang dan perhatian.
  • Interaksi. Manusia dilahirkan sebagai mahluk individual dan sosial. Bayi akan merasa bahagia saat diajak berinteraksi dan sedih jika tidak ada yang menemani. Pada dasarnya, setiap manusia bisa menjalin interaksi sosial. Anak yang menarik diri, tidak mau bergaul dan berkomunikasi, bisa dipastikan memiliki pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dari hasil interaksi sebelumnya atau mengalami ganguan tumbuh kembang tertentu.
  • Fitrah Seksualitas. Manusia dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan.
  • Tanggung Jawab. Ketika pertama kali anak memecahkan barang, dengan jujur ia bercerita sambil berusaha membenahi. Namun kadang respon orang tua yang kurang mengenakan (marah) membuat mereka berpikir bahwa jujur itu berbahaya dan tanggung jawab mereka tidak dihargai. Fitrah manusia adalah bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, dan sebagai orang tua kita perlu jeli melihat potensi ini.

Ketujuh potensi di atas berusaha saya ingat-ingat kembali. Bahwa fitrah anak (bahkan kita) itu baik. Jadi kita selalu bisa kembali pada kebaikan. No wonder  kalau di usia yang sudah ‘matang’ seseorang berubah/kembali ke fitrah. Karena bibit-nya sudah ada.

Saat anak kita menunjukkan sikap yang belum sesuai dengan yang kita inginkan, kita perlu berlatih untuk memilah respon, agar anak tidak malah menjauh dari fitrahnya.

Sekian dulu sharing singkat malam ini, wallahualam bishowab. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 

 

One thought on “Fitrah Anak Itu Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s