SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Screenshot (105)

Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya minta dibelikan es krim. Saya bilang, “Boleh sayang beli es krim,TAPI kalau sudah ngga pilek ya.”

“Ngga mau! Mau sekarang!” ucapnya.

“Kalau sekarang kan masih flu, nanti ya kalau sudah sembuh kita beli es krim,” saya bujuk lagi.

“Mami kok gitu? Mami kok jahil sama Aisya?” protesnya.

Mami ngga jahil, justru Mami sayang sama Aisya. Kalau sekarang Mami belikan es krim, nanti makin banyak ingusnya. Kalau Mami jahil ya Mami belikan aja supaya Aisya tambah meler,” saya coba beri pengertian.

Aisya keukeuh ingin es krim, bahkan saat naik motor pun badannya goyang-goyang ke kiri dan kanan sambil nangis dan teriak. Saya mencoba menyikapinya dengan tenang, “Aisya boleh teruskan nangisnya di rumah ya. Sekarang kita lagi di motor, berbahaya kalau Aisya goyang-goyang. Dan kalau Aisya teriak nanti dikira Mami nyulik Aisya.”

Tangisnya tidak berhenti, sampai rumah masih merengek, “Kenapa Mami ga belikan es krim? Biasanya kalau Aisya nangis Mami belikan,”.

Gumaman Aisya menyadarkan saya kalau tangisannya ia gunakan sebagai ‘senjata’. Logikanya sudah berjalan dengan cukup baik. ketika masuk akhirnya perhatiannya teralihkan. Dan Aisya sudah tidak membahas es krim lagi.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

 

Saya pun mencoba merefleksikan kejadian hari itu. Saya sedang mencoba konsisten terhadap ucapan saya. Beli es krim boleh saat kondisi tubuh sedang sehat, kalau lagi flu jangan dulu.

Tapi di sisi lain saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘Apakah bersikap konsisten itu harus terlihat menyiksa anak?’ Sampai anak ceurik ngagoak bahasa sundanya mah. Ada ngga sih cara yang lebih baik dalam mempertahakan sebuah rule agar meminimalisir air mata? hihi. (Yaa, karena baru kali ini Aisya nangis seperti itu di jalan dan cukup mengirishati saya. Sampai-sampai saya berpikir kenapa nggak saya kabulkan saja yaa permintaannya).

Alhamdulillah esoknya saya berkesempatan sharing sama teh @fetri_ayyasha dan beliau bilang, saat kita menerapkan teori parenting perlu lihat sikon juga. Ternyata kita tidak bisa menelan apa yang kita baca mentah-mentah lalu mengaplikasikannya, harus menyesuaikan dengan factual condition juga.

Pas main ke rumah Icha (teman di sekolah, anak dari teh Fetri), lagi-lagi Mamang es krim lewat. Saya sudah sounding lagi ke Aisya untuk tidak beli es krim. Tapi Aisya melihat temannya beli.

Berkaca pada kejadian kemarin, saya pun memikirkan win win solution. Saya katakan, “Okay, boleh makan es krim tapi sedikiiit yaa. Atasnya saja,”.

Entah karena soundingnya berhasil atau memang sudah kenyang, Aisya hanya makan setengah batang es dung-dungnya. Saya lega, cara ini lebih efektif ketimbang cara sebelumnya.

Esok paginya, saya mencoba sounding lagi pada Aisya. “Aisya, nanti pulang sekolah kan mau main ke rumah teman lagi, jadi ngga beli es krim ya. Kita langsung ke rumah teman Aisya aja ya!”.

Aisya mengiyakan tanpa berargumen terlebih dahulu. Dan saat pulang sekolah pun tidak ada drama es krim lagi. Aisya berpegangan dengan temannya dan bermain bersama di rumah temannya ini.

Baca juga :

7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Dari kejadian ini saya belajar bahwa sounding ke anak itu tidak bisa sekali jadi atau tiba-tiba dengan harapan anak akan langsung menuruti perkataan/permintaan kita.

Sounding pada anak perlu dilakukan beberapa kali juga harus bertahap.

Seperti cara saya agar Aisya tidak membeli es krim saat masih flu. Dengan memberi keringanan dan diskusi yang panjang (yang tentunya menguras emosi) akhirnya Aisya mau memahami kenapa harus puasa makan es krim dulu jika kondisi tubuh belum fit.

 

Pengalaman ini jadi bekal yang saya bawa di hari-hari berikutnya. Saya belajar lebih sabar dalam memberi pengertian, dengan intonasi yang diusahakan halus. Salah satunya sounding dalam rangka membujuk Aisya supaya mau minum obat penurun panas ketika demam.

Aisya menolak minum obat karena pahit, lalu saya jelaskan, “Memang agak pahit, tapi ada rasa anggurnya juga kan dan Aisya tahu kan ini supaya Aisya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh boleh beli es krim lagi,”.

“Teman-teman Aisya juga saat sakit minum obat. Aisya juga pasti berani minum obat,”.

“Okay, sekarang Mami beri pilihan, mau diminum sedikit-sedikit trus minum air mineral atau sekali teguk lalu minum banyak air?”, saya beri ia pilihan yang goal-nya itu sama-sama minum obat dan tidak ada opsi tidak minum obat.

“Mami sayang sama Aisya, Mami ingin Aisya sembuh,”.

Terus-terus sounding, prosesnya cukup memakan waktu (serta emosi) namun berhasil juga membuat Aisya memegang sendiri cup berisi sirup pereda demam dan menelannya hingga tersisa sedikit lalu menyedot aqua gelas. Subhanallah.

Told her at the begining, “Mami mau Aisya minum obat tapi dengan persetujuan Aisya,”. Saya tidak mau memaksa, saya minta ia berhenti menangis dulu saat mau minum obat, mengelus dada dan mengarahkannya untuk menarik nafas dan membuangnya beberapa kali dulu sampai ready minum obat.

Dan ternyata saat minum obat ia tenang, tidak ada gerakan ingin memuntahkan, malah rileks Aisyanya.

Rasa obat tidak seburuk perkiraan Aisya, dan minum obat tidak perlu seperti dicekokin (saya hanya minta Aisya minum obat jika diperlukan, bila batuk pilek biasanya di-boost dari buah-buahan).

And its done, just like that. Mood Aisya kembali baik dan saya membacakan cerita yanglucu untuk mengantarnya tidur. Ia menyimak, tertawa lalu terlelap. Alhamdulillah.

Advertisements

Phuket City Tour : Wisata, Kulineran, Belanja dan Main di Pantai Patong

Wat Chalong

Wat Chalong – Phuket

Berbeda dengan Bangkok, Phuket terasa lebih tenang. Phuket cocok untuk turis yang menginginkan liburan lebih santai.

Namun harga makanan dan oleh-oleh yang lebih mahal disini membuat saya kangen Bangkok, haha. Di Bangkok, kita bisa menemukan barang bagus dengan harga yang sangat terjangkau. Jadilah saat berkunjung ke Phuket kami tidak membeli banyak oleh-oleh seperti saat ke Bangkok.

Di Bangkok ada tempat belanja yang terkenal di kalangan orang Indonesia, dengan penjual yang bisa berbahasa Indonesia juga. Saya masih ingat, nama tokonya Kon Fai di Asiatique. Lho kok jadi membahas tentang Bangkok ya?

Yuk lanjut cerita tentang Phuket City Tour, tapi buat yang mau baca-baca tentang Bangkok boleh mampir kesini ya SAWADEE KHA! BANGKOK (PART1)

Hm, mulai dari mana ya ceritanya? dari hotel tempat kami menginap saja ya.

Aspery Hotel – Hotel Bintang 3 Dekat Patong Beach

Kami menginap di Aspery Hotel, hotel ini mendapatkan review yang bagus dari grup-grup traveler. Hal ini membuat kami tidak ragu untuk mem-booking kamar dari hotel yang letaknya dekat dengan pantai Patong.

Biaya menginap disini Rp. 300.000,-/malam, sudah termasuk breakfast. Kamar kami memiliki 2 tempat tidur, yang satu lebih kecil. Kemudian ada kursi panjang bisa dipakai duduk maupun menyimpan barang.

Lemarinya juga besar, kita bisa menggantungkan pakaian yang akan dipakai selama beberapa hari ke depan disini. Oia, sama seperti Maiyada resort di Phi Phi Island, hotel ini juga menyediakan tempat menjemur pakaian di balkonnya.

Baca juga : PHI PHI ISLAND : PRETTY PEACEFUL DREAMY

Anak-anak senang bermain di Patong beach, bila ada pasir yang menempel di pakaian, biasanya saya bilas dulu di kamar mandi lalu menjemurnya di beranda.

Breakfast-nya lumayan enak, saya suka dengan kentang yang mereka sajikan. Staf hotelnya rata-rata bisa berbahasa Inggris dengan logat Thai yang kental. Manager dan staf hotelnya ramah, saat check out dari hotel, masing-masing anak diberi jus mangga untuk diminum di dalam mobil.

Patong Beach Phuket

Berhubung Patong Beach jaraknya dekat dari Aspery Hotel, setelah sarapan, kami langsung berjalan kaki ke pantai bersama anak-anak. Namanya juga anak-anak, bermain dengan ombak saja bikin mereka bahagia luar biasa.

Ombaknya tidak setenang di Phi Phi Island, agak besar namun relatif aman. Orang tua juga mendampingi di sekitaran mereka.

Udara masih dingin saat kami tiba di pantai, sinar matahari belum naik jadi warna air lautnya belum terlihat biru. But that’s okay.

Selain ombak, ada hal menarik lainnya di Patong buat anak-anak yang aktif ini. Pertama disini ada amusement playground. Setelah puas main di playground, anak-anak beralih ke burung.

Yap! ada banyak burung di Patong beach. Beberapa masyarakat Phuket membawa makanan burung dan menebarkannya ke tanah, kemudian dipatuk burung-burungnya. Sesekali Aisya berlarian menuju burung, namun ia juga berani meminta makanan burung dan ikut membagikannya bersama masyarakat Phuket yang baik hati.

Sehabis bermain di pantai, kami kembali ke hotel dan siap-siap keliling Phuket. Kami diajak jalan-jalan ke banyak tempat oleh driver kami, ada beberapa tempat yang berkesan buat saya. Namun ada juga yang so, so haha.

Saya akan membaginya ke dalam tiga kategori, yaitu wisata kota, wisata kuliner dan destinasi belanja. Here it is..

Wisata Kota : Wat Chalong, Karon View Point, Big Bee Farm Phuket, Shiburapa Orchid

Wat Chalong

Wat Chalong berada di peringkat teratas di hati saya karena kuilnya cantik sekali. Kuil-kuil di Thailand memang di desain dengan sangat apik. Yang bikin berkesan adalah detail pada dinding, warna emas yang mendominasi dan ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung bagaimana penganut Buddha di Phuket beribadah. It’s a unique experience for me.

I have to admit that I like artsy thing. Kontras-kontras yang ada di kuil ini punya daya tarik tersendiri.

Di kawasan Wat Chalong juga ada semacam tungku besar tertutup yang mengeluarkan bunyi seperti petasan, saking kerasnya saya sampai kaget! Berkali-kali lagi bunyinya..

Ada beberapa kuil di area Wat Chalong, saya hanya masuk ke dua kuil yang nampaknya memiliki fungsi berbeda. But still, keduanya digunakan untuk sembahyang. Namun yang satu dipenuhi patung Buddha dan lukisan, sementara yang satunya lagi dipenuhi orang-orang yang sedang berdoa sambil membawa dupa, dan menyelipkan lembaran kertas di dekat patung Buddha yang sedang duduk.

Karon View Point

Karon View Point2

Jika kami berkunjung ke Phuket lagi, saya ingin menginap dekat pantai Karon. It looks more pretty than Patong. Dari pinggir jalan, saat masih di van, saya bisa melihat pantai ini lebih ramai ketimbang Patong beach. Air lautnya juga terlihat segar – perpaduan toska dan biru.

Sayang kami hanya mengunjungi Karon View Point saja. But the view from above is amazing. Kalau dilihat-lihat lengkungan di pantai serta pulau kecil di bagian kanannya seolah membuat lafadz Allah. What do u think?

Untuk sampai ke Karon View Point cukup menaiki beberapa anak tangga, tidak sebanyak tangga-tangga kecil menurun di Pattaya View Point. Di atas ada teropong untuk melihat ke kawasan pantai Karon. Aisya dibantu Ayah untuk memasukkan koin ke dalam agar teropongnya bisa berfungsi.

Baca juga : “KHOB KHUN KHA” PATTAYA

Big Bee Farm Phuket

Big Bee Farm Phuket adalah tempat dimana madu berkualitas dijual, harganya juga ‘selangit‘. Sebotol madu bisa mencapai Rp. 1.000.000,- Disini kami hanya sight seeing dan membeli es krim madu, sluuurp delicious!

Selain madu, di Big Bee Farm Phuket, ada camilan-camilan seperti rice cracker dan lain-lain. Kami juga diajak melihat langsung lebah-lebahnya di taman belakang.

Shiburapa Orchid

Ini tempat oleh-oleh juga, namun produk ungulan Shiburapa Orchid adalah kacang mede yang diproduksi dalam berbagai macam rasa. Kami diperbolehkan masuk ke bagian belakang dan mencicipi kacang mede-nya. Enak-enak juga!

Wisata Kuliner : Marina Halal Resto, Kesuma, Royal Palace

Marina Halal Resto

Untuk review tempat makan, saya akan mulai dari tempat makan yang menunya terasa sangaaat sedap di lidah. Marina Halal Resto, restoran yang nampaknya sederhana dari luar ini ternyata memiliki cita rasa yang lezat lho!

Kami memesan menu yang berbeda dan saling icip. Nyaaam! hampir semua makanan yang kami order lezat-lezat lho. Ada nasi goreng kepiting, mint chicken rice, tom yum seafood, dan lain-lain. Tidak sempat difoto, karena kami langsung makan dengan lahap.

Bagi saya, tetap tom yum dan teh tarik juaranya, hihi. Tom yum disini paling enak deh dari semua tom yum yang pernah saya coba. Soal harga, sepadan sama rasa ya.

Saking enaknya masakan disini, kami jadi pengen kesana lagi di perjalanan pulang ke Bandara. Namun waktunya tidak cukup, jadi tidak bisa mampir lagi deh.

Nah di restoran yang semua karyawatinya berjilbab ini, ada toilet yang nyaman dan kami diperbolehkan solat di dalam rumah. Ada ruangan khusus di dalam rumah yang memuat sajadah dan banyak mukena digantung. Kami bisa solat dengan khusyuk setelah makan siang.

Oya untuk memesan makanan, kita perlu menunjukkan jari tangan pada gambar yang terpampang di buku menu. Tiap makanan memiliki gambar dan nomor sendiri yang memudahkan baik pengunjung maupun pramusaji-nya untuk mengutarakan dan mencatat pesanan kita.

Dengan begitu, language barrier bisa diatasi ya, secara kami tidak bisa bahasa Thai dan mereka tidak paham bahasa Indonesia/Inggris. Untungnya pada saat membayar, driver kami yang fasih berbahasa melayu bisa membantu melancarkan transaksi. Maklum, struk-nya pun keluar dalam bahasa Thai yang sulit kami baca, haha.

You guys have to try to come to Marina Halal Resto kalau jalan-jalan ke Phuket yaa!

Kesuma & Royal Palace

Kesuma dan Royal Palace adalah dua tempat makan yang berada dekat dengan hotel kami. Kesuma menyediakan halal food, sedangkan Royal palace mostly masakan India, tapi ada juga Thai food.

Karena berada di pinggir jalan, otomatis harga dan kualitasnya di bawah Marina. But it still okay.

Di Royal Palace, saya memesan Mango Sticky Rice. Nasi ketannya berwarna hijau, disajikan dengan mangga, santan dan hiasan berupa bunga. Tampilannya cantik, namun jujur mango sticky rice yang saya makan di Bangkok rasanya lebih enaaak.

Sama-sama dijual di pinggir jalan sih, tepatnya di pelataran Platinum Mall. Waktu itu sedang ada food festival, kami langsung memilih mango sticky rice untuk makan malam. Tak disangka, buah mangganya maniiss dan saat dipadukan dengan santan, wuih top banget rasanya!

Oya, kami juga membeli pancake halal di depan hotel, enak dan lebih murah dari harga di Phi Phi Island.

Baca juga : 9 MAKANAN YANG WAJIB KAMU COBA SAAT KE BANGKOK

Destinasi Belanja : Phuket Weekend Market,
Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket, Big C extra Jungceylon Mall

Phuket Weekend Market

Belum afdol rasanya kalau berkunjung ke Thailand dan tidak jalan-jalan ke weekend market/floating market/any kind of market. Beruntung sekali kami datang ke Phuket saat akhir pekan, jadi minggu sore bisa jalan-jalan ke Phuket Weekend Market.

Ini pertama kali saya mengunjungi weekend market, saat ke Bangkok saya tidak sempat ke Chatuchak atau Neon Market, hanya menyambangi Pratunam saja.

Begitu sampai di Phuket Weekend Market, kami segera memilih buah-buahan dan menyantapnya di taman kecil pinggir pasar. Kami membeli durian, mangga dan rambutan untuk dimakan ramai-ramai.

Beres ngemil, kami masuk lagi dan mencari barang-barang yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga pakaian disini memang lebih mahal dari Bangkok, variasi modelnya pun terbatas, tidak seperti di Pratunam.

Saya hanya membeli dress putih bergambar gajah yang sudah saya idamkan, untuk Aisya dan long dress over size untuk Uti.

Bisa dibilang segala ada di Phuket Weekend Market. Tas, pakaian, sabun-sabunan, gantungan kunci, bumbu-bumbu masak, dan banyak lagi. But I prefer to buy some snacks include bumbu-bumbu di Big C.

Oya buat penggemar kaos, kita bisa membeli kaos-kaos dengan kualitas bagus serta affordable  di Madunun, di bawah ini review-nya ya.

Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket

Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket menjual berbagai kaos, dengan ukuran dan bahan yang beragam. Di Madunun, kita juga bisa menemukan tas-tas dan souvenir lainnya.

Kami membeli cukup banyak kaos disini untuk oleh-oleh, kalau beli 10 gratis satu lho! Kaos anak memiliki banyak desain, kita bisa pilih mau yang mana. Packaging-nya lucu, kaosnya digulung dan dimasukkan ke dalam toples plastik, bisa buat hampers yaa.

Lagi-lagi toko ini dikelola oleh muslim, penjualnya pun ada beberapa yang bisa berbahasa melayu. Bahkan sebelum masuk ke toko, kami di-briefing dulu. Dengan menggunakan toa, Bapaknya bilang, “Kalau Jogja punya Dagadu, Bali punya Joger, Phuket punya Madunun.”

Lalu kami tertawa mendengar kalimat pembuka tersebut, setelah itu kami dipersilakan berburu kaos di Madunun. Toko ini recommended buat kalian pecinta kaos or simply mau menghadiahi oleh-oleh kaos dari Phuket untuk keluarga/kerabat/teman-teman.

Big C extra Jungceylon Mall 

Nah kalau Big C ini tempat yang bikin saya nyaman, karena disini saya bisa belanja banyak snack dan bumbu masak (buat pribadi dan oleh-oleh). Kalau saya lihat, beberapa makanan di Big C harganya lebih murah daripada yang saya lihat di Phuket Weekend Market.

Agar banyak saudara dan teman yang kebagian, camilan yang paling banyak kami masukkan ke keranjang belanja adalah permen, Thai tea, bumbu tom yum, dan rumput laut. And we bought a special honey for my dad. Ayah saya bilang, madu Thailand itu beda rasanya. Manis.

He likes the one that we bought in Pattaya, so I bought a honey again in Phuket. Sekarang sudah habis madunya. Kami beli 2, satu di Big C dan satu lagi di Sevel yang ada logo halalnya.

Sekarang sudah lebih banyak snack Thailand yang berlogo halal. Pilihannya banyak plus nge-gemesin. Katanya sih Thailand  ingin menarik lebih banyak minat turis muslim untuk berlibur ke Thailand. Oleh karena itu, baik hotel, tempat makan dan camilan pun banyak yang halal sekarang.

Muslim di daerah Phuket dan Thailand sendiri ada sekitar 30%. No wonder, wanita berjilbab tidak menjadi pemandangan asing disini. At store, street, even in the airport banyak karyawan yang berjilbab.

Balik ke Big C lagi, di perjalanan menuju Tuk Tuk, Aisya melihat badut pembuat balon. Akhirnya kami ikut antri demi mendapatkan balon berbentuk bunga, bayarnya seikhlasnya kita mau berapa aja boleh, tinggal dimasukkan ke kotak.

Dan kocaknya, saat saya dan Aisya duduk menunggu di luar mall Jungceylon sementara suami masih jalan sambil dorong troley, ada seorang bapak-bapak menghampiri Aisya dan menyodorkan uang.

Aisya menggelengkan kepala dan menarik tangannya, dia tidak mau menerima uangnya.

Lalu saya katakan, “No thank you, we are tourist.” khawatir disangka kami lagi ngapaiiin gitu kan duduk di depan mall. Padahal duduknya juga di tempat yang proper kok, bukan di lantai.

Take this, my daughter is just in the same age like you,” kata Bapak berparas Timur Tengah itu.

Oh ternyata Aisya mengingatkan sang Bapak pada anaknya, mungkin beliau LDR-an ya dan rindu pada sang anak 🙂 Well this just another proof to me that anywhere we go, there are always good people around us (uangnya tetap tidak kami ambil).

Baca juga : 8 THAILAND SNACK YANG COCOK DIJADIKAN OLEH-OLEH

Okay teman-teman, cukup panjang juga cerita jalan-jalan di Phuket ini, hihi. Padahal hanya city tour. Semoga sanggup baca sampai selesai yaa, hihi.

Eh pada penasaran ga sih sama jasa travel dan tur-nya? Selama di Phuket, kami menggunakan jasa dari toursphuketthailand.com

Buat yang mau jalan-jalan ke Phuket dan memakai jasa tur ini, bisa lihat paket perjalanan di web atau menghubungi via e-mail toursphuketthailand@hotmail.com dan WA +66801394423 (Pak Anwar namanya).

Kami pakai jasa travel ini dari :

  • Bandara-Hotel dan Hotel-Bandara : Biaya Rp 440.000,- menggunakan van kapasitas 10 orang
  • Phuket One Day City Tour : Biaya Rp. 121.000,-/orang untuk tur keliling Phuket selama 10 jam menggunakan van dengan kapasitas 10 orang
  • Mengantar dan menjemput ke Pelabuhan sebelum naik cruise ke Phi Phi Island.

Sebagai bonus, saya sertakan foto driver kami selama di Phuket ya. Namanya Manari Ahmad, dipanggilnya Mr. Yee. Orangnya asik, bisa bahasa Thai dan Melayu, suka ngajak ngobrol di perjalanan, cinta sama musik dangdut dan Sabyan Gambus. Lagu favoritnya pas di mobil sih “Lagi Syantik,” ahaha.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat yaa. Terimakasih sudah membaca 🙂

U Janevalla – Hotel Minimalis Dengan Infinity Pool Berlatar Kota Bandung

Screenshot (52)

Minggu lalu saya memposting catatan perjalanan kami ke Phi Phi Island, Thailand. Buat yang mau kesana dan lagi cari-cari info penginapan, akomodasi dan biayanya, boleh banget klik PHI PHI ISLAND : PRETTY PEACEFUL DREAMY

Nah, minggu ini mau move on sejenak dari pesona Phi Phi Island (haha) dan mau bikin review U Janevalla Hotel dulu ya. Kami staycation disini sebelum jalan-jalan ke Phuket. Jadi postingan tentang tur di Phuket-nya dipending dulu. Minggu depan I’ll write about it, promise!

Selain staycation di Yogyakarta pada awal tahun, kami juga menyempatkan staycation di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, yaitu Bandung. Dan kami memilih untuk menginap di U Janevalla Hotel.

Baca juga : STAYCATION AT AYAARTTA HOTEL YOGYAKARTA

Hotel ini dekat sekali dengan SD saya dulu, coba tebak SD apa namanya? tempat main saya pas SD itu ya ke Balai Kota. Terus SMA saya juga ga jauh-jauh dari area ini, kadang saya jalan kaki ke BIP sama sahabat setelah pulang sekolah. Jadi sambil staycation, saya ceritakan ke anak tempat-tempat yang berkesan buat saya saat di bangku sekolah.

Okay, apa sih yang menarik dari U Janevalla Hotel? ada beberapa. Saya bakal share sama teman-teman semua, silakan disimak ya.

U Janevalla Hotel – Hotel Di Tengah Kota Bergaya Minimalis

 

Saya tidak yakin mana yang lebih tepat, minimalis / semi-scandinavian? mana yang cocok menurut teman-teman? lemme know in the comment yaa 🙂

Jelas sekali hotel ini memiliki sentuhan desain scandinavian. Just like my home, dindingnya di cat putih dan khusus kamar berwarna abu. Bahkan lantainya pun tidak berubin, sehingga warna abu sangat mendominasi.

Baca juga : TAMAN MUNGIL AISYA #SCANDINAVIANHOME

Bagian ceiling pun dibiarkan terbuka, kita bisa melihat pipa dan kabel yang ada di atas. Bukan karena masih dalam tahap renovasi, namun inilah gaya yang ditonjolkan oleh U Janevalla Hotel.

All Day Dining Restaurant & Lobby

Konsep minimalis sudah nampak di lobi. Lobinya sederhana, ada di pojok kanan, dengan meja berwarna putih serta lampu-lampu yang menggantung.

Sementara di All Day Dining Restaurant-nya, ornamen kayu lebih banyak muncul dari mulai meja hingga kursi. Well I like woods, jadi saya nyaman sarapan di pagi hari, breakfastnya juga beragam.

Kamar

Ketika masuk kamar, saya langsung suka dengan gantungan baju yang dibiarkan di ruang terbuka tanpa lemari, lampu gantung dan meja yang menempel pada dinding. Simply karena saya suka ide space saving.

Kamarnya jadi terasa seperti apartemen/studio sih menurut saya. Very simple dan cocok buat yang menginginkan ketenangan, karena warna kalem seperti ini biasanya menciptakan suasana tenang yang dibutuhkan untuk berpikir.

Ada jendela besar, dimana cahaya pagi bisa leluasa menerangi kamar, dan dari sana kita bisa melihat mall pertama yang ada di kota kembang ini, yaitu Bandung Indah Plaza.

Oia, hotel bergaya minimalis yang juga saya suka ada di Pattaya, namanya A-One Star Hotel. I really really like the room concept with an affordable price. Butuh reviewnya? okay ini dia link-nya “Khob Khun Kha” Pattaya – Menginap di A-One Star Hotel Pattaya

Now let’s go to our favourit spot, its the rooftop!

U Janevalla Rooftop : Infinity Pool, Bar, Garden And Aeroplane

Bukan berarti di rooftop-nya bertengger sebuah pesawat ya, namun sambil berenang, kita bisa melihat pesawat yang melintasi tengah kota ini. Terlebih lagi, saat pagi, kita bisa melilhat pemandangan kota Bandung yang masih sejuk. Dan malam harinya, kita bisa menikmati keheningan Bandung dengan lampu-lampu cantik.

Selain kolam renang, di lantai atas ini taman dan bar juga. Gimana? lumayan asri kan tamannya? adem deh disini. Dan malam harinya, kita bisa menikmati keheningan Bandung dengan lampu-lampu cantik.

Berhubung anak saya gemar berenang, jadi setiap pagi dan sore kami berenang. Alhamdulillah ia berani lho berenang di kolam yang airnya dingin kalau pagi dan sore ini.

Selain menikmati fasilitas hotel, kami juga berjalan-jalan ke mall, tinggal jalan kaki. Nah, di sebelah kanan hotel itu ada penjual ayam goreng, dan enaaakk banget rasanya! Kalau kebetulan lewat daerah sini, cobain aja, Saya lupa nama kedainya, tapi jaraknya hanya beberapa langkah dari U Javenalla Hotel kok.

Hotel yang berada di Jl. Aceh No.65, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung ini juga menguntungkan bagi kita yang mau jalan-jalan di sekitaran. Cukup jalan kaki, kita bisa sampai ke Balai Kota, bermain-main di tamannya. Buat yang ingin ke mall, di dekat situ ada BIP dan banyak tempat makan serta outlet lainnya. Penyuka buku juga bisa mampir ke Gramedia untuk membeli atau sekedar sight seeing buku-buku baru.

Biaya Menginap Di U Janevalla Hotel

(Last pic taken from Hotelopeida karena saya tidak sempat memfoto bagian depan Hotel)

Dengan membayar Rp. 540.000,-/malam, kami mendapatkan kamar yang cukup luas dan juga :

  • Sekotak susu UHT plain 250 ml (harusnya dapat 2 namun tinggal 1 saat itu),
  • Boleh memilih 3 variasi teh untuk diseduh di dalam kamar
  • Free 2 minuman yang ada di kulkas
  • Bisa memilih aroma sabun (kami pilih aroma teh yang bikin rileks)

Saya pribadi sangat menikmati berenang di rooftop bareng anak dan adik, seru, view-nya bagus dan terutama anak saya happy – itu udah bikin kebahagiaannya menular ke saya. We certainly have a good time here, with all the facilities.

So, would u have a staycation in U Janevalla Hotel? 🙂