Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri

Screenshot (16)

Suatu ketika Bondowoso dan teman-temannya dari Kerajaan Pengging bermain ke taman milik Kerjaaan Prambanan. Sampai di playground ternyata sudah ada Roro Jongrang dan dayangnya yang sedang bergantian menaiki seluncuran.

Bondowoso memperhatikan Roro Jongrang yang sedang asik bermain. “Wah, ia sangat cantik dan lembut nampaknya. Aku ingin berteman dengannya,” batinnya.

Bondowoso yang kikuk mencoba menarik perhatian Roro Jongrang dengan menciptakan kegaduhan bersama teman-temannya. Mereka naik jungkat-jungkit sambil berteriak keras, mendorong ayunan tinggi-tinggi dan berlarian kesana kemari.

Alih-alih membuat Roro Jongrang tertarik, tindakan mereka malah membuatnya merasa terganggu. Ketika Bondowoso dan teman-temannya menyerbu seluncuran, Roro Jongrang segera berkata, “Jika kamu ingin bermain bersama, ada syaratnya!”.

“Apa syaratnya?” tanya Bondowoso bersemangat.

“Kamu dan temanmu harus ikut mengantri saat naik seluncuran. Agar semua bisa mendapatkan kesempatan bermain. Bagaimana, apakah kamu menyanggupi syaratku?” tantang Roro Jongrang.

Bondowoso dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka mengangguk dan berjanji untuk antri.

Roro Jongrang berdiri paling depan, lalu dayangnya. Di belakang dayang, berbarislah Bondowoso dan teman-temannya. Roro Jongrang meluncur disusul dayangnya, kemudian mereka mengantri di belakang teman-teman Bondowoso.

Bondowoso dan teman-temannya mengantri dengan rapi, namun lama-lama mereka saling dorong dan berebut naik ke seluncuran. Ketika tiba giliran Roro Jongrang naik, Bondowoso berlari cepat dan menyerobot.

Akibatnya Roro Jongrang menjerit karena kakinya terinjak oleh Bondowoso. Di kesempatan lain, ada juga yang mendaki seluncuran tidak melalui tangga. Hingga puncaknya, Roro Jongrang bertabrakan dengan Bondowoso. Sontak Bondowoso jatuh dan terluka.

Karena kesal, Bondowoso mengeluarkan Bandung, senjatanya yang sakti. Ia mengarahkan Bandung-nya membabi buta dan mengenai semua yang ada di hadapannya. Tak terelakkan, teman-temannya pun menjadi korban.
Beruntung Roro Jongrang bisa menangkis serangan Bandung Bondowoso dengan Sampur biru ajaibnya.

Bandung yang ditangkis oleh Roro Jongrang mengenai Bondowoso. Ia pun ambruk dan meringis kesakitan.

“Sekarang, aku tidak mau bermain denganmu lagi!” Roro Jongrang meluapkan kekecewaannya.

Mendengar hal itu, hati Bondowoso bertambah sakit. Ia menyesal tidak antri saat bermain, sehingga menyebabkan dirinya dan orang lain terluka. Bondowoso meminta maaf dan meminta Roro Jongrang memberinya satu kesempatan lagi.

“Baiklah, ayo kita bermain sekali lagi. Jika kamu membuktikan bisa antri dan bermain sama, aku bersedia berteman denganmu,” ucap Roro Jongrang.

Bondowoso dan teman-temannya bangkit, kini mereka belajar antri sekali lagi. Karena belum terbiasa, beberapa kali Bondowoso dan teman-temannya ingin menyerobot, tapi mereka memilih untuk sabar menunggu giliran.

Memang sulit pada awalnya, namun lama-lama mengantri terasa menyenangkan. Semua bisa kebagian kesempatan bermain dengan aman dan nyaman tanpa harus ada sikut-sikutan.

Dengan belajar mengantri, kini Bondowoso pun bisa berteman baik dengan Roro Jongrang seperti yang ia inginkan sejak awal. Ternyata mengantri itu banyak manfaat ya.

Cerita dan Ilustrasi oleh Sundari Eko Wati.

Cerita berjudul Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri ini merupakan modifikasi dari Legenda Roro Jongrang yang tersohor. Dimodifikasi untuk keperluan mendongeng pada balita, semoga suka dengan ceritanya yaa 🙂

Advertisements

KILOMETER NAYA

Asap rokok mengepul di udara bercampur dengan gulungan uap bubur yang sedang diaduk dalam panci besar. Kipas jerami dikibas-kibaskan di atas panggangan roti. Tengah malam di kafe ini, masih saja diminati pengunjung. Ada yang berpasangan, bersama colega, dan ada juga yang berkumpul dengan rekan sejawat. Seperti Naya dan beberapa temannya. Baru kali pertama Naya bersantap malam di bilangan Alfus itu, bersama wajah-wajah yang beberapa baru dia kenal. Tadi pagi, notifikasi penanda adanya pesan baru yang masuk ke WhatsApp-nya berbunyi.

Dimas
Hari ini
Nay, gue dah di Jakarta nih. Lu ada acara gak ntar malem?

Naya membalas,

Horeee, welcome to hometown!
Hmm, ngga ada sih, knapa? Lu mau ngajak jalan ya?

Hore juga! Haha.
Iya nih mau ngajak lu maen.
Tau aja lu, hehe, gimana bisa gak?

Bisa, gue free. Mau kemana emang?

Blom tau kemana, yang penting jalan dulu.
Gue jemput ya? Kantor lu dimana?

Di depan E&Y aja yaa. Jam 7 malam.

Oke. See yaa.

Sekali lagi gadget Naya itu bergetar,

Jalanan lama itu lengang. Naya mengelus lehernya canggung, menggulung ujung rambutnya yang bergelombang, salah tingkah. Kompak dengan pria yang duduk disampingnya, ia mengusap hidungnya berkali-kali. Dari balik kaca mobil, Naya memandang langit gelap. Baru kali pertama Naya kopi darat dengan Dimas, panggilan untuk pria yang menjemputnya di kantor tadi. Kejadiannya cukup menghebohkan karena Naya mendadak harus lembur.

“Dimas! Halo! Lu dimana? Kayaknyanya gue gak bisa ikut acara, malem ini gue lembur”, ucap Naya agak panik.

“Hah? Masa gak jadi? gue dah di depan kantor lu. Gue tunggu deh di parkiran”, jawaban Dimas meluluhkan hati Naya.

Setengah jam kemudian, ada pesan masuk lagi ke smartphone Naya.

Dimas
Hari ini, 19:43
Nay, gue kepanasan.
Boleh masuk ke kantor lu, gak?

Begitu membuka isi pesan, Naya langsung menuruni anak tangga, dan mencari sosok Dimas di parkiran.

“Dimas, lu di mobil yang mana?”, tanya Naya, menelepon yang kedua kali.

“Di mobil seberang lo, coba tebak yang manaaa?”, Dimas menggodanya.

Naya memandangi mobil mungil ber-plat KT, persis di depan tempat ia berdiri, pria berkupluk melambaikan tangan dan membuka pintu mobil, mendekati Naya.

Tanpa ber-hai ria, Naya yang panik berkata, “Aduh, Dimas gue gak enak banget nih. Gak apa-apa nunggu? Tadi kan udah gue bilang gausah kesini, gue gak ikut aja deh daripada ngerepotin”, lidah Naya bersilat dengan otaknya.

It’s ok, santai, gue tungguin ko”, Dimas hanya tersenyum manis.

Dinginnya AC mobil merambat ke celah kulit Naya.

Oh God! This man is too cute!’, batin Naya.

“Maaf banget ya, tadi lo harus sampe nunggu 2 jam”, Naya memasang tampang bersalah.

“Santai”, jawab Dimas cool.

‘Ya Tuhaaan, selamatkan gue!”, saat itu juga Naya ingin menangis.

Naya membuka jendela Starlett hitam itu, sedikit angin malam yang dirindukannya berhembus ke dalam, memberikan rasa nyaman. Musik yang dihentak pun membuat suasana hatinya riang, padahal ia cukup lelah seharian. Mereka hampir sampai ke tempat yang dituju, dimana teman-teman Dimas sudah menunggu.

Ya, kafe roti bakar itu.

Masih dengan asap-asap yang mengepul menghangatkan malam. Makanan kini sudah terhidang.

Sebelum turun dari mobil, Dimas sempat bertanya, “Lo suka musik, Nay?”.

“Banget!”, kata Naya.

“Suka fotografi juga?”, tanya Dimas lagi.

“Iya, suka dipotret dan motret”, jawab Naya.

Dimas tersenyum renyah, “Sama dong. Eh ntar tolong ingetin kita parkir dimana ya, gue suka lupa”.

Naya mengangguk.

Sambil melahap roti bakar isi keju, meneguk cappuccino dingin, Naya melebur di pembicaraan antar engineer tersebut. Mereka berbicara soal berapa lama di site, nominal digit gaji berapa, tentang pria-pria dan wanita yang menggemari mereka di lapangan, onderdil, bola, sampai tentang penampilan.

‘Dasar cowok-cowok metroseksual!’, batin Naya.

“Kalo lu suka sama mantan temen lu, ya nggak apa-apa kali dibilang ke orangnya. Orang udah putus juga”, kata Dimas tiba-tiba.

Naya yang sempat melamun ketinggalan hot topic.

“Kecuali kalo lo suka ama pacar temen lo, nah gak usah lapor!”, Dimas meneruskan kata-katanya.

“Eh, kenapa? Bisa di-rewind gak?”, tanya Naya sok nyambung.

3 pria di depan Naya melakukan gaya memutar balik gerakan seperti di film-film, mengundang gelak tawa.

“Jadi, tadi kita lagi ngomongin soal Gilang yang menghubungkan drama percintaannya dengan sebuah sitkom, nah dari situ kita coba mencocokkan, masing-masing kita ada di posisi siapa di sitkom itu. Sekaligus nebak-nebak siapa kira-kira cewe yang disukai si Gilang. Clue-nya dari film itu adalah si cewe yang disukai Gilang adalah mantan dari salah satu anggota geng kita”, jelas Dimas.

“Kan banyak tuh cowok-cowok di geng ini, makannya kita rada susah nebaknya”, lanjutnya lagi.

“Ah, bahasannya malesin”, komentar Naya. Ia tidak tertarik dengan perbincangan itu.

Malam semakin larut. Gelas-gelas berisi ovaltine, milkshake, jeruk peras, sudah terseruput habis. Tenggorokan mulai kering, angin malam semakin dingin. Waktu berdetak, pagi masih panjang.

“Besok Naya masuk kerja, kan? Balik yuk! Kasian tuh dia udah ngantuk-ngantuk”, Dimas menunjuk muka Naya yang pias.

Lantas bangku-bangku pun ditinggalkan, bill serta uang makan pun dibayarkan.

“Ambil aja kembaliannya”, kata Dimas lagi, membahagiakan penjual roti bakar tersebut.

Naya kembali duduk di samping Dimas yang menyetir, dalam hati ia tak ingin pulang. Mobil, jalanan, angin malam adalah kesukaan Naya.

“Lu sampai kapan di Jakarta?”, tanya Naya di sela kerasnya musik dari radio favorit Dimas.

“Minggu depan gue balik ke offshore. Kenapa?”, Dimas melirik Naya.

“Ajarin gue nyetir dong!”, ucap Naya sekenanya. Ia memencet tombol membuka jendela, menutupi kegugupannya.

“Boleh”, jawab Dimas menyeka keringat kecil di hidungnya.

“Besok ya, gue jemput jam 7 malam, lu harus udah beres kerja ya”, Dimas mengultimatum Naya dengan lembut. Tentu saja, Naya mengiyakan, pun ia akan kabur jika ada tugas lembur.

***

Sore itu, kala senja mulai menabur warna, Naya masih sempat membubuhkan perona pipi di wajah mungilnya. Ia berjingkrak-jingkrak dengan heels-nya. Menunggu malam tiba. Kantor sudah sepi.

“Ah! Giliran gue yang nungguin dia, padahal kemarin Dimas yang nunggu gue sampai 2 jam”, Naya menonjok tangan kirinya pelan. Ia memandangi setiap mobil yang melintas, berharap Dimas segera datang. Apa mau dikata, macet adalah rutinitas biasa. Dan jarak Tangerang- Jakarta minimal ditempuh dalam waktu 1 jam.

“Kenapa lu gak pake jokey sih?”, Tanya Naya saat Dimas memberitahu bahwa ia akan berangkat setelah magrib supaya aman masuk jalur 3 in 1.

“Nggak ah. Gue males masuk-masukkin orang yang gak gue kenal ke dalam mobil”, jawab Dimas.

Naya tidak bisa berpikir betapa baiknya orang yang baru saja dia kenal kemarin, mau mengajarinya menyetir mobil cuma-cuma. Naya sudah tidak tahan untuk bertemu lagi dengan Dimas.

Dimas.
Hari ini, 19:35.
Gue di seberang lo.
Liat mobil gue, kan?
Ksini ya, nyebrang.

Begitu bunyi pesan yang diterima Naya.

Tidak sampai 5 menit, mereka sudah tiba di tempat latihan.

Change seat”, ucap Dimas, sambil keluar membukakan pintu untuk Naya.

Never treated like this before’, Naya membatin dalam sipu malu di pipi-nya.

So, explain!”, Naya memerintah dengan nada sok.

Dimas nyengir, “Okeee!”.

Dan tutorial singkat pun dimulai. Naya mulai menstater mobil, menyalakan lampu, menyelaraskan antara melepas kaki kiri dari kopling perlahan dan menginjak gas. Setirnya masih miring-miring ke kiri, sehingga Dimas masih harus memegangi setirnya agar seimbang.

Gelapnya jalanan malam membuat Naya kurang mampu melihat beberapa portal dan trotoar di depan jalan, bukan hanya sekali dua kali Naya hampir menabrak. Setelah berputar berkali-kali dan mesin mobil 5 kali mendadak mati, Naya mulai merasa kaki kirinya tegang. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan meminta feed back dari Dimas.

“Lo terlalu panik, Nayaaa. Santai aja”, Dimas mengusap kepala Naya.

“DEG!”, Jantung Naya berdegup.

‘Masih pukul 9 malam’, perasaan tidak enak menjalari tubuh Naya.

“Udah dulu yuk? Gue bosen muter-muter disini”, Naya me-reka-reka alasan.

“Beneran mau udahan nih?”, Dimas sangsi.

“Iya, gimana kalau kita keliling Jakarta ngabisin bensin?”, Naya asal bicara lagi, pupil matanya berkeliaran.

“OK, kita ngalong dah ya! Change seat”, ucapan Dimas melegakan Naya.

Sisa malam itu dihabiskan dengan canda, ada saja hal yang bisa membuat Naya dan Dimas tertawa bersama. Naya sengaja membuka jendela mobil lebar-lebar, kadang berteriak, kadang ia bersenandung. Hatinya melonjak-lonjak, pipinya bersemu merah, Naya sangat bahagia.

***

“Nyebuuuut Nay! Nyebut!”, Ayu mengusap punggung Naya yang naik turun riuh rendah.

“Jangan sampai kamu silau sama hal-hal yang nggak abadi, Nay!”, lanjutnya lagi.

“Harta, ketampanan, mobil, uang, itu semua bersifat duniawi, Nay”, ucap sahabat Naya.

Naya sesegukan kencang. Menahan luapan emosi.

“Nyebut, Nay…”, Ayu menuntun Naya untuk tenang.

“Lagian, who knows? Bisa jadi kan you know who sengaja ngirimin Dimas, buat nge-tes elu?”, Ayu melontarkan argumentasinya lagi.

Kedatangan Dimas memang tiba-tiba, too sweet, too good to be true. Naya sempat berpikir kalau pria yang disebut you know who oleh Ayu memang sengaja meminta Dimas, sahabatnya sendiri untuk lebih mengenal Ayu. Karena setelah hampir 2 tahun Naya menjalin hubungan dengan you know who, Naya belum pernah bertemu Dimas.

‘But what’s the purpose?’, hati Naya enggan kompromi.

“Aku dan you know who udah nggak pernah komunikasi selama 2 bulan ini. I even think that this relationship is over. Gimana kalau Dimas memang one nice guy yang pure pengen temenan sama gue? There’s still a possibility kan, Ay?”, Naya bersikeras.

“Naya, please think about this, aku memang pernah bilang kalau, you deserve a better man than you know who, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, Ayu menjejalkan berbagai logika ke telinga Naya.

Naya terdiam. Ia pernah berkata, jika Tuhan membiarkannya jatuh cinta sekali lagi, maka ia akan menjaga cinta itu. Namun jatuh cinta di waktu yang tidak tepat, ternyata menorehkan lebih banyak luka.

Antara sadar dan tidak, Naya memperhatikan kilometer demi kilometer yang mulai berkurang jaraknya. Sinar matahari sore memantul tajam, melantunkan lagu pengantar tidur untuknya. Ia bersembunyi dibalik tirai. Tangannya menggengam erat kotak brownies. Wangi Cheese Cream-nya menusuk, menggoda untuk dicuil. Ingin rasanya Naya mencomot satu, namun oleh-oleh khas Bandung itu hanyalah titipan.

Angka-angka di penunjuk kilometer pun mulai kabur. Ah! Hari ini keinginannya membeli kacamata silindris terlewat lagi. Begitu banyak agenda di hari Sabtu dan Minggu. Weekend feels like weekdays!

“Itu resiko, Nay! Elu yang mau jabanin bisnis, udah jelas ortu lu ngelarang-larang, lu sendiri nerabas palang”, teringat lagi pertemuannya dengan teman-teman lama.

“Ya mau gimana lagi, namanya juga gue bisnis baju. Traffic paling sibuk ya pas weekend”, ucap Naya.

“Emang hari ini lu ngapain aja?”, tanya Ayu yang jadi teller di Bank.

Deal with supplier kain, meet up buyers, masukin stock baju ke butik-butik disini, ya gitu-gitu deh”, jawab Naya, agak lelah.

“Akhirnya, setelah putus nyambung berkali-kali, lu officially break up juga sama you know who. Patut dirayakan nih! Traktir dooooong!”, hahaha, sahabat-sahabat yang bisa saja menghibur Naya.

Perut Naya kembali gelisah, dirogohnya Apple iPhone7 baru miliknya, hasil hunting Sabtu kemarin di BEC2, jam menunjukkan pukul 6.30 maghrib. Kalau ditahan, bisa maag. Ia memutar otak untuk menyiasati rasa lapar. Oh ya! Ada potongan buah mangga terbungkus dalam kotak bekal, ia lahap juga tanpa mencuci tangan. ‘Banyak vitamin!’, ajaran papa-nya.

“Nay lu kurusan, ya”, kata Mira,

“Minum weight gain deh!”,
“Habisin makannya!”,

“Kalau makan itu, ngunyahnya pakai gigi geraham, Nay, jangan pakai gigi susu”,

Serententan komentar sahabat-sahabatnya yang bak rekaman radio, Mira dan Ayu sama-sama gemas dengan Naya yang makan setengah piring pun tidak habis.

“Mending lain kali lo pesennya setengah porsi aja deh dari pada mubazir”, Ayu menimpali.

“Seneng deh, masih ada yang care sama gue”, Naya tersenyum manis.

Dari ledek-ledekkan tentang fisik, obrolan pun beranjak ke afternoon sharing yang agak berat. Udah kaya ganti session di channel radio aja.

Mira yang memulai, spontan, “Tau gak? Kepala gue peniiiing banget jam 3 malem tadi”.

Tidak ada yang merespon.

“Biasanya kan gue kalo minum bir cuma segelas ya! Ini 3 gelas dong! Kepala gue puyeng abis dah!”, kata Mira sambil meremas-remas kepalanya.

Naya dan Ayu beradu pandang, maklum.

“Asal lu jaga diri aja, Mir. Udah tau kebanyakan bikin pusing. Jangan diulangi”, Naya unjuk bicara.

“Iya, semalem dingin banget sih. Muter-muter Bandung, kuliner malem ampe gempor”, keluhnya.

“Nah Nay, kenapa bisa putus sama you know who?”, todong Mira.

Naya tersedak.

“Hmm, there are two types of goodbye. The one with words, and the one that said long time ago, with silence”, ucap Ayu.

Naya hanya menaikkan alisnya, menegaskan kepada kedua sahabat-nya, “I don’t want to talk about it”.

Kebanyakan orang mengenal sosok You Know Who sebagai  tokoh voldermort dalam film fantasy yang diadaptasi dari novel laris karangan JK. Rowling, Harry Potter. Voldermort adalah penyihir kejam yang bagi Naya sedikit mirip dengan mantan-nya.

Sikapnya yang kurang manly, suka merendah-rendahkan Naya dan hilang tanpa jejak selama 2 bulan cukup untuk menyandingkannya dengan musuh bebuyutan Harry Potter itu. That’s why mereka bertiga sepakat menjulukinya you know who.

Beberapa kali Ayu mengutarakan, “Nay, you deserve a better man”.

Atau yang terakhir kali Ayu katakan, “You deserve a better man than ‘you know who’, tapi nggak sama sahabatnya juga, kan?”, saat Naya terjebak antara ketidakpastian ‘you know who’ dan peluang hubungan baru dengan sahabat ‘you know who’.

Just so you know, Nay. You’ll seem very cheesy on both side if you going with Dimas”, kalimat pamungkas Ayu ini bikin Naya sadar, sesadar-sadarnya kalau harga dirinya lebih penting dan nggak ditentukan dari dengan siapa dia berhubungan atau apakah dia sudah punya calon suami atau belum, melainkan dari integritas Naya sendiri sebagai individu, karya-karya dan dedikasi Naya dalam hidupnya.

“Ayu, lu tau kan kalau kebanyakan perempuan nggak akan melepaskan hubungan yang lama sebelum ada ancang-ancang hubungan baru? I’m so afraid of being alone again”, ucap Naya insecure.

“You’re not alone, Naya. You’ll become a single and happy lady. It’s time for you to learn to be happy before you really ready to jump into a relationship again”, Ayu membesarkan hati Naya.

You know Naya, a person could only have a happy relationship only if that person is a happy soul all by herself. Plus, you have me and Mira, we’ll stand by you”, lanjut sahabat Naya yang berparas se-ayu namanya.

Butuh keberanian bagi Naya untuk merelakan 2 tahun yang ia jalani, – meski lebih banyak pahitnya – untuk disudahi. Pasalnya you know who adalah mantan pertama Naya yang bikin Naya nggak tega nolaknya saat ditembak. Gimana mau say nolha wong cowok metroseksual itu nangis-nangis sambil bilang, “I could see our future through your eyes”.

Sekarang Naya yakin itu bullshit. Nampaknya pernikahan butuh lebih dari sekedar yang namanya cinta ya..

“I owe you, Ayu”, mata Naya berkaca-kaca ketika ia akhirnya memilih menata hati-nya, menarik diri baik dari Dimas maupun you know who.

Dan hari ini Ayu menagih janji Naya tempo hari, saat Naya bilang “I owe you, Ayu” atas jasanya menyadarkan Naya dari kegalauan hubungannya. Ayu hanya meminta Naya untuk mentraktir Ayu dan Mira, dua sahabat Naya di restoran yang lagi hits di Bandung. Hits karena sambil makan, setengah betis mereka nyelup ke kolam berisi air. Lumayan lah sensasi adem-nya sampai ke hati dan kepala.

Matcha ice cream yang dipesan Naya mulai mencair, luruh seperti harapannya untuk menikah yang makin absurd.

Ayu yang menyadari adanya ke-kaku-an diantara mereka menetralisir suasana dengan cerita. Melulu itu, tentang cerita Long Distance Relationship Ayu dan Azwan, kekasih-ganteng-melayu-nya.

“Lu sendiri kenapa masih bertahan LDR-an sama cowok Melayu itu?”, selidik Mira.

“Abis ganteng, Mba. Orangnya sopan, kerjaannya juga bagus, keluarganya oke, prospek ke depannya cemerlang lah”, Ayu mesem-mesem.

“Dih, makan tuh ganteng”, Mira mendengus kesal.

“Dimana-mana yang namanya cewe itu butuh kepastian, Ra. Lu jangan mau deh digantung kaya gitu. Jemuran aja kelamaan digantung bakal kering kaku, apalagi hati elu”, Mira meluncurkan kalimat pedas lagi.

Ayu langsung manyun, “Masa hati disamain sama jemuran tho, Mbak!”.

“HAHAHA!”, tawa Naya meledak.

“Hmm, kenapa nggak tunangan dulu aja?”, Naya tiba-tiba tergelitik untuk ngerecokin.

“Wah, bakal panjang nih”, Ayu menyingsingkan lengan bajunya dan memesan lasagna.

Ya, topik tentang cinta memang tidak pernah basi. Seperti warna hitam dalam dunia fashion, abadi. Mau dibicarakan kapan pun, akan menjadi bahasan yang membuat kita, memesan lagi banyak makanan dan minuman. Kalau menginap jadi tidak tidur semalaman.

Usia Naya, Mira dan Ayu tak lagi muda. Dulu mereka memang idaman para pria, sekarang, mau dibilang cantik, karir mapan, rasanya nggak ada harganya kalau belum jadi Nyonya. Teman kuliah, kolega di kantor rata-rata sudah berumah tangga.

Pernah suatu kali bos minta ditemenin keluar kota saat weekend, teman kantor yang satu nggak bisa nemenin karena anaknya baru berusia 7 hari mau akikahan, Mbak senior panutan Naya mau check up bareng suaminya – mereka lagi program untuk punya anak tahun ini -, teman yang duduk sebelah Naya ambil cuti beberapa hari karena mau ada acara lamaran, sementara Naya?

Naya tidak punya alasan kuat untuk menolak ajakan bos-nya yang berarti ia harus siap diomeli sepanjang perjalanan dan jadi tumbal kalau-kalau presentasi-nya tidak berjalan lancar. Apes deh. Makannya Naya ingin cepat-cepat berkeluarga supaya bisa excuse kalau bos super killer-nya ngajakin meeting dadakan lagi.

‘Nah kan, niat mau nikahnya aja masih recehan begini..’, Naya ditegur suara hatinya sendiri.

“Gue sih menyiapkan diri gue untuk hidup tanpa menikah”, pengakuan Mira membuat Naya dan Ayu tersentak.

Is that weird?”, dan kini Mira malah tampak ragu dengan pilihannya.

Berebut komen, Naya menyumpal mulut Ayu dengan suapan lasagna, “No, It’s is not. If u ready”, kata Naya.

“Gue sih gak berani, karena gimana pun, gue hidup di lingkungan yang pasti akan bertanya kapan gue nikah. Begitu pula Emak gue, pasti dia mencak-mencaklah kalo anak cewe-nya gak nikah-nikah”, susah payah Ayu berontak sambil menelan cheesy lasagna.

“Ya, secara, bokap gue dah passed away, dan gue harus biayain adik-adik gue kuliah”, curhat Mira.

“Asal lu gak apa-apa, ya it’s okey”, Naya mencondongkan badan ke muka Mira, memberi dukungan.

“Gue fine, gak tau nyokap gue”, Mira memastikan.

Well, when it comes to a marriage. Things are getting more complicated”, Naya menaik-turunkan alisnya lagi.

“Eeh, complicated yang gue maksud disini itu maksudnyaaa, keputusan buat nikah itu melibatkan banyak pihak, ada kesepakatan bersama dan kita nggak bisa seenak udel ujug-ujug mau nikah”, Naya cepat-cepat meluruskan supaya Mira nggak salah tangkap.

“Setuju! Buat milih pasangan juga kan harus bagus bibit bebet bobot-nya, kata Rasulullah pilih yang bagus agamanya, pekerjaannya, keturunannya dan yang pasti ganteng Mbaa!”, Ayu semangat nimbrung lagi.

“Ckckck, itu ganteng masih dibawa-bawa juga”, Mira sewot lagi.

“Gue tambahin satu deh kriteria-nya, gelem karo koe!”, Naya berkelakar.

Ayu manyun lagi, “Bang Azwan gelem ko karo aku”, gumannya.

“Ahahahaaa, nah itu dia yang lagi susah buat gue sekarang. Nyari yang mau sama gue dulu deh sebelum masuk ke kriteria yang Ayu sebutin tadi”, timpal Naya.

“Yaa, gue sih pengen nikah. Tapi bukan karena latah. Masa hanya karena temen-temen kita dah pada merit, kita jadi pengen buru-buru juga . Well, kalo gue pribadi sih, pengennya sekarang tuh nyenengin ortu gue dulu. Ngehajiin mereka dan biayain adek gue sampe lulus kuliah”, Mira memperjelas misinya.

Kata-kata Mira yang notabene cewek boyish abis bikin hati Naya dan Ayu terenyuh.

Stick together”, Ayu merangkul pundak Naya dan Mira.

However, di saat-saat down, entah itu patah hati, jadwal merit yang diundur, maupun kehilangan kepercayaan diri, girls time always help.

Naya melayangkan pandangannya, ia menyibak tirai yang sedari tadi menutupi wajahnya dari keindah malam. Raga dan pikirannya telah kembali ke detik ini. Matanya mengedip. Baru kali ini dia benar-benar mendengarkan curhatan sahabat-sahabatnya sejak SMA itu. Mereka sempat juga berebut teman sebangku. Habis ganjil sih.

Ternyata masing-masing manusia, memiliki cerita hidup yang berbeda meskipun tumbuh besar bersama.

Naya berbisik di hati, “Mungkin alasan kenapa gue masih juga single, karena Tuhan pengen gue mendengarkan keluhan temen-temen gue dan saling menguatkan satu sama lain. Ada buat orang-orang yang menyanyangi gue”.

Kilometer demi kilometer sudah dilewati, hingar-bingar Ibukota mulai berpijar. Naya mengerenyitkan dahinya, pose dia kala berpikir. Ia berpikir, mungkin seperti itu juga perjalanan hidup manusia. Untuk menempuh keseluruhan jarak, kendaraan yang penumpang naiki harus melewati 1 kilometer dulu sebelum sampai ke kilometer selanjutnya, dengan kecepatan yang tidak konstan, kadang ngebut dan kadang ngesot seperti keong terjebak macet. Selama perjalanan pun, tidak jarang kita beristirahat  sejenak di rest area, untuk sekedar cari angin, buang angin, buang air, buang uang beli kopi, teh, susu telor madu jahe, menyeduh mie kuah, ngeborong tahu Sumedang maupun gorengan.

5 jam ditempuh dengan kesabaran menuju kilometer 0. Dan setelah mencapai kilometer akhir, Naya siap melangkahkan kaki di sepi-nya malam. Memulai kilometernya yang baru.

***

 

 

 

 

 

 

 

 


Pancake Pisang – Oatmeal Buatan Jasmine

 Pancake Aisya

Pagi sekali, Jasmine sudah bangun.

Jasmine sangat bersemangat hari ini.

Tadi malam, sebelum tidur, Bunda berjanji akan membuatkan Jasmine pancake untuk keesokan harinya.

Ya, Jasmine suka sekali pancake.

“Bunda, bunda, lagi masak ya?”, tanya Jasmine, menghampiri Bunda-nya ke dapur.

“Wah, anak Bunda sudah bangun”, Bunda Jasmine kaget.

“Iya sayang, Bunda sedang masak”, jawab Bunda.

“Masak pancake ya Bunda?”, tanya Jasmine lagi.

“Iya, Jasmine mau bantu?”, ajak Bunda.

“Mau, mau mau!”, seru Jasmine gembira.

“Hari ini, kita akan membuat pancake spesial”, ucap Bunda.

“Pancake spesial?”, Jasmine penasaran.

“Iya, pancake-nya dibuat dari oatmel dan pisang”, jelas Bunda.

“Waaah, pakai pisang ya Bunda? Hmm yummiii”, Jasmine membayangkan betapa lezat pancakenya.

“Yuk kita mulai”, Bunda memperkenalkan satu per satu bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat pancake.

Ada oatmel, pisang, susu, telur, garam, gula dan mentega cair.

Jasmine memperhatikan dengan antusias.

“Pertama-tama, kita blender dulu oatmeal-nya. Sampai bentuknya seperti terigu”, ucap Bunda.

“Kenapa nggak pakai terigu, Bunda?”, tanya Jasmine.

“Pakai oatmel juga bisa, sayang”, jawab Bunda.

Bunda menjelaskan, bahwa oatmeal dan pisang lebih sehat.

“Bunda boleh minta tolong Jasmine memasukkan oatmeal-nya ke dalam blender?, tanya Bunda.

“Boleh Bunda”, Jasmine membantu dengan senang hati.

Setelah oatmeal-nya masuk, Bunda menyalakan blendernya.

Terdengarlah bunyi blender yang bising, Jasmine menutup telinganya sambil tertawa.

Bunda menekan tombol agar blender berhenti berputar dan menuangkan oatmeal bubuk ke dalam sebuah mangkok.

“Waaah, jadi halus ya Bunda”, ucap Jasmine saat melihatnya.

“Iya sayang, jadi seperti terigu ya”, Bunda tersenyum.

Jasmine mengangguk.

“Nah, sekarang Jasmine bantu Bunda ya”, kata Bunda.

“Bantu apa Bunda?”, tanya Jasmine.

Jasmine melihat Bunda memecahkan sebutir telur dan memasukkan isinya ke dalam mangkok besar.

“Jasmine, tolong masukkan mentega cair-nya ke dalam telur ya”, Bunda meminta tolong pada Jasmine.

“Oh iya Bunda”, Jasmine mengambil mangkok besar berisi telur dan menuangkan mentega cair ke atasnya.

Bunda mengambil whisk, alat pengocok adonan kemudian mulai mengocok campuran telur dan mentega cair-nya.

“Aku mau, aku mau, Bunda”, teriak Jasmine.

Rupanya Jasmine ingin mencoba mengocok telur-nya.

“Boleh, pelan-pelan ya sayang”, Bunda memberikan whisk-nya pada Jasmine.

Saat Jasmine sedang asik mengocok telur, Bunda memasukkan bahan lainnya ke dalam mangkok besar.

“Kita tambahkan susu cair ke dalam telurnya ya”, Bunda menuangkan sedikit susu.

“Aku mau, aku mau”, Jasmine tertarik untuk mencoba menambahkan susu-nya.

“Boleh, sedikit-sedikit ya sayang”, Bunda meminta Jasmine untuk menuangkan susu cair perlahan.

“Terus, kita tambahkan apa lagi, Bunda”, Jasmine semangat sekali membantu.

“Ini tolong masukan oatmeal yang sudah dihaluskan ya”, Bunda tersenyum melihat Jasmine yang sigap membantu.

Jasmine menuangkan semua oatmeal ke dalam mangkok besar

“Ambil sejumput garam”, Bunda menambahkan garam dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Kok pakai garam Bunda, nanti asin dong?”, tanya Jasmine.

“Garam-nya sedikit aja kok sayang. Supaya rasa dari semua adonan bisa menyatu”, Bunda menjelaskan kegunaan garam pada Jasmine.

“Gula-nya sama akuuu”, Jasmine ingin memasukkan gula pasir ke dalam mangkok berisi adonan.

“Boleh, gula pasirnya 1 sendok saja ya”, ucap Bunda.

“Kenapa satu sendok, Bunda”, Jasmine penasaran lagi.

“Kan pisang-nya sudah manis, jadi gula-nya secukupnya aja”, jawab Bunda.

“Oh iya, nanti kemanisan ya Bunda”, Jasmine berseri-seri.

“Kita aduk dulu adonannya yuk”, ajak Bunda.

“Sama aku, sama aku”, Jasmine berseru semangat.

Jasmine mengaduk semua adonan menjadi satu.

“Boleh gantian? Kan Jasmine sudah, sekarang giliran Bunda mengaduk ya”, pinta Bunda.

“Oh, boleh-boleh”, rupanya Jasmine asik sekali melihat gumpalan-gumpalan di mangkok adonan.

Bunda mengocok adonan dengan cepat.

Membuat gumpalan-gumpalan besar yang Jasmine buat menjadi halus.

“Waaah, adonannya jadi seperti es krim ya Bunda”, ucap Jasmine saat Bunda selesai mengaduk.

“Iya sayang, lembut dan halus ya”, ucap Bunda.

Jasmine mencelupkan jari telunjuk ke dalam mangkok berisi adonan dan menjilatnya.

“Hmm, maniiiis”, ucap Jasmine.

“Jasmine, sayang. Ini belum matang, harus dimasak dulu ya sebelum dimakan”, Bunda mengingatkan Jasmine.

“Oh iya, lupa Bunda. Habis, bentuknya seperti es krim sih”, Jasmine tersipu malu.

“Pisangnya kapan dimasukkan, Bunda”, Jasmine teringat pisang-nya masih utuh.

“Oh iya, boleh kita masukkan sekarang ya”, jawab Bunda.

Jasmine melihat Bunda mengupas pisang dan memotong pisang menjadi dua.

“Wah potongannya besar sekali, Bunda”, ucap Jasmine, bingung karena potongan pisangnya besar sekali.

“Aku potong kecil-kecil ya Bunda”, Jasmine menawarkan diri untuk memotong pisang menjadi bagian-bagian yang kecil.

“Oh, nggak perlu dipotong sayang, kita haluskan dengan garpu saja”, jawab Bunda.

Bunda mengambil garpu kemudian menekan-nekan pisang hingga pipih dan halus.

“Ini namanya pisang tumbuk”, kata Bunda.

“Nggak perlu terlalu halus ditumbuknya, agar pancake-nya bertekstur”, jelas Bunda lagi.

“Naaah, selesai, kita masukkan pisangnya ke dalam mangkok adonan ya”, ajak Bunda.

“Aku mau, aku mau!”, ucap Jasmine yang ingin mencampurkan pisang ke dalam adonan pancake.

“Diaduknya pakai sendok saja ya sayang”, kata Bunda.

“Pelan-pelan ya Bunda?”, tanya Jasmine.

“Wah pintar Jasmine”, puji Bunda.

“Iya pelan-pelan saja sayang, agar adonannya nggak keluar mangkok”, Bunda tersenyum.

“Oke, sekarang kita nyalakan kompor dan taruh adonan pancake di atas teflon ya”, ucap Bunda.

“Aku mau, aku mau”, kata Jasmine lagi.

“Dimasak sama Bunda ya karena teflonnya panas”, Bunda meminta Jasmine untuk melihat saja.

Bunda membalikkan pancake-nya, agar semua sisi matang.

“Taraaa, pancake-nya sudah matang!”, ucap Bunda.

“Asiiiik”, teriak Jasmine.

“Sekarang kita hias pancake-nya ya”, ajak Bunda.

“Aku mau pakai selai cokelat”, Jasmine mengambil selai cokelat.

“Boleh”, kata Bunda.

Jasmine mengoleskan selai cokelat ke atas pancake-nya.

“Gimana rasanya, enak pancake-nya?”, tanya Bunda.

“Hmm, yumiii”, jawab Jasmine.

“Enaaaak sekali”, ucap Jasmine lagi.

“Bunda mau?”, Jasmine menawari Bunda.

“Mau, mau mau”, Bunda mengikuti gaya bicara Jasmine.

Jasmine dan Bunda tertawa bersama.

Pagi itu, Jasmine senang sekali. Ia belajar membuat adonan pancake. Jasmine jadi tahu berbagai bahan untuk membuat pancake dan ikut mengaduknya.

“Bunda”, panggil Jasmine sambil mengunyah.

“Iya, sayang”, jawab Bunda.

“Ini pancake pisang-oatmeal buatan Jasmine!”, seru-nya.

“Hebat! Jasmine sudah bisa buat pancake ya sekarang”, puji Bunda.

“Aku suka pancake!”, Aisya berseru gembira.

Sesurga Bersamamu, Suamiku

18403146_10154693266758230_5944781561793008061_n

Suamiku..

Jantungku berdegup berirama saat kau mencium keningku,
setiap pagi sebelum kau berangkat ke kantor,
meski bau bawang merah dan putih melekat dalam kepulan asap di tubuhku.

Degup yang menyinari hari-ku untuk menemani putri lincah kita bermain dan belajar seharian..

Aku tahu seberapa penting diriku,
saat kau kembali ke rumah
ketika menyadari bahwa bekal yang sudah kusiapkan
untuk sarapan tertinggal di sofa,
beberapa menit setelah aku mengirimkan pesan padamu melalui WhatsApp.

Aku senang saat kau pulang
dan menyambut teriakan antusias anak kita dengan mengangkatnya ke udara…

Membuat ia makin ceria..

Hatiku terenyuh saat aku memasak untuk makan malam,
dan kau berinisiatif memandikan anak kita,
menyisir rambutnya, kadang mengucirnya, memakaikannya baju,
bedak dan baby lotion.

Hmmm gadis kecil kita wangiii sekali!

Hatiku bergejolak ketika beberapa menit sebelum pulang dari bekerja,
kau bertanya, “Aisya tidur ngga? Kalau ngga, kita jalan sore yuk!”,
ajakanmu yang membuat kami bersorak riang.

Di taman, ketika kita berpegangan tangan dengan anak kita,
lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berhitung, “Satu.. Dua.. Tiiigaaa”,
lalu ia melompat dengan gembira, tentu tidak cukup sekali, lagi.. Lagi.. Dan lagi..

Aku bahagia..

Matamu menatapku tak tega,
ketika aku menawari untuk menyangklong tas,
sehingga kau menggendong anak kita dengan ransel di punggungmu,
saat traveling kemana-mana.

Bagiku itu bukti cinta..

Aku juga suka saat mendengar tawamu bersahut-sahutan dengan Aisya,
yang kudengar dari ruang tamu ketika aku menyetrika
sambil menonton food channel favoritku.

Entah itu kalian sedang bercanda,
main dokter-dokteran,
mendongengkannya cerita lucu,
bahkan meladeninya main masak-masakkan..

Tawa kalian menghangatkan hatiku.

I love the surprises that u give to us,
saat kau bilang sudah membeli tiket untuk liburan.
Dengan segera aku packing..

Aku senang saat kau mengabari kami,
bahwa kau sudah sampai di tujuan,
ketika melalukan perjalanan dinas dari kantor,
dan malam hari-nya kau menyempatkan diri untuk video call.

Pipi-ku bersemu merah,
saat kau meng-upload fotoku bersama putri kecil kita,
dengan caption, “Sampai bertemu lagi dua bidadariku”,
dulu.. Saat kita masih LDR..

Aku senang saat kau terus-menerus memantau sudah sampai manakah aku
Memintaku send location, saat aku menyusulmu kembali ke Ibu kota,
setelah Aisya quality time dengan kakek nenek aunty dan uncle-nya.

Aku suka saat kau bertanya,
“Hari ini Bunda maunya kemana?”, saat liburan.
Menanyakan pendapatku,
membebaskanku memilih,
dengan begitu, aku merasa dihargai.

Romantisme antara kita bagiku,
adalah saat kita sedang wisata kuliner,
saling mencicipi menu yang berbeda,
dan memesan segelas minuman untuk berdua,
antara so sweet dan hemat, ah kau bisa saja!

Aku tahu betul kau menyayangiku,
saat kau mengusap-usap kepalaku,
membelai lembut rambutku,
larut malam, saat aku terkesiap dari mimpi burukku.

Sel-sel di tubuhku rasanya menjadi lebih positif,
saat kau menggosokkan minyak kayu putih di punggungku,
membelikan Sroto Daging kesukaanku
agar virus flu yang menginap di hidungku bergegas pergi.

I beyond happy, 
saat kau mendadak mengajak Aisya dan aku
ke express gateway di sela-sela kesibukanmu,
dengan berkecipak-kecipuk di taman air,
mengajari anak kita berenang
dan meredakan tangisnya
saat ia sedikit kesal akibat terkena air terjun.

Dan saat kau tetap melahap habis masakanku,
meski banyak hidangan lezat dari katering di kantormu,
sembari mengatakan, “Ingin makan masakan Bunda”.

Saat kau memelukku sambil berbisik,
“Kata Pak Ridwan Kamil berpelukan minimal 20 detik sehari itu
men-transfer energi positif”,
ah! rasanya ingin kudekap lebih erat..

There is no happiness without you

Do’aku agar buhul cinta kita makin erat
hingga aku kan sesurga bersamamu, suamiku.

*

Baca juga Tips Bonding Suami-Istri #KaryaCeria

 

Letter To Aisya


Mami kagum sama Aisya.

Aisya yang pemberani. Kadang terlalu berani. Manjat-manjat di playground, ngga mau pegangan tangan di jalan raya, naik-naik tangga di rumah grandpa dan moncor di antara dua pegangan, nyebur ke pantai dan main-main sama ombak sendirian. Aisya hebat.

Mami kagum sama Aisya, selalu ingin tahu sesuatu, harus dapat penjelasan yang masuk logika, pintar mengambil hati dan bersimpati layaknya orang dewasa

Saat Ayah batuk, Aisya akan menyodorkan segelas air dan bilang, “Ayah mau minum ngga?”

Saat Mami ketakutan karena ada tikus di rumah, Aisya menepuk bahu Mami dan berkata, “Don’t worry Mami, don’t be scare, kan ditemenin Dede”, hahaa.

Saat Grandpa sakit lalu Aisya menelepon dan bertanya, “Grandpa udah disuntik belum? Wait for me ya, Dokter Jasmine mau check up Grandpa”. Lalu Aisya bilang, “Mami, aku mau jadi dokter ah kalau udah besar”, bikin mata Mami berbinar haru

Mami kagum sama Aisya. Aisya yang selalu bisa menyesuaikan diri. Always happy when traveling, mau makan dengan telor ceplok atau nasi goreng, ngga rewel, senang diajak jalan, best travel companion deh

Mami kagum sama Aisya yang tegar kala Mami ngambek (haha), kayanya Mami harus belajar dari Aisya nih soal ini. Mudah memaafkan, gampang melupakan. Masih bisa merayu bahkan saat Mami manyun, sorry Aisya I’m still learning to be a good mom

Makasi ya Aisya, sudah mengajari Mami banyak hal, memberi Mami banyak keceriaan, membuat Mami belajar melembutkan hati, dan jadi lebih kuat lagi

Mami kagum sama Aisya, Aisya yang energinya besar sekali, pantang menyerah, selalu cari cara supaya apa yang diinginkan tercapai, ngga cape-cape, bangun tidur bisa langsung lari-lari, saluuut banget deh sama Aisya!

Mami kagum sama Aisya. Aisya yang selalu ingin membantu, saat ada yang menyapu, saat Mami memasak, saat lagi kucek baju, saat jemur dan angkat pakaian yang sudah kering, bahkan saat Mami setrika pun ingin ikut menyemprotkan pewangi ke baju-baju yang mau disetrika

Mami kagum sama Aisya, yang sudah sabar sama Mami. Makasi ya sayang, you are adorable, Aisya 😉

#suratuntukjasmine #KaryaCeria @ceritaibuanakid

Joget Doger Monyet

“Lo tau ngga sih? gyoza ini angetnya suam-suam ketek?”,

“Keteknya siapa?”,

“Ketek lu!”,

“Emang anget suam-suam ketek itu kaya gimana sih?”,

“Aiiiiiiii!”.

😀

Setiap siang, kalau saya boleh me-running program radio lagi. Akan ada slot untuk ngakak bareng deh di tiap lunch time. Ya! waktunya makan siang dan ngakak bareng bersama Muffin dan Ka Ika. Muffin nama kerennya a.k.a mak Fine (jauuuh) dan Ka Ika, partner in crime-nya mak Fine.

Tiap kali makan siang, kalau ada dua orang ini, dijamin siang hari yang panas bakal penuh dengan gelak tawa. Ada saja candaan yang membuat kami semua lupa akan omelan bos. Dari tetek bengek ga penting sampai omongan orang bisa jadi olahan yang bikin rahang pegal.

Namun ada yang beda dengan kemarin. Makan siang tergolong hikmat karena saya datang telat akibat sholat terlebih dahulu. Sementara muffin dan ka Ika sudah bersiap-siap ke Gedung E untuk ngedrop barang jualan (kerudung zalfa).

Ka Ika menjadi penyelamat ketegangan saya dengan, “Fin, beli waffle dulu yuk! tungguin aja si Ai bentar makan. Lagian ini jam berapa sih? masih lama waktu istirahat”.

Saya bener-bener berterimakasih atas muslihat manisnya mencegah muffin bete.

“Makan yang tenang ya dek Ai. Kunyah pakai gigi geraham. Jangan pakai gigi susu”, Ka Ika berpesan.

Daging ayam penyet super pedas itu tidak saya habiskan, pikiran bercabang. Serba tidak enak, saya bergegas menyusul kedua kaka senior saya ini ke lantai atas, tempat warung waffel yang ber-AC. Lalu kami  jalan beriringan ke Gedung PAUDNI.

“Di, lo keluar dong! kita gak dibolehin ke dalem nih sama resepsionisnya. Ada tulisan pedagang dilarang masuk di depan pintu”, tambahnya.

Padahal sama sekali tidak ada larangan tersebut.

Mbak yang dipanggil Di ini akhirnya keluar dan menjemput kami semua ke dalam.

Di dalam, saya yang sedari tadi membawa buntelan berisi 36 warna kerudung zalfa pun langsung menggelar itu dagangan di meja Mbak Di, yang saya dengar meski seangkatan tapi mbak Di ini bendahara atau kepala seksi di Paudni.

“Lo tau gak fin? si Di ini, kalau kita kan lipatan tubuhnya berisi lemak. Kalau dia setiap lekukan itu duit. Makannya badannya benjol-benjol keluar gitu”, kelakar ka Ika.

Sudah jelas kan, bahwa penjual Zalfa ini saya dan Muffin, namun kali ini, di gedung yang baru saya pijaki ini, karena saya masih awam terhadap orang-orang disini saya berperan sebagai, “Dia poinnya masih di bawah saya. Jadi dia yang bawa-bawa barang. Sebetulnya juragannya Ika”, saya manut saja apa kata Muffin.

Saya menggeser kursi di belakang tempat duduk mbak Di dan duduk diam sambil memperhatikan ka Ika berceloteh tentang kerudung yang dijual.

“Di, itu kan tas lo warnanya peach. Lo harus punya kerudung warna peach biar matching sama tas-nya”, ucap ka Ika.

“Mbak, ini kan bajunya warna ungu, nah! ini udah pas kerudungnya warna ungu”, ka Ika mendekati seorang pegawai.

“Tapi saya belum berkerudung mbak, ini pakai baju pendek juga “, jawab wanita yang ditawari tersebut.

“Fin! kemarin manset kita udah jadi belom? tolong kasih liat sama ibu ini”, ucap ka Ika sotoy.

Padahal kami sama sekali belum memproduksi manset.

“Ai, gimana sih ini jualan malah dagangannya di breg-in disini aja?dibukain dong satu-satu diperlihatkan warna-warna biar mbak-nya tau ada warna apa aja”, ka Ika berlagak jadi juragan.

“Mbak yang disana kenapa gak beli? gak suka sama kerudung kita?”, ka Ika berani menegur salah seorang Ibu yang anteng dengan komputernya.

“Ini Ibu-ibu beli kagak tapi komentarnya banyak. Ambil satu!”, ujar ka Ika sok galak.

“Kamu Di, dari tadi bulak balik milih tapi ga nambah-nambah, cuma beli 6? ini nih, warna biru laut itu warna wajib loh Di. Orang tuh harus punya warna ini. Bakal kepakai ini”, ka Ika bermanis-manis mulut.

“Tau gak? kalian itu kalau beli jilbab itu sekalian investasi. Ini warna polos tuh gak pernah mati. Kalau belum berjilbab, beli aja dulu nanti beli bajunya”, ka Ika berusaha untuk menyakinkan calon pembelinya lagi.

“Jadi lo cuma beli 6 biji, Di? okey. setiap pembelian setengah lusin kita ada do’anya. Ayo Ai pimpin doa”, kata ka Ika. Aku bingung.

“Kalau lo beli selusin nanti Ai nyanyi, suara bagus lho, dia penyanyi di kantor. Kalau lo beli dua lusin, nanti Muffin joget doger monyet”, sontak semua tertawa mendengar penawaran dari ka Ika 🙂

Saya sangat senang sekali dan takjub melihat kelihaian ka Ika yang cas cis cus dalam approaching pelanggan 🙂 harus belajar banyak nih dari beliau. Akhirnya, dengan usaha saya senyum-senyum kecut di belakang layar dan Muffin yang membantu menjawab pertanyaan Ibu-ibu akhirnya terjualah 10 kerudung Zalfa. Alhamdulillah.

What a great day with ka Ika and Muffin. Here are this duo gokil:

Renggandis

“Aku tidak mengerti mengapa kau terus menerus berkata, bahwa kau inferior complex, Renggandis! Aku tidak mau mendengarnya lagi!”, bentaknya.

Renggandis meraung-raung.

“I don’t understand, what is it with inferior complex, Cia! She keep saying it. If she knows what she feel, why didn’t she fix it up?”, Raga mempercepat langkahnya, meninggalkan rumah sakit.

“At least, why me? Why me?”, Raga menuntut haknya.

“Call me, back, Cia!”, Raga memutus pesan mailbox itu.

***

Daun-daun berguguran, dan seorang anak kecil berayun mengikuti angin, badannya yang ringan menghempas ke udara, tak lama ia pun terjatuh ke tanah. Kepalanya terpukul bangku dari batang pisang yang menggantung di halaman sekolah.

Sekelompok anak laki-laki menggusurnya, dan memenuhi pipinya dengan tamparan. Badan yang lunglai dibawa pulang, kakinya sakit ditendang-tendang.

“Renggandis! Mana penghapusmu? Kenapa sudah kau hilangkan lagi! HAH!”, sebuah suara menggeretaknya.

“Kau pikir, mudah mencari uang, nak?”, gertak suara yang mencengkeram lengannya kasar.

“Renggandis!”, dan sebuah kaki menendang kepalanya. Ia terdiam, menangis.

“Dis! Renggandis! Bangun sayang!”, kali ini suara yang lain mengguncang tubuhnya. Lebih nyata.

“Dis, bangun”, sapuan tangan wanita itu merangsang otaknya untuk bicara.

“Cia,,”, ucapnya penuh harap. Mereka berpelukan.

“Raga called. He complained about you”, ucap Cia.

“I know”, lirih, Renggandis mengangguk lemah.
“Where its hurt?, tanya wanita dewasa tersebut.

Renggandis hanya menunjuk kepalanya. Cia menelusuri telinga Renggandis, dan menemukan bejolan di balik daun telinganya.

“Has the docter said any?”, Cia bertanya kembali.

Renggandis menggeleng.

“Oke, you are tired. Take a rest”, ucap Cia bingung.

“I don’t want to sleep. I am gonna wake in the middle of the night. The pain will come”, Renggandis pasrah.

Dengan gerakan yang kuat tapi sigap, Cia menelungkupkan badan Renggandis hingga tengkurap, tanpa membuat selang infusnya menyedot banyat darah Renggandis keluar karena banyak gesekan. Cia menggenggam tangan Renggandis yang kadang-kadang menegang, sambil merintih.

Sudah dua hari Renggandis terbaring di rumah sakit. Awalnya badanya panas tinggi, lalu di malam hari menggigil. Malam itu, ibundanya sempat marah dan mengunci pintu dari luar. Beruntung, di pagi hari, Renggandis yang lemah, bisa diseret ke ruang Unit Gawat Darurat.

“Panasnya 41 derajat celcius”, kata suster. Dan Renggandis pun tak bisa menolak ketika disuntik. Jangan suntik, obat pun ia sangat anti.

Wanita yang menemani Renggandis sejak malam pertama ia dirawat bukanlah Ibundanya, bukan pula sepupu atau saudara Renggandis. Namun, ia adalah seseorang yang sangat menyayangi Renggandis. Cia memandang lembut wajah Renggandis, sambil terkadang melirik jam. Untuk mengingatkan Renggandis minum obat. Ia harus terjaga sepanjang malam. Karena seperti malam sebelumnya, Cia terlelap karena lelah. Lalu didengarnya tangisan keras. Renggandis menahan sakit sambil memegang tiang ranjang, setengah berteriak dan berurai air mata.

“I don’t want to see you like this”, Cia ikut menangis.

“What can I do?”, Cia berbisik di telinga Renggandis saat memeluknya.

“Get Raga here”, pinta Renggandis di sela isaknya.

“It’s like, I feel better when Raga here. But he didn’t help. We fought”, Renggandis mengeluhkan kejadian tadi siang pada Cia.

“Hm, what is it, Darla?”, Cia merapatkan badannya pada Renggandis yang terbaring.Sambil memijati sela jari Renggandis.

“Hmm,,”, Renggandis bergumam ragu.
“He don’t understand me. He is the one who make me sick”, hanya itu yang terdengar dari mulut Renggandis.

Cia memandang jendela kamar, kemudian tiang peyangga tirai, dan pandangannya berlabuh diantara jempol dan telunjuk Renggandis.

“U think too much, u know?”, kata Cia hati-hati.

“Not everything in life you can carry. We could try as best as we can. But for the future, something you don’t know, release it to the God. Let Him take care of our worries”, ucap Cia pelan.

“Let Allah keep your worries”, Cia berbisik lebih dekat ke telinga Renggandis.

Mata Renggandis memantulkan cahaya lampu malam. Air hangat meleleh dari sudut matanya.

“I love you”, ucapnya, kemudian Renggandis memejamkan matanya.

Sudah hampir 8 tahun Renggandis mengenal Cia. Pertama kali mereka berjumpa, Cia mencium kening Renggandis tanpa alasan yang mudah dijelaskan. Cia sangat menyayangi Renggandis.

Saat itu, Renggandis masih berseragam putih abu-abu, dan Cia sering kali bermain ke sekolah Renggandis di jam-jam istirahat, bahkan menunggu hingga sekolah usai. Saking bahagianya, kadang Renggandis keluar kelas dan bercanda bersama Cia di balik pagar. Ketika bel pulang berbunyi, mereka akan bermain ke tempat yang mereka suka. Kadang hanya berjalan, menyusuri taman-taman atau mengikuti pohon yang akan membawa mereka ke suatu tempat, untuk duduk bercerita.

Mereka akan tertawa kencang, mengundang perhatian orang. Mereka akan berjalan tidak seimbang, Renggandis akan berdiri di pagar batu yang tinggi, Cia menuntunnya dari samping, seperti sedang menari balet. Renggandis memang ballerina di masa kecilnya.

Atau, mereka akan menyanyi di jalanan, berbincang dengan keras. Apa saja, yang membuat mereka bisa menikmati hari. Berbagi. Berdua.
“AaaaaHHhhhh!!”, teriakan membuat Cia terbangun dari tidurnya. Arloginya menunjukkan sekarang pukul 1 pagi. Waktunya Renggandis meraung-raung. Ia menyangga punggung Renggandis dengan bantal agar Renggandis tidak terus menerus memukulkan kepalanya ke tembok.

Cia memencet bel, kemudian menggenggam tangan Renggandis. Tak lama suster datang.

“Sakitnya di bagian mana?”, tanya suster.

Renggandis yang sudah tidak tahan akan nyerinya hanya mampu menunduk sambil menunjuk ke otak kecil di bagian belakang kepalanya.

“Saya ambilkan obatnya”, suster pamit sebentar kemudian kembali dengan cepat.

Renggandis meneguk pain killer tersebut kemudian merebahkan kepala di bahu Cia. Mereka berpelukan erat. Tangan Renggandis mencengkeram besi peyangga tempat tidurnya kencang-kencang. Semua tekanan akan membantu melawan nyerinya. Renggandis meronta-ronta.

***

Sinar mentari pagi menelusup ke dinding kamar Rumah Sakit, memberi nyawa bagi semua kehidupan yang ada. Renggandis sudah dilap (dimandikan) oleh suster-suster yang ramah.
Ia merasa lebih nyaman. Jam 8 pagi, akan nada bruder yang menyuntikkan jarum untuk mengambil sampel darah Renggandis untuk diperiksa di laboratorium. Itu adalah hal yang cukup menakutkan bagi Renggandis, sikut bagian dalamnya sudah mulai berwarna kehijauan.
Namun ia bisa apa.

Ini adalah hari ketiga Renggandis dirawat di rumah sakit. Ia memandang jam dinding, menunggu jam 9, dimana bubur kacang favoritnya akan dihidangkan. Kala pagi tiba, nyeri di kepalanya tidak terlalu menjadi-jadi.

Ia sempat melihat ke sekeliling. Di depannya ada seorang wanita. Meski matanya silindris, ia masih bisa membaca, namanya Sara. Sara tidak pernah menangis seperti dirinya. Justru Renggandis malu karena selalu berisik di malam hari. Renggandis tidak tahu Sara sakit apa karena jenis infuse mereka pun berbeda, sepertinya wanita cantik itu sangat lemah. Renggandis hanya sesekali tersenyum.

Kemudian wanita di sebelahnya adalah wanita tua yang sering batuk-batuk, sejak menginap di kamar ini, Renggandis hanya pernah satu kali saja mendengar wanita tersebut mengigau. Selebihnya tidak. Infusnya pun sudah dicabut, mungkin sebentar lagi pulang. Karena anak-anaknya sudah hadir membawa beberapa tas.

Lain lagi dengan Ibu-ibu yang ada di sudut ruangan, dekat pintu. Dari pakaian yang dikenakan ketika pertama kali masuk, sepertinya ia adalah seorang polisi wanita atau sejenisnya. Ia tahu betul dengan sakit yang dideritanya, sehingga ia mampu berbicara dan setiap orang yang membesuknya. Dan lucunya, orang tuanya datang dari kampung ketika mendengarnya sakit. Sang Ibu tidur di lantai beralaskan selimut. Jelas saja petugas rumah sakit segera mengusirnya, karena hal tersebut dapat menyebabkan penularan penyakit.

Renggandis mengedipkan mata, mengalihkan pandangannya ke televisi di depannya. Ia tidak menangkap jelas siaran apa itu. Digenggamnya mangkuk berisi bubur kacang pukul 9 pagi, dan menyeruput isinya hingga habis.

Kepalanya mulai nyut-nyut, “Waktunya tidur”, Renggandis mengajak sel-sel dalam tubuhnya untuk rileks. Bukannya ia tidak tahu, ia tahu bahwa ada semacam pengobatan dengan mengucapkan hal-hal positif pada diri sendiri. Namun sakitnya kali ini amatlah sangat. Terlebih ia bingung karena dokter belum juga memberi kabar apa nama sakit yang dideritanya. Jika ia tahu, tentu tidak akan se-khawatir ini.

“At least, there is something I can do, if I know the desease”, katanya pada suster-suster yang memandikannya tadi pagi. Dan suster meyakinkan Renggandis bahwa darahnya masih diperiksa di laboratorium.

Oh, sudahlah, jarum suntik, obat, sedot darah, “I suck it off”, umpatnya.

Dua bantal ditumpuk, Renggandis menghela nafas dengan hati-hati, sedikit guncangan saja, akan membuat nyeri di kepalanya kambuh lagi. Mudah sekali mengantuk setelah menelan obat. Obat yang bukan sirup rasa orange lagi. Ia ingat, sewaktu kecil, ia berlari-lari menghindari sendok berisi sirup obat yang akan dicekokan ke mulut oleh ibunya.

She hates drugs. Any drugs.
Bagi Renggandis, meminum obat seolah memasukkan racun ke dalam tubuh.

Say no to every drugs.

Ia memang sering sakit sejak kecil, dari mulai muntaber ketika masih di bangku SD, dengan toilet yang tidak tertata baik, ia harus menangis di kamar mandi, muntah-muntah, dan diare. Petugas sekolah akan membawanya ke rumah mereka yang terletak di belakang sekolah, memberinya teh manis hangat dan sup. Teh manis hangat dan sup memang membangkitkan kembali kesadarannya untuk belajar sampai sekolah usai.
Dan Renggandis punya masalah lain, kandung kemihnya turun, sehingga ia sering buang air kecil, dan lambungnya tidak dapat menampung banyak makanan pada satu waktu. Kadar lemak dalam tubuhnya lebih kecil dari standar kadar lemak dalam tubuh manusia normal, sehinnga penyerapan makanan dalam tubuhnya kurang sempurna. Sebanyak apa pun dia menyuapkan sayuran dan buah ke mulutnya, kulitnya tak kunjung bersinar apalagi mulus.

“Yeah, that’s pretty much ackward”, katanya, ketika ia pertama kali bertemu Raga.

“That’s okay”, balas Raga, ia malah menadahkan tangannya, bila Renggandis muntah tiba-tiba. Sudah bukan hal aneh bagi Raga, jika mereka jalan terlalu malam, maka wanita yang makan malam bersamanya itu akan memuntahkan sebagian makanan yang sudah dicerna.

“I cannot eat too much”, ucap Renggandis.

Dan Raga akan berkata, “Kalau tahu gak akan habis, prosinya minta setengah aja”.

Kepala Renggandis mulai bereaksi ketika bayangan Raga muncul. Gadis itu mengingat semua pertengkaran mereka, hal-hal tidak beres dalam hubungan mereka, yang sejujurnya membuat Renggandis meringkuk di rumah sakit kali ini.

“But he don’t understand. Even if I say it, he won’t understand. It’s because of him”, keluhnya pada Cia.

“If he is not that worth it, why not u just break up with him? You are beautiful, talented, you can get any guy u want. Why do u end up with such a guy like that? Who doesn’t even know how to treat a lady!”, Cia kesal.

“Lemme call him, and tell him not to come to you anymore!”, Cia bersikap reaktif.

“Don’t”, Renggandis memohon.

Cia mengambil sebantang rokok dari saku celananya dan bergegas menyalakan lighter. Pembicaraan itu sudah berlangsung cukup lama. Entah mengapa, at some point, tepatnya setelah Renggandis resmi menjadi mahasiswa, hubungan mereka menjadi renggang. Mungkin saat itulah Renggandis mulai merasa, relung hatinya membutuhkan kasih sayang yang berbeda.

“He is the one, Cia. He is the only man who cried when he said he love me. I looked into his eyes, it feels like I am his dream. He told me he has never had a dream before, and when he look at me, he said that he find the reason to live. He is the only man who truly loving me!”, Renggandis memberontak.

“If he love you, he will be here when you need him”, Cia membantah teori Renggandis.

“Our love is just different..”, kilah Renggandis.

Wake up!”, gretak Cia.

***

“Mai”, itu adalah nama kecil Renggandis. Hanya orang tuanya yang memanggilnya begitu. Renggandis Maila, ya itu namanya.

“Mai”, panggil sebuah suara.

Renggandis tidak yakin, mata sembabnya terbuka, belum sadar penuh, siapa yang memanggilnya? Mungkin itu kerabat orang tuanya. Karena papa mama tidak mungkin ada disini.

“Mai”, panggilan lembut yang ia rindukan.

“How could you know my name?”, Renggandis hampir tidak percaya, karena yang memanggilnya Mai adalah psikiater di rumah sakit tempat ia dirawat. Bapak tua itu hanya tersenyum.

“Hai, nama saya, Albertus. Let’s get to know each other”, sapanya ramah.

“How do u feel?”, tanya Albertus, membuat Renggandis ragu. Ia tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan terdalamnya pada orang yang tidak benar-benar ia percaya. Selama ini, ia hanya berbagi pada Cia.

“Kenapa kamu sering menangis kalau malam hari?”, ini adalah pertanyaan ketiga yang membuat Renggandis terkejut.

“Do u hear it?”, Renggandis balik bertanya.

“No, but people say. So tell me where its hurt so bad?”, pria berseragam biru muda ini mulai menggelitik rongga mulut Renggandis untuk mengeluarkan suara.

“Its in the back of my head”, kata Renggandis.

“Hmmm, where exactly?”, Albertus menanyakan detail posisi sakitnya. Dan Renggandis menggunakan tangan kanannya yang bebas dari infus untuk menunjuk bagian sakitnya.

“Hmm, waktu kecil kamu pernah jatuh atau kebentur sesuatu ngga?”, selidik psikiater tersebut.

Bola mata Renggandis menyudut ke kiri atas, ia tidak mungkin mengarang cerita. Kemudian pupil matanya membulat, “My dad kicked me in the head when I was a child, bibir Renggandis bergetar.

“In what age?”, sekarang Albertus mengumpulkan data.

“Umm, around…, I don’t remember. I already have younger brother that time. Around 7 maybe”, Renggandis menghitung-hitung selisih usia dia dan adiknya.

“Oke, kamu punya kenangan buruk di masa lalu, yang bahkan mungkin kamu tidak ingat. But it still there, di alam bawah sadar kamu. Saat kamu sakit, ia akan menyerang titik terlemah kamu”, Albertus mencoba menjelaskan korelasi sakit kepala yang diderita Renggandis.

“But I forgive him. I cried, and he cried to. And after he kicked me, we hug. I know, he didn’t mean it”, ucap Renggandis panik.

“Okey, else?”, Albert terus berusaha menggali lebih dalam tentang pasiennya itu.

Renggandis menggeleng,

“That’s good. And thank you for talking to me this day. Get well soon”, begitu pamit Albertus ketika meninggalkan ruangan. Dada Renggandis bergemuruh, ia merasa bersalah dengan membuka lukanya pada orang yang tidak ia kenal. Namun pria tua itu memanggilkan dengan lembut, Renggandis merasa ia bersama orang-orang terdekatnya.

“In psychology, we call it, inferiority complex”, ucap Albert.

“I help her to talk what she has been through, and give her some advice. But she is the one who could heal it by herself. The environment could help, but won’t be as strong as if she fight it back. She needs a will to fight the inferiority”, paparnya.

Cia mendengarkan.

“This might help you to understand what’s going on with your her”, Albert memberikan Cia print out sebuah link. Ia melangkah pergi dari ruang konsultasi.

Di bangku taman, Cia membaca paper tersebut.

INFERIOR COMPLEX
http://www.bsmi.org/download/lin/InferiorityComplex.pdf

“The man was suffering from feelings of inferiority and inadequacy; when such feelings control the behavior to that extent, it is then called inferiority complex.
The cause of that man’s inferiority complex is deeply rooted in his childhood“.

SYMPTOMS:
“Symptoms of inferior feelings are of two general types:
withdrawal tactics, including self-consciousness, sensitiveness, and withdrawal from social contacts;and aggressive tactics, including excessive seeking for attention, criticism of others,overly dutiful obedience, and worry”.

“Their sensitivity to criticism, produces resentment to unfavorable comparisons, offense at friendly jests, rebellion at correction, defense of their self-chosen course of action, desire for praise, and an excessive attention to little things.
It always suspects personal injustice and is ever ready to make a defense”

“Withdrawal from social contacts shows fear of people and lack of self-confidence, sometimes resulting in daydreaming about being the conquering hero or the suffering martyr type”.

“Although aggressive tactics are used less frequently than are withdrawal strategies, the former are more violent in nature. Excessive seeking for attention and popularity often leads to the sacrifice of principle in order to gain the favor of others”

***

“Aku masih ingat, Raga, its like 5 years ago, waktu dia masih di highschool. Aku sama dia lagi berenang, haha, dan dia nangis-nangis bilang sama aku, kalo dia mau mati aja”, Cia tersenyum kecut.

“Dan aku bilang sama dia, mungkin itu ladang amal yang Tuhan sediakan buat dia, dengan semua problem yang dia alami. She is coming from a broken home family, just like I did, and she is being bullied at school. She has been through hard times, Raga”, akhirnya Cia menatap mata Raga, menyampaikan empati-nya.

But she cannot always, blame the things around her, Cia. Dia harus berusaha dewasa dong. Bullshit dengan inferiotiy complex-nya, semua orang juga punya sisi inferior. Masa kecilku juga buruk, jadi aku memilih untuk melupakannya. Not telling everyone about my stories”,Raga berargumen.

Darah Cia serasa mendidih, “You don’t know anything about her! Just stay away, and never hurt her anymore!”, Cia meledak.

“What have I done wrong, Cia?”, Raga gusar.

“Semua. Semuanya sok tahu, tapi nggak ada yang mau instrokpesi”, Cia membentak Raga.

“Mungkin gue juga bikin salah sama dia, Raga. But at least, I think about her”, Cia menyeka air matanya yang mulai meleleh, ia tidak mau terlihat cemen di depan Raga.

“Im gonna get in”, katanya, masuk ke ruangan Renggandis kembali.

Mata Cia berkaca-kaca, seraya mengelus kepala Renggandis.

“You have to fight against the desease, Darla. If not, u will not only damaging yourself, but also others. I believe in you, that you are strong enough to survive.”, bisiknya.

“You have to fight against your desease”, Cia mengeraskan bisikannya.

“You have to fight against the desease”, bisiknya lagi.

“Life awaits for you, Darla”, Cia mengecup kening Renggandis. Berdoa untuk kesembuhannya.

Dan Cia dapat merasakan gerak jemari Renggandis melingkari pergelangan tangannya.

***