Indonesia Keracunan Asap Rokok? Apakah Menaikan Harga Rokok Solusinya?

Screenshot (2)

“Pak, kok merokok? Merokok kan ngga baik,” ucap Aisya dengan polosnya saat seorang bapak merokok di hadapan kami. Uniknya sang Bapak tersenyum malu sambil mengusap rambutnya, lalu nyengir dan ngeloyor pergi.

Sebetulnya saya kurang enak sama bapak tersebut meski saya terganggu dengan asap rokok, namun saya belum pernah mengutarakan ketidaknyamanan sama perokok. Lebih sering menghindar saja.

Then it just take me back to the year 2005. Saat itu seorang teman bercerita bahwa rokok di Inggris lumayan mahal dan beliau juga bilang, rokoknya beda, yang di Indonesia lebih enak. For a moment, saya pikir mungkin standar rokok di luar lebih ketat, dan di Indonesia lebih ‘longgar’ dalam artian, kandungannya lebih banyak dan harganya lebih murah.

Dengan harga yang sangat terjangkau ini, no wonder banyak perokok berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Nah, Rabu, 20 Juni 2018 lalu, saya mendengarkan siaras di Radio KBR.ID, tepatnya program radio ruang publik KBR yang membahas tentang JKN, Kelompok Miskin dan Rokok Harus Mahal. Topik yang menarik ini disampaikan langsung oleh Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH – beliau adalah Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI dan Yurdhina Melissa dari Planning and Policy Specialist Center For Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISID).

Apa yang dibahas ternyata menjawab tebakan saya. Betul lho, rokok di luar negeri itu lebih mahal! Di Singapura harga rokok Rp. 130.000,- per bungkus. Kemudian di Australia hargaya Rp. 250.000,-. Harga rokok di negara-negara ini sengaja dibuat tinggi agar anak-anak tidak mudah tergiur membeli rokok.

Karena rokok di Indonesia terbilang murah, ada beberapa orang yang tinggal di LN kemudian titip dibelikan rokok Indonesia untuk dibawa ke LN, karena disana harganya lebih mahal.

Sayangnya, di Indonesia, jumlah perokok paling banyak justru berada di kelompok yang kemampuan ekonominya kurang mampu seperti pekerja petani, tukang ojek, pekerja kasar, dan lain-lain, begitu papar Profesor Dr Hasbullah. Dari survei yang dilakukan oleh SUSENAS terdapat data bahwa sekitar 70% lebih masyarakat dari kelompok miskin mengkonsumsi rokok.

Kelompok yang ekonominya kurang mampu di Indonesia ini dikatakan sangat generous oleh Profesor Dr Hasbullah karena memberi sumbangan yang besar pada konglomerat rokok. Karena berdasarkan data dari SUSENAS, justru masyarakat yang pendidikan dan pendapatannya lebih tinggi mengkonsumsi rokok lebih sedikit.

Mba Yurdhina turut melengkapi data ini dengan mengatakan bahwa 22% per kapita income mingguan masyarakat yang ekonominya kurang mampu in itu dipakai untuk mengkonsumsi rokok. Dan pada tahun 1997-2004 terdapat hasil analisis yang menunjukkan, adanya penurunan harga beli daging dan ikan di keluarga kelompok miskin karena kepala keluarganya lebih mengalokasikan uang untuk membeli rokok.

Dari pengamatan pribadi, bahkan ada bapak-bapak yang memilih makan sehari sekali dan sisanya merokok, ditemani kopi. Ya kalau dipikir-pikir lagi, kurang sehat ya pola hidup seperti itu. Bapak-bapak ini sudah kecanduan rokok nampaknya, pokoknya beli rokok tidak boleh terlewat dalam daftar belanjaan sang istri.

And you know what? 70% pasien BPJS memiliki riwayat akibat merokok. Mayoritas peserta JKN adalah perokok, lebih parahnya lagi mayoritas peserta yang ekonominya kurang mampu juga perokok. Hal ini mengakibatkan klaim di BPJS-nya tinggi. Artinya penyakit akibat klaim JKN tinggi.

Hal ini menjadi masalah besar, karena dana JKN yang terbatas terserap oleh orang yang terlanjur kecanduan rokok. Perlu ada pengendalian agar dana JKN tetap memadai hingga tahun-tahun yang akan datang. Salah satu cara yang dipandang efektif adalah dengan menaikkan harga rokok.

Saya sepakat jika harga rokok dinaikkan, meski timbul pula kekhawatiran apakah nanti akan muncul tren baru? Seperti lifestyle merokok adalah gaya hidup orang berduit? Salah seorang penelepon juga bilang, walaupun harga rokok naik 100 kali lipat, ia akan tetap membeli karena ia sudah merokok dari mulai rokok harganya Rp. 1.200/batang hingga sekarang.

Tapi ternyata target dari kampanye rokok harus mahal ini adalah untuk mencegah munculnya perokok pemula.

Dengan harga rokok yang murah saat ini, ada lho anak-anak SD yang coba-coba membeli dengan uang jajannya. Dari awal mencoba ini kan yang sebetulnya gerbangnya, bakal diteruskan lagi atau tidak. Jujur saya beberapa kali melihat anak usia SD bahkan balita merokok.

Mungkin karena di keluarganya tidak ada policy soal merokok, atau karena orang tuanya perokok ya sudah ikutan saja. Tiap orang tua minta dibelikan rokok sebungkus ke warung, jadi semacam pelegalan bahwa sang anak boleh merokok.

Jika harga rokok mahal #rokok50ribu, harapannya tidak ada lagi anak usia sekolah yang menjajankan uangnya untuk membeli rokok. Dan dengan harga rokok yang tinggi, semoga saja para kepala rumah tangga yang merokok bisa berpikir ulang untuk membeli sebatang rokok. Pastinya tidak bakal berhenti total, tapi mengurangi sedikit-sedikit.

Lalu uangnya bisa digunakan untuk membeli sayur dan protein atau kebutuhan pokok lainnya.

Yuk jangan jadikan rokok kebutuhan pokok, jangan jadikan merokok gaya hidup. Semoga dengan upaya ini, Indonesia bisa jadi lebih sehat yaa. Amiin.

Buat teman-teman yang mendukung #rokokharusmahal, silakan klik https://www.change.org/p/jokowi-smindrawati-rokokharusmahal-naikkan-harga-rokok-menjadi-50-ribu-bungkus dan tanda tangani petisinya. Saya sudah lhooo 🙂

Advertisements

Fitrah Anak Itu Baik

Screenshot (1)

Beberapa waktu lalu saya berpikir, gimana ya supaya anak bisa selalu nurut sama orang tuanya? Aisya anak yang baik, tapi ada kalanya saat saya meminta sesuatu, ia tidak langsung melakukan apa yang saya minta.

Ini wajar harusnya, cuma kadang saya over-thinking. Salah saya dimana ya? padahal saya sudah membersamainya hampir setiap saat, mengasuhnya sejak lahir, tapi kenapa yaa ada waktu-waktu Aisya lebih memilih mendengarkan instingnya sendiri atau mengikuti kata orang lain?

Lalu secara tidak sengaja saya melihat insta-story teman saya Dhefimaputri dan mendapatkan jawaban yang mencerahkan, kira-kira begini kalimatnya,

“Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak dan lain-lain. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus jadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.” – Ustadzah Poppy Yuditya

Wah, ini jawaban dari pertanyaan saya banget! saya jadi sadar kalau apa-apa itu ya balik ke Allah. Sekarang PR saya adalah mencari ridho Allah. Caranya gimana? salah satunya adalah dengan terus berdo’a dan taat pada Allah SWT. Dan taat pada suami.

Lalu saya mencoba mengingat kembali fitrahnya anak yang dipaparkan dalam buku The Secret Of Enlightening Parenting.  Saya mau merangkum 6 fitrah tersebut di tulisan kali ini ya.

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Judul asli di bukunya adalah “Manusia Lahir Fitrah, Yaitu Membawa Potensi Baik”. Saya re-write menjadi “Fitrah Anak Itu Baik”.

FITRAH ANAK ITU BAIK

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Apalagi Allah SWT telah melengkapi otak manusia dengan bagian yang tidak dimiliki oleh mahluk mana pun, yaitu Pre-Frontal Cortex (PFC).

PFC ini memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol.

Kemudian Mba Okina menjabarkan 7 fitrah manusia, yaitu :

  • Fitrah Iman. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Wujud nyata potensi iman adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku yang dilarang Tuhan.
  • Bertahan Hidup. Manusia dikarunia peranti dasar untuk bertahan hidup. Inisiasi dini untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir adalah bukti konkret dari potensi ini. Bayi lahir dibekali Tuhan dengan refleks menghisap, mengenggam, berenang, menjerit ketika lapar, dan lain-lain (Hoffman, Paris & Hall, 1994).
  • Belajar Hingga Piawai. Setiap anak adalah pembelajar tangguh sejati yang pantang menyerah. Saat anak belajar jalan, meski berkali-kali jatuh, ia akan selalu berusaha bangun dan mencoba berjalan kembali. Anak juga suka mengajukan pertanyaan terus-menerus sampai paham dan hafal. Potensi belajar hingga piawai ini menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi.
  • Kasih Sayang. Manusia lahir dengan fitrah kasih-sayang, yaitu menyayangi dan suka disayangi. Anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya sedih dan menunjukkan ekspresi bahagia ketika dibelai atau disapa dengan suara lembut. Serta akan menangis dan takut ketika mendengar suara keras atau ekspresi yang tidak menyenangkan. Dan kasih sayang ini berkaitan erat dengan hormon oksitosin yang mengatur rasa saling percaya, ketenangan, rasa aman, keinginan untuk menolong, keterikatan, kehangatan, kasih sayang dan perhatian.
  • Interaksi. Manusia dilahirkan sebagai mahluk individual dan sosial. Bayi akan merasa bahagia saat diajak berinteraksi dan sedih jika tidak ada yang menemani. Pada dasarnya, setiap manusia bisa menjalin interaksi sosial. Anak yang menarik diri, tidak mau bergaul dan berkomunikasi, bisa dipastikan memiliki pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dari hasil interaksi sebelumnya atau mengalami ganguan tumbuh kembang tertentu.
  • Fitrah Seksualitas. Manusia dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan.
  • Tanggung Jawab. Ketika pertama kali anak memecahkan barang, dengan jujur ia bercerita sambil berusaha membenahi. Namun kadang respon orang tua yang kurang mengenakan (marah) membuat mereka berpikir bahwa jujur itu berbahaya dan tanggung jawab mereka tidak dihargai. Fitrah manusia adalah bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, dan sebagai orang tua kita perlu jeli melihat potensi ini.

Ketujuh potensi di atas berusaha saya ingat-ingat kembali. Bahwa fitrah anak (bahkan kita) itu baik. Jadi kita selalu bisa kembali pada kebaikan. No wonder  kalau di usia yang sudah ‘matang’ seseorang berubah/kembali ke fitrah. Karena bibit-nya sudah ada.

Saat anak kita menunjukkan sikap yang belum sesuai dengan yang kita inginkan, kita perlu berlatih untuk memilah respon, agar anak tidak malah menjauh dari fitrahnya.

Sekian dulu sharing singkat malam ini, wallahualam bishowab. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 

 

Simple Ramadan Decoration

Screenshot (51)
Have I told you that I’m pretty excited this Ramadan?
Selain buku antologi cerita anak saya yang akan terbit di Ramadan ini, bulan suci ini juga saya lebih bersemangat untuk mengenalkan Ramadan pada Aisya.

“Bagi siapa puasa saat bulan Ramadan
karena iman dan mengharap pahala dari Allah
maka dosa masa lalu akan diampuni”

[HR. Bukhari]

We started by decorating our home to heat up the Ramadan vibes. To remind everyone in the house that this is a month of joyful and blessing, we pick “Happy Ramadan” rather than other sentence.

Kemudian saya memilihkan buku bacaan bernuansa Ramadan pada Aisya dan berniat untuk mengikutkan Aisya pada sanlat anak. Pelaksanaannya hanya seminggu kok di Masjid dekat rumah, semoga Aisya semangat ya! Ia bilang ingin ngaji pakai mic di Masjid.

Oia, bahas dikit buku mayor pertama saya ya, judulnya Semarak Idul Fitri. Buku anak edukatif ini berisi cerita tentang perayaan Idul Fitri yang menarik, unik dan berbeda-beda di 20 negara. Lengkap dengan fakta unik dan game aktivitas menjadikan buku terbitan Ziyad ini pilihan yang pas untuk menemani hari-hari menuju lebaran atau saat mudik.

Saya sempat posting ulasan dan promo-nya minggu lalu. Sekarang masa PO sudah berakhir, tapi buat Ibu-ibu yang mau baca review-nya boleh banget dong.

Silakan mampir ke : Buku Anak Edukatif – Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara

Okay sekarang lanjut ke dekorasi Ramadan di rumah kami. It’s very very simple.

Ada beberapa hiasan yang kami buat, diantaranya :

  • “Happy Ramadan” Greeting
  • Gantungan Bintang – Bulan dan Matahari
  • A Picture Of Us Doing Umroh

Sekarang saya mau perlihatkan foto dan berbagi cerita cara membuatnya ya 🙂

“HAPPY RAMADAN” GREETING

Screenshot (49)

Happy Ramadan greeting terdiri atas 12 huruf yang saya tulis dalam potongan skecth book lalu ditempelkan ke kertas lipat. Sketch book dan kertas lipat ini pemberian dari tante-nya Aisya yang sudah tidak dipakai lagi.

Nah, untuk membuat kartu-kartu huruf ini, kami hanya membutuhkan alat dan bahan di bawah ini.

Alat dan Bahan :

  1. Sketch Book 1 lembar, bisa juga menggunakan buku gambar/karton.
  2. Kertas lipat berbagai warna, ukuran sedang.
  3. Spidol boardmaker warna biru. hijau, merah, dan hitam.
  4. Selotip kertas, saya pakai yang warna krem.
  5. Benang wol warna pink mix putih.
  6. Gunting bergerigi.
  7. Double tip.

Cara Membuat :

  1. Potong sketch book berbentuk persegi panjang. Usahakan agar ukurannya sama, mungil tapi muat untuk menulis huruf. Untuk memotong kertasnya, saya pakai gunting bergerigi.
  2. Tulis huruf, saya menggunakan spidol boardmaker warna-warni agar tulisannya terlihat jelas.
  3. Tempelkan ke kertas lipat, rekatkan dengan double tip. Dengan posisi, kertas lipat seperti ketupat.
  4. Lipat ujung atas kertas lipat yang berbentuk segitiga ke belakang.
  5. Gantungan di benang wol yang sudah digunting dan ditempelkan ke dinding dengan selotip kertas. Lalu tata hingga terlihat proporsional.

Gimana, simpel, hemat dan lumayan kece kan?

Gantungan Bintang – Bulan – Matahari

Setelah kami memasang ucapan “Happy Ramadan”, hari Jum’at Aisya tiba-tiba mengajak saya membuat bintang-bintang seperti yang ia lakukan di sekolah.

Aha! langsung saja kami bikin hiasan lagi. Dalam membuat gantungan ini kami menggunakan cetakan roti agar bentuknya bisa bagus. Let’s move to the step.

Alat dan Bahan :

  1. Kertas lipat ukuran sedang dan besar.
  2. Cetakan roti.
  3. Pensil untuk menggambar.
  4. Gunting bergerigi dan gunting biasa.
  5. Benang wol warna pink mix putih dan putih.
  6. Selotip kertas untuk menempelkan bintang, bulan dan matahari ke benang wol.

Cara Membuat :

  1. Lipat kertas menjadi 4 bagian dengan ukuran yang sama.
  2. Taruh cetakan roti di atas kertas, kemudian mulailah menggambar menggunakan pensil.
  3. Setelah beres menggambar, gunting kertas lipatnya. Tadaaa! langsung dapat 4 bentuk yang ukurannya hampir sama. Saya pakai gunting bergerigi agar lebih nyeni.
  4. Ambil sehelai benang wol, rekatkan bintang, bulan dan matahari dengan selotip kertas ke benang wol.
  5. Terakhir gantungan di tempat yang eye catchy.

Saya memilih untuk menggantungkannya di rak buku Aisya yang berada di ruang keluarga, karena ruangan ini tempat kami paling sering bercengkrama. Ditambah background rak yang berwarna putih, bintang – bulan – mataharinya jadi lebih terlihat cantik.

Kami membuat 2 gantungan, yang satunya lagi lebih panjang. Awalnya mau kami gantung di atas TV, tapi untuk sementara saya gantung dulu di pintu kaca geser. Fyi, rumah saya memadukan dua cat, abu dan putih. Mengadopsi desain scandinavian home ceritanya, hihi.

Baca juga : TAMAN MUNGIL AISYA #SCANDINAVIANHOME

A Picture Of Us Doing Umroh

Screenshot (44)

Umroh-nya belum, memvisualisasikan saja dulu. Hopefully segera ya! Amiin.

Ini adalah gambar  yang kami buat tahun lalu. Saya cukup memasukkan ke dalam bingkai foto dan memajangnya di atas rak buku.

A picture of us doing umroh ini melengkapi dekorasi Ramadan kami. Isn’t it looks sweet?

Alright, kalau Ibu-ibu solihah pada bikin hiasan apa aja nih untuk menghidupkan suasana Ramadan di rumah? Ceritakan dong, siapa tahu saya mau nambah-nambah dekorasi di rumah.

Satu lagi, terimakasih yaa sudah mampir. Happy Ramadan!

 

Buku Anak Edukatif – Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara

Semarak Idul Fitri2

Happy Ramadan!

Semoga Ramadan kali ini bisa membuat kita tambah dekat sama Allah SWT dan target amalan tercapai. Saya juga berdo’a agar bulan suci Ramadan bisa memberi kita banyak keberkahan dan kebahagiaan. Amiin.

Jujur, Ramadan sekarang saya sangat semangat. Aisya sudah berusia 4 tahun, jadi mulai bisa ikut sanlat. Sanlat untuk anak-anak ya, di Masjid dekat rumah. Kami juga bikin dekorasi Ramadan untuk membuat suasana Ramadan di rumah lebih hidup.

Dekorasinya very simple, cukup lah buat kami. Buatan tangan saya dan Aisya, supaya bisa lebih diresapi lagi kata-kata “Happy Ramadan”-nya.

Tahun ini juga, saya lebih mengenalkan pada Aisya mengenai Ramadan. Saya sudah memilih beberapa buku yang akan saya bacakan selama Ramadan supaya Aisya tahu :

  • Ngapain aja di bulan Ramadan?
  • Apa yang diperbolehkan saat shaum dan apa yang tidak.
  • Mengatakan padanya bahwa bulan ini adalah momen yang sangat baik untuk berbagi, ngaji dan lain-lain.

Berbagi apa? berbagi takjil misalnya ke tetangga atau ke masjid. Kemudian bersedekah dan lagi-lagi berbagai kebahagiaan.

Kalau shaum-nya Aisya belum ya, karena masih kecil. Jadi saya ajak ia untuk memaknai Ramadan melalui kegiatan lain seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

SEMARAK IDUL FITRI

Semarak Idul Fitri1

By the way, kok judulnya Semarak Idul Fitri? Ramadannya saja kan baru mulai.

Iyaaa ini jadi salah satu bentuk keberkahan Ramadan untuk saya. Semarak Idul Fitri ini adalah buku keempat sekaligus buku pertama saya yang terbit mayor. Alhamdulillah.

Dan buku cerita anak ini akan terbit di bulan Ramadan, sekarang masih bisa PO. PO-nya sampai tanggal 20 Mei 2018. Kalau PO kan biasanya dapat harga khusus ya.

Ibu-ibu disini sudah pada punya buku-buku Ramadan kan? baik buku cerita maupun buku aktivitas. Nah, kalau buku tentang Idul Fitrinya sudah punya belum?

Kalau belum, Semarak Idul Fitri ini bisa jadi pilihan yang bagus lho! Di dalamnya berisi 20 cerita dari 5 Benua. Cerita apa? cerita tentang perayaan Idul Fitri yang menarik, unik dan berbeda-beda di 20 negara.

Di Indonesia, tiap Idul Fitri biasanya ada ketupat dan opor dan kita pulang kampung, tapi di beberapa negara yang muslimnya minoritas biasanya tidak ada istilah mudik. Karena saat lebaran tidak libur. Bahkan beberapa siswa perlu memberikan surat izin ke sekolah untuk bisa melaksanakan solat Ied bersama keluarga.

Orang-orang yang bekerja juga langsung beraktivitas seperti biasa setelah solat Ied.

Bila Idul Fitri tidak jatuh saat weekdays, maka perayaannya digeser ke weekend.

Salah satu cerita seru di Semarak Idul Fitri adalah para muslim Hawaii yang melaksanakan solat Ied di Magic Island. Bayangkan, solat Ied-nya di pinggir pantai lhooo. Wah sensasinya beda pastiii.

ADA APA AJA DI SEMARAK IDUL FITRI?

Yuk yuk ikutan PO Semarak Idul Fitri, ini contoh isi di dalamnya ya :

 

Di Semarak Idul Fitri ini ada :

  •  Fakta unik seputar aktivitas Idul Fitri di 20 negara, termasuk makanan khas yang dihidangkan ketika lebaran, pakai yang dikenakan dan lain-lain.
  • Plus ada game aktivitas yang seru juga.
  • Dan tentunya cerita menarik perayaan Idul Fitri di 5 Benua 20 Negara

Spesifikasi Buku :

  • Ukuran 16 x 24 cm
  •  Tebal 188 Halaman Bookpaper Fullcolor
  • Sampul softcover bending

Berapa Harganya?

Semarak Idul Fitri ini harga normalnya Rp. 70.000,- the good news is, selama masa PO harganya cuma Rp. 59.500,- lumayan khaaan. Sekarang, siapa yang mau ikutan PO cuuung? Ditunggu yaa sampai 20 Mei 2018.

Pesan Kemana?

Okay, buat Buibu yang mau pesan buku ini untuk Ananda, bisa pesan ke saya ya 🙂

Silakan WA ke 085724717820 atau DM ke IG saya @sundarieko difollow juga boleh, hihi.

Yuk ajak anak keliling dunia untuk ikut merayakan Idul Fitri di 5 Benua 20 Negara. Bisa juga untuk menemani saat mudik 🙂 Temukan juga cerita yang saya tulis di buku ini yaa ❤

 

 

Pilih Pizza Maker Junior Di Pizza Hut Atau Domino’s?

IMG-20180505-WA0033

Berfoto di Pizza Hut, Jalan Terusan Jakarta No. 71 bandung

5 Mei 2018 ini, ITB Motherhood Bandung Timur mengadakan playdate cooking class. Cooking class-nya dengan mengikutkan anak-anak di program pizza maker junior Pizza Hut.

Aisya sudah beberapa kali bikin pizza, di Domino’s pernah, private workshop sama tante Icha (sahabat Mami) juga sudah, di rumah pun sempat nyoba bikin sama Mami, mempraktekan ilmu dari tante Icha.

I thought all this experience would be enough for her, in making pizza.

Tapi pas lihat iklan pizza maker junior PH di TV, tetep masih pengen bikin pizza di restorannya.

Saya akhirnya memberi usul, gimana kalau grup ITB Motherhood Bandung playdate bikin pizza lagi tapi di PH. Alhamdulillah disambut baik, apalagi diadakan saat weekend, jadi lumayan banyak yang bisa hadir. Meski lebih banyak pas 2 tahun lalu di Domino’s sih.

Baca juga : Jadi Junior Pizza Maker Di Domino’s

Setelah ikut, ada beberapa perbedaan yang saya lihat selama cooking class berlangsung. Apa saja? saya bikin list-nya disini ya 🙂

IMG-20180505-WA0019

Biaya

  • Pizza Hut Rp. 40.000,- (ada yang paket plus ice cream, biayanya Rp. 52.000-an kalau ngga salah)
  • Domino’s Pizza Rp. 36.000,-

Fasilitas

IMG_20180510_063217

  • Pizza Hut. Dengan membayar Rp. 40.000,- anak-anak diberi apron, penutup kepala, paper crown, sarung tangan plastik, goodie bag berisi buku gambar, sepiring pizza porsi kecil dan segelas teh, serta sertifikat.
  • Domino’s Pizza. Dengan membayar Rp. 36.000,- anak-anak diberikan topi, apron, sebotol teh, tempat pensil, sepiring pizza porsi kecil dan sertifikat.

Aktivitas

  • Pizza Hut
    Setelah anak-anak siap, anak-anak ini diajari “tepuk pizza hut”. Lalu diajak berbaris dan tur ke dapur. Mereka juga langsung membuat pizza di dalam dapur. Pendamping (orang tua) yang boleh masuk hanya 2 orang. Selama anak-anak yang lain menunggu, tidak ada aktivitas. Hanya menunggu saja diruang makan. Saat pizza-nya sudah jadi, anak-anak diberi pizza. Bentuknya rata-rata sama, jadi tidak tahu apakah pizza tersebut hasil kreasi anak kita atau bukan.
  • Domino’s Pizza
    Berbeda dengan PH, di Domino’s anak-anak diminta duduk dulu setelah mengenakan apron dan topi. Kemudian Mas-mas dari Dominos’s-nya menceritakan asa usul Domino’s pizza dulu. Baru setelah itu anak-anak berbaris untuk kitchen tour dan kembali ke meja. Selama waktu menunggu, anak-anak diberikan kertas dan dipinjamkan pensil warna. Jadi ada aktivitas selama menunggu anak-anak yang lain selesai tur. Bikin pizza-nya dimana? ini nih yang menurut saya seru! Di Domino’s, anak-anak bikin pizza di meja, bareng teman-teman. Topingnya disediakan. Dan masing-masing pizza kreasi anak dikasih kertas nama, agar saat dibagikan tidak tertukar.

Plus Minus

DSC_0456.JPG

  • Pizza Hut
    Karena saat menunggu tidak ada aktivitas yang disediakan dari PH-nya, jadi anak-anak hanya menunggu thok sama Ibunya. Tapi enaknya meja tidak kotor karena aktivitas membuat pizza dilakukan di dapur. Dari segi fasilitas lebih banyak juga. Sabtu kemarin juga ada grup lain yang cooking class, jadi mungkin hal ini bikin pihak PH agak riweuh ya. Makannya saat pelaksanaan terbilang cepat. Tidak ada pegarahan yang cukup panjang/cerita asal usul PH dulu sama anak.
  • Domino’s Pizza
    Saat menunggu, anak-anak mewarnai, jadi ngga bengong bingung di meja. Bikin pizza dilakukan di meja, jadi para Ibu bisa asik mengabadikan, hihi. Dan lebih terlihat serunya sih menurut saya. Dan pas mulai juga ada sesi story-tellingnya ya, ini nilai plus menurut saya. Trus teh botolnya bisa dibawa pulang. Minus-nya sebelum dan sesudah menaburkan toping pizza, anak-anak harus cuci tangan. Sempat agak chaos disini saat banyak anak, tapi kalau hanya 15 anak seperti saat di Domino’s Bintaro sih aman-aman saja.

Ya menurut saya sih itu aja bedanya. Mungkin pas di Domino’s jadi lebih terpantau sama orang tuanya ya, anaknya ngapain aja. Dan pizza-nya betul-betul terlihat kreasi sang anak karena ada nama anaknya di bawah adonan. Kalau pas di PH sama rata, ya no problemo juga sih, yang penting anak kita sudah tahu cara bikin dan menaburkan toping-toping pas di dapur 🙂

Oia di playdate kali ini Alhamdulillah sayabisa bantu-bantu panitia jadi seksi ngumpulin uang. Pengalaman baru, dan saya belajar bahwa senyum dan ketenangan adalah kunci ga panikan hihi. Kapan-kapan mau bantu-bantu lagi, insya Allah.

Terimakasih buat Teh Ully, teh Anggun, teh Puti, teh Intan dan teteh-teteh ITBMhBantim untuk playdate-nyaa!

Sekian ulasan saya, jadi mau pilih yang mana, Moms?

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Quote Ali Bin Abi Thalib

Saya merasa cukup beruntung mempunyai hobi baru, yaitu membaca. Terutama buku-buku seputar psikologi suami-istri dan parenting.

Semakin banyak membaca, semakin tahu kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. Makin ingin belajar memperbaiki. Makin ingin memetakan what’s important and which one is the most important. Learning and doing. Not only knowing and didn’t do anything in order to change. And never give up!

Bisa jadi, pada waktu tertentu kita melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Seperti ‘meledak’ ketika lelah fisik serta hati melanda, dan anak kebetulan lagi caper. But its not all the time, right? Tidak perlu buru-buru melabeli diri “I’m not a pretty good Mom”.

Learn, read book, practice, tried again and again.

Dengan tidak mudah menyerah, kita sudah membantu diri dan anak kita untuk berkembang. Saling memaafkan. Grow up together.

Setidaknya itu yang saya renungkan akhir-akhir ini. Anak makin besar, tantangan makin besar pula. Dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya dulu banyak yang tidak relevan lagi.

Don’t get me wrong, saya sangat menghormati orang tua saya. Dan pola asuh yang mereka terapkan cukup berhasil making me who I am today with all the values.

TAPI, anak-anak sekarang nampaknya lebih kritis dan berani daripada anak jaman baheula.  

Seperti kata-kata Ali bin Abi Thalib di atas, anak kita adalah milik zamannya. Ada baiknya, as a parent, kita juga menyesuaikan dengan zaman ini.

Kids jaman now
Parent jaman now

Memang apa saja sih kesalahan umum yang biasa kita lakukan sebagai orang tua? Dalam The Secret Of Enlightening Parenting, Mba Okina Fitriani merangkum 11 kesalahan yang biasa dilakukan dalam pengasuhan anak.

Baca juga : Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

But, I will only mention 7 things. Please take a look 🙂

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak 

Tidak Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

Kesalahan nomor wahid adalah tidak membiasakan mengambil tanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah ketika anak jatuh, ada orang tua yang memukul lantai/tanah sambil mengatakan, “Nakal ya lantainya! bikin kamu jatuh. Dah, dah dipukul tuh lantainya.”

Setelah itu, orang tua akan mengusap lutut anak dan meredakan tangisnya.

Menurut mba Okina, kata-kata yang terdengar menghibur ini malah mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya, mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain/kondisi.

And this is not good.

What we can do to fix this?

Daripada menghibur dengan cara di atas, sebagai orang tua, kita bisa mengajak anak berdiri, lalu mengajaknya main dokter-dokteran. Gantian anak jadi dokter lalu kita. Ini cara yang asik untuk meredakan tangisnya dan mengobati lukanya.

Setelah suasana kembali tenang, kita bisa mengevaluasi bersama kejadian jatuh tadi. Saya mau kasih contoh dari apa yang saya lakukan sama Aisya ya. Saya terapkan saran dari Mba Okina ini saat Aisya jatuh.

“Mamiiii sakiiiit. Lutut Aisya berdarah.”
“Barusan jatuh ya? Sok nangis dulu, boleh kok. Kalau pas Aisya jatuh dan merasa sakit, itu bagus! artinya syaraf dalam tubuh Aisya bekerja dengan baik.”
“Iya Mam.”
“Udah puas nangisnya? kita basuh pakai air dan dikasih plester ya lukanya. Supaya sembuh.”
“Iya Mam,”
“Tadi kok bisa jatuh?”
“Iya tadi Aisya lari, trus ada batu. Aisya kepeleset.”
“Ooh, gitu. Lain kali pas lari dan di depannya ada batu, supaya ngga jatuh lagi gimana caranya menurut Aisya?”
“Aisya-nya loncat!”
“Ok, loncat yaa. Ada lagi ngga yang bisa Aisya lakukan?”
“Aku larinya hati-hati.”
“Ok, next time hati-hati ya saat lari.”

Se-simpel apa pun jawabannya, hargai ya Moms. Dengan begini, anak kita akan terbiasa mengambil tanggung jawab atas peristiwa yang ia alami. Dan bukan menyalahkan batu, jalan atau orang lain 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Menanamkan Keyakinan Yang Salah

Beberapa orangtua terlihat sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak didasari riset maupun dalil yang benar. Contohnya, minum es bikin sakit perut, lari-lari bisa jatuh, hujan menyebabkan masuk angin, dan sebagainya. Ini memungkinkan anak mengalami “alergi buatan” terhadap ketiga hal di atas – begitu kata Mba Okina.

Pernah bicara seperti itu pada anak ngga Moms? saya pernah bilang “Jangan lari nanti jatuh.”

Setelah baca ini, saya mengubah kalimat saya jadi, “Hati-hati ya larinya. Jalan aja dengan langkah besar seperti  Mami. Bakal cepat sampai juga kok.” and this sound more positive to us.

Hindari juga installing wrong believe seperti ini, “Belajar dong! pelajaran ini susah lho. Nanti teman-teman kamu udah bisa, kamu belom.”

Saya sendiri prefer memotivasi Aisya dengan bilang, “Ayo dicoba, semua hal bisa kita pelajari. Aku mau berusaha! gitu kan kata bu guru.” misalnya saat Aisya mengerjakan sesuatu yang menurutnya susah.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring 🙂

Labeling

Label akan menjadi sebuah keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadar. Dear parent, let us choose the proper label 🙂

Suatu hari Aisya terus menerus bicara, ia bertanya mengenai berbagai hal dan keep asking “Kenapa Mami?” kenapa begini dan begitu. Jika jawaban yang saya beri belum detail dan bisa dicerna logikannya (Aisya logis banget anaknya), maka ia akan terus menggali jawabannya.

Saya pun nyeletuk, “Aisya, kamu cerewet ih.”

Lalu Bapak saya – the wise man – menghampiri saya, “Mbak, cerewet itu konotasinya negatif lho. Lebih baik bilang Aisya, kamu talk-active sekali ya, ini konotasinya positif.” Begitu ucap Grandpa-nya Aisya.

Dan segera saya meralat ucapan saya pada Aisya.

Tahan lidah kita untuk melabeli anak : ‘kamu bandel ya’, ‘tuh kan ngeyel’, ‘dikasi tahu malah ngga mendengarkan’. ‘kok ngga nurut sih?’ daaaan segambreng kata-kata berkonotasi negatif lainnya ya Moms. And replace it with a better words.

Saya masih belajar untuk mengerem mulut nih, biasanya kata-kata seperti ini muncul di saat ‘genting’. Pas mood positif, saya bisa lebih sabar dan bersikap proaktif pada Aisya.

Baca juga : 6 THINGS I ADORE FROM AISYA

Pelit Menggunakan Hal Ajaib

Empat hal ajaib ini pasti sudah hafal di luar kepala ya Moms :

  • Minta maaf. Saat kita (sengaja/tidak) menyakiti perasaan anak, mintalah maaf padanya. Saya suka minta maaf pada Aisya setelah saya marah padanya. Saya jelaskan juga, bahwa saya tidak suka marah, dada saya sakit ketika emosi. Lalu kami mencari solusi bersama, what we can do, supaya Mami ga marah-marah. Sesudah ngobrol, tanpa diminta, Aisya akan reflek bilang, “Maafin Aisya juga ya Mami, tadi bikin Mami marah.”
  • Mengucapkan terimakasih. Dengan sering mengucapkan terimakasih pada anakia akan merasa dihargai. Ini pengalaman pribadi ya. Dan dengan kebiasaan baik ini, anak pun akan dengan mudah mengucapkan terimakasih pada siapa pun. I thank Aisya for any little things that she did, dan saat saya hanya membacakan buku ketika ia mau tidur pun, Aisya masih sempat bilang, “Makasi ya Mami udah bacain buku untuk Aisya.” sweetest dah! Aisya juga terbiasa berterimakasih pada Ayah, kakek-nenek, paman-bibi, saudara-saudara, guru, teman-temannya, bahkan ke driver grab juga.
  • Menunjukkan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dengan ucapan, sentuhan, pelukan, ciuman dan lain-lain. Terkadang bahasa cinta melalui sentuhan ini lebih mengena di hati anak dibanding kata-kata lho. Anak yang memiliki tabungan kasih sayang yang cukup akan tumbuh dengan jiwa yang sehat, percaya diri, dan penuh empati.
  • Memuji. Kata mba Okina, latihlah telinga, mata, dan rasa untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan saat anak kita melakukan kebaikan, meski sederhana, pujilah ia. Dengan pujian yang efektif, bukan yang lebay. Kadang orang tua abai memuji hal kecil yang dilakukan sehari-hari karena menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal kecil yang sudah baik inilah, muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik yang lebih besar, jika dihargai.

Nah, jangan pelit melakukan empat hal ini ya Moms. Let’s do it, not just understand about it!

Baca juga : Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

Fokus Pada Kekurangan, Suka Mencela, Doyan Mengeluh

Kekeliruan yang ini, kata Mba Okina, berkaitan erat dengan pelitnya melakukan 4 hal ajaib di atas. Kemudian jadi cenderung fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk keluhan.

Contoh keluhan seorang Ibu :

“Kak, tuh kan PR-mu ketinggalan lagi. Masih muda kok pelupa, sih? Makannya siapkan bukunya sebelum tidur. Minggu lalu juga seperti ini kan? Kalau sudah gini kan Ibu yang repot. Ayo bereskan bukunya, jangan jadi anak pemalas!”

Kira-kira reaksi anaknya bakal gimana yaa?

Pada keluhan di atas terdapat kata ‘pelupa’ dan ‘pemalas’, lagi kata Mba Okina, kedua kata ini akan melukai konsep diri anak. Bahkan bisa jadi membentuk konsep diri yang buruk, “Saya anak pemalas, saya anak pelupa.”

Padahal Allah Swt tidak suka dengan orang yang mengutuk dan memberi gelar buruk.

Kesalahan yang dibuat anak ini sebetulnya bisa diperbaiki. Dengan suntikan semangat dari orang tua tentunya.

Masih untuk kasus lupa bawa PR ke sekolah, katakanlah,

“Kak, Ibu perhatikan kamu akan ingat membawa PR-mu kalau sebelum tidur bukunya sudah disiapkan dan dimasukkan ke tas. Ibu yakin, kamu bisa lebih baik dari hari ini.”

As for me, complaining is like burning myself. Mengeluh hanya membuat sesuatu yang buruk menjadi 1000 kali lebih buruk. Mengotori hati dan melemahkan saya. Sehingga saya lebih memilih untuk meminimalisir keluhan, dengan begini solusinya akan lebih terlihat.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Ancaman Kosong

Mba Okina mengatakan, ancaman kosong adalah kombinasi dari kebohongan, inkonsistensi dan lalai menenggakan aturan. 

Menurut saya memberi ancaman pada anak adalah cara cepat agar anak mau menuruti kita. Cara cepat saat kita kehabisan cara kreatif dalam mem-persuasi anak.

Misal nih ya, “Ayo makan, kalau ngga nasinya Ibu kasih ke kucing lho!”. Dengan begini anak tergerak untuk mengunyah makanannya.

Atau, “Berhenti main gadget! Nanti Papa buang gadget-nya ke got!”, anak yang ketakutan pun langsung memberikan gadget pada Papa-nya.

Saat kita mengancam, seringkali anak merespon dengan cepat. Permintaan/perintah kita didengar. Tapi ketika anak tak bergeming, masih keukeuh juga, akankah kita meng-eksekusi ancaman tersebut?

Pasti hati nurani akan membatin, ‘Masa dibuang gadget-nya? sayang dong, belinya kan pakai uang bukan daun’. ‘Daripada dikasih ke kucing, mending Ibu makan Nak, nasinya. Ibu juga lapar’.

Pada akhirnya, kita hanya memberi ancaman kosong. Semakin sering kita memberi ancaman kosong, semakin hancurlah nilai kita di mata anak. Kata-kata yang kita ucapkan akan dianggap tidak ada harganya. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Terlebih lagi, mba Okina menyebutkan bahwa perilaku mengancam pada dasarnya menunjukkan diri yang lemah dalam perencanaan. Perencaan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga.

Instead of ‘mengancam’, saya belajar mengajak Aisya ngobrol dengan metode using choice to reach goal.

Seperti misalnya kesepakatan makan, saya suka tanya sama Aisya, “Aisya makannya mau 5 suap atau 10 suap?” kalau sudah deal, insya Allah Aisya will fulfiil her promise. Tujuannya tercapai, yaitu Aisya makan.

Untuk penggunaan gadget, Alhamdulillah Aisya bukan tipe anak yang keranjingan gadget. Dia lebih senang bermain, melakukan aktivitas fisik, mengerjakan workbook, bantu saya masak-masak di dapur dan membaca buku.

Tentang main, saya kadang bikin perjanjian dulu, “Main di rumah temannya 1 jam ya, terus kita pulang.” 

Kadang Aisya minta tambahan waktu, “5 more minutes, Mami.” Dan saya tunggu sampai 5 menit, trus dia beneran pulang. 

Metode ini saya rasakan lebih efektif, ketimbang memberi ancaman kosong.

Baca juga : THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

Disuapi Solusi

Dari yang saya baca, saya jadi tahu kalau parental coaching adalah kemampuan yang penting. Kita orang tua, kita juga seorang coach.

Sebagai coachada baiknya kita memberi bimbingan pada anak. Giving clue. Bukan selalu menyuapi solusi.

Beberapa orang tua mungkin akan bergegas membantu anaknya saat kesulitan mengerjakan sesuatu. Atau ngga sabar dengan prosesnya. Dan bahkan terlalu memanjakan.

To be honest, saya seringkali diberi solusi oleh orang tua saya dulu. Sebelum saya mengeksplor pikiran saya lebih dalam, problem already solved by my parent.

Setelah saya punya anak, dan tentunya membaca, saya jadi tahu kalau hal ini kurang baik.

Anak perlu belajar memecahkan masalahnya sendiri. Kegiatan mencari pemecahan ini akan melatih diri mereka menjadi anak yang percaya diri dan kreatif. Karena solusi dari sebuah tantangan bisa jadi lebih dari satu.

Catatannya adalah, ketika anak masih perlu dibimbing ya dibimbing, jangan di biarkan begitu saja. Perhatikan daya memahaminya juga usianya 🙂

Saya suka merasa kagum dengan solusi-solusi yang Aisya beri. Misalnya waktu kami melakukan eksperimen “Cloud In A Jar”. Untuk membentuk awan dalam toples, kami memerlukan beberapa bahan seperti, toples, korek api, air panas dan es batu.

Kami kumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, namun sayangnya tidak ada korek api di rumah!

“Aisya, tanpa korek api, kita ngga bisa bikin cloud in a jar. Aisya ada ide ngga pakai apa untuk pengganti korek apinya?” tanya saya.

Matanya melihat ke rak-rak yang ada di dapur dan memberi saya ide.

“Gimana kalau pakai tusuk sate aja, Mam? Kan di rak ada tusuk sate, terus api-nya dari lilin”, usulnya.

“Wah iya juga ya, oke kita coba ya pakai tusuk sate dan lilin,” saya terpukau dengan ide anak usia 4 tahun ini. Kami mencoba men-substitusi korek api dengan tusuk sate yang disulut menggunakan api dari lilin.

And you know what? we succeed making a cloud in a jar! Alhamdulillah.

Semakin dilatih untuk memecahkan masalah, Aisya semakin kreatif. Ada saja alternatif solusi yang ia ajukan saat kami menghadapi tantangan.

IMG_20180417_201132

Alright Moms, itulah 7 kesalahan dalam pengasuhan anak yang masiiiih BISA BANGET kita perbaiki. Asal kita mau terus berlatih, coba terus, evaluasi lagi. Bertumbuh bersama dengan anak, tidak ada kata terlambat. Saat kita mendewasa, anak juga mendewasa.

At one point, we’ll understand each other better, I believed.

Buat yang mau tahu apa saja kesalahan lainnya, langsung baca The Secret Of Enlightening Parentingnya Mba Okina Fitriani yaa. Asli ini bacaan bergizi untuk para orang tua 🙂

Sebagai penutup, saya mau mengutip kata-kata ‘sakti’ dari Mba Okina ini.

Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

Semangat terus Moms. Cheers!

 

Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

Screenshot (42)

Alhamdulillah gigi Aisya berderet dengan rapi, tidak ompong dan berlubang, masih lumayan bersih dan putih karena gosok gigi tiap hari.

Beberapa Ibu-ibu yang berinteraksi langsung dengan Aisya kadang bertanya, “Aisya ngga suka makan cokelat ya? Gigi-nya bagus.”

Atau

“Aisya, mah bagus gigi-nya. Ga pernah makan permen ya?”

Kenyataannya Aisya sering kok makan cokelat dan permen. Aisya memang ngga pakai dot untuk minum ASI saat masih menyusu. Dot hanya saya gunakan saat minum air putih. And its not all the time. Jadi bisa dibilang jarang sekali.

Kata Ibu-ibu yang anaknya pakai dot, dot itu bikin gigi jadi kurang cantik. Entah roges, berwarna kecoklatan maupun ompong. Betul ngga Moms? please yang tahu alasan ilmiahnya ditunggu komennya ya 🙂

Kalau hipotesa soal efek samping pakai dot ini betul, berarti dengan tidak menggunakan dot sudah membuat gigi Aisya tetap kokoh hingga usia 4 tahun ya.

Saya perhatikan, teman-teman se-usia Aisya ada yang sudah ngga utuh atau mengalami problem gigi anak yang saya sebutkan tadi di atas. Namun ada juga yang masih baguuusss. Karena belum sempat ngobrol sama Ibunya teman-teman Aisya yang bergigi oke, saya mau sharing pengalaman seputar per-gigi-an ya, termasuk tips agar anak rajin gosok gigi.

Tips agar anak rajin gosok gigi ini pop-ing up karena Nyonyamalas memposting instastory yang bertanya, gimana caranya ngajarin anak gosok gigi? Betul ngga mba Ella?

PERTUMBUHAN GIGI AISYA

Screenshot (43)

Sebelum memberi tips, saya mau cerita dikit tentang pertumbuhan gigi Aisya.

Tidak seperti bayi-bayi lain yang usia 6 bulan gigi-nya sudah ada empat, dan 1 tahun itu sudah lumayan banyak, usia 6 bulan gigi Aisya seingat saya baru muncul dua. Bahkan hingga setahun rasanya masih empat.

Jadi, ada yang sempat bilang, “Aisya di usia 1 tahunan masih kaya bayi banget ya. Gigi-nya masih sembunyi.”

Alhamdulillah, saya bukan tipe Ibu yang panikan. Saya selalu memilih bertanya pada Dokter Anak dan Bidan soal tumbuh kembang anak.

Ketika saya dan suami memeriksakan Aisya ke Dsa juga ke Bidan, keduanya mengatakan, “It’s okay. Bakal gigi-nya ada. tunggu saja hingga tumbuh”.

Yang saya lakukan akhirnya menunggu dengan optimis, bahwa gigi anak saya, yang saat itu tumbuhnya lebih lambat dari bayi-bayi seusianya akan lengkap juga nantinya.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Lahir Rendah (BBLR)

Qadarullah, di usia 2 tahun, gigi-giginya mulai menghiasi rongga mulutnya. Lengkapnya mungkin usia 2 lebih ya. Bapak saya ikut menyuntikkan semangat dengan mengatakan, “Aisya nanti gigi-nya akan kuat. Seperti taji ayam, semakin lama ia tumbuh, akan semakin kuat”.

That’s make me more positive, ya meski gigi ngga bisa disamakan dengan taji, tapi analoginya masuk akal lah.

Nah pertumbuhan gigi Aisya inilah yang menurut saya jadi salah satu alasan masih bagusnya gigi Aisya di usia 4 tahun. However, pasti ada masa tanggal-nya nanti. But Thank God again, sampai saat ini ngga berlubang, ngga roges dan ngga kecoklatan warnanya.

Okey, sekarang lanjut ke tips agar anak rajin gosok gigi ya.

TIPS AGAR ANAK RAJIN GOSOK GIGI

pigeon-baby-training-tootbrush-sikat-gigi-bayi-set-3in1-lesson-123-6609-19789645-86405b751a49cfbe557b650aa144bc2f-catalog_233

Tips ini berdasarkan pengalaman pribadi kami ya. Karena yang namanya kebiasaan baik itu harus dibangun, jadi saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini dari Aisya bayi.

Kenalkan Anak Pada Konsep Gosok Gigi

Pada dasarnya, menggosok gigi adalah tindakan membersihkan gigi kita. Saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini sejak Aisya masih menyusu. Setiap kali selesai menghisap ASI, saya teteskan 1 sendok teh air putih ke lidahnya. Kata Bidan Sri, air putih ini berguna untuk menyapu ASI yang menempel pada lidah bayi. Suka lihat kan yang putih-putih nempel di lidah bayi? Nah gitu cara gosok gigi bayi 🙂

Mengenalkan Anak Pada Sikat Gigi

Saya ingat sekali. Saat gigi Aisya mulai tumbuh, meski saat itu baru 4 biji, saya sudah memberinya sikat gigi. Sikat gigi-nya yang dari silikon dan banyak jenisnya itu lho. Saya biarkan ia memegang sikat gigi lucu tersebut.

Biarkan Anak Merasa Nyaman Dengan Sikat Gigi

Setelah Aisya merasakan tekstur dari sikat giginya, saya persilakan Aisya menggosok gigi sendiri, dengan caranya sendiri. Sesuka hati Aisya, tujuannya supaya ia nyaman dulu. Disini masih belum pakai odol ya.

Ajari Anak Cara Menggosok Gigi Yang Benar

Setelah anak merasa nyaman mengenggam sikat gigi sendiri serta menyikat sesukai hati, pelan-pelan kita boleh contohkan cara menggosok gigi yang benar. Gosok gigi depan, atas-bawah dan gigi geraham. Ini yang saya beri tahu pada Aisya. Dan Aisya sudah paham, kalau saya minta ia menggosok gigi geraham, ia akan membuka mulut dan membersikan gigi bagian dalam.

Beralih Ke Sikat Gigi Lembut

Setelah gigi-nya mulai banyak, saya pilihkan sikat gigi yang sikatnya lembut. Supaya saat Aisya gosok gigi tetap nyaman, tidak merasa sakit, disikatnya juga pelan-pelan.

Memberi Odol Pada Usia 2 Tahun

Beranjak 2 tahun, ketika gigi-nya sudah lengkap, saya merasa sudah waktunya Aisya menggunakan odol. Odolnya juga yang aman jikalau tertelan. Saya pakai Pigeon rasa stroberi dan jeruk. Trus penggunaannya juga secuil, sebiji anggur lah. Kecil binggo kan?

Beralih Ke Sikat Gigi Kodomo

Jatuhnya sebut merk ya, but truly sekarang Aisya pakai Kodomo, sikat dan odolnya. Aisya suka rasa apel dan anggur. Di usia 4 tahun, sikat gigi silikon dan bersikat lembut sudah not working well lagi, sehingga sikat gigi balita lah yang Aisya butuhkan. Kalau ngga, pakai sikat yang lebih tebal dan masih lumayan lembut trus ada gambar Barbie-nya.

Rutinkan Waktu Sikat Gigi

Ini masuk ke habbit ya. Setiap mandi, usahakan untuk selalu gosok gigi. Aisya ngga susah gosok gigi, ia juga senang menggosok giginya sendiri. Kadang-kadang mau juga digosokin sama saya dan Ayahnya. Sampai saat ini metode menyikatnya masih pelan, ngga kaya orang dewasa. Odolnya juga sebesar biji jeruk.

Yang bikin Aisya hayu hayu aja saat diminta gosok gigi, bisa jadi karena dari bayi sudah saya kenalkan pada konsep gosok gigi dan Aisya merasa nyaman dengan memegang sikat gigi sendiri. Sehingga sampai sekarang ia suka gosok gigi.

Tentu ada saat tidak ideal, dimana Aisya lagi ngga mau gosok gigi. Tapi minimal sehari gosok gigi sekali.

Jelaskan Manfaat Menggosok Gigi

Sebelum masuk sekolah, bu guru akan memeriksa kuku dan gigi anak-anak. Biasanya diawali dengan pertanyaan, “Anak-anak, tahu ngga kenapa harus rajin gosok gigi?”

Anak-anak akan serentak menjawab “Supaya ngga ada kumannya, Bu!” atau “Supaya ngga sakit gigi, Bu.”

Nah, manfaat menggosok gigi ini sudah lebih bisa dipahami oleh anak usia 3-4 tahun ya. Saat kita mengucapkan berulang-ulang, bisa jadi inner voice di kepala anak lho.

To make it sound fun, dulu saya bilangnya gini ke Aisya, “Aisya tahu ngga kenapa harus gosok gigi? Kalau kita ngga gosok gigi nanti kuman-kumannya bakal berkemah di gigi Aisya. Mereka akan bikin api unggun di gigi dan membakar marshmallow. Aisya mau ngga kalau kuman-kuman berkemah di gigi Aisya?”

Aisya akan menggeleng, hehe.

Ya jelaskan sesuai daya tangkap anak ya Moms, supaya asik aja gitu.

Tips-nya cukup dulu ya! Step-nya yang jelas :

  • Bikin anak nyaman dulu dengan memegang sikat gigi dan menggosok gigi sendiri sesuka hati
  • Ajari anak cara menggosok gigi yang benar dengan mencontohkan
  • Beri secuil odol saat usianya sudah 2 tahun, gunakan odol yang aman
  • Ajak untuk menggosok gigi setiap hari, disiplin tapi caranya juga harus asik supaya anak senang

Nah, itu rangkumannya ya 🙂 Selamat mencoba, semoga artikel ini bermanfaat Moms.