Berkomunikasi Dengan Anak

Screenshot (113)

Akhir minggu ini kami memutuskan untuk mengajak Aisya ke bioskop. Film kartun yang kami pilih berjudul Small Foot. Alur ceritanya sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Konflik utamanya adalah miss-persepsi. Para yeti menganggap “small foot” – panggilan untuk manusia – adalah monster. In the other hand, manusia-manusia pun menganggap yeti itu monster

What should we do?” tanya Migo pada seluruh yeti di Himalaya, ia meminta pendapat bagaimana agar kesalahan pahaman ini bisa diluruskan

We have to COMMUNICATE,” jawabnya sendiri. Akhirnya para yeti menuruni gunung, mendekat ke pemukiman manusia. They try to communicate dengan bahasa tubuh bahwa mereka bukan monster dan ingin berteman dengan manusia.

Tentu ceritanya ga se-simpel ini, lebih menarik dan lagu-lagunya enak 🙂 Film yang recommended buat anak-anak. Buat yang pengen nonton selengkapnya, silakan kunjungi bioskop bersama keluarga yaa.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Here I just want to share the highlight.

Komunikasi itu penting, namun kadang tidak mudah dilakukan. Betul banget sih menurut saya, salah satu jalan keluar untuk meluruskan sebuah miss-persepsi adalah dengan berkomunikasi. Untuk bisa berkomunikasi, kita memerlukan hati yang terbuka, telinga yang mau mendengar dan lidah yang bisa ditahan sejenak dari buru-buru mengeluarkan komentar/judgement, also eye contact.

So, who likes communicating? I do!

I communicate a lot with my daughter. Kemarin pagi, kami membahas lagi apa yang diobrolkan semalam. We have a long conversation and its not an easy one. It was very deep even for me.. And that’s just me. I took many minutes to listen, to explain, to calm her rather than ask her to stop talking about what she wants to talk.

Tentu saja kalau sudah kepanjangan waktu diskusinya, dan kami perlu mengerjakan yang lain, saya  akan katakan, “Sudah dulu ya bahas ini, kita lanjutkan lagi nanti,”. Nanti itu bisa besok, bisa nanti malam.

Kadang ketika seorang anak sedang tertarik pada sebuah topik, ia akan terus-menerus bertanya dan membahasnya. Sebagai orang dewasa kadang kita menunjukkan sikap yang kurang proaktif, seperti,

“Kan kita udah bahas ini kemarin, kok dibahas lagi sih?”

“Ini kan sudah pernah dijelaskan, memang belum paham?”

“Kamu kok nanya-nanya terus tentang hal ini? Udah dong, bosen, bahas yang lain yuk?”

Hihi, kadang saya juga suka tergelitik melontarkan kalimat tersebut, namun sebisa mungkin saya tahan. Saya ingin mengerti apa yang ada di kepala anak saya. Cara berpikir orang dewasa dan anak kan berbeda ya.

Buat saya, kalau Aisya masih penasaran akan sesuatu dan dia membahasnya berhari-hari, saya akan ladeni. Saya sadar, saya memiliki kesabaran yang cukup untuk diskusi dengannya, jadi selama masih bisa, saya akan tuntaskan obrolannya sampai ia betul-betul paham.

Pertanyaan Aisya itu kadang ada yang mudah dijawab, tapi kadang ada yang daleeem banget sampai bikin saya mikir, sadar trus nangis sendiri. Seperti pertanyaan yang Aisya tanyakan kemarin-kemarin..

“Mami, nanti kan Aisya bakal tumbuh besar, terus jadi Ibu-ibu seperti Mami. Trus nanti lama-lama Aisya jadi nenek-nenek. Kalau udah jadi nenek-nenek, Aisya bakal meninggal ngga?”

“Mami, surga itu seperti apa? kalau sudah meninggal Aisya bakal masuk surga ngga?”

Dan banyak lagi pertanyaan filosofis yang bikin hati saya bergetar saat menjelaskan. Apakah semua yang meninggal akan masuk surga? Bagaimana caranya agar bisa masuk surga? Surga itu seperti apa? Gimana supaya di surga bisa ngumpul lagi sekeluarga?

Oh, I’m in tears. It’s really really deep.

Saya jelaskan berulang-ulang, disesuaikan dengan usia Aisya. Saya katakan, kalau selama hidup kita jadi orang baik, rajin solat,  ngaji, nurut sama orang tua, suka berbagi dengan teman, insya Allah kita akan masuk surga.

Gitu.

Pertanyaan Aisya dan jawaban yang saya beri juga sangat menggugah hati, mengingatkan diri sendiri : harus prepare untuk kehidupan di akhirat nanti..

Baca juga : ANTARA LOMBA, PIALA, KOLABORASI, & CITA-CITA #CAREERDAY

Saya ingin ceritakan satu hal lagi. ini berhubungan dengan miss-persepi dan solusinya masih dengan berkomunikasi.

Di hari libur, saat kami hanya istirahat di rumah saja, Aisya biasa bermain dengan temannya. Nah, hari itu Aisya main di rumah tetangga. Tiba-tiba ia pulang membawa jajanan dan sejumlah uang yang tidak sedikit.

“Aisya jajan pakai uang siapa? tadi kan ngga dikasih uang waktu mau main?” tanya Ayahnya.

“Pakai uang Aisya! Aisya dikasih uang sama teman, terus jajan bareng,” jelas Aisya.

“Masa pakai uang teman jajannya? Ayo kembalikan uangnya ke teman,” ucap Ayahnya.

Aisya bersikeras mengatakan itu uangnya, ia diberi uang oleh temannya dan merasa uang itu miliknya. Saat Ayahnya mulai marah, saya coba ajak Aisya ngobrol.

Let’s hear from her side,” ajak saya. Saya ingin benar-benar tahu kronologi kejadiannya dan memahami cara berpikir Aisya. Setelah dijelaskan dengan tenang tanpa judgement, saya dan Ayahnya jadi lebih paham.

Lalu saya datangi rumah tetangga sambil membawa uang, untuk mengganti uang yang tadi Aisya pakai jajan. We made it clear.

Aisya cerita, saat main di rumah temannya ini, sang teman mengajaknya jajan. Aisya bilang, ia tidak dibekali uang oleh Mami dan temannya ini langsung mengambil dompet dari lemari. Ia mengeluarkan selembar 20.000-an dan memberikannya untuk Aisya. Lalu mereka pergi jajan bersama dengan langkah riang.

Anak-anak kecil ini belum mengerti nominal uang, apakah Rp. 20.000 itu besar atau tidak, apa bedanya dengan Rp. 2000. Bahkan mungkin mereka juga belum tahu kalau yang berwarna biru dan merah itu sangat besar.

Bagi Aisya dan temannya, it’s like sharing, tapi berbaginya bukan makanan melainkan uang. As simple as that. 

Ibu temannya pun mengatakan ia kaget, anaknya mengambil dompet dari lemari. Saat itu Ibunya sedang solat. Biasanya sang anak minta izin dulu, boleh tidak ambil uang di dompetnya. Berhubung Ibunya sedang solat jadi tidak ada orang yang bisa dimintai izin di rumah. Dan karena uang di dalam dompetnya itu adalah uangnya yang terkumpul saat lebaran, jadi teman Aisya merasa fine-fine saja berbagi uang dengan Aisya. She is very generous ya 🙂

Saya meminta maaf pada Ibunya, begitu pun sebaliknya. Tak lupa uang pengganti saya berikan juga. Lalu kami berdua berpesan pada anak-anak kami, lain kali, kalau mau jajan minta izin dulu ya pada Ibu-nya masing-masing.

Rasanya menyenangkan bisa meluruskan miss-persepsi dengan berkomunikasi. Dalam kasus ini saya berkomunikasi dulu dengan anak saya, saya pahami cara ia berpikir agar tidak salah persepsi. Ternyata bisa kan memberitahu anak dengan memahaminya terlebih dahulu.

Baca juga : FITRAH ANAK ITU BAIK

Oia, salah satu efek positif dari komunikasi yang saya lakukan dengan anak, ia pun berkembang jadi anak yang komunikatif.

Saat homevisit, gurunya mengatakan, di sekolah Aisya itu :

  • Berani mengungkapkan pendapatnya (termasuk perasaannya baik pada teman/gurunya). Contohnya, saat ia merasa sedih akibat perbuatan salah seorang temannya, Aisya akan mengakatakannya, “Aku sedih, kalau kamu bicara seperti itu,” misalnya.
  • Suka bertanya untuk hal-hal yang masih ingin digali. Aisya tidak takut ketika memiliki pendapat yang berbeda dari yang lain.
  • Teguh terhadap apa yang ia yakini. Selain itu, Aisya suka mengingatkan jika ada temannya yang berbuat yang tidak baik.

Keberanian mengemukakan pendapat dan rasa percaya dirinya ini bisa jadi lahir dari diskusi yang sering kami lakukan. Aisya bisa mengeluarkan argumentasinya ketika diskusi dengan saya – I’m open to hear her thought

Ketika kita mendengarkannya, otomatis anak merasa dihargai pendapatnya, Ia merasa berharga dan kepercayaan dirinya muncul.

Saya merasa berkomunikasi adalah cara yang baik untuk saling memahami. Dengan berkomunikasi pun sebetulnya kita bisa menghindari kemarahan yang tidak diperlukan. Yes it took longer time, but I prefer this way 🙂 COMMUNICATING ❤

Antara Lomba, Piala, Kolaborasi, & Cita-Cita #CareerDay

 

Seorang psikolog mengatakan, “Di usia dini, sebaiknya anak-anak diperkenalkan pada kolaborasi dan kerjasama. Bukan kompetisi.”

Penting sekali bagi anak-anak untuk menghargai keunikan dirinya dan temannya. Jika dari usia dini hawa kompetisi sudah terasa, maka anak-anak akan berkembang untuk bersaing. Padahal aspek kolaborasi dan kerjasama penting sekali untuk diasah sejak kecil.

Kira-kira begitu yang saya tangkap dari tulisan sang psikolog. Forgive me, saya lupa nama psikolognya, hihi.

Saya lebih senang saat anak saya perform dan bukan berlomba. Saat perfom, baik itu menari, nyanyi, ngaji, dan ditonton banyak orang, otomatis anak perlu belajar untuk berani, percaya diri dan menangani rasa malu/gugupnya.

Soft skill tersebut juga dibutuhkan dalam menjalani hidup ke depannya.

Sama hal-nya dengan lomba, anak-anak perlu menunjukkan soft skill yang baik. Bedanya dinilai, ada pengumuman dan saat pembagian piala, akan ada saja anak yang menangis karena tidak mendapatkannya.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM & TANGISAN

Saya akan ceritakan masa kecil saya sedikit. Dari mulai TK hingga SMA, saya sering ikut lomba. Waktu masih kecil, biasanya nenek/orang tua saya yang mendaftarkan saya ke berbagai lomba, sepert : peragawati, saritilawah, fashion show busana muslim, lomba pencak silat dan mewarnai.

Dari sekian banyak lomba, seringnya saya merasa mudah untuk menang walaupun tidak selalu juara I.

Selain itu, saya juga sering melakukan pertunjukkan, seperti menari balet di Teater Baranangsiang maupun mempertujukan pencak silat bunga dan disaksikan banyak orang.

Entah karena memang suka atau karena sudah sering ikut lomba, saya lanjut ikut lomba-lomba saat SMP dan SMA. Namun saya memilih lomba yang saya kuasai. Seperti story telling dan menyanyi. Selain itu, saya tetap perform, yaitu menari tradisional di berbagai acara.

Saya berkembang menjadi anak yang biasa ditonton oleh publik, I even like it!

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Uniknya, meskipun saya pernah mengikuti berbagai lomba, saya tidak begitu ingin mengikutikan Aisya ke lomba-lomba. Entahlah, konsep menang kalah yang kadang mengundang tangisan nampaknya saya anggap sebagai hal yang beresiko untuk hati Aisya (dan saya).

Dan karena saya lebih menyukai konsep performing yang memadukan antara keberanian, percaya diri dan kolaborasi.

Aisya sudah pernah perform, ia menari bersama anak-anak lain di Gathering ITBMotherhood dimana anak-anak ini harus belajar kompak, dan mengingat gerakan tariannya.

 

Anak-anak berlatih di depan cermin, its really fun! Teh Inday sangat piawai dalam melatih gerakan, bikin anak nyaman di ruangan dan saat istirahat diselingi dengan permainan-permainan yang membuat mereka semakin akrab.

Hari H, anak-anak semangat sekali menari di atas panggung diiringi lagu “Aku Bisa”. Usai perform, anak-anak ini masuk ke backstage dan masing-masing diberi bingkisan. All happy. Oia videonya bisa dilihat disini ya Aku Bisa “Hari Ibu”

Awalnya saya tertarik, saat guru di sekolah mengatakan akan diadakan Career Day dan anak-anak boleh memakai kostum profesi yang mereka inginkan. Namun ketika gurunya menambahkan bakal ada Lomba Fashion Show, saya langsung deg-deg-an.

“Apa ngga pawai/parade aja, Bu dan ngga dilombakan?” tanya saya. Dan gurunya menjawab, awalnya akan ada parade dulu baru lomba.

Qodarullah, Aisya suka ikut lomba. Tapi lomba yang pernah diikuti hanya skala sekolah dan lingkungan rumah seperti lomba 17-an. Itu juga saya pulang lebih awal tanpa menunggu pengumuman (kabuuur).

Lalu saya tanya pada anak saya, “Jasmine profesinya mau apa? desainer aja ya?” tanya saya, maklum emak hemat pengennya ga beli/sewa kostum. Jadi terpikir memadu-padankan pakaian yang ada di lemari saja.

Koordinator orang tua murid di kelas juga sempat memberi ide, “Jadi traveler aja Jasmine. Nanti bawa kamera pocket dan topi pantai,”. Wah boleh juga nih idenya.

Buuut, Jasmine maunya jadi dokter.

Hmm, berhubung masih istirahat di rumah pasca demam (Jasmine-nya), saya yang tidak bisa bawa motor jauh-jauh minta tolong ke kakeknya untuk membeli jas dokter cilik di Kosambi. Alhamdulillah dapat info dari grup Ibu-ibu ada jas dokter yang harganya sangat terjangkau di Kosambi (lebih murah dari online shop yang kisarannya 100rb-an).

Pas datang, ternyata jas-nya kebesaran. Well, it gives me an idea untuk bikin jas kedodorannya terlihat seperti long blazer. Saya jahit bagian belakang sedikit, melipat bagian lengan yang kepanjangan, membuat lambang palang merah dari kertas lipat kemudian ditempel ke saku dan menyematkan name tag “DOKTER JASMINE” di sisi kanan baju.

Saya pilihkan ia over all berwarna kuning cerah, kerudung bunga-bunga, memakaikan kacamata lucu dan melengkapi tampilannya dengan sepatu kaca plastik yang menyala ketika diinjak.

And she ready to go!

Sebenarnya hari itu Jasmine agak moody, namun sampai sekolah, ketemu teman-teman, ceria lagi deh Alhamdulillah. Teman-teman di sekolah memakai kostum yang lucuuu-lucuuu, gagah, unik, bikin gemeees 🙂

Seusai parade, ada Bapak dan Ibu Polisi yang memberi penyuluhan. Anak laki-laki yang memakai pakaian polisi sontak antusian dan ramai-ramai foto bersama. Terus, datang Ibu Dokter yang membawa peralatan dokter, anak-anak banyak sekali yang bertanya.

 

Nah beres parade dan penyuluhan, lomba fashion show-nya dimulai. Yang pertama lomba adalah anak-anak kober.

Sambil menunggu giliran, saya dekati Jasmine, “Masih mau ikut lomba?” tanya saya. Jasmine mengangguk.

“Kalau gitu, nanti senyum ya pas fashion show. Jangan lupa salam. Tapi yang terpenting Jasmine have fun aja ya sama teman-teman,” pesan saya. Aaah I just want her to enjoy walking in catwalk and play with her friends..

Saat tiba giliran Jasmine, tentunya saya beri support. She seem shy, still smiling but not making any pose or turning around. Salam juga engga sama jurinya padahal bu guru sudah kasih arahan untuk menyalami juri.

ia bilang, “Jasmine malu Mami. Dilihat sama orang-orang yang Jasmine belum kenal. Ibu-ibunya banyak banget tadi,”. Saya katakan tidak apa-apa dan minta ia bermain lagi dengan teman-temannya.

When it comes to playing, feelingnya kembali positif. Di kelasnya hampir semua anak perempuan jadi dokter, hanya ada seorang yang jadi koki. Anak laki-lakinya ada yang jadi polisi, tentara, pilot. So I think, they playing a role, and that’s good. 

Menjelang dzuhur, sudah banyak yang pulang. Jasmine masih asik bermain dengan Liam. Kejar-kejaran, manjat-manjat, naik perosotan, ayunan. Saya biarkan saja. Saya memang tipe Ibu yang senang saat Jasmine bermain dengan bahagia bersama temannya.

Menurut saya, bermain dengan teman yang sebaya itu sehat untuk kebutuhan jiwanya.

Dan tiba-tiba terdengar suara mic. Wah bakal ada pengumuman pemenang nih. Saya kira tidak akan diumumkan hari itu.

Bu guru mengajak siswa kelas yang tersisa, Jasmine dan Liam untuk mendengarkan pengumuman. I told Jasmine, kalau tidak menang gapapa yaa. Untungnya Jasmine sudah hafal theme song Asian Games.

Ia pun bernyanyi, “Kalau menang itu prestasi, kalau kalah jangan frustasi. Kalau menang solidaritas, kalau kalah sportifitas,”.

Saya acungi jempol, baguuus kalau pun kalah kita sportif aja yaa.

Pemenang Kober sudah diumumkan. Ada beberapa kategori dan saya tidak begitu memperhatikan.

Tiba-tiba, “Jasmine. Ayo Jasmine maju ke depan,” ucap MC. Saya, gurunya dan Jasmine beradu pandang. Jasmine yang dipangku oleh gurunya diajak berdiri. Rasanya kami bertiga tidak menyangka kalau Jasmine akan memenangkan kategori Juara Ter-Keren haha.

It’s simply because saya lihat yang lain banyak yang kostumnya lebih oke, kece, totalitas.

Saya ucapakan selamat pada Jasmine dan memeluknya. Jasmine menggengam pialanya dan bertanya, “Kok Jasmine yang menang?”

Gurunya menjawab, “Karena Jasmine tadi berani saat jalan di catwalk dan senyum,”.

Ia menoleh ke saya. Untuk melengkapi jawaban Bu Guru, saya katakan, “Karena hari ini, untuk lomba kali ini, Allah mengizinkan Jasmine yang menang,”.

Hanya itu jawaban yang terlintas di kepala saya.

Kenapa Jasmine yang menang dan bukan temannya yang lain yang kostumnya lebih maksimal? saya tidak tahu. The only thing that I know is that Allah let her win.

“Allah Maha Baik ya Jasmine, yuk kita berterimakasih pada Allah. Alhamdulillah,” ucap saya.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring

Hikmah lain yang saya petik dari career day ini adalah, kadang saat anak-anak kita bercita-cita jadi apa, namun ketika dewasa cita-cita kita berubah. Saya pribadi memiliki cita-cita yang belum terwujud. Meski begitu saya tetap bahagia akan pilihan saya menjadi IRT,  sambil menulis saat ini.

Dengan semua bekal ‘manggung’ saya, ketika kuliah akhirnya saya tahu mau berkarir di bidang apa. Public Speaking it is! 

Saya sudah mantap menekuni bidang ini. Saya mulai siaran di radio dan menjadi pemandu acara untuk event internasional dan nasional. I enjoy being a Master Of Ceremony. Bahkan sempat apply untuk S2 di bidang Public Relations.

BUT. For now I can’t pursue it 🙂 Kini saya menikmati menghabiskan waktu di rumah, mengasuh anak, dan menulis. But who knows maybe one day I am awake, or set another goal. It’s never too old to reach a dream kan ya.

What I learn from this life is, bakat dan minat itu tidak cukup untuk membuat seseorang meraih impiannya. Harus ada konsistensi dan usaha yang gigih. Put a lot of effort to reach the dreams.

Untuk Jasmine, saya tidak akan mengatur ia harus jadi apa saat dewasa. Saat ini ia ingin jadi dokter, tapi kalau sudah besar Jasmine ingin jadi desainer, saya akan support. Mau jadi pengusaha, saya supportMau jadi apa pun boleh, as long as she passionate about it.

Bahkan saat memilih jadi IRT, kita pun harus passionate menjadi IRT-nya 🙂

Karena saya melihat orang-orang sukses adalah orang yang menekuni apa yang menjadi passionnya. Konsisten mengasah dan membangun dirinya dalam passionnya. Be an expert di passionnya.

Okay, ini aja yang mau saya bagikan di #parentshare kali ini. Kalau Ibu-ibu dulu cita-citanya jadi apa, dan sekarang sudah tercapai belum? silakan sharing di komen yaa.

 

 

 

 

 

 

SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Screenshot (105)

Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya minta dibelikan es krim. Saya bilang, “Boleh sayang beli es krim,TAPI kalau sudah ngga pilek ya.”

“Ngga mau! Mau sekarang!” ucapnya.

“Kalau sekarang kan masih flu, nanti ya kalau sudah sembuh kita beli es krim,” saya bujuk lagi.

“Mami kok gitu? Mami kok jahil sama Aisya?” protesnya.

Mami ngga jahil, justru Mami sayang sama Aisya. Kalau sekarang Mami belikan es krim, nanti makin banyak ingusnya. Kalau Mami jahil ya Mami belikan aja supaya Aisya tambah meler,” saya coba beri pengertian.

Aisya keukeuh ingin es krim, bahkan saat naik motor pun badannya goyang-goyang ke kiri dan kanan sambil nangis dan teriak. Saya mencoba menyikapinya dengan tenang, “Aisya boleh teruskan nangisnya di rumah ya. Sekarang kita lagi di motor, berbahaya kalau Aisya goyang-goyang. Dan kalau Aisya teriak nanti dikira Mami nyulik Aisya.”

Tangisnya tidak berhenti, sampai rumah masih merengek, “Kenapa Mami ga belikan es krim? Biasanya kalau Aisya nangis Mami belikan,”.

Gumaman Aisya menyadarkan saya kalau tangisannya ia gunakan sebagai ‘senjata’. Logikanya sudah berjalan dengan cukup baik. ketika masuk akhirnya perhatiannya teralihkan. Dan Aisya sudah tidak membahas es krim lagi.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

 

Saya pun mencoba merefleksikan kejadian hari itu. Saya sedang mencoba konsisten terhadap ucapan saya. Beli es krim boleh saat kondisi tubuh sedang sehat, kalau lagi flu jangan dulu.

Tapi di sisi lain saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘Apakah bersikap konsisten itu harus terlihat menyiksa anak?’ Sampai anak ceurik ngagoak bahasa sundanya mah. Ada ngga sih cara yang lebih baik dalam mempertahakan sebuah rule agar meminimalisir air mata? hihi. (Yaa, karena baru kali ini Aisya nangis seperti itu di jalan dan cukup mengirishati saya. Sampai-sampai saya berpikir kenapa nggak saya kabulkan saja yaa permintaannya).

Alhamdulillah esoknya saya berkesempatan sharing sama teh @fetri_ayyasha dan beliau bilang, saat kita menerapkan teori parenting perlu lihat sikon juga. Ternyata kita tidak bisa menelan apa yang kita baca mentah-mentah lalu mengaplikasikannya, harus menyesuaikan dengan factual condition juga.

Pas main ke rumah Icha (teman di sekolah, anak dari teh Fetri), lagi-lagi Mamang es krim lewat. Saya sudah sounding lagi ke Aisya untuk tidak beli es krim. Tapi Aisya melihat temannya beli.

Berkaca pada kejadian kemarin, saya pun memikirkan win win solution. Saya katakan, “Okay, boleh makan es krim tapi sedikiiit yaa. Atasnya saja,”.

Entah karena soundingnya berhasil atau memang sudah kenyang, Aisya hanya makan setengah batang es dung-dungnya. Saya lega, cara ini lebih efektif ketimbang cara sebelumnya.

Esok paginya, saya mencoba sounding lagi pada Aisya. “Aisya, nanti pulang sekolah kan mau main ke rumah teman lagi, jadi ngga beli es krim ya. Kita langsung ke rumah teman Aisya aja ya!”.

Aisya mengiyakan tanpa berargumen terlebih dahulu. Dan saat pulang sekolah pun tidak ada drama es krim lagi. Aisya berpegangan dengan temannya dan bermain bersama di rumah temannya ini.

Baca juga :

7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Dari kejadian ini saya belajar bahwa sounding ke anak itu tidak bisa sekali jadi atau tiba-tiba dengan harapan anak akan langsung menuruti perkataan/permintaan kita.

Sounding pada anak perlu dilakukan beberapa kali juga harus bertahap.

Seperti cara saya agar Aisya tidak membeli es krim saat masih flu. Dengan memberi keringanan dan diskusi yang panjang (yang tentunya menguras emosi) akhirnya Aisya mau memahami kenapa harus puasa makan es krim dulu jika kondisi tubuh belum fit.

 

Pengalaman ini jadi bekal yang saya bawa di hari-hari berikutnya. Saya belajar lebih sabar dalam memberi pengertian, dengan intonasi yang diusahakan halus. Salah satunya sounding dalam rangka membujuk Aisya supaya mau minum obat penurun panas ketika demam.

Aisya menolak minum obat karena pahit, lalu saya jelaskan, “Memang agak pahit, tapi ada rasa anggurnya juga kan dan Aisya tahu kan ini supaya Aisya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh boleh beli es krim lagi,”.

“Teman-teman Aisya juga saat sakit minum obat. Aisya juga pasti berani minum obat,”.

“Okay, sekarang Mami beri pilihan, mau diminum sedikit-sedikit trus minum air mineral atau sekali teguk lalu minum banyak air?”, saya beri ia pilihan yang goal-nya itu sama-sama minum obat dan tidak ada opsi tidak minum obat.

“Mami sayang sama Aisya, Mami ingin Aisya sembuh,”.

Terus-terus sounding, prosesnya cukup memakan waktu (serta emosi) namun berhasil juga membuat Aisya memegang sendiri cup berisi sirup pereda demam dan menelannya hingga tersisa sedikit lalu menyedot aqua gelas. Subhanallah.

Told her at the begining, “Mami mau Aisya minum obat tapi dengan persetujuan Aisya,”. Saya tidak mau memaksa, saya minta ia berhenti menangis dulu saat mau minum obat, mengelus dada dan mengarahkannya untuk menarik nafas dan membuangnya beberapa kali dulu sampai ready minum obat.

Dan ternyata saat minum obat ia tenang, tidak ada gerakan ingin memuntahkan, malah rileks Aisyanya.

Rasa obat tidak seburuk perkiraan Aisya, dan minum obat tidak perlu seperti dicekokin (saya hanya minta Aisya minum obat jika diperlukan, bila batuk pilek biasanya di-boost dari buah-buahan).

And its done, just like that. Mood Aisya kembali baik dan saya membacakan cerita yanglucu untuk mengantarnya tidur. Ia menyimak, tertawa lalu terlelap. Alhamdulillah.

6 Kekuatan Yang Bakal Bikin Rumah Tangga Kita Menjadi Perahu Ke Surga

Ada beberapa hal yang membuat pernikahan disebut Mitsaqan Ghaliza, antara lain karena :

  • Pernikahan adalah ibadah paling lama. Ibadah solat berkisar 5-10 menit setiap pelaksanaannya. Di bulan Ramadan, kita shaum dari mulai terbit fajar hingga matahari terbenam selama 30 hari di bulan Ramadan. Ibadah Haji yang wajib hanya 6 hari. Sementara pernikahan, takbir awalnya adalah saat ijab qabul. Lalu kapan selesainya? yaitu saat maut memisahkan keduanya. Ini menjadikan pernikahan sebagai ibadah terlama. Aktivitas dalam rumah tangga, bernilai pahala. Meskipun sesederhana menawarkan teh pada suami saat pulang, memuji masakan istri dan bersenda gurau dengan anak-anak.
  • Rumah tangga merupakan sekolah paling lama. Bagaimana tidak? jika seseorang menempuh pendidikan hingga doktor menghabiskan waktu 22 tahun, bisa jadi usia pernikahan kita lebih dari itu. Tengok saja usia pernikahan kakek nenek serta orang tua kita, bisa jadi sudah lebih dari 40 tahun.
  • Rumah tangga adalah kebersamaan paling lama. Setelah lulus kuliah, biasanya kita akan tinggal terpisah dari orang tua, baik nge-kos, ngontrak rumah dan lain-lain. Hingga akhirnya kita menikah dan membangun keluarga bersama pasangan hingga akhir usia. Bisa jadi kita hanya tinggal bersama ayah ibu selama belasan atau duapuluhan tahun, namun dengan pasangan lebih dari itu.
  • Rumah tangga adalah tools. Tools untuk apa? tidak lain untuk menyatukan dua keluarga, dua budaya yang berbeda. Kita dan pasangan membawa ‘gerbong’ masing-masing saat menikah. Oleh karena itu, dibutuhkan perjuangan untuk menerima kekurangan dan kelebihan keluarga masing-masing.

Keempat hal ini disampaikan oleh Pak Aam Amirudin dalam kajian Family Tiil Jannah yang diadakan oleh Modern Mom Bandung. Masjid TSM siang itu pun dipenuh Ibu-ibu yang hadir bersama anak dan segelintir suami. Tak heran kajian ini mendapat aundience yang luar biasa, karena tak sedikit yang juga ingin mendengarkan lantunan syahdu surat Ar-Rahman dari Muzzamil Hasballah, termasuk saya.

Ini kali kedua saya mendengarkan ceramah Pak Aam. Beliau selalu menyelingi materi berbobotnya dengan guyonan. Interkasi yang beliau lakukan dengan bertanya langsung pada beberapa audience juga membuat kajian kali ini terasa hidup. One way tapi nyampe. Berasa terlibat aja gitu.

Baca juga : 7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Selanjutnya, Pak Aam menggiring kita untuk mencari tahu, bagaimana sih caranya agar rumah tangga kita yang sakral ini bisa menjadi perahu ke surga? ternyata ada 6 kekuatan dalam pernikahan yang harus terus dijaga dan dipupuk. Mau tahu apa saja? Silakan simak rangkuman di bawah ini yaa.

6 Kekuatan Yang Bakal Bikin Rumah Tangga Kita Menjadi Perahu Ke Surga

1. Kekuatan Agama

Harus ada kekuatan agama dalam rumah tangga, karena hanya agamalah yang akan mempertemukan kita dengan keluarga kita di akhirat nanti. Kuncinya apa agar seluruh keluarga kita berkumpul di surga nanti? hanya satu, yaitu soleh.

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

– QS. Ar-Ra’du : 23

2. Kekuatan Cinta

Dalam hadist riwayat Al-Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.”

Mencintai pasangan atas dasar cinta pada Allah adalah yang paling benar, nyaman dan aman menurut saya. Sehingga buah cinta kita akan berujung pada Allah.

3. Kekuatan Do’a

Do/a adalah senjata orang muslim. Bingkailah rumah tangga kita dengan do’a agar bisa sampai ke surga.

4. Kekuatan Kata-kata

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

– QS. An-nisa : 9

Jangan rusak rumah tangga kita dengan kata-kata yang melukai hati pasangan. Jagalah lisan kita agar tidak menyakiti perasaan suami/istri/anak-anak kita. Tahanlah lidah kita jika hendak marah dan latihkan bibir untuk lebih sering mengucapkan kata-kata yang baik dan positif.

Bila ingin menegur pasangan, pujilah dulu kebaikan-kebaikannya, baru berikan saran dengan cara yang baik.

Misalnya saat istri memasak namun rasanya kurang enak, tidak perlu memberi komentar, “Ini masakah apa? tidak enak! saya sampai mau muntah.”

Cobalah katakan ini, “Bu, terimakasih ya sudah masakin buat Bapak. Ini sayur apa Bu? sayur asem tapi rasanya kok manis ya.” Dengan begini mungkin sang istri akan sadar kalau tadi asemnya lupa dimasukkan, hihi.

5. Kekuatan Ilmu

Baik suami, istri maupun anak, perlu sama-sama belajar. Terus belajar dan belajar. Ingat kembali, rumah tangga adalah sekolah paling lama.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

– QS. Mujadilah : 11

Setelah menikah, saya masih membaca buku-buku tentang pernikahan, baik tentang psikologi suami istri maupun hak dan kewajiban suami-istri dalam Islam. Ketika mengasuh anak, saya membekali diri dengan berbagai literatur baik untuk urusan tumbuh kembang maupun psikologi anak. Kini di tahun ke-5 pernikahan kami, saya masih berupaya mencerna sebuah buku berjudul “How To Turn Your Mate Into Soulmate”.

Saya merasa, dengan banyak membaca jadi lebih tahu dan terbantu memahami berbagai hal. Juga melalui sharing dan menghadiri majelis ilmu jika bisa.

6. Kekuatan Sejarah

(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,

– QS. Asy-Syu’ara’ : 83-85

Pak Aam memilih ayat terakhir ini untuk mengambil hikmah dari Nabi Ibrahim as. Dan beliau mengajak kita untuk menjadi sejarah indah bagi pasangan kita. Beliau bilang, “Tanyakan pada diri sendiri, saat kita wafat nanti, akankah kita menjadi sejarah indah bagi pasangan kita?”

Jika ingin menjadi sejarah indah, maka kita pun perlu berhati-hati dan melakukan upaya-upaya agar banyak hal baik terjadi dalam rumah tangga kita.

Okay Moms, itu dia 6 kekuatan yang harus terus dihidupkan dalam rumah tangga kita. Buat saya, meski simpel tapi pesan dari Pak Aam nempel di hati. Semoga kita bisa menerapkannya dalam rumah tangga kita ya! Amiin.

Terakhir, saya mau ucapkan terimakasiiiih banyak buat komunitas Modern Mom Bandung yang udah memberi doorprize dan goodie bag. Baru setahun tapi followersnya sudah banyak, event-eventnya keren-keren pulak. Salut deh 🙂 Hope another year will be more great Moms.

 

Indonesia Keracunan Asap Rokok? Apakah Menaikan Harga Rokok Solusinya?

Screenshot (2)

“Pak, kok merokok? Merokok kan ngga baik,” ucap Aisya dengan polosnya saat seorang bapak merokok di hadapan kami. Uniknya sang Bapak tersenyum malu sambil mengusap rambutnya, lalu nyengir dan ngeloyor pergi.

Sebetulnya saya kurang enak sama bapak tersebut meski saya terganggu dengan asap rokok, namun saya belum pernah mengutarakan ketidaknyamanan sama perokok. Lebih sering menghindar saja.

Then it just take me back to the year 2005. Saat itu seorang teman bercerita bahwa rokok di Inggris lumayan mahal dan beliau juga bilang, rokoknya beda, yang di Indonesia lebih enak. For a moment, saya pikir mungkin standar rokok di luar lebih ketat, dan di Indonesia lebih ‘longgar’ dalam artian, kandungannya lebih banyak dan harganya lebih murah.

Dengan harga yang sangat terjangkau ini, no wonder banyak perokok berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Nah, Rabu, 20 Juni 2018 lalu, saya mendengarkan siaras di Radio KBR.ID, tepatnya program radio ruang publik KBR yang membahas tentang JKN, Kelompok Miskin dan Rokok Harus Mahal. Topik yang menarik ini disampaikan langsung oleh Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH – beliau adalah Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI dan Yurdhina Melissa dari Planning and Policy Specialist Center For Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISID).

Apa yang dibahas ternyata menjawab tebakan saya. Betul lho, rokok di luar negeri itu lebih mahal! Di Singapura harga rokok Rp. 130.000,- per bungkus. Kemudian di Australia hargaya Rp. 250.000,-. Harga rokok di negara-negara ini sengaja dibuat tinggi agar anak-anak tidak mudah tergiur membeli rokok.

Karena rokok di Indonesia terbilang murah, ada beberapa orang yang tinggal di LN kemudian titip dibelikan rokok Indonesia untuk dibawa ke LN, karena disana harganya lebih mahal.

Sayangnya, di Indonesia, jumlah perokok paling banyak justru berada di kelompok yang kemampuan ekonominya kurang mampu seperti pekerja petani, tukang ojek, pekerja kasar, dan lain-lain, begitu papar Profesor Dr Hasbullah. Dari survei yang dilakukan oleh SUSENAS terdapat data bahwa sekitar 70% lebih masyarakat dari kelompok miskin mengkonsumsi rokok.

Kelompok yang ekonominya kurang mampu di Indonesia ini dikatakan sangat generous oleh Profesor Dr Hasbullah karena memberi sumbangan yang besar pada konglomerat rokok. Karena berdasarkan data dari SUSENAS, justru masyarakat yang pendidikan dan pendapatannya lebih tinggi mengkonsumsi rokok lebih sedikit.

Mba Yurdhina turut melengkapi data ini dengan mengatakan bahwa 22% per kapita income mingguan masyarakat yang ekonominya kurang mampu in itu dipakai untuk mengkonsumsi rokok. Dan pada tahun 1997-2004 terdapat hasil analisis yang menunjukkan, adanya penurunan harga beli daging dan ikan di keluarga kelompok miskin karena kepala keluarganya lebih mengalokasikan uang untuk membeli rokok.

Dari pengamatan pribadi, bahkan ada bapak-bapak yang memilih makan sehari sekali dan sisanya merokok, ditemani kopi. Ya kalau dipikir-pikir lagi, kurang sehat ya pola hidup seperti itu. Bapak-bapak ini sudah kecanduan rokok nampaknya, pokoknya beli rokok tidak boleh terlewat dalam daftar belanjaan sang istri.

And you know what? 70% pasien BPJS memiliki riwayat akibat merokok. Mayoritas peserta JKN adalah perokok, lebih parahnya lagi mayoritas peserta yang ekonominya kurang mampu juga perokok. Hal ini mengakibatkan klaim di BPJS-nya tinggi. Artinya penyakit akibat klaim JKN tinggi.

Hal ini menjadi masalah besar, karena dana JKN yang terbatas terserap oleh orang yang terlanjur kecanduan rokok. Perlu ada pengendalian agar dana JKN tetap memadai hingga tahun-tahun yang akan datang. Salah satu cara yang dipandang efektif adalah dengan menaikkan harga rokok.

Saya sepakat jika harga rokok dinaikkan, meski timbul pula kekhawatiran apakah nanti akan muncul tren baru? Seperti lifestyle merokok adalah gaya hidup orang berduit? Salah seorang penelepon juga bilang, walaupun harga rokok naik 100 kali lipat, ia akan tetap membeli karena ia sudah merokok dari mulai rokok harganya Rp. 1.200/batang hingga sekarang.

Tapi ternyata target dari kampanye rokok harus mahal ini adalah untuk mencegah munculnya perokok pemula.

Dengan harga rokok yang murah saat ini, ada lho anak-anak SD yang coba-coba membeli dengan uang jajannya. Dari awal mencoba ini kan yang sebetulnya gerbangnya, bakal diteruskan lagi atau tidak. Jujur saya beberapa kali melihat anak usia SD bahkan balita merokok.

Mungkin karena di keluarganya tidak ada policy soal merokok, atau karena orang tuanya perokok ya sudah ikutan saja. Tiap orang tua minta dibelikan rokok sebungkus ke warung, jadi semacam pelegalan bahwa sang anak boleh merokok.

Jika harga rokok mahal #rokok50ribu, harapannya tidak ada lagi anak usia sekolah yang menjajankan uangnya untuk membeli rokok. Dan dengan harga rokok yang tinggi, semoga saja para kepala rumah tangga yang merokok bisa berpikir ulang untuk membeli sebatang rokok. Pastinya tidak bakal berhenti total, tapi mengurangi sedikit-sedikit.

Lalu uangnya bisa digunakan untuk membeli sayur dan protein atau kebutuhan pokok lainnya.

Yuk jangan jadikan rokok kebutuhan pokok, jangan jadikan merokok gaya hidup. Semoga dengan upaya ini, Indonesia bisa jadi lebih sehat yaa. Amiin.

Buat teman-teman yang mendukung #rokokharusmahal, silakan klik https://www.change.org/p/jokowi-smindrawati-rokokharusmahal-naikkan-harga-rokok-menjadi-50-ribu-bungkus dan tanda tangani petisinya. Saya sudah lhooo 🙂

Fitrah Anak Itu Baik

Screenshot (1)

Beberapa waktu lalu saya berpikir, gimana ya supaya anak bisa selalu nurut sama orang tuanya? Aisya anak yang baik, tapi ada kalanya saat saya meminta sesuatu, ia tidak langsung melakukan apa yang saya minta.

Ini wajar harusnya, cuma kadang saya over-thinking. Salah saya dimana ya? padahal saya sudah membersamainya hampir setiap saat, mengasuhnya sejak lahir, tapi kenapa yaa ada waktu-waktu Aisya lebih memilih mendengarkan instingnya sendiri atau mengikuti kata orang lain?

Lalu secara tidak sengaja saya melihat insta-story teman saya Dhefimaputri dan mendapatkan jawaban yang mencerahkan, kira-kira begini kalimatnya,

“Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak dan lain-lain. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus jadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.” – Ustadzah Poppy Yuditya

Wah, ini jawaban dari pertanyaan saya banget! saya jadi sadar kalau apa-apa itu ya balik ke Allah. Sekarang PR saya adalah mencari ridho Allah. Caranya gimana? salah satunya adalah dengan terus berdo’a dan taat pada Allah SWT. Dan taat pada suami.

Lalu saya mencoba mengingat kembali fitrahnya anak yang dipaparkan dalam buku The Secret Of Enlightening Parenting.  Saya mau merangkum 6 fitrah tersebut di tulisan kali ini ya.

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Judul asli di bukunya adalah “Manusia Lahir Fitrah, Yaitu Membawa Potensi Baik”. Saya re-write menjadi “Fitrah Anak Itu Baik”.

FITRAH ANAK ITU BAIK

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Apalagi Allah SWT telah melengkapi otak manusia dengan bagian yang tidak dimiliki oleh mahluk mana pun, yaitu Pre-Frontal Cortex (PFC).

PFC ini memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol.

Kemudian Mba Okina menjabarkan 7 fitrah manusia, yaitu :

  • Fitrah Iman. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Wujud nyata potensi iman adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku yang dilarang Tuhan.
  • Bertahan Hidup. Manusia dikarunia peranti dasar untuk bertahan hidup. Inisiasi dini untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir adalah bukti konkret dari potensi ini. Bayi lahir dibekali Tuhan dengan refleks menghisap, mengenggam, berenang, menjerit ketika lapar, dan lain-lain (Hoffman, Paris & Hall, 1994).
  • Belajar Hingga Piawai. Setiap anak adalah pembelajar tangguh sejati yang pantang menyerah. Saat anak belajar jalan, meski berkali-kali jatuh, ia akan selalu berusaha bangun dan mencoba berjalan kembali. Anak juga suka mengajukan pertanyaan terus-menerus sampai paham dan hafal. Potensi belajar hingga piawai ini menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi.
  • Kasih Sayang. Manusia lahir dengan fitrah kasih-sayang, yaitu menyayangi dan suka disayangi. Anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya sedih dan menunjukkan ekspresi bahagia ketika dibelai atau disapa dengan suara lembut. Serta akan menangis dan takut ketika mendengar suara keras atau ekspresi yang tidak menyenangkan. Dan kasih sayang ini berkaitan erat dengan hormon oksitosin yang mengatur rasa saling percaya, ketenangan, rasa aman, keinginan untuk menolong, keterikatan, kehangatan, kasih sayang dan perhatian.
  • Interaksi. Manusia dilahirkan sebagai mahluk individual dan sosial. Bayi akan merasa bahagia saat diajak berinteraksi dan sedih jika tidak ada yang menemani. Pada dasarnya, setiap manusia bisa menjalin interaksi sosial. Anak yang menarik diri, tidak mau bergaul dan berkomunikasi, bisa dipastikan memiliki pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dari hasil interaksi sebelumnya atau mengalami ganguan tumbuh kembang tertentu.
  • Fitrah Seksualitas. Manusia dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan.
  • Tanggung Jawab. Ketika pertama kali anak memecahkan barang, dengan jujur ia bercerita sambil berusaha membenahi. Namun kadang respon orang tua yang kurang mengenakan (marah) membuat mereka berpikir bahwa jujur itu berbahaya dan tanggung jawab mereka tidak dihargai. Fitrah manusia adalah bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, dan sebagai orang tua kita perlu jeli melihat potensi ini.

Ketujuh potensi di atas berusaha saya ingat-ingat kembali. Bahwa fitrah anak (bahkan kita) itu baik. Jadi kita selalu bisa kembali pada kebaikan. No wonder  kalau di usia yang sudah ‘matang’ seseorang berubah/kembali ke fitrah. Karena bibit-nya sudah ada.

Saat anak kita menunjukkan sikap yang belum sesuai dengan yang kita inginkan, kita perlu berlatih untuk memilah respon, agar anak tidak malah menjauh dari fitrahnya.

Sekian dulu sharing singkat malam ini, wallahualam bishowab. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 

 

Simple Ramadan Decoration

Screenshot (51)
Have I told you that I’m pretty excited this Ramadan?
Selain buku antologi cerita anak saya yang akan terbit di Ramadan ini, bulan suci ini juga saya lebih bersemangat untuk mengenalkan Ramadan pada Aisya.

“Bagi siapa puasa saat bulan Ramadan
karena iman dan mengharap pahala dari Allah
maka dosa masa lalu akan diampuni”

[HR. Bukhari]

We started by decorating our home to heat up the Ramadan vibes. To remind everyone in the house that this is a month of joyful and blessing, we pick “Happy Ramadan” rather than other sentence.

Kemudian saya memilihkan buku bacaan bernuansa Ramadan pada Aisya dan berniat untuk mengikutkan Aisya pada sanlat anak. Pelaksanaannya hanya seminggu kok di Masjid dekat rumah, semoga Aisya semangat ya! Ia bilang ingin ngaji pakai mic di Masjid.

Oia, bahas dikit buku mayor pertama saya ya, judulnya Semarak Idul Fitri. Buku anak edukatif ini berisi cerita tentang perayaan Idul Fitri yang menarik, unik dan berbeda-beda di 20 negara. Lengkap dengan fakta unik dan game aktivitas menjadikan buku terbitan Ziyad ini pilihan yang pas untuk menemani hari-hari menuju lebaran atau saat mudik.

Saya sempat posting ulasan dan promo-nya minggu lalu. Sekarang masa PO sudah berakhir, tapi buat Ibu-ibu yang mau baca review-nya boleh banget dong.

Silakan mampir ke : Buku Anak Edukatif – Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara

Okay sekarang lanjut ke dekorasi Ramadan di rumah kami. It’s very very simple.

Ada beberapa hiasan yang kami buat, diantaranya :

  • “Happy Ramadan” Greeting
  • Gantungan Bintang – Bulan dan Matahari
  • A Picture Of Us Doing Umroh

Sekarang saya mau perlihatkan foto dan berbagi cerita cara membuatnya ya 🙂

“HAPPY RAMADAN” GREETING

Screenshot (49)

Happy Ramadan greeting terdiri atas 12 huruf yang saya tulis dalam potongan skecth book lalu ditempelkan ke kertas lipat. Sketch book dan kertas lipat ini pemberian dari tante-nya Aisya yang sudah tidak dipakai lagi.

Nah, untuk membuat kartu-kartu huruf ini, kami hanya membutuhkan alat dan bahan di bawah ini.

Alat dan Bahan :

  1. Sketch Book 1 lembar, bisa juga menggunakan buku gambar/karton.
  2. Kertas lipat berbagai warna, ukuran sedang.
  3. Spidol boardmaker warna biru. hijau, merah, dan hitam.
  4. Selotip kertas, saya pakai yang warna krem.
  5. Benang wol warna pink mix putih.
  6. Gunting bergerigi.
  7. Double tip.

Cara Membuat :

  1. Potong sketch book berbentuk persegi panjang. Usahakan agar ukurannya sama, mungil tapi muat untuk menulis huruf. Untuk memotong kertasnya, saya pakai gunting bergerigi.
  2. Tulis huruf, saya menggunakan spidol boardmaker warna-warni agar tulisannya terlihat jelas.
  3. Tempelkan ke kertas lipat, rekatkan dengan double tip. Dengan posisi, kertas lipat seperti ketupat.
  4. Lipat ujung atas kertas lipat yang berbentuk segitiga ke belakang.
  5. Gantungan di benang wol yang sudah digunting dan ditempelkan ke dinding dengan selotip kertas. Lalu tata hingga terlihat proporsional.

Gimana, simpel, hemat dan lumayan kece kan?

Gantungan Bintang – Bulan – Matahari

Setelah kami memasang ucapan “Happy Ramadan”, hari Jum’at Aisya tiba-tiba mengajak saya membuat bintang-bintang seperti yang ia lakukan di sekolah.

Aha! langsung saja kami bikin hiasan lagi. Dalam membuat gantungan ini kami menggunakan cetakan roti agar bentuknya bisa bagus. Let’s move to the step.

Alat dan Bahan :

  1. Kertas lipat ukuran sedang dan besar.
  2. Cetakan roti.
  3. Pensil untuk menggambar.
  4. Gunting bergerigi dan gunting biasa.
  5. Benang wol warna pink mix putih dan putih.
  6. Selotip kertas untuk menempelkan bintang, bulan dan matahari ke benang wol.

Cara Membuat :

  1. Lipat kertas menjadi 4 bagian dengan ukuran yang sama.
  2. Taruh cetakan roti di atas kertas, kemudian mulailah menggambar menggunakan pensil.
  3. Setelah beres menggambar, gunting kertas lipatnya. Tadaaa! langsung dapat 4 bentuk yang ukurannya hampir sama. Saya pakai gunting bergerigi agar lebih nyeni.
  4. Ambil sehelai benang wol, rekatkan bintang, bulan dan matahari dengan selotip kertas ke benang wol.
  5. Terakhir gantungan di tempat yang eye catchy.

Saya memilih untuk menggantungkannya di rak buku Aisya yang berada di ruang keluarga, karena ruangan ini tempat kami paling sering bercengkrama. Ditambah background rak yang berwarna putih, bintang – bulan – mataharinya jadi lebih terlihat cantik.

Kami membuat 2 gantungan, yang satunya lagi lebih panjang. Awalnya mau kami gantung di atas TV, tapi untuk sementara saya gantung dulu di pintu kaca geser. Fyi, rumah saya memadukan dua cat, abu dan putih. Mengadopsi desain scandinavian home ceritanya, hihi.

Baca juga : TAMAN MUNGIL AISYA #SCANDINAVIANHOME

A Picture Of Us Doing Umroh

Screenshot (44)

Umroh-nya belum, memvisualisasikan saja dulu. Hopefully segera ya! Amiin.

Ini adalah gambar  yang kami buat tahun lalu. Saya cukup memasukkan ke dalam bingkai foto dan memajangnya di atas rak buku.

A picture of us doing umroh ini melengkapi dekorasi Ramadan kami. Isn’t it looks sweet?

Alright, kalau Ibu-ibu solihah pada bikin hiasan apa aja nih untuk menghidupkan suasana Ramadan di rumah? Ceritakan dong, siapa tahu saya mau nambah-nambah dekorasi di rumah.

Satu lagi, terimakasih yaa sudah mampir. Happy Ramadan!