Berkomunikasi Dengan Anak

Screenshot (113)

Akhir minggu ini kami memutuskan untuk mengajak Aisya ke bioskop. Film kartun yang kami pilih berjudul Small Foot. Alur ceritanya sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Konflik utamanya adalah miss-persepsi. Para yeti menganggap “small foot” – panggilan untuk manusia – adalah monster. In the other hand, manusia-manusia pun menganggap yeti itu monster

What should we do?” tanya Migo pada seluruh yeti di Himalaya, ia meminta pendapat bagaimana agar kesalahan pahaman ini bisa diluruskan

We have to COMMUNICATE,” jawabnya sendiri. Akhirnya para yeti menuruni gunung, mendekat ke pemukiman manusia. They try to communicate dengan bahasa tubuh bahwa mereka bukan monster dan ingin berteman dengan manusia.

Tentu ceritanya ga se-simpel ini, lebih menarik dan lagu-lagunya enak 🙂 Film yang recommended buat anak-anak. Buat yang pengen nonton selengkapnya, silakan kunjungi bioskop bersama keluarga yaa.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Here I just want to share the highlight.

Komunikasi itu penting, namun kadang tidak mudah dilakukan. Betul banget sih menurut saya, salah satu jalan keluar untuk meluruskan sebuah miss-persepsi adalah dengan berkomunikasi. Untuk bisa berkomunikasi, kita memerlukan hati yang terbuka, telinga yang mau mendengar dan lidah yang bisa ditahan sejenak dari buru-buru mengeluarkan komentar/judgement, also eye contact.

So, who likes communicating? I do!

I communicate a lot with my daughter. Kemarin pagi, kami membahas lagi apa yang diobrolkan semalam. We have a long conversation and its not an easy one. It was very deep even for me.. And that’s just me. I took many minutes to listen, to explain, to calm her rather than ask her to stop talking about what she wants to talk.

Tentu saja kalau sudah kepanjangan waktu diskusinya, dan kami perlu mengerjakan yang lain, saya  akan katakan, “Sudah dulu ya bahas ini, kita lanjutkan lagi nanti,”. Nanti itu bisa besok, bisa nanti malam.

Kadang ketika seorang anak sedang tertarik pada sebuah topik, ia akan terus-menerus bertanya dan membahasnya. Sebagai orang dewasa kadang kita menunjukkan sikap yang kurang proaktif, seperti,

“Kan kita udah bahas ini kemarin, kok dibahas lagi sih?”

“Ini kan sudah pernah dijelaskan, memang belum paham?”

“Kamu kok nanya-nanya terus tentang hal ini? Udah dong, bosen, bahas yang lain yuk?”

Hihi, kadang saya juga suka tergelitik melontarkan kalimat tersebut, namun sebisa mungkin saya tahan. Saya ingin mengerti apa yang ada di kepala anak saya. Cara berpikir orang dewasa dan anak kan berbeda ya.

Buat saya, kalau Aisya masih penasaran akan sesuatu dan dia membahasnya berhari-hari, saya akan ladeni. Saya sadar, saya memiliki kesabaran yang cukup untuk diskusi dengannya, jadi selama masih bisa, saya akan tuntaskan obrolannya sampai ia betul-betul paham.

Pertanyaan Aisya itu kadang ada yang mudah dijawab, tapi kadang ada yang daleeem banget sampai bikin saya mikir, sadar trus nangis sendiri. Seperti pertanyaan yang Aisya tanyakan kemarin-kemarin..

“Mami, nanti kan Aisya bakal tumbuh besar, terus jadi Ibu-ibu seperti Mami. Trus nanti lama-lama Aisya jadi nenek-nenek. Kalau udah jadi nenek-nenek, Aisya bakal meninggal ngga?”

“Mami, surga itu seperti apa? kalau sudah meninggal Aisya bakal masuk surga ngga?”

Dan banyak lagi pertanyaan filosofis yang bikin hati saya bergetar saat menjelaskan. Apakah semua yang meninggal akan masuk surga? Bagaimana caranya agar bisa masuk surga? Surga itu seperti apa? Gimana supaya di surga bisa ngumpul lagi sekeluarga?

Oh, I’m in tears. It’s really really deep.

Saya jelaskan berulang-ulang, disesuaikan dengan usia Aisya. Saya katakan, kalau selama hidup kita jadi orang baik, rajin solat,  ngaji, nurut sama orang tua, suka berbagi dengan teman, insya Allah kita akan masuk surga.

Gitu.

Pertanyaan Aisya dan jawaban yang saya beri juga sangat menggugah hati, mengingatkan diri sendiri : harus prepare untuk kehidupan di akhirat nanti..

Baca juga : ANTARA LOMBA, PIALA, KOLABORASI, & CITA-CITA #CAREERDAY

Saya ingin ceritakan satu hal lagi. ini berhubungan dengan miss-persepi dan solusinya masih dengan berkomunikasi.

Di hari libur, saat kami hanya istirahat di rumah saja, Aisya biasa bermain dengan temannya. Nah, hari itu Aisya main di rumah tetangga. Tiba-tiba ia pulang membawa jajanan dan sejumlah uang yang tidak sedikit.

“Aisya jajan pakai uang siapa? tadi kan ngga dikasih uang waktu mau main?” tanya Ayahnya.

“Pakai uang Aisya! Aisya dikasih uang sama teman, terus jajan bareng,” jelas Aisya.

“Masa pakai uang teman jajannya? Ayo kembalikan uangnya ke teman,” ucap Ayahnya.

Aisya bersikeras mengatakan itu uangnya, ia diberi uang oleh temannya dan merasa uang itu miliknya. Saat Ayahnya mulai marah, saya coba ajak Aisya ngobrol.

Let’s hear from her side,” ajak saya. Saya ingin benar-benar tahu kronologi kejadiannya dan memahami cara berpikir Aisya. Setelah dijelaskan dengan tenang tanpa judgement, saya dan Ayahnya jadi lebih paham.

Lalu saya datangi rumah tetangga sambil membawa uang, untuk mengganti uang yang tadi Aisya pakai jajan. We made it clear.

Aisya cerita, saat main di rumah temannya ini, sang teman mengajaknya jajan. Aisya bilang, ia tidak dibekali uang oleh Mami dan temannya ini langsung mengambil dompet dari lemari. Ia mengeluarkan selembar 20.000-an dan memberikannya untuk Aisya. Lalu mereka pergi jajan bersama dengan langkah riang.

Anak-anak kecil ini belum mengerti nominal uang, apakah Rp. 20.000 itu besar atau tidak, apa bedanya dengan Rp. 2000. Bahkan mungkin mereka juga belum tahu kalau yang berwarna biru dan merah itu sangat besar.

Bagi Aisya dan temannya, it’s like sharing, tapi berbaginya bukan makanan melainkan uang. As simple as that. 

Ibu temannya pun mengatakan ia kaget, anaknya mengambil dompet dari lemari. Saat itu Ibunya sedang solat. Biasanya sang anak minta izin dulu, boleh tidak ambil uang di dompetnya. Berhubung Ibunya sedang solat jadi tidak ada orang yang bisa dimintai izin di rumah. Dan karena uang di dalam dompetnya itu adalah uangnya yang terkumpul saat lebaran, jadi teman Aisya merasa fine-fine saja berbagi uang dengan Aisya. She is very generous ya 🙂

Saya meminta maaf pada Ibunya, begitu pun sebaliknya. Tak lupa uang pengganti saya berikan juga. Lalu kami berdua berpesan pada anak-anak kami, lain kali, kalau mau jajan minta izin dulu ya pada Ibu-nya masing-masing.

Rasanya menyenangkan bisa meluruskan miss-persepsi dengan berkomunikasi. Dalam kasus ini saya berkomunikasi dulu dengan anak saya, saya pahami cara ia berpikir agar tidak salah persepsi. Ternyata bisa kan memberitahu anak dengan memahaminya terlebih dahulu.

Baca juga : FITRAH ANAK ITU BAIK

Oia, salah satu efek positif dari komunikasi yang saya lakukan dengan anak, ia pun berkembang jadi anak yang komunikatif.

Saat homevisit, gurunya mengatakan, di sekolah Aisya itu :

  • Berani mengungkapkan pendapatnya (termasuk perasaannya baik pada teman/gurunya). Contohnya, saat ia merasa sedih akibat perbuatan salah seorang temannya, Aisya akan mengakatakannya, “Aku sedih, kalau kamu bicara seperti itu,” misalnya.
  • Suka bertanya untuk hal-hal yang masih ingin digali. Aisya tidak takut ketika memiliki pendapat yang berbeda dari yang lain.
  • Teguh terhadap apa yang ia yakini. Selain itu, Aisya suka mengingatkan jika ada temannya yang berbuat yang tidak baik.

Keberanian mengemukakan pendapat dan rasa percaya dirinya ini bisa jadi lahir dari diskusi yang sering kami lakukan. Aisya bisa mengeluarkan argumentasinya ketika diskusi dengan saya – I’m open to hear her thought

Ketika kita mendengarkannya, otomatis anak merasa dihargai pendapatnya, Ia merasa berharga dan kepercayaan dirinya muncul.

Saya merasa berkomunikasi adalah cara yang baik untuk saling memahami. Dengan berkomunikasi pun sebetulnya kita bisa menghindari kemarahan yang tidak diperlukan. Yes it took longer time, but I prefer this way 🙂 COMMUNICATING ❤

Advertisements

Antara Lomba, Piala, Kolaborasi, & Cita-Cita #CareerDay

 

Seorang psikolog mengatakan, “Di usia dini, sebaiknya anak-anak diperkenalkan pada kolaborasi dan kerjasama. Bukan kompetisi.”

Penting sekali bagi anak-anak untuk menghargai keunikan dirinya dan temannya. Jika dari usia dini hawa kompetisi sudah terasa, maka anak-anak akan berkembang untuk bersaing. Padahal aspek kolaborasi dan kerjasama penting sekali untuk diasah sejak kecil.

Kira-kira begitu yang saya tangkap dari tulisan sang psikolog. Forgive me, saya lupa nama psikolognya, hihi.

Saya lebih senang saat anak saya perform dan bukan berlomba. Saat perfom, baik itu menari, nyanyi, ngaji, dan ditonton banyak orang, otomatis anak perlu belajar untuk berani, percaya diri dan menangani rasa malu/gugupnya.

Soft skill tersebut juga dibutuhkan dalam menjalani hidup ke depannya.

Sama hal-nya dengan lomba, anak-anak perlu menunjukkan soft skill yang baik. Bedanya dinilai, ada pengumuman dan saat pembagian piala, akan ada saja anak yang menangis karena tidak mendapatkannya.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM & TANGISAN

Saya akan ceritakan masa kecil saya sedikit. Dari mulai TK hingga SMA, saya sering ikut lomba. Waktu masih kecil, biasanya nenek/orang tua saya yang mendaftarkan saya ke berbagai lomba, sepert : peragawati, saritilawah, fashion show busana muslim, lomba pencak silat dan mewarnai.

Dari sekian banyak lomba, seringnya saya merasa mudah untuk menang walaupun tidak selalu juara I.

Selain itu, saya juga sering melakukan pertunjukkan, seperti menari balet di Teater Baranangsiang maupun mempertujukan pencak silat bunga dan disaksikan banyak orang.

Entah karena memang suka atau karena sudah sering ikut lomba, saya lanjut ikut lomba-lomba saat SMP dan SMA. Namun saya memilih lomba yang saya kuasai. Seperti story telling dan menyanyi. Selain itu, saya tetap perform, yaitu menari tradisional di berbagai acara.

Saya berkembang menjadi anak yang biasa ditonton oleh publik, I even like it!

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Uniknya, meskipun saya pernah mengikuti berbagai lomba, saya tidak begitu ingin mengikutikan Aisya ke lomba-lomba. Entahlah, konsep menang kalah yang kadang mengundang tangisan nampaknya saya anggap sebagai hal yang beresiko untuk hati Aisya (dan saya).

Dan karena saya lebih menyukai konsep performing yang memadukan antara keberanian, percaya diri dan kolaborasi.

Aisya sudah pernah perform, ia menari bersama anak-anak lain di Gathering ITBMotherhood dimana anak-anak ini harus belajar kompak, dan mengingat gerakan tariannya.

 

Anak-anak berlatih di depan cermin, its really fun! Teh Inday sangat piawai dalam melatih gerakan, bikin anak nyaman di ruangan dan saat istirahat diselingi dengan permainan-permainan yang membuat mereka semakin akrab.

Hari H, anak-anak semangat sekali menari di atas panggung diiringi lagu “Aku Bisa”. Usai perform, anak-anak ini masuk ke backstage dan masing-masing diberi bingkisan. All happy. Oia videonya bisa dilihat disini ya Aku Bisa “Hari Ibu”

Awalnya saya tertarik, saat guru di sekolah mengatakan akan diadakan Career Day dan anak-anak boleh memakai kostum profesi yang mereka inginkan. Namun ketika gurunya menambahkan bakal ada Lomba Fashion Show, saya langsung deg-deg-an.

“Apa ngga pawai/parade aja, Bu dan ngga dilombakan?” tanya saya. Dan gurunya menjawab, awalnya akan ada parade dulu baru lomba.

Qodarullah, Aisya suka ikut lomba. Tapi lomba yang pernah diikuti hanya skala sekolah dan lingkungan rumah seperti lomba 17-an. Itu juga saya pulang lebih awal tanpa menunggu pengumuman (kabuuur).

Lalu saya tanya pada anak saya, “Jasmine profesinya mau apa? desainer aja ya?” tanya saya, maklum emak hemat pengennya ga beli/sewa kostum. Jadi terpikir memadu-padankan pakaian yang ada di lemari saja.

Koordinator orang tua murid di kelas juga sempat memberi ide, “Jadi traveler aja Jasmine. Nanti bawa kamera pocket dan topi pantai,”. Wah boleh juga nih idenya.

Buuut, Jasmine maunya jadi dokter.

Hmm, berhubung masih istirahat di rumah pasca demam (Jasmine-nya), saya yang tidak bisa bawa motor jauh-jauh minta tolong ke kakeknya untuk membeli jas dokter cilik di Kosambi. Alhamdulillah dapat info dari grup Ibu-ibu ada jas dokter yang harganya sangat terjangkau di Kosambi (lebih murah dari online shop yang kisarannya 100rb-an).

Pas datang, ternyata jas-nya kebesaran. Well, it gives me an idea untuk bikin jas kedodorannya terlihat seperti long blazer. Saya jahit bagian belakang sedikit, melipat bagian lengan yang kepanjangan, membuat lambang palang merah dari kertas lipat kemudian ditempel ke saku dan menyematkan name tag “DOKTER JASMINE” di sisi kanan baju.

Saya pilihkan ia over all berwarna kuning cerah, kerudung bunga-bunga, memakaikan kacamata lucu dan melengkapi tampilannya dengan sepatu kaca plastik yang menyala ketika diinjak.

And she ready to go!

Sebenarnya hari itu Jasmine agak moody, namun sampai sekolah, ketemu teman-teman, ceria lagi deh Alhamdulillah. Teman-teman di sekolah memakai kostum yang lucuuu-lucuuu, gagah, unik, bikin gemeees 🙂

Seusai parade, ada Bapak dan Ibu Polisi yang memberi penyuluhan. Anak laki-laki yang memakai pakaian polisi sontak antusian dan ramai-ramai foto bersama. Terus, datang Ibu Dokter yang membawa peralatan dokter, anak-anak banyak sekali yang bertanya.

 

Nah beres parade dan penyuluhan, lomba fashion show-nya dimulai. Yang pertama lomba adalah anak-anak kober.

Sambil menunggu giliran, saya dekati Jasmine, “Masih mau ikut lomba?” tanya saya. Jasmine mengangguk.

“Kalau gitu, nanti senyum ya pas fashion show. Jangan lupa salam. Tapi yang terpenting Jasmine have fun aja ya sama teman-teman,” pesan saya. Aaah I just want her to enjoy walking in catwalk and play with her friends..

Saat tiba giliran Jasmine, tentunya saya beri support. She seem shy, still smiling but not making any pose or turning around. Salam juga engga sama jurinya padahal bu guru sudah kasih arahan untuk menyalami juri.

ia bilang, “Jasmine malu Mami. Dilihat sama orang-orang yang Jasmine belum kenal. Ibu-ibunya banyak banget tadi,”. Saya katakan tidak apa-apa dan minta ia bermain lagi dengan teman-temannya.

When it comes to playing, feelingnya kembali positif. Di kelasnya hampir semua anak perempuan jadi dokter, hanya ada seorang yang jadi koki. Anak laki-lakinya ada yang jadi polisi, tentara, pilot. So I think, they playing a role, and that’s good. 

Menjelang dzuhur, sudah banyak yang pulang. Jasmine masih asik bermain dengan Liam. Kejar-kejaran, manjat-manjat, naik perosotan, ayunan. Saya biarkan saja. Saya memang tipe Ibu yang senang saat Jasmine bermain dengan bahagia bersama temannya.

Menurut saya, bermain dengan teman yang sebaya itu sehat untuk kebutuhan jiwanya.

Dan tiba-tiba terdengar suara mic. Wah bakal ada pengumuman pemenang nih. Saya kira tidak akan diumumkan hari itu.

Bu guru mengajak siswa kelas yang tersisa, Jasmine dan Liam untuk mendengarkan pengumuman. I told Jasmine, kalau tidak menang gapapa yaa. Untungnya Jasmine sudah hafal theme song Asian Games.

Ia pun bernyanyi, “Kalau menang itu prestasi, kalau kalah jangan frustasi. Kalau menang solidaritas, kalau kalah sportifitas,”.

Saya acungi jempol, baguuus kalau pun kalah kita sportif aja yaa.

Pemenang Kober sudah diumumkan. Ada beberapa kategori dan saya tidak begitu memperhatikan.

Tiba-tiba, “Jasmine. Ayo Jasmine maju ke depan,” ucap MC. Saya, gurunya dan Jasmine beradu pandang. Jasmine yang dipangku oleh gurunya diajak berdiri. Rasanya kami bertiga tidak menyangka kalau Jasmine akan memenangkan kategori Juara Ter-Keren haha.

It’s simply because saya lihat yang lain banyak yang kostumnya lebih oke, kece, totalitas.

Saya ucapakan selamat pada Jasmine dan memeluknya. Jasmine menggengam pialanya dan bertanya, “Kok Jasmine yang menang?”

Gurunya menjawab, “Karena Jasmine tadi berani saat jalan di catwalk dan senyum,”.

Ia menoleh ke saya. Untuk melengkapi jawaban Bu Guru, saya katakan, “Karena hari ini, untuk lomba kali ini, Allah mengizinkan Jasmine yang menang,”.

Hanya itu jawaban yang terlintas di kepala saya.

Kenapa Jasmine yang menang dan bukan temannya yang lain yang kostumnya lebih maksimal? saya tidak tahu. The only thing that I know is that Allah let her win.

“Allah Maha Baik ya Jasmine, yuk kita berterimakasih pada Allah. Alhamdulillah,” ucap saya.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring

Hikmah lain yang saya petik dari career day ini adalah, kadang saat anak-anak kita bercita-cita jadi apa, namun ketika dewasa cita-cita kita berubah. Saya pribadi memiliki cita-cita yang belum terwujud. Meski begitu saya tetap bahagia akan pilihan saya menjadi IRT,  sambil menulis saat ini.

Dengan semua bekal ‘manggung’ saya, ketika kuliah akhirnya saya tahu mau berkarir di bidang apa. Public Speaking it is! 

Saya sudah mantap menekuni bidang ini. Saya mulai siaran di radio dan menjadi pemandu acara untuk event internasional dan nasional. I enjoy being a Master Of Ceremony. Bahkan sempat apply untuk S2 di bidang Public Relations.

BUT. For now I can’t pursue it 🙂 Kini saya menikmati menghabiskan waktu di rumah, mengasuh anak, dan menulis. But who knows maybe one day I am awake, or set another goal. It’s never too old to reach a dream kan ya.

What I learn from this life is, bakat dan minat itu tidak cukup untuk membuat seseorang meraih impiannya. Harus ada konsistensi dan usaha yang gigih. Put a lot of effort to reach the dreams.

Untuk Jasmine, saya tidak akan mengatur ia harus jadi apa saat dewasa. Saat ini ia ingin jadi dokter, tapi kalau sudah besar Jasmine ingin jadi desainer, saya akan support. Mau jadi pengusaha, saya supportMau jadi apa pun boleh, as long as she passionate about it.

Bahkan saat memilih jadi IRT, kita pun harus passionate menjadi IRT-nya 🙂

Karena saya melihat orang-orang sukses adalah orang yang menekuni apa yang menjadi passionnya. Konsisten mengasah dan membangun dirinya dalam passionnya. Be an expert di passionnya.

Okay, ini aja yang mau saya bagikan di #parentshare kali ini. Kalau Ibu-ibu dulu cita-citanya jadi apa, dan sekarang sudah tercapai belum? silakan sharing di komen yaa.

 

 

 

 

 

 

SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Screenshot (105)

Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya minta dibelikan es krim. Saya bilang, “Boleh sayang beli es krim,TAPI kalau sudah ngga pilek ya.”

“Ngga mau! Mau sekarang!” ucapnya.

“Kalau sekarang kan masih flu, nanti ya kalau sudah sembuh kita beli es krim,” saya bujuk lagi.

“Mami kok gitu? Mami kok jahil sama Aisya?” protesnya.

Mami ngga jahil, justru Mami sayang sama Aisya. Kalau sekarang Mami belikan es krim, nanti makin banyak ingusnya. Kalau Mami jahil ya Mami belikan aja supaya Aisya tambah meler,” saya coba beri pengertian.

Aisya keukeuh ingin es krim, bahkan saat naik motor pun badannya goyang-goyang ke kiri dan kanan sambil nangis dan teriak. Saya mencoba menyikapinya dengan tenang, “Aisya boleh teruskan nangisnya di rumah ya. Sekarang kita lagi di motor, berbahaya kalau Aisya goyang-goyang. Dan kalau Aisya teriak nanti dikira Mami nyulik Aisya.”

Tangisnya tidak berhenti, sampai rumah masih merengek, “Kenapa Mami ga belikan es krim? Biasanya kalau Aisya nangis Mami belikan,”.

Gumaman Aisya menyadarkan saya kalau tangisannya ia gunakan sebagai ‘senjata’. Logikanya sudah berjalan dengan cukup baik. ketika masuk akhirnya perhatiannya teralihkan. Dan Aisya sudah tidak membahas es krim lagi.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

 

Saya pun mencoba merefleksikan kejadian hari itu. Saya sedang mencoba konsisten terhadap ucapan saya. Beli es krim boleh saat kondisi tubuh sedang sehat, kalau lagi flu jangan dulu.

Tapi di sisi lain saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘Apakah bersikap konsisten itu harus terlihat menyiksa anak?’ Sampai anak ceurik ngagoak bahasa sundanya mah. Ada ngga sih cara yang lebih baik dalam mempertahakan sebuah rule agar meminimalisir air mata? hihi. (Yaa, karena baru kali ini Aisya nangis seperti itu di jalan dan cukup mengirishati saya. Sampai-sampai saya berpikir kenapa nggak saya kabulkan saja yaa permintaannya).

Alhamdulillah esoknya saya berkesempatan sharing sama teh @fetri_ayyasha dan beliau bilang, saat kita menerapkan teori parenting perlu lihat sikon juga. Ternyata kita tidak bisa menelan apa yang kita baca mentah-mentah lalu mengaplikasikannya, harus menyesuaikan dengan factual condition juga.

Pas main ke rumah Icha (teman di sekolah, anak dari teh Fetri), lagi-lagi Mamang es krim lewat. Saya sudah sounding lagi ke Aisya untuk tidak beli es krim. Tapi Aisya melihat temannya beli.

Berkaca pada kejadian kemarin, saya pun memikirkan win win solution. Saya katakan, “Okay, boleh makan es krim tapi sedikiiit yaa. Atasnya saja,”.

Entah karena soundingnya berhasil atau memang sudah kenyang, Aisya hanya makan setengah batang es dung-dungnya. Saya lega, cara ini lebih efektif ketimbang cara sebelumnya.

Esok paginya, saya mencoba sounding lagi pada Aisya. “Aisya, nanti pulang sekolah kan mau main ke rumah teman lagi, jadi ngga beli es krim ya. Kita langsung ke rumah teman Aisya aja ya!”.

Aisya mengiyakan tanpa berargumen terlebih dahulu. Dan saat pulang sekolah pun tidak ada drama es krim lagi. Aisya berpegangan dengan temannya dan bermain bersama di rumah temannya ini.

Baca juga :

7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Dari kejadian ini saya belajar bahwa sounding ke anak itu tidak bisa sekali jadi atau tiba-tiba dengan harapan anak akan langsung menuruti perkataan/permintaan kita.

Sounding pada anak perlu dilakukan beberapa kali juga harus bertahap.

Seperti cara saya agar Aisya tidak membeli es krim saat masih flu. Dengan memberi keringanan dan diskusi yang panjang (yang tentunya menguras emosi) akhirnya Aisya mau memahami kenapa harus puasa makan es krim dulu jika kondisi tubuh belum fit.

 

Pengalaman ini jadi bekal yang saya bawa di hari-hari berikutnya. Saya belajar lebih sabar dalam memberi pengertian, dengan intonasi yang diusahakan halus. Salah satunya sounding dalam rangka membujuk Aisya supaya mau minum obat penurun panas ketika demam.

Aisya menolak minum obat karena pahit, lalu saya jelaskan, “Memang agak pahit, tapi ada rasa anggurnya juga kan dan Aisya tahu kan ini supaya Aisya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh boleh beli es krim lagi,”.

“Teman-teman Aisya juga saat sakit minum obat. Aisya juga pasti berani minum obat,”.

“Okay, sekarang Mami beri pilihan, mau diminum sedikit-sedikit trus minum air mineral atau sekali teguk lalu minum banyak air?”, saya beri ia pilihan yang goal-nya itu sama-sama minum obat dan tidak ada opsi tidak minum obat.

“Mami sayang sama Aisya, Mami ingin Aisya sembuh,”.

Terus-terus sounding, prosesnya cukup memakan waktu (serta emosi) namun berhasil juga membuat Aisya memegang sendiri cup berisi sirup pereda demam dan menelannya hingga tersisa sedikit lalu menyedot aqua gelas. Subhanallah.

Told her at the begining, “Mami mau Aisya minum obat tapi dengan persetujuan Aisya,”. Saya tidak mau memaksa, saya minta ia berhenti menangis dulu saat mau minum obat, mengelus dada dan mengarahkannya untuk menarik nafas dan membuangnya beberapa kali dulu sampai ready minum obat.

Dan ternyata saat minum obat ia tenang, tidak ada gerakan ingin memuntahkan, malah rileks Aisyanya.

Rasa obat tidak seburuk perkiraan Aisya, dan minum obat tidak perlu seperti dicekokin (saya hanya minta Aisya minum obat jika diperlukan, bila batuk pilek biasanya di-boost dari buah-buahan).

And its done, just like that. Mood Aisya kembali baik dan saya membacakan cerita yanglucu untuk mengantarnya tidur. Ia menyimak, tertawa lalu terlelap. Alhamdulillah.

Fitrah Anak Itu Baik

Screenshot (1)

Beberapa waktu lalu saya berpikir, gimana ya supaya anak bisa selalu nurut sama orang tuanya? Aisya anak yang baik, tapi ada kalanya saat saya meminta sesuatu, ia tidak langsung melakukan apa yang saya minta.

Ini wajar harusnya, cuma kadang saya over-thinking. Salah saya dimana ya? padahal saya sudah membersamainya hampir setiap saat, mengasuhnya sejak lahir, tapi kenapa yaa ada waktu-waktu Aisya lebih memilih mendengarkan instingnya sendiri atau mengikuti kata orang lain?

Lalu secara tidak sengaja saya melihat insta-story teman saya Dhefimaputri dan mendapatkan jawaban yang mencerahkan, kira-kira begini kalimatnya,

“Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak dan lain-lain. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus jadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.” – Ustadzah Poppy Yuditya

Wah, ini jawaban dari pertanyaan saya banget! saya jadi sadar kalau apa-apa itu ya balik ke Allah. Sekarang PR saya adalah mencari ridho Allah. Caranya gimana? salah satunya adalah dengan terus berdo’a dan taat pada Allah SWT. Dan taat pada suami.

Lalu saya mencoba mengingat kembali fitrahnya anak yang dipaparkan dalam buku The Secret Of Enlightening Parenting.  Saya mau merangkum 6 fitrah tersebut di tulisan kali ini ya.

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Judul asli di bukunya adalah “Manusia Lahir Fitrah, Yaitu Membawa Potensi Baik”. Saya re-write menjadi “Fitrah Anak Itu Baik”.

FITRAH ANAK ITU BAIK

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Apalagi Allah SWT telah melengkapi otak manusia dengan bagian yang tidak dimiliki oleh mahluk mana pun, yaitu Pre-Frontal Cortex (PFC).

PFC ini memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol.

Kemudian Mba Okina menjabarkan 7 fitrah manusia, yaitu :

  • Fitrah Iman. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Wujud nyata potensi iman adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku yang dilarang Tuhan.
  • Bertahan Hidup. Manusia dikarunia peranti dasar untuk bertahan hidup. Inisiasi dini untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir adalah bukti konkret dari potensi ini. Bayi lahir dibekali Tuhan dengan refleks menghisap, mengenggam, berenang, menjerit ketika lapar, dan lain-lain (Hoffman, Paris & Hall, 1994).
  • Belajar Hingga Piawai. Setiap anak adalah pembelajar tangguh sejati yang pantang menyerah. Saat anak belajar jalan, meski berkali-kali jatuh, ia akan selalu berusaha bangun dan mencoba berjalan kembali. Anak juga suka mengajukan pertanyaan terus-menerus sampai paham dan hafal. Potensi belajar hingga piawai ini menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi.
  • Kasih Sayang. Manusia lahir dengan fitrah kasih-sayang, yaitu menyayangi dan suka disayangi. Anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya sedih dan menunjukkan ekspresi bahagia ketika dibelai atau disapa dengan suara lembut. Serta akan menangis dan takut ketika mendengar suara keras atau ekspresi yang tidak menyenangkan. Dan kasih sayang ini berkaitan erat dengan hormon oksitosin yang mengatur rasa saling percaya, ketenangan, rasa aman, keinginan untuk menolong, keterikatan, kehangatan, kasih sayang dan perhatian.
  • Interaksi. Manusia dilahirkan sebagai mahluk individual dan sosial. Bayi akan merasa bahagia saat diajak berinteraksi dan sedih jika tidak ada yang menemani. Pada dasarnya, setiap manusia bisa menjalin interaksi sosial. Anak yang menarik diri, tidak mau bergaul dan berkomunikasi, bisa dipastikan memiliki pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dari hasil interaksi sebelumnya atau mengalami ganguan tumbuh kembang tertentu.
  • Fitrah Seksualitas. Manusia dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan.
  • Tanggung Jawab. Ketika pertama kali anak memecahkan barang, dengan jujur ia bercerita sambil berusaha membenahi. Namun kadang respon orang tua yang kurang mengenakan (marah) membuat mereka berpikir bahwa jujur itu berbahaya dan tanggung jawab mereka tidak dihargai. Fitrah manusia adalah bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, dan sebagai orang tua kita perlu jeli melihat potensi ini.

Ketujuh potensi di atas berusaha saya ingat-ingat kembali. Bahwa fitrah anak (bahkan kita) itu baik. Jadi kita selalu bisa kembali pada kebaikan. No wonder  kalau di usia yang sudah ‘matang’ seseorang berubah/kembali ke fitrah. Karena bibit-nya sudah ada.

Saat anak kita menunjukkan sikap yang belum sesuai dengan yang kita inginkan, kita perlu berlatih untuk memilah respon, agar anak tidak malah menjauh dari fitrahnya.

Sekian dulu sharing singkat malam ini, wallahualam bishowab. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 

 

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Quote Ali Bin Abi Thalib

Saya merasa cukup beruntung mempunyai hobi baru, yaitu membaca. Terutama buku-buku seputar psikologi suami-istri dan parenting.

Semakin banyak membaca, semakin tahu kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. Makin ingin belajar memperbaiki. Makin ingin memetakan what’s important and which one is the most important. Learning and doing. Not only knowing and didn’t do anything in order to change. And never give up!

Bisa jadi, pada waktu tertentu kita melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Seperti ‘meledak’ ketika lelah fisik serta hati melanda, dan anak kebetulan lagi caper. But its not all the time, right? Tidak perlu buru-buru melabeli diri “I’m not a pretty good Mom”.

Learn, read book, practice, tried again and again.

Dengan tidak mudah menyerah, kita sudah membantu diri dan anak kita untuk berkembang. Saling memaafkan. Grow up together.

Setidaknya itu yang saya renungkan akhir-akhir ini. Anak makin besar, tantangan makin besar pula. Dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya dulu banyak yang tidak relevan lagi.

Don’t get me wrong, saya sangat menghormati orang tua saya. Dan pola asuh yang mereka terapkan cukup berhasil making me who I am today with all the values.

TAPI, anak-anak sekarang nampaknya lebih kritis dan berani daripada anak jaman baheula.  

Seperti kata-kata Ali bin Abi Thalib di atas, anak kita adalah milik zamannya. Ada baiknya, as a parent, kita juga menyesuaikan dengan zaman ini.

Kids jaman now
Parent jaman now

Memang apa saja sih kesalahan umum yang biasa kita lakukan sebagai orang tua? Dalam The Secret Of Enlightening Parenting, Mba Okina Fitriani merangkum 11 kesalahan yang biasa dilakukan dalam pengasuhan anak.

Baca juga : Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

But, I will only mention 7 things. Please take a look 🙂

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak 

Tidak Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

Kesalahan nomor wahid adalah tidak membiasakan mengambil tanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah ketika anak jatuh, ada orang tua yang memukul lantai/tanah sambil mengatakan, “Nakal ya lantainya! bikin kamu jatuh. Dah, dah dipukul tuh lantainya.”

Setelah itu, orang tua akan mengusap lutut anak dan meredakan tangisnya.

Menurut mba Okina, kata-kata yang terdengar menghibur ini malah mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya, mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain/kondisi.

And this is not good.

What we can do to fix this?

Daripada menghibur dengan cara di atas, sebagai orang tua, kita bisa mengajak anak berdiri, lalu mengajaknya main dokter-dokteran. Gantian anak jadi dokter lalu kita. Ini cara yang asik untuk meredakan tangisnya dan mengobati lukanya.

Setelah suasana kembali tenang, kita bisa mengevaluasi bersama kejadian jatuh tadi. Saya mau kasih contoh dari apa yang saya lakukan sama Aisya ya. Saya terapkan saran dari Mba Okina ini saat Aisya jatuh.

“Mamiiii sakiiiit. Lutut Aisya berdarah.”
“Barusan jatuh ya? Sok nangis dulu, boleh kok. Kalau pas Aisya jatuh dan merasa sakit, itu bagus! artinya syaraf dalam tubuh Aisya bekerja dengan baik.”
“Iya Mam.”
“Udah puas nangisnya? kita basuh pakai air dan dikasih plester ya lukanya. Supaya sembuh.”
“Iya Mam,”
“Tadi kok bisa jatuh?”
“Iya tadi Aisya lari, trus ada batu. Aisya kepeleset.”
“Ooh, gitu. Lain kali pas lari dan di depannya ada batu, supaya ngga jatuh lagi gimana caranya menurut Aisya?”
“Aisya-nya loncat!”
“Ok, loncat yaa. Ada lagi ngga yang bisa Aisya lakukan?”
“Aku larinya hati-hati.”
“Ok, next time hati-hati ya saat lari.”

Se-simpel apa pun jawabannya, hargai ya Moms. Dengan begini, anak kita akan terbiasa mengambil tanggung jawab atas peristiwa yang ia alami. Dan bukan menyalahkan batu, jalan atau orang lain 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Menanamkan Keyakinan Yang Salah

Beberapa orangtua terlihat sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak didasari riset maupun dalil yang benar. Contohnya, minum es bikin sakit perut, lari-lari bisa jatuh, hujan menyebabkan masuk angin, dan sebagainya. Ini memungkinkan anak mengalami “alergi buatan” terhadap ketiga hal di atas – begitu kata Mba Okina.

Pernah bicara seperti itu pada anak ngga Moms? saya pernah bilang “Jangan lari nanti jatuh.”

Setelah baca ini, saya mengubah kalimat saya jadi, “Hati-hati ya larinya. Jalan aja dengan langkah besar seperti  Mami. Bakal cepat sampai juga kok.” and this sound more positive to us.

Hindari juga installing wrong believe seperti ini, “Belajar dong! pelajaran ini susah lho. Nanti teman-teman kamu udah bisa, kamu belom.”

Saya sendiri prefer memotivasi Aisya dengan bilang, “Ayo dicoba, semua hal bisa kita pelajari. Aku mau berusaha! gitu kan kata bu guru.” misalnya saat Aisya mengerjakan sesuatu yang menurutnya susah.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring 🙂

Labeling

Label akan menjadi sebuah keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadar. Dear parent, let us choose the proper label 🙂

Suatu hari Aisya terus menerus bicara, ia bertanya mengenai berbagai hal dan keep asking “Kenapa Mami?” kenapa begini dan begitu. Jika jawaban yang saya beri belum detail dan bisa dicerna logikannya (Aisya logis banget anaknya), maka ia akan terus menggali jawabannya.

Saya pun nyeletuk, “Aisya, kamu cerewet ih.”

Lalu Bapak saya – the wise man – menghampiri saya, “Mbak, cerewet itu konotasinya negatif lho. Lebih baik bilang Aisya, kamu talk-active sekali ya, ini konotasinya positif.” Begitu ucap Grandpa-nya Aisya.

Dan segera saya meralat ucapan saya pada Aisya.

Tahan lidah kita untuk melabeli anak : ‘kamu bandel ya’, ‘tuh kan ngeyel’, ‘dikasi tahu malah ngga mendengarkan’. ‘kok ngga nurut sih?’ daaaan segambreng kata-kata berkonotasi negatif lainnya ya Moms. And replace it with a better words.

Saya masih belajar untuk mengerem mulut nih, biasanya kata-kata seperti ini muncul di saat ‘genting’. Pas mood positif, saya bisa lebih sabar dan bersikap proaktif pada Aisya.

Baca juga : 6 THINGS I ADORE FROM AISYA

Pelit Menggunakan Hal Ajaib

Empat hal ajaib ini pasti sudah hafal di luar kepala ya Moms :

  • Minta maaf. Saat kita (sengaja/tidak) menyakiti perasaan anak, mintalah maaf padanya. Saya suka minta maaf pada Aisya setelah saya marah padanya. Saya jelaskan juga, bahwa saya tidak suka marah, dada saya sakit ketika emosi. Lalu kami mencari solusi bersama, what we can do, supaya Mami ga marah-marah. Sesudah ngobrol, tanpa diminta, Aisya akan reflek bilang, “Maafin Aisya juga ya Mami, tadi bikin Mami marah.”
  • Mengucapkan terimakasih. Dengan sering mengucapkan terimakasih pada anakia akan merasa dihargai. Ini pengalaman pribadi ya. Dan dengan kebiasaan baik ini, anak pun akan dengan mudah mengucapkan terimakasih pada siapa pun. I thank Aisya for any little things that she did, dan saat saya hanya membacakan buku ketika ia mau tidur pun, Aisya masih sempat bilang, “Makasi ya Mami udah bacain buku untuk Aisya.” sweetest dah! Aisya juga terbiasa berterimakasih pada Ayah, kakek-nenek, paman-bibi, saudara-saudara, guru, teman-temannya, bahkan ke driver grab juga.
  • Menunjukkan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dengan ucapan, sentuhan, pelukan, ciuman dan lain-lain. Terkadang bahasa cinta melalui sentuhan ini lebih mengena di hati anak dibanding kata-kata lho. Anak yang memiliki tabungan kasih sayang yang cukup akan tumbuh dengan jiwa yang sehat, percaya diri, dan penuh empati.
  • Memuji. Kata mba Okina, latihlah telinga, mata, dan rasa untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan saat anak kita melakukan kebaikan, meski sederhana, pujilah ia. Dengan pujian yang efektif, bukan yang lebay. Kadang orang tua abai memuji hal kecil yang dilakukan sehari-hari karena menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal kecil yang sudah baik inilah, muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik yang lebih besar, jika dihargai.

Nah, jangan pelit melakukan empat hal ini ya Moms. Let’s do it, not just understand about it!

Baca juga : Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

Fokus Pada Kekurangan, Suka Mencela, Doyan Mengeluh

Kekeliruan yang ini, kata Mba Okina, berkaitan erat dengan pelitnya melakukan 4 hal ajaib di atas. Kemudian jadi cenderung fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk keluhan.

Contoh keluhan seorang Ibu :

“Kak, tuh kan PR-mu ketinggalan lagi. Masih muda kok pelupa, sih? Makannya siapkan bukunya sebelum tidur. Minggu lalu juga seperti ini kan? Kalau sudah gini kan Ibu yang repot. Ayo bereskan bukunya, jangan jadi anak pemalas!”

Kira-kira reaksi anaknya bakal gimana yaa?

Pada keluhan di atas terdapat kata ‘pelupa’ dan ‘pemalas’, lagi kata Mba Okina, kedua kata ini akan melukai konsep diri anak. Bahkan bisa jadi membentuk konsep diri yang buruk, “Saya anak pemalas, saya anak pelupa.”

Padahal Allah Swt tidak suka dengan orang yang mengutuk dan memberi gelar buruk.

Kesalahan yang dibuat anak ini sebetulnya bisa diperbaiki. Dengan suntikan semangat dari orang tua tentunya.

Masih untuk kasus lupa bawa PR ke sekolah, katakanlah,

“Kak, Ibu perhatikan kamu akan ingat membawa PR-mu kalau sebelum tidur bukunya sudah disiapkan dan dimasukkan ke tas. Ibu yakin, kamu bisa lebih baik dari hari ini.”

As for me, complaining is like burning myself. Mengeluh hanya membuat sesuatu yang buruk menjadi 1000 kali lebih buruk. Mengotori hati dan melemahkan saya. Sehingga saya lebih memilih untuk meminimalisir keluhan, dengan begini solusinya akan lebih terlihat.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Ancaman Kosong

Mba Okina mengatakan, ancaman kosong adalah kombinasi dari kebohongan, inkonsistensi dan lalai menenggakan aturan. 

Menurut saya memberi ancaman pada anak adalah cara cepat agar anak mau menuruti kita. Cara cepat saat kita kehabisan cara kreatif dalam mem-persuasi anak.

Misal nih ya, “Ayo makan, kalau ngga nasinya Ibu kasih ke kucing lho!”. Dengan begini anak tergerak untuk mengunyah makanannya.

Atau, “Berhenti main gadget! Nanti Papa buang gadget-nya ke got!”, anak yang ketakutan pun langsung memberikan gadget pada Papa-nya.

Saat kita mengancam, seringkali anak merespon dengan cepat. Permintaan/perintah kita didengar. Tapi ketika anak tak bergeming, masih keukeuh juga, akankah kita meng-eksekusi ancaman tersebut?

Pasti hati nurani akan membatin, ‘Masa dibuang gadget-nya? sayang dong, belinya kan pakai uang bukan daun’. ‘Daripada dikasih ke kucing, mending Ibu makan Nak, nasinya. Ibu juga lapar’.

Pada akhirnya, kita hanya memberi ancaman kosong. Semakin sering kita memberi ancaman kosong, semakin hancurlah nilai kita di mata anak. Kata-kata yang kita ucapkan akan dianggap tidak ada harganya. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Terlebih lagi, mba Okina menyebutkan bahwa perilaku mengancam pada dasarnya menunjukkan diri yang lemah dalam perencanaan. Perencaan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga.

Instead of ‘mengancam’, saya belajar mengajak Aisya ngobrol dengan metode using choice to reach goal.

Seperti misalnya kesepakatan makan, saya suka tanya sama Aisya, “Aisya makannya mau 5 suap atau 10 suap?” kalau sudah deal, insya Allah Aisya will fulfiil her promise. Tujuannya tercapai, yaitu Aisya makan.

Untuk penggunaan gadget, Alhamdulillah Aisya bukan tipe anak yang keranjingan gadget. Dia lebih senang bermain, melakukan aktivitas fisik, mengerjakan workbook, bantu saya masak-masak di dapur dan membaca buku.

Tentang main, saya kadang bikin perjanjian dulu, “Main di rumah temannya 1 jam ya, terus kita pulang.” 

Kadang Aisya minta tambahan waktu, “5 more minutes, Mami.” Dan saya tunggu sampai 5 menit, trus dia beneran pulang. 

Metode ini saya rasakan lebih efektif, ketimbang memberi ancaman kosong.

Baca juga : THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

Disuapi Solusi

Dari yang saya baca, saya jadi tahu kalau parental coaching adalah kemampuan yang penting. Kita orang tua, kita juga seorang coach.

Sebagai coachada baiknya kita memberi bimbingan pada anak. Giving clue. Bukan selalu menyuapi solusi.

Beberapa orang tua mungkin akan bergegas membantu anaknya saat kesulitan mengerjakan sesuatu. Atau ngga sabar dengan prosesnya. Dan bahkan terlalu memanjakan.

To be honest, saya seringkali diberi solusi oleh orang tua saya dulu. Sebelum saya mengeksplor pikiran saya lebih dalam, problem already solved by my parent.

Setelah saya punya anak, dan tentunya membaca, saya jadi tahu kalau hal ini kurang baik.

Anak perlu belajar memecahkan masalahnya sendiri. Kegiatan mencari pemecahan ini akan melatih diri mereka menjadi anak yang percaya diri dan kreatif. Karena solusi dari sebuah tantangan bisa jadi lebih dari satu.

Catatannya adalah, ketika anak masih perlu dibimbing ya dibimbing, jangan di biarkan begitu saja. Perhatikan daya memahaminya juga usianya 🙂

Saya suka merasa kagum dengan solusi-solusi yang Aisya beri. Misalnya waktu kami melakukan eksperimen “Cloud In A Jar”. Untuk membentuk awan dalam toples, kami memerlukan beberapa bahan seperti, toples, korek api, air panas dan es batu.

Kami kumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, namun sayangnya tidak ada korek api di rumah!

“Aisya, tanpa korek api, kita ngga bisa bikin cloud in a jar. Aisya ada ide ngga pakai apa untuk pengganti korek apinya?” tanya saya.

Matanya melihat ke rak-rak yang ada di dapur dan memberi saya ide.

“Gimana kalau pakai tusuk sate aja, Mam? Kan di rak ada tusuk sate, terus api-nya dari lilin”, usulnya.

“Wah iya juga ya, oke kita coba ya pakai tusuk sate dan lilin,” saya terpukau dengan ide anak usia 4 tahun ini. Kami mencoba men-substitusi korek api dengan tusuk sate yang disulut menggunakan api dari lilin.

And you know what? we succeed making a cloud in a jar! Alhamdulillah.

Semakin dilatih untuk memecahkan masalah, Aisya semakin kreatif. Ada saja alternatif solusi yang ia ajukan saat kami menghadapi tantangan.

IMG_20180417_201132

Alright Moms, itulah 7 kesalahan dalam pengasuhan anak yang masiiiih BISA BANGET kita perbaiki. Asal kita mau terus berlatih, coba terus, evaluasi lagi. Bertumbuh bersama dengan anak, tidak ada kata terlambat. Saat kita mendewasa, anak juga mendewasa.

At one point, we’ll understand each other better, I believed.

Buat yang mau tahu apa saja kesalahan lainnya, langsung baca The Secret Of Enlightening Parentingnya Mba Okina Fitriani yaa. Asli ini bacaan bergizi untuk para orang tua 🙂

Sebagai penutup, saya mau mengutip kata-kata ‘sakti’ dari Mba Okina ini.

Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

Semangat terus Moms. Cheers!

 

Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

Screenshot (42)

Alhamdulillah gigi Aisya berderet dengan rapi, tidak ompong dan berlubang, masih lumayan bersih dan putih karena gosok gigi tiap hari.

Beberapa Ibu-ibu yang berinteraksi langsung dengan Aisya kadang bertanya, “Aisya ngga suka makan cokelat ya? Gigi-nya bagus.”

Atau

“Aisya, mah bagus gigi-nya. Ga pernah makan permen ya?”

Kenyataannya Aisya sering kok makan cokelat dan permen. Aisya memang ngga pakai dot untuk minum ASI saat masih menyusu. Dot hanya saya gunakan saat minum air putih. And its not all the time. Jadi bisa dibilang jarang sekali.

Kata Ibu-ibu yang anaknya pakai dot, dot itu bikin gigi jadi kurang cantik. Entah roges, berwarna kecoklatan maupun ompong. Betul ngga Moms? please yang tahu alasan ilmiahnya ditunggu komennya ya 🙂

Kalau hipotesa soal efek samping pakai dot ini betul, berarti dengan tidak menggunakan dot sudah membuat gigi Aisya tetap kokoh hingga usia 4 tahun ya.

Saya perhatikan, teman-teman se-usia Aisya ada yang sudah ngga utuh atau mengalami problem gigi anak yang saya sebutkan tadi di atas. Namun ada juga yang masih baguuusss. Karena belum sempat ngobrol sama Ibunya teman-teman Aisya yang bergigi oke, saya mau sharing pengalaman seputar per-gigi-an ya, termasuk tips agar anak rajin gosok gigi.

Tips agar anak rajin gosok gigi ini pop-ing up karena Nyonyamalas memposting instastory yang bertanya, gimana caranya ngajarin anak gosok gigi? Betul ngga mba Ella?

PERTUMBUHAN GIGI AISYA

Screenshot (43)

Sebelum memberi tips, saya mau cerita dikit tentang pertumbuhan gigi Aisya.

Tidak seperti bayi-bayi lain yang usia 6 bulan gigi-nya sudah ada empat, dan 1 tahun itu sudah lumayan banyak, usia 6 bulan gigi Aisya seingat saya baru muncul dua. Bahkan hingga setahun rasanya masih empat.

Jadi, ada yang sempat bilang, “Aisya di usia 1 tahunan masih kaya bayi banget ya. Gigi-nya masih sembunyi.”

Alhamdulillah, saya bukan tipe Ibu yang panikan. Saya selalu memilih bertanya pada Dokter Anak dan Bidan soal tumbuh kembang anak.

Ketika saya dan suami memeriksakan Aisya ke Dsa juga ke Bidan, keduanya mengatakan, “It’s okay. Bakal gigi-nya ada. tunggu saja hingga tumbuh”.

Yang saya lakukan akhirnya menunggu dengan optimis, bahwa gigi anak saya, yang saat itu tumbuhnya lebih lambat dari bayi-bayi seusianya akan lengkap juga nantinya.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Lahir Rendah (BBLR)

Qadarullah, di usia 2 tahun, gigi-giginya mulai menghiasi rongga mulutnya. Lengkapnya mungkin usia 2 lebih ya. Bapak saya ikut menyuntikkan semangat dengan mengatakan, “Aisya nanti gigi-nya akan kuat. Seperti taji ayam, semakin lama ia tumbuh, akan semakin kuat”.

That’s make me more positive, ya meski gigi ngga bisa disamakan dengan taji, tapi analoginya masuk akal lah.

Nah pertumbuhan gigi Aisya inilah yang menurut saya jadi salah satu alasan masih bagusnya gigi Aisya di usia 4 tahun. However, pasti ada masa tanggal-nya nanti. But Thank God again, sampai saat ini ngga berlubang, ngga roges dan ngga kecoklatan warnanya.

Okey, sekarang lanjut ke tips agar anak rajin gosok gigi ya.

TIPS AGAR ANAK RAJIN GOSOK GIGI

pigeon-baby-training-tootbrush-sikat-gigi-bayi-set-3in1-lesson-123-6609-19789645-86405b751a49cfbe557b650aa144bc2f-catalog_233

Tips ini berdasarkan pengalaman pribadi kami ya. Karena yang namanya kebiasaan baik itu harus dibangun, jadi saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini dari Aisya bayi.

Kenalkan Anak Pada Konsep Gosok Gigi

Pada dasarnya, menggosok gigi adalah tindakan membersihkan gigi kita. Saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini sejak Aisya masih menyusu. Setiap kali selesai menghisap ASI, saya teteskan 1 sendok teh air putih ke lidahnya. Kata Bidan Sri, air putih ini berguna untuk menyapu ASI yang menempel pada lidah bayi. Suka lihat kan yang putih-putih nempel di lidah bayi? Nah gitu cara gosok gigi bayi 🙂

Mengenalkan Anak Pada Sikat Gigi

Saya ingat sekali. Saat gigi Aisya mulai tumbuh, meski saat itu baru 4 biji, saya sudah memberinya sikat gigi. Sikat gigi-nya yang dari silikon dan banyak jenisnya itu lho. Saya biarkan ia memegang sikat gigi lucu tersebut.

Biarkan Anak Merasa Nyaman Dengan Sikat Gigi

Setelah Aisya merasakan tekstur dari sikat giginya, saya persilakan Aisya menggosok gigi sendiri, dengan caranya sendiri. Sesuka hati Aisya, tujuannya supaya ia nyaman dulu. Disini masih belum pakai odol ya.

Ajari Anak Cara Menggosok Gigi Yang Benar

Setelah anak merasa nyaman mengenggam sikat gigi sendiri serta menyikat sesukai hati, pelan-pelan kita boleh contohkan cara menggosok gigi yang benar. Gosok gigi depan, atas-bawah dan gigi geraham. Ini yang saya beri tahu pada Aisya. Dan Aisya sudah paham, kalau saya minta ia menggosok gigi geraham, ia akan membuka mulut dan membersikan gigi bagian dalam.

Beralih Ke Sikat Gigi Lembut

Setelah gigi-nya mulai banyak, saya pilihkan sikat gigi yang sikatnya lembut. Supaya saat Aisya gosok gigi tetap nyaman, tidak merasa sakit, disikatnya juga pelan-pelan.

Memberi Odol Pada Usia 2 Tahun

Beranjak 2 tahun, ketika gigi-nya sudah lengkap, saya merasa sudah waktunya Aisya menggunakan odol. Odolnya juga yang aman jikalau tertelan. Saya pakai Pigeon rasa stroberi dan jeruk. Trus penggunaannya juga secuil, sebiji anggur lah. Kecil binggo kan?

Beralih Ke Sikat Gigi Kodomo

Jatuhnya sebut merk ya, but truly sekarang Aisya pakai Kodomo, sikat dan odolnya. Aisya suka rasa apel dan anggur. Di usia 4 tahun, sikat gigi silikon dan bersikat lembut sudah not working well lagi, sehingga sikat gigi balita lah yang Aisya butuhkan. Kalau ngga, pakai sikat yang lebih tebal dan masih lumayan lembut trus ada gambar Barbie-nya.

Rutinkan Waktu Sikat Gigi

Ini masuk ke habbit ya. Setiap mandi, usahakan untuk selalu gosok gigi. Aisya ngga susah gosok gigi, ia juga senang menggosok giginya sendiri. Kadang-kadang mau juga digosokin sama saya dan Ayahnya. Sampai saat ini metode menyikatnya masih pelan, ngga kaya orang dewasa. Odolnya juga sebesar biji jeruk.

Yang bikin Aisya hayu hayu aja saat diminta gosok gigi, bisa jadi karena dari bayi sudah saya kenalkan pada konsep gosok gigi dan Aisya merasa nyaman dengan memegang sikat gigi sendiri. Sehingga sampai sekarang ia suka gosok gigi.

Tentu ada saat tidak ideal, dimana Aisya lagi ngga mau gosok gigi. Tapi minimal sehari gosok gigi sekali.

Jelaskan Manfaat Menggosok Gigi

Sebelum masuk sekolah, bu guru akan memeriksa kuku dan gigi anak-anak. Biasanya diawali dengan pertanyaan, “Anak-anak, tahu ngga kenapa harus rajin gosok gigi?”

Anak-anak akan serentak menjawab “Supaya ngga ada kumannya, Bu!” atau “Supaya ngga sakit gigi, Bu.”

Nah, manfaat menggosok gigi ini sudah lebih bisa dipahami oleh anak usia 3-4 tahun ya. Saat kita mengucapkan berulang-ulang, bisa jadi inner voice di kepala anak lho.

To make it sound fun, dulu saya bilangnya gini ke Aisya, “Aisya tahu ngga kenapa harus gosok gigi? Kalau kita ngga gosok gigi nanti kuman-kumannya bakal berkemah di gigi Aisya. Mereka akan bikin api unggun di gigi dan membakar marshmallow. Aisya mau ngga kalau kuman-kuman berkemah di gigi Aisya?”

Aisya akan menggeleng, hehe.

Ya jelaskan sesuai daya tangkap anak ya Moms, supaya asik aja gitu.

Tips-nya cukup dulu ya! Step-nya yang jelas :

  • Bikin anak nyaman dulu dengan memegang sikat gigi dan menggosok gigi sendiri sesuka hati
  • Ajari anak cara menggosok gigi yang benar dengan mencontohkan
  • Beri secuil odol saat usianya sudah 2 tahun, gunakan odol yang aman
  • Ajak untuk menggosok gigi setiap hari, disiplin tapi caranya juga harus asik supaya anak senang

Nah, itu rangkumannya ya 🙂 Selamat mencoba, semoga artikel ini bermanfaat Moms.

 

 

THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

 

IMG_20170513_132134

There are many activities that I enjoy doing with my daughter and I believe you too. Di postingan kali ini saya bikin list kegiatan favorit yang suka saya lakukan bareng Aisya.

Apa aja? kindly check this out Moms..

MASAK

This slideshow requires JavaScript.

Alhamdulillah, saya merasa beruntung sekaligus bersyukur diberi anak perempuan yang naturally suka ingin tahu, ingin ikut, dan senang belajar memasak.

Seringnya Aisya membantu saya ketika membuat pancake, bolu, kukis, cupcake dan brownies. Ketika bikin per-kue-an, Aisya kebagian tanggung jawab untuk mengocok telur dan bahan-bahan lainnya. Untuk bikin kukis, Aisya juga ikut mencetak adonannya.

Sekarang Aisya sudah ingin memecahkan telur sendiri. Masih saya pegangi, antisipasi agar telurnya tidak pecah dan menggelosor ke lantai.

Kalau kami pakai mixer, bahan-bahan yang sudah saya takar tinggal dimasukkan saja oleh Aisya ke dalam standing mixernya. Tapi untuk membuat adonan dengan menggunakan whisk dan spatula, biasanya saya aduk lagi sampai semua bahan tercampur rata setelah Aisya kocok.

Repot ga sih masak bareng anak?

Hm, saya memang ingin melibatkan Aisya ketika saya memanggang sesuatu. Untuk masak sayur dan menu lainnya belum. Repot sih tidak terlalu, karena saya pun hanya bikin kue/kukis/cupcake yang sederhana seperti Bolu Pisang, Brownies, Kastangel, dan Almond Crispy Cheese.

Paling yang bikin suka greget adalah ketika Aisya ingin turut memasukkan bahan-bahan ke dalam mangkok. Seperti menambahkan terigu, gula dan lain-lain yang masih harus saya takar. The thing is Aisya ingin melakukannya sendiri.

Akhirnya make a deal sih, Aisya boleh menuangkan bahan lain, tapi saya takar dulu. Harusnya sudah saya siapkan per magkuk kecil ya bahan-bahannya 😀

Atau saat Aisya mengocok dengan semangat, kadang adonannya ada yang keluar dari mangkuk. Nah, disini saya suka bawel “Aisya pelan-pelan aja, look the batter is spread out to the floor,”. Kalau sudah begini Aisya seringkali menenangkan dengan bilang, “Ini gampang kok Mami, tinggal di lap aja. Tenang ya Mami, Aisya ambil tissue dulu,”.

Hahaha, melihat responnya, saya jadi tertawa malu. Kadang, anak ini memang lebih dewasa dari Emaknya.

Baru-baru ini Aisya juga rikues untuk bikin nasi goreng sendiri. Begini kira-kira dialognya..

“Mami, aku mau makan nasi goreng,” ucapnya.

“Oke, Mami masakin yaa,” saya langsung berjalan ke dapur.

“Ngga mau. Aisya mau masak sendiri,” pintanya.

“Masak SENDIRI???” saya agak kaget.

Saya berusaha menunjukkan sikap proaktif dengan tidak langsung mematahkan semangatnya dengan mengatakan sebaiknya saya yang masak dan Aisya menunggu sambil bermain. Saya biarkan otak saya mengatur sebuah rencana.

Okey, setelah langkah-langkahnya tergambar jelas, saya mulai menyiapkan alat dan bahannya. Saya siapkan pisau dan talenan plastik. Kemudian meng-geprek bawang putih. Memecahkan telur dan menempatkannya dalam mangkuk kecil. Memasang wajan berisi sedikit minyak goreng di atas kompor. Serta mendekatkan nasi, garam serta penyedap rasa.

Terakhir, saya ambil bangku kuning kecil agar Aisya bisa memasak dengan nyaman.

Tiba saatnya memasak, Aisya tinggal mencacah bawang putih yang sebelumnya sudah saya geprek. Dan mencemplungkan bawang putih, telur, nasi dan bumbu-bumbu secara bertahap. Oia, Aisya meminta api-nya kecil saja, and I set that for her 🙂

Dengan spatula, Aisya berusaha mengoseng telur dan membulak-balikan nasi. This part was pretty hard for her. Jadi saya bantu dulu sampai nasi dan bumbu-bumbunya tercampur rata, lalu saya berikan lagi spatulanya pada Aisya. Tak lupa, saya ajak Aisya mencicipi nasi gorengnya dulu.

Wah, ternyata rasanya enak! Aisya langsung lahap menyantap nasi goreng buatannya sendiri.

Kembali tentang repot ngga repot. Sedikit repot, tapi saat melihat Aisya yang semangat belajar memasak, saya merasa perlu memfasilitasinya. Apalagi antusiame-nya datang dari sang anak.

Melihat Aisya yang gigih belajar jadi kebahagiaan tersendiri buat saya. Senang gitu, melihat di umurnya yang masih 4 tahun, Aisya berani bersentuhan dengan dapur, wajan, mixer, dan peralatan memasak lainnya.

Cooking is fun, though.

Yep. Jadi masak-memasak adalah kegiatan pertama yang suka saya lakukan bersama anak.

MENGGAMBAR & MEWARNA

This slideshow requires JavaScript.

“Mami, bisa gambar ulat ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar bola basket ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar unta ngga?”

“Hmm, unta yah? Bisa, insya Allah,”

“Kalau gambar anak ayam?”

“Bisa, bisa..”

“Gambar Robocar Poli, bisa?”

“Robocar Poli? Hehe, yang itu Mami belum bisa. Gimana kalau minta Uncle nge-print aja lalu Aisya warnai?”

Waduh Nak, kalau robot-robotan Mami kayaknya perlu belajar dulu nih.

Saya memang suka menggambar dan mewarna. Ngga jago yaa. Ketika Aisya meminta saya menggambar sesuatu, terutama orang, insya Allah saya bisa. Sesuai imajinasi saya atau melihat dulu gambar-gambar yang lucu, lalu membuat gambar yang serupa dengan modifikasi sedikit.

Kami suka membeli buku gambar kosong. Lalu digambar dan diwarnai oleh Aisya (kadang bersama-sama). Aisya juga mulai sering menggambar, terutama orang yang sedang memegang balon. Menggambar anak perempuan dengan temannya atau dede bayi. Dan menggambar Ayah, Mami serta Aisya.

Untuk anak 4 tahun, menurut saya sih sudah lumayan ya. Karakter yang ia gambar biasanya sudah dilengkapi dengan mata, hidung, mulut, telinga, rambut, pita untuk anak perempuan, anak laki-lali ngga pakai anting, ada tangan juga kaki.

Ketika mewarna, Aisya suka warna warni seperti pelangi. Dunno why, but again I think its good because it make the picture colorful 🙂

Selain buku gambar polos seharga Rp. 2.500,- yang kami beli di warung, Aisya juga punya buku mewarna. Aisya suka mengajak saya, Ayahnya dan teman-temannya untuk ikut mewarna. Baik menggunakan pensil warna, crayon, spodil maupun cat air.

MEMBACA BUKU & MENDONGENG

Ada kejadian unik kemarin subuh. Sekitar pukul 4 pagi, Aisya bangun. Mendengar suaranya, otomatis saya terbangun.

“Mami, tolong bacain buku,” ucapnya dengan suara khas bangun tidur yang masih agak serak dan lembut.

Saya pikir Aisya ngigau, saya tawarkan untuk membacakannya surat-surat pendek, karena terkadang Aisya juga terbangun tengah malam dan minta disenandungkan ayat-ayat Al-Qur’an di juz terakhir.

“Bacain buku, Mamii, yang Sesame Street” pintanya.

Saya ajak diri saya untuk melek sepenuhnya, saya pencet stop kontak dan mengambil buku berjudul “5 Minute Stories”. Rupanya Aisya ingat, sebelum tidur ia minta dibacakan 3 cerita dari buku ini, namun baru 2 cerita sudah keburu terlelap.

“Aisya mau dibacakan yang Bert’s Birthday?” tanya saya, menunjukkan halaman dengan cerita dengan judul tersebut.

“Mau, Ok mirip ya Mam, sama Big Bird New Nest,” jawab Aisya.

Dalam hati saya membatin, ‘Wah, nih anak hapal juga ya judul yang saya bacakan semalam, hihi’. The last story that I read before she fallen asleep is Big Bird New Nest.

“Iya, mirip ya Bert dan Bird. Kalau Big Bird yang gimana?” saya tes apakah Aisya benar-benar awake at that time.

“Yang yellow badannya and big. Bert juga same, yellow, tapi ngga ada bulu-nya,” aha! Ternyata Aisya benar-benar bangun.

Akhirnya, saya bacakan cerita di buku Sesame Street itu. Lagi-lagi, baru selesai dua judul, Aisya kembali terlelap.

Anytime she asked me to tell her stories or read her a book, saya selalu semangat! Mungkin karena saya suka membacakan nyaring dan mendongeng, jadi senang aja kalau Aisya minta diceritakan. Off course I’m also very glad of her interest in book 🙂

Oia, foto yang sebelah kanan itu, kami bikin wayang kertas. Seperti biasa, saya gambar lalu warnai dan digunakan sebagai alat peraga saat mendongeng. Ceritanya tentang Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso yang belajar antri.

Baca juga : Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri

MAIN DI PLAYGROUND

Screenshot_2018-02-09-18-16-19

Entah kenapa, saya juga senang menemani Aisya main di playground. Menemani Aisya jadi penjual burger, sushi, es krim dan saya jadi pelanggannya. Melihat kelincahannya memanjat, loncat-loncat di trampolin, main games, termasuk kadang-kadang saya ngikut saat Aisya naik perosotan hahaa..

Ya, sekali-kali aja kok. Penasaran karena jaman saya kecil dulu belum ada perosotan panjang dengan penutup atau perosotan model balon yang enak banget saat meluncur dan mendarat.

Baca juga : TAMAN TASIK PERDANA

NYANYI & MENARI

IMG_20171222_144550

 Saat mengantar Aisya untuk latihan nari tahun lalu, tak disangka, saya sangat menikmatinya. Aisya dan teman-temannya menari diiringi lagu “Aku Bisa”, mereka tampil dalam rangka memperingati hari Ibu.

Setelah anak-anaknya latihan, terkadang di sesi terakhir, Bu Inday (koreografer-nya) meminta para Ibunya ikut menari. Ya supaya anak-anaknya makin semangat kali ya. Sekalian supaya Ibu-ibunya bisa memantapkan gerakan anak-anaknya di rumah.

Jadilah saya ikut menghapalkan musik dan gerakannya. And I really enjoy it! Apalagi latihannya di ruangan dengan cermin besar. Mirip tempat latihan balet, terutup, dan tidak ada pria dewasa. Jadi bebas ber-ekspresi yaa.

BERKEBUN

Belum bisa dibilang berkebun sih sebenarnya. Kami baru saja ikut playdate berkebun dan pulang membawa 4 pot berisi tanaman Selada, Sukulen, Basil dan Mint. Ditambah, Aisya dapat hadiah dari teman sekolahnya berupa tanaman Stroberi yang dibawa dari Kebun neneknya di Sumedang.

Sebelumnya, suami sudah memanggil tukang untuk mempercantik taman. Dengan bertambahnya tanaman di rumah, kami jadi semangat melongok ke halaman depan. Pagi-pagi, saya perhatikan sudah tumbuh tinggi belum ya? Buahnya sudah ranum belum ya?

Aisya suka ikut mengamati dan menyiram tanaman, memetik stroberi yang sudah matang juga kadang mengambil beberapa ‘bunga’ untuk diberikan ke saya.

“Mami, buah stroberi-nya kok warnanya hijau trus putih, trus baru merah?” begitu tanya Aisya.

“Iya, prosesnya gitu. Pertama hijau dulu, lalu jadi warna putih. Kalau masih putih berarti belum matang. Pas warnanya berubah merah semua, ada putihnya dikit gapapa, itu artinya sudah bisa dimakan,” jawab saya

Minggu lalu saya juga mencoba menanam cengek, dan kemarin lusa saya benamkan setengah jeruk purut beserta bijinya di pot. Harapannya dua-duanya ikut tumbuh dan berbuah. Amiiin.

Menanam dan merawat tanaman seperti ini ternyata bisa bikin hati senang dan rileks yaa 🙂

TRAVELING

Berkaca dari pengalaman weekend minggu lalu, saat kami naik travel ke Bintaro dan pulang kembali ke Bandung, saya jadi makin sadar kalau Aisya itu teman yang asik dan kooperatif selama di perjalanan.

Saya ceritakan secuil yaa. Travel yang sudah kami pesan ternyata delay. Walhasil, kami harus menunggu selama 2,5 jam tanpa kejelasan. Mood saya lagi swing banget hari itu (I’m on my period). Alhamdulillah Aisya anaknya bisa menjaga dan mengembalikan mood positif saya. Saat menunggu, saya tawarkan mau balik atau lanjut daaan Aisya ingin tetap berangkat.

Beberapa kali Aisya menghibur saya dengan melongok keluar, “Mami, bentar ya Aisya cek travelnya sudah datang blum,”.

“Aha! Aisya ada ide. Sambil nunggu, kita belanja dulu yuk,” sambil menggandeng tangan saya ke Circle K.

Terakhir ia menanyakan pada mbak-mbak di depan dan mendapatkan informasi kalau sebentar lagi bakal datang travelnya

“Yeaaay, Mami, akhirnya datang juga ya travelnya!” semangat Aisya pun menular ke saya.

Setelah naik, Aisya bobo. Sampai rest area, saya bangunkan untuk menemani saya ke toilet. Sebagai hadiah karena Aisya mengembalikan mood positif, saya perbolehkan Aisya beli cemilan yang ia mau 🙂

Saya juga menikmati perjalanan pulang ke Bandung, di jalan kami bobo, main “Pak Polisi” menyebutkan nama-nama buah dan makanan, ngobrol, makan, dan bermain-main dengan imajinasi kami sendiri.

Setiap kami traveling, Aisya memang jarang sekali rewel. Seringnya energi-nya masih pol aja kemana pun kami pergi. Bahkan saat Mami dan Ayahnya lelah setelah mengunjungi banyak tempat, Aisya masih punya tenaga untuk bermain di dalam hotel. Alhamdulillah.

Sikap Aisya yang positif selama traveling inilah yang bikin saya ikut semangat 🙂

SHOLAT BERJAMAAH & MENGAJI

Ketika Aisya bilang, “Mami, Aisya mau solat. Aisya jadi imam-nya yaa,”.

Dan saat Aisya minta saya membacakan surat-surat pendek untuknya, lalu ia mengikuti. Saya senang sekali. Surat-surat pendek plus surat Al-Fatihah yang saya bacakan adalah surat-surat yang sudah ia hapal. Agar hapalannya terjaga, saya suka membacakan dari Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq hingga terakhir, surat yang sedang ia hapalkan sekarang.

Aisya mau mengulang ayat demi ayat saja saya sudah senang.

Pun ketika Aisya bilang mau jadi imam, saya persilakan. Saat keinginan untuk solat datang dari dirinya sendiri itulah yang bikin saya senang. Saat solat berjamaah magrib misalnya, kadang saya kerasakan bacaan dan ternyata Aisya mengikuti (sudah bisa surat yang saya baca tersebut). Subhanallah, mendengarnya saya haru sekali 🙂 Alhamdulillah Alhamdulillah.

Aisya hanya boleh menjadi imam ketika solat bersama saya (dan makmum perempuan lainnya). Jika ada ayahnya, kami beri pengertian bahwa Ayahnya-lah yang jadi imam. Pelan-pelan.

Momen-momen mendekatkan diri pada Allah ini juga menjadi salah satu kegiatan favorit saya dengan Aisya.

Okay, that’s the 8 things that I enjoy doing with my daughter. Kalau Ibu-ibu suka melakukan kegiatan apa aja nih yang seru sama anak? 🙂 share yuks..