Fitrah Anak Itu Baik

Screenshot (1)

Beberapa waktu lalu saya berpikir, gimana ya supaya anak bisa selalu nurut sama orang tuanya? Aisya anak yang baik, tapi ada kalanya saat saya meminta sesuatu, ia tidak langsung melakukan apa yang saya minta.

Ini wajar harusnya, cuma kadang saya over-thinking. Salah saya dimana ya? padahal saya sudah membersamainya hampir setiap saat, mengasuhnya sejak lahir, tapi kenapa yaa ada waktu-waktu Aisya lebih memilih mendengarkan instingnya sendiri atau mengikuti kata orang lain?

Lalu secara tidak sengaja saya melihat insta-story teman saya Dhefimaputri dan mendapatkan jawaban yang mencerahkan, kira-kira begini kalimatnya,

“Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak dan lain-lain. Tapi karena Allah ridho. So, yang harus jadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.” – Ustadzah Poppy Yuditya

Wah, ini jawaban dari pertanyaan saya banget! saya jadi sadar kalau apa-apa itu ya balik ke Allah. Sekarang PR saya adalah mencari ridho Allah. Caranya gimana? salah satunya adalah dengan terus berdo’a dan taat pada Allah SWT. Dan taat pada suami.

Lalu saya mencoba mengingat kembali fitrahnya anak yang dipaparkan dalam buku The Secret Of Enlightening Parenting.  Saya mau merangkum 6 fitrah tersebut di tulisan kali ini ya.

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Judul asli di bukunya adalah “Manusia Lahir Fitrah, Yaitu Membawa Potensi Baik”. Saya re-write menjadi “Fitrah Anak Itu Baik”.

FITRAH ANAK ITU BAIK

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Apalagi Allah SWT telah melengkapi otak manusia dengan bagian yang tidak dimiliki oleh mahluk mana pun, yaitu Pre-Frontal Cortex (PFC).

PFC ini memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan dan fungsi kontrol.

Kemudian Mba Okina menjabarkan 7 fitrah manusia, yaitu :

  • Fitrah Iman. Setiap insan lahir dengan keadaan telah bersaksi pada keesaan Tuhan. Wujud nyata potensi iman adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku yang dilarang Tuhan.
  • Bertahan Hidup. Manusia dikarunia peranti dasar untuk bertahan hidup. Inisiasi dini untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir adalah bukti konkret dari potensi ini. Bayi lahir dibekali Tuhan dengan refleks menghisap, mengenggam, berenang, menjerit ketika lapar, dan lain-lain (Hoffman, Paris & Hall, 1994).
  • Belajar Hingga Piawai. Setiap anak adalah pembelajar tangguh sejati yang pantang menyerah. Saat anak belajar jalan, meski berkali-kali jatuh, ia akan selalu berusaha bangun dan mencoba berjalan kembali. Anak juga suka mengajukan pertanyaan terus-menerus sampai paham dan hafal. Potensi belajar hingga piawai ini menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi.
  • Kasih Sayang. Manusia lahir dengan fitrah kasih-sayang, yaitu menyayangi dan suka disayangi. Anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya sedih dan menunjukkan ekspresi bahagia ketika dibelai atau disapa dengan suara lembut. Serta akan menangis dan takut ketika mendengar suara keras atau ekspresi yang tidak menyenangkan. Dan kasih sayang ini berkaitan erat dengan hormon oksitosin yang mengatur rasa saling percaya, ketenangan, rasa aman, keinginan untuk menolong, keterikatan, kehangatan, kasih sayang dan perhatian.
  • Interaksi. Manusia dilahirkan sebagai mahluk individual dan sosial. Bayi akan merasa bahagia saat diajak berinteraksi dan sedih jika tidak ada yang menemani. Pada dasarnya, setiap manusia bisa menjalin interaksi sosial. Anak yang menarik diri, tidak mau bergaul dan berkomunikasi, bisa dipastikan memiliki pengalaman yang dianggapnya tidak menyenangkan dari hasil interaksi sebelumnya atau mengalami ganguan tumbuh kembang tertentu.
  • Fitrah Seksualitas. Manusia dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan.
  • Tanggung Jawab. Ketika pertama kali anak memecahkan barang, dengan jujur ia bercerita sambil berusaha membenahi. Namun kadang respon orang tua yang kurang mengenakan (marah) membuat mereka berpikir bahwa jujur itu berbahaya dan tanggung jawab mereka tidak dihargai. Fitrah manusia adalah bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, dan sebagai orang tua kita perlu jeli melihat potensi ini.

Ketujuh potensi di atas berusaha saya ingat-ingat kembali. Bahwa fitrah anak (bahkan kita) itu baik. Jadi kita selalu bisa kembali pada kebaikan. No wonder  kalau di usia yang sudah ‘matang’ seseorang berubah/kembali ke fitrah. Karena bibit-nya sudah ada.

Saat anak kita menunjukkan sikap yang belum sesuai dengan yang kita inginkan, kita perlu berlatih untuk memilah respon, agar anak tidak malah menjauh dari fitrahnya.

Sekian dulu sharing singkat malam ini, wallahualam bishowab. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Quote Ali Bin Abi Thalib

Saya merasa cukup beruntung mempunyai hobi baru, yaitu membaca. Terutama buku-buku seputar psikologi suami-istri dan parenting.

Semakin banyak membaca, semakin tahu kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. Makin ingin belajar memperbaiki. Makin ingin memetakan what’s important and which one is the most important. Learning and doing. Not only knowing and didn’t do anything in order to change. And never give up!

Bisa jadi, pada waktu tertentu kita melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Seperti ‘meledak’ ketika lelah fisik serta hati melanda, dan anak kebetulan lagi caper. But its not all the time, right? Tidak perlu buru-buru melabeli diri “I’m not a pretty good Mom”.

Learn, read book, practice, tried again and again.

Dengan tidak mudah menyerah, kita sudah membantu diri dan anak kita untuk berkembang. Saling memaafkan. Grow up together.

Setidaknya itu yang saya renungkan akhir-akhir ini. Anak makin besar, tantangan makin besar pula. Dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya dulu banyak yang tidak relevan lagi.

Don’t get me wrong, saya sangat menghormati orang tua saya. Dan pola asuh yang mereka terapkan cukup berhasil making me who I am today with all the values.

TAPI, anak-anak sekarang nampaknya lebih kritis dan berani daripada anak jaman baheula.  

Seperti kata-kata Ali bin Abi Thalib di atas, anak kita adalah milik zamannya. Ada baiknya, as a parent, kita juga menyesuaikan dengan zaman ini.

Kids jaman now
Parent jaman now

Memang apa saja sih kesalahan umum yang biasa kita lakukan sebagai orang tua? Dalam The Secret Of Enlightening Parenting, Mba Okina Fitriani merangkum 11 kesalahan yang biasa dilakukan dalam pengasuhan anak.

Baca juga : Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

But, I will only mention 7 things. Please take a look 🙂

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak 

Tidak Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

Kesalahan nomor wahid adalah tidak membiasakan mengambil tanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah ketika anak jatuh, ada orang tua yang memukul lantai/tanah sambil mengatakan, “Nakal ya lantainya! bikin kamu jatuh. Dah, dah dipukul tuh lantainya.”

Setelah itu, orang tua akan mengusap lutut anak dan meredakan tangisnya.

Menurut mba Okina, kata-kata yang terdengar menghibur ini malah mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya, mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain/kondisi.

And this is not good.

What we can do to fix this?

Daripada menghibur dengan cara di atas, sebagai orang tua, kita bisa mengajak anak berdiri, lalu mengajaknya main dokter-dokteran. Gantian anak jadi dokter lalu kita. Ini cara yang asik untuk meredakan tangisnya dan mengobati lukanya.

Setelah suasana kembali tenang, kita bisa mengevaluasi bersama kejadian jatuh tadi. Saya mau kasih contoh dari apa yang saya lakukan sama Aisya ya. Saya terapkan saran dari Mba Okina ini saat Aisya jatuh.

“Mamiiii sakiiiit. Lutut Aisya berdarah.”
“Barusan jatuh ya? Sok nangis dulu, boleh kok. Kalau pas Aisya jatuh dan merasa sakit, itu bagus! artinya syaraf dalam tubuh Aisya bekerja dengan baik.”
“Iya Mam.”
“Udah puas nangisnya? kita basuh pakai air dan dikasih plester ya lukanya. Supaya sembuh.”
“Iya Mam,”
“Tadi kok bisa jatuh?”
“Iya tadi Aisya lari, trus ada batu. Aisya kepeleset.”
“Ooh, gitu. Lain kali pas lari dan di depannya ada batu, supaya ngga jatuh lagi gimana caranya menurut Aisya?”
“Aisya-nya loncat!”
“Ok, loncat yaa. Ada lagi ngga yang bisa Aisya lakukan?”
“Aku larinya hati-hati.”
“Ok, next time hati-hati ya saat lari.”

Se-simpel apa pun jawabannya, hargai ya Moms. Dengan begini, anak kita akan terbiasa mengambil tanggung jawab atas peristiwa yang ia alami. Dan bukan menyalahkan batu, jalan atau orang lain 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Menanamkan Keyakinan Yang Salah

Beberapa orangtua terlihat sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak didasari riset maupun dalil yang benar. Contohnya, minum es bikin sakit perut, lari-lari bisa jatuh, hujan menyebabkan masuk angin, dan sebagainya. Ini memungkinkan anak mengalami “alergi buatan” terhadap ketiga hal di atas – begitu kata Mba Okina.

Pernah bicara seperti itu pada anak ngga Moms? saya pernah bilang “Jangan lari nanti jatuh.”

Setelah baca ini, saya mengubah kalimat saya jadi, “Hati-hati ya larinya. Jalan aja dengan langkah besar seperti  Mami. Bakal cepat sampai juga kok.” and this sound more positive to us.

Hindari juga installing wrong believe seperti ini, “Belajar dong! pelajaran ini susah lho. Nanti teman-teman kamu udah bisa, kamu belom.”

Saya sendiri prefer memotivasi Aisya dengan bilang, “Ayo dicoba, semua hal bisa kita pelajari. Aku mau berusaha! gitu kan kata bu guru.” misalnya saat Aisya mengerjakan sesuatu yang menurutnya susah.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring 🙂

Labeling

Label akan menjadi sebuah keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadar. Dear parent, let us choose the proper label 🙂

Suatu hari Aisya terus menerus bicara, ia bertanya mengenai berbagai hal dan keep asking “Kenapa Mami?” kenapa begini dan begitu. Jika jawaban yang saya beri belum detail dan bisa dicerna logikannya (Aisya logis banget anaknya), maka ia akan terus menggali jawabannya.

Saya pun nyeletuk, “Aisya, kamu cerewet ih.”

Lalu Bapak saya – the wise man – menghampiri saya, “Mbak, cerewet itu konotasinya negatif lho. Lebih baik bilang Aisya, kamu talk-active sekali ya, ini konotasinya positif.” Begitu ucap Grandpa-nya Aisya.

Dan segera saya meralat ucapan saya pada Aisya.

Tahan lidah kita untuk melabeli anak : ‘kamu bandel ya’, ‘tuh kan ngeyel’, ‘dikasi tahu malah ngga mendengarkan’. ‘kok ngga nurut sih?’ daaaan segambreng kata-kata berkonotasi negatif lainnya ya Moms. And replace it with a better words.

Saya masih belajar untuk mengerem mulut nih, biasanya kata-kata seperti ini muncul di saat ‘genting’. Pas mood positif, saya bisa lebih sabar dan bersikap proaktif pada Aisya.

Baca juga : 6 THINGS I ADORE FROM AISYA

Pelit Menggunakan Hal Ajaib

Empat hal ajaib ini pasti sudah hafal di luar kepala ya Moms :

  • Minta maaf. Saat kita (sengaja/tidak) menyakiti perasaan anak, mintalah maaf padanya. Saya suka minta maaf pada Aisya setelah saya marah padanya. Saya jelaskan juga, bahwa saya tidak suka marah, dada saya sakit ketika emosi. Lalu kami mencari solusi bersama, what we can do, supaya Mami ga marah-marah. Sesudah ngobrol, tanpa diminta, Aisya akan reflek bilang, “Maafin Aisya juga ya Mami, tadi bikin Mami marah.”
  • Mengucapkan terimakasih. Dengan sering mengucapkan terimakasih pada anakia akan merasa dihargai. Ini pengalaman pribadi ya. Dan dengan kebiasaan baik ini, anak pun akan dengan mudah mengucapkan terimakasih pada siapa pun. I thank Aisya for any little things that she did, dan saat saya hanya membacakan buku ketika ia mau tidur pun, Aisya masih sempat bilang, “Makasi ya Mami udah bacain buku untuk Aisya.” sweetest dah! Aisya juga terbiasa berterimakasih pada Ayah, kakek-nenek, paman-bibi, saudara-saudara, guru, teman-temannya, bahkan ke driver grab juga.
  • Menunjukkan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dengan ucapan, sentuhan, pelukan, ciuman dan lain-lain. Terkadang bahasa cinta melalui sentuhan ini lebih mengena di hati anak dibanding kata-kata lho. Anak yang memiliki tabungan kasih sayang yang cukup akan tumbuh dengan jiwa yang sehat, percaya diri, dan penuh empati.
  • Memuji. Kata mba Okina, latihlah telinga, mata, dan rasa untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan saat anak kita melakukan kebaikan, meski sederhana, pujilah ia. Dengan pujian yang efektif, bukan yang lebay. Kadang orang tua abai memuji hal kecil yang dilakukan sehari-hari karena menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal kecil yang sudah baik inilah, muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik yang lebih besar, jika dihargai.

Nah, jangan pelit melakukan empat hal ini ya Moms. Let’s do it, not just understand about it!

Baca juga : Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

Fokus Pada Kekurangan, Suka Mencela, Doyan Mengeluh

Kekeliruan yang ini, kata Mba Okina, berkaitan erat dengan pelitnya melakukan 4 hal ajaib di atas. Kemudian jadi cenderung fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk keluhan.

Contoh keluhan seorang Ibu :

“Kak, tuh kan PR-mu ketinggalan lagi. Masih muda kok pelupa, sih? Makannya siapkan bukunya sebelum tidur. Minggu lalu juga seperti ini kan? Kalau sudah gini kan Ibu yang repot. Ayo bereskan bukunya, jangan jadi anak pemalas!”

Kira-kira reaksi anaknya bakal gimana yaa?

Pada keluhan di atas terdapat kata ‘pelupa’ dan ‘pemalas’, lagi kata Mba Okina, kedua kata ini akan melukai konsep diri anak. Bahkan bisa jadi membentuk konsep diri yang buruk, “Saya anak pemalas, saya anak pelupa.”

Padahal Allah Swt tidak suka dengan orang yang mengutuk dan memberi gelar buruk.

Kesalahan yang dibuat anak ini sebetulnya bisa diperbaiki. Dengan suntikan semangat dari orang tua tentunya.

Masih untuk kasus lupa bawa PR ke sekolah, katakanlah,

“Kak, Ibu perhatikan kamu akan ingat membawa PR-mu kalau sebelum tidur bukunya sudah disiapkan dan dimasukkan ke tas. Ibu yakin, kamu bisa lebih baik dari hari ini.”

As for me, complaining is like burning myself. Mengeluh hanya membuat sesuatu yang buruk menjadi 1000 kali lebih buruk. Mengotori hati dan melemahkan saya. Sehingga saya lebih memilih untuk meminimalisir keluhan, dengan begini solusinya akan lebih terlihat.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Ancaman Kosong

Mba Okina mengatakan, ancaman kosong adalah kombinasi dari kebohongan, inkonsistensi dan lalai menenggakan aturan. 

Menurut saya memberi ancaman pada anak adalah cara cepat agar anak mau menuruti kita. Cara cepat saat kita kehabisan cara kreatif dalam mem-persuasi anak.

Misal nih ya, “Ayo makan, kalau ngga nasinya Ibu kasih ke kucing lho!”. Dengan begini anak tergerak untuk mengunyah makanannya.

Atau, “Berhenti main gadget! Nanti Papa buang gadget-nya ke got!”, anak yang ketakutan pun langsung memberikan gadget pada Papa-nya.

Saat kita mengancam, seringkali anak merespon dengan cepat. Permintaan/perintah kita didengar. Tapi ketika anak tak bergeming, masih keukeuh juga, akankah kita meng-eksekusi ancaman tersebut?

Pasti hati nurani akan membatin, ‘Masa dibuang gadget-nya? sayang dong, belinya kan pakai uang bukan daun’. ‘Daripada dikasih ke kucing, mending Ibu makan Nak, nasinya. Ibu juga lapar’.

Pada akhirnya, kita hanya memberi ancaman kosong. Semakin sering kita memberi ancaman kosong, semakin hancurlah nilai kita di mata anak. Kata-kata yang kita ucapkan akan dianggap tidak ada harganya. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Terlebih lagi, mba Okina menyebutkan bahwa perilaku mengancam pada dasarnya menunjukkan diri yang lemah dalam perencanaan. Perencaan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga.

Instead of ‘mengancam’, saya belajar mengajak Aisya ngobrol dengan metode using choice to reach goal.

Seperti misalnya kesepakatan makan, saya suka tanya sama Aisya, “Aisya makannya mau 5 suap atau 10 suap?” kalau sudah deal, insya Allah Aisya will fulfiil her promise. Tujuannya tercapai, yaitu Aisya makan.

Untuk penggunaan gadget, Alhamdulillah Aisya bukan tipe anak yang keranjingan gadget. Dia lebih senang bermain, melakukan aktivitas fisik, mengerjakan workbook, bantu saya masak-masak di dapur dan membaca buku.

Tentang main, saya kadang bikin perjanjian dulu, “Main di rumah temannya 1 jam ya, terus kita pulang.” 

Kadang Aisya minta tambahan waktu, “5 more minutes, Mami.” Dan saya tunggu sampai 5 menit, trus dia beneran pulang. 

Metode ini saya rasakan lebih efektif, ketimbang memberi ancaman kosong.

Baca juga : THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

Disuapi Solusi

Dari yang saya baca, saya jadi tahu kalau parental coaching adalah kemampuan yang penting. Kita orang tua, kita juga seorang coach.

Sebagai coachada baiknya kita memberi bimbingan pada anak. Giving clue. Bukan selalu menyuapi solusi.

Beberapa orang tua mungkin akan bergegas membantu anaknya saat kesulitan mengerjakan sesuatu. Atau ngga sabar dengan prosesnya. Dan bahkan terlalu memanjakan.

To be honest, saya seringkali diberi solusi oleh orang tua saya dulu. Sebelum saya mengeksplor pikiran saya lebih dalam, problem already solved by my parent.

Setelah saya punya anak, dan tentunya membaca, saya jadi tahu kalau hal ini kurang baik.

Anak perlu belajar memecahkan masalahnya sendiri. Kegiatan mencari pemecahan ini akan melatih diri mereka menjadi anak yang percaya diri dan kreatif. Karena solusi dari sebuah tantangan bisa jadi lebih dari satu.

Catatannya adalah, ketika anak masih perlu dibimbing ya dibimbing, jangan di biarkan begitu saja. Perhatikan daya memahaminya juga usianya 🙂

Saya suka merasa kagum dengan solusi-solusi yang Aisya beri. Misalnya waktu kami melakukan eksperimen “Cloud In A Jar”. Untuk membentuk awan dalam toples, kami memerlukan beberapa bahan seperti, toples, korek api, air panas dan es batu.

Kami kumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, namun sayangnya tidak ada korek api di rumah!

“Aisya, tanpa korek api, kita ngga bisa bikin cloud in a jar. Aisya ada ide ngga pakai apa untuk pengganti korek apinya?” tanya saya.

Matanya melihat ke rak-rak yang ada di dapur dan memberi saya ide.

“Gimana kalau pakai tusuk sate aja, Mam? Kan di rak ada tusuk sate, terus api-nya dari lilin”, usulnya.

“Wah iya juga ya, oke kita coba ya pakai tusuk sate dan lilin,” saya terpukau dengan ide anak usia 4 tahun ini. Kami mencoba men-substitusi korek api dengan tusuk sate yang disulut menggunakan api dari lilin.

And you know what? we succeed making a cloud in a jar! Alhamdulillah.

Semakin dilatih untuk memecahkan masalah, Aisya semakin kreatif. Ada saja alternatif solusi yang ia ajukan saat kami menghadapi tantangan.

IMG_20180417_201132

Alright Moms, itulah 7 kesalahan dalam pengasuhan anak yang masiiiih BISA BANGET kita perbaiki. Asal kita mau terus berlatih, coba terus, evaluasi lagi. Bertumbuh bersama dengan anak, tidak ada kata terlambat. Saat kita mendewasa, anak juga mendewasa.

At one point, we’ll understand each other better, I believed.

Buat yang mau tahu apa saja kesalahan lainnya, langsung baca The Secret Of Enlightening Parentingnya Mba Okina Fitriani yaa. Asli ini bacaan bergizi untuk para orang tua 🙂

Sebagai penutup, saya mau mengutip kata-kata ‘sakti’ dari Mba Okina ini.

Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

Semangat terus Moms. Cheers!

 

Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

Screenshot (42)

Alhamdulillah gigi Aisya berderet dengan rapi, tidak ompong dan berlubang, masih lumayan bersih dan putih karena gosok gigi tiap hari.

Beberapa Ibu-ibu yang berinteraksi langsung dengan Aisya kadang bertanya, “Aisya ngga suka makan cokelat ya? Gigi-nya bagus.”

Atau

“Aisya, mah bagus gigi-nya. Ga pernah makan permen ya?”

Kenyataannya Aisya sering kok makan cokelat dan permen. Aisya memang ngga pakai dot untuk minum ASI saat masih menyusu. Dot hanya saya gunakan saat minum air putih. And its not all the time. Jadi bisa dibilang jarang sekali.

Kata Ibu-ibu yang anaknya pakai dot, dot itu bikin gigi jadi kurang cantik. Entah roges, berwarna kecoklatan maupun ompong. Betul ngga Moms? please yang tahu alasan ilmiahnya ditunggu komennya ya 🙂

Kalau hipotesa soal efek samping pakai dot ini betul, berarti dengan tidak menggunakan dot sudah membuat gigi Aisya tetap kokoh hingga usia 4 tahun ya.

Saya perhatikan, teman-teman se-usia Aisya ada yang sudah ngga utuh atau mengalami problem gigi anak yang saya sebutkan tadi di atas. Namun ada juga yang masih baguuusss. Karena belum sempat ngobrol sama Ibunya teman-teman Aisya yang bergigi oke, saya mau sharing pengalaman seputar per-gigi-an ya, termasuk tips agar anak rajin gosok gigi.

Tips agar anak rajin gosok gigi ini pop-ing up karena Nyonyamalas memposting instastory yang bertanya, gimana caranya ngajarin anak gosok gigi? Betul ngga mba Ella?

PERTUMBUHAN GIGI AISYA

Screenshot (43)

Sebelum memberi tips, saya mau cerita dikit tentang pertumbuhan gigi Aisya.

Tidak seperti bayi-bayi lain yang usia 6 bulan gigi-nya sudah ada empat, dan 1 tahun itu sudah lumayan banyak, usia 6 bulan gigi Aisya seingat saya baru muncul dua. Bahkan hingga setahun rasanya masih empat.

Jadi, ada yang sempat bilang, “Aisya di usia 1 tahunan masih kaya bayi banget ya. Gigi-nya masih sembunyi.”

Alhamdulillah, saya bukan tipe Ibu yang panikan. Saya selalu memilih bertanya pada Dokter Anak dan Bidan soal tumbuh kembang anak.

Ketika saya dan suami memeriksakan Aisya ke Dsa juga ke Bidan, keduanya mengatakan, “It’s okay. Bakal gigi-nya ada. tunggu saja hingga tumbuh”.

Yang saya lakukan akhirnya menunggu dengan optimis, bahwa gigi anak saya, yang saat itu tumbuhnya lebih lambat dari bayi-bayi seusianya akan lengkap juga nantinya.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Lahir Rendah (BBLR)

Qadarullah, di usia 2 tahun, gigi-giginya mulai menghiasi rongga mulutnya. Lengkapnya mungkin usia 2 lebih ya. Bapak saya ikut menyuntikkan semangat dengan mengatakan, “Aisya nanti gigi-nya akan kuat. Seperti taji ayam, semakin lama ia tumbuh, akan semakin kuat”.

That’s make me more positive, ya meski gigi ngga bisa disamakan dengan taji, tapi analoginya masuk akal lah.

Nah pertumbuhan gigi Aisya inilah yang menurut saya jadi salah satu alasan masih bagusnya gigi Aisya di usia 4 tahun. However, pasti ada masa tanggal-nya nanti. But Thank God again, sampai saat ini ngga berlubang, ngga roges dan ngga kecoklatan warnanya.

Okey, sekarang lanjut ke tips agar anak rajin gosok gigi ya.

TIPS AGAR ANAK RAJIN GOSOK GIGI

pigeon-baby-training-tootbrush-sikat-gigi-bayi-set-3in1-lesson-123-6609-19789645-86405b751a49cfbe557b650aa144bc2f-catalog_233

Tips ini berdasarkan pengalaman pribadi kami ya. Karena yang namanya kebiasaan baik itu harus dibangun, jadi saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini dari Aisya bayi.

Kenalkan Anak Pada Konsep Gosok Gigi

Pada dasarnya, menggosok gigi adalah tindakan membersihkan gigi kita. Saya mulai mengenalkan konsep gosok gigi ini sejak Aisya masih menyusu. Setiap kali selesai menghisap ASI, saya teteskan 1 sendok teh air putih ke lidahnya. Kata Bidan Sri, air putih ini berguna untuk menyapu ASI yang menempel pada lidah bayi. Suka lihat kan yang putih-putih nempel di lidah bayi? Nah gitu cara gosok gigi bayi 🙂

Mengenalkan Anak Pada Sikat Gigi

Saya ingat sekali. Saat gigi Aisya mulai tumbuh, meski saat itu baru 4 biji, saya sudah memberinya sikat gigi. Sikat gigi-nya yang dari silikon dan banyak jenisnya itu lho. Saya biarkan ia memegang sikat gigi lucu tersebut.

Biarkan Anak Merasa Nyaman Dengan Sikat Gigi

Setelah Aisya merasakan tekstur dari sikat giginya, saya persilakan Aisya menggosok gigi sendiri, dengan caranya sendiri. Sesuka hati Aisya, tujuannya supaya ia nyaman dulu. Disini masih belum pakai odol ya.

Ajari Anak Cara Menggosok Gigi Yang Benar

Setelah anak merasa nyaman mengenggam sikat gigi sendiri serta menyikat sesukai hati, pelan-pelan kita boleh contohkan cara menggosok gigi yang benar. Gosok gigi depan, atas-bawah dan gigi geraham. Ini yang saya beri tahu pada Aisya. Dan Aisya sudah paham, kalau saya minta ia menggosok gigi geraham, ia akan membuka mulut dan membersikan gigi bagian dalam.

Beralih Ke Sikat Gigi Lembut

Setelah gigi-nya mulai banyak, saya pilihkan sikat gigi yang sikatnya lembut. Supaya saat Aisya gosok gigi tetap nyaman, tidak merasa sakit, disikatnya juga pelan-pelan.

Memberi Odol Pada Usia 2 Tahun

Beranjak 2 tahun, ketika gigi-nya sudah lengkap, saya merasa sudah waktunya Aisya menggunakan odol. Odolnya juga yang aman jikalau tertelan. Saya pakai Pigeon rasa stroberi dan jeruk. Trus penggunaannya juga secuil, sebiji anggur lah. Kecil binggo kan?

Beralih Ke Sikat Gigi Kodomo

Jatuhnya sebut merk ya, but truly sekarang Aisya pakai Kodomo, sikat dan odolnya. Aisya suka rasa apel dan anggur. Di usia 4 tahun, sikat gigi silikon dan bersikat lembut sudah not working well lagi, sehingga sikat gigi balita lah yang Aisya butuhkan. Kalau ngga, pakai sikat yang lebih tebal dan masih lumayan lembut trus ada gambar Barbie-nya.

Rutinkan Waktu Sikat Gigi

Ini masuk ke habbit ya. Setiap mandi, usahakan untuk selalu gosok gigi. Aisya ngga susah gosok gigi, ia juga senang menggosok giginya sendiri. Kadang-kadang mau juga digosokin sama saya dan Ayahnya. Sampai saat ini metode menyikatnya masih pelan, ngga kaya orang dewasa. Odolnya juga sebesar biji jeruk.

Yang bikin Aisya hayu hayu aja saat diminta gosok gigi, bisa jadi karena dari bayi sudah saya kenalkan pada konsep gosok gigi dan Aisya merasa nyaman dengan memegang sikat gigi sendiri. Sehingga sampai sekarang ia suka gosok gigi.

Tentu ada saat tidak ideal, dimana Aisya lagi ngga mau gosok gigi. Tapi minimal sehari gosok gigi sekali.

Jelaskan Manfaat Menggosok Gigi

Sebelum masuk sekolah, bu guru akan memeriksa kuku dan gigi anak-anak. Biasanya diawali dengan pertanyaan, “Anak-anak, tahu ngga kenapa harus rajin gosok gigi?”

Anak-anak akan serentak menjawab “Supaya ngga ada kumannya, Bu!” atau “Supaya ngga sakit gigi, Bu.”

Nah, manfaat menggosok gigi ini sudah lebih bisa dipahami oleh anak usia 3-4 tahun ya. Saat kita mengucapkan berulang-ulang, bisa jadi inner voice di kepala anak lho.

To make it sound fun, dulu saya bilangnya gini ke Aisya, “Aisya tahu ngga kenapa harus gosok gigi? Kalau kita ngga gosok gigi nanti kuman-kumannya bakal berkemah di gigi Aisya. Mereka akan bikin api unggun di gigi dan membakar marshmallow. Aisya mau ngga kalau kuman-kuman berkemah di gigi Aisya?”

Aisya akan menggeleng, hehe.

Ya jelaskan sesuai daya tangkap anak ya Moms, supaya asik aja gitu.

Tips-nya cukup dulu ya! Step-nya yang jelas :

  • Bikin anak nyaman dulu dengan memegang sikat gigi dan menggosok gigi sendiri sesuka hati
  • Ajari anak cara menggosok gigi yang benar dengan mencontohkan
  • Beri secuil odol saat usianya sudah 2 tahun, gunakan odol yang aman
  • Ajak untuk menggosok gigi setiap hari, disiplin tapi caranya juga harus asik supaya anak senang

Nah, itu rangkumannya ya 🙂 Selamat mencoba, semoga artikel ini bermanfaat Moms.

 

 

THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

 

IMG_20170513_132134

There are many activities that I enjoy doing with my daughter and I believe you too. Di postingan kali ini saya bikin list kegiatan favorit yang suka saya lakukan bareng Aisya.

Apa aja? kindly check this out Moms..

MASAK

This slideshow requires JavaScript.

Alhamdulillah, saya merasa beruntung sekaligus bersyukur diberi anak perempuan yang naturally suka ingin tahu, ingin ikut, dan senang belajar memasak.

Seringnya Aisya membantu saya ketika membuat pancake, bolu, kukis, cupcake dan brownies. Ketika bikin per-kue-an, Aisya kebagian tanggung jawab untuk mengocok telur dan bahan-bahan lainnya. Untuk bikin kukis, Aisya juga ikut mencetak adonannya.

Sekarang Aisya sudah ingin memecahkan telur sendiri. Masih saya pegangi, antisipasi agar telurnya tidak pecah dan menggelosor ke lantai.

Kalau kami pakai mixer, bahan-bahan yang sudah saya takar tinggal dimasukkan saja oleh Aisya ke dalam standing mixernya. Tapi untuk membuat adonan dengan menggunakan whisk dan spatula, biasanya saya aduk lagi sampai semua bahan tercampur rata setelah Aisya kocok.

Repot ga sih masak bareng anak?

Hm, saya memang ingin melibatkan Aisya ketika saya memanggang sesuatu. Untuk masak sayur dan menu lainnya belum. Repot sih tidak terlalu, karena saya pun hanya bikin kue/kukis/cupcake yang sederhana seperti Bolu Pisang, Brownies, Kastangel, dan Almond Crispy Cheese.

Paling yang bikin suka greget adalah ketika Aisya ingin turut memasukkan bahan-bahan ke dalam mangkok. Seperti menambahkan terigu, gula dan lain-lain yang masih harus saya takar. The thing is Aisya ingin melakukannya sendiri.

Akhirnya make a deal sih, Aisya boleh menuangkan bahan lain, tapi saya takar dulu. Harusnya sudah saya siapkan per magkuk kecil ya bahan-bahannya 😀

Atau saat Aisya mengocok dengan semangat, kadang adonannya ada yang keluar dari mangkuk. Nah, disini saya suka bawel “Aisya pelan-pelan aja, look the batter is spread out to the floor,”. Kalau sudah begini Aisya seringkali menenangkan dengan bilang, “Ini gampang kok Mami, tinggal di lap aja. Tenang ya Mami, Aisya ambil tissue dulu,”.

Hahaha, melihat responnya, saya jadi tertawa malu. Kadang, anak ini memang lebih dewasa dari Emaknya.

Baru-baru ini Aisya juga rikues untuk bikin nasi goreng sendiri. Begini kira-kira dialognya..

“Mami, aku mau makan nasi goreng,” ucapnya.

“Oke, Mami masakin yaa,” saya langsung berjalan ke dapur.

“Ngga mau. Aisya mau masak sendiri,” pintanya.

“Masak SENDIRI???” saya agak kaget.

Saya berusaha menunjukkan sikap proaktif dengan tidak langsung mematahkan semangatnya dengan mengatakan sebaiknya saya yang masak dan Aisya menunggu sambil bermain. Saya biarkan otak saya mengatur sebuah rencana.

Okey, setelah langkah-langkahnya tergambar jelas, saya mulai menyiapkan alat dan bahannya. Saya siapkan pisau dan talenan plastik. Kemudian meng-geprek bawang putih. Memecahkan telur dan menempatkannya dalam mangkuk kecil. Memasang wajan berisi sedikit minyak goreng di atas kompor. Serta mendekatkan nasi, garam serta penyedap rasa.

Terakhir, saya ambil bangku kuning kecil agar Aisya bisa memasak dengan nyaman.

Tiba saatnya memasak, Aisya tinggal mencacah bawang putih yang sebelumnya sudah saya geprek. Dan mencemplungkan bawang putih, telur, nasi dan bumbu-bumbu secara bertahap. Oia, Aisya meminta api-nya kecil saja, and I set that for her 🙂

Dengan spatula, Aisya berusaha mengoseng telur dan membulak-balikan nasi. This part was pretty hard for her. Jadi saya bantu dulu sampai nasi dan bumbu-bumbunya tercampur rata, lalu saya berikan lagi spatulanya pada Aisya. Tak lupa, saya ajak Aisya mencicipi nasi gorengnya dulu.

Wah, ternyata rasanya enak! Aisya langsung lahap menyantap nasi goreng buatannya sendiri.

Kembali tentang repot ngga repot. Sedikit repot, tapi saat melihat Aisya yang semangat belajar memasak, saya merasa perlu memfasilitasinya. Apalagi antusiame-nya datang dari sang anak.

Melihat Aisya yang gigih belajar jadi kebahagiaan tersendiri buat saya. Senang gitu, melihat di umurnya yang masih 4 tahun, Aisya berani bersentuhan dengan dapur, wajan, mixer, dan peralatan memasak lainnya.

Cooking is fun, though.

Yep. Jadi masak-memasak adalah kegiatan pertama yang suka saya lakukan bersama anak.

MENGGAMBAR & MEWARNA

This slideshow requires JavaScript.

“Mami, bisa gambar ulat ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar bola basket ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar unta ngga?”

“Hmm, unta yah? Bisa, insya Allah,”

“Kalau gambar anak ayam?”

“Bisa, bisa..”

“Gambar Robocar Poli, bisa?”

“Robocar Poli? Hehe, yang itu Mami belum bisa. Gimana kalau minta Uncle nge-print aja lalu Aisya warnai?”

Waduh Nak, kalau robot-robotan Mami kayaknya perlu belajar dulu nih.

Saya memang suka menggambar dan mewarna. Ngga jago yaa. Ketika Aisya meminta saya menggambar sesuatu, terutama orang, insya Allah saya bisa. Sesuai imajinasi saya atau melihat dulu gambar-gambar yang lucu, lalu membuat gambar yang serupa dengan modifikasi sedikit.

Kami suka membeli buku gambar kosong. Lalu digambar dan diwarnai oleh Aisya (kadang bersama-sama). Aisya juga mulai sering menggambar, terutama orang yang sedang memegang balon. Menggambar anak perempuan dengan temannya atau dede bayi. Dan menggambar Ayah, Mami serta Aisya.

Untuk anak 4 tahun, menurut saya sih sudah lumayan ya. Karakter yang ia gambar biasanya sudah dilengkapi dengan mata, hidung, mulut, telinga, rambut, pita untuk anak perempuan, anak laki-lali ngga pakai anting, ada tangan juga kaki.

Ketika mewarna, Aisya suka warna warni seperti pelangi. Dunno why, but again I think its good because it make the picture colorful 🙂

Selain buku gambar polos seharga Rp. 2.500,- yang kami beli di warung, Aisya juga punya buku mewarna. Aisya suka mengajak saya, Ayahnya dan teman-temannya untuk ikut mewarna. Baik menggunakan pensil warna, crayon, spodil maupun cat air.

MEMBACA BUKU & MENDONGENG

Ada kejadian unik kemarin subuh. Sekitar pukul 4 pagi, Aisya bangun. Mendengar suaranya, otomatis saya terbangun.

“Mami, tolong bacain buku,” ucapnya dengan suara khas bangun tidur yang masih agak serak dan lembut.

Saya pikir Aisya ngigau, saya tawarkan untuk membacakannya surat-surat pendek, karena terkadang Aisya juga terbangun tengah malam dan minta disenandungkan ayat-ayat Al-Qur’an di juz terakhir.

“Bacain buku, Mamii, yang Sesame Street” pintanya.

Saya ajak diri saya untuk melek sepenuhnya, saya pencet stop kontak dan mengambil buku berjudul “5 Minute Stories”. Rupanya Aisya ingat, sebelum tidur ia minta dibacakan 3 cerita dari buku ini, namun baru 2 cerita sudah keburu terlelap.

“Aisya mau dibacakan yang Bert’s Birthday?” tanya saya, menunjukkan halaman dengan cerita dengan judul tersebut.

“Mau, Ok mirip ya Mam, sama Big Bird New Nest,” jawab Aisya.

Dalam hati saya membatin, ‘Wah, nih anak hapal juga ya judul yang saya bacakan semalam, hihi’. The last story that I read before she fallen asleep is Big Bird New Nest.

“Iya, mirip ya Bert dan Bird. Kalau Big Bird yang gimana?” saya tes apakah Aisya benar-benar awake at that time.

“Yang yellow badannya and big. Bert juga same, yellow, tapi ngga ada bulu-nya,” aha! Ternyata Aisya benar-benar bangun.

Akhirnya, saya bacakan cerita di buku Sesame Street itu. Lagi-lagi, baru selesai dua judul, Aisya kembali terlelap.

Anytime she asked me to tell her stories or read her a book, saya selalu semangat! Mungkin karena saya suka membacakan nyaring dan mendongeng, jadi senang aja kalau Aisya minta diceritakan. Off course I’m also very glad of her interest in book 🙂

Oia, foto yang sebelah kanan itu, kami bikin wayang kertas. Seperti biasa, saya gambar lalu warnai dan digunakan sebagai alat peraga saat mendongeng. Ceritanya tentang Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso yang belajar antri.

Baca juga : Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri

MAIN DI PLAYGROUND

Screenshot_2018-02-09-18-16-19

Entah kenapa, saya juga senang menemani Aisya main di playground. Menemani Aisya jadi penjual burger, sushi, es krim dan saya jadi pelanggannya. Melihat kelincahannya memanjat, loncat-loncat di trampolin, main games, termasuk kadang-kadang saya ngikut saat Aisya naik perosotan hahaa..

Ya, sekali-kali aja kok. Penasaran karena jaman saya kecil dulu belum ada perosotan panjang dengan penutup atau perosotan model balon yang enak banget saat meluncur dan mendarat.

Baca juga : TAMAN TASIK PERDANA

NYANYI & MENARI

IMG_20171222_144550

 Saat mengantar Aisya untuk latihan nari tahun lalu, tak disangka, saya sangat menikmatinya. Aisya dan teman-temannya menari diiringi lagu “Aku Bisa”, mereka tampil dalam rangka memperingati hari Ibu.

Setelah anak-anaknya latihan, terkadang di sesi terakhir, Bu Inday (koreografer-nya) meminta para Ibunya ikut menari. Ya supaya anak-anaknya makin semangat kali ya. Sekalian supaya Ibu-ibunya bisa memantapkan gerakan anak-anaknya di rumah.

Jadilah saya ikut menghapalkan musik dan gerakannya. And I really enjoy it! Apalagi latihannya di ruangan dengan cermin besar. Mirip tempat latihan balet, terutup, dan tidak ada pria dewasa. Jadi bebas ber-ekspresi yaa.

BERKEBUN

Belum bisa dibilang berkebun sih sebenarnya. Kami baru saja ikut playdate berkebun dan pulang membawa 4 pot berisi tanaman Selada, Sukulen, Basil dan Mint. Ditambah, Aisya dapat hadiah dari teman sekolahnya berupa tanaman Stroberi yang dibawa dari Kebun neneknya di Sumedang.

Sebelumnya, suami sudah memanggil tukang untuk mempercantik taman. Dengan bertambahnya tanaman di rumah, kami jadi semangat melongok ke halaman depan. Pagi-pagi, saya perhatikan sudah tumbuh tinggi belum ya? Buahnya sudah ranum belum ya?

Aisya suka ikut mengamati dan menyiram tanaman, memetik stroberi yang sudah matang juga kadang mengambil beberapa ‘bunga’ untuk diberikan ke saya.

“Mami, buah stroberi-nya kok warnanya hijau trus putih, trus baru merah?” begitu tanya Aisya.

“Iya, prosesnya gitu. Pertama hijau dulu, lalu jadi warna putih. Kalau masih putih berarti belum matang. Pas warnanya berubah merah semua, ada putihnya dikit gapapa, itu artinya sudah bisa dimakan,” jawab saya

Minggu lalu saya juga mencoba menanam cengek, dan kemarin lusa saya benamkan setengah jeruk purut beserta bijinya di pot. Harapannya dua-duanya ikut tumbuh dan berbuah. Amiiin.

Menanam dan merawat tanaman seperti ini ternyata bisa bikin hati senang dan rileks yaa 🙂

TRAVELING

Berkaca dari pengalaman weekend minggu lalu, saat kami naik travel ke Bintaro dan pulang kembali ke Bandung, saya jadi makin sadar kalau Aisya itu teman yang asik dan kooperatif selama di perjalanan.

Saya ceritakan secuil yaa. Travel yang sudah kami pesan ternyata delay. Walhasil, kami harus menunggu selama 2,5 jam tanpa kejelasan. Mood saya lagi swing banget hari itu (I’m on my period). Alhamdulillah Aisya anaknya bisa menjaga dan mengembalikan mood positif saya. Saat menunggu, saya tawarkan mau balik atau lanjut daaan Aisya ingin tetap berangkat.

Beberapa kali Aisya menghibur saya dengan melongok keluar, “Mami, bentar ya Aisya cek travelnya sudah datang blum,”.

“Aha! Aisya ada ide. Sambil nunggu, kita belanja dulu yuk,” sambil menggandeng tangan saya ke Circle K.

Terakhir ia menanyakan pada mbak-mbak di depan dan mendapatkan informasi kalau sebentar lagi bakal datang travelnya

“Yeaaay, Mami, akhirnya datang juga ya travelnya!” semangat Aisya pun menular ke saya.

Setelah naik, Aisya bobo. Sampai rest area, saya bangunkan untuk menemani saya ke toilet. Sebagai hadiah karena Aisya mengembalikan mood positif, saya perbolehkan Aisya beli cemilan yang ia mau 🙂

Saya juga menikmati perjalanan pulang ke Bandung, di jalan kami bobo, main “Pak Polisi” menyebutkan nama-nama buah dan makanan, ngobrol, makan, dan bermain-main dengan imajinasi kami sendiri.

Setiap kami traveling, Aisya memang jarang sekali rewel. Seringnya energi-nya masih pol aja kemana pun kami pergi. Bahkan saat Mami dan Ayahnya lelah setelah mengunjungi banyak tempat, Aisya masih punya tenaga untuk bermain di dalam hotel. Alhamdulillah.

Sikap Aisya yang positif selama traveling inilah yang bikin saya ikut semangat 🙂

SHOLAT BERJAMAAH & MENGAJI

Ketika Aisya bilang, “Mami, Aisya mau solat. Aisya jadi imam-nya yaa,”.

Dan saat Aisya minta saya membacakan surat-surat pendek untuknya, lalu ia mengikuti. Saya senang sekali. Surat-surat pendek plus surat Al-Fatihah yang saya bacakan adalah surat-surat yang sudah ia hapal. Agar hapalannya terjaga, saya suka membacakan dari Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq hingga terakhir, surat yang sedang ia hapalkan sekarang.

Aisya mau mengulang ayat demi ayat saja saya sudah senang.

Pun ketika Aisya bilang mau jadi imam, saya persilakan. Saat keinginan untuk solat datang dari dirinya sendiri itulah yang bikin saya senang. Saat solat berjamaah magrib misalnya, kadang saya kerasakan bacaan dan ternyata Aisya mengikuti (sudah bisa surat yang saya baca tersebut). Subhanallah, mendengarnya saya haru sekali 🙂 Alhamdulillah Alhamdulillah.

Aisya hanya boleh menjadi imam ketika solat bersama saya (dan makmum perempuan lainnya). Jika ada ayahnya, kami beri pengertian bahwa Ayahnya-lah yang jadi imam. Pelan-pelan.

Momen-momen mendekatkan diri pada Allah ini juga menjadi salah satu kegiatan favorit saya dengan Aisya.

Okay, that’s the 8 things that I enjoy doing with my daughter. Kalau Ibu-ibu suka melakukan kegiatan apa aja nih yang seru sama anak? 🙂 share yuks..

 

 

 

 

 

Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

TalkshowMeTime4

“Let’s raise children who won’t recover from their childhood”

– Pam Leo

Quote ini menohok sebagian peserta talkshow yang menyimak. Tak terkecuali saya. Dan inilah hasil tangkapan pikiran yang dapat saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sebuah refleksi sederhana dari Talkshow Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu.

Talkshow ini merupakan even perdana yang Tim 33 Kisah Me Time adakan di Bandung. Kontributor yang mengisi acara ini adalah Elma Fitria, Dessy Natalia, Shanty Dewi Arifin, dipandu oleh saya sebagai moderator.

Beberapa kontributor lain pun hadir untuk menghangatkan suasana di salah satu ruangan dengan kursi warna-warni di dalam Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Bandung, Sabtu, 9 Desember 2017 lalu.

Penasaran dengan isi bukunya? bisa mampir dulu kesini ya 33 Kisah Me Time – Perjalanan Ibu Bahagia

TalkshowMeTime1

Talkshow ini dibuka secara resmi oleh teh Shanty selaku Ketua dari ODOPfor99days. Tulisan-tulisan beliau dapat dilihat di shantystory.com

Beliau menjelaskan awal terbentuknya Komunitas Berlatih Menulis One Day One Post ini. Dan berujung pada mengapa kami memilih tema Me Time sebagai buku pertama kami.

Kira-kira kenapa, Moms?

Ya, karena Me Time ini merupakan kebutuhan para Ibu.

Bapak-bapak juga pasti butuh waktu menyendiri, but do you know Moms? kalau ternyata depresi itu lebih banyak dialami oleh perempuan lho.

Mengenai Me Time Sehat Dan Produktif sebagai sarana agar Ibu terhindar dari depresi dijelaskan lebih banyak oleh teh Dessy.

ME TIME YES, DEPRESI NO – Dessy Natalia

 

 

Dessy Natalia atau yang lebih dikenal melalui blog-nya ibujerapah.com adalah seorang Ibu tunggal yang berprofesi sebagai pengajar di Telkom University. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan yang berhubungan dengan literasi dan volunteering.

Ketika beliau sudah duduk menemani saya di depan, saya sempat menanyakan tentang nama bekennya : Ibu Jerapah.

Kok memilih Ibu Jerapah sebagai personal branding? ternyata beliau pernah melihat tayangan dimana Ibu Jerapah melindungi anak-anaknya dari harimau seorang diri. Ibu jerapah itu terus menghentak-hentakan kakinya hingga harimau-harimau tersebut pergi. Sejak saat itu, teh Dessy termotivasi menjadi seperti Ibu Jerapah yang strong.

Kita lanjut bahas tentang hubungan antara depresi dengan me time ya.

Definisi Depresi

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih yang memengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati (mood) dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.

Ciri-ciri Umum-nya antara lain :

  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
  • Berpikir atau mencoba bunuh diri

Sumber : alodokter.com

Nah, teh Dessy Natalia mengatakan depresi itu ada dua, yaitu depresi ringan dan berat. Dan buat Ibu-ibu yang sulit membayangkan depresi itu seperti apa, anggap saja depresi itu seperti Dementor – sang penghisap kebahagiaan dalam cerita Harry Potter.

In short, saat seseorang mengalami depresi, ia tidak lagi merasa bahagia dengan aktivitas yang dilakukannya.

Oleh karena itu, agar tidak merasa depresi, carilah cara agar kita bisa merasa bahagia. Salah satunya dengan ber-me-time, yang tentunya baik untuk kesehatan jiwa dan raga.

Satu lagi saran teh Dessy, jangan pernah sendiri. Carilah teman atau komunitas tempat kita bisa ngobrol, sharing dan mengembangkan diri. Woman empower each other.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

Apakah Teh Dessy Pernah Merasa Depresi? 

Pernah, tapi tidak beliau sadari. Selepas perceraian, Dessy masih tetap sibuk dengan kuliah S2, tesis dan mengurus anak. Ia merasa baik-baik saja. Padahal sesungguhnya ia sedang membangun gunung stress, begitu papar beliau.

Begitu lulus dan mendapat gelar master, barulah depresinya terasa. Sikapnya mulai berubah pada anak dan keluarga terdekat. Hal ini tidak terlepas dari inner child-nya.

How To Overcome It?

Untuk menangani depresinya ini, teh Dessy mencoba berbagai terapi, dan yang terakhir kali dijajal adalah self-healing. 

Beliau juga menyampaikan, Bu Elly Risman pernah mengatakan, “Temuilah inner-childmu, peluklah ia dan berdamailah dengannya”.

Setelah melalui proses terapi dan berdamai dengan inner child-nya, teh Dessy merasa depresinya berangsur-angsur hilang. Ia pun tergerak untuk melihat sisi positif dari hidupnya.

“Selema-lemahnya kita, ternyata kita teh masih bisa memberi untuk orang lain”, ucao beliau.

Dari sinilah kemudian teh Dessy menemukan sarana me time-nya, yaitu melalui kegiatan volunteering. Ada kebahagiaan luar biasa yang beliau dapatkan ketika menjadi sukarelawan.

Dan ternyata ini berhubungan sama bakat beliau lho, hasil analisa yang beliau lakukan via temubakat.com menunjukkan bahwa sifat suka melayani pada diri teh Dessy ini presentasenya paling tinggi.

Wah, ternyata cara kita ber-me-time juga dipengaruhi oleh bakat kita ya?

Masa sih? coba kita simak pemaparan teh Elma berikut ini ya.

MENGENAL ME SEBELUM ME TIME – Elma Fitria

 

 

Elma Fitria adalah Ibu dari 4 orang anak, seorang Ibu Rumah Tangga, praktisi Strength Based Life & Talents Mapping. Blog beliau elmafitria.wordpress.com silakan dikunjungi ya 🙂

Menurut teh Elma, Me Time yang sehat dan produktif adalah me time yang membuat ibu merasakan tiga hal, yaitu :

  1. Tenang
  2. Senang
  3. Berkembang

Me time yang tepat memberikan unsur relaksasi, dan setelah kita merasa rileks, kita bisa lebih meng-aktualisasi diri.

Mengenali diri kita ternyata membantu kita menemukan me time yang cocok dengan bakat kita. Contohnya keselarasan antara bakat teh Dessy dan kebahagiaan yang ia dapat dari menjadi sukarelawan.

Kalau teh Elma gimana? bakat beliau yang paling menonjol adalah berpikir. Beliau senang dan terus berpikir bahkan ketika sedang bergerak. Sehingga me time yang pas untuk beliau adalah duduk sejenak, sendirian, di tempat hening lalu merenung.

Jika setiap hari teh Elma memiliki waktu me time seperti ini, esok harinya ia akan siap berhadapan dengan ke-empat anaknya yang hampir tiap 5 menit sekali memanggil, “Bunda.. Bunda.. Bunda”.

Yang sulung mau apa, yang kedua kebutuhannya apa, anak ketiga dan keempat maunya apa 🙂

Beliau mengatakan, “Sadar gak Bu, kenapa tidak ada satu pun orang yang sama persis di dunia ini? itu karena ketika Allah meniupkan ruh pada rahim Ibu, Allah juga membekali jabang bayi tersebut dengan spesifikasi masing-masing. Ini yang membuat bakat tiap orang berbeda, Ibu yang satu dengan yang lain tidak sama, tantangan yang di hadapi juga berbeda”.

Tanyalah pada diri sendiri, “What kind of mother I will be?”.

Kenali potensi diri kita, agar kita bisa menjadi the best version of us.

Sejujurnya di part ini, saya jadi paham sih, kenapa Ibu-ibu teh ada yang lebih cocok buka usaha, bisnis, jadi pengajar, bergerak di lapangan, kerja kantoran termasuk ibu rumah tangga.

Dalam talkshow ini, teh Elma juga memberi simulasi sederhana untuk mengetahui what kind of person we are melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

“Apakah kita suka bertemu orang?”

“Kita lebih suka berpikir atau bertindak?”

“Lebih sering menggunakan otak kanan/kiri?”

“Suka aktivitas indoor atau outdoor?”

Nah dari pertanyaan sederhana ini akan muncul presentase-presentase.

Saya sendiri merasa lebih nyaman di rumah, suka bertemu orang, lebih sering menggunakan otak kanan dan prefer aktivitas di dalam ruang. I think this is why saya senang menjadi Ibu Rumah Tangga dan saling mengunjungi dengan teman-teman saya.

Teh Elma juga berpesan, agar mejadi Ibu yang bahagia, selain meluangkan waktu untuk me time yang menyenangkan juga produktif, kita perlu berdamai dengan inner child kita. Sama seperti anjuran teh Dessy ya.

Another kicking line yang saya ingat adalah

“Kita mau menabung trauma atau kebahagiaan pada anak kita?”

the choice is ours.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu & Bersenang-senang Dengan Anak

KESIMPULAN

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari talkshow ini adalah, untuk membesarkan anak dengan bahagia, seorang Ibu perlu merasa bahagia. Artinya jauhkan diri dari hal yang bikin depresi. Salah satu caranya adalah dengan meluangkan waktu untuk me time. Harapannya me time ini bisa me-recharge semangat dan bikin kita happy.

Dan dengan happiness yang kita rasakan ini, kita memiliki lebih banyak energi untuk bisa produktif dalam keseharian kita. Baik sebagai IRT, Ibu bekerja, Ibu berbisnis dan lain-lain.

Segini yang bisa saya bagi. Bakal lebih luar biasa feel-nya saat ketemu sama dua Ibu keren ini secara langsung. Saya sampai terharu saat talkshow. Antara merinding dan terinspirasi dari keduanya.

Jazaakumullah buat teh Shanty, teh Elma dan teh Dessy juga semua kontributor dan pembaca 🙂

Special thanks also buat teh Wilda, untuk desain flyer, spanduk dan banner yang kece serta foto-fotonya.

 

THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

IMG_20171113_085941

Blogging is not for earning, its about helping others with the knowledge that you have” – Syed Faizan Ali.

Quote ini terpampang jelas di thread grup Facebook ODOPfor99days Senin pagi. Kalimat yang dikeluarkan oleh blogger asal Pakistan ini membantu saya meluruskan kembali niat menulis.

The main goal is not to gain some money, or make it as a competition. But to share what we have, what we know, the experience that we’ve been through to help others understand, giving them insight and all good purpose.

Dengan semangat berbagi, Selasa ini saya ingin sharing tentang hasil analisis fingerprint Aisya.

Sudah pada tahu kan tentang Fingerprint Analysis? ini adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui bakat bawaan lahir seseorang melalui scanning sidik jari. Katanya, kapan pun kita mengikuti tes-nya, hasilnya tidak akan berubah.

Sebelum memutuskan buat mendaftar, saya berasumsi bahwa para Ibu pasti sudah bisa melihat apa bakat dan potensi anaknya tanpa harus mengikuti fingerprint analysis. Saya pikir, belum perlu lah memindai sidik jari Aisya, paling nanti saja pas mau kuliah supaya tahu ia bagusnya masuk jurusan apa.

But then, karena Ibu-ibu lain pada mendaftar, saya jadi ikutan deh.

Salah satu pertimbangannya adalah, lagi ada diskon. Tahun lalu biayanya Rp. 300.000,-/anak, nah kemarin itu hanya Rp. 175.000,-/anak. Lumayan yaa potongannya, trus saya malah pengen dianalisis juga bakatnya. Tapi malu inget usia, jadi urung deh 😊

Hasilnya gimana? Turn out, it’s really eye opening lho.

Ga cuma bikin saya mengetahui apa bakat bawaan lahir Aisya tapi juga lebih memahami isi kepala Aisya DAN uniknya, diri saya sendiri!

Nah, di postingan kali ini, saya akan tulis garis besar hasil pemeriksaan psikobiometrik-nya berupa karakter belajar, gaya belajar dan bakat (MI) secara umum (tidak khusus potensi genetik Aisya saja) agar Ibu-ibu bisa relate.

Akan saya ceritakan juga hal-hal menarik dari laporan dan diskusi dengan konsultan psikobiometriknya.

Saya akan mulai dari memahami karakter belajar anak berdasarkan hasil analisa potensi genetik dengan metode psikobiometrik.

KARAKTER BELAJAR ANAK

Karakter belajar anak terbagi menjadi 3, yaitu :

  1. Pembelajar Kognitif, cirinya :
  • Lebih suka belajar mandiri
  • Menyukai suasana kompetitif
  • Berorientasi pada tujuan/goals
  • Cenderung mengandalkan nalar
  • Cenderung bersikap konsisten & ambisius
  • Cenderung proaktif

 

  1. Pembelajar Afektif, cirinya :
  • Lebih menyukai belajar Bersama
  • Menyukai suasana fun & friendly
  • Berorientasi pada proses
  • Cenderung mengandalkan perasaan
  • Cenderung bersikap persisten & moody
  • Cenderung reaktif

 

  1. Pembelajar Reflektif, cirinya :
  • Bisa belajar sendiri atau Bersama
  • Menyukai suasana formal/teratur
  • Berorientasi pada tugas
  • Cenderung mengandalkan aturan
  • Cenderung bersikap flat dan kaku sesuai aturan
  • Apa adanya

Inilah 3 ciri umum yang saya dapatkan. Pada laporannya disertakan juga kelemahan masing-masing karakteristik belajar plus saran penanganannya. But I won’t share it here supaya Ibu-ibu tertarik ikutan fingerprint tes ya 😊

Aisya tipe yang mana nih?

Presentase Aisya paling tinggi jatuh pada karakteristik yang pertama yaitu, pembelajar kognitif. Aisya memang lebih fokus saat belajar sendiri. Progressnya lebih cepat . Ia juga bisa belajar bersama, seperti di kelas, namun akan menyesuaikan dengan ritme teman-temannya.

Betul bahwa Aisya tidak takut berkompetisi. Ia sangat menikmati perlombaan, mampu mengikutinya dengan baik seperti saat mengikuti lomba dalam rangka peringatan 17-an. Dengan percaya diri, Aisya fokus memindahkan bendera dari satu botol ke botol lainnya. Ia berlari dengan cepat dan memenangkan perlombaan. Meanwhile, anak-anak yang lain ada yang berlari dengan santai dan mudah ter-distract dengan kondisi sekitar.

I think it’s one good point. Alhamdulillah.

Pun, ketika mengikuti perlombaan dan tidak menang, Aisya tetap stick to the rules dan setelah selesai berlomba ia bilang, “Mami, this is fun. Aku mau ikut lomba lagi nanti”.

She was so happy and sportive.

Aisya cenderung bersikap proaktif terhadap suatu situasi, termasuk saat berada dalam situasi yang tidak enak.

Saya sempat menanyakan hal ini kepada konsultan psikobiometriknya, “Kenapa ya Pak, anak saya itu kalau ada temannya yang memukul/menendang, Aisya tidak membalas, ia tetap diam dan tegar menghadapi temannya. In the end, Aisya akan segera memaafkan dan kalau saya larang main lagi dengan teman tersebut, ia akan bilang ‘Gapapa Mami, dia sudah baik sekarang’?”.

“Itulah anak yang kognitif, Bu. Dia merekam apa yang terjadi, kemudian bagian otak paling atas yaitu Neocortex-nya memilah mana hal yang harus disimpan (dibutuhkan) dan mana yang tidak. Jika kira-kira memori buruk itu dirasa kurang bermanfaat, otaknya akan segera melupakan sehingga anak dengan tipe belajar kognitif mudah memaafkan”, jawab beliau.

“Berbeda dengan anak yang tipe belajarnya afektif, mereka baperan. Hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka cenderung masuk ke sistem limbik”, lanjutnya.

“Kalau anak refletif, kena-nya ke reptilian brain. Apa-apa masuk ke alam bawah sadar. Coba deh Ibu baca-baca mengenai Teori Triune Brain dari Paul Mc. Klain”, saran beliau.

Lalu saya google dan baca-baca tentang teori Triune Brain, ilustrasinya bisa dilihat disini ya Moms (pic source from here and here)

 

 

THIS IS A WAW FOR ME.

Saya bersyukur Aisya adalah anak dengan tipe belajar kognitif, yang ketika dihubungkan dengan Triune Brain, Neocortex-nya lebih dominan untuk mencerna berbagai hal. Ini membuat Aisya jadi anak yang ceria dan positf. Wah, saya harus belajar dari Aisya nih untuk mudah melupakan dan memaafkan.

Saya senang Aisya a step ahead better than me yang afektif, baperan dan moody hehe.

Modal awal yang bagus nih, Nak. Alhamdulillah.

Anak dengan tipe belajar kognitif juga memiliki kemampuan analitik logikal yang kuat, suka bertanya, motoriknya kuat (aktif) dan paling suka belajar melalui praktek (not only reading a theory).

Oleh karena itu, sebagai seorang Ibu, saya disarankan untuk terus memotivasi Aisya dengan cara :

  • Memberikannya tanggung jawab (Aisya suka memanggil teman-temannya di sekolah untuk berkumpul, berbaris dan merapikan barisan bisa dibilang punya bibit memimpin)
  • Melatihnya untuk lebih mandiri (sekarang Aisya sudah bisa makan, gosok gigi, mandi sendiri)
  • Menciptakan suasana belajar yang penuh tantangan (dan Aisya sukaaa tantangan, anaknya gigih banget untuk menggapai keinginannya)
  • Memberi pujian/penghargaan ketika mencapai target (saya perhatikan Aisya lebih semangat saat mendapatkan apresiasi)
  • Mengajaknya berpikir kritis (tidak buru-buru memberi solusi/menjawab pertanyaan/giving the easy way and let her think/ask)
  • Menetapkan target
  • Memberi kesempatan kepadanya untuk mengemukakan ide dan solusi (pantesss anaknya solutif abiiisss dan ga kehabisan akal)

Sekarang kita lanjut ke hasil yang kedua yaitu gaya belajar anak.

GAYA BELAJAR ANAK (LEARNING STYLE)

Untuk gaya belajar anak, ada 3 kategori juga.

  1. Visual, cirinya :
  • Senang melihat dan mengamati sesuatu
  • Ketika berkomunikasi cenderung melakukan kontak mata
  • Sangat tertarik dengan warna-warni bentuk/gambar
  • Suka jalan-jalan
  • Mudah menghafal jalan/tempat dari bangunan-bangunan yang dilaluinya

 

  1. Auditory, cirinya :
  • Senang mendengar, suka dengan cerita dan musik
  • Peka pendengarannya
  • Sangat tertarik dengan nada, intonasi suara, dan peka dengan suara keras
  • Biasanya ketika berbicara, suaranya lembut dan penuh tekanan suara
  • Mudah bosan jika diam tanpa mengeluarkan suara
  • Mudah menghafal kalimat, cerita dan ayat-ayat suci

 

  1. Kinestetik, cirinya :
  • Senang bergerak, suka menyetuh sesuatu
  • Ketika berkomunikasi cenderung menggunakan bahasa tubuh
  • Sangat tertarik dengan olahraga maupun praktek
  • Biasanya berbicara keras, datar dan cepat
  • Mudah bosan dan pegal jika terus diam tanpa menggerakan tubuhnya
  • Terampil dan cekatan jika dilatih dan melakukan sesuatu
  • Suka dengan aktifitas yang sibuk

Aisya yang mana?

Presentase paling tinggi mengacu pada gaya belajar Kinestetik dan Auditory. Ada yang beririsan juga bersebrangan ya. Ini bakal nyambung sama bakat (MI). Salah satu multiple intelligence Aisya yang menonjol adalah musikal.

Anak dengan bakat musikal dikatakan dapat mengontrol intonasinya, sehingga sehari-hari ia akan berbicara dengan sangat lembut tapi pada waktu yang dibutuhkan akan mengeluarkan suara keras – but not too loud.

Saya juga menanyakan hal ini, “Pak, saya dan suami saya suaranya segini, tidak terlalu lembut juga keras. Tapi anak saya kok bisa lembut banget ya suaranya?”

Dan ternyata its because she has the musical potential in her blood 😊

Alhamdulillah. Again.

Aisya suka bercerita, re-tell stories dan memperagakan apa yang ia ceritakan. Bakat-bakat teatrikal ini kayaknya turun dari emaknya deh. Peace Ayaaah.

BAKAT / MULTIPLE INTELLIGENCE

Pada hasil ketiga ini, potensi yang kami (saya dan konsultannya) bahas adalah bakat / kecerdasan majemuk. Secara garis besar ada 8 area potensi kecerdasan di MI, antara lain : Intrapersonal, Interpersonal, Logika Matematika, Visual Spasial, Body Kinestetik, Linguistik, Musikal dan Naturalis.

Kira-kira Aisya yang mana nih?

Sudah ketebak kali ya dari hasil-hasil sebelumnya.

Yap! Bakat Aisya yang menduduki posisi ter-tinggi berdasarkan analisa fingerprint adalah Body Kinestetik, Verbal Linguistik, dan Musikal.

Padahal sepengamatan saya, Aisya itu Interpesonalnya sangat baik.

Ia suka menyapa, berkenalan, membangun pertemanan, mudah mengingat nama teman-temannya bahkan yang hanya bertemu sekali, dan menceritakan tentang teman-temannya ini. Suka berbagi makanan, menggandeng tangan teman, menenangkan temannya yang menangis atau ketakutan. Melindungi temannya, memberitahu mereka sesuatu yang buruk dan baik. Mau mengalah, perhatian. Sering nyampeur teman dan mengajaknya main ke rumah Aisya.

Sudah bisa menunjukkan empati di usianya yang masih kecil. Dan lain-lain.

Baca juga : 6 Things I Adore From Aisya

But okey, konsultannya bilang bisa jadi presentasenya dekat-dekat.

Kembali ke 3 bakat Aisya yang paling menonjol, saya mau mengulas sedikit ya. Anak dengan bakat ini cenderung :

  • Kuat dalam hal operasional
  • Terampil dengan hal mekanikal, teknik dan seni gerakan
  • Kuat dalam hal komunikasi tata bahasa
  • Memiliki potensi dalam penyampaian informasi secara efektif kepada pihak terkait
  • Kuat dalam hal komunikasi tata publikasi
  • Memiliki potensi dalam penyampaian komunikasi massal secara efektif kepada pihak terkait

Kata “Komunikasi Efektif” terulang dua kali ya, yang satu untuk pihak kedua per-orang-an dan satu lagi konteksnya komunikasi massal.

Ok, Aisya di usianya yang masih 3 tahun sudah mengenal komunikasi efektif. Terlihat dari Aisya yang melihat-lihat dulu siapa yang diajak bicara. Jika lawan bicaranya memberikan perhatian penuh, Aisya akan berbicara panjang lebar, ekspresif dan terbuka.

Namun jika patner yang diajak berkomunikasi not pay fully attention, Aisya akan memilih diam atau berbicara seperlunya saja and not demanding anything.

Kata Bapak konsultan, hal ini bagus, artinya Aisya bukanlah orang yang suka wasting time. Ia sudah bisa melakukan komunikasi efektif. Orang yang dipandang dapat mencerna apa yang ia sampaikan dengan baik, itulah orang yang Aisya pilih untuk berkomunikasi.

Konsultannya juga memberi saya arahan, sebaiknya Aisya digiring ke arah mana. And when it comes to, “Cita-cita Aisya mau jadi apa?”, saya bilang kayaknya belum pasti deh.

Untuk sekarang Aisya mau jadi Dokter, ini cita-cita hampir semua anak kecil kayaknya ya. Mau jadi apa hari ini mungkin lebih dipengaruhi tontonan, teman, atau bisikan kita (orang tuanya).

Saat ia beranjak dewasa, saya ingin Aisya bisa menggali potensi diri, menemukan passion-nya and I will fully support her.

Tentu saya akan memberi arahan, namun saya lebih ingin Aisya yang menentukkan mau bergerak di bidang apa nantinya.

Sekian dulu yaa sharing-nya. Mudah-mudahan bermanfaat. Coba ditilik-tilik berdasarkan ciri-ciri yang saya sebutkan di atas, anak-anak Mommies tipe dan gaya belajarnya yang mana?

As for me, dari hasil analisa potensi genetik ini saya jadi lebih tahu isi kepala Aisya, what to do to motivate her, membuat saya bersyukur dengan perbedaan yang kami miliki in which sifat-sifat dasar Aisya lebih baik dari saya juga mengenali diri saya lebih dalam dan tahu apa yang harus saya upayakan.

Karena keberhasilan orang tua dalam mendidik anak juga tidak terlepas dari sejauh mana orang tuanya mau berusaha berubah dan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif.

Ya Allah please protect Jasmine Aisya, and let her have a brighter future. Amiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wejangan Dari Tetangga

IMG_20171031_084459_161.jpg

“Tetangga adalah keluarga yang paling dekat” – Pak RT.

Ketika pindah rumah, saya belajar hidup bertetangga. Kalau sebelumnya saya bertetangga dengan teman-teman sebaya Ibu, sekarang saya memiliki tetangga sendiri.

Seperti kata Pak RT, di lingkungan yang baru dan agak jauh dari keluarga, otomatis tetangga menjadi keluarga terdekat. Kalau ada apa-apa, sambil menelepon suami/orang tua/saudara, kita bisa sambil mengetuk pintu rumah tetangga.

Alhamdulillah tetangga-tetangga saya baik dan suka gotong royong. Sebulan setelah saya tinggali rumah yang bergaya semi scandinavian ini, pengajian diadakan di rumah. Saya undang tetangga kiri kanan agar lebih mengenal mereka.

Baca juga : Taman Mungil Aisya #SemiScandinavianHome

Saya juga bergabung dalam grup WA RT sini, di grup saya bisa menanyakan berbagai hal, share info dan lain-lain.

Terkadang saya dan tetangga saling mengirim hadiah, baik itu berbagi sesisir pisang ambon yang dibagi dua, mengantarkan bala-bala hangat untuk sarapan, memberikan semangkuk soto yang kebetulan porsinya berlebih di rumah, ya ‘sedikit ewang’ bahasanya.

Memiliki tetangga yang baik memang rizki tersendiri, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw berikut ini :

Rasulullah bersabda, “Ada empat diantara kebahagiaan di dunia (yaitu) : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman” – [HR. Ibnu Hibban]

Saya juga sempat mengikuti penutupan Arisan yang diadakan di salah satu kafe dekat rumah. Saya belum ikut Arisannya sih, tapi tetap diajak datang untuk silaturahim.

Acara asik banget. Masing-masing warga diberi name tag, lalu warga baru diperkenankan mengenal diri di depan. Kami juga bermain games.

Games-nya lucu banget deh. Sebelumnya kami dibagi ke dalam 6 grup dimana masing-masing grup harus menunjuk satu orang untuk memeragakan seseorang dan anggota grup menebaknya.

Seseorang ini adalah warga yang dianggap ikon di RT tempat saya tinggal.

Peraga tidak boleh bicara dan harus memberi clue dengan gerakan saja. Ada yang berlagak seperti dokter, pura-pura mengalungkan stetoskop dan memeriksa detak jantungnya sendiri. Ada yang melakukan gerakan senam menirukan instruktur zumba, dan seolah-olah menulis surat menandakan ia sekretaris. Bu Hertin, dari grup saya, kebagian meragakan orang yang sedang masak lalu menggambar bentuk gas dengan tangannya. Sontak saya tebak, “Bu Ine penjual gas!”. Ternyata jawabannya benar.

Yang paling seru adalah game mengulang kalimat.

Kalimatnya sederhana, yaitu “Kepala digaruk, kelapa diparut”. Diulang-ulang terus, coba Ibu-ibu coba sendiri di rumah, kepeselet ga lidahnya? hehe.

Pulangnya kami dibekali mug cantik bertuliskan, “Keep Calm And Join Arisan” beserta hadiah games. Tak lupa bu RT menghampiri saya dan bilang, “Ikut Arisan ya”.

OK, siap Bu 🙂

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

Dari tetangga-tetangga yang jam terbangnya lebih tinggi di dunia parenting ini saya juga mendapatkan 2 wejangan, antara lain :

  1. Tetangga se-RT beda jalan yang duduk semeja dengan saya di acara Closing Arisan Sabtu lalu bertanya,

    “Bu Ai, punya anak umur segini (nunjuk Aisya) suka bikin Bu Ai bertanya-tanya ngga, kapan yaa saya bisa ‘lepas’ dari anak ini? Dan pengen anak cepat-cepat mandiri?”.

    “Iya suka pengen gitu, Bu”, jawab saya.

    “Saran saya sih Bu, nikmati aja masa-masa anak nempel sama kita. Karena pengalaman saya, pas anak perempuan saya sudah SMP susah banget lho Bu diajak nemenin saya kemana-mana. Kalau saya ajak belanja atau ke undangan gitu malah dia pengen di rumah. Apalagi kalau ada temen main, pasti lebih milih temennya. Sekarang tuh saya suka kangen dan pengen melakukan sesuatu berdua dengan anak saya”, lanjut beliau.

    Hoo, ok NOTED, Bu.

  2. Tetangga lainnya – yang satu ini sih tetangga Ibu sebenarnya – yang sudah memiliki dua anak juga pernah memberi saya insight. Beliau bilang, “Pengalaman saya, anak pertama kan sekolah di TK swasta yang bagus (dan lumayan mahal). Full day lagi. Saya udah pede aja anak saya bakal pinter keluar dari sana”.

    “Eh, ternyata ngga gitu”, lanjutnya.

    “Akhirnya sebelum masuk SD saya ajari dia di rumah dan selama 6 bulan intens akhirnya bisa mengejar target keahlian yang dibutuhkan untuk masuk ke SD. Jadi jangan mempercayakan pendidikan anak 100% ke sekolah, apalagi gurunya kan hanya satu atau dua di kelas. Anak banyak. Perhatiannya terbagi”,

    Kita sebagai orang tualah yang lebih mengenal anak kita. Di rumah kita harus tetap mendidik anak. Semuanya kembali ke kita”, pungkasnya.

    Saya manggut-manggut mendengarnya.

Hm, memang sih saat konseling di Kober pun, dikatakan kalau sekolah dan les itu adalah alat. Pendidikan, habbit, penanam nilai yang utama berawal dari rumah. Dari kita, Bu 😊

Alhamdulillah, ngobrol-ngobrol sambil hang out dan nemenin anak main bisa memberikan masukan yang berharga gini. Terimakasih buat wejangannya, tetanggaku.

Jazaakumullah.