ASEAN UNIVERSITIES STUDENT CONFERENCE

ASEAN UNIVERSITIES STUDENT CONFERENCE

Pagi, 21 Mei 2009, mobil, bis, taxi, sepeda motor dan kendaraan lainnya berderu di depan Gedung Merdeka, gedung bersejarah yang mengabadikan konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Ali Sastro Amijoyo ke-2, yang didalamnya menghasilkan solidaritas di Negara-negara di Asia Afrika.

Di pintu masuk gedung bersejarah ini, para protokol berseragam biru sudang memajang diri dengan sigap dan rapi, mereka adalah protokoler UPI. Hari ini, di Gedung Asia Afrika tengah berlangsung Konferensi Mahasiswa Se-ASEAN yang diikuti oleh 180 peserta yang berasal dari 10 negara di ASEAN, dari tanggal 20-23 Mei 2009.

Acara dibuka secara resmi oleh Pak Adhyaksa Dault dan Pak Ahmad Heryawan, dengan menggoyangkan angklung.ASEAN UNIVERSITIES STUDENT CONFERENCE ini dibuka secara resmi oleh bapak Adhayksa Dault selaku Mentri Pemuda dan Olahraga dan bapak Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, dengan menggetarkan angklung secara bersamaan, pada Rabu malam, 20 mei 2009. Tari merak, tari Saman, tarian rakyat Kuda Lumping dan permainan angklung menjadi sajian hangat di opening ini.

Ini adalah kedua kalinya, Ai mengunjungi Gedung Merdeka yang di sepanjang tembok depan ruangan bertengger bendera-bendera dari berbagai negara. Terdapat gong raksasa berwarna keemasan dan di langit-langit terdapat foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, juga burung garuda.

Ada yang cukup unik dari toilet di Gedung ini, cukup glamorous, dan di lorong menuju toilet, Ai bertemu dengan seorang security yang bernama Pak Yayan. Ai yang berseragam merah radio Antassalam ini dimintai nama Siar dan jadwal siaran. Cieh! Fans gua yg pertama nih!.

“Abi siarana unggal dinten Ahad, Pak. Ti tabuh 6 nepi ka 9 enjing, dangunkeun-nya, Pak. Nuhun”, ucapku dengan bahasa Sunda yang dibisa-bisakan, Alhamdulillah, bapaknya tidak menangkap bahwa bahasa Sundaku levelnya masih amatir. Heu..

Hari ini, 21 Mei 2009, acara dimulai dari pukul 8.30, diawali dengan games yg dipandu oleh seorang wanita, bernama Fathiyyah Maryufani Basyari dari Purna Caraka Muda Indonesia.

Dan ada sapaan khusus yang dipandu oleh Kang Zahir, MC acara, untuk para peserta, yaitu, “Hai, Hallo!”.
Dan peserta akan menjawab dengan, “Hallo, Hai!”.

Serangkaian acara yang akan diikuti oleh peserta Konferensi pada hari ini ada 2, yaitu : Country Presentation, dari pukul 08.30-11.30 dan Plenary Session, pukul 13.30-15.30.

Setelah warming up dirasa cukup, peserta pun segera mengambil posisi masing-masing untuk mempresentasikan Kebudayaan dari Negara masing-masing.

Presentasi pertama diawali oleh Brunei Darussalam, yang membawakan presentasi adalah seorang gadis manis, berkerudung hijau, dengan pakaian khas adat melayu, bernama Khairunissa dari Universiti Brunei Darussalam, disambung dengan presentasi kedua dari Negara Cambodia, and there’s Pissey! He is ITB student, Pissey mengatakan bahwa, yang hadir di konferensi ini dari Cambodia, adalah mahasiswa Cambodia yang berkuliah di Indonesia. Presentasi dari Cambodia menggunakan a short film.

Berikutnya, adalah a great well prepared presentation from Indonesia, its cool! The speaker is Muhammad Assad.

Sementara Laos memulai perkenalan Negaranya dengan menampilkan 3 orang wanita menari dengan baju adat berwarna hijau.

And the last performance is from Malaysia that perform the Banana dance.
Jasmine is leading the game!

Setelah itu, ada coffee break yang bertempat di sayap kiri gedung Merdeka, dimana peserta menikmati cemilan dan menyeruput teh, kopi, atau hanya segelas mineral water.

Nah sat coffee break ini, Ai menyempatkan diri ngobrol dengan seorang perserta dari Thailand, namanya Vorapat Veerapattanakup [waduh! Manggilnya gimana, nih?], “Just call me, Tong!”, ucapnya. Alhamdulillah, bereslah sudah urusan lidah.

1 jam waktu coffee break berlalu, negara-negara yang presentasi di sesi ke-2 adalah Myanmar, Philiphine, Singapore, Thailand, dan Vietnam.

Di sela-sela masa reportase, aku berkenalan dengan seorang fotografer lepas, Pak Aasril, yang memberikan aku wejangan mengenai fotografi, beliau mengatakan bahwa jika kita mau belajar fotografi yang sesungguhnya, maka belajarlah dari kamera analog, karena kamera digital itu MENIPU! Terlihat bagus di kamera saja, sedangkan ketika ditransfer ke computer, kualitas gambarnya akan sedikit menurun.

Beberapa menit setelah Country Presentation berlangsung, 2 pria, disusul ole seorang pria lagi datang ke Gedung saat Plenary session, jadi sekarang ada 3. Ketiga pria ini mengenakan seledang bak Abang None Jakarta, akhirnya aku mewawancara mereka juga. Ternyata mereka adalah Duta Muda ASEAN-INDONESIA. Dari perbincangan dengan para Duta dari Jawa Barat inilah, aku mendapatkan banyak info mengenai ASEAN Single Community 2015.

Alhamdulillah, selama meliput acara ini, aku mendapatkan beberapa kenalan baru dari ITENAS, namanya Citra dan Adhit, mereka juru foto juga. Lalu Pak Eko, dari kementrian Pemuda dan Olahraga, kang Irawan dari Ditjen Sejarah dan Purbakala Departemen Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, aku juga sempat ditegur oleh Dirjen Sejarah dan Purbakalanya, ditanya, “Hallo, where are you from?”. Wow! Aku membantin, do I look like a foreigner? Hehehe. Kujawab sambil nyengir, “Im from Indonesia, Pak, from Press, Antassalam Radio”.

Acara pun usai sekitar pukul 5 sore, peserta berisitirahat untuk bersiap mengikuti Focus Group Disscussion keesokkan harinya, tanggal 22 Mei 2009, yang di dalamnya akan membicarakn beberapa teman yang akan menjadi rekomendasi deklarasi ASEAN UNIVERSITIES STUDENT CONFERENCE ini.

Pada hari terakhir, 23 Mei 2009 akan ada Field Trip ke Tangkuban Perahu, dan beberapa tempat lain di Bandung, sebagai sarana promosi Cultural Heritage in Bandung.

Acara diakhiri dengan berbagai sajian pada malam tanggal 23 Mei 2009 di Pendopo Walikota oleh Bapak Dada Rosada.

Advertisements

Pawai Hari Lingkungan Hidup

STOP! polusi di CEKUNGAN Kota Bandung!
Sahabat, Hari Lingkungan Hidup se-Dunia jatuh pada tanggal 5 Juni, yaitu Jum’at lalu. Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup ini, Koalisi Masyarakat Peduli Udara Bersih melakukan Pawai Hari Lingkungan Hidup dengan tema besar “Udara Bersih” pada hari Sabtu, 6 Juni 2009.

Pada semester akhir 2008, BPK mencatat kerugian dalam bidang kesehatan mencapai 12,7 Milyar, disebabkan oleh polusi udara.

Mr. Rahmat JabariL.
Rahmat Jabaril dari WALHI menyatakan keprihatinannya atas kadar timbal di kota Bandung yang lebih banyak dibandingkan dengan kota Jakarta yang dikenal sebagai kota metropolitan.

Baru 8% area dari kebutuhan 30% yang seharusnya, yaitu 30% filter polusi udara di Kota Bandung yang direalisasi oleh Pemerintah.

Selain mengharapkan agar pemerintah dapat segera membentuk ruang hijau terbuka sebesar 30% dari keseluruhan luas Kota Bandung, Rahmat Jabaril juga menantang masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

“Pemerintah kan sudah menyediakan kendaraan umum, coba nih, masyarakat mau tidak memanfaatkannya. Jangan membunuh diri sendiri karena terlena oleh kekayaan. Kita harus memikirkan anak cucu kita, kehidupan generasi selanjutnya akan ketersediaan udara bersih. Banyaknya kendaraan umum ditambah penggunaan kendaraan pribadi akan meningkatkan jumlah polusi udara”.

.

“Anak-anak yang bersekolah di Jalan Merdeka contohnya, mereka akan menghirup timbal yang terkandung dalam udara, dan timbal tersebut akan mengendap di tubuh anak-anak, ini sangat berbahaya”, ungkap aktivis lingkungan ini, lagi.

Aksi damai yang berlangsung dari pukul 9.00-12.00 ini merupakan bentuk kepedulian beberapa LSM dan mahasiswa atas ketersediaan udara bersih di Kota Bandung.

Setelah dibuka di Babakan Siliwangi, LSM-LSM yang terdiri atas WALHI, Komunitas Taboo, Gerbong Bawah Tanah, Komunitas Gereja beserta KAMMI dan PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung) berjalan kaki menuju BIP melewati jalan raya.

Aksi yang juga diikuti oleh mahasiswa ITB yang terhimpun dalam KM-ITB, HMTL, IMAG, perwakilan HIMATIKA, Ganesa Hijau, dan U-Green ini menampilkan berbagai spanduk, poster dan media kampanye unik lainnya.

Tak ketinggalan, masyarakat pun diminta untuk memberikan dukungan terhadap pelestarian lingkungan hidup di Kota Bandung di sebentang kain putih yang digelar selama orasi di Babakan Siliwangi dan Bandung Indah Plaza.

Kampus NETRAL Harga Mati.

spandukBismillahirrohmaanirrohiim.

Sabtu, 16 Mei 2009

 

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat-sahabat mahasiswa ITB, Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono beserta Pak Boediono, Gubernur Bank Indonesia, mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden dan calon Wakil Presiden RI pada Jum’at malam, 15 Mei 2009 di Sabuga, Bandung.

Dalam pidatonya, Pak SBY mengatakan, “5 tahun ke depan, kami akan menghadapi tantangan yang kompleks, disebabkan oleh krisis ekonomi global, yang tidak dapat dengan cepat diselesaikan”. Oleh karena itu, pak SBY mempercayai pak Budiono selaku Gubernur Bank Indonesia untuk membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi tersebut.

Kedatangan SBY ke Bandung menyebabkan kemacetan lalu lintas di beberapa tempat, terutama di sekitar Jl. Ganeca dan Jl. Juanda,  karena beberapa jalur kendaraan umum diblokir, sehingga sebagian besar angkot yang biasa melalui jalur umum tersebut, tidak beroperasi.

Akibatnya, terdapat mahasiswa yang kesulitan dalam hal transportasi.

Jalan di depan Gerbang utama kampus ITB dipenuhi oleh antrian mobil akibat pemblokiran beberapa jalur ini.

Menyambut kedatangan SBY ke Sabuga, sejumlah mahasiswa ITB melakukan aksi, dengan menggunakan dua buah spanduk panjang, bertuliskan “KAMPUS NETRAL HARGA MATI”, dan “Tolak capres cawapres yang tidak pro rakyat”, dan satu kain yang dipenuhi bubuhan tanda aspirasi beberapa mahasiswa ITB.

Pernyataan sikap yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa ITB ini bertujuan untuk mengklarifikasi bahwa kedatangan SBY ke Sabuga bukan berarti ITB memihak SBY dalam pilipres kali ini, karena bagi mahasiswa ITB, kampus adalah area bebas politik.

Pernyataan sikap, “KAMPUS NETRAL HARGA MATI”, yang dimulai dengan orasi dari perwakilan mahasiswa ini, berlangsung dari pukul 16.00 hingga pukul 19.00.

Setelah orasi di Gerbang utama kampus ITB dilakukan, mahasiswa-mahasiswa ini pun berjalan hingga gerbang belakang sambil menyanyikan lagu-lagu kampus.

Aksi pernyataan sikap ini berakhir statis, di gerbang belakang ITB di depan Jl. Taman Sari.