Bunda, Kenapa Marah?

FloatingMarket.jpg

Malam ini “Kuch Nahi” banget deh. Apaan tuh kuch nahi?

Kuch nahi or kuch nahin is an urdu language that means “nothing”.

Yap, nothing special tonight. Saya hanya membuka laptop dan mengedit 2 postingan lawas karena foto-foto disana mendadak cracked. Suka mengalami yang begini ga Moms? Salah satu cara agar foto yang kita upload ga hilang dari blog adalah memperkecil size-nya. And that’s what I do recently (re-upload and re-size).

Dulu kan saya masih Nge-Blog Dari HP, jadi fotonya itu seadanya banget. Yang ada di HP saya masukkan saja that’s why fotonya besar. Bisa sih diatur tapi karena khawatir bakalan ga simetris saya biarkan saja ‘nga-jeblag’.

Kalau sekarang pakai laptop jadi lebih leluasa menata media 🙂 Alhamdulillah.

Trus ada apa lagi?

Hm, kayaknya malam ini saya mau sedikit refleksi aja, tentang kenapa Ibu-ibu terkadang marah sama anaknya. Saya akan tulis ulang caption panjang dari instagram saya @sundarieko (mangga difollow).

Jujur, saya paliiing happy kalau Aisya main sama teman-teman yang baik. Menurut saya, anak-anak emang bagusnya main sama anak-anak lagi, selain sama ortunya, keluarga dan saudara-saudara. Good friends giving positive vibes. Aisya punya cukup banyak teman sih, ada teman di sekolah, di lingkungan rumah Akung, dan di rumahnya sendiri. Ponakan-ponakan Ayah dan anak-anak teman Mami.

And I prefer Aisya maiiin apa aja daripada main gadget. Gadget jadi pilihan paling kepepet kalau Mami lagi butuh banget waktu untuk diri sendiri, baik buat beresin segala macem kerjaan rumah atau pas lagi ada acara dan harus konsentrasi, atau saat Mami lagi kurang fit (perlu istirahat) sementara Aisya enerjik – menangani kondisi-kondisi spesial lah ya. Kalau Aisya masih bisa bermain mandiri saya lebih bersyukur.

Nah pas lagi ga ada teman otomatis saya memposisikan diri sebagai teman Aisya. Kadang saya bertingkah layaknya anak seusia Aisya. Kadang ya jadi coach, jadi Ibu juga.

Trus yang bikin Mami paling rumek adalah saat lagi banyak kerjaan dan Aisya lagi pengen ditemenin. Biasanya saya kasih jurus youtube tapi kadang ga mempan, Aisya lebih pengen main sama Mami rather than megang gadget. Wah artinya her need to get my attention is bigger ya. Sisi positifnya, Alhamdulillah Aisya termasuk anak yang ga addicted to gadget. Kalau udah gini saya suka bingung. Di saat saya kesulitan menangani perasaan bersalah karena gabisa nemenin anak sementara kerjaan juga ‘manggil-manggil’-nya mulai ga santai, anehnya saya suka jadi emosi. Setelah meluapkannya so pasti saya menyesal. I always asking for her apology after that. Berharap saya memililki manajemen emosi dan waktu yang lebih baik lagi. SO SAD.

BUT THEN AGAIN, seperti pernyataan teman saya yang main ke rumah lusa lalu, “Anak-anak itu PEMAAF BANGET ya, Ndar”. Ah iya banget ini. Hikmahnya, Mami harus banyak-banyak istigfar dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Caption ini ditulis setelah saya berdamai sama diri sendiri after I mad to Aisya which, like other mothers, saya menyesalinya.

“Kenapa harus marah sih, Bun?”

“Emang ga ada cara yang lebih ahsan ya buat menyalurkan emosi?”

Ini adalah beberapa pertanyaan yang suka saya tanyakan sama diri sendiri.

Oh come on, harus bereskan file diri ini mah.

Kadang suka takut juga sih, ketika saya marah, momen itu akan masuk ke alam bawah sadar Aisya dan bikin dia either trauma atau mengulangi what I did when she grow up.

Let’s wish not. Amiiin.

Saya selalu meminta maaf setiap habis ngambek sama Aisya.

Saya bahas deh, “Aisya ga suka ya kalau Mami marah?”,

“Muka Mami jelek ya pas marah?”,

“Aisya mau maafin Mami ga?”,

“Aisya tau ga kenapa Mami marah?”,

“Kalau Mami marah lagi, Aisya bilang ‘Mami senyum dong, Mami sabar’, gitu ya”,

Nah, ketika Aisya bilang, “Mami senyum dong”, saat saya lagi manyun, biasanya langsung bikin saya tertawa lho dan bikin emosi mereda. Akhirnya ya kagum aja sama cara Aisya ‘memadamkan’ saya.

Tapi saya kalau marah bentar ko. Kaya meluap gitu tapi terus HUP! dan bisa switch ke Mami mode baik lagi. Sayangnya Aisya udah keburu takut jadi menghindar.

Kadang ketika saya minta maaf dan minta peluk, Aisya mau dan dia juga cepat ceria lagi (mood-nya membaik). Tapi ada kalanya Aisya nangis sampai bilang, “Aisya takut kalau Mami marah”.

Uh, JLEB!

Tapiii tapi ya, nyadar ga sih Mom, kalau Ibu-ibu marah itu biasanya disebabkan oleh faktor luar. Bukan dari dalam kitanya.

Bisa jadi sikap asli kita sehari-hari sama anak itu lembut, fun, easy going, baik hati, bijak sama anak. Tapi ada kondisi tertentu yang bikin kita tiba-tiba berubah jadi ‘monster’.

Soalnya, beberapa teman dekat saya (yang udah sahabatan lama nih ya), suka komen,

“Aisya anaknya happy banget ya – ceria, energik, supel – looks very happy lah”,

“Kayaknya Aisya ga pernah dimarahi ya sama kamu”,

“Kamu sabar banget ya, kayaknya ga pernah marah sama Aisya”

Mendengar orang-orang yang kenal dekat sama saya ngomong gini, seringkali bikin saya merenung dan gatal pingin confess sih sebetulnya kalau saya kadang marah juga kok sama Aisya. And I’m still finding a way to overcome it.

But then I think, perkataan mereka adalah do’a. Mereka mendo’akan saya agar jadi Ibu yang lebih baik, in this case ga suka marah-marah sama anak lagi (Amiin).

And I also think that every mother have a chance to choose to not angry with their kids.

Jika saja support system sekeliling Ibu seperti pasangan, keluarga besar, lingkungan sosial mendukung agar Ibu tidak marah, insya Allah Sang Ibu tidak akan menjadikan marah sebagai sarana komunikasi terhadap anak.

This days, I still see Ibu-ibu yang membentak anaknya di depan umum, atau mempermalukan anaknya dengan menyebutkan kesalahannya.

Bahkan tadi siang, ketika anak saya bermain dengan salah seorang temannya, Ibu teman Aisya ini nitip pada saya, “Bunda Aisya, kalau anak saya nakal mah marahin aja ya”.

Wah, I won’t do that.
In my shoes, saya ga akan tega kalau anak saya dimarahi orang lain.

Different values I guess.
Barangkali di keluarga dan lingkungannya hal-hal yang saya sebutkan di atas itu sudah lumrah.

Di sisi lain saya mengenal salah satu tetangga yang suami dan keluarganya justru sangat anti-marah pada anak.

“Suami saya tidak pernah marah sama anak saya. Papah dan Mamah mertua juga gitu ke anak-anaknya termasuk ke suami saya, ga suka marah. Mereka bilang, kasihan anak masih kecil jangan dimarahi”, cerita beliau pada saya.

“Kalau ketahuan saya marahin anak saya, wah saya yang dimarahi mereka”, begitu lanjutnya.

Disini saya bersyukur melihat support sistem di keluarganya sudah bagus ya. Dengan begini, Ibunya bisa lebih santai dan sabar menanggapi tingkah polah anaknya 🙂

Beda sama kondisi Ibu yang actually she is good tapi lingkungan sekitarnya yang temperamen. Bakal lebih berat effortnya untuk menjadi gunung es yang dingin di antara merapi yang siap meletus.

Back again, every mother have their own battle.

Bapak saya pernah memberi wejangan, “Ketika orang yang emosional berhasil menahan amarahnya, dia bakal mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah ketimbang orang yang tidak emosional. Kan proses melawan nafsu-nya lebih berat”.

Maklum, wanita bergolongan darah B katanya kan emosional yaa. Katanya sih, ga bisa digeneralisir sih.

And then what else?

OK, I will continue by breaking down, apa aja sih yang bisa menyulut emosi Ibu.

Apa Aja Sih Yang Bikin Ibu Lebih Emosian?

1. Tertekan

Saat seorang Ibu merasa tertekan dan menyimpannya dalam-dalam, suatu saat tekanan tersebut akan meledak. Orang terdekat bisa kena imbasnya, seperti suami or worse anak.

Kenapa anak bisa jadi sasaran empuk? karena mereka looks more fragile. Suami/orang dewasa lainnya bisa saja memberi bantahan, pembenaran, perlawanan atau sikap apa pun yang mereka tunjukkan yang membuat kita sebagai perempuan merasa tetap tertekan.

Sedangkan anak cenderung mendengarkan ocehah kita, and they can’t do anything about it. Sehingga secara sadar maupun tidak, kita merasa lebih aman untuk burst all the emotion out.

Memang apa sih yang bikin seorang Ibu tertekan?

Banyak ya! Bisa jadi datang dari keluarga, atau omongan tetangga yang terlalu dimasukkan ke dalam hati. Mungkin stress dari kantor yang dibawa pulang dan lain-lain.

PR kita selanjutnya, adalah mencari solusi sebelum tekanan ini menumpuk dan merembet ke hal lainnya.

2. Dikejar Deadline

Bukan hanya deadline pekerjaan di kantor, di rumah pun ada banyak deadline. Misal pada satu hari tersebut kita harus menyelesaikan setrikaan yang sudah menumpuk karena hari-hari sebelumnya kita sibuk pindahan, mencuci piring-piring kotor, memasak, membereskan mainan yang berserakan serta menyapu dan mengepel rumah, tapi di waktu yang sama anak kita rewel. Sedangkan sore hari saudara-saudara mau main ke rumah dan kita ingin rumah kita bersih, nyaman, rapi ketika mereka datang.

Supaya kita terhindar dari uring-uringan dan ikut tantrum saat anak tantrum, ada baiknya kita mengkomunikasikan pada pasangan kalau kita membutuhkan bantuannya. Atau mengantar anak kita bermain di rumah tetangga dulu barang 1 jam – 2 jam sementara kita ngebut menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Kita juga bisa meminta pengertian dari saudara kita kalau saat itu kondisi rumah sedang tidak ideal. Dan memilih untuk memesan makanan dari luar ketimbang menambah pekerjaan dengan memasak besar sendirian.

Kita adalah mahluk sosial, so its okey lah jika sekali-kali meminta bantuan dan pengertian orang lain. I believe, para Ibu lain juga pernah ada di posisi seperti ini.

3. Ghost-Of-Parenting

Yang ketiga ini adalah bawaan dari masa kecil kita. Kadang bagaimana orang tua bersikap pada kita dulu masih membekas dan suka keluar tiba-tiba saat kita menghadapi situasi yang sama.

As we all know, orang tua jaman baheula dan orang tua jaman now memiliki trend yang berbeda. Dari hasil ngobrol-ngobrol sama tetangga, banyak yang bilang kalau orang tua mereka itu ya disiplin, galak (tegas), sebagai anak kita takut dan nurut sama orang tua. Orang tua mostly selalu benar.

Saya perhatikan, orang tua jaman now lebih concern sama psikologi anaknya. Kita belajar bagaimana harus bersikap pada anak, belajar memahami karakter dan apa yang ia rasa, lebih banyak melibatkan mereka dalam diskusi. Lebih mementingkan perasaan anak dengan harapan anak kita bisa grow up better than us.

“Dulu orang tua saya bilang, ‘Kamu sekolah disini saja ya’, iya saya nurut”, ucap seorang teman.

“Sekarang, waaah mau nyekolahin anak saya saja, saya harus keliling Bandung. Ikut trial class-nya dulu, lihat respon anak saya, dia tertarik ga sekolah disitu. Kalau ga, kami cari lagi sekolah yang lain. Sampai dapat yang sesuai sama dia. Ga bisa dipaksa”, lanjut beliau.

“Trus, kids jaman now itu ngeyel kalau dikasih tau. Jaman dulu, mana ada kita njawab kalau orang tua kita bicara”, kata teman yang lain.

Hihi, iya sih beberapa hal dan metode yang baheula-baheula memang sudah tidak relevan ya lagi sekarang. We have to stay update lah.

Trus kalau kita masih kebawa-bawa sama pola asuh orang tua kita yang dulu gimana dong? saran saya sih coba beri jarak antara kita dan orang tua. Misalmya, memilih tempat tinggal yang tidak terlalu dekat, bergaul dengan orang-orang dan lingkungan yang positif dan mengajak diri kita sadar untuk hidup in present time.

Juga mau merubah diri ke arah yang lebih baik dan kekinian. Mungkin tetap mempertahankan nilai-nilai dan ajaran yang bagus namun dengan cara yang lebih pas untuk anak-anak kita.

4. Jenuh/Penat

Rutinitas sehari-hari yang gitu-gitu aja kadang menimbulkan rasa jenuh. Supaya kepenatan ini ga bikin mood kita jelek dan dikit-dikit emosian ada baiknya kita break sejenak dari kesibukan kita.

Refreshing deh Moms, traveling sama keluarga ke tempat-tempat yang seru. Saya dan keluarga suka traveling minimal setahun sekali, lumayan semingguan gitu bisa bebas dari deadline di rumah, hihi. Untuk cerita traveling kami bisa klik link ini ya Traveling Keluarga

Atau do a me time. Ga harus jauh dan mewah sih, bisa jadi me time di salon, baca buku, nulis, nonton film, datang ke pengajian, yaa doing things that recharge our energy aja.

5. PMS

Saat PMS (pas mau datang bulan), acapkali saya merasa lebih mudah emosi. Ibu-ibu gini juga ga?

Awalnya saya pikir ini mitos karena ketika masih gadis when my period come ya biasa aja. Paling sakit perut tapi ga bikin saya mudah marah.

Sekarang anehnya iya. Nah disini nih saya harus ingat-ingat wejangan Bapak saya buat pintar-pintar menahan emosi 🙂

OK, saya rasa sekian dulu deh refleksi saya malam ini. Ini saya menulis sekalian mengingatkan diri saya kembali. Biasanya kalau sudah nulis suka lebih malu kalau mengulangi kesalahan.

Oia, kalau Bunda-bunda yang lain mau menambahkan faktor pemicunya, silakan yaa. I’ll be glad to receive your comments 🙂

After all, menurut saya kita juga harus take part untuk memaafkan diri kita sendiri yang masih terus belajar dan cepat move on. Seperti anak-anak kita yang easy to forgive and easy to forget.

Thank you for stoping by. Sama-sama saling mendoakan ya Bunda, semoga kita bisa jadi Ibu yang ga emosian. And our bond to our children get stronger day by day. Amiin.

“Laa taghdob, wa lakal jannah”
“Jangan marah, maka bagimu surga”
[HR. Thabrani]

Advertisements

My First Two Books

22384357_10155141338748230_1783578756786909531_o

Saya pernah menonton Talk Show-nya teh Sarah Sechan di Net TV ketika mengundang Mba Dewi Lestari. Beliau bercerita, untuk merampungkan novelnya yang rilis tahun 2017 ini butuh 1 tahun. Proses menulisnya sendiri memakan waktu 6 bulan, dan ia sama sekali tidak bisa diganggu alias harus fokus dalam menulis. Tentu sebelum menuangkan ide-idenya, Mba Dee melakukan research terlebih dahulu.

Setelah itu, naskahnya masuk ke tahap proof reading, editing hingga akhirnya siap di publish. Proses yang matang ini membuat Kepingan Supernova menjadi novel yang fenomenal – menurut saya.

Kemudian saya merefleksikannya pada diri saya sendiri. Kalau Mba Dee Lestari saja membutuhkan waktu 6 bulan untuk menyelesaikan naskahnya, dan total penggodokannya 1 tahun, artinya realistis banget ya kalau saya juga bikin satu buku satu tahun.

Ahaha, ini hanya lintasan pikiran kala itu.

And now? Alhamdulillah I achieve one of my goal this year.

Buku antologi pertama saya bersama Ibu-ibu kece dari Grup One Day One Post sudah launching. Sekitar 600 eksemplar lebih telah dikirimkan oleh penerbit kepada para pemesan. Sambutan yang hangat, saya rasa.

Subhanallah Walhamdulillah.

Sebelumnya saya juga membuat DIY Pop Up Book dengan Aisya. Though its a Do It Yourself yang dibuat menggunakan tangan, but it still a book right? 🙂 That’s why, the title of this post is “My first two books”.

Buat para Mommies yang pengen bikin juga, saya share step by step-nya disini ya Banana Oat Pancake Made By Aisya #DIYPopUpBook

Next project, berharaaap banget bisa bikin buku cerita anak yang bisa saya dongengkan untuk Aisya. Amiin, doakan ya. Tetap semangat!

My Second Book – 33 Kisah Me Time

22904943_10155177332068230_5041503510797627893_o

Apa sih yang bikin 33 Kisah Me Time ini spesial?

Buku ini berisi kisah-kisah nyata dari para ibu yang berusaha mewujudkan kebahagiannya melalui me time yang sederhana.

Kisahnya unik dan inspiratif karena ditulis dengan sudut pandang yang berbeda. Buku ini juga menjelaskan mengapa me time menjadi sesuatu yang berharga buat ibu. Selain, kisah-kisah inspiratif, buku ini juga mencantumkan tips dan trik buat ibu agar bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk melakukan aktivitas me time.

Review lengkapnya ada disini ya : 33 Kisah Me Time – Perjalanan Ibu Bahagia

Pssst! Jangan lupa baca Me Time Produktif Ala saya di Chapter #16 ya!

IMG_20171030_105436

Mengawali debut saya di dunia per-buku-an dengan membuat buku antologi adalah langkah yang tepat ternyata. Terasa banget dukungan antara penulis yang satu dengan yang lain.

Setelah naskah terpilih lolos seleksi, kami belajar me-review tulisan teman, merevisi kembali dengan memasukkan hasil koreksi dari teman-teman juga membentuk tim-tim.

Seperti tim Marketing, PJ Agen, merancang bedah buku, kopdar dan lain-lain. Asik deh.

Sekarang saya jadi ngeh sama Penerbit Indie. Kalau saya perhatikan, kelebihan dari Penerbit Indie adalah proses proof reading dan percetakannya tergolong cepat. Dan royalti yang ditawarkan menarik, cenderung lebih besar daripada Penerbit Mayor.

Meski begitu, hopefully one day saya bisa menjajal Penerbit Mayor.

I also feel honour because, tulisan saya bersama teman-teman bisa bersanding dengan cerita Me-Time Bu Walikota Bandung – Atalia Praratya Kamil. Bu cinta ini selain geulis pisan juga baik hati lhooo.

Teh Shanty dan Bunda Intan sempat berfoto sama beliau saat berkunjung ke Pendopo.

IMG-20171031-WA0006

Beliau seolah ikut mempromosikan, “Sudah beli bukunya? yuk pesan sekarang ke Penerbit Stilleto atau melalui Agen di kotamu”.

Hihi, iya gituh? ya itu mah bisa-bisanya saya saja 🙂

Oia, by the way serius nih buat teman-teman yang mau jadi Agen bisa banget lho! Ini dia infonya :

IMG_20171101_125138_454

Siapa tau Mommies disini ada yang nge-fans berat sama istri dari Pak Ridwan Kamil yang super kece, daripada kemimpi-mimpi buruan pesan sekarang yaa, atau langsung daftar jadi agen aja supaya bisa nyetok banyak. Hehe.

Here’s the sneak peak

IMG_20171016_070523_348

Gimana unik kan?

Bedah Buku 33 Kisah Me Time

IMG-20171102-WA0000

Nah, khusus buat teman-teman di Bandung yang mempunyai komunitas, boleh banget lho kalau mau ketemuan sama kita (ceileh kita siapa emangnya?). Sama-sama sharing saja tentang seberapa penting Me Time, apa efeknya and how we spend our me time. Kita diskusi bareng 🙂

Di kota lain juga diadakan, tapi karena saya berdomisili di Bandung jadi saya lebih merangkul teman-teman yang di Bandung saja ya.

So, buat teman-teman yang tertarik mengadakan Bedah Buku Me Time bisa mengisi form Bedah Buku Bandung http://bit.ly/2xGsLXz ini yaa.

Me Time Bikin Saya Senyum-Senyum Sendiri

IMG_20171030_104827

Jujur, melihat karya saya bersama Odopers turut menghiasi sederet koleksi buku di Book Shelves itu bikin hidup saya lebih berarti. Bahagia karena bisa berkarya lagi dan berbagi dengan Ibu-ibu lainnya melalui tulisan.

Saya tahu banget, banyak wanita yang setelah menjadi Ibu lebih fokus untuk memberi. Memberikan diri kita untuk jadi support terdepan bagi anak dan suami. Hingga kadang kita lupa untuk mengisi. Padahal kita takkan mampu terus menerangi jika baterai kita lemah.

Nah, dengan Me Time inilah kita bisa men-charge diri.

Mengisi agar kita bisa memberi lebih banyak lagi. Its either membaca buku, ngobrol berkualitas dengan pasangan, menyeduh teh hangat di pagi hari, merenung di sepertiga malam, atau melakukan me time yang produktif.

I’m gonna take one of my favorite quote from this book to wrap this post,

“Menikmati kesendirian adalah cara menjaga kewarasan.
Menutup telinga dari banyak kata hingga hanya suara hati yang terdengar.
Make your special time”

– Putri Utami

Semoga tulisan ini bermanfaat, selamat me time, Moms 🙂

6 THINGS I ADORE FROM AISYA

IMG_20171015_150303_612

Taare Zamen Par – Every child is special.

Pernah nonton film ini?  Taare Zamen Par saya tonton ketika masih kuliah. Ceritanya sangat menyentuh – tentang anak yang dyslexia, bikin saya nangis Bombay deh.

Orang tua sang anak sangat bingung dan berpikir anaknya tidak mampu membaca. Alhamdulillah, guru seni di sekolah barunya justru menemukan metode yang tepat untuk mengembangkan potensi lain yang dimiliki anak ini. Dengan using this kid strength, akhirnya anak ini bisa menangani disleksia-nya and become stand out.

Every child is special – if only as a parent, we can see their potential, appreciate it, and find the right method to develop it.

I’m not an expert in parenting world, in fact I’m still learning to be a better parent. Dan saya percaya, masing-masing anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kalau saya amati, dari 20 anak yang berada di kelas yang sama dengan anak saya (usia 3 tahun-an), kelebihannya berbeda-beda. Ada anak yang jago menghapal – sekali duakali dengar saja sudah bisa mengulang nyanyian ataupun surat-surat. Ada juga anak yang mewarnanya sudah smooth, ada yang aktivitas fisiknya lebih menonjol sehingga saat lomba lari atau senam baby shark, dia jadi yang paling semangat.

Ada yang suaranya sangat keras ketika menjawab pertanyaan dari Ibu guru. Ada pula yang lembut tutur katanya. Ada anak yang betah duduk di kelas. Ada juga yang curi-curi keluar kelas dan main ayunan saat yang lain belajar di kelas.

Ada yang sudah mengenal angka dan huruf, ada yang belum.

Each child have their own strength and weakness, like us – their parent.

Nah, dari sekian banyak anak ini, saya ingin lebih fokus melihat kelebihan anak saya. Bagaimana saya menyikapi kelebihan serta kekurangan Aisya sebetulnya menjadi refleksi bagi saya sendiri.

In which, sejujurnya saya yang punya banyak kekurangan.

Actually, Aisya never stop making me amazed. And these are 6 things that I adore from her.

While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about – Angela Schwindt

6 THINGS I ADORE FROM AISYA

1. A Heart Of Gold

 

IMG_20171017_141726

Beberapa kali Aisya disakiti oleh temannya – mungkin tidak sengaja. Sebagai Ibu, hati saya perih kalau melihat Aisya dipukul, diteriaki, dicakar atau didorong temannya.

It’s so classic, right?
Di lingkungan pertemanan, selalu ada yang lebih dominan, lebih bossy, lebih slengean dan ada yang lebih kalem. The thing is, saya tidak ingin Aisya mengalami hal-hal buruk (bully-ing) yang saya alami ketika kecil. I want to protect her. Sayangnya sedekat apa pun saya dengan Aisya, kadang kecolongan.

Things that I didn’t understand is, meski Aisya beberapa kali mengalami hal yang ga enak ini, dia tetap berteman dengan anak yang membuatnya menangis.

She always open her heart, saying hai, call her friend name and ask them to play with her.

Sedangkan saya pengennya, ya jaga jarak sajalah sama anak yang suka bikin sakit hati dan mumet kepala Bunda mah. For Aisya’s own safety.

Mungkin sikap saya ini salah, tapi that moment, saya belum menemukan cara yang tepat untuk menjauhkan Aisya dari tindakan temannya yang reaktif. Saya juga agak khawatir Aisya bakal ketularan jahil.

Alhamdulillah, Aisya tidak pernah balas memukul, mendorong dan mencakar temannya.

Saya ingat percakapan kami, saat Aisya mau bermain dengan temannya ini.

“Mami, Aisya mau main dengan dia?”, – dia yang dimaksud adalah anak yang cukup reaktif.

“Main sama yang lain aja ya. Kan teman Aisya banyak”, rayu saya.

“Ngga mau, aku mau main sama dia”, Aisya keukeuh.

“Nanti Aisya dipukul lagi, Mami sedih lihatnya”, ucap saya.

“Ngga, Mami. Nanti Aisya minta maaf sama dia”, jawab Aisya.

“Harusnya dia yang minta maaf ke Aisya karena kemarin mukul Aisya”, ucap saya lagi.

“Aisya juga sama-sama, minta maaf. Sekarang dia udah baik, ko”, timpal Aisya.

Kalau udah gini, saya bakal izinkan Aisya main tapi hanya sebentar dan saya temani.

Kalau udah mulai rebutan, udah deh saya ajak Aisya pulang karena ujung-ujungnya kalau ngga salah satu nangis ya bakal terjadi hal yang lebih buruk.

Beberapa orang tua akan mengatakan hal ini wajar. Wajar lah anak-anak suka berantem mah. Kalau rebutan doang trus nangis trus salah satu ngalah dan baikan lagi sih ga apa-apa.

Kalau sampai mukul atau nyakar sih, saya ga prefer ya. Coba deh, kalau Ibu-ibu ada di posisi saya, bakal ngapain?

Jadi solusi buat saya adalah memilihkan Aisya teman-teman yang baik. Biar aman dan saya tenang saat Aisya bermain.

The thing is, Aisya always comeback to this friend. Meskipun beberapa kali disakiti.

Sifat pemaafnya, dan hatinya yang selalu terbuka, memandang hari ini adalah hari ini dan kemarin adalah kemarin nampaknya membawa perubahan ke arah yang positif.

Aisya never give up to approach that friend.

 Sekarang this-friend sudah tidak terlalu reaktif. Kadang masih teriak, tapi sangat jarang. Terpenting, Alhamdulillah sudah tidak pernah memukul lagi saat bermain terus rebutan. Sudah mau ikut mengalah. Lebih soft.

Saya bersyukur dengan perubahan ini, bikin saya merasa lebih tenang saat Aisya main dengan temannya yang satu ini. Tapi tetap saya batasi dan dampingi.

Yang jelas saya melihat banyak perubahan dalam diri teman Aisya ini.

Mungkin kalau Aisya traumaan, dan tindakan saya yang berusaha menjauhkan Aisya dari temannya ini berhasil, kejadiannya bakal berbeda. Wallahualam.

Saya tidak tahu, apakah temannya ini memang betul inspired by Aisya yang selalu membalas keburukan dengan kebaikan atau mungkin ada peran-peran lain yang mendukung perubahannya. Seperti wejangan ortu dan lain-lain.

Aisya easy to forget & forgive.

Bagi saya, ini adalah hikmah yang besar. Saya harus belajar seperti Aisya. Membuka hati lebar-lebar, menjadi pribadi yang pemaaf dan melihat hari ini sebagai hari ini, dan kejadian kemarin sudah berlalu.

New day, new hope. Live in present time 😊

Kejadian lain yang tak kalah mengiris hati (lebay banget yak), adalah saat Aisya sedang menaiki tangga seluncuran, ada anak laki-laki nyerobot dan menginjak tangan Aisya. Anak ini langsung naik ke atas Aisya dan merosot duluan. Saat itu saya sedang duduk di bangku, mengamati Aisya dari jauh.

Anak ini memang suka menyerobot teman-temannya yang menunggu giliran naik seluncuran. Dan kalau ada anak ini, lagi-lagi saya mengajak Aisya main yang lain dulu.

Minggu lalu, seperti biasa sambil menunggu kakak TK keluar kelas, Aisya main dulu. Tiba-tiba datang anak yang suka menyerobot bersama adiknya.

Aisya yang lagi naik tangga langsung turun, mempersilakan sang adik naik duluan. Lalu Aisya naik lagi ke tangga.

Kakaknya datang menghampiri Aisya. Saya sudah berdiri, mau stand for Aisya, takut Aisya diserobot dan jatuh atau tangannya keinjek lagi.

Tapi belum sempat melangkah, saya FREEZE duluan.

Anak yang selama ini suka nyerobot ini mengangkat tangannya ke atas, mengikuti gerakan Aisya saat mempersilakan adiknya naik duluan tadi. Dan menunggu hingga Aisya sampai ke atas, meluncur, baru ia naik.

WOW.

Hal kecil seperti itu bisa memberi impact yang besar ya. Subhanallah, ternyata kebaikan itu menular.

Bertakwalah kepada Allah dimana pun kau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.

[HR. Tirmidzi]

2. Berani Dan Suka Tantangan

Screenshot_2017-05-08-08-37-19
Aisya adalah anak yang pemberani. Dia suka manjat, tidak takut ombak dan berendam di pantai. Kepengen jalan sendiri kalau ke warung dan sekolah terus Mami-nya ngintilin dari belakang.

Saat mami ketakutan gara-gara ada tikus di dapur (sewaktu kami di Bintaro), Aisya menguatkan saya dengan bilang, “Mana tikusnya, Mami? Mau lihat. Mami, jangan takut ya. Kan ada Aisya”.

Dan dia berani lihatin tikus yang lewat got tanpa meloncat geli.

Ketika ada kodok di halaman belakang rumah sebelum dibangun, sementara Mami menjerit, Aisya malah mantengin berkali-kali, “Mau lihat kodok lagi”, gitu ucap Aisya.

Aisya juga suka mencoba hal-hal baru dan SUKA TANTANGAN. Aisya pernah manjatin pintu pagar, karena saat itu Aisya belum bisa membuka gemboknya. Awalnya saya kaget karena Aisya sudah masuk ke rumah, saat itu saya baru beres mandi dan Aisya baru pulang dari rumah temannya. Saya cek, pagarnya masih digembok, tapi kok Aisya sudah ada di dalam. Wah ternyata Aisya manjat, Alhamdulillah safely landed.

Aisya juga berani tampil (percaya diri) saat manggung di acara 17-an. Aisya dan teman-teman kobernya menampilkan senam baby shark dan bernyanyi. Saat MC menyodorkan mic, tanpa malu-malu Aisya langsung mendekatkan mulutnya ke mic sehingga suaranya terdengar lebih keras.

Dan, sebelumnya Aisya ikut lomba dulu. Alhamdulillah Aisya larinya lebih cepat ketimbang teman-teman seusianya yang lari bareng Aisya saat memasukkan bendera ke dalam botol. Menang deh Aisyaaa, Alhamdulillah.

Malam harinya memang Aisya latihan dulu sama Mami pakai sedotan yang dimasukkan ke botol, Aisya mempelajari strateginya dan melihat beberapa tayangan di youtube mengenai lomba tersebut.

Ikut lombanya 2 kali, yang pertama di sekolah dan yang kedua di lingkungan RT. Sayangnya di tingkat RT, Aisya berlomba dengan kakak TK dan SD sehingga tidak imbang. Kakak-kakak ini larinya lebih cepat, so she loose. But that’s okay.

Aisya tetap menikmati lombanya dengan sportif. Dari semua lomba yang Aisya ikuti, yaitu lomba lari, tiup balon, mencocokan sandal, dan makan choki-choki, Alhamdulillah Aisya berhasil meraih juara 1 di lomba makan choki-choki.

Saya senang Aisya memiliki sifat yang berbeda dengan saya – dia pemberani dan suka tantangan.

 3. Empati-nya Tinggi

IMG_20170623_110427

Akung-nya Aisya pernah mengatakan. “Jarang lho anak umur segini sudah bisa menunjukkan empati-nya pada orang lain. Anak-anak cenderung ingin jadi center of attention”.

Ketika Uti batuk-batuk di kamar, tanpa ada yang meminta tolong, Aisya langsung lari ke meja makan dan mengambilkan gelas berisi teh untuk Uti.

“Uti minum dulu, Uti batuk ya”, ucap Aisya.

Sikap ini bikin saya kagum, sekaligus mengingatkan saya untuk peka. Kalau ada yang butuh bantuan, segera ditolong tanpa menanti dipanggil.

Saat Akung menyetir dan Aisya duduk di sebelahnya, Aisya kadang bertanya, “Akung capek ga nyetirnya?”

Mendengar itu, Akung seperti mendapatkan suntikan semangat dan menjawab, “Engga, ga capek kok”.

Kalau Uti lagi mau minum obat, Aisya suka duduk di samping Uti dan mengambilkan obatnya, lalu menyimpannya di meja.

Pas Ayahnya pulang kantor dan minta dipijitin, Aisya suka naik ke punggung Ayah dan mijit dengan kakinya.

Saat Mami mengusap-usap punggung Akung, Aisya juga suka ikut-ikutan mengelus punggung Akung.

Aisya juga mudah berempati pada temannya. Bulan lalu semua anak di sekolah Aisya diharapkan mau mengikuti program vaksin MR. Aisya datang dan berbaris di depan sehingga ia disuntik di awal- awal.

Alhamdulillah Aisya berani, tidak nangis dan tetap ceria.

Sudah setengah perjalanan menuju rumah ketika Aisya ingat, ada seorang temannya yang belum diimunisasi. Aisya berinisiatif untuk kembali ke sekolah.

Sampai di Kober, Aisya melihat temannya nangis kejer, takut disuntik. Langsung Aisya ajak bermain dan menuntunnya ke dalam kelas sambil berkata, “Ngga apa-apa kok, ngga sakit. Ayo masuk”.

Saya menghargai usaha Aisya ini. Its a beautiful moment too see that Aisya care a lot to her friend.

Satu lagi deh contohnya, waktu adzan berkumandang dan kami berbuka di bulan Ramadan, Aisya yang tahu saya agak kecapean menghampiri saya sambil bawa piring mainan berisi kukis dari pasir. Lalu Aisya bilang, “Nih, Mami buka dulu. Aisya udah bikinin special buat Mami. Nanti kalau Aisya udah besar, Aisya yang masak buat Mami yaa”.

Saya tahu, yang ia sodorkan adalah kukis pasir. Tapi niatnya itu lho, peka banget, biasanya saya yang serving others, eh tiba-tiba Aisya mengambilkan saya sesuatu meski mainan.

Subhanallah, langsung nyeeesssss hati saya.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu Dan Bersenang-senang Dengan Anak

4. Supel & Suka Ngobrol

IMG_20171009_204723_138

Aisya mudah banget akrab sama orang baru, mau teman sebaya ataupun teman Mami dan Ayah, semua suka disapa, diajak ngobrol dan main sama Aisya.

Aisya suka memanggil teman-temannya yang lewat di depan rumah dan bertanya, “Mau kemana?”, diikuti pertanyaan lanjutan, “Mau main ke rumah Aisya ngga? Masuk yuk, banyak mainan lho”. Haha.. ramah banget yak.

Jangankan teman-temannya, sama Bapak Ibu yang ketemu di jalan saja, Aisya suka say hai, sama penjual seblak, tukang ojeg juga diajak ngobrol. Kadang Bapak Ibu yang disapa suka kaget atau merasa heran disapa anak kecil.

“Bibi seblaaak, Aisya mau sekolah duluuu. Dadaaah”, ini kalimat yang suka Aisya ucapkan saat melewati warung bibi Seblak.

“Pak Tarjooo, mau kemana?”, panggil Aisya saat berpapasan dengan tukang ojeg langganan kami di jalan.

“Eh Pak, Bu”, biasanya Aisya bilang ini sih pas ketemu.

Lalu terutama Bapak-bapaknya bakal berlagak kaget sedikit dan menjawab, “Eh, dede..”, gitu aja hehe.

Sekarang itu, sudah 2 minggu-an Aisya pindah rumah ke area baru. Dan Aisya sudah sibak-sibak tirai, cari teman, mengamati siapa saja yang lewat depan rumah hingga berhasil kenalan sama 2 anak tetangga dan sukses mengajak mereka main ke rumah.

Alhamdulillah gain new friends within 1 week, makin betah deh di lingkungan baru.

Saya senaaang sekali melihat sifat Aisya yang supel dan punya interpersonal yang baik ini. Selain suka menyapa, kenalan, ngajak ngobrol dan main, Aisya juga suka berbagi sama teman-temannya. Bagi-bagi permen, susu, biskuit, apa saja yang Aisya punya.

Pernah kami membeli 4 bungkus snack untuk bekal ke sekolah. Ketika saya cek isi tas-nya sepulang sekolah, eh tinggal satu. Aisya bilang, ia memakan 1 snack dan 2 snack lainnya diberikan ke temannya. Sisa satu lagi buat saya 😀

Oia satu cerita lagi, kalau saya mau ketemuan sama teman saya, Aisya akan bertanya, “Mami, teman Mami masih kecil atau sudah besar?”

“Sudah besar”, jawab saya.

“Jadi Aisya manggilnya tante atau apa?”, tanyanya lagi.

“Tante aja, sayang”, ucap saya sambil tersenyum.

Pertanyaan ini menunjukkan kalau Aisya sudah lumayan dewasa ya, ia bertanya lebih dulu how should she call my friend hehe. Dan begitu ketemu, seperti biasa, Aisya langsung ajak tante dan anaknya main ke rumah Aisya sambil ngobrol ini itu. Hihi.

Di sekolah, saat Bu Guru membunyikan kecrek tanda anak-anak harus berbaris sebelum masuk kelas, Aisya juga suka ikut mengajak temannya yang keluar barisan agar berbaris dengan rapi. Dan kadang menggandeng tangan temannya yang baru datang untuk bersalaman dengan Bu Guru, “Salam dulu sama Bu Guru”, ucap Aisya.

5. Mandiri (Mau Apa-Apa Sendiri)

IMG_20171018_092958

 

Aisya sudah memperlihatkan sifat mandirinya sejak usia 1 tahun-an. Saat itu Aisya sudah bisa makan menggunakan sendok sendiri.

Sekarang di usia 3 tahun, perkembangan kemandiriannya makin pesat.

Aisya ingin gosok gigi sendiri, ia memenuhi gelasnya dengan air, kumur-kumur, membuka tutup odol dan mengoleskan sedikit tooth paste di sikat giginya, mencelupkannya ke air lalu menggosok giginya.

Kadang sambil nyanyi, “Brush your teeth, up and down, up and down”, gitu.

Saya masih suka mengingatkan untuk menggosok gigi gerahamnya, lalu mengulangi kalau Aisya perbolehkan. Setelah itu Aisya akan kumur-kumur dan menyatukan peralatan gosok giginya sendiri.

Aisya juga suka memakai sabun dan shampoo sendiri, naik ke closet duduk sendiri, serta menekan flush toilet sendiri.

Nah, minggu ini Aisya menunjukkan ‘special talent-nya’ yang baru, yaitu memakai baju sendiri.

Setelah mandi dan memakaikannya minyak telon, lotion dan bedak, Aisya akan meminta saya keluar kamar.

“Aisya mau pakai baju sendiri, Mami. Aisya udah besar”, pintanya.

“Oke”, ucap saya.

Aisya akan keluar kamar and dress up well.

Saya benar-benar surprise ketika Aisya berhasil memakai seragammnya dan mengancingkan semua kancingnya serta memakai luarannya. Hebaaattt!

Aisya memang suka banget pakaian berkancing dan berusaha mengkancingkannya satu per satu.

Dan tahukah Anda apa kemajuannya hari ini? Aisya sudah bisa membuka kunci pintu rumah Akung SENDIRI!

Hari ini ada tamu yang mengetok pintu (kami sedang di rumah Akung), tapi saya (lagi-lagi) sedang di kamar mandi dan tidak bisa buru-buru keluar untuk membuka pintu sedangkan pintunya saya kunci.

Lalu saya keluar dari toilet dan bergegas ke ruang tamu, mau membukakan pintu tapi tamunya sudah masuk. Sontak saya kaget.

“Buka pintunya gimana? Kan dikunci”, tanya saya.

“Sama Aisya, Mami. Aisya yang buka pintunya”, jawab Aisya.

“Masa siiih?”, saya ga percaya.

Saya reka adegan dengan mengunci dulu dan meminta Aisya membukanya. Aisya langsung memperlihatkan pada saya bagaimana dia membuka kunci.

TERNYATA, Aisya sudah KUAT untuk ‘menceklek’ kucinya sodara-sodara. WOOOOW Subhanallah.

Baca juga : Anak Adalah Hak Prerogatif Allah

6. Solutif

IMG_20170911_130014

Aisya selalu punya alternatif dari setiap respon yang kami berikan untuk kejadian tertentu atau permintaannya.

Seperti saat kami mau berangkat sekolah dan hujan turun. Deras lagi. Saya udah kebayang jalanan becek dan licin, jadi saya tawarkan, Aisya mau sekolah atau tidak.

“Aisya hujan tuh. Mau sekolah ngga?”, tanya saya.

“Mau sekolah Mami”, jawab Aisya.

“Tapi deras hujannya”, ucap saya, setengah berharap Aisya memilih di rumah saja.

“Sekolah aja Mami. Ga apa-apa, pakai payung aja”, Aisya mantap pergi.

Melihat semangatnya saya pun langsung, “Oke, ayo kita pakai payung!”.

DAAAN sampai ke sekolah ternyata hanya ada 8 orang yang masuk, yang lain tidak berangkat karena hujannya deras banget.

Contoh lain adalah saat Aisya keukeuh ingin membeli mainan dengan Akungnya malam-malam. Akung bilang, “Aisya sudah malam, gelap tuh. Besok aja ya beli mainannya”.

“Sekarang aja Akung, di jalannya kita nyalakan lampu aja supaya terang”, jawab Aisya.

“Tapi dingin di luar Aisya, nanti masuk angin lho kalau naik motor malam-malam”, ucap Akung.

“Naik mobil aja atuh Akung, supaya ga keanginan”, Aisya menawarkan solusi.

Dan Akung merespon, “Aya-aya wae budak ieu mah. Selalu punya alternatif”.

Dan percakapan terakhir kami ini bisa dibilang lucu banget.

“Mami, Aisya mau jajan”, pinta Aisya saat menemani Mami belanja ke warung.

“Ga jajan dulu yaa. Uang Mami habis nih”, lantas saya perlihatkan isi dompet saya yang kosong.

Beneran habis saat itu.

“Kok kosong, Mami?”, tanya Aisya.

“Iya, dipakai semua buat belanja”, jawab saya.

“Mami ga punya uang lagi. Jadi Aisya ga jajan dulu yaa”, tambah saya.

“Mami pasti punya uang”, balas Aisya.

“Udah habis. Kan tadi Aisya udah lihat dompet Mami kosong”, respon saya.

“Yaudah ambil dulu atuh di ATM uangnya”, ucap Aisya.

Saya tertawa mendengarnya. Ya Allah, anak-anak jaman now mah solutif banget deh!

Untuk menyalakan lampu atau mengambil barang yang letaknya cukup tinggi, Aisya biasanya mengambil kursinya lalu naik dan meraih apa yang ia mau. Its either turning on the lamp, taking an umbrella or toys.

Aisya suka belajar, dia senang diberi petunjuk untuk bisa melakukan sesuatu. Dan gigih. Sekarang Aisya lagi suka mengisi majalah Mombi, kalau ada yang kurang dipahami, Aisya akan bilang, “Mami, ajari Aisya, ini gimana caranya?”.

“Aisya bisa”, Aisya akan mengatakan ini, setelah saya beri contoh. WHAT A SPIRIT, AISYA!

Sebetulnya masih banyak bakat-bakat dan sifat Aisya yang saya kagumi. Buat sekarang saya rangkum 6 sifat/sikap ini dulu ya. Because these really inspire me.

I think, Allah give her as a gift for me. So I can ‘born again’ to restart my life 😊

How about you? What inspiration that you get from your child today?

 

 

 

 

 

 

 

Canon EOS 750D Untuk Pak Irfan

Langkawi 2

Foto saat traveling ke Pulau Langkawi

“Fan, apa kata sandi Hotspot lu?”, tanya teman suami dalam perjalanan menuju penginapan di Langkawi.

“11mei2013”, jawab suami.

“Itu tanggal pernikahan gue”, jelas beliau.

Saya yang duduk di belakang suami dan temannya langsung ngerasa ‘cesss’, wah segitunya suami mengingat tanggal pernikahan kami, bikin saya senyum-senyum sendiri.

“Your relationship to your husband may be the only marriage book your children ever read. What lessons will they take with them when they leave home?” – Jennifer Flanders.

Saya pernah dengar kalau anak-anak lebih suka melihat interaksi yang sehat antara kedua orang tuanya, karena, orang tua yang bahagia akan membesarkan anak dengan bahagia dan hubungan baik antara kedua orang tua bisa memberikan gambaran tentang bagaimana anak kita akan berumahtangga nantinya. Mau tidak mau kenangan-kenangan masa kecil bersama orang tua ini akan tertanam di alam bawah sadar mereka, jika dalam pernikahan kita memberikan banyak nilai positif, besar kemungkinannya anak kita pun memiliki visi yang positif saat membangun keluarga nantinya. Itulah mengapa, saya dan suami senantiasa meluangkan waktu untuk merekatkan ikatan hati kami, supaya rasa sayang diantara kami terus tumbuh, efeknya akan terasa sama orang sekitar, terutama oleh anak saya, Aisya.

Baca juga : #KaryaCeria Suami-Istri Bonding Tips

Kalau ditanya siapa yang lebih saya sayang? Wah agak sulit ya jawabannya, karena buat saya Aisya dan suami saya itu sepaket. Saya sayaaang banget sama Aisya, juga sayang banget sama Ayah Aisya. Kalau analoginya bagi suami saya, Aisya lahir dari rahim saya, sehingga hal ini membuat suami sangat menyayangi saya, begitu pula bagi saya, saya sayang banget sama suami saya karena tanpa kehadiran beliau, Aisya tidak akan ada, kan terbentuknya janin berawal dari pertemuan ovum dengan sperma. Ya, saya sangat menyayangi suami saya, sampai-sampai saya agak posesif sama beliau, kalau nggak diperhatikan saya pundung, kalau suami lebih akrab sama gadget suka cemburu, cemburu itu tanda cinta kan? Hehe.

Saya duduk disamping pria yang memiliki nama lengkap Irfan Ramdani – dan biasa disapa ka Irfan ini – pada seminar bisnis yang diselenggarakan oleh Ippho Santosa bulan Desember 5 tahun yang lalu, alih-alih bicara tentang strategi agar bisnis kita lancar, motivator sekaligus pengusaha ini malah menganjurkan agar pesertanya menikah dulu, “Menikahlah maka kamu akan kaya”, begitu ucapnya, mengacu pada ayat berikut ini.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin), dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Allah Maha Mengetahui” [QS. An-nur : 32].

Mungkin pria yang duduk di sebelah saya langsung termotivasi dengan kata-kata Ipphoright sehingga beliau langsung mengajak, “Nikah yuk!”.

Ketika saya tanya apa alasan pria yang baru saja lulus kuliah ini mengajak saya menikah dengannya, jawabannya benar-benar bikin saya tertawa. Mau tau apa alasannya?

  1. Karena saya cantik, Alhamdulillah kalau alasan yang ini bikin saya kesengsem bahagia
  2. Karena saya kuliah jurusan Matematika, nah alasan macam apa ini?

Pria mana yang menjadikan ‘kuliah jurusan Matematika’ menjadi salah satu kriteria dari calon istri idamannya? pria itu yaa suami saya sendiri, ternyata beliau ingin sekali berkuliah di jurusan Matematika, sudah dua kali ikut SNMPTN belum lolos juga, akhirnya ia berdo’a pada Allah SWT agar istrinya nanti dari jurusan Matematika, hahaha lucu yaa. Di sisi lain, saya sendiri berharap memiliki suami yang usianya lebih muda dari saya, alasannya sederhana saja, supaya nanti kalau saya sudah tua, suami saya yang usianya lebih muda ini bakal masih kuat mengurus saya, hahaha padahal nggak gitu juga yaa. Bagaimana pun prosesnya, Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan do’a kami. Suami saya akhirnya menikah dengan saya yang lulusan Matematika dan suami saya pun berusia dua tahun lebih muda dari saya.

Kalau boleh jujur, saya menyayangi Pak Irfan – suami saya ini, karena beliau memberi saya banyak kebahagiaan setelah menikah, seperti membelikan saya kue ulang tahun saat saya Milad – seneng aja gitu karena sebelum menikah suka beli sendiri, senang juga karena bisa memeluk dan mengekspresikan cinta dengan pasangan halal saya (kalau sama pasangan yang nggak halal kan dosa ya, kalau sama suami sendiri jadi berpahala), membuat saya belajar banyak hal baru dalam hidup seperti memasak dan managemen rumah tangga, sifat humoris beliau bikin saya sering tertawa, terus Pak Irfan suka ikut-ikut mandiin – memakaikan baju – menyisir bahkan mengucir rambut Aisya – ini bikin saya makin jatuh cinta sama beliau, suami juga sering mengajak saya wisata kuliner – nggak heran sekarang saya gemuk, termasuk memberi kejutan berupa tiket pesawat untuk traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ya! Suami saya sukaaaa sekali traveling, bisa dibilang saya juga mulai ketularan sekarang hahaha.

Baca juga : Trip Seru Ke Pulau Langkawi

Waktu kami berkunjung ke Malaysia awal Januari 2017 ini, saya bertemu banyak sekali anak-anak muda yang traveling hanya dengan menggendong ransel besar di punggung mereka, saya juga sempat mengobrol dengan seorang Ibu asal Australia yang traveling berdua saja dengan suaminya karena anak-anak baru pulang traveling dari Tiongkok. Itu bikin saya merenung, selama ini saya kemana saja ya? Coba kalau semasa muda saya mengumpulkan uang untuk jalan-jalan, eh tapi saya sadar kalau saya memang bukan tipe orang yang suka jalan-jalan, kadang rasa sedih datang setelah menghabiskan sejumlah uang, “Kenapa nggak saya tabung atau investasikan saja ya uangnya?”, begitu suara penyesalan dari hati saya.

Dan perasaan-perasaan seperti ini akhirnya bikin saya nggak pernah kemana-mana, paling ke Kepulauan Seribu saat kuliah dan ke Yogyakarta saat dalam rangka studi banding dari sekolah, sama ke Bali dengan teman sebangku di SMA, itu pun karena kami memenangkan kuis. Ah, rasanya ingin memenangkan kuis atau lomba lagi, tapi bukan untuk saya, melainkan untuk suami saya, ingin menghadiahkan ini nih Canon EOS 750D yang jadi salah satu produk terlaris di Kamera, Video Kamera dan Drone Elevenia

canon

Nyambung lagi ke hubungan traveling dengan keinginan saya untuk menginvestasikan uang, dalam kajian rumah-tangga yang pernah saya ikuti, Teh Patra, senior saya di kampus yang anaknya sudah 5 bilang kalau, “Traveling itu investasi”.

Bu Angeline yang mengobrol dengan saya di Keretapi Tanah Melayu dalam perjalan menuju Batu Caves juga mengatakan kalau traveling itu bagus, dengan traveling kita akan menjadi kaya akan pengalaman juga bisa mempelajari kultur dan budaya dari tempat-tempat yang kita kunjungi lalu menceritakannya ke saudara, teman bahkan anak cucu kita nanti, “Wah kakek nenek keren ya sudah keliling dunia, kami senang mendengarkan cerita kakek dan nenek, kalau sudah besar kami mau traveling juga seperti kakek nenek”, pasti senang banget ya kalau bisa menginspirasi cucu kita seperti ini.

Ini menyadarkan saya kalau uang yang kita tabung dan dipakai untuk traveling tidak menjadi sia-sia karena kita menggantikannya dengan pengalaman berharga, berkenalan dengan warga lokal dan orang asing – kadang silaturahim berawal dari sini, mencoba berbagai makanan yang unik (jangan lupa pastikan ke-halal-annya ya), dan mengunjungi tempat-tempat yang seru di daerah/Negara yang kita kunjungi.

Baca juga : Do Your Kid Enjoy Traveling? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu

Mengabadikan momen-momen saat traveling ini juga jadi penting, baik untuk mengulasnya di blog – bikin pembaca merasakan serunya perjalanan kita, atau memajangnya di atas rak buku sebagai kenang-kenangan, bisa juga dengan mengumpulkannya lalu bikin cerita tentang tempat-tempat traveling yang sudah kita kunjungi, dan diterbitkan menjadi sebuah buku, menambah manfaat bagi diri orang lain dan tentunya menjadi amal jariyah bagi diri kita sendiri. Selama ini kami selalu memotret menggunakan handphone, meski kualitas HP suami saya sangat bagus tapi mengambil foto menggunakan kamera akan terasa lebih puas, lebih tajam, pencahayaanya bisa diatur, ada pilihan untuk foto makro, relatif ngga goyang jadi fotonya nggak blur, secara keseluruhan lebih bagus, untuk bisa selfie pun bisa disimpan di tempat yang agak jauh dari kita, pakai timer dan nggak perlu pakai tongsis yang kadang bikin tangan kita kejepret sedikit.

Traveling nggak lengkap tanpa foto, dan untuk menghasilkan kualitas foto yang bagus diperlukan kamera yang keren juga. Oleh karena itu, dalam rangka menyambut syukuran pernikahan kami yang keempat bulan depan, tepatnya 11 Mei 2017, saya ingin memberikan kamera tipe Canon EOS 750D dari katalog http://www.elevenia.co.id/ctg-kamera untuk menemani suami saya traveling kemana-mana. Traveling bersama saya tentunya, tuh kaaan saking cintanya saya pengen ikut kemana pun suami saya pergi hehehe. Kamera tipe ini cocoook sekali untuk dibawa traveling oleh suami saya, selain desainnya yang klasik dan ukurannya tidak terlalu besar sehingga memudahkan untuk dibawa kemana saja, kabarnya Canon EOS 750D ini menampilkan sensor CMOS 24,2 megapiksel, dan didesain secara khusus untuk fotografer biasa yang memerlukan kualitas gambar yang unggul juga menawarkan kebebasan kreatif melalui fitur barunya – 19 titik AF semua tipe silang dan filter kreatif serta Hybrid CMOS AF III baru (sumber http://www.canon.co.id). Waaah, dengan kamera ini hasil jepretan suami saya bakal jadi lebih spektakuler dong!

Bismillah, doakan yaa semoga kamera Canon EOS 750D ini bisa hadir di meja kerja suami dan menjadi kado terindah bagi suami tersayang di hari jadi pernikahan kami bulan Mei nanti. Amin…

 

 

*Tulisan ini saya sertakan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia, yuk ikutan juga 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Hilangkan Pemicunya

Salah satu cara menjadi Ibu bahagia alias always stay positive and happy di depan anak adalah dengan menjauhi/menghindari/menghilangkan pemicu dari hal-hal yang membuat kebahagiaan kita tergoyahkan.

If its come from social media then let’s follow people who give positive influence to us and unfollow people who throwing ‘crap’ to our face. 

Hidup anak kita terlalu berharga untuk jadi sarana pelampiasan kekecewaan, kegalauan, ke-amburadul-an emaknya karena tersulut emosi-emosi yang datangnya dari luar diri ibu.

Betul banget, kata-kata mbak Jayaning Hartami yang bilang, “It takes a village to support a Mother“. Buat jadi ibu yang baik itu, kita perlu banyaaaak sekali dukungan, bacaan-bacaan bermutu yang konstruktif, keluarga yang stand by us, teman-teman yang mendorong kita jadi Ibu yang lebih baik lagi. But not all people understand this..

Sudah jelas mood seorang Ibu dipengaruhi oleh perasaan-perasaan terdalamnya, eh ada aja orang usil yang shake the bottle.

Biarlah..

Hidayah itu hak Allah, Allah yang memilih hamba yang mana  untuk dikasih hidayah. Allah sang pemilik hati, Allah yang membolak-balikan hati manusia. Bukan kita..

Semoga orang-orang dengan mulut-mulut usil diberi hidayah oleh Allah agar lebih lembut hati & lisannya. Amiin

Confession Of A #30Yo Mami

My interest has always been singing and dancing. I began dancing since I was in elementary school, doing ballet. At a very young age I already perform at theater Baranang Siang. I guess from that moment, my heart tied up with stage.
I always love being in a stage, stared by many eyes. Either I dance, singing or MC-ing. I don’t like make up, but when it come to dance, I’ll put on the best. It was on junior high school when I change my interest from a balle dancer into a traditional dancing. I like the music, gamelan, karawitan, and exploring various kind of traditional dances that Indonesia owns. My fave that time is Tari Merak which I perfom in Landmark along with other participants and was very memorable to me cause it shows in TV.

My interest in traditional dancing has lead me to be the chief of LISES SMA 5 Bandung. LISES stand for Lingkup Seni Sunda. I do both karawitan, – since I fall for the music too – and dancing.

Then I stop.

I choose to hijrah when I’m about to graduate from Highschool. I suddenly have a will to wear hijab. Its the calling inside me and I think that it a must, after reading this ayat..

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down over themselves [part] of their outer garments. That is more suitable that they will be known and not be abused. And ever is Allah Forgiving and Merciful 

[QS. Al-Ahzab : 59]

How about singing? I become more serious about singing by joining a vocal group, having an amateur band with my friends, singing The Cranberries and taking vocal course. Also! I participated in many singing competition during my highschool time.
This was one of my weird day when a university student came to me and asked whats my goal in life. I confidently answered, “I want to be a singer. Isn’t it obvious?”.

“No, that’s not your dream. You’ll be a great mother one day”, his reply made me jaw drop!

Not only I’m not really into kids but also, singing is my A-list that time, plus, “Who wants to be in marriage?”, that was my thought that time, cause as a teenager I still searching for freedom.

Besides singing and dancing, I also involved in Story Telling competition and once in a blue moon, modelling – not bad though, I made it to finalist.

One day on my 3rd year, I started to learn about Islam more through mentoring. But all these time I already stunned by the soft-hearted akhwat-akhwat DKM Al-Furqon SMA 3 Bandung whose mosque is at the top of our Highschool. 

I just cameback from Bali, when I decided to cover up my hair, my chest, my body with veil and long dress. I cried the moment I entered the class.. It took 17 years for me to know about this ayat, I feel so late to do this, I’m afraid I can’t be who I was, but a friend who care to me because of this deen convince me that I do the right thing.

Its never late to change..

So I started a new life, I didn’t dance anymore. I only sing in front of females in public and sometime with male friends and friends who knows I like singing and fine with it..

TRUE FRIENDS CARE ABOUT OUR AKHIRAH

Nowdays I’ve been thinking and also grateful to Allah by sending me friends who are not only kind, friendly, care and stay with me with my ‘uniqueness’, but also they always remind me to be a good person. They forgive me for the silly things I did, be with me at my lowest point and still accept me when I need their presents..

Alhamdulillah.

PUBLIC SPEAKING JOURNEY

I’ve been speaking – not writing – in english since I was at junior highschool. I took a course, I join English Competition, mostly story telling and began speaking english to my friends at highschool. At college, I assume that most people understand english, so I speak english to anyone.

My dear friend who are former announcer at Antassalam Radio Bandung contacted me, saying that she will resign from the radio and pick me to replace her seat, announcing at English News Programme on the Islamic-Dangdut-based radio located in Antapani. Wow! Its not far from my home, I could reach that place by ojek. And so I signed thw contract and dig in my broadcasting talent for a year. I really like being a radio announcer, moreover when your listener give a call and we could give them a lil chit chat. Some of them will share their worries, sadness, listening to their stories enrich me, grow my symphaty.

But then I have to focus on my Final Project, and a year is enough for me, I’m willing to expand my public speaking carrier in MC-ing.

Hosted for International Conference on Biomathematics 2007 has open up my way to be a Master of Ceremony in many other international event, include the International Retro Night by the International Students of ITB. In search for a better income, I learn to MC-ing in bahasa Indonesia and taking many other events, dare myself to try many ways of MC-ing. From a formal conference, to a talkshow and finally wedding MC 🙂

At college I met specific people who are expert in photography and cinematography. Soon this become my new toys. I installed adobe premier, try making short movies, advertisement, shooting, cameraming, directing, editing that takes patience and made me loss my weight because I edited one film in 4 days. Lack of sleep and too much excited. I like directing the most, taking scenes and editing. I like to cut whats not appropriate to be shown and match the songs when the scenes fade. 

My lecture was questioning whether I am a math student or not when she checked that no mathematical software in my laptop. I realize that I have to put this aside and put more attention on my study if I want to graduate. That was my 5th year.

And again, one of my senior told me, “Sundari, you have many talents and interest. Pick one, you cannot pursue all”.

I didn’t notice. I still believe that I could do many things in a row, include blogging.

Once I’m having S.Si beside my name, and the reality asking me to earn more certain amount of money for living. I drop all of my interest. I stopped arranging radio programme at Salman Digital Radio 2.0 and no one has ever live it up again after I left, they tried but can’t hold long enough, maybe this is the reason why Salman choose to launch a TV. They made a breakthrough, film Iqro is on Cinema this year!

I worked for Kemenristek Dikti as a temporary employee. I’m lucky enough cause I still get an MC job during my time here. And for almost 2 years, I also tried to running a business with my friends. It doesnt give us a significant result. So after changing many business, I stopped (again).

At 2012, I tried to apply for Master Degree in UK. I send my IELTS certificate along with resume, letter of motivation, my transcript, and recommendation letter from my dearest lecture to some universities. I applied for Public Relation and Political Economy. I was more interested in Public Relation.

Alhamdulillah it finally meet my requirements, I get and offer letter and Letter of Acceptance from Liverpool Hope University. The next step is looking for the scholarship. It takes time.. I postponed.. 

Realizing that my age has turn to 25, I change my priority. I have to get married first then I could re-think about going abroad, to my dream land – Europe – and taking a higher education. 

I met the man who loves me to the bone at the end of the year 2012. We were friends but not so close cause we study in different university and he is 2 years younger than me. I know him from the Salman Radio where he contributed as one of the announcer the time I left it.

“Would u marry me?”, he asked on the seminar we attended. I was surprise because I didn’t really know this guy, we met couple times but just that.

His answer to my question of why he proposed me sounds light and funny, he said, ” You pretty and you were math student”.

What kind of phylosophy is that.. Haha..

He explain to me that he always would want to have a wife that graduated from Mathematics, hopping that his children will be as smart as the mother. Oh I tricked you..

Our process is very simple and having less drama. After the serious talk we made, we do istikharah and we visit both of our family to disscus about the marriage plan.

I remember this words that my dad whisper to me, “Two people who are not meant to be together, however close they are, Allah will separate them. And two people who are meant to be together, however far they are, however high the mountain is, no matter how windy the road is, Allah will let them find a way to be united”. 

Alhamdulillah Allah SWT made everything so easy, both family agreed and we get marry 5 months later. This made me believe that he is the one 🙂

Now here I am, 5 years after the sacred vow, typing while my 3 years old – talkactive – energic – daughter – fall asleep. Alhamdulillah she grow up well :’)

I remember this line from Glee – a drama musical movie whose Sarah Jessica Parker featured in the season 5. She said, “This age is the best time to re-invet ourselves”.

The word RE-INVET OURSELVES catched my heart. Its like a BAM BAM BAM!

I collected the memories that I have, experience that I’ve been through, my milestone, talents, interest, dreams, conversation that I make with people who saying things that turn out to be true.

I am a mother now. Do I want to be a great mom? YES I WOULD. 

“Once a woman become a mother, she stopped being a picture and start being a frame”.

Please gimme guidance to be a better Mom everyday ya Allah..

And where do all my passion fly? Out of nowhere.. Nowdays, I did’nt dance but I could teach my Aisya one or two moves. My playlist has changed from Pop/Pop Alternative into children songs that I happily sing with my baby. The last time I hold mic to host an event is when I was on 5 months pregnancy. And the macro photography which I really fond of was just history, I didn’t hunt photos with digital camera or borrowing my friend DSLR like I used to again. And film? Oh does Viva Video counted? I play with it to make documentary videos of my sweetest girl couple times..

I devoted myself to take care of my child by myself. It comes from within. 

But then.. Then I see some people who growing up..

At times, it is very painful to see how people you’ve known before growing from zero to hero, while I seem sink from Hero to Zero. Sometime I miss that ‘stage’, the fans, be a sanguin girl who taaaaalks all the time and do whatever she wants. Watching marathon movies at night, ah! but my life now is more interesting than a movie 😀

Re-invent ourselves..

Lately I’ve been remembering about all great things I achieved before today. Could it happen again? Will I have my glory again? 

Lately I’ve been thinking, maybe its time to discover what I’m really into and focus on one passion right now..

What would that be? I’m still searching. This time, I hope I could have a longer lasting succeed.

Nothing GREAT comes EASY. It take a little patience and lots of faith. But Allah always has perfect timing.

Dear me, do not compare your beggining to someone else middle. 

“Be confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we aren’t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and aren’t- that you will truly succeed” – (anonymous)

Jarak yang kita tempuh mungkin berbeda, waktu yang kita butuhkan mungkin lebih lama, keep moving forward, make a progress! Jangan menyerah, meski satu detik lagi t’lah usai. 

Note : Tulisan ini saya ikut sertakan dalam Giveaway Ruang Baca dan Tulis dengan tema Perempuan yang Menginspirasi dalam rangka memperingati International Woman’s Day. Semoga refleksi diri saya ini bisa menginspirasi para perempuan untuk bisa fokus pada salah satu impiannya dan gigih meraihnya. Juga bagi para Ibu agar bisa menemukan ‘mutiara’ dan mendukung anaknya dalam mengasah bakat/minatnya sedari kecil. Terakhir bagi para wanita se-usia saya yang mungkin mengalami ke-galau-an, post power syndrome, dan kebingungan lainnya, you are not alone Mom, bersama-sama mari kita bangun kepercayaan diri, belajar lagi, mencoba menggali passion baru. Remember, its never too late to set up a new goal in our life. Let’s re-invent ourselves 🙂

Much much love.

Belajar Jadi Ibu & Bersenang-Senang dengan Anak

Kalau diminta menggambarkan kondisi saat ini, saya pikir, tepatnya saya sedang belajar menjadi seorang Ibu. A better mom. The happy-cheerful-positive mother.

Predikat Ibu yang serta merta melekat pada wanita yang baru saja melahirkan tidak lantas menjadikan kita-kaum hawa langsung expert dalam segala hal yang berhubungan dengan anak. Bukan berarti instantly kita menjadi orang tua yang super keren juga. Ada banyak adaptasi yang harus dilakukan, bahkan terkadang new mom harus bergelut dengan baby blues.

Tapi bagaimana pun, whether the people around us pay attention or not, seorang Ibu diharapkan menjadi sosok yang serba bisa, wonder woman, multitasking and so on and so forth. Kuat! Mungkin inilah harapan banyak orang pada seorang Ibu. Kuat dari segi mental, tenaga, pikiran, spiritual.

Somehow, mother have to overcome their inner problems, dan muncul ke permukaan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan senyuman.

Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah, that’s why lebih tepat kalau saya sebut, proses yang saya jalani saat ini adalah belajar menjadi seorang Ibu. Kata belajar meringankan guilty feeling yang terkadang muncul saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak seharusnya dilakukan pada anak, baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, saat anak sakit, jatuh, keseleo dan lain-lain. Some parent take it so hard and blame themselves for unable being nice all the time to their kids. However, Ibu juga manusia biasa yang bisa merasa bahagia, sedih, butuh me time.

The word belajar memberikan ruang yang cukup banyak bagi para ibu untuk memandang diri mereka sendiri sebagai manusia biasa yang sedang melakukan research terhadap diri mereka sendiri-anak-suami-lingkungan sekitar mereka, studying and applying what their learn, termasuk memaklumi dan belajar memaafkan saat kita sebagai Ibu melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengasuhan anak.

Nah, dalam proses pengasuhan anak, kita juga harus aktif bermain/menghabiskan waktu bersama anak, as it’s written by Bruce Perry,

children-dont-need-more-things-bruce-perry-life-quotes-sayings-pictures

 

Terlebih lagi, dalam hadist dikatakan,

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi].

Dalam Islam, bermain, menemani anak beraktifitas, dan melakukan banyak hal untuk menyenangkan hati anak kita, seperti bergurau dan bercanda dengan anak kita merupakan suatu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tinggi di sisi Allah. Subhanallah walhamdulillah.

Bermain dengan anak ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Jabir berkata,

Aku mengunjungi Rasulullah Saw yang waktu itu sedang berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain Ra. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.” [HR. Thabarani]

Hasan dan Husain Ra adalah cucu Rasulullah. Hadits di atas memperlihatkan akhlak Rasulullah sebagai seorang kepala Negara dan Rasul yang bersifat lembut dan suka bermain dengan anak.

So, parent, get down on the floor and let’s spend time with our kids!

Waktu favorit saya pribadi bersama Aisya antara lain saat :
1. Bermain bersama Aisya
2. Menyuapi Aisya

Jujur, saya mendapat banyak energi positif dan kebahagiaan saat saya bermain, menghabiskan waktu dengan Aisya, pay fully attention to her-ga nyambi masak/nyapu/ngepel/pegang gadget, creating a toddler project that require team work between me and Aisya. Well, do many constructive things and also playful that grows her smile, excitement and enthusiasm makes me feel really good.

Tidak dipungkiri ada waktu-waktu saya membiarkannya menonton acara kartun atau bermain mandiri saat saya harus menyelesaikan ‘tugas domestik’. Balik lagi ini mah perkara manajemen waktu dan akhir-akhir ini mulai terbesit keinginan untuk membuat jadwal.

Jadwal dimana saya harus ‘bekerja’, -pekerjaan di rumah tidak bisa diabaikan toh? A comfort house is the clean one-, time when I need my daughter to understand and be cooperative with me when there are things to be done at home.

Kemudian waktu saat saya full fokus dan konsentrasi pada pemenuhan kebutuhan Aisya, seperti bermain, mengajarinya sesuatu, melakukan proyek-proyek sederhana antara ibu-anak. Kadang dalam proses memasak yang easy, saya melibatkan Aisya, atau membuatkan dummy-nya. Aisya terbiasa membantu saya membuat pancake, Aisya biasanya mengaduk adonan, memasukan terigu sesendok demi sesendok ke dalam mangkuk, menuangkan susu cair dan terakhir, beberapa hari yang lalu, Aisya meminta izin pada saya untuk memecahkan telur sendiri sebelum dicampurkan ke dalam adonan. Off course, saya memperbolehkannya. Bahkan Aisya kini tertarik menyalakan kompor dan memegang teflon pancake-nya. Ini dalam pengawasan penuh ya.

Di lain waktu, saya akan memberinya pisau plastik dan memintanya untuk mengiris tempe/pisang/papaya sebagai life learning activity. Segala hal yang berhubungan dengan life learning activity sebenarnya sangat menarik untuk dilakukan, karena selain fun, enjoyable, anak kita mempelajari sesuatu yang bisa menjadi bekal saat ia harus benar-benar melakukannya in real life, -bukan simulasi. Life learning activities yang pernah saya lakukan dengan Aisya adalah mengajaknya menyiram tanaman bersama, melibatkan Aisya dalam membuat kudapan, memotong buah dengan pisau plastik untuk disantap oleh kami, menyendokkan es krim untuk dijadikan toping pada irisan buah.

Pada dasarnya Aisya tertarik dengan beberapa hal yang saya lakukan. Saat saya menyapu, Aisya akan bilang, ”Dede mau nyapu”. Saat saya mengepel lantai, Aisya akan meminta saya untuk bergantian mengepel lantai. Pun saat saya sedang merendam pakaiannya, ia ingin turut mengucek-ucek pakaiannya sendiri dan dengan happy, mengatakan “Nda, dede cuci baju sendiri”.

Saya tidak pernah meminta Aisya menjemur pakaiannya, namun ketika saya melakukannya, Aisya juga memilah-milah pakaiannya dan menjemurnya di bagian paling bawah tempat jemuran kami. Pardon me for many “jemuran” words that I use here.

Permainan yang paling disukai Aisya adalah aktivitas yang memungkinkannya mengkoordinasikan semua organ tubuhnya, seperti jalan-jalan, bersepeda, main di taman-amusement playground-giant playground, Aisya suka sekali memanjat, bahkan di perosotan pun Aisya suka memanjat ke atas. Same thing happened at home. Di rumah Mbah yang terletak di Bandung, kami suka menggelar kasur lipat dengan salah satu sisinya berada di atas sofa, sedemikian sehingga bentuknya mirip perosotan dan Aisya akan memanjat ke sofa-tumpukan bantal di atas sofa-meluncur/meloncat di slide buatan tersebut.

Ada satu lagi permainan yang digemari Aisya, ini lucu, simple but very interesting for her. Aisya suka main seprei. Saat Akung-nya memasang sprei untuk kasur lipat. Serta merta Aisya akan berlari sambil bilang “Tunggu! Tunggu!”.

Aisya masuk ke bawah sprei dan.. mereka tertawa bersama, permainan ini dilakukan berkali-kali sampai Aisya lelah tertawa. Yap! Kadang tidak butuh tempat/barang mahal untuk membuat anak kita bahagia. That’s why saya mulai suka membuat karya dengan Aisya dari reuse-able stuff, seperti Koran, kalender yang sudah tidak terpakai, kardus-kardus belanja yang menumpuk di gudang, kotak susu/makanan untuk pot tanaman, dan lain-lain.

Kami juga memperkenalkan Aisya pada buku-buku, dari mulai serial edukatif lungsuran tante Arum dan Om Doko yang disimpan apik oleh Uti, buku mewarna, dan buku baru  dengan ikut arisan buku yang lagi hits saat ini.

Terakhir, pengennya punya jadwal rutin untuk me-time, baik melakukan hobi atapun private time with Allah. Get re-charged.

Menjadi orang tua, bagi saya pribadi, layaknya berusaha mengalahkan ego diri sendiri. Mungkin ada kebiasaan kita yang kurang cocok jika terus dipelihara selama kita menjadi orang tua. If we want our children to be a better version of us, then we first have to do the change. Bisa dibilang, ‘menyamakan suhu’. Betul, kita bisa memfasilitasi anak kita, lebih bagus lagi kita bisa menjalankan visi-misi bersama.

Contoh : kita ingin anak kita hafidz Qur’an, kita dapat memperdengarkannya tilawah Al-Qur’an setiap hari di waktu-waktu tertentu. Kita juga ikut mencontohkan, turut mengaji di hadapannya dan mengulang ayat-ayat Qur’an secara langsung. Ustadz Yusuf Masyur mengatakan, ulanglah bacaan Al-Fatihah sebanyak 5 kali menjelang anak kita tidur. Insya Allah Surat Al-Fatihah tersebut akan memasuki alam bawah sadarnya dan anak kita akan lebih mudah menghafalnya. Ajarkan satu surat/doa dulu, sampai ia benar-benar paham dan hafal, barusan diajari surat/doa-doa lainnya.

Hal lainnya, jika ingin anak kita fasih berbahasa asing, selain mengikutkannya kepada bimbel/les bahasa, sebagai orang tua, kita juga dapat dengan aktif mengajaknya berkomuniasi dalam bahasa yang sedang anak kita pelajari. Tidak perlu exactly at the same level with them, setidaknya ‘nyambung’ saat diajak bicara. Tiap orang tua pasti menginginkan anaknya, lebih baik dari dirinya.

Kalau soal kesabaran, itu menjadi PR seumur hidup yang tingkatannya terus menanjak. Apalagi kalau anak manis, lucu, pintar, soleh/solehah kita mendadak masuk ke fase trouble two. Jika tidak pandai mengelola emosi, bisa-bisa orang tua ikutan tantrum.

Memang mungkin orang tua ikut tantrum saat anak tantrum?
Mungkin banget!

Inilah pentingnya ilmu sebelum amal. Saat ini informasi mengenai psikologi anak dan parenting sudah banyak. Bekali diri kita, sempatkan membaca/mendengar/ikut seminar dan diskusi agar tidak salah langkah dalam menangani sikap-sikap anak. Ingat efek domino, children reflect what they saw. They tend to copying us, the parent and people around them. Anak merekam tindakan kita.

Saya sendiri ikut grup-wassap yang memfasilitasi bahasan tentang anak dan parenting. That’s help. Selain mendapatkan ilmu, kita juga tahu bahwa we are not alone, banyak Ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan kita. Saling menyemangati, tukar informasi seputar tempat-tempat yang asik-hemat-nyaman untuk hang out anak-anak. Plus, bisa playdate kalau kebetulan domisilinya dekat.

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan [harta mereka] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

At a stressful time, parent throw an anger to their children.

Marah itu manusiawi, kita adalah individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor/situasi. Akan lebih baik jika kita dapat mengontrol amarah (note to myself). Ada yang menyarankan agar kita take time, menjauh dari anak sebentar, berada di ruangan yang berbeda, setelah tenang kita kembali menemui anak kita. Usahakan anak tidak menghirup aura kontra-positif dari ibunya.

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” [HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440].

Hadist di atas seolah membenarkan bahwa setiap orang punya waktu-waktu dimana emosinya akan meledak, namun bagi mereka yang mampu menahan diri though they can show it off, Allah akan memberi ganjaran yang luar biasa. Jihad melawan hawa nafsu.

Salah seorang Ustadz juga pernah menyinggung perihal bakti anak. Bakti anak pada kita kelak, juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap pada anak kita sejak usia dini. Mengenai bakti anak ini, dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya,

“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” [HR Abu Daud]

Sabda Rasulullah di atas poinnya cukup jelas :
1. Saat anak kita sedang tumbuh berkembang dan belajar melakukan sesuatu, hargailah usahanya walaupun kecil.
2. If they make mistake, accept it. Tell them it’s not something good. Let’s not do it again. Give warm hug, forgive them, forgive each other and tell them that as a parent, we believe that they will not make the same mistake. They could be a better person.
3.
Tidak terlalu banyak/tinggi menuntutnya dan selalu do’akan yang terbaik untuk anak kita.
4. Do not cross the line. Jangan memaki dengan makian yang membuat hatinya terluka. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anak yang sering dimaki oleh orang tua-nya sendiri?

Sangatlah penting bagi orang tua untuk dapat mengenali sifat anaknya dengan baik, salah satu caranya adalah dengan sering berinteraksi secara langsung dengan sang anak. We know them, they know us, both side can communicate well, so hopefully the good environment rise from here.

Ramadan adalah bulan yang tepat untuk melatih poin kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi, lebih sabar, pengertian dan bijak. Amin.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah,” [HR. Bukhari 6114, Muslim 2609].