Staycation At Ayaartta Hotel Yogyakarta

IMG_20180106_200653

Istilah staycation merupakan gabungan dari dua kata yaitu ‘stay‘ dan ‘vacation‘. Awal Januari ini kami mengunjungi Yogyakarta, hujan yang kerap turun di kota istimewa ini membuat kami betah menikmati fasilitas hotel.

Ngga apa-apalah tidak nguber banyak tempat untuk didatangi. Sesekali liburan yang nyantaaaii banget yang penting spend quality time bersama.

Sebetulnya kami ngga yang terlalu nyantai banget sih. Sempet juga main ke Taman Pintar, Candi Prambanan, jalan-jalan di Malioboro dan makan di beberapa kafe kece-nya Yogyakarta.

Baca juga : TAMAN PINTAR YOGYAKARTA : Taman Yang Asik, Edukatif dan Murah Meriah

Saya sudah bikin satu review tentang Taman Pintar, destinasi wisata yang lain insya Allah menyusul yaa 🙂

Berhubung cukup lama kami menginap di hotel ini (4 hari 3 malam), jadi saya mau memberi gambaran how it feels to stay in Ayaartta Hotel Malioboro Yogyakarta ya.

Mas Grab yang membonceng saya dari Pasar Beringharjo bilang kalau hotel baru ini sebenarnya ngga terletak pas di Malioboro. Tapi lumayan dekat lah. Lokasinya berada di Jl. KH. Ahmad Dahlan No.123, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55262. Nomor teleponnya (0274) 2801888.

Jaman now tidak sulit ya kalau mau cari dan booking hotel, bisa cari review via mba Google dan memesan kamar melalui Booking.com, Agoda, Traveloka dan aplikasi lainnya.

Rate per night-nya berbeda-beda, tergantung kamar dan aplikasi yang kita gunakan, yang jelas dimulai dari harga Rp. 400.000,- an.

Hotel ini berseberangan dengan sebuah sekolah (MAN) dan di sebelahnya supermarket meski item yang dijual disana kurang lengkap. Saat saya kesana, Ultra Mimi rasa cokelat kosong, mungkin stock baru belum datang.

Sekarang kita bahas tentang hotelnya ya.

AYAARTTA HOTEL MALIOBORO YOGYAKARTA

112353785

Foto dari Booking,com

Menurut saya, hotel ini mengedepankan konsep minimalis. Terlihat dari ruangan-ruangan yang ada di dalam hotel. Hampir semua memakai space saving concept. Lobi, ruang menunggu, kolam renang, butik, kamar dan restorannya terkesan tidak terlalu besar namun didesain dengan efektif.

Ornamen yang ada di dalamnya rata-rata bertemakan scandinavian. Ada banyak meja juga rak, lemari dan laintadari kayu. Ada ruang terbuka di restoran meskipun kecil dan jendela yang memungkinkan cahaya masuk di kamar.

Lobi Hotel

 

Beginilah suasana lobi-nya. Mas dan Mbak resepsionis akan dengan ramah melayani kita. Ada welcome drink yang bisa kita ambil sendiri di sebelah kiri meja resepsionis. Minumannya dingin namun terasa agak hangat. Hm, ternyata wedang jahe.

Disini terdapat dua sofa panjang tempat kami menunggu grab yang akan menjemput. Dan sofa warna-warni lainnya di depan butik batik.

Disini juga saya berkenalan dengan turis dari Jepang dan mempraktekan sedikit bahasa Jepang yang saya pelajari ketika SMA.

Hanya bilang,

“Konbanwa”,

“Genki desuka?”,

“Ja mata ne”,

gitu haha, hanya segitu yang saya ingat selain perkenalan.

Awalnya beliau menyapa Aisya, “Selamat sore”. Lalu saya sahut dengan ucapan selamat sore dalam bahasa Jepang.

Kamar

 

I’ll give u a tour to our room. Foto paling kanan saya comot dari pegipegi.com, maafkaaan ga sempat foto full spot. 

Gimana, setuju ngga kalau desain kamarnya minimalis dan scandinavian?

Temboknya di cat dengan dua warna, yaitu putih dan abu. Mirip dengan rumah saya yang cat-nya juga memadukan warna putih, bedanya saya pakai abu agak tua.

Di samping tempat tidur ada area yang bisa kita gunakan untuk solat dan di depannya ada meja kayu berisi lampu, teko, cangkir dan satu pack teh, kopi juga gula untuk diseduh.

Kamar mandinya cukup luas.

Baca juga : Taman Mungil Aisya #ScandinavianHome

Restoran & Bar

IMG_20180106_161437

Restoran dan Bar-nya tidak bersatu ya, foto ini adalah foto bar. Namun saat sarapan, banyak orang yang duduk disini karena kursi di dalam restoran penuh. Saya kelupaan memotret area restorannya. Di dalamnya ada sekitar 7 meja yang muat untuk 4 orang per meja. Ada rak-rak kayu berisi tanaman hias dengan rak bening berisi air. Kemudian ada smoking area yang terhubung dengan ruang hijau terbuka namun sangat sempit. Hanya ada dua meja disana.

Menu breakfast-nya cukup beragam, tapi ngga terlalu banyak. Ada makanan khas jawa seperti rawon, masakan indonesia, roti-roti, sereal, buah dan camilan lainnya. Quite simple lah.

Berhubung pagi saat saya sarapan masih penuh, saya sengaja duduk di smoking area ini. Masih belum ada yang merokok ketika saya duduk. Lumayan lah bisa menghirup udara segar sambil menyantap croissant dengan olesan butter, secangkir susu dan meresapi quote-quote indah dari Diana Rikasari dalam #88LoveLife.

Hmm, what a chill morning..

Baca juga : 10 Thought On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Kolam Renang

 

Kolam menjadi area favorit Aisya di hotel. Tentunya, selain kamar karena ada Nickelodeon, Cartoon Network dan channel anak lainnya di TV.

Aisya loves swimming!

Setelah check in, Aisya kecipak-kecipuk dulu sama Ayahnya. Esok nyebur lagi. Semangat banget deh kalau diajak berenang 🙂

Seperti yang saya bilang, kolamnya tidak besar. Besarnya beda dikit sama Pacific Express Hotel yang kami inapi saat jalan-jalan di Kuala Lumpur. Bedanya yang satu terletak di roof top, kalau di Ayaartta pool-nya selantai sama lobi.

Tentang Pacific Express hotel, ada di postingan ini ya Kuala Lumpur Melaka 4 Hari

Di pinggir kolam ada dua buah kursi dan satu meja. Disediakan handuk juga. Kemudian ada kursi gantung. Aisya diayun-ayunkan sama Ayahnya disini nih sehabis berenang, ditemani alunan lagu “Tak lelo lelo ledung” dari hotelnya.

Wih, bikin nuansa jawa-nya terasa 🙂

Wifi-nya gimana? kenceng kok, Namanya juga di hotel. Jadi pagi setelah sarapan kami berangkat karena pagi masih terang. Sekitar jam 2-an gitu biasanya langit mulai mendung, kami balik ke hotel setelah makan siang. Terus sampai sore nyantai aja di kamar. Malam biasanya masih agak gerimis, jadi kami bisa keluar naik grab ke tempat makan atau jalan kaki ke kafe terdekat, pinjam payung hotel hihi.

Alright, so this is all what I can share to you. see you guys on my next post yaa.

 

TAMAN PINTAR YOGYAKARTA : Taman Anak Yang Edukatif, Asik, Murah Meriah

IMG_20180107_094010.jpg

Keluarga kami lebih suka berjalan-jalan di awal tahun, karena kerjaan suami relatif belum padat sehingga suami saya bisa mengambil cuti. Selanjutnya, untuk traveling, biasanya kami memanfaatkan hari kejepit nasional plus cuti beberapa hari di bulan-bulan lain.

Tapi pas ke Bangkok tahun lalu, suami ‘escape’ pas lagi peak month. Dan berimbas kami harus beli banyak oleh-oleh untuk dibagikan ke teman-teman di kantor haha.

Baca juga : 9 Makanan Yang Wajib Kamu Coba Saat Ke Bangkok

Berbeda dengan 2 tahun ke belakang, dimana kami berlibur ke Malaysia, tahun ini kami memilih untuk dolan santai ke Yogyakarta.

Been years didn’t visit Yogyakarta. The last time was with my colleagues, I remembered that we tried mercon setan at night and went shopping in Pasar Beringharjo haha. Yogya is always a call, just like Bandung, its a creative city ❤

Sama dulu banget sih, pas SMP study tour ke Yogya dan rasanya senang banget naik becak keliling keraton dan ke toko perak, waktu itu naik becak cuma Rp. 1000,-  sekarang tarifnya sudah Rp. 20.000-an ya.

Baca juga : DAY 2 #MalaysiaTrip : Awana Skyway Genting Highlands

Btw, ngomongin Malaysia jadi terselip rindu nih, bulan Januari itu di Kuala Lumpur lagi full of tourist. Jadi kami bisa ketemu sama banyak orang dari berbagai negara dan ngobrol sama mereka (sekalian ngelancarin bahasa inggris).

Semoga bisa ke Kuala Lumpur dan other part of Malaysia lagi deh tahun ini (selain destinasi wisata lainnya di wishlist yang sudah saya buat). Amiin.

Baca juga : Trip Seru Ke Langkawi

Okay, back to our trip to Yogyakarta. Kami sengaja mencoba naik kereta ekonomi kesana. Keretanya cukup nyaman, aman dan yang paling berkesan buat saya adalah kerjasama antar orang-orang yang berada di kereta itu jempolan banget.

Begitu sampai di stasiun Lempuyang Yogyakarta, kami langsung memesan grab menuju Ayaartta Hotel Malioboro. Insya Allah saya akan bikin review Hotel yang kami inapi selama 4 hari 3 malam ini ya. Buat sekarang, saya mau cerita tentang Taman Pintar, taman edukatif, asik dan murah meriah untuk anak.

Silakan disimak yaa Moms..

TAMAN PINTAR YOGYAKARTA :
Taman Anak Yang Edukatif, Asik Dan Murah Meriah

Taman yang terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3 Yogyakarta ini merupakan tempat rekreasi edukatif yang dibangun oleh Kementrian Pariwisata atas gagasan dari Walikota Yogyakarta Herry Zudianto SE, Akt, MM.

Taman ini dikelola oleh pemerintah, jadi pengurusnya ada PNS, pegawai tetap dan kontrak. Mungkin ini juga yang bikin Taman Pintar murah meriah.

Untuk masuk ke dalam, tidak dikenai biaya, kalau mau masuk wahana baru beli tiket. Tanpa masuk ke wahana berbayar pun, anak-anak sudah bisa main sepuasnya di beberapa area, seperti di Taman Air Menari, kemudian berbicara di pipa besar di depan PAUD Barat. area menabuh gendang dan area berpasir.

Aisya senang sekali bermain di Taman Pintar, terutama ke PAUD-nya. Sampai nagih lho! jadi kami kesini 2 kali.

Eits, tapi harus perhatikan jadwal buka-nya ya. Taman Pintar ini buka setiap hari namun hari SENIN TUTUP.

PAUD TIMUR & PAUD BARAT

Dua gedung PAUD ini dibangun atas kerjasama antara Sari Husada dan Taman Pintar. Untuk masuk ke PAUD Timur & PAUD Barat, kita harus membeli tiket seharga Rp. 3000,- per anak. Sebelum masuk, ada beberapa hal perlu kita perhatikan, antara lain :

  1. PAUD ini hanya boleh dimasuki oleh anak yang berusia 3-5 tahun
  2. Orang tua tidak boleh menemani anak di dalam PAUD & diminta menunggu di ruang tunggu
  3. Selama menunggu, para orang tua bisa melihat aktivitas anak melalui CCTV
  4. 1 tiket berlaku untuk melakukan aktivitas di dalam PAUD selama 30 menit, kalau times up dan anak kita masih ingin main bisa langsung beli tiket lagi saja
  5. Tidak diperkenankan mengambil foto di dalam ruangan

Sekarang, yuk kita bahas apa yang menarik di PAUD Timur & PAUD Barat.

Baca juga : Main Ke Belitung #GarudaPoin

Ada Apa Saja Di PAUD Timur?

 

Melalui CCTV, saya bisa melihat di PAUD Timur ini ada 5 ruangan, yaitu :

  1. Ruangan Robotik berisi 3 buah robot dimana anak-anak bisa mengamati pergerakan robotnya (sayangnya saat kami kesana sedang rusak)
  2. Ruangan ketangkasan, begini saya menyebutnya. Di ruangan ini terdapat beberapa matras berwarna hijau dan beberapa alat ketangkasan yang dilengkapi dengan TV
  3. Rumah Adat & Kereta Api. Di ruangan ini ada miniatur kota berisi berbagai rumah adat disertai dengan rel kereta api. Nah harusnya kereta api-nya berjalan mengitari rumah adatnya
  4. Ruang Musik. Di ruangan ini ada piano besar, saya lihat Aisya menginjak tuts-nya agar berbunyi, kemudian ada drum, bonang dan angklung yang boleh dimainkan
  5. Terakhir ada semacam aula besar yang dinamai ruang Seni Budaya. Di panggungnya Aisya bernyayi diiringi gitar

Keluar dari PAUD Timur Aisya menunjukkan gambar ini pada saya, rupanya ia sempat mewarna di ruang Seni Budaya 🙂

Ada Apa Saja Di PAUD Barat?

Aktivitas di PAUD Barat lebih menarik (menurut saya), apalagi sambil menunggu Aisya bermain, kami (para orang tua) mendapatkan seminar gratis mengenai “Menanamkan Gaya Hidup Holistik Pada Anak : Guna Memunculkan Yang Terbaik Pada Diri Anak” yang diadakan oleh Sari Husada.

Mudah-mudahan saya bisa sharing juga tentang program edukasi nutrisi ini ya. Next post, insya Allah.

Saya yang senang nih, dapat ilmu sambil nunggu anak 🙂

Nah, sambil mendengarkan pemateri saya juga sempat melihat CCTV disini dan melihat Aisya yang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

Kalau di PAUD Timur lebih banyak unsur science, disini ruangan-ruangannya berisi alat bermain yang lebih fun. PAUD Barat ini terdiri atas :

  1. Ruang Balok Susun, tempat anak kita bisa bermain lego dari ukuran kecil hingga besar (Aisya cukup anteng disini nih)
  2. Kota Miniapolitan Sari Husada. Disini Aisya naik pesawat dan belajar jadi pilot, lalu main dokter-dokteran, memasak di dapur, dan berkali-kali menaiki tangga lalu loncat ke matras besar. Ada semacam bengkel juga tempat anak bisa berlagak jadi montir
  3. Ruang Komputer pintar dimana anak diajak main game edukatif

Lebih sedikit ruangannya tapi Aisya betah berlama-lama disini, saya sampai beli tiket 3 kali.

Setelah puas bermain di PAUD, kami beranjak memasuki Gedung Oval – Kotak. Disini ada berbagai macam alat peraga science dan sejarah. Yuk take a look inside.

GEDUNG OVAL KOTAK

IMG_20180107_113443

Gedung ini adalah area paling besar di Taman Pintar, tiket masuknya Rp. 15.000,- per orang.

Ketika masuk kita akan melewati mini aquarium berisi ikan-ikan besar. Lalu disambut oleh hewan-hewan purbakala yang mengeluarkan bunyi. Saya tersandung kaget lho ketika Dinosaurusnya bergerak haha. Kepalanya itu bisa gerak dan mulutnya mangap. Jadi kaget kaaan!

Masuk lebih dalam, kita akan disuguhi foto-foto para penemu dan orang yang menorehkan sejarah seperti Pak BJ Habibie, Avicena, Phytagoras, dan lain-lain.

Selanjutnya ada zona-zona, seperti Zona Fisika, Zona Air, Zona Tata Surya, Zona Bagian-Bagian Tubuh, dan banyaaaak lagi. Saya kasih lihat foto-fotonya saja ya. Di Gedung ini mah kita boleh memotret.

Ada banyak ruangan, dan tidak saya foto semua. Yang bisa saya abadikan ada di album ini ya.

This slideshow requires JavaScript.

Seperti yang saya bilang, kami mengunjungi tempat ini 2 kali, yaitu hari Ahad dan Selasa. Di hari Selasa, selain main ke PAUD, Aisya dan Ayah juga naik perahu di sungai.

Masih ada beberapa wahana lainnya, kami tidak masuk ke semua wahana. Termasuk yang satu ini, saya hanya sempat memotret anak orang lain yang sedang naik mobil-mobilan, Area ini dilengkapi dengan halte dan rambu-rambu lho.

Sebetulnya pengen ajak Aisya belajar nyetir gini, tapi hari sudah siang, Kami harus kembali ke Hotel untuk check out.

And you know what? setelah kami tiba di Bandung, sampai hari ini pun Aisya terus bilang, “Aku mau ke Taman Pintar, Mami, Ayah”.

Berkesan banget nih kayaknya PAUD-nya.

Gimana, tertarik mengajak buah hati kesini ga Moms?

 

Peaceful Hobbiton – The Shire

Screenshot_2017-12-19-22-41-17

Mengunjungi Hobbiton – The Shire adalah pengalaman yang paling mengesankan buat suami saya ketika berkesempatan mengikuti training di New Zealand.

Beliau berangkat bersama beberapa rekan kantornya untuk mengikuti Diklat di University Of Auckland. Di sela-sela padatnya aktivitas juga tugas, suami dan rombongannya menyempatkan diri berjalan-jalan ke Hobbiton.

Baca juga : Trip SERU Ke Langkawi

Penggemar film The Lord Of The Rings dan The Hobbit pasti familiar dengan tempat ini. The Lord Of The Rings sendiri adalah film yang sukses bikin saya nangis selama seminggu setelah ditonton. Setting-nya, story-nya, backsound-nya, dan soundtrack yang dinyanyikan oleh Enya bikin saya merinding aja gitu.

 

Meskipun saya ngga ikut ke New Zealand, Alhamdulillah suami mau berbagi sedikit cerita, banyaknya sih foto-foto.

Untuk sampai ke Hobbiton, suami dan rekan-rekannya menyewa van, van yang sama dengan yang menjemput mereka ke Bandara. Biayanya sekitar Rp. 600.000,- ketika dirupiahkan.

Harga tiket masuk Hobbiton sendiri dibanrol dengan harga Rp. 700.000,-/orang.

Baca juga : Island Hopping Di Belitong

It’s very beautiful“, kata suami. Setuju ga Moms? 🙂

 

Nah, area danau di bawah ini disebut Matamata. Berdasarkan penuturan suami, Matamata adalah sebuah desa kecil di Waikato, Hamilton, New Zealand. Di danau inilah Green Dragon bersemayam.

Baca juga : 9 Makanan Yang Wajib Kamu Coba Saat Ke Bangkok

Matamata mulai dikenal dunia setelah kehadiran The Hobbit. Rencananya bagunan di area ini akan dihancurkan selepas syutingnya selesai karena dikhawatirkan akan menganggu habitat alam. Namun warga desa Matamata menginginkan area Hobbiton tetap dipertahankan. Untung sekali lho area ini tidak jadi dipugar, karena hingga saat ini Hobbiton malah menjadi lokasi wisata andalan di New Zealand 🙂

Screenshot_2017-12-19-22-40-49

Gimana? pemandangan disini memanjakan mata banget yaa.

Baca juga : 5 Hal Menarik Dari Farmhouse Lembang

Oya, selama mengikuti training di Auckland, suami bersama kolega-nya menginap di Adina Apartement Hotel. Untuk belanja, suami saya suka ke Queen Street dan Downtown Supermarket.

Kualitas keju dari New Zealand terkenal bagus, Alhamdulillah suami membelinya untuk oleh-oleh. Kreasi menggunakan keju Chesdale ada di dua resep ini Penne Carbonara With Grilled Salmon dan 25 Mins Lasagna

Silakan dilirik-lirik ya Moms.

Okey, sampai disini dulu cerota travelingnya suami ya. Semoga bermanfaat.

 

 

3 FAKTA UNIK THAILAND

IMG_20170503_140457
I really like when it rain, it makes my heart peaceful and grow a happy feeling inside of me
.

Hujan bikin saya tenang dan semangat, seneng aja gitu. Adik saya bilang, saya Pluviophile. Dari 7 ciri yang dipaparkan dalam IDNTimes most of them betul sih, cuma saya ngga sampai pengen hujan-hujanan dan justru malah kurang suka lihat awan gelapnya. But I enjoy when the rain fall, membuka pintu, membiarkan hawa sejuk yang dibawa hujan masuk, mencium aroma tanah yang diguyur hujan dan merenung-menatap rintik air yang turun.

Aisya sampai heran kenapa saya anteng lihatin hujan, dan akhirnya dia menutup pintu rumah dan berkata, “Mami, jangan lihatin hujan, ayo temenin Aisya di dalam”. Hihi, ternyata Aisya kurang suka saya menikmati hujan lama-lama.

Some people probably think, saya kurang kerjaan. But I don’t know, I just like it.

Hujan juga seringkali mengajak saya mengingat momen-momen yang sudah berlalu, kerinduan terhadap masa muda, hal-hal mellow yang pernah saya lewatkan.

Ya, saya lagi kangen jaman kuliah dan nge-mall sama teman-teman, hang out, ngobrol ngalor ngidul. Having besties around you, to hear whatever that I say.. I miss those moment.

I miss talking a lot and meet many people.

Hujan 4 hari ini sukses bikin saya nostalgia. Salah satunya ke momen saat saya jadi panitia AUDC saat kuliah. Asean Universities Debate Championship mempertemukan saya dengan banyak orang dari negara-negara yang ada di ASEAN.

Di event ini saya juga kenalan sama seorang Bikshu dari Thailand, he was a student of Mahidol University that time. I remembered that we walked together, talk and accompanied him to looking for a vegan birthday cake for his friend.

Mumpung ingatannya masih hangat, saya mau gabungkan dengan 3 memori mengesankan lainnya saat saya mengunjungi Thailand Mei lalu ya.

3 FAKTA UNIK TENTANG THAILAND

  1. Monks Are Everywhere

     

    IMG_20170502_073907

    Monks on the street

    Sebelum saya berangkat ke Thailand, saya sudah mencari-cari kontak teman lama saya itu – Phra Chainarong namanya – dipanggil Elpi. But I didn’t find either his email or instagram or facebook.

    Memang sih, ngga semua participants yang saya kenal ketika AUDC berlangsung masih keep in contact sama saya. Hanya beberapa saja yang lumayan sering ngobrol.

    So, keinginan reunian sama Elpi di Bangkok kayaknya gagal deh. Terakhir nge-google sih, sekarang beliau jadi dosen di Mahidol University, Wallohualam bishowab 🙂

    Nah, pas ke Bangkok saya melihat banyaaaak banget bikshu yang tersebar di berbagai tempat. Seperti di pasar, di terminal bus, di pinggir jalan, di kuil juga di bandara.

    IMG_20170503_092410

    Para bikshu di terminal bus

    Para bikshu ini sudah stand by dari pagi. Mereka menunggu orang-orang yang mau melakukan ibadah. Dari yang saya perhatikan, orang-orang yang beribadah ini datang membawa bungkusan berisi makanan, lalu Bikshu-nya akan memasukkan ke dalam kantong. Kalau sudah terkumpul banyak mereka pergi membawa buntelan tersebut ke kuil untuk dimakan bersama dan dibagi-bagikan.

    Bikshu yang saya temui juga beragam, ada yang jubahnya berwarna lebih tua dan agak lecek namun ada juga Bikshu yang kece abis. Ganteng, looks intelligent, jubahnya bagus dan memegang smartphone di tangan mereka.

    Elpi pernah cerita pada saya kalau menjadi bikshu adalah keinginannya sendiri. Awalnya beliau tinggal di Kanada, lalu pindah ke Thailand. Disana, orang tuanya menawari Elpi, apakah ia tertarik jadi bikshu? After saying yes, his parent then sent him to Temple. 

    Elpi learn to be a monk since he was a child.

    Picture 049

    AUDC memory – berfoto bersama Elpi (pria gundul berjubah oranye di belakang saya)

    “You cannot touch me”, ucap Elpi saat saya sedang berjalan di sela bangku kelas tempat perlombaan debat berlangsung dan Elpi duduk di salah satu bangku – beliau takut saya mengenainya.

    Bagi saya hal ini cukup unik, seorang bikshu tidak boleh disentuh oleh siapa pun, kecuali oleh keluarganya, seperti Ibu dan Ayah-nya. Lebih lanjut lagi, seorang bikshu hanya boleh makan solid food dari pagi menjelang siang. Lewat pukul 12.00 hingga keesokan pagi-nya, mereka hanya diperkenankan minum. Wow!

    Para bikshu tidak menikah, jika sebelumnya mereka menikah, ketika menjadi bikshu otomatis mereka akan terputus dari hubungan yang mengikat mereka sebelumnya.

    Iseng-iseng, saya tanya Elpi, “Do u ever have a feeling for woman?”. And he said no, hihi.

    Lanjut ke fakta unik ke-2 yaa.

  2. Lese Majeste Di Thailand

     

    Grand Palace Blacl Dress
    Saat musim panas, suhu di Bangkok bisa mencapai 40 dercel. Alhamdulillah saat kami berkunjung kesana, panasnya masih di 38 dercel and its already felt really HOT.
    That’s why we bring our hat & umbrella when we were strolling around the Grand Palace and Royal Temple.

    Ketika kami tiba di Grand Palace terlihat banyak warga Thailand yang mengenakan pakaian hitam-hitam, mereka berkumpul untuk memanjatkan doa untuk almarhum Raja Bhumibol Adulyadej.

    Masyarakat Thailand memang diwajibkan berkabung selama 1 tahun atas permintaan Maha Vajiralongkorn (anak laki-laki almarhum Raja).

    Masih berhubungan dengan Kerajaan, di Thailand diberlakukan Lese Majeste.

    Lese Majeste adalah pasal yang melindungi keluarga kerajaan dari hinaan & ancaman. Jika ada masyarakat yang ketahuan melakukan segala bentuk penghinaan terhadap keluarga kerajaan, mereka bisa langsung dihukum bahkan masuk bui.

    Foto-foto almarhum Raja Bhumibol juga terpampang di banyak tempat, baik di pertokoan, gedung-gedung tinggi, dan di jalanan. Thailand people menganggap keluarga kerjaan dan raja-nya sebagai keturunan dewa, oleh karena itu mereka sangat menyanjung Raja-nya.

    Btw, Grand Palace And Royal Temple area is really gorgeous. Catch the beauty here SAWADEE KHA BANGKOK.

  3. Beside Monks, Lady Boy Also Everywhere

    IMG_20170502_133158
    Di Indonesia ada waria, yang suka mangkal di perapatan, dan mendekati mobil-mobil saat lampu berubah jadi merah – bernyanyi sambil bawa kecrek. Tapi tidak banyak.
    Di Bangkok dan Pattaya, para lady boy ini ada dimana-mana. Di jalan, di bus, di toko, everywhere. Its easy to find Kathoey in Thailand.

    Ada yang memang wajahnya cantik, seperti wanita, namun ada juga yang masih ketara banget wajah laki-lakinya. Bahkan ada yang memelihara janggut, berbadan kekar tapi jari-jarinya lentik.

    Banyaknya Kathoey di Thailand ini tidak terlepas dari kepercayaan orang Thailand yang meyakini bahwa tidak hanya ada 2 gender (pria dan wanita), namun ada juga gender ketiga yaitu waria.

    Saya tidak berani berfoto dengan mereka, meskipun beberapa lady boy yang kami temui seem ramah-ramah. Ada yang menyapa Aisya dan mengajak Aisya bergandengan tangan di Pattaya Point, tapi Aisya lebih memilih lari-lari dengan Hamka.

    Di Pattaya juga ada satu gang yang dipenuhi oleh sexy-lady-boy, cerita lengkapnya ada di postingan ini ya PATTAYA – Khob Khun Kha.

3 hal di atas adalah ke-unikan yang tidak saya temukan di Indonesia. Okey, nostalgianya saya cukupkan sampai disini dulu 🙂 please correct me if I’m wrong yaa. 

 

 

“Khob Khun Kha” PATTAYA

IMG_20170503_173026

Assalamu’alaykum 🙂 Hi all, welcome to part-2 of Bangkok-Pattaya Trip. If you ask me, what do I miss the most from Pattaya? My answer would be Central Marina Pattaya. Kenapa? Menginap dimana? Dan kemana saja selama kami di Pattaya, semua ada di postingan ini.

Ok, I will start from, transportasi yang kami gunakan dari Bangkok menuju Pattaya.

Naik Bis Dari Stasiun Ekkamai Bangkok Ke Pattaya

Pagi-pagi, kami berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap di Bangkok ke stasiun BTS. Alhamdulillah jaraknya dekat. Lalu kami membeli tiket BTS dari Phaya Thai ke stasiun Ekkamai. Dari stasiun Ekkamai inilah kami melanjutkan perjalanan menggunakan bis ke Pattaya.

Jika di Malaysia token yang digunakan di KTM-nya berupa koin, di Bangkok, tiket untuk naik ke kereta apinya berbentuk kartu. Petugas di pintu masuk akan bertanya terlebih dahulu, stasiun mana yang kita tuju. Kemudian petugas tersebut akan memberi arahan dan membantu kita memasukan kartu ke dalam mesin, karena scan-nya bergerak cepat sekali.

Sampai di stasiun Ekkamai, sementara saya duduk di kursi, suami bersama temannya mengantri untuk membeli tiket bis ke Pattaya. Bis menuju Pattaya ini berangkat setiap 20 menit sekali, jadi datang mendadak pun insya Allah akan dapat tiketnya. Harga tiketnya 124 baht/orang. Harga ini lebih murah ketimbang menyewa taxi dari Bangkok.

Sebelumnya, ada driver taxi, agen travel dan pihak hotel yang menawari kami paket antar juga keliling Pattaya. Biayanya 1000 baht (untuk paket di-drop saja) dan 3000 baht Jika kita mau diantar – one day strolling around Pattaya – kembali lagi ke Bangkok.

Naik bis menjadi pilihan yang hemat dan tepat menurut saya, mungkin karena kami senang mencoba berbagai alat transportasi juga karena saya suka mengamati dan ngobrol dengan orang baru. Sayangnya di Bangkok tidak banyak orang yang mahir berbahasa Inggris, pun saya tidak mengerti bahasa Thailand sehingga komunikasi sedikit terhambat.

Namun berbaur dengan banyak orang dan turis lainnya saja sudah membuat saya bahagia.

Di dalam bis, kami harus duduk sesuai nomor yang ada di kursi. Bis-nya lumayan nyaman, jarak sekitar 149,5 km yang kami tempuh dari Bangkok menuju Pattaya terasa cukup singkat, hanya 2 jam karena jalanannya lancar.

Btw, selama lima hari disini, saya belajar percakapan sederhana dalam bahasa Thai, seperti :

  1. Sawadee kha (greeting)
  2. Kun sabai deemai kha ? (how are you?)
  3. Sabai deemai kha (I’m fine)
  4. Khob Khun Kha (thank you)

Fyi, akhiran – kha – digunakan oleh wanita sedangkan pria menggunakan akhirnya khap/krap. Contohnya untuk bilang terimakasih, pria harus mengucapkan “Khob kun khap”.

Biasanya sih, setelah tersenyum dan menyapa, “Sawade khaaa”, pembicaraan saya dengan beberapa warga Thailand terhenti akibat roaming, paling-paling Aisya menambahkan “Khob kun khaaa”, begitu. Hehe.

Seperti saat kami sampai di Pattaya, driver grab yang suami pesan mengatakan kalau dia menunggu kami di “Shippo Mekko”. That’s what we heard, ketika dia menelepon. Karena bingung, saya masuk ke satu kantor yang terlihat seperti agen travel dan bertanya dimanakah Shipo Mekko.

Sawade khaaa”, ucap mba-mba yang membuka pintu.

Sawade khaa”, sahut saya.

Do you speak English?”, tanya saya.

A little bit”, ah jawabannya melegakan saya.

Tapi setelah saya tanyakan, beliau menggelengkan kepala. Seems that Shippo Mekko is not familiar in her ear.


Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki, melewati beberapa tukang ojeg yang mangkal dekat stasiun bis di Pattaya tersebut. Hingga akhirnya teman suami saya bilang, “Sepertinya itu deh”.

Beliau menunjuk ke sebuah mall bertuliskan ‘Macro Center’.

Kami semua berpandangan lalu tertawa, “Kayaknya iya deh itu, tapi kok jadi jauh amat ya kedengarannya, dari Macro Center jadi Shippo Mekko”.

Dan benar saja ternyata driver-nya sudah stand by di area parkirannya. Mas driver pun meminta kami segera masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas ke hotel tempat kami menginap di Pattaya. Alhamdulillaah.

Menginap di A-One Star Hotel Pattaya

Kami hanya menghabiskan satu malam di Pattaya. Satu malam yang cukup berkesan buat saya. Ada kejadian yang menyenangkan juga yang tidak mengenakan. Apakah itu? Keep reading yaa 😊

A-One Star Hotel Pattaya ini letaknya sangaaaaat dekat dengan Pattaya Beach, tinggal jalan kaki, sampai deh. Hotel bintang 4 ini tetanggaan dengan sederet hotel lainnya di North Pattaya Beach Road.

Review dikit tentang hotelnya ya. Saya suka banget hotel ini, restoran tempat kami sarapannya cukup luas dan terbagi menjadi dua, ada yang indoor juga outdoor. Di bagian luar lobby ada kolam ikan, nah sambil nunggu check in anak-anak main disini. Liat ikan-ikan mas jumbo yang berenang kian kemari.

And my most favourit part is the room. Karena saya pecinta desain interior bergaya minimalis, kamar di A-One Star Hotel ini bikin saya merasa nyaman. Konsepnya space-savingnya keren. Di bawah tempat tidur ada stop kontak, di bagian atas kasur juga ada lampu yang bisa dibengkokkan. Aisya senang bermain dengan lampu ini.

Dan tahukah Anda, biaya menginap per-malamnya murah banget lho, cuma 100 RIBU RUPIAH SAJA. It made this Hotel very recommended to stay.

Wisata Di Pattaya

Pattaya

When it comes to the question, where to go in Pattaya? Sebetulnya ada banyak ya, antara lain :

 

  1. Nong Nooch Tropical Garden
  2. Pattaya Floating Market
  3. Sanctuary Of Truth
  4. Tiffany Cabaret Show
  5. Pattaya View Point
  6. Pattaya Beach
  7. Buddha Mountain
  8. Coral Island
  9. Water Parks
  10. And many more

Berhubung sehari semalam disini, jadi kami hanya mengunjungi tempat yang dekat-dekat saja yaitu Central Marina Pattaya, Pattaya Beach, Pattaya View Point, Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque di Pattaya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pantai Pattaya, hanya untuk foto-foto karena hari masih siang, panas dan kami lapar. Setelah itu kami bergerak mencari kedai makan.

Di sekitaran hotel tidak ada kedai makan. Sambil panas-panasan kami berjalan kaki menuju jalan raya (bukan ke arah pattaya beach ya tapi berlawanan arah ke atas). Jalannya tidak begitu jauh sih, hanya saja panasnya Pattaya bikin meleleh..

Alhamdulillah di seberang jalan, kami menemukan Central Marina, one of the cutest mall in town, I must said.

Central Marina Pattaya

 

Dari luar, Central Marina ini lebih terlihat seperti factory outlet dengan banyaknya jendela dan pintu yang bercat putih, ketika masuk ke dalam, ternyata ini merupakan mall yang cukup besar. Di dalam mall ini ada food court, big C, dan toko yang menjual berbagai jenis barang.

Why do I say that this Mall is one of the cutest small I’ve ever seen? Karena desain-nya yang lucu, warna-warni, ceria, light, beachy dan anak-anak sekaliiii.

Lihat saja kids corner di food court-nya, Aisya dan Hamka loncat-loncat disini sambil menonton kartun sambil menunggu pesanan datang sebelum akhirnya saya menyuapi Aisya di tempat duduk anak. Mall ini juga dilengkapi dengan playground yang cukup besar, gratis lagi, bikin Aisya dan Mami happy main disini.

Oia, disini kami lagi-lagi memesan masakan india. Relatif lebih aman ditambah penjualnya mengatakan kalau makanan yang mereka jual halal.

Sama satu lagi, mall ini punya toilet anak yang lucuuuu abiiiss. Jarang kan lihat toilet khusus anak di Mall? Hehehe.

Gimana? gemaaay kan? 🙂

Berbagai fasilitas yang ramah anak, bikin saya nyaman di mall ini. Malam harinya kami pergi kesini lagi untuk berbelanja oleh-oleh di Big C. Saya juga membeli madu Raja untuk Bapak saya disini. Kemasannya beragam, saya memilih best seller honey yang sama mba penjaganya disebut “Product of the King”.

Baca juga : 8 Thailand Snack Yang Cocok Dijadikan Oleh-oleh

Ada 2 jenis madu dengan kemasan botol ini, ada yang dari kaca juga plastik. Penjaga toko menyarankan kami untuk membeli madu dalam botol plastic, agar lebih aman dibawa selama perjalanan pulang katanya. Kalau yang kaca khawatir pecah.

Alhamdulillah Bapak suka madu ini, sekarang sudah habis nih 😊

Pattaya Beach – Pattaya View Point

Setelah siang harinya kami makan, ngadem, dan jalan-jalan di Central Marina, sore harinya kami menyewa motor untuk berkeliling beach road, berfoto di Pattaya View Point dan menemani anak-anak bermain ombak di Pattaya Beach.

Untuk sampai ke Pattaya View Point, kami harus melewati satu gang yang mirip dengan area bar di Bali, yang bikin gang ini mencolok adalah, para kathoey yang berdiri sambil memanggil pengendara yang lewat untuk mampir.

Beberapa lady boy yang berbusana teramat sexy ini terlihat sedang menemani pengunjung pria, baik di bar-nya maupun di pinggir jalan. Buat saya, cukup sekali deh lewat gang ini. Peace, hehehe.

Sejauh mata memandang, baik di Bangkok maupun Pattaya, kita memang akan mudah menemukan atau sering melihat waria dimana-mana. Waria-waria ini ada yang bekerja sebagai penjaga toko, tukang pijat, bekerja di bar, menjadi penari dan lain-lain. Bahkan saat di Pattaya View Point, kami juga bertemu dengan waria-waria yang sedang jalan santai.

Kembali ke Pattaya View Point ya. Di area ini terdapat taman yang difasilitasi dengan berbagai alat olahraga, beberapa lansia juga terlihat menggelar matras tipis untuk senam bersama instruktur. Senam sore gitu.

Untuk sampai dan berfoto di dekat tulisan PATTAYA, kami harus memarkirkan motor di dekat taman tersebut dan menuruni anak tangga dengan berjalan kaki. Nah begini pemandangan Pattaya Beach di sore hari dari Pattaya View Point, kalau malam hari lampu-lampunya akan berpijar cantik.

Karena anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain dengan ombak, kami tidak berlama-lama di Pattaya View Point dan langsung cuuus ke pantai.

Ombak di Pattaya Beach sangat landai. Dari pinggir pantai kita bisa melihat berbagai jenis perahu, ada boat, hingga yacht yang parkir disana. Pantainya sepi pengunjung, mungkin Pattaya Beach hanya ramai di waktu-waktu tertentu. To be honest, pantai di Belitung dan Bali masih jauh lebih indah.

Baca juga : Island Hopping Di Belitong

Oia, ada baiknya kita ekstra hati-hati saat memarkirkan motor di area Pattaya Beach Road ini. Seperti yang sudah saya tulis di atas, selama berkunjung ke Pattaya, ada pengalaman buruk yang kami alami.

Begini ceritanya, ketika kami memarkirkan motor sewaan di seberang pantai di sebelah motor-motor lainnya, di tempat itu ada orang yang berjaga. Dan tidak tertera larangan apa pun. Kami pun merasa aman-aman saja memarkirkan motor disitu.

Tapi sekembalinya kami dari pantai, ZONK! Motornya HILAAANG. Kemanakah? Alhamdulillah ada orang di dekat sana yang bisa berbahasa inggris, beliau memberitahu kami kalau motor sewaan yang kami parkir disana diangkut oleh polisi.

Saya, Aisya, Mba Minnie dan Hamka sepakat untuk kembali ke hotel sementara Bapak-bapaknya mengurusi motor sewaan ini ke kantor polisi. Awalnya sih terpikir untuk menghubungi pihak yang menyewakan motor, tapi karena ingin segera selesai akhirnya para suami memilih untuk langsung ke kantor polisi.

Kira-kira pukul 08.00 malam, suami saya balik ke hotel, membawa serta motornya. Beliau bilang, sebelumnya memang pernah baca blog traveler yang juga kena scam di Pattaya. Jadi saat parkir, tidak ada orang yang mencolek atau memperingatkan kita agar tidak parkir disana, seperti kasus kami tadi. Toh tukang parkir yang ada disana ngga bilang apa-apa.

Desas-desusnya sih preman di sekitaran sana bekerjasama dengan polisi. Jadilah suami-suami kami membayar sejumlah uang pada preman dan polisi agar motor sewaannya bisa diambil kembali. Habis berapa? Kira-kira 600 baht lah untuk menebus motornya 😊

Banyak hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Intinya kalau teman-teman mau main ke Pattaya, hati-hati ya saat parkir motor. Lebih baik parkir-kan motor sewaan dihotel saja dan jalan kaki ke pantai-nya, dengan catatan hotelnya dekat dengan pantai ya. Kalau jauh trus jalan kaki mah gempor atuh hehe.

Saat berkendara ke mall juga, parkirlah di dalam, jangan di pinggir jalan. Di pinggir mall ada banyak sekali motor yang parkir, but who knows right? Daripada kena scam, mending parkir di dalam mall. Di Central Marina biaya parkirnya juga gratis kok.

Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque di Pattaya

Sebelum kembali ke Bangkok, pagi hari kami menyempatkan diri jalan-jalan dulu di sekitaran Pattaya, yaitu ke Pattaya City Hall dan Darul Ibadah Mosque Pattaya.

I am very amazed to see a Masjid and Islamic school in Pattaya, despite its night life. Di Darul Ibadah ini ada Islamic School untuk anak-anak TK. Para pengajar yang mostly wanita mengenakan jilbab, anak-anak perempuan juga ada yang memakai jilbab.

Saya sangat tertarik untuk bercakap-cakap dengan staff disana, namun kembali, kendala bahasa membuat saya urung. Sebelum saya, ada turis dari Arab yang menanyakan tempat makan yang halal di sekitar sana pada guru-gurunya.

Ada seorang guru kemudian datang, beliau nampaknya cukup mengerti bahasa Inggris dan menjelaskan arah-arah jalan. Setelah itu guru ini langsung pergi lagi ke dalam kelas, sepertinya sedang sibuk ya hehe. Akhirnya saya mengamati dari luar saja.

Ada beberapa kelas di Taman Kanak-kanak ini. Di tiap kelas ada bendera-bendera dari negara ASEAN. Bendera Indonesia juga terpampang disana. Di area Masjid juga terdapat kantor yang mengurusi bidang dakwah.

Selesai mengunjungi kedua tempat ini, kami langsung kembali ke hotel untuk packing, mengembalikan motor sewaan dan memesan grab menuju stasiun bis yang akan membawa kami kembali ke Bangkok.

Okey, part-2 sampai disini dulu, yang belum baca part-1 bisa klik SAWADEE KHA! BANGKOK

Semoga catatan #travelingkeluarga ini memberi cukup informasi untuk teman-teman yang mau berkunjung ke Pattaya (Amiin). Terimakasih sudah mampir yaa 😊

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAWADEE KHA! BANGKOK (part1)

IMG_20170502_125200

Assalamu’alaykum Mommies & friends 😊 Minggu ini saya mau share cerita traveling keluarga ke Bangkok awal Mei lalu. Ya this is a very late post, pending sekitar 1 bulan lebih, hehe. Kenapa ya? Sebetulnya sih karena ada banyak hal yang ingin diceritakan and because I want to write a lot of things, jadinya saya perlu waktu khusus untuk menuangkan memori-memori perjalanan kami ke Bangkok dan Pattaya 1-5 Mei 2017 ini.

Ok now, I’m ready. Bismillah.

This is our first time going to Bangkok. Saya excited banget dari setahun yang lalu saat suami mem-booked tiket AirAsia – ya lagi-lagi AirAsia, pelanggan setia nih karena banyak promo – pas lagi ada promo juga saat itu. Dan traveling kali ini waktunya lebih lama dari traveling sebelum-sebelumnya, terhitung 5 hari include berangkat dan pulang. Karena banyak artis dan event internasional yang dihelat di Bangkok, saya pikir Bangkok is a very beautiful big city yang penampakannya lebih kece dari Malaysia. So, Bangkok is on our list to go!

Persiapan Traveling Ke Bangkok

Ceklist

  1. Bikin Check-list
    Masih inget kan a little drama that I have di bandara Soekarno Hatta saat mau Main Ke Belitung? Yap! Gara-gara pernah ketinggalan KTP, untuk liburan kali ini saya sengaja bikin yang namanya check list. Dalam check list yang saya buat, saya bagi-bagi barang mana saja yang harus ada di koper dan di ransel. Alhamdulillah checklist ini sangat membantu. Pas pulang juga saya cek lagi barang-barang, mengantisipasi supaya ngga ada barang yang tertinggal.
  2. Membawa 2 koper dan 2 ransel
    Karena jalan-jalan ke Bangkok memakan waktu 5 hari dan kami berniat membeli cukup banyak oleh-oleh dari Bangkok, kami membawa 2 koper. Koper yang satu full berisi pakaian dan susu kotak Aisya. Dan satunya lagi hanya beberapa baju, jadi sangat ringan. Koper yang berat kami masukkan ke bagasi, sementara koper yang ringan kami taruh di cabin.Ransel tetap harus bawa. Ransel saya seperti biasa, berisi bekal Aisya, mainan, baju ganti dan barang-barang penting milik saya. Sementara ransel Ayah berisi his stuff dan kamera.

Baca juga : Tips Traveling Dengan Anak (Balita)

Penerbangan Pagi Dari Soekarno Hatta – Don Mueang

IMG_20170501_171630

Antrian Taxi di Bandara Don Mueang

Persiapan yang cukup baik membuat suasana keberangkatan lancar. Penerbangan kali ini cukup lama, jadi saya membawa beberapa boneka juga buku gambar untuk mengisi aktivitas Aisya selama di pesawat. Biasanya kan kalau flight-nya hanya 1-2 jam Aisya ngga bakal tidur. Ajaibnya, seolah tahu bakal lama di perjalanan, begitu tinggal landas, Aisya langsung bobo pules. Alhamdulillah 5 jam terlewati dengan smooth. Thanks Aisya.

Di bandara Don Mueang ada beberapa fasilitas yang menguntungkan bagi para Ibu dan Ayah yang membawa anak. Mereka punya counter khusus Orang tua dan anak, sehingga antrian untuk saya dan Aisya di bagian imigrasi lebih cepat.

Begitu menuruni eskalator, hendak mengambil koper dari bagasi, ada seorang Ibu mendekati suami dan menawari Sim Card Thailand dalam bahasa Indonesia. Waw! I think it’s a prove that many Indonesians coming here. Oh wait, you’ll be more surprise, saat belanja di Asiatique, ada pedagang yang lancar berbahasa Indonesia dan mereka orang Thailand. I’ll share more later, keep reading ya.

Oia, kami traveling ke negeri Gajah Putih barengan sama teman suami. Dari tempat kerja yang sama, membawa serta istri dan anaknya juga. Ini yang bikin travelingnya makin asik. Aisya punya teman main selama keliling Bangkok dan Pattaya.

Masih dari Don Mueang, you know what? Antrian taxi disini rapiii dan panjaaang sekali. Karena antriannya cukup panjang, saya duduk saja menunggu, sementara suami saya mengantri bersama temannya. Sempat ke toilet sebentar, petugasnya ramah sekali, mereka menyapa Aisya dalam bahasa Thailand yang tidak saya pahami. But we both throw smile, a universal language.

Lagi duduk, Bapak tua beruban di sebelah saya bertanya, “Indonesia?”

Yes”, jawab saya.

From Bangkok?”, saya tanya balik.

Yes”, sahut beliau.

Child? How old?”, Bapak tersebut memperhatikan Aisya.

Three”, jawab saya lagi.

From Jakata?”, tanya beliau lagi.

Saya mengangguk. My first impression, orang sini ramah-ramah ya 🙂

Taxi & Tuk Tuk Ceria Di Bangkok 

IMG_20170504_164222

Taxi di Bangkok ceria-ceria lho. Ada yang berwarna kuning, pink, hijau, warna-warnah cerah yang lumayan menghibur mata kala macet. Tuktuk-nya juga lucu-lucu, dihias semenarik mungkin. Tiap tuk tuk memiliki desain yang berbeda, at least cover jok-nya dan beberapa printilan di dalam tuk tuk, kalau malam hari lampunya menyala. Tampilan tuk tuk yang menarik ini bikin Aisya terus menerus ingin naik tuk tuk sampai-sampai kami membeli oleh-oleh pajangan berbentuk tuk tuk.

Kami umpel-umpelan di Taxi berwarna pink dari bandara menuju hotel, nama hotelnya Grand Alphine yang berada di kawasan Pratunam.

Datang di saat Bangkok lagi macet-macetnya memang kurang enak. Sore adalah jam pulang kantor, jalanan dipenuhi berbagai kendaraan. Macetnya kurang lebih sama dengan kemacetan di Jakarta, bagusnya disini mereka ngga saling beradu klakson. Macet ya wayahna, seolah begitu.

Lebih sakti lagi waktu di dekat hotel tempat kami mengincap, ada tuk tuk yang balik arah di jalanan kecil dengan kecepatan yang dasyat. Masya Allah, hihi di Indonesia kayaknya pengendara ngga seberani itu deh. Belum lagi di sepanjang jalan Pratunam, ada gang masuk pasar, nah disitu pasedek lah pejalan kaki dan pengendara motor. Macet tapi macet orang plus motor, luar biasa kan? Hehe.

Untuk menghindari kemacetan, besoknya kami diberi pilihan lewat highway oleh driver taxi. Tiap naik jalur bebas macet ini kami harus membayar 50 baht.

Neon Market – Platinum Mall

IMG_20170501_201540

Teman-teman menyarankan kami untuk mencicipi berbagai makanan Thailand di Neon Market, jadi setelah check in di hotel, meluruskan kaki, dan rebahan sebentar, malamnya kami berjalan kaki ke Neon Market. Sebetulnya kami mau naik tuk tuk, kendala bahasa membuat pesan dari supir tuk tuk-nya kami salah artikan.

Ketika saya tanya, “Neon Market is open tonight?”.

 Supirnya menjawab, “Open, open”.

Ya we want to go there, 100 baht ya?”, ucap saya.

Dan supirnya melambaikan tangan, seolah bilang tidak sambil menawari kami untuk diantar ke market lainnya dalam bahasa Thailand. Kami keukeuh ingin ke Neon market dan memutuskan untuk jalan kaki menikmati jalanan di pratunam. Kalau lihat di google maps sih, jaraknya tidak jauh.

Begitu sampai di Neon Market, barulah kami paham maksud dari supirnya. Ternyata NEON MARKET TUTUP SETIAP SENIN MALAM. Mungkin saat menjelaskan dalam bahasa Thailand, supirnya bilang kalau Neon Market buka tapi khusus hari Senin tutup, itulah mengapa beliau mengajak kami ke market lain. Oalaaah..

Karena perut sudah lapar, suami mengajak kami naik tuk tuk ke Platinum Mall yang jam segitu sudah mau tutup juga. Alamak!

Alhamdulillah di depan Platinum Fashion Mall sedang ada bazaar makanan, ada beberapa makanan halal, seperti seafood tapi O My God harganya 600 baht. Haha sayang untuk mengeluarkan uang sebanyak itu di hari pertama. Pilihan ter-aman jatuh pada buah-buahan. Suami memesankan Mango Sticky Rice yang terkenal lezat dan Coconut Water yang disajikan dengan unik untuk kami santap. Mangga-nya terasa sangaaat manis, lebih enak dari mangga arum manis dan ketan yang dibanjur santan bikin perut kami kenyang. A night well spent.

Baca juga : 9 Makanan Yang Wajib Kamu Coba Saat Ke Bangkok

Grand Palace And Royal Temple

Hari kedua di Bangkok, awalnya kami ingin berkunjung ke Floating Market. Tapi kami urungkan karena harga tiket masukanya cukup besar, yaitu 1000 baht/orang. Setelah dipikir-pikir, 1000 baht akan lebih wise jika kami belanjakan untuk oleh-oleh. Bisa beli banyak untuk keluarga, saudara dan teman-teman kami. Jadi Selasa pagi menuju siang, kami berangkat ke Grand Palace.

Suami saya bilang, rasanya tidak sah pergi ke Bangkok kalau tidak mengunjungi Grand Palace. What you have to know, hawa di Grand Palace ini puanas syekali lhooo, oleh karena itu kami memakai payung dan topi. Bangkok sendiri suhu-nya mencapai 38 dercel, nah di Grand Palace terasa lebih panas, bahkan orang Thailand pun mengatakan, “I feel the same with you, in Grand Palace it’s so hot”.

Sebelum masuk ke Grand Palace, kami makan dulu di restoran namanya Nai Fhun. Pelayan restoran mengangguk saat kami bertanya apakah makanannya hala atau tidak. Lalu kami naik ke lantai 2 dan memesan tom yum kung, mango sticky rice, mint chicken dan jus, sementara Aisya makan nasi goreng yang kami beli di Seven Eleven.

Grand Palace hari itu dipenuhi oleh warga Thailand yang mengenakan pakaian hitam-hitam, mereka datang ke untuk memanjatkan doa atas wafatnya Raja Bhumibol. Rakyat Thailand memang diwajibkan untuk berkabung selama setahun dan harus menggunakan pakaian berwarna hitam saat berdoa di Royal Temple, kecuali anak-anak yang baru pulang sekolah, mereka diperbolehkan mengenakan seragam. Selepas berdoa untuk almarhum Raja, masyarakat Thailand yang jumlahnya banyak tersebut berbaris rapi menuju gerbang keluar dan diberikan makanan gratis oleh pihak kerajaan.

Grand Palace Blacl Dress

Di pintu sebelah kanan terlihat warga Thailand berpakaian hitam yang hendak masuk memanjatkan do’a untuk almarhum Raja Bhumibol

Pengunjung yang hendak masuk ke Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan, menutup tubuh hingga di bawah lutut. Turis yang datang mengenakan celana pendek akan diminta keluar untuk membeli atau menyewa celana panjang/kain menutup kaki yang dijual dan disewakan oleh beberapa Ibu yang berada di sekitaran gerbang Grand Palace.

IMG_20170502_123847

Loket untuk membeli tiket masuk ke Grand Palace

Isi tas juga akan diperiksa, kita perlu membuka tas untuk menunjukkan apa saja barang yang dibawa. Setelah proses pemeriksaan selesai, selanjutnya kita bisa mulai berfoto di area luar Grand Palace. Di area ini, masih free. Kalau mau masuk ke dalam, kita bisa antri di loket pembelian tiket dan membayar 500 baht/orang (anak-anak gratis). Tentu saja kami masuk ke dalam, sayang kalau sudah sampai disini dan tidak melihat Grand Palace And Royal Temple dari dalam.

Di dalam Grand Palace ada banyak bangunan yang indah. Indahnya seperti apa? Sulit digambarkan dengan kata-kata, yang jelas keindahannya kami abadikan melalui foto.

Ada satu kuil yang boleh dimasuki, tapi semua pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto di dalamnya. Padahal desain di dalam kuilnya subhanallah indah sekali. Beberapa orang yang sedang berdo’a nampak dibatasi dengan pita berwarna putih dan dijaga oleh petugas.

Selesai berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Istirahat, dan sore-nya jalan-jalan ke Asiatique.

Asiatique – Sungai Chao Phraya

Asiatique adalah area belanja yang dilengkapi dengan restoran dan tempat bermain untuk anak. Letaknya yang berbatasan dengan sungai Chao Phraya membuat banyak turis yang datang bisa menikmati berbagai fasilitas disini.

Kami datang sore hari, ikut bersama pengunjung lainnya menaiki perahu di sungai Chao Phraya. Setelah itu makan di restoran India, Aisya naik carrousel dan belanja di Toko Kun Fai.

Dua orang pria warga Thailand yang melayani kami di Toko Kun Fai ini bisa berbahasa Indonesia, cukup fasih. Halm dan Yun belajar bahasa Indonesia dengan merekam apa-apa yang pembeli mereka katakan. Pembeli yang banyak mengunjungi toko mereka adalah Ibu-ibu dari Indonesia.

“Ini berapa?”, saya menunjuk tas bergambar gajah yang saya taksir untuk Ibu dan Mama mertua saya.

“Ha, ni 120 baht”, jawab Yun.

“Kalau ini?”, saya menunjuk tas jinjing yang lebih kecil untuk kakak ipar saya.

“Ini 70 baht”, jawab Yun lagi.

“Ini apa?”, saya masuk ke dalam dan menyentuh kain yang mereka pajang.

“Ini pashemina, harganya 85 baht. Buat mba 80 baht aja”, ucap Halm.

“Ha, yang ini pashemina bahan silk. Lebih bagus lagi, harga sama”, Halm memberi saya sampel pashima yang akhirnya saya beli untuk Ibu saya.

“Kalau yang ini dompet, beli lima gratis satu”, Halm mengasongkan contoh dompetnya pada saya.

“Beli banyak dapat diskon lagi”, tambahnya.

“Hahaha”, saya tertawa mendengar cara beliau menawarkan. Udah hafal banget ya cara menawarkan barang ke Ibu-ibu.

Paling lucu waktu saya meminta pendapat Halm, “Bagus mana tas untuk ibu saya?”, saya mengambil dua tas.

“Ha, banyak Ibu-ibu kesini beli warna bilu dan hijau”, jawabanya.

Lucu karena mirip orang yang sedang flu, agak sengau suaranya. Dalam bahasa Thailand, mereka tidak memiliki huruf ‘r’, oleh karena itu Jakarta jadi Jakata, biru jadi bilu dan suami saya Irfan, dipanggil Ilfan.

Dari sekian banyak penjual yang kami temui, di pasar, di seven eleven, supir taxi, pedagang di pinggir jalan, rata-rata mereka kurang memahami bahasa inggris dan menimpali pertanyaan kami menggunakan bahasa Thailand. Somehow we understand. Makanya pas ketemu pedagang yang lancar berbahasa Inggris plus bahasa Indonesia, senang banget. Kalau di hotel, resepsionisnya juga bisa bahasa Inggris, tapi tidak semua.

Toko ini juga menerima pembayaran dengan uang rupiah loh, bahkan jadi lebih murah harganya. Mau menukarkan rupiah kita dengan baht juga bisa. Sudah murah-murah, dapet diskon karena beli banyak, dikasih hadiah juga karena belanja lebih dari 1000 baht, pedagangnya ramah daaan sabar menjawab semua pertanyaan saya, membantu memilihkan tas yang bagus untuk oleh-oleh, Mamangnya bisa bahasa Inggris juga bahasa Indonesia lagi. Favorit deh!

Oia toko Kun Fai di Asiatique ini lebih banyak menjual aneka tas khas Thailand ya, termasuk dompet, pajangan, gantungan kunci, dan beberapa oleh-oleh lainnya. Sayangnya mereka tidak menjual baju dan makanan. Jadi untuk membeli baju, kami belanja di pasar pratunam, makanan di Big C dan supermarket di Central Marina Pattaya.

Bangkok

Sawadee kha, Khob khun kha

Okey, part1 sampai sini dulu ya. Insya Allah saya sambung lagi dengan cerita hari ke-3 saat kami main ke Pattaya 😊 Thanks for reading good people.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips Selamat, Aman & Nyaman Terbang Bersama Anak #MyVlog

 

IMG_20170321_152822

Assalamu’alaykum. Good night everyone 🙂 tilawahnya sudah berapa juz nih Moms? Semangat selalu ya untuk bisa tetap shaum, tilawah, itikaf dan melakukan ibadah lainnya semampu kita di bulan Ramadan yang tinggal hitungan hari ini, mengingat tugas utama kita sebagai seorang istri dan ibu pastinya kita harus disiplin dan cermat membagi waktu. Oia buat Mommies yang mau membawa anak itikaf, ada tips dari sahabat saya untuk memilih Masjid yang akan dijadikan tempat itikaf ya, silakan mampir ke Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’

Minggu ini juga pasti ada Mommies yang mulai memanggang kue lebaran, bikin kukis apa saja nih? kalau saya baru belajar bikin kastangel dan sugar cookies. Insya Allah minggu ini mau mencoba bikin putri salju, almond crispy cookies, choco crunch cookies, apple cake daaan banyak lagi kepengen mah. Doakan agar terealisasi semua ya. Amiiin.

Selain itu mungkin ada Mommies yang sudah siap-siap packing untuk mudik. Nah spesial buat Mommies yang mau mudik menggunakan pesawat bersama anak, saya dan adik saya minggu lalu bikin vlog tentang Tips Terbang Kembali Selamanya. Wah apa itu? hehe ini adalah singkatan dari Tips Selamat, Aman dan Nyaman Terbang Bersama Anak. Simak video di https://www.youtube.com/watch?v=kWw3TKdjwvw

 

Meski kami belum pernah mudik naik pesawat, seringnya sih naik mobil, namun dari pengalaman traveling sama anak, ada beberapa hal yang bisa saya bagi buat Mommies yang akan terbang bersama anak ya.

Tips-nya antara lain :

  1. Pilih maskapai yang track record-nya bagus dan pesan tiket jauh-jauh hari supaya kita bisa mendapatkan tiket promo or at least ga kehabisan kursi.
  2. Sebelum berangkat, buatlah ceklist barang bawaan dan bawa barang seperlunya. Kalau saya biasanya bawa 1 koper + 1 ransel. Di koper mostly isinya baju dan ransel berisi dokumen yang penting, seperti dompet, kartu identitas, baju ganti, mainan dan bekal anak. Siapakan juga surat rekomendasi dari Dokter jika ibu Mommies yang berpergian sedang hamil ya.
  3. Usahakan untuk check in online dan memilih nomor kursi kita. Datanglah 1 jam sebelum keberangkatan domestik dan 2 jam untuk keberangkatan internasional.
  4. Saat di pesawat, perhatikan/baca safety instruction. Jangan lupa pakai seatbelt dan pakaikan juga pada anak ya.
  5. Bawalah mainan anak, buku cerita, buku gambar dan alat mewarna untuk mengisi kegiatan anak selama penerbangan. Jangan lupa senyum dan sapa penumpang di kiri kanan kita ya.
  6. Never make a job about BOMB!
    Hal ini diatur dalam UU No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan yang berbunyi, “Menyampaikan informasi palsu, bergurau atau mengaku-ngaku membawa BOM di bandaran dan di pesawat udara, dapat dikenakan pidana penjara”. 
  7. Last, berdoa dulu ya sebelum terbang, agar kita diberikan keselamatan, lebih merasa aman juga aman selama perjalanan.

Vlog ini juga saya ikutsertakan dalam #vlogcompetitionDJPU #selamanyaDJPU yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Therefore, ditunggu yaa kunjungan teman-teman ke vlog perdana saya ini, hihi. One more time, ini dia link-nya https://www.youtube.com/watch?v=kWw3TKdjwvw

Happy watching, I hope I give enough information to you and you guys enjoy the video.
I’ll be glad to receive your comments too on that vlog 🙂 

Selamat mudiiik, have a safe flight yaa. 

Sebelum kau melangkah
Keluar dari rumah
Ingat-ingatlah wajah
Yang menunggu tanpa lelah

Kehadiranmu manis
Untukmu terbang kembali
Pulang ke rumah kita
Tuk bersama selamanya

– Jingle Selamanya DJPU