QS. Al-Hujurat : 11

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim [QS. Al-Hujurat : 11].

Advertisements

I Love You

Ada yang mengatakan,

“Cintailah dirimu sendiri, sebelum kamu mencintai orang lain”,
“Bagaimana mungkin kamu memberikan cintamu pada orang lain,
saat dirimu belum merasa full of love?”

To love is to share.
Fulfill yourself with love and happiness first.
Love yourself.
After you are fully ‘charge’, then you can take a step.
To love somebody.

Aisya-Petualang Cilikku

Hari ini Aisya mengalami experience baru. Setelah berkeliling ke kandang sapi-kandang domba dan melihat bebek-bebek berenang di empang, Aisya yang awalnya saya ajak ke rumah Aki tiba-tiba bertemu teh Dila dan Aa Upi. Bahasa tubuh Aisya pun mengatakan bahwa ia lebih ingin mengikuti sepupunya tersebut.

Guess where we go? Ke Lio alias Lebak alias Pabrik Bata yang lokasinya ada di bawah (lembah). Well, as for me.. jalan kesana akan cukup melelahkan saat kembali karena menanjak. But Aisya want to go there.

Aisya yg kuat, ia menolak untuk digendong meski jalannya cukup terjal bagi anak seusianya. Sesekali saat saya takut Aisya terpeleset, saya menawarinya untuk digendong. Hanya sebentar, Aisya minta turun lagi. Ia ingin berjalan kaki di jalan yg penuh batu. Aisya.. sang penyuka tantangan.

Kami sampai di rumah teh Bunga dan Aal (anak-anak dari kaka ayahnya Aisya). Bermain dg teh Dila, Aa Upi, teh Bunga, Aal dan juga teman-teman lain yang menunggu waktu mengaji dimulai. Pengajian ba’da ashar di masjid dekat rumah sepupu Aisya.

Saat adzan ashar berkumandang, para teteh dan aa bergegas menuju masjid. Aisya bermain berdua sana dengan Aal yg masih berusia 2,5 tahun. Aisya main dg anak-anak ayam bersama Aal. Memberi makan anak-anak ayam di kandang kecil dan mengangkat anak-anak ayam itu dengan tangannya.

Main mobil-mobilan, naik kuda-kudaan dan menendang bola kesana kemari. Baju yg Aisya kenakan makin kotor. Saya mengajaknya berganti pakaian. Artinya, kami harus kembali ke kulon. Ke rumah kaka pertama ayah Aisya di dekat jalan besar. It’s quite far though not so far 🙂

Bahkan kala kami mendaki pulang pun, Aisya tidak mau digendong. Ia berjalan dengan antusias. Sambil mengejar-ngejar ayam yg ada di hadapannya.

Aisya Sang Petualang Cilik 🙂

image

I’m so happy to feel this experience with you. I love u, Aisya.

Arjasari.
Wednesday, August 19th 2015

Belajar Qanaah dari Aisya

Assalamu’alaykum 🙂
How are you doing people?
Semenjak punya baby, saya jadi away banget dengan yang namanya social media. New mommy, new experience, new business 😀

And here i am, have a little time to reflect..

Saya, suami saya, include my father too, sering melihat bayi kami yang masih berusia almost-4month sembari berkata, “qanaah sekali anak ini”.

Bapak saya menambahkan, “qanaah sekali aisya. Ia sangat menerima hidupnya”, dan kami semua tersenyum bahagia, lega.

Mungkin karena masih bayi sehingga ia tak banyak menuntut. Menerima keadaan, bersedia tidur baik di tempat tidur, stroller maupun di mobil dalam perjalanan 🙂

Hal ini terlihat simple. Namun kemudian, saya menyadari bahwa sikap qanaah ini sangat penting untuk kita miliki sepanjang menjalani hidup.

Betapa tidak, dikatakan oleh Imam As-Syafii Rahimahullah, “Jika engkau memiliki hati yg selalu qanaah, maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia”.

Wow! Siapa yang tidak ingin menjadi raja dunia? Tentu kita semua ingin mendapati segala kemudahan di dunia ini. Dan ternyata caranya mudah sekali. Untuk menjadi raja dunia, kita hanya perlu qanaah.

Belajar dari Aisya.
Belajar merasa cukup, puas dengan apa yang ada dan tidak banyak menuntut.

Belajar qanaah dari Aisya, dalam situasi bagaimana pun, sangat menerima. Aisya selalu bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar. Tidak rewel apalagi merepotkan.

Belajar qanaah dari Aisya..
Subhanallah, benar saja, banyak yang bisa kita pelajari dari anak kita.

Jazaakillah khairan katsira Aisya 🙂
Semoga ayah, bunda, Aisya, juga keluarga besar kita bisa belajar untuk lebih qanaah lagi. Aamiin.

Rasulullah SAW bersabda:   “Jadilah kamu seorang yang wara’, nanti kamu akan menjadi sebaik-baik hamba Allah, jadilah kamu seorang qana’ah, nanti kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur kepada Allah, sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)

image

Usaha

Berusalah. Pasti kamu bisa.
Coba tuk lebih kenali diri dan potensimu.

Berusaha untuk melepaskan hal-hal negatif dan mengkonstruksi diri.

Berusalah untuk lebih banyak memberi.
Mengalahkan ego diri.

Give it a shot, babe.
One small step wont hurt you 🙂

Anak-anak & Aku

“Mum I’m all grown up now
It’s a brand new day
I’d like to put a smile on your face every day”

“Mum I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face every day”

Maher Zain-Number One For Me

Kemarin iseng ngerekam lagu ini sama temen, namanya morin hehe. Doi bawa gitar, lumayan jago untuk yg gress banget bisa main gitar mah 🙂

That was fun, let’s recording again mo..

But despite all, agak tercenung saat menyanyikan lagu ini berulang-ulang. Its so true. I’m all (really) grown up now! Bagaimana tidak, i’m becoming a mother, insya Allah in a couple of months.

Tidak bisa saya pungkiri, being prenant is one of the most amazing thing in my life. Later, kata temen, kita bakal jadi tambah sayang banget sama Ibu kita, once we give a birth. Aamiin.

Well..
Mau berbagi cerita yaa tentang aktivitas selama hamil 🙂

I would start with..
I have never like children..
Yaa.. saya sesungguhnya tidak begitu tertarik atau menyukai anak-anak. Saya sangat menikmati pergaulan saya yg metropolis dengan teman-teman dan kurang sensitif terhadap dunia anak-anak.

This was going on up until I met my husband. Bertolak belakang dengan suami saya yg memiliki background pendidikan dan sangat menyukai anak-anak.

Beliau sangat antusias dan mampu dengan mudah akrab dengan anak-anak. Tidak membedakan anak yang satu dengan yang lainnya. Interaksi beliau pertama kali dengan anak-anak yang saya lihat adalah ketika saya berkunjung untuk pertama kali ke rumahnya untuk diperkenalkan ke keluarganya.

Berkumpulah keponakan-keponakan beliau yang masih kecil. And I see how lovely he is dalam bermain dengan keponakannya. Dengan luwes beliau mengasuh mereka.

Disitu pula saya tersentuh dan merasa, jika pada anak orang lain saja dia sangat sayang, apalagi pada anak sendiri nanti. I’m sure, he’ll become a great father 🙂

Sejak saat itu saya mulai mengasah sensibilitas saya terhadap anak-anak. Dengan masukan-masukan dari suami ditambah kehamilan saya, saya pun mulai senang melihat, mendengar dan mulai berinteraksi dengan anak-anak.

Kemudian, saya memutuskan untuk bergabung menjadi salah satu fasilitator di SBBH (Sekolah Bermain Balon Hijau). Dimana banyak sekali anak-anak yang lucu belajar disana dari usia 1,5-4 tahun.

image

What can I say.. i fall for the kids. Ternyata memang benar mengajari anak kecil itu lebih sulit ketimbang mengajari anak SMA. Pendekatannya juga harus lembut, kita terlebih dahulu harus masuk ke dunia mereka dan berbicara sesuai dengan bahasa anak-anak. Simpelnya, kita yang lebih dewasa yang mengikuti cara berpikir anak-anak ini.

Alhamdulillah meski awalnya nervous luar biasa, sekarang sudah lebih rileks ketika mengajari anak-anak. Bahkan saya menemukan bakat terpendam saya, yaitu menggambar dan mendongeng. Ternyata saya mampu membuat anak-anak tertarik dengan cerita yang saya buat.

Dengan beraktivitas di SBBH pula, saya makin memahami psikologi anak yang berbeda-beda, bergantung pada pola asuh orang tua mereka juga.

Semakin menyelami dunia anak, saya semakin tahu betapa berharganya usia golden age. Dan saya pun makin mencari ilmu mengenai bagaimana mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Yap, hopefully I could be a great mom.
Aamiin 😉

Haru

Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Seluruh Nafas: Last Child feat Giselle

Baru saja dikirim sebuah lagu dengan potongan lirik di atas. Rasanya pilu sekali.
Haru.

Bertahanlah, baik aku dan kamu,
pernah dikatakan padaku, agar tidak mempercayai roman, novel, lagu,
karena akan terhanyut di dalamnya.

Dalam asa yang belum tentu nyata.

Untuk saat ini penuhilah diri dengan iman,
hingga saat itu tiba, untuk saling percaya,