7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak Yang Bisa Orang Tua Perbaiki

Quote Ali Bin Abi Thalib

Saya merasa cukup beruntung mempunyai hobi baru, yaitu membaca. Terutama buku-buku seputar psikologi suami-istri dan parenting.

Semakin banyak membaca, semakin tahu kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. Makin ingin belajar memperbaiki. Makin ingin memetakan what’s important and which one is the most important. Learning and doing. Not only knowing and didn’t do anything in order to change. And never give up!

Bisa jadi, pada waktu tertentu kita melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Seperti ‘meledak’ ketika lelah fisik serta hati melanda, dan anak kebetulan lagi caper. But its not all the time, right? Tidak perlu buru-buru melabeli diri “I’m not a pretty good Mom”.

Learn, read book, practice, tried again and again.

Dengan tidak mudah menyerah, kita sudah membantu diri dan anak kita untuk berkembang. Saling memaafkan. Grow up together.

Setidaknya itu yang saya renungkan akhir-akhir ini. Anak makin besar, tantangan makin besar pula. Dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya dulu banyak yang tidak relevan lagi.

Don’t get me wrong, saya sangat menghormati orang tua saya. Dan pola asuh yang mereka terapkan cukup berhasil making me who I am today with all the values.

TAPI, anak-anak sekarang nampaknya lebih kritis dan berani daripada anak jaman baheula.  

Seperti kata-kata Ali bin Abi Thalib di atas, anak kita adalah milik zamannya. Ada baiknya, as a parent, kita juga menyesuaikan dengan zaman ini.

Kids jaman now
Parent jaman now

Memang apa saja sih kesalahan umum yang biasa kita lakukan sebagai orang tua? Dalam The Secret Of Enlightening Parenting, Mba Okina Fitriani merangkum 11 kesalahan yang biasa dilakukan dalam pengasuhan anak.

Baca juga : Tips Agar Anak Rajin Gosok Gigi

But, I will only mention 7 things. Please take a look 🙂

7 Kesalahan Dalam Pengasuhan Anak 

Tidak Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

Kesalahan nomor wahid adalah tidak membiasakan mengambil tanggung jawab.

Salah satu contohnya adalah ketika anak jatuh, ada orang tua yang memukul lantai/tanah sambil mengatakan, “Nakal ya lantainya! bikin kamu jatuh. Dah, dah dipukul tuh lantainya.”

Setelah itu, orang tua akan mengusap lutut anak dan meredakan tangisnya.

Menurut mba Okina, kata-kata yang terdengar menghibur ini malah mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya, mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain/kondisi.

And this is not good.

What we can do to fix this?

Daripada menghibur dengan cara di atas, sebagai orang tua, kita bisa mengajak anak berdiri, lalu mengajaknya main dokter-dokteran. Gantian anak jadi dokter lalu kita. Ini cara yang asik untuk meredakan tangisnya dan mengobati lukanya.

Setelah suasana kembali tenang, kita bisa mengevaluasi bersama kejadian jatuh tadi. Saya mau kasih contoh dari apa yang saya lakukan sama Aisya ya. Saya terapkan saran dari Mba Okina ini saat Aisya jatuh.

“Mamiiii sakiiiit. Lutut Aisya berdarah.”
“Barusan jatuh ya? Sok nangis dulu, boleh kok. Kalau pas Aisya jatuh dan merasa sakit, itu bagus! artinya syaraf dalam tubuh Aisya bekerja dengan baik.”
“Iya Mam.”
“Udah puas nangisnya? kita basuh pakai air dan dikasih plester ya lukanya. Supaya sembuh.”
“Iya Mam,”
“Tadi kok bisa jatuh?”
“Iya tadi Aisya lari, trus ada batu. Aisya kepeleset.”
“Ooh, gitu. Lain kali pas lari dan di depannya ada batu, supaya ngga jatuh lagi gimana caranya menurut Aisya?”
“Aisya-nya loncat!”
“Ok, loncat yaa. Ada lagi ngga yang bisa Aisya lakukan?”
“Aku larinya hati-hati.”
“Ok, next time hati-hati ya saat lari.”

Se-simpel apa pun jawabannya, hargai ya Moms. Dengan begini, anak kita akan terbiasa mengambil tanggung jawab atas peristiwa yang ia alami. Dan bukan menyalahkan batu, jalan atau orang lain 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Menanamkan Keyakinan Yang Salah

Beberapa orangtua terlihat sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak didasari riset maupun dalil yang benar. Contohnya, minum es bikin sakit perut, lari-lari bisa jatuh, hujan menyebabkan masuk angin, dan sebagainya. Ini memungkinkan anak mengalami “alergi buatan” terhadap ketiga hal di atas – begitu kata Mba Okina.

Pernah bicara seperti itu pada anak ngga Moms? saya pernah bilang “Jangan lari nanti jatuh.”

Setelah baca ini, saya mengubah kalimat saya jadi, “Hati-hati ya larinya. Jalan aja dengan langkah besar seperti  Mami. Bakal cepat sampai juga kok.” and this sound more positive to us.

Hindari juga installing wrong believe seperti ini, “Belajar dong! pelajaran ini susah lho. Nanti teman-teman kamu udah bisa, kamu belom.”

Saya sendiri prefer memotivasi Aisya dengan bilang, “Ayo dicoba, semua hal bisa kita pelajari. Aku mau berusaha! gitu kan kata bu guru.” misalnya saat Aisya mengerjakan sesuatu yang menurutnya susah.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring 🙂

Labeling

Label akan menjadi sebuah keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadar. Dear parent, let us choose the proper label 🙂

Suatu hari Aisya terus menerus bicara, ia bertanya mengenai berbagai hal dan keep asking “Kenapa Mami?” kenapa begini dan begitu. Jika jawaban yang saya beri belum detail dan bisa dicerna logikannya (Aisya logis banget anaknya), maka ia akan terus menggali jawabannya.

Saya pun nyeletuk, “Aisya, kamu cerewet ih.”

Lalu Bapak saya – the wise man – menghampiri saya, “Mbak, cerewet itu konotasinya negatif lho. Lebih baik bilang Aisya, kamu talk-active sekali ya, ini konotasinya positif.” Begitu ucap Grandpa-nya Aisya.

Dan segera saya meralat ucapan saya pada Aisya.

Tahan lidah kita untuk melabeli anak : ‘kamu bandel ya’, ‘tuh kan ngeyel’, ‘dikasi tahu malah ngga mendengarkan’. ‘kok ngga nurut sih?’ daaaan segambreng kata-kata berkonotasi negatif lainnya ya Moms. And replace it with a better words.

Saya masih belajar untuk mengerem mulut nih, biasanya kata-kata seperti ini muncul di saat ‘genting’. Pas mood positif, saya bisa lebih sabar dan bersikap proaktif pada Aisya.

Baca juga : 6 THINGS I ADORE FROM AISYA

Pelit Menggunakan Hal Ajaib

Empat hal ajaib ini pasti sudah hafal di luar kepala ya Moms :

  • Minta maaf. Saat kita (sengaja/tidak) menyakiti perasaan anak, mintalah maaf padanya. Saya suka minta maaf pada Aisya setelah saya marah padanya. Saya jelaskan juga, bahwa saya tidak suka marah, dada saya sakit ketika emosi. Lalu kami mencari solusi bersama, what we can do, supaya Mami ga marah-marah. Sesudah ngobrol, tanpa diminta, Aisya akan reflek bilang, “Maafin Aisya juga ya Mami, tadi bikin Mami marah.”
  • Mengucapkan terimakasih. Dengan sering mengucapkan terimakasih pada anakia akan merasa dihargai. Ini pengalaman pribadi ya. Dan dengan kebiasaan baik ini, anak pun akan dengan mudah mengucapkan terimakasih pada siapa pun. I thank Aisya for any little things that she did, dan saat saya hanya membacakan buku ketika ia mau tidur pun, Aisya masih sempat bilang, “Makasi ya Mami udah bacain buku untuk Aisya.” sweetest dah! Aisya juga terbiasa berterimakasih pada Ayah, kakek-nenek, paman-bibi, saudara-saudara, guru, teman-temannya, bahkan ke driver grab juga.
  • Menunjukkan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dengan ucapan, sentuhan, pelukan, ciuman dan lain-lain. Terkadang bahasa cinta melalui sentuhan ini lebih mengena di hati anak dibanding kata-kata lho. Anak yang memiliki tabungan kasih sayang yang cukup akan tumbuh dengan jiwa yang sehat, percaya diri, dan penuh empati.
  • Memuji. Kata mba Okina, latihlah telinga, mata, dan rasa untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan saat anak kita melakukan kebaikan, meski sederhana, pujilah ia. Dengan pujian yang efektif, bukan yang lebay. Kadang orang tua abai memuji hal kecil yang dilakukan sehari-hari karena menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal kecil yang sudah baik inilah, muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik yang lebih besar, jika dihargai.

Nah, jangan pelit melakukan empat hal ini ya Moms. Let’s do it, not just understand about it!

Baca juga : Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

Fokus Pada Kekurangan, Suka Mencela, Doyan Mengeluh

Kekeliruan yang ini, kata Mba Okina, berkaitan erat dengan pelitnya melakukan 4 hal ajaib di atas. Kemudian jadi cenderung fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk keluhan.

Contoh keluhan seorang Ibu :

“Kak, tuh kan PR-mu ketinggalan lagi. Masih muda kok pelupa, sih? Makannya siapkan bukunya sebelum tidur. Minggu lalu juga seperti ini kan? Kalau sudah gini kan Ibu yang repot. Ayo bereskan bukunya, jangan jadi anak pemalas!”

Kira-kira reaksi anaknya bakal gimana yaa?

Pada keluhan di atas terdapat kata ‘pelupa’ dan ‘pemalas’, lagi kata Mba Okina, kedua kata ini akan melukai konsep diri anak. Bahkan bisa jadi membentuk konsep diri yang buruk, “Saya anak pemalas, saya anak pelupa.”

Padahal Allah Swt tidak suka dengan orang yang mengutuk dan memberi gelar buruk.

Kesalahan yang dibuat anak ini sebetulnya bisa diperbaiki. Dengan suntikan semangat dari orang tua tentunya.

Masih untuk kasus lupa bawa PR ke sekolah, katakanlah,

“Kak, Ibu perhatikan kamu akan ingat membawa PR-mu kalau sebelum tidur bukunya sudah disiapkan dan dimasukkan ke tas. Ibu yakin, kamu bisa lebih baik dari hari ini.”

As for me, complaining is like burning myself. Mengeluh hanya membuat sesuatu yang buruk menjadi 1000 kali lebih buruk. Mengotori hati dan melemahkan saya. Sehingga saya lebih memilih untuk meminimalisir keluhan, dengan begini solusinya akan lebih terlihat.

Baca juga : 10 Thoughts On #88LoveLife By Diana Rikasari That I Like

Ancaman Kosong

Mba Okina mengatakan, ancaman kosong adalah kombinasi dari kebohongan, inkonsistensi dan lalai menenggakan aturan. 

Menurut saya memberi ancaman pada anak adalah cara cepat agar anak mau menuruti kita. Cara cepat saat kita kehabisan cara kreatif dalam mem-persuasi anak.

Misal nih ya, “Ayo makan, kalau ngga nasinya Ibu kasih ke kucing lho!”. Dengan begini anak tergerak untuk mengunyah makanannya.

Atau, “Berhenti main gadget! Nanti Papa buang gadget-nya ke got!”, anak yang ketakutan pun langsung memberikan gadget pada Papa-nya.

Saat kita mengancam, seringkali anak merespon dengan cepat. Permintaan/perintah kita didengar. Tapi ketika anak tak bergeming, masih keukeuh juga, akankah kita meng-eksekusi ancaman tersebut?

Pasti hati nurani akan membatin, ‘Masa dibuang gadget-nya? sayang dong, belinya kan pakai uang bukan daun’. ‘Daripada dikasih ke kucing, mending Ibu makan Nak, nasinya. Ibu juga lapar’.

Pada akhirnya, kita hanya memberi ancaman kosong. Semakin sering kita memberi ancaman kosong, semakin hancurlah nilai kita di mata anak. Kata-kata yang kita ucapkan akan dianggap tidak ada harganya. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Terlebih lagi, mba Okina menyebutkan bahwa perilaku mengancam pada dasarnya menunjukkan diri yang lemah dalam perencanaan. Perencaan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga.

Instead of ‘mengancam’, saya belajar mengajak Aisya ngobrol dengan metode using choice to reach goal.

Seperti misalnya kesepakatan makan, saya suka tanya sama Aisya, “Aisya makannya mau 5 suap atau 10 suap?” kalau sudah deal, insya Allah Aisya will fulfiil her promise. Tujuannya tercapai, yaitu Aisya makan.

Untuk penggunaan gadget, Alhamdulillah Aisya bukan tipe anak yang keranjingan gadget. Dia lebih senang bermain, melakukan aktivitas fisik, mengerjakan workbook, bantu saya masak-masak di dapur dan membaca buku.

Tentang main, saya kadang bikin perjanjian dulu, “Main di rumah temannya 1 jam ya, terus kita pulang.” 

Kadang Aisya minta tambahan waktu, “5 more minutes, Mami.” Dan saya tunggu sampai 5 menit, trus dia beneran pulang. 

Metode ini saya rasakan lebih efektif, ketimbang memberi ancaman kosong.

Baca juga : THE TRIUNE BRAIN & SIDIK JARI AISYA

Disuapi Solusi

Dari yang saya baca, saya jadi tahu kalau parental coaching adalah kemampuan yang penting. Kita orang tua, kita juga seorang coach.

Sebagai coachada baiknya kita memberi bimbingan pada anak. Giving clue. Bukan selalu menyuapi solusi.

Beberapa orang tua mungkin akan bergegas membantu anaknya saat kesulitan mengerjakan sesuatu. Atau ngga sabar dengan prosesnya. Dan bahkan terlalu memanjakan.

To be honest, saya seringkali diberi solusi oleh orang tua saya dulu. Sebelum saya mengeksplor pikiran saya lebih dalam, problem already solved by my parent.

Setelah saya punya anak, dan tentunya membaca, saya jadi tahu kalau hal ini kurang baik.

Anak perlu belajar memecahkan masalahnya sendiri. Kegiatan mencari pemecahan ini akan melatih diri mereka menjadi anak yang percaya diri dan kreatif. Karena solusi dari sebuah tantangan bisa jadi lebih dari satu.

Catatannya adalah, ketika anak masih perlu dibimbing ya dibimbing, jangan di biarkan begitu saja. Perhatikan daya memahaminya juga usianya 🙂

Saya suka merasa kagum dengan solusi-solusi yang Aisya beri. Misalnya waktu kami melakukan eksperimen “Cloud In A Jar”. Untuk membentuk awan dalam toples, kami memerlukan beberapa bahan seperti, toples, korek api, air panas dan es batu.

Kami kumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, namun sayangnya tidak ada korek api di rumah!

“Aisya, tanpa korek api, kita ngga bisa bikin cloud in a jar. Aisya ada ide ngga pakai apa untuk pengganti korek apinya?” tanya saya.

Matanya melihat ke rak-rak yang ada di dapur dan memberi saya ide.

“Gimana kalau pakai tusuk sate aja, Mam? Kan di rak ada tusuk sate, terus api-nya dari lilin”, usulnya.

“Wah iya juga ya, oke kita coba ya pakai tusuk sate dan lilin,” saya terpukau dengan ide anak usia 4 tahun ini. Kami mencoba men-substitusi korek api dengan tusuk sate yang disulut menggunakan api dari lilin.

And you know what? we succeed making a cloud in a jar! Alhamdulillah.

Semakin dilatih untuk memecahkan masalah, Aisya semakin kreatif. Ada saja alternatif solusi yang ia ajukan saat kami menghadapi tantangan.

IMG_20180417_201132

Alright Moms, itulah 7 kesalahan dalam pengasuhan anak yang masiiiih BISA BANGET kita perbaiki. Asal kita mau terus berlatih, coba terus, evaluasi lagi. Bertumbuh bersama dengan anak, tidak ada kata terlambat. Saat kita mendewasa, anak juga mendewasa.

At one point, we’ll understand each other better, I believed.

Buat yang mau tahu apa saja kesalahan lainnya, langsung baca The Secret Of Enlightening Parentingnya Mba Okina Fitriani yaa. Asli ini bacaan bergizi untuk para orang tua 🙂

Sebagai penutup, saya mau mengutip kata-kata ‘sakti’ dari Mba Okina ini.

Mendidik anak memang berat, karena itulah hadiahnya surga.
Jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank.

Semangat terus Moms. Cheers!

 

Wejangan Dari Tetangga

IMG_20171031_084459_161.jpg

“Tetangga adalah keluarga yang paling dekat” – Pak RT.

Ketika pindah rumah, saya belajar hidup bertetangga. Kalau sebelumnya saya bertetangga dengan teman-teman sebaya Ibu, sekarang saya memiliki tetangga sendiri.

Seperti kata Pak RT, di lingkungan yang baru dan agak jauh dari keluarga, otomatis tetangga menjadi keluarga terdekat. Kalau ada apa-apa, sambil menelepon suami/orang tua/saudara, kita bisa sambil mengetuk pintu rumah tetangga.

Alhamdulillah tetangga-tetangga saya baik dan suka gotong royong. Sebulan setelah saya tinggali rumah yang bergaya semi scandinavian ini, pengajian diadakan di rumah. Saya undang tetangga kiri kanan agar lebih mengenal mereka.

Baca juga : Taman Mungil Aisya #SemiScandinavianHome

Saya juga bergabung dalam grup WA RT sini, di grup saya bisa menanyakan berbagai hal, share info dan lain-lain.

Terkadang saya dan tetangga saling mengirim hadiah, baik itu berbagi sesisir pisang ambon yang dibagi dua, mengantarkan bala-bala hangat untuk sarapan, memberikan semangkuk soto yang kebetulan porsinya berlebih di rumah, ya ‘sedikit ewang’ bahasanya.

Memiliki tetangga yang baik memang rizki tersendiri, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw berikut ini :

Rasulullah bersabda, “Ada empat diantara kebahagiaan di dunia (yaitu) : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman” – [HR. Ibnu Hibban]

Saya juga sempat mengikuti penutupan Arisan yang diadakan di salah satu kafe dekat rumah. Saya belum ikut Arisannya sih, tapi tetap diajak datang untuk silaturahim.

Acara asik banget. Masing-masing warga diberi name tag, lalu warga baru diperkenankan mengenal diri di depan. Kami juga bermain games.

Games-nya lucu banget deh. Sebelumnya kami dibagi ke dalam 6 grup dimana masing-masing grup harus menunjuk satu orang untuk memeragakan seseorang dan anggota grup menebaknya.

Seseorang ini adalah warga yang dianggap ikon di RT tempat saya tinggal.

Peraga tidak boleh bicara dan harus memberi clue dengan gerakan saja. Ada yang berlagak seperti dokter, pura-pura mengalungkan stetoskop dan memeriksa detak jantungnya sendiri. Ada yang melakukan gerakan senam menirukan instruktur zumba, dan seolah-olah menulis surat menandakan ia sekretaris. Bu Hertin, dari grup saya, kebagian meragakan orang yang sedang masak lalu menggambar bentuk gas dengan tangannya. Sontak saya tebak, “Bu Ine penjual gas!”. Ternyata jawabannya benar.

Yang paling seru adalah game mengulang kalimat.

Kalimatnya sederhana, yaitu “Kepala digaruk, kelapa diparut”. Diulang-ulang terus, coba Ibu-ibu coba sendiri di rumah, kepeselet ga lidahnya? hehe.

Pulangnya kami dibekali mug cantik bertuliskan, “Keep Calm And Join Arisan” beserta hadiah games. Tak lupa bu RT menghampiri saya dan bilang, “Ikut Arisan ya”.

OK, siap Bu 🙂

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

Dari tetangga-tetangga yang jam terbangnya lebih tinggi di dunia parenting ini saya juga mendapatkan 2 wejangan, antara lain :

  1. Tetangga se-RT beda jalan yang duduk semeja dengan saya di acara Closing Arisan Sabtu lalu bertanya,

    “Bu Ai, punya anak umur segini (nunjuk Aisya) suka bikin Bu Ai bertanya-tanya ngga, kapan yaa saya bisa ‘lepas’ dari anak ini? Dan pengen anak cepat-cepat mandiri?”.

    “Iya suka pengen gitu, Bu”, jawab saya.

    “Saran saya sih Bu, nikmati aja masa-masa anak nempel sama kita. Karena pengalaman saya, pas anak perempuan saya sudah SMP susah banget lho Bu diajak nemenin saya kemana-mana. Kalau saya ajak belanja atau ke undangan gitu malah dia pengen di rumah. Apalagi kalau ada temen main, pasti lebih milih temennya. Sekarang tuh saya suka kangen dan pengen melakukan sesuatu berdua dengan anak saya”, lanjut beliau.

    Hoo, ok NOTED, Bu.

  2. Tetangga lainnya – yang satu ini sih tetangga Ibu sebenarnya – yang sudah memiliki dua anak juga pernah memberi saya insight. Beliau bilang, “Pengalaman saya, anak pertama kan sekolah di TK swasta yang bagus (dan lumayan mahal). Full day lagi. Saya udah pede aja anak saya bakal pinter keluar dari sana”.

    “Eh, ternyata ngga gitu”, lanjutnya.

    “Akhirnya sebelum masuk SD saya ajari dia di rumah dan selama 6 bulan intens akhirnya bisa mengejar target keahlian yang dibutuhkan untuk masuk ke SD. Jadi jangan mempercayakan pendidikan anak 100% ke sekolah, apalagi gurunya kan hanya satu atau dua di kelas. Anak banyak. Perhatiannya terbagi”,

    Kita sebagai orang tualah yang lebih mengenal anak kita. Di rumah kita harus tetap mendidik anak. Semuanya kembali ke kita”, pungkasnya.

    Saya manggut-manggut mendengarnya.

Hm, memang sih saat konseling di Kober pun, dikatakan kalau sekolah dan les itu adalah alat. Pendidikan, habbit, penanam nilai yang utama berawal dari rumah. Dari kita, Bu 😊

Alhamdulillah, ngobrol-ngobrol sambil hang out dan nemenin anak main bisa memberikan masukan yang berharga gini. Terimakasih buat wejangannya, tetanggaku.

Jazaakumullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria 🙂

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru 🙂

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu 🙂

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh 🙂 long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? 🙂

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima 😀

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 😃 Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

5 Best Line KulWap Sama Bunda Kaska Tentang #suamiistri

Bismillahirrahmaanirrahiim.

#1 Ingatlah bahwa ujian pernikahan itu bukan bersabar saat semuanya menyenangkan. Tapi bersabar saat keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Yang semua itu akan mudah dijalani jika IMAN kita baik.

#2 Bertahun-tahun hidup dengan orang yang sama, bukan berarti lantas menjadi sama. Perbedaan akan ada, dan akan terus ada.

Pertanyaanya, 

“Apa yang mau dicari? Perbedaan atau persamaan kah?”,

“Apa yang mau dituju? Hawa Nafsu atau ridha Allah kah?,

“Apa yang mau di dapat? Kepuasan ego atau surga Allah kah?”

#3 Sebagai istri, berpikirlah positif, lakukan hal yang penting dan menyenangkan. Sibukkan diri dengan aneka kegiatan yang bermanfaat.

Dan sebaik-baik kegiatan adalah yang membuat kita semakin dekat dengan Allah. 

Ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.

#4 Apa yang kita kerjakan demi suami dan anak-anak, Allah-lah sebaik-baik pemberi balasan.

#5 Dimana pun kita berada, di posisi apa pun, jika kita selalu berusaha memberikan uzur maka hasilnya akan selalu baik bagi hati kita.

* * *

Keempat poin di atas adalah 5 line -yang saya rasa cukup menohok hati saya untuk senantiasa meluruskan niat dalam menjalani pernikahan- dari KulWap (Kuliah WhatsApp) Pojok Ilmu Ceria dengan Nara Sumber Bunda Kaska pada hari Rabu, 25 Januari 2017.

REFLEKSI SAYA

Rasanya hampir mustahil ber-rumah tangga tanpa ilmu (baik ilmu agama, psikologi, komunikasi dan skill kerumah-tanggaan lainnya).

Aplikasi di smartphone aja perlu di-update secara berkala, masa ruhiyah kita engga? 🙂 

Pada akhirnya, ungkapan sayang, toleransi, pemakluman, pujian, kesabaran, mengalah untuk yang terbaik, dukungan, kekaguman, kecemburuan, motivasi, merajuk, rayuan, sikap ikhlas adalah satu paket yang akan terus berulang dalam pernikahan. Kunci untuk bertahan ada pada re-charge IMAN. 
Ketika Allah menjadi tujuan, tantangan yang ada akan terasa lebih ringan, at least kita tahu bahwa pengorbanan yang kita lakukan (suami & istri) ‘bernilai’ di hadapan Allah. Bagi saya pribadi, tema-tema seperti ini sangat penting, selain ilmu parenting. Mari terus bekali diri dengan ilmu, baik sebelum memulai, maupun saat sedang menjalani pernikahan. Semoga Allah mengkaruniai kita semua rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Amiin.

Seek no ones approval, but Allah SWT.

* * *

Jazakumullah kepada Nuy (founder group Ceria), penanggung jawab PIC Ceria dan Bunda Kaska atas kuliah wassap-nya. Semoga sedikit rangkuman ini bermanfaat buat teman-teman lain yang membaca. Amiin.

Note : Silakan di share jika dirasa bermanfaat 🙂

Mami Aisya Belajar Positive Parenting dari Mami-nya Rudy Habibie

“Maaamiii”, panggil Aisya.

“Maaamiii’, panggilnya lagi.

“Iya sayang”, saya senyum.

Mendengar Aisya memanggil saya ‘Mami’, jadi ingat film Rudy Habibie yang kami tonton pada hari Sabtu lalu. Rudy, -sapaan akrab Pak BJ Habibie kala kecil- juga memanggil ibunya ‘Mami’. Wah sama ya dengan Aisya hehe..

Aisya berlari kecil di pinggir jalan, menggengam 4 bungkus permen di tangannya, dua untuknya dan dua lagi untuk tantenya. Aisya sudah mandi dan rapi sekali pagi-pagi, ayahnya memandikan Aisya saat saya memasak. Beres memasak, saya juga ikut bersih-bersih, ngga mau kalah dengan Aisya.

“Mana Aisya, Yah?”, tanya saya pada suami, ketika keluar toilet.

“Pergi sama Tante dan Om”, jawab suami santai.

Whaaatttt? Bohong ya? Masa ikut olahraga? Kemana? Ke Sabuga? Kalau kenapa-napa di jalan gimana? ko ngga bilang siiih? Kan bisa ketok pintu kamar mandi, kasih tau kalau mau ikut”, dengan panik saya bombardir suami dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Ke Monumen di Unpad. Ih, Bunda khawatir banget. Ngga akan apa-apa ko”, komentar suami.

“Tadi Aisya-nya yang pengen ikut, orang ke ayah juga bilang gini,

 ‘Ayah jangan kesini (motor), dede mau berangkat sama Tante dan Om’”, tambahnya.

“Yak an, seenggak-nya bisa ketok-ketok pintu toilet dan minta izin sama Bunda sebelum berangkat”, timpal saya.

“Takut ngga Bunda izinin kalau dikasih tahu dulu”, suami ketawa jahil.

‘Hhhh.. Ya Insya Allah Aisya bakal baik-baik saja’, batin saya.

 Saya menunggu dan mengestimasi waktu yang tepat untuk menelepon adik-adik saya, estimasi waktu dimana mereka sudah beres olahraga dan makan bubur di dekat Telkom Japati, tempat kami biasa makan kalau sudah jalan santai disana.

“Mas, lagi makan bubur?”, telfon saya.

“Iya mba”, jawabnya sambil mengunyah.

“Aisya ngga kenapa-napa?”, tanya saya.

“Engga mba”, jawab adik.

“Aisya makan bubur juga ngga?”, tanya saya lagi.

“Iya mba”, jawabnya lagi.

Saya tutup teleponnya, lega karena Aisya juga diajak sarapan bubur sama Mas Doko dan Tante Arum. Sekalian juga titip Mas belikan kulit pangsit di supermarket untuk bikin pisang-cokelat goreng ala Eceu Uun di Arjasari. Kalau Piscok atau pisang aroma biasanya pakai kulit lumpia, di Stand Ceu Uun yang ada di SD Al-Huda Arjasari, piscok-nya dibalut kulit pangsit, jadinya lebih kriuk dan bergelembung. Suka aja. Pengen bereksperimen. Kebetulan di rumah Akung ada pisang ambon dan Nutella.

Di warung ada sih pisang nangka, di rumah juga ada pisang tanduk, both udah kematengan banget. Meski Bapak dan suami saya suka overcooked banana, sayaprefer pisang ambon aja, yang masih segar dan manis-nya pas. Iya di lidah saya hehe.. But hey, I bet they’ll like it!

“Bun, bingung nih ayah di rumah, ngga ada Aisya sepi”, keluh suami tiba-tiba.

Hm, benar juga ya, biasanya kalau ada Aisya rumah jadi rame banget dan ada aja yang Bunda lakukan sama Aisya. Hihi sekarang Aisya sudah besar, udah ngga nempel-nempel terus sama Bunda. Dari yang selalu Bunda gendong sampe Bunda tuturin kalau Aisya jalan-jalan, main sama teman, berkunjung ke rumah orang lain, karena khawatir Aisya jatuh, kejeduk, memastikan Aisya makan, posesif deh Bunda, dan sekarang Aisya udah bisa jalan-jalan bebas sama Tante dan Om.

Sambil menunggu Aisya pulang, saya memutuskan untuk menuangkan apa terngiang-ngiang di kepala saya pasca menonton film Rudy Habibie. Sabtu setelah menempuh perjalanan Bandung-Purworejo PP dengan kemacetan luar biasa, saya, suami, om dan tante pergi ke bioskop. Tante Arum sebenarnya ingin menonton Sabtu Bersama Bapak, saya antara Finding Dory atau Rudy Habibie. Antrian yang panjang membuat saya duduk saja sambil menemani Aisya yang tidur lelap sedari kena angin sepoi di motor.

Ternyata pilihan akhir jatuh pada 4 tiket Rudy Habibie.

Saat menonton, banyak sekali adegan yang membuat saya menangis.

Banyak hal yang baru saya ketahui, seperti saya baru tahu kalau Pak BJ Habibie lahir kemudian dibesarkan saat penjajahan Jepang masih berlangsung. Saat itu pesawat tempur sering mengudara dan meledakkan beberapa tempat. That’s why Rudy Habibie kecil menolak saat Papi-nya memotivasi Rudy Habibie untuk membuat pesawat.

“Rudy jangan bikin pesawat tempur, Rudy bikin pesawat yang bisa mempertemukan orang dari jarak yang jauh”, begitu kira-kira kalimat yang saya ingat.

Dan Pak Habibie sudah memiliki miniature pesawat sejak kecil. Beliau menunjukkan ketertarikan pada pesawat sejak kecil and please imagine this, orang tuanya sudah menanamkan kepercayaan pada Pak Habibie kecil di jaman tersebut kalau Pak Habibie akan mampu membuat pesawat. What a great parent!

Papi pak Habibie meninggal saat beliau masih duduk di kelas 2 SD, meninggalkan sang istri beserta ke-8 anaknya. Pak Habibie sendiri merupakan anak ke-4 dari 8 bersaudara.

Fakta selanjutnya yang mengejutkan saya adalah, ternyata paspor Pak Habibie berwarna hijau saat berkuliah di Jerman. It’s mean, beliau bersekolah dengan biaya sendiri, bukan ikatan dinas/dibiayai Negara. Kebayang ya how expensive the tuition fee that time, even up until now kalau kita bayar sendiri..

Hal ini membuat saya kepo berbuah kagum dengan sosok Mami Pak Habibie. Nama lengkap beliau adalah Raden Ajeng Tuti Marini Puspowardojo. Wanita asal Yogyakarta yang menikah dengan Alwi Abdul Jalil Habibie ini terus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti kemana suami membawanya. Singkat cerita (sebenarnya panjang), setelah Pak Alwi wafat.. pada akhirnya Mami Pak Habibie pindah ke Bandung beserta ke-8 anaknya, setelah sebelumnya Pak Habibie sendiri telah merantau terlebih dahulu untuk bersekolah di SMP 5 Bandung. Mami Pak Habibie mengembangkan beberapa usaha di Bandung, dari mulai bisnis kos-kosan hingga ekspor-impor. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Mami Pak Habibie ini tidak jarang menyetir cukup jauh, seperti Bandung-Jakarta sendirian untuk me-running bisnisnya dan menyekolahkan anak-anaknya. Termasuk menyekolahkan Pak Habibie hingga ke luar negeri.What kind of business that could pay a tuition fee? It must be big!

Mami Pak Habibie adalah wanita yang tegar, tidak mudah menyerah dan punya visi yang kuat sehingga beliau semangat sekali membangun bisnis yang sukses mengantarkan ke-8 anaknya menuju masa depan yang terbaik. What an inspiration, a mother with a vision!

Kalau dilihat dari filmnya, Mami Pak Habibie juga tipe orang tua yang menghargai proses. Di situasi Indonesia yang baru merdeka, sempat mengalami krisis moneter, beliau tidak menuntut anak-anaknya segera lulus-bekerja dan membantunya. Atau bagian ini tidak diceritakan seluruhnya karena fokus filmnya adalah tentang Pak Habibie. At least dari sepenggal kisah Pak Habibie, kita bisa melihat kalau Mami Pak Habibie sangat sabar mendukung studi Pak Habibie.

I don’t know if she ever imagine that her son will become one of influential person in the world.

That’s a kind of amazing parenting story.

Papi Mami Pak Habibie put their believe in Habibie that he could create a plane since Pak Habibie was a little kid.

Ini yang patut saya contoh sebagai seorang Ibu, yaitu menanamkan kepercayaan pada anak, bahwa she can do her dreams. Mengatakan betapa istimewanya dia dan kesediaan saya mensupportnya. Kepercayaan yang kita tanamkan pada anak di golden age tersebut akan menumbuhkan kepercayaan dirinya dan iya akan merasa bahwa dirinya berharga, baik, bisa dan istimewa. Hal ini memotivasi anak untuk percaya diri dalam menangani berbagai tantangan yang menerpanya kelak.

Raising Aisya like raising hope. 
Maybe I should’ve name her ‘Hope’.

Beberapa kali, in desperate time, diperlihatkan sisiinsecure Pak Habibie yang sangat manusiawi, sebagai penyeimbang bahwa orang sesukses beliau bukan tanpa masa-masa sulit. Beliau menangis saat merasa gagal, saat homesick. Menelepon Mami-nya untuk secara implisit mencari tahu apakah uang bulanan sudah terkirim? That time Pak Habibie belum makan dan sedang lapar sekali.

Hampir setiap menghadapi masalah, Pak Habibie menangis dan berdoa dalam shalatnya..

Yes, that’s the right thing to do when we are at a low point..
we are so.. fragile..

Kenapa tidak? Kalau orang sekeren Pak Habibie saja menangis, berdoa, meminta dalam shalat-nya. Bersimpuh dan menengadahkan tangan pada-Nya,why can’t we also do that?

Kadang ada keruwetan dunia yang tidak cukup logis untuk dipecahkan dengan problem solving.

We need Allah. 
Tidak ada yang mustahil bila Allah sudah berkehendak.

I have always believe, di balik orang sukses, pasti ada orang tua yang menanamkan kepercayaan pada anak-anaknya, ada team/sahabat yang solid. Ada istri/suami yang menopang kepercayaan yang telah diberikan orang tua.

Bagi saya, sosok Mami Pak Habibie adalah salah satu sosok yang menerapkan positive parenting.


And so does his Papi, who said


Lihat mata air itu,
kamu harus jadi seperti mata air itu, Rudy. 
Lihatlah jika mata airnya jernih, pasti sekelilingnya akan jernih. 
Namun jika mata airnya keruh, di sekelilingnya pun akan jadi jelek.

 

Cerita Iie : Ramadan, Melahirkan dan Kuliah Gratis di Swedia

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita

-Iie

Belajar bisa dari mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari Ibu muda yang satu ini. Seperti yang sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya, sharing antar sesama ibu muda akan membantu kita untuk tahu bahwa bukan hanya kita loh newbe in motherhood community yang sama-sama berjuang menjalankan peran kita sebagai Ibu.

Sedikit tentang beliau, saya mengenal Iie saat kami masih beraktivitas di Sekolah Bermain Balon Hijau, what a cute name right? SBBH adalah kelompok bermain non-formal yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah Bandung dan diprakarsai oleh 3 orang mahasiswi ITB, lebih lanjut tentang SBBH kita bahas di lain kesempatan ya.

Iie adalah satu dari sekian banyak fasilitator di SBBH, one thing about her, she seem very mature though her age is younger than me. Terlihat dari sikapnya yang lembut, antusias dan sabar, Iie adalah sosok wanita yang menyayangi anak.

She also married in a young age! pemilik nama lengkap Dery Hefimaputri ini menikah saat ia masih menjadi mahasiswi Engineering Management di ITB. Kini Iie menetap di Swedia bersama putrinya, Asiyah dan suaminya yang juga berkuliah dan bekerja disana. Alhamdulillah Iie bersedia untuk saya interview dan berbagi mengenai banyak hal. Yuk simak obrolan kami.

Assalamu’alaykum Iie, apa kabar?

Wa’alaykumsalam Wr Wb, Alhamdulillah baik dan sehat.

Setelah cukup lama LDR dengan suami, sekarang Iie sudah tinggal dengan Asiyah dan suami di Swedia ya. Bagaimana rasanya berkumpul bersama dan membangun keluarga di Swedia?

Iya, setelah LDR Gothenburg- Bandung selama kurang lebih dua tahun, akhirnya mulai Juli 2014 alhamdulillah bisa ikut menemani suami merantau. Rasanya dream comes true, salah satu keinginan terbesar saya adalah bisa membangun keluarga di satu atap, jadi istri seutuhnya, Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebenarnya dimana pun bagi saya ga masalah selama bersama suami dan anak, kebetulan Allah pilihkan Gothenburg-Swedia saat ini. Tiap tempat ada positif negatifnya, tergantung kita mau lebih menekankan yang mana. Wah kalo ditulis detil bisa panjang sekali, hehe.

Asiyah juga lahir di Swedia ya? Bagaimana pelayanan kesehatan disana?

Iya, Asiyah lahir Oktober 2014 di Gothenburg. Pelayanan kesehatan disini pada dasarnya gratis selama kita punya nomor sosial disebut juga personnummer, personnummer ini diberikan untuk penduduk Swedia maupun pendatang yang akan tinggal selama minimal setahun.

Kebetulan personnummer saya baru jadi saat dua minggu menjelang lahiran, agak deg-degan juga tuh karena tanpa personnummer saya harus bayar biaya melahirkan yang sama sekali ga murah (sekitar Rp 45juta- tak hingga, bergantung kerumitan persalinan). Kabarnya bisa sih minta keringanan, tapi kami kurang tahu infonya tentang ini, dan tentu berharapnya gratis aja. Alhamdulillah ternyata personnummer bisa keluar sebelum due date, jadilah persalinan saya gratis, begitupun biaya control setelahnya.

Biaya control kehamilan sebelum personnummer ada itu mencapai 540 SEK (Rp 870.000). Padahal control kehamilan disini benar-benar sederhana, hanya cek darah, tensi, ukur lingkar perut, dan cek detak jantung (USG hanya dilakukan sekali di usia kehamilan lima bulan, selama kondisi hamil normal/ ibu <35 tahun, dsb).

Pelayanan kesehatan disini sangat memanusiakan manusia, proses kelahiran didorong sealami mungkin, penuh aura positif, mandiri, dan setiap orang (baik pendatang atau bukan) diperlakukan dengan sangat baik. Beberapa kali saya dengar cerita kelahiran di Indonesia dimana tenaga kesehatan (khususnya perawat atau bidan) yang mudah melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, atau menurunkan semangat ibu melahirkan. Disini hal seperti itu, sejauh pengalaman saya dan orang-orang sekitar, tidak ditemui. Disini bila kehamilan sehat, tidak ada masalah, maka seluruh proses dari pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan akan ditangani oleh bidan. Hanya satu bidan yang menunggui sampai bukaan hampir lengkap, dan paling ada tambahan 2-3 bidan di proses mengejan, benar-benar menjaga privacy, tenang, dan efisien.

Bidannya pun benar-benar memandang proses kehamilan dan kelahiran adalah hal yang alami, bukan penyakit yang harus penuh kekhawatiran. Bidan berhasil menanamkan sugesti-sugesti positif kepada saya, dan membantu saya memandang proses kelahiran dengan yang seharusnya.

Saya ingat salah satu wejangan beliau sebelum saya melahirkan, “Menjelang melahirkan nanti, kontraksi memang akan terasa sakit, saya ga akan menjanjikan bilang bahwa itu ga sakit. Tapi, yakinlah, itu adalah sakit yang baik, sakit yang positif, sakit yang menandakan bahwa sebentar lagi anakmu akan hadir dipelukanmu.”

Kata-kata itu benar-benar indah dan membuat saya semangat menyambut gelombang cinta kontraksi, pengalaman melahirkan jadi momen indah yang menyenangkan, Alhamdulillah ga ada trauma dan sejenisnya.

Kalau Swedia sendiri, Negara yang seperti apa di mata Iie? is it a family-friendly country?

Ya, Swedia adalah Negara sosialis, yang tentunya menjunjung tinggi kesamaan dan kesetaraan. Karena semangat kesetaraan itulah, dimana mereka menganggap peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus sama, maka dibuat aneka kebijakan yang mendukung. Contohnya adanya cuti berbayar bagi orang tua (paid parental leave) selama 480 hari yang dapat diambil oleh kedua orang tua, preschool dengan kurikulum yang jelas (biasanya anak-anak diatas usia setahun mulai masuk preschool karena orang tuanya mulai bekerja lagi setelah parental leave usai), kultur yang menomorsatukan urusan keluarga (kalau sewaktu-waktu cuti karena anak sakit, ga ada yang berani protes, family is number one priority).

Setelah kurang lebih dua tahun disini, saya mau mencoba melihat segala sesuatunya dengan proporsional, ga terlalu silau dengan segala perbedaannya dengan negeri sendiri. Tentu banyak yang bisa dipelajari, tapi ga menutup kemungkinan juga dibeberapa aspek Indonesia masih juara di hati. Misalnya semangat gotong royong, disini apa-apa cenderung mandiri, dan sebagainya.

Ini Ramadan kedua Iie bersama Asiyah dan suami di Swedia, boleh diceritakan tentang suasana Ramadan disana? Apakah kalian suka ikut iftor jamaai yang diadakan di Masjid-masjid di Swedia atau mengadakan open house di rumah Iie?

Disini puasa sekitar 19 jam, jadi kalo buka puasa bersama selesainya bisa sangat larut, maghrib saja hampir jam setengah 11 malam. Biasanya tiap tahun kami juga adakan satu atau dua kali saja buka puasa bersama di rumah bersama teman-teman mahasiswa. Keseringan ga bagus juga karena bikin begadang ^^ Salah satu hal yang saya syukuri dari puasa disini adalah jadi bisa lebih focus ibadah, ga banyak terdistrak buka puasa bersama yang kerap kali malah melalaikan.

Biasanya suami aja yang ke masjid sedangkan saya dan Asiyah di rumah. Alhamdulillah kami tinggal di daerah pendatang muslim, jadi ada mushola di dekat apartemen kami, hanya berjarak lima menit jalan kaki. Kalau ke masjid kota sekitar 30-40 menit naik tram.

Kalau lebaran biasanya ada warga (WNI yang menikah dengan penduduk setempat atau sudah tinggal menetap di Swedia) yang membuat open house jadi kami silaturahmi kesana.

Nama lengkap Asiyah adalah…

Asiyah Rania Sveanisa Adefys

Artinya…

Asiyah dari nama Asiyah Binti Muzahim, salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa yang telah dijanijkan surga (bersama Khadijah, Maryam, dan Fathimah). Ia adalah ratu mesir di zaman  Nabi Musa AS, yang juga adalah ibu asuh Nabi Musa AS. Ia adalah ratu yang lembut hatinya, cerdas, dan kokoh tauhidnya. Kami memang bertekad ingin memberikan nama anak-anak kelak dengan nama-nama tokoh muslim/ah, agar mereka dapat meneladani segala kebaikan dalam diri tokoh tersebut.

Rania berarti ratu, selaras dengan kata Asiyah yang juga adalah ratu mesir di zaman Musa.

Sveanisa; Svea artinya swedia, nisa artinya perempuan dalam bahasa arab. Kurang lebih perempuan muslimah yang lahir dan tumbuh di Swedia. Biar ada kenang-kenganan dari tempat kelahirannya.

Adefys; singkatan nama saya dan suami.

Kalau nggak salah, Asiyah sudah ikut pre-school ya? Udah belajar apa aja nih Asiyah?

Sekarang Asiyah belum masuk preschool, baru rutin ke öppna förskolan (open preschool) saja. Bedanya apa? Kalo preschool, sebagaimana daycare, anak ditinggal bersama gurunya. Sedangkan öppna förskolan, ibu atau ayah masih menemani mereka bermain, istilahnya seperti playdate yang difasilitasi aja. Di öppna förskolan juga ada kegiatan-kegiatan bersama, setiap rabu outing keluar, setiap kamis sarapan bersama, sering juga ada kunjungan penyuluhan mulai dari dokter gigi, psikolog, fisiologis petugas perpustakaan, dsb. Biasanya kita ke öppna förskolan tiga kali seminggu selama tiga jam.

Sebagai orang yang pernah mengajar di Kelompok Bermain, bagaimana pandangan Iie terhadap pendidikan usia dini di Swedia?

Karena Asiyah belum masuk preschool jadi saya belum bisa komentar banyak tentang pendidikan usia dini di Swedia. Hanya sajauh yang saya tahu, preschool disini menerima anak sejak mereka berusia diatas setahun dan sudah bisa jalan. Disini tidak ada daycare untuk anak dibawah usia setahun, karena diharapkan anak dibawah setahun diasuh oleh orang tua secara langsung dan penuh, Negara pun sudah memfasilitasi cuti berbayar selama 480 hari untuk menunjang hal ini.

Preschool ini berbeda dengan daycare walaupun prinsipnya sih serupa ya, anak dititipkan disekolah, bedanya mereka punya kurikulum dengan standar dan control yang sangat jelas dan ketat. Secara berkala tiap preschool akan dicek, dan kualitas tiap preschool sama, jadi ga ada sekolah unggulan dan sejenisnya. Preschool sendiri ada yang milik pemerintah dan swasta (biasanya yang international), keduanya tetap harus mengacu pada kurikulum Negara dan diperiksa secara berkala.Peraturannya pun sangat ketat, misal bila anak demam kapan boleh masuk sekolah lagi, kalau anak muntah kapan baru boleh masuk sekolah lagi, dan sebagainya.

Prinsipnya sekolah wajib di Swedia gratis, sekolah wajib sendiri dimulai dari SD tingkat nol (usia lima tahun), jadi preschool tetap bayar dengan batas maksimal 3% gaji orang tua dengan batas 1100SEK (sekitar RP 1,7juta).

Agustus ini Iie juga akan lanjut S2, apa yang memotivasi Iie untuk kembali bersekolah? Serta Universitas dan jurusan apa yang Iie pilih?

Saat ini saya sudah diterima di jurusan Management and Economics of Innovation, Chalmers Institute of Technology, Gothenburg.

Ada beberapa faktor yang mendorong saya untuk sekolah lagi.

Pertama, memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan diri. Saya merasa ini kesempatan besar bagi saya untuk mengasah mulai dari kemampuan bahasa, softskill, maupun ilmu yang semoga bisa diterapkan dikemudian hari. Kebetulan kuliah disini gratis karena saya telah memiliki izin tinggal dependent suami.

Kedua, saya menganggap kuliah lagi ini sebagai ‘hiu kecil’ yang akan memaksa saya bergerak dan berpikir secara lebih efisien dan efektif.

Pernah dengar cerita tentang adanya hiu di baskom ikan kapal nelayan? Mereka meletakan hiu dalam baskom ikan agar ikan-ikan itu terus bergerak dan akhirnya sedikit yang mati setelah sampai daratan.

Ketiga, saya berharap ilmu yang didapat diperkuliahan dapat saya terapkan untuk maslahat yang lebih luas, baik itu menjadi pendidik maupun membuka lapangan pekerjaan. Sebenarnya saya pun masih terus meminta petunjuk Allah, terus berdoa sampai detik terakhir untuk ditunjukan jalan yang terbaik. Mohon doanya ya.

Bisa diceritakan lebih detail mengenai mekanisme pendaftaran kuliah disana? Dengan Iie yang saat ini berdomisili di Swedia, apakah surat rekomendasi Dosen, sertifikat IELTS, dan LoA  masih dibutuhkan?

Segala syarat, jurusan, dan hal-hal terkait kuliah di Swedia bisa dilihat di web universityadmission.se, Swedia memang memiliki portal satu pintu untuk pendaftaran universitas disini. Tiap jurusan boleh jadi mensyaratkan hal yang berbeda. Saya sendiri butuh ijasah (asli dan terjemahan), transkrip (asli dan terjemahan), CV, IELTS, dan beberapa dokumen optional (motivational letter dan surat rekomendasi). Semua dokumen cukup di scan, kalau diterima nanti aslinya ditunjukan saat hari yang ditentukan menjelang masuk nanti. Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah jalur tanpa beasiswa, kalau untuk beasiswa sendiri kebanyakan dari LPDP atau Swedish Institute yang perlu syarat tersendiri ke institusi terkait.

Untuk mendukung Iie melanjutkan studi, suami Iie akan mengambil Parental Leaving, could u explain what is that?

Parental leave adalah cuti berbayar (kurang lebih 80% dari salary) untuk kedua orang tua selama 480 hari per anak yang dapat diambil sampai anak berusia 8 tahun. Ada ketentuan tersendiri misal tiap orang tua wajib mengambil masing-masing minimal dua bulan, setelahnya bebas dihabiskan oleh siapa jatah cuti tersebut. Bagi orang tua yang tidak bekerja, juga bisa mengajukan parental leave, dengan dianggap standar gaji terendah.

Karena disini menjunjung tinggi kesetaraan, maka mereka beranggapan wanita memiliki hak (atau kewajiban?) untuk bekerja. Tapi sebagaimana negara maju, upah tenaga kerja disini tinggi sekali, maka pembantu ataupun babysitter adalah hal langka (saya bahkan ga pernah temukan). Maka untuk menyiasatinya, dibuatlah sistem yang mendukung, salah satunya adanya parental leave ini. Jadi ibu dan ayah bisa tetap bekerja tanpa menelantarkan anaknya yang masih kecil. Setelah cukup umur, anak bisa masuk preschool dan orang tua tetap bekerja dengan mengendepankan work-life balance.

What have u learn by being a wife and a mother? 

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita. Menjadi istri saya belajar bagaimana menundukan ego, menundukan diri dihadapan imam saya, belajar patuh, belajar melayani, yang tentunya berat sekali apalagi di akhir zaman yang serba terbolak-balik ini.

Menjadi ibu saya belajar bagaimana menjadi teladan, belajar menguatkan kesabaran, belajar senantiasa melantunkan doa sepanjang waktu, belajar membaca perasaan anak, belajar mengenali potensi dan kekurangannya, belajar berkomunikasi, dan masih banyak yang lainnya.

Saya menyadari bahwa kalaupun akan beraktivitas diluar rumah, harus dipastikan yang utama tidak terbengkalai dan tertunaikan hak-haknya. Kondisi inilah yang membuat saya tidak berani koar-koar akan kuliah lagi karena bagi saya, kuliah itu nomor dua di waktu ini, bisa sewaktu-waktu disudahi kalau menzalimi hak klien utama saya. Dan sejatinya sekolah lagi adalah untuk membentuk diri saya yang lebih baik, maka harus ada standar tertentu apa yang ga boleh dilanggar, apa-apa yang harus tetap dikerjakan oleh saya, dan sebagainya. Lagi-lagi, mohon doanya ya.

Iie memanfaatkan waktu Me-Time dengan…

Membaca dan menulis. Saya selalu punya notes kecil tempat saya menumpahkan pikiran atau ide. Selain itu, lihat-lihat resep masakan.

Untuk me-recharge semangat dalam mengurus keluarga, Iie sering mendengarkan kajian Budi Ashari di youtube, yang fokus pada bahasan keluarga dan dikaitkan dengan Sirah Rasul (Parenting Nabawiyah). Boleh di-share-kan penekanan beliau mengenai peran Ibu dalam Islam?

Ibu adalah madrasah utama, ibu adalah pondasi umat ini. Setelah mendengar kajian beliau saya jadi memiliki paradigma baru tentang profesi sebagai ibu, khususnya ibu rumah tangga. Saya merasa dikuatkan, bahwa ibu rumah tangga bukanlah profesi yang ‘hanya’. Ia adalah titel berharga yang sudah seharusnya kita banggakan. Bila berpikir ‘hanya’ maka hasilnya pun akan sekedarnya. Tapi saat kita menyadari bahwa kita sedang membentuk generasi, bercita-cita besar akan kebermanfaatan anak kita, menjadikan anak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka semangat yang tumbuh pun lebih besar.

Ibu adalah profesi paling mulia, yang kadar penghargaannya tidak dapat ditandingi lelaki manapun. Tidak menutup mata, bahwa ada ranah yang para wanita memang dibutuhkan untuk terjun kesana yakni ranah kesehatan dan pendidikan. Maka lingkungan sekitar harus menyokong mereka, membantu terdidiknya anak mereka.

It’s a wrap! Terimakasih Iie sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya. Semoga obrolan kita ini bisa memberi manfaat dan informasi berharga untuk teman-teman kita, khususnya para Ibu muda. May Allah giving you many good things and grant your wishes in this Ramadan. Please convey my greeting to Asiyah :*

Happy fasting dan selamat bersekolah lagi Iie!

* * *

Yuk baca Cerita Ibu Muda lainnya :

1. Cita dan Cinta Audia Kursun (Indonesia – Turki)

Dea Audia & Mustafa Kursun adalah pasangan Indonesia-Turki. Apa aja sih tantangan yang dihadapi kalau nikah campur & syarat nikah sama WNA? Tempat-tempat mana aja di Turki yang berkesan buat Dea? Gimana prosesi pernikahan di Turki? Yuk merapat karena Dea berbagi cerita cita dan cinta-nya disini.

2. Meet Nunu – A Nuclear Physics Enthusiast, A Mother & Wife

Nunu, ilmuan Fisika Nuklir yang sedang menempuh program postdoctoral di Jepang, seorang Ibu juga istri. Simak bagaimana Nunu me-manage waktu untuk keluarga dan studi disini,

3. Uma Hani – Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Aba Fatiha

Uma Hani, istri Dokter yang membangun interdependency dengan suami. Apa itu interdependencyFind out here.

4. Kamu Lulusan ITB? Ko Jadi Ibu Rumah Tangga?

5. “I Love Abu Dhabi” – Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

I Love Abu Dhabi“, Cerita Nana, jadi Mama-nya Auran plus resep easy baking.Nana adalah lulusan S2 ITB yang selama kuliah master pernah mengikuti programstudent exchange di Samyoung University Korea, kini Nana tinggal di Abu Dhabi dan memilih untuk mengurus anaknya sendiri. 

6. Cici, Itikaf Sama Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’

Cici Butuh ‘Strong Why‘, saat mengajak 2 balitanya Itikaf di bulan Ramadhan. Simak tips-nya disini,

 

Belajar Jadi Ibu & Bersenang-Senang dengan Anak

Kalau diminta menggambarkan kondisi saat ini, saya pikir, tepatnya saya sedang belajar menjadi seorang Ibu. A better mom. The happy-cheerful-positive mother.

Predikat Ibu yang serta merta melekat pada wanita yang baru saja melahirkan tidak lantas menjadikan kita-kaum hawa langsung expert dalam segala hal yang berhubungan dengan anak. Bukan berarti instantly kita menjadi orang tua yang super keren juga. Ada banyak adaptasi yang harus dilakukan, bahkan terkadang new mom harus bergelut dengan baby blues.

Tapi bagaimana pun, whether the people around us pay attention or not, seorang Ibu diharapkan menjadi sosok yang serba bisa, wonder woman, multitasking and so on and so forth. Kuat! Mungkin inilah harapan banyak orang pada seorang Ibu. Kuat dari segi mental, tenaga, pikiran, spiritual.

Somehow, mother have to overcome their inner problems, dan muncul ke permukaan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan senyuman.

Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah, that’s why lebih tepat kalau saya sebut, proses yang saya jalani saat ini adalah belajar menjadi seorang Ibu. Kata belajar meringankan guilty feeling yang terkadang muncul saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak seharusnya dilakukan pada anak, baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, saat anak sakit, jatuh, keseleo dan lain-lain. Some parent take it so hard and blame themselves for unable being nice all the time to their kids. However, Ibu juga manusia biasa yang bisa merasa bahagia, sedih, butuh me time.

The word belajar memberikan ruang yang cukup banyak bagi para ibu untuk memandang diri mereka sendiri sebagai manusia biasa yang sedang melakukan research terhadap diri mereka sendiri-anak-suami-lingkungan sekitar mereka, studying and applying what their learn, termasuk memaklumi dan belajar memaafkan saat kita sebagai Ibu melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengasuhan anak.

Nah, dalam proses pengasuhan anak, kita juga harus aktif bermain/menghabiskan waktu bersama anak, as it’s written by Bruce Perry,

children-dont-need-more-things-bruce-perry-life-quotes-sayings-pictures

 

Terlebih lagi, dalam hadist dikatakan,

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi].

Dalam Islam, bermain, menemani anak beraktifitas, dan melakukan banyak hal untuk menyenangkan hati anak kita, seperti bergurau dan bercanda dengan anak kita merupakan suatu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tinggi di sisi Allah. Subhanallah walhamdulillah.

Bermain dengan anak ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Jabir berkata,

Aku mengunjungi Rasulullah Saw yang waktu itu sedang berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain Ra. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.” [HR. Thabarani]

Hasan dan Husain Ra adalah cucu Rasulullah. Hadits di atas memperlihatkan akhlak Rasulullah sebagai seorang kepala Negara dan Rasul yang bersifat lembut dan suka bermain dengan anak.

So, parent, get down on the floor and let’s spend time with our kids!

Waktu favorit saya pribadi bersama Aisya antara lain saat :
1. Bermain bersama Aisya
2. Menyuapi Aisya

Jujur, saya mendapat banyak energi positif dan kebahagiaan saat saya bermain, menghabiskan waktu dengan Aisya, pay fully attention to her-ga nyambi masak/nyapu/ngepel/pegang gadget, creating a toddler project that require team work between me and Aisya. Well, do many constructive things and also playful that grows her smile, excitement and enthusiasm makes me feel really good.

Tidak dipungkiri ada waktu-waktu saya membiarkannya menonton acara kartun atau bermain mandiri saat saya harus menyelesaikan ‘tugas domestik’. Balik lagi ini mah perkara manajemen waktu dan akhir-akhir ini mulai terbesit keinginan untuk membuat jadwal.

Jadwal dimana saya harus ‘bekerja’, -pekerjaan di rumah tidak bisa diabaikan toh? A comfort house is the clean one-, time when I need my daughter to understand and be cooperative with me when there are things to be done at home.

Kemudian waktu saat saya full fokus dan konsentrasi pada pemenuhan kebutuhan Aisya, seperti bermain, mengajarinya sesuatu, melakukan proyek-proyek sederhana antara ibu-anak. Kadang dalam proses memasak yang easy, saya melibatkan Aisya, atau membuatkan dummy-nya. Aisya terbiasa membantu saya membuat pancake, Aisya biasanya mengaduk adonan, memasukan terigu sesendok demi sesendok ke dalam mangkuk, menuangkan susu cair dan terakhir, beberapa hari yang lalu, Aisya meminta izin pada saya untuk memecahkan telur sendiri sebelum dicampurkan ke dalam adonan. Off course, saya memperbolehkannya. Bahkan Aisya kini tertarik menyalakan kompor dan memegang teflon pancake-nya. Ini dalam pengawasan penuh ya.

Di lain waktu, saya akan memberinya pisau plastik dan memintanya untuk mengiris tempe/pisang/papaya sebagai life learning activity. Segala hal yang berhubungan dengan life learning activity sebenarnya sangat menarik untuk dilakukan, karena selain fun, enjoyable, anak kita mempelajari sesuatu yang bisa menjadi bekal saat ia harus benar-benar melakukannya in real life, -bukan simulasi. Life learning activities yang pernah saya lakukan dengan Aisya adalah mengajaknya menyiram tanaman bersama, melibatkan Aisya dalam membuat kudapan, memotong buah dengan pisau plastik untuk disantap oleh kami, menyendokkan es krim untuk dijadikan toping pada irisan buah.

Pada dasarnya Aisya tertarik dengan beberapa hal yang saya lakukan. Saat saya menyapu, Aisya akan bilang, ”Dede mau nyapu”. Saat saya mengepel lantai, Aisya akan meminta saya untuk bergantian mengepel lantai. Pun saat saya sedang merendam pakaiannya, ia ingin turut mengucek-ucek pakaiannya sendiri dan dengan happy, mengatakan “Nda, dede cuci baju sendiri”.

Saya tidak pernah meminta Aisya menjemur pakaiannya, namun ketika saya melakukannya, Aisya juga memilah-milah pakaiannya dan menjemurnya di bagian paling bawah tempat jemuran kami. Pardon me for many “jemuran” words that I use here.

Permainan yang paling disukai Aisya adalah aktivitas yang memungkinkannya mengkoordinasikan semua organ tubuhnya, seperti jalan-jalan, bersepeda, main di taman-amusement playground-giant playground, Aisya suka sekali memanjat, bahkan di perosotan pun Aisya suka memanjat ke atas. Same thing happened at home. Di rumah Mbah yang terletak di Bandung, kami suka menggelar kasur lipat dengan salah satu sisinya berada di atas sofa, sedemikian sehingga bentuknya mirip perosotan dan Aisya akan memanjat ke sofa-tumpukan bantal di atas sofa-meluncur/meloncat di slide buatan tersebut.

Ada satu lagi permainan yang digemari Aisya, ini lucu, simple but very interesting for her. Aisya suka main seprei. Saat Akung-nya memasang sprei untuk kasur lipat. Serta merta Aisya akan berlari sambil bilang “Tunggu! Tunggu!”.

Aisya masuk ke bawah sprei dan.. mereka tertawa bersama, permainan ini dilakukan berkali-kali sampai Aisya lelah tertawa. Yap! Kadang tidak butuh tempat/barang mahal untuk membuat anak kita bahagia. That’s why saya mulai suka membuat karya dengan Aisya dari reuse-able stuff, seperti Koran, kalender yang sudah tidak terpakai, kardus-kardus belanja yang menumpuk di gudang, kotak susu/makanan untuk pot tanaman, dan lain-lain.

Kami juga memperkenalkan Aisya pada buku-buku, dari mulai serial edukatif lungsuran tante Arum dan Om Doko yang disimpan apik oleh Uti, buku mewarna, dan buku baru  dengan ikut arisan buku yang lagi hits saat ini.

Terakhir, pengennya punya jadwal rutin untuk me-time, baik melakukan hobi atapun private time with Allah. Get re-charged.

Menjadi orang tua, bagi saya pribadi, layaknya berusaha mengalahkan ego diri sendiri. Mungkin ada kebiasaan kita yang kurang cocok jika terus dipelihara selama kita menjadi orang tua. If we want our children to be a better version of us, then we first have to do the change. Bisa dibilang, ‘menyamakan suhu’. Betul, kita bisa memfasilitasi anak kita, lebih bagus lagi kita bisa menjalankan visi-misi bersama.

Contoh : kita ingin anak kita hafidz Qur’an, kita dapat memperdengarkannya tilawah Al-Qur’an setiap hari di waktu-waktu tertentu. Kita juga ikut mencontohkan, turut mengaji di hadapannya dan mengulang ayat-ayat Qur’an secara langsung. Ustadz Yusuf Masyur mengatakan, ulanglah bacaan Al-Fatihah sebanyak 5 kali menjelang anak kita tidur. Insya Allah Surat Al-Fatihah tersebut akan memasuki alam bawah sadarnya dan anak kita akan lebih mudah menghafalnya. Ajarkan satu surat/doa dulu, sampai ia benar-benar paham dan hafal, barusan diajari surat/doa-doa lainnya.

Hal lainnya, jika ingin anak kita fasih berbahasa asing, selain mengikutkannya kepada bimbel/les bahasa, sebagai orang tua, kita juga dapat dengan aktif mengajaknya berkomuniasi dalam bahasa yang sedang anak kita pelajari. Tidak perlu exactly at the same level with them, setidaknya ‘nyambung’ saat diajak bicara. Tiap orang tua pasti menginginkan anaknya, lebih baik dari dirinya.

Kalau soal kesabaran, itu menjadi PR seumur hidup yang tingkatannya terus menanjak. Apalagi kalau anak manis, lucu, pintar, soleh/solehah kita mendadak masuk ke fase trouble two. Jika tidak pandai mengelola emosi, bisa-bisa orang tua ikutan tantrum.

Memang mungkin orang tua ikut tantrum saat anak tantrum?
Mungkin banget!

Inilah pentingnya ilmu sebelum amal. Saat ini informasi mengenai psikologi anak dan parenting sudah banyak. Bekali diri kita, sempatkan membaca/mendengar/ikut seminar dan diskusi agar tidak salah langkah dalam menangani sikap-sikap anak. Ingat efek domino, children reflect what they saw. They tend to copying us, the parent and people around them. Anak merekam tindakan kita.

Saya sendiri ikut grup-wassap yang memfasilitasi bahasan tentang anak dan parenting. That’s help. Selain mendapatkan ilmu, kita juga tahu bahwa we are not alone, banyak Ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan kita. Saling menyemangati, tukar informasi seputar tempat-tempat yang asik-hemat-nyaman untuk hang out anak-anak. Plus, bisa playdate kalau kebetulan domisilinya dekat.

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan [harta mereka] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

At a stressful time, parent throw an anger to their children.

Marah itu manusiawi, kita adalah individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor/situasi. Akan lebih baik jika kita dapat mengontrol amarah (note to myself). Ada yang menyarankan agar kita take time, menjauh dari anak sebentar, berada di ruangan yang berbeda, setelah tenang kita kembali menemui anak kita. Usahakan anak tidak menghirup aura kontra-positif dari ibunya.

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” [HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440].

Hadist di atas seolah membenarkan bahwa setiap orang punya waktu-waktu dimana emosinya akan meledak, namun bagi mereka yang mampu menahan diri though they can show it off, Allah akan memberi ganjaran yang luar biasa. Jihad melawan hawa nafsu.

Salah seorang Ustadz juga pernah menyinggung perihal bakti anak. Bakti anak pada kita kelak, juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap pada anak kita sejak usia dini. Mengenai bakti anak ini, dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya,

“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” [HR Abu Daud]

Sabda Rasulullah di atas poinnya cukup jelas :
1. Saat anak kita sedang tumbuh berkembang dan belajar melakukan sesuatu, hargailah usahanya walaupun kecil.
2. If they make mistake, accept it. Tell them it’s not something good. Let’s not do it again. Give warm hug, forgive them, forgive each other and tell them that as a parent, we believe that they will not make the same mistake. They could be a better person.
3.
Tidak terlalu banyak/tinggi menuntutnya dan selalu do’akan yang terbaik untuk anak kita.
4. Do not cross the line. Jangan memaki dengan makian yang membuat hatinya terluka. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anak yang sering dimaki oleh orang tua-nya sendiri?

Sangatlah penting bagi orang tua untuk dapat mengenali sifat anaknya dengan baik, salah satu caranya adalah dengan sering berinteraksi secara langsung dengan sang anak. We know them, they know us, both side can communicate well, so hopefully the good environment rise from here.

Ramadan adalah bulan yang tepat untuk melatih poin kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi, lebih sabar, pengertian dan bijak. Amin.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah,” [HR. Bukhari 6114, Muslim 2609].