Nanan Nuraini – Lanjut Studi Ke Bristol Dengan 2 Balita

IMG-20170630-WA0000

Nanan Nuraini adalah seorang Ibu dari 2 anak, juga founder komunitas Ceria – Cerita Ibu dan Anak yang saat ini sedang merampungkan kuliah di Bristol, Inggris.

Saya sendiri tergabung dalam komunitas Ibu Ceria setelah berkenalan dengan Nuy – sapaan akrabnya,  ketika mengunjungi saya pasca melahirkan Aisya di Borromeus. Beliau adalah teman suami saya di PAS Salman.

Tahun lalu, Umay Wafi dan Nuraisya ini mengatakan bahwa beliau dan keluarganya akan pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi. Wah, menurut saya ini kabar yang luar biasa. Saya tertarik untuk mendengar cerita Nuy yang lanjut S2 lagi setelah memiliki 2 anak. Untuk itu, saya menghubungi Nuy di momen Ramadan-Lebaran yang masih hangat ini untuk sharing di Cerita Ibu Muda.

Teruntuk para Ibu Muda, melalui wawancara ini, Nuy berbagi mengenai motivasi sekolah lagi, perjuangan mendapatkan beasiswa LPDP, alasan memilih jurusan yang sekarang ditekuni, apa saja yang harus dipersiapkan ketika istri akan bersekolah di LN dan membawa serta keluarga. Selamat menyimak yaa 😊

Assalamu’alaykum Nuy. Apa kabar nih? Sehat-sehat kan Umay, Abah, Abang dan Nuraisya?

‘Alaykumussalam Alhamdullillah semunya sehat, tapi Abang lagi batuk. Disini lagi musim panas, kemarin suhu-nya mencapai 25 dercel. Terus kadang-kadang hujan dan suhu-nya sampai 18 dercel. Jadi anak-anak pada batuk.

Gimana rasanya melewatkan Ramadan di Bristol yang jarak antara selesainya tarawih dengan sahur hanya terpaut 2 jam saja?

Awalnya terasa berat karena melihat jam-nya, “Wah lama banget nih puasanya, 19 jam. Sahur jam 2, adzan shubuh jam 3 terus adzan magrib jam setengah  10”, batin saya.

Ternyata, pas dijalani sama kaya shaum di Indonesia, memang lebih lama sih tapi ngga terasa capek atau lapar. Terus, kalau mau buka dengan masakan Indonesia ngga bisa jajan, harus masak sendiri. Jadi mau ngga mau terpaksa belajar bikin cireng, bihun goreng, rendang, segala macem masak sendiri atau ngga main ke rumah teman-teman yang orang Indonesia juga.

Kalau lagi Ramadan gini, aktivitas apa yang paling terasa perubahannya?

Nah, yang paling terasa adalah perubahan jam tidur anak-anak. Biasanya anak-anak tidur paling lambat jam 10. Sekarang karena buka jam setengah 10 malam di Masjid, pulang dari Masjid jam 22.15. Sholat isya jam 23.00 terus tarawih sampai 12. Jadi anak-anak tidur jam 11 atau 12. Akibatnya anak-anak bangunnya siang, kalau Abang ikut sahur terus tidur lagi, bakal bangun jam 11 siang. Tapi kalau ngga ikut sahur bangunnya jam 9 atau jam 10 pagi sudah bangun.

Gimana suasana Idul Fitri di Bristol?

Tentang suasana Idul Fitri di Bristol bisa dilihat di netcj.co.id/Suka-Cita-Lebaran-di-Bristol-Inggris ya. Yang bisa saya ceritakan disini, saat Idul Fitri banyak tempat untuk melaksanakan sholat Ied. Sholat Ied dimulai jam 7 dan penuh banget karena umat muslimnya banyak dan masjidnya kecil. Kami sholat di AshShahaba Masjid, dekat dari rumah hanya perlu berjalan kaki selama 5 menit. Khutbah pada sholat Ied menggunakan bahasa yang berbeda, tergantung Masjid-nya. Ada yang menggunakan bahasa Inggris, Arab atau Somali.

Usai sholat, kami bersalaman dan menyantap makanan ringan, kue-kue khas timur tengah, berbagai minuman seperti teh, kopi, susu, jus juga roti, kue tart dan lain-lain.

Anak-anak banyak yang diajari sedekah disini. Mereka bawa bungkusan untuk anak-anak lainnya. Isinya permen, cokelat, biskuit, balob dan dibagi-bagikan di Masjid.

Anak-anak perempuan yang masih kecil mengenakan gaun yang cantik lengkap dengan rambut yang dihias. Sedangkan orangtua-nya berpakaikan sederhana, didominasi oleh warna hitam.

Karena kami tinggal di flat dengan 3 keluarga muslim lainnya, pulang dari Masjid kami lanjutkan dengan sarapan di saah satu flat yang paling besar. Makan opor, balado, tauco, sup buah, telur, capcay dan lainnya.

Siang jam 12-an kami berkunjung ke rumah orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Bristol. Ruamhnya luas sekali, halaman rumahnya seperti lapangan bola dilengkapi dengan prosotan, trampoline besar, ride on, jadi anak-anak anteng main di playground rumah ini. Makanan Indonesia pun banyak tersaji. Di area ini kami juga berfoto dan bernyanyi.

Panitia dari Al Hijrah Bristol, bikin kuis buat anak-anak tentang pengetahuan Islam. Hadiah yang disediakam membuat anak-anak semangat menjawab dan tambah happy karena dapat hadiah saat lebaran. Acara ini di-organize oleh beberapa komunitas orang Indonesia di Bristol.

Lalu tamat. Lebarannya hanya satu hari dan tidak ada libur lebaran. Alhamdulillah karena kami memiliki sahabat orang Malaysia, jadi hari Rabu-nya kami ‘Lebaranan’ lagi dengan makan-makan di rumahnya.

Selama Ramadan, kuliah tetap jalan yaa. By the way, Nuy kuliah dimana? Dan apa yang bikin Nuy merasa sreg dengan jurusan ini?

Alhamdulillah jadi selama ini hanya dua kali kuliah dan setelah itu kuliahnya udah beres, jadi hanya pernah merasakan puasa sambal kuliah 2 kali. Kuliahnya di University of Bristol jurusan Psychology Of Education.

Sebetulnya saya selalu tertarik dengan perkembangan anak dan dunia ibu terutama ibu muda. Tapi sayangnya, saat memilih jurusan, saya ngga kepikiran nyari jurusan family studies. Jadi saya ngambilnya langsung ke psikologi atau perkembangan Pendidikan. Nah yang Perkembangan Pendidikan ini kemarin saya ngga nemu, nemunya di Belanda.

Akhirnya saya mencari universitas di Inggris yang memiliki development of psychology dan ngga nemu. Ternyata sebenarnya ada di Lanchester. Tapi karena saat itu saya ngga tahu jadi saya ngga ambil jurusan itu. Dan jurusan Psychology Of Education adanya di UCL dan di Bristol. Ke UCL ini saya sudah terlambat daftarnya, satu-satunya pilihan daftar ke Bristol dan Alhamdulillah diterima.

Biasanya kan ibu-ibu memutuskan untuk S2 saat belum memiliki momongan atau baru mempunyai satu anak dengan konsekuensi anaknya tinggal di Indonesia atau ada pihak keluarga yang ikut. Nah Nuy kan sudah memiliki 2 anak, keduanya balita. Kalau boleh tahu, apa yang memotivasi Nuy untuk mantap bersekolah kembali?

Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah sebelum menikah. Saya tidak ada rencana menikah sambal kuliah. Plan awal saya, setelah lulus S1 langsung S2 ambil profesi psikolog. Tapi faktanya saya menikah selagi kuliah dan melahirkan selepas wisuda.

Nah setelah jadi ibu mikir-mikir lagi nih, beneran mau kuliah lagi? Ntar ninggalin anak, apalagi kalau ambil Master Psikologi itu padat banget, Sabtu saja masih ada kuliah. Akhirnya saya tunda keinginan untuk kuliah itu dan saya melupakannya.

Kemudian suami sekolah lagi, ambil master. Saya juga belum kabita saat melihat suami kuliah lagi, hanya komentar, “Oh dia kuliah lagi. Yaudah”, gitu aja.

Tapi saat hamil anak kedua (Nuraisya), suami bilang, “Gimana kalau kamu coba ambil kuliah lagi. Cobain yang LPDP”.

Terus saya bilang, “Males ah ngapain? Anak udah mau dua, ngapain sih kuliah lagi?”.

“Ya cobain aja, ngga ada salahnya kan mencoba”, kata suami lagi.

Kemudian saya nurut sama suami. Saya coba belajar Bahasa inggris, ambil tes IELTS, ketika hasilnya keluar dan cukup, saya langsung daftar LDPD. Eh ternyata dapat deh.

Habis itu baru saya mikir, “Haduh dapet nih LDPD, artinya harus beneran kuliah nih”.

Ini bikin saya galau, mikirin gimana nih harus kuliah, dah dapet beasiswa tapi saat itu saya belum bener-bener pengen kuliah, baru merasa, “Kayaknya asik nih kuliah di luar negeri tapi belum betul-betul mantap”.

Saking stress-nya, saya sakit tipes. Selama 1 minggu saya dirawat di Rumah Sakit dan hampir sebulan istirahat total di rumah. Setelah sembuh dari tipes, saya ikut program persiapan beasiswa dan nyari tempat kuliah. Terus dapet deh disini, di Bristol Alhamdulillah.

Selain dorongan dari suami, saya juga ingin mempunyai ilmu yang bisa saya pertanggungjawabkan pada komunitas saya. Saat ini saya mengelola satu komunitas namanya Ceria (Cerita Ibu dan Anak).

Dan supaya lebih percaya diri dalam memfasilitasi teman-teman lainnya di komunitas ini, saya harus cari ilmu lagi. Salah satunya dengan kuliah lagi. Semoga nanti bisa mempraktekkan ilmunya kepada para Ibu. Dan juga saya pengen punya sebuah rumah yang bisa memfasilitasi para ibu khususnya Ibu muda untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang keluarga, perkembangan anak, psikologi anak dan sebagainya secara cuma-cuma.

Di Inggris ini ada yang namanya Family and Children Center, di tempat ini para ibu dari mulai ibu hamil dan Ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun difasilitasi oleh pemerintah berupa informasi seputar Ibu dan anak, dibantu kebutuhannya, susu-nya, segala macam.

Ada semacam support group yang memang difasilitasi oleh pemerintah. Jadi ngga perlu ikut seminar berbayar, karena semuanya sudah difasilitasi oleh pemerintah. Jujur saya jarang banget ada seminar parenting disini atau saya gaptek? Entahlah. Yang jelas, semuanya memang sudah difasilitasi disini.

Bahkan saya juga ingin memberikan fasilitas yang namanya home visit bagi  para Ibu. Disini, ibu-ibu sejak hamil hingga anaknya berusia 5 tahun tadi bakal dikunjungi secara berkala oleh health visitor dan mereka akan menanyakan bagaimana keadaan ibunya, keadaan anaknya, kondisi ekonominya. Kalau ekonominya kurang bagus, para Ibu ini bisa mengajukan benefit.

Benefit ini berupa pengajuan uang untuk membeli kebutuhan ibu ini. Itulah impian saya.

Sekarang kita ngobrolin tentang beasiswa LPDP yaa. Dari semua tahapan yang ada, proses mana yang Nuy anggap paling menantang?

Sejujurnya, untuk proses penerimaan beasiswa saya santai banget. Kalau diterima Alhamdulillah, ngga juga ngga apa-apa. Karena awalnya tadi ngga begitu ingin pengen kuliah, cuma pengen terus dimotivasi suami untuk daftar LPDP.

Namun saya tetap yakin akan menerima beasiswa LPDP ini, tujuannya untuk menenangkan diri. Tenang, saya pasti diterima, karena nanti kan akan ditanya, “Kenapa kamu yakin diterima? Kenapa kamu yang harus jadi penerima beasiswa?”, oleh pewawancara.

Jadi salah satu tips-nya untuk pemburu beasiswa, kita harus yakin diterima. Usaha dulu, urusan hasil serahkan sama Allah. Husnudzan sama Allah, Insya Allah apa pun yang terjadi kita bakal tetap tenang dan bersyukur.

Selanjutnya, tantangannya buat saya adalah melawan diri sendiri.
Karena saat itu saya lagi hamil trimester akhir dan harus persiapan IELTS, administrasi LPDP dan lainnya.

Terus merasa deg-degan meski awalnya santai banget karena orang yang daftar LPDP keren-keren banget!

Beneran deh, bikin saya jiper pas kenalan sama orang-orang di sesi wawancara, apalagi LGD. Di LGD ini saya ngga banyak ngomong karena teman-teman yang lain pada jago ngomong. Apalah saya ini, grogi, hehe.

Jadi, bisa dibilang saya ini santai tapi harap-harap cemas. Antara ingin kuliah tapi ngga pengen ninggalin anak lama-lama pas kuliah, soalnya sejak melahirkan saya ngga pernah ‘kerja’ fulltime seharian. Tidak kebayang sama saya, kuliah full ninggalin anak-anak. Sedih banget pasti disana.

Eh, ternyata, di UK ini kuliahnya ngga selama yang saya kira. Alhamdulillah.

Satu lagi, sebagai penerima beasiswa ini harus ada yang dipertanggungjawabkan saat nanti saya kembali ke Indonesia, ini juga tantangan untuk saya.

Sambil kuliah kan Nuy juga jualan tempe nih. Ide jualan tempe ini datang karena Nuy suka banget tempe atau gimana? Boleh berbagi bagaimana cara bikin tempe ala Nuy? Dan kepada siapa saja biasanya Nuy menjual tempe-nya?

Saya ngga bikin tempe. Tapi saya jadi distributor tempe. Suami saya punya teman pembuat tempe dari Birmingham, tempe-nya itu enak sekali. Kami membeli tempe dari beliau, lalu tempenya dikirim dan kami jual di Bristol. Karena di Bristol hanya ada tempe beku – tidak fresh, saat saya berjualan tempe, orang-orang pada nyariin deh.

Dengan ikut menemani Nuy, otomatis Abay turut mencari pekerjaan disana ya. Susah ngga sih kalau pas baru pindahan terus langsung cari kerja disana? Dan apa saja yang perlu dipersiapkan kalau kita mau memboyong seluruh anggota keluarga ke UK?

Hal  ini pernah di post oleh suami saya di blog saya, silakan berkunjung ya, ke nanannuraini.wordpress.com

Untuk mendapatkan pekerjaan di UK, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari kenalan yang sudah bekerja di UK.

Di UK ini untuk bekerja profesional agak sulit karena membutuhkan sertifikasinya tersendiri. Contoh jika saya kita ingin menjadi guru TK maka saya harus memiliki sertifikasi mengajar sebagai guru TK. Dan setrifikasi ini berbeda-beda untuk guru TK, guru SD dan seterusnya, bukan hanya ijazah dan ada level-levelnya.

Juga tergantung bekerjanya dimana. Saat tiba disini saya silaturahim dengan teman yang sedang menempuh Phd dengan kerjaan sampingan sebagai cleaner/pembersih. Sangat wajar seorang student memiliki pekerjaan kasar seperti buruh, karena ini merupakan pekerjaan yang paling mudah dicari dan gajinya lumayan jika dibandingan dengan kurs di Indonesia.

Awalnya suami saya kerjanya illegal. Kerja illegal itu kita melamar ke sebuah tempat, gajinya tidak ditransfer dan kita tidak menandatangani kontrak kerja. Setelah itu, dengan pengalaman kerja yang beliau miliki akhirnya suami melamar kerja dan diterima kerja di kantor POS, di supermarket, di kampus Bristol juga pernah.

Dari segi persiapan, untuk melamar kerja, kita harus membuat National Insurance Number dan bikin rekening di Bank. Nah, syaratnya kalau mau bikin NIN kita harus benar-benar terdaftar sebagai orang yang benar-benar tinggal di Inggris.

Dan untuk memboyong keluarga ke UK ini harus mempersiapkan uang dalam jumlah besar, karena biayanya mahal sekali. Untuk info biayanya bisa langsung cek ke link ini www.immigration-health-surcharge.service.gov.uk/checker/type

Hal ini penting, karena saat membuat visa, ada uang minimal yang harus ada di tabungan. Ini bisa diakali dengan meminjam uang dari teman dan diendapkan di rekening kita selama satu bulan. Kalau tiketnya pintar-pintar saja cari yang murah.

Dalam hal biaya hidup selama di Bristol, saya sangat berterimakasih pada beasiswa LPDP karena uang dari LDPD selama 6 bulan pertama yang saya terima sebagai living allowance sendiri, cukup untuk menghidupi saya dan keluarga selama disini. Apalagi di bulan ke-7 saya juga mendapatkan tunjangan keluarga, jadi beasiswa ini sangat membantu.

Kalau Abang Wafi dan Dik Nuraisya sendiri gimana? Betah kah disana, suka main kemana saja dan bagaimana adaptasinya di sekolah?

Awalnya Abang ingin cepat pulang ke Indonesia. Sekarang Abang sudah sekolah di Nursery yaitu sekolah untuk anak usai 3-4 tahun dan Abang happy banget di sekolahnya karena Abang sudah bisa Bahasa Inggris dan mengobrol serta bermain dengan teman-temannya. Dan, disini kami tinggal bersama tiga keluarga Indonesia lainnya yang memiliki anak-anak yang masih kecil juga, jadi Abang senang banget.

Karena disini banyak banget taman, biasanya kami main ke taman dan ruang hijau terbuka untuk piknik, main, lari-lari, main scooter, ya main ke taman saja sudah bikin anak senang.

Bristol sendiri merupakan salah satu kota terbaik untuk keluarga, fasilitasnya benar-benar ramah anak. Ada family room hampir di setiap mall, ada tempat main di setiap library-nya terus ada children center yang free. Sekolah juga free dari umur 3 tahun.

Kalau Abang adaptasinya lumayan bagus karena pada dasarnya anaknya gaul dan cepat belajar Bahasa Inggris. Makin lama, Abang makin mudah bergaul dengan teman-temannya, bahkan jadi bos di sekolah. Guru di sekolah Abang bilang, setiap anak di Nursery mendengarkan Abang dan kalau tidak mendengarkan, Abang bakal ngomel-ngomel.

Terakhir, whats your message to all mother who also have a desire to continue their study again?

Pertama, tanya sama suami. Kalau suami mengizinkan, apa lagi yang ditunggu? Segera cari beasiswa dan universitas yang disukai.

Kuliah di luar negeri itu asik banget. Jadwalnya ngga padat, paling lama seminggu itu kuliah hanya 8 jam. Rekor lain ada kuliah tambahan yang full dari jam 10.00-17.00. Untuk lecture – duduk manis menghadiri kuliah hanya sebentar, namun tugasnya sangat banyak dan harus menggunakan Bahasa inggris yang tidak semudah menulis dalam bahasa Indonesia. Harus betul grammar-nya, tata bahasa-nya dan lain-lain. Tantangannya terbesarnya adalah memanaje waktu untuk belajar, mengerjakan tugas kuliah sembari mengurusi rumah, mengasuh anak dan melayani suami karena disini tidak ada yang namanya ART.

Kalau suami mengizinkan dan rizkinya ada, pergilah bareng-bareng dengan keluarga. Suami sangat mendukung saya kuliah lagi, namun saya ingin berangkat bersama-sama. Saya pribadi sangat tidak menyukai LDR, baik sama suami maupun dengan anak. Saya lebih memilih hidup susah senang bersama. Kami berdua sudah sepakat untuk menjalani hidup ini bareng-bareng.

Harus ekstra sabar dan rela mengorbankan waktu tidur.

Dengan 2 anak yang aktif saya tidak bisa mengerjakan tugas dengan tenang kecuali ada suami yang menjaga anak. Berhubung suami kerjanya shift malam sehingga pagi hari istirahat, biasanya saya gantian menjaga anak dengan suami. Kalau suami saya menjaga anak, saya bisa mengerjakan tugas, pergi ke lounge di atas, atau ke perputakaan. Saya juga sering mengerjakan tugas saat anak-anak sudah tidur di malam hari.

Itu saja, terimakasih teh Ai atas kesempatannya. Assalamu’alaykum.

*

‘Alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah Nuy, harusnya saya yang berterimakasih nih karena sudah bersedia berbagi di Cerita Ibu Muda. Well, subhanallah ya ada impian ada kemudahan jalan, ridho suami jadi salah satu penetunya ya untuk melanjutkan sekolah lagi atau tidak.

Gimana nih Ibu-ibu yang sudah membaca cerita Nuy, terpicu untuk melanjutkan studi lagi kah? 🙂 Semoga Allah SWT beri rizki-Nya untuk kita ya. Anyway terimakasih sudah mampir, semoga postingan ini menginspirasi banyak Ibu dan menuai banyak manfaat ya. Amiin.

 

 

Advertisements

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria 🙂

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru 🙂

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu 🙂

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh 🙂 long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? 🙂

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima 😀

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 😃 Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.