Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria πŸ™‚

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru πŸ™‚

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu πŸ™‚

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh πŸ™‚ long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? πŸ™‚

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima πŸ˜€

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 πŸ˜ƒ Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rini Inggriani, biasa saya sapa Rini adalah alumni ITB jurusan Farmasi dan Profesi Apoteker. Satu angkatan dengan saya, anak kami pun lahirnya hanya terpaut 2 hari. Umar lahir tanggal 16 Januari dan Aisya lahir tanggal 18 Januari di tahun yang sama, tahun 2014 πŸ™‚

Iseng-iseng nge-google, muncul nama panggilan “Inggi” dan “Nisrina Mumtaz” untuk Rini, waaah jangan-jangan ini nama pena beliau! Ternyata benar, Rini pernah menggunakan nama-nama ini dalam blog lawas-nya juga saat menjadi kontributor artikel.

Kalau dalam 3 buku yang sudah beliau terbitkan, nama yang digunakan tetap Rini Inggriani, S.si, Apt kok πŸ™‚ Saya harus belajar banyak nih dari Ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini agar lebih produktif berkarya dari rumah.

Langsung saja yuk, kita simak seni-nya menulis dan menerbitkan buku sambil mengasuh anak juga aktif di organisasi ITSAR ala Mbak Inggi!

Assalamu’alaykum Rini 😊 Gimana kabar Umar, Rini, Suami dan calon adiknya Umar?

Wa’alaikumussalaam. Alhamdulillah, Ndari, baik-baik.Doakan sehat selalu ya.. 😊

Sekarang Umar sudah 3 tahun ya? Kalau dede bayi di kandungan sudah menginjak trimester berapa?

Iya, alhamdulillah Umar udah 3 tahun. Kalau yang kedua, ini trimester 2 akhir, masuk 27 weeks, Ndari 😊

Wah udah 6 bulan yaa, hasil USG terbaru perempuan atau laki-laki lagi nih dede-nya? 😊

Insyaallah yang ini perempuan

Alhamdulillaaah sepasang ya. By the way, Rini juga biasa dipanggil Inggi, ya?

Iyaa Ndari, sama Nisaul sebenernya. Soalnya *Nisaul tau, di rumah, panggilan Rini sama Ayah, ya Inggi.. Sekarang kadang kalau nulis di beberapa web gitu (kontributor artikel), memang pakai nickname nya Inggi. Duluu banget, pernah punya nama pena, tapi pas masih kuliah sih, namanya Nisrina Mumtaz..😁

*yang ingin tau siapa Nisaul, semoga saya bisa menghadirkan sosok beliau di Cerita Ibu Muda ya πŸ™‚

Waaah, kalau gitu aku ikutan manggil “Mba Inggi”, ya? Suka deh sama nickname-nya. Selain menjadi kontributor artikel di web, mbak Inggi juga sudah menerbitkan 3 buku ya?

Iya, Alhamdulillah sudah meluncurkan 2 buku antologi dan 1 buku solo.

Salah satu buku yang ditulis Mbak Inggi berjudul “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Nah untuk buku Antologi-nya lebih ke fiksi/non-fiksi? 

Buku yang pertama adalah antologi pertama. Judulnya “Perempuan-perempuan Ganesha”. Ini buku antologi tentang 18 perempuan yang kuliah di ITB. Bercerita tentang masa-masa saat kuliah di ITB, atau pasca kampusnya. Dimana perkuliahan di ITB membawa dampak bagi kehidupannya. Penulis buku ini beda-beda angkatannya. Seneng banget bisa diajak proyek buku ini. Seperti batu loncatan yang memang sudah Allah sediakan 😊 

Buku ini terbit di tahun 2014, bulan Februari, ga lama setelah melahirkan anak pertama yaitu Umar.. 😁
Buku kedua, sekaligus buku solo perdana.. Judulnya “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bulan Februari 2016. Buku ini bercerita tentang seluk beluk kuliah di jurusan Farmasi. Mulai dari apa yang harus dipersiapkan saat mau masuk jurusan Farmasi, ritme perkuliahan di Farmasi dan apa saja yang akan dipelajari, juga dihadapi, dan kehidupan pasca kampusnya. Oh iya, sama ada testimoni dari alumni Farmasinya. Biar lebih mengena hehe. Buku ini juga jadi sebuah rekor buat diri sendiri. Dari dulu, memang punya satu keinginan. Minimal selama hidup punya satu buku yang ditulis sendiri.. Kenapa? Karena ingin setidaknya jika wafat kelak, ada satu karya yang bisa saya tinggalkan untuk masyarakat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Minimal bagi saya dan pembacanya 😁

Buku ketiga adalah antologi kedua, judulnya “Anak-Anak Kolong Langit”. Ini bercerita tentang perjuangan saat kita menempuh pendidikan. Ada yang bercerita bagaimana perjuangan menghadapi kesulitan ekonomi, atau culture shock saat menjalankan pendidikan di luar negeri, dan lain-lain. Buku ini terbit sekitar bulan April 2016, ga lama setelah buku kedua terbit. Alhamdulillah.. menjadi penyemangat juga buat terus menulis 😊

Baca juga : Cerita Iie Ramadan – Melahirkan – Kuliah Gratis di Swedia

Wiii keren bangeeet 😍 Barakallah yaa. Oia, untuk buku solo Mbak Inggi kan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), bagaimana dengan 2 buku Antologi-nya? Apakah diterbitkan oleh penerbit mayor/indie?

Kalau 2 buku antologinya diterbitkan sama penerbit indie, Ndari.Tapi kalau untuk ISBN, buku antologi ke-2 sudah ada ISBN nya, sedangkan yang pertama belum ada ISBN nya.

Buku antologi pertama, “Perempuan-perempuan Ganesha” diterbitkan oleh Nulis Buku. Dan untuk antologi yang kedua, “Anak-anak Kolong Langit” diterbitkan oleh Gelaran Jambu Daar El Fikr di Kediri. Yang ngurusin ke penerbit ada bagiannya, jadi saya tinggal tau jadi buku cetaknya aja..😁

Dari menentukkan ide – menulis – hingga naskahnya siap diterbitkan, prosesnya gimana Mbak Inggi?

Kalau proses standarnya sih, setelah dapat ide, kita coba buat outlinenya dulu. Outline ini yang akan memandu kita dalam menyelesaikan naskah, lalu kita selesaikan naskah sesuai outlinenya. Setelah selesai, lakukan self editing. Setelah itu baru kita bisa cari penerbit yang kira-kira sesuai dengan naskah kita. Nonfiksi atau fiksi baiknya tetep ada outline, meskipun kalau outline untuk fiksi lebih fleksibel ya, tapi tetep berfungsi untuk menjaga agar cerita kita ga nge-blur kemana-mana. Itu standarnya.

Kalau pas buat naskah untuk antologi kemarin, memang saya ga pake outline karena ceritanya based on true story jadi udah kebayang saat menulisnya, dan ending-nya gimana. Cenderung pendek juga, sekitar 5-6 halaman. Beda kalau menulis novel yang jumlah halamannya bisa sampai ratusan. 

Untuk buku solo tentang farmasi, rini dapet infonya dari grup Indscript Creative. Ini salah satu agen penulis.Jadi, peluang-peluang menulis buku, bisa dapat dari sana juga selain kita kirim ke setiap penerbit ya. Jadi kemarin ada peluang dari Gramedia Pustaka Utama untuk berkontribusi dalam serial kuliah jurusan apa, dan Farmasi belum ada yang buat, jadi saya coba kirim outline-nya dan Alhamdulillah di acc. Kalau ini, sebelum dikasih ke penerbit, ada editor internalnya dulu.

Wiii keren! Tahapannya banyak banget yaa ternyata hihi. Apakah Mbak Inggi ada jadwal khusus untuk menulis dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan 1 naskah?

Ada Ndari, biasanya minimal banget 1 jam untuk menulis tiap harinya. Biasanya nulis di blog, tapi akhir-akhir ini belum nulis di blog lagi, karena ada deadline yang lain 😁

Kalau waktu untuk menyelesaikan naskah relatif ya, ga ada waktu patokannya.Waktu menyelesaikan buku yang Farmasi itu, dikasih deadline untuk menyelesaikan naskah 2 minggu πŸ™ˆ

Tapi, karena nonfiksi, dan sudah ada outline nya yang fix, dan beberapa data awal sudah ada, Alhamdulillah kekejar. Itupun dengan di awal, nulis hanya bermodalkan tablet, karena saat pekan pertama deadline itu, kita lagi pergi ke luar pulau

Kalau untuk naskah antologi kemarin, bisa cepet kalau sudah ada bayangannya, 1-3 hari sudah dengan editing karena panjang tulisan juga ga banyak ya.

Nah, yang lagi belajar sekarang itu menulis novel..πŸ™ˆπŸ™Š Jujur, buat saya menulis fiksi itu challenging banget. Target di tahun ini, Insya Allah ingin coba menulis novel. Cuma kadang suka mentok, dan tergoda buat nulis nonfiksi lagi.

Baca juga : Meet Nunu, a Nuclear Physics Enthusiast, a Mother & Wife

Subhanallah, saya makin terkesima nih! semoga Novel perdana-nya rilis tahun ini ya, Amiin. Nah trus kalau lagi writer block, apa yang Mbak Inggi lalukan supaya semangat menulis muncul kembali?

Iyaa.. writer’s block ini sering banget hinggap… Hiks πŸ˜…πŸ˜… Kalau lagi di posisi ini, selalu balik lagi ke azzam ingin menjadi orang yang bermanfaat dan punya sesuatu yang bisa diwariskan kelak. 

Harapan saya, tulisan yang saya buat dapat menjadi amal unggulan di hadapan Allah SWT.

Suami juga sering ngasih semangat, terus aja menulis, sampai nanti, insyaallah akan ada buah dari keistiqomahan itu… 
Pernah ikut grup menulis, ada yang bilang, membaca itu membuat kita mengenal dunia, dan menulis, membuat kita dikenal dunia. Meskipun memang tujuan menulis bukan buat dikenal ya, tapi spiritnya, untuk berbagi.

Sharing is caring… 😊☺

Jadi setiap menulis kita harus selalu meluruskan niat ya Mbak Inggi? karena nantinya akan ada PR pemasaran buku yang kita buat. Kalau keinginan kita berkarya ya fokus disitu gitu ya.. Klo fokus kita menghasilkan uang dengan menerbitkan buku, beda lagi niatnya ya? 

Iya Ndari, yang kerasa sama saya, niat itu penting banget dan bisa jadi cara kita buat bangkit kalau lagi dilanda males, dan lain-lain. 

Kalau fokusnya menghasilkan uang dari menulis buku, ya berarti kita ada target untuk buat buku best seller, pembacanya juga semakin banyak, artinya kebermanfaatannya pun insyaallah jauh lebih banyak. Tapi di sisi lain, kalau kejarannya adalah menghasilkan uang, bisa juga kita terjebak arus, misal dengan menulis apa yang orang suka, dicari penerbit, bahkan dengan mengorbankan idealisme kita misalnya… Kalau fokus ke karya, sharing, dan terus menulis, idealisme nya akan bertahan, insyaallah.

Waaah filosofinya keren :’) Sedikit curhat, saya masih kesulitan mencari waktu untuk menulis. Ada kala-nya pas ide lagi muncul langsung dicatat di aplikasi WP di smartphone. Beberapa kali menunggu anak saya tidur di malam hari baru menulis, imbasnya saya baru tidur pukul 1 pagi. Mbak Inggi ada tips untuk saya?

Sebenernya sama kok, saya juga kadang masih kesulitan mencari waktu buat menulis yang bener-bener pas, karena di rumah fokus utamanya memang menyelesaikan peran sebagai istri dan ibu dulu ya. Apalagi dengan anak yang balita yang masih sangat butuh diperhatikan dan didengarkan.

Biasanya suka membuat to do list setiap harinya. Ga detail tapi berisi hal-hal pokok yang ditargetkan untuk diselesaikan hari itu, termasuk menulis minimal sekali. Kalaupun ga bisa karena kondisi badan yang akhir-akhir ini suka mudah lelah, ya ga dipaksain juga jadinya. Masuk ke to do list besok lagi… 

Yang Ndari lakukan, saat ada ide langsung catat di smartphone itu udah bagus. Jangan biarkan ide menghilang begitu saja, tanpa terekam 😁 

Kalau ada deadline, biasanya saya komunikasikan sama suami. Izin untuk lebih banyak pegang gadget dan gantian suamu main bareng Umar, kalau Umar belum tidur. Saya biasanya memang meminimalisir pegang gadget kalau ada suami.

Baca juga : Kamu Lulusan ITB? Ko jadi Ibu Rumah Tangga?

Nah bicara tentang peran sebagai Ibu & istri, apa sih yang membuat Mbak Inggi memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, padahal Mbak Inggi lulusan Farmasi dan profesi Apoteker ITB?

Pada awalnya memang setelah melahirkan, baru memutuskan untuk resign karena memang ritme kerja di RS dan ada shift malam. Punya newborn, kalau kerja shift malam, siapa yang ngurus nanti? hehe. Meskipun saat itu masih tinggal bareng ortu dulu, saya dan suami sepakat untuk tidak menitipkan anak pada kakek neneknya. Kalaupun hire khadimat, bayi newborn kan malam hari masih cenderung sering bangun ya, ga jamin juga ada yang mau begadang untuk mengurus anak.. jadi dipilihlah resign.. 

Dan sampai sekarang masih memilih di rumah.. karena apa? Semakin banyak belajar, ternyata memang semakin banyak yang tidak saya ketahui. Semakin banyak belajar tentang parenting, jadi tersadarkan bahwa amanah anak ini bukan hal yang main-main. Alhamdulillah sekarang diberi kesempatan di rumah, ya disyukuri. Karena saya hanya ingin bisa menjawab kelak, saat Allah bertanya tentang bagaimana amanah anak ini saya tunaikan.Bukan berarti ibu bekerja tidak menunaikan amanah dengan baik ya. Tapi, saya mungkin bukan tipe yang sanggup sabar menghadapi anak setelah bekerja di luar seharian.

Anak dititipkan dalam kondisi fitrah. Dan semoga kelak ketika kembali pada Allah pun, tetap dalam fitrahnya, menjadi hamba yang bertaqwa dan jelas, itu bukan perkara yang mudah ya. Jadi, ini ikhtiar saya sekarang. 

Perjuangan saya saat ini ya di rumah, tentu berbeda dengan kondisi ibu-ibu yang lain ya… 😊

Baca juga : #KaryaCeria Tips Bonding Suami – Istri

Dari semua perkembangan Umar, kapan fase yang paaaling berkesan buat Mbak Inggi?
Semua fase pertumbuhan anak pastilah berkesan ya buat seorang ibu. Anak yang tadinya kecil, bayi, belum bisa apa-apa, semakin hari semakin banyak perkembangannya. Alhamdulillah, amazing banget ya.
Yang paling berkesan kalau dulu ngerasanya pas Umar mulai belajar jalan. Jadi reminder juga buat mengingat hidup yang udah diamanahin sama Allah.Kalau sekarang sih, suka amaze kalau Umar suka ngingetin tentang Allah, hehe. Anak mah masih fitrah sekali ya…
Hal-hal so sweet yang Umar lakuin banyak banget, hehe. Tipe anak yang perhatian, cukup perasa juga. Misal, waktu awal-awal mual muntah, Umar suka bilang, “Ummi udah belum muntahnya, biar umar yang siram muntahnya..” 😁😁😁 Suka mijitin juga, dan sigap ngasih kebutuhan Umminya.

Wooow melting dengernya :’) pasti Umar merasa sayang sekali sama Mbak Inggi ya. Kalau sounding ke Umar tentang calon adiknya, gimana?

Sounding nya kalau umar insyaallah mau punya adik, adiknya masih di dalam perut sama kaya Umar dulu. Diajak buat ikut ke dokter, merasakan gerakan adiknya dalam perut, ngajak ngobrol, dan lain-lain. Jadi lebih sering bilang sayang ke Umar, hehe.. karena ga mau Umar ngerasa ada saingan nantinya…πŸ˜…

Iyaa penting banget ya ungkapan sayang dari orang tua ke anak ini, supaya nanti setelah adiknya lahir Umar juga sayang sama adiknya πŸ™‚ Oia Umar juga sering diajak camping ya? Pernah lihat foto Umar lagi ikut camping ITSAR

Iya, Umar pernah diajak camping 2x… Dua-duanya di M-Camp ITSAR 😁

Anaknya survival ya Umar, by the way ITSAR itu apa mbak Inggi?

ITSAR itu LSM yang bergerak di bidang pembinaan remaja muslim usia SMP. Saya dan suami memang turut aktif dan fokus di pembinaan organisasi Rohani Islam SMP. Masing-masing sekolah biasanya memiliki ekskul Rohis/DKM dan saat ini ada beberapa SMP di Bandung yang udah bareng di ITSAR. Biasanya kita ada pertemuan buat bahas agenda apa aja yang mau kita lakukan dan evaluasi… 😁 Dulunya ITSAR ini forum aja, forum alumni-alumni yang peduli dengan pembinaan remaja. Jadi alumni beberapa SMP ini kumpul buat gerak bareng karena merasa kalau gerak sendiri akan lebih sulit dan lebih lambat untuk mencapai tujuan. Nah, alhamdulillah tahun 2015 lalu udah jadi LSM..

Jadi ITSAR itu seperti induk dari beberapa rohis SMP dan program-program rohis di breaking down dari mind map/blue print ITSAR ya?

Iya ndari… Seperti itu.. tapi setiap rohis SMP yang bareng kita, punya agenda internalnya juga di sekolahnya masing2…ITSAR juga memfasilitasi kegiatan gabungan rohis2 tsb, misal Camping ITSAR atau biasa disebut MCamp (Muslim Camp), ada LKO ITSAR, pelatihan mentor, futsal bareng, dll… Jadi adik2 kenal sama teman2 dari rohis smp lain..

Di ITSAR ini Mbak Inggi dan suami jadi pembina-nya?

Kalau suami jadi ketua ITSAR, Rini sih bendahara. Tapi kita ya merangkap-merangkap semua..πŸ˜†Hehe, ya jadi pembina juga… Konseptor juga…

Baca juga : Uma Hani, Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Suami

Menginjak usia 3 tahun Umar pasti makin pintar yaa, aktivitas apa aja nih yang biasa dilakukan di rumah? 😊 lihat di instagram @riniinggriani kayanya tematik banget ya..

Kalau di rumah kadang masih random juga sih, berusaha ngikutin lesson plan nya Sabumi. Tapi, kadang kalau lagi ga bisa ngikutin, apa yang ada aja. Umar suka pengen buat sesuatu dari buku 365 kreasi seru atau 365 kreasi kertas dan karton karya Fiona Watt. Disitu banyak banget yang bisa dibuat, jadi kalau ga ada ide, bisa ambil dari situ. Umar juga otomatis ambil buku dan bilang, mau buat apa hari ini Ummi? Atau kita searching printable yang sesuai dengan usia Umar 😁

Apakah menurut Mbak Inggi, kumpulan Cerita Ibu Muda yang saya post di blog ini bisa menjadi sebuah buku? Jika ya, apa yang harus diperbaiki hingga layak terbit, termasuk ke penerbit mana sebaiknya sebagai pemula?

Iyaaa Ndari, kumpulan Cerita Ibu Muda ini bisa banget jadi buku. Karena sekarang memang tema yang lagi banyak dicari berkisar tentang wanita, parenting, ibu-ibu muda yang menginspirasi dan tema-tema sejenis.

Untuk penerbit, sebenarnya kalau mau menunggu, ke penerbit mayor lebih enak ya, karena tanpa modal. Cuma konsekuensi-nya lama di waktu menunggunya. Kalau mau yang agak cepat, bisa ke penerbit indie.

Sebenernya penerbit mayor/indie sama saja ya kalau memang tujuan kita menerbitkan buku untuk menyebarkan inspirasi dan ide kita. Banyak buku yang indie atau self publishing, tapi penjualannya juga lebih oke dari yang diterbitkan oleh penerbit mayor.

Terakhir, dimana kami bisa membeli/mendapatkan ketiga buku mba Rini? 

Buku “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi” bisa diperoleh di Gramedia, buku Perempuan-perempuan Ganesa, bisa search di nulisbuku.com, dan buku Anak-anak Kolong Langit, bisa hubungi saya aja.. 😁

Oke, mbak Inggi, Alhamdulillah semua pertanyaan sudah terjawab πŸ™‚ terimakasih atas waktu dan kesediaannya berbagi ya. Sebenarnya dari obrolan kita, saya tidak hanya belajar tentang menulis dan menerbitkan buku tapi juga tentang kepedulian terhadap dunia remaja. Subhanallah, salut sama perpaduan Mbak Inggi dan suami yang sama-sama passionate sama pembinaan remaja muslim karena fase remaja juga merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak.

Barakallah ya, semoga karya-karya mbak Inggi menjadi amal jariyah, terwujud naskah novel-nya tahun ini dan kehamilan keduanya lancar hingga persalinan. Amiin.

Daaan, terimakasih sudah membaca, hope you all get many inspiration from here. Let’s share πŸ™‚

Baca juga Cerita Ibu Muda lainnya :

Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil, Butuh ‘Strong Why’

“I Love Abu Dhabi”, Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki)

Confession of A #30Yo Mami