Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu

TalkshowMeTime4

“Let’s raise children who won’t recover from their childhood”

– Pam Leo

Quote ini menohok sebagian peserta talkshow yang menyimak. Tak terkecuali saya. Dan inilah hasil tangkapan pikiran yang dapat saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sebuah refleksi sederhana dari Talkshow Me Time Sehat & Produktif Untuk Ibu.

Talkshow ini merupakan even perdana yang Tim 33 Kisah Me Time adakan di Bandung. Kontributor yang mengisi acara ini adalah Elma Fitria, Dessy Natalia, Shanty Dewi Arifin, dipandu oleh saya sebagai moderator.

Beberapa kontributor lain pun hadir untuk menghangatkan suasana di salah satu ruangan dengan kursi warna-warni di dalam Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Bandung, Sabtu, 9 Desember 2017 lalu.

Penasaran dengan isi bukunya? bisa mampir dulu kesini ya 33 Kisah Me Time – Perjalanan Ibu Bahagia

TalkshowMeTime1

Talkshow ini dibuka secara resmi oleh teh Shanty selaku Ketua dari ODOPfor99days. Tulisan-tulisan beliau dapat dilihat di shantystory.com

Beliau menjelaskan awal terbentuknya Komunitas Berlatih Menulis One Day One Post ini. Dan berujung pada mengapa kami memilih tema Me Time sebagai buku pertama kami.

Kira-kira kenapa, Moms?

Ya, karena Me Time ini merupakan kebutuhan para Ibu.

Bapak-bapak juga pasti butuh waktu menyendiri, but do you know Moms? kalau ternyata depresi itu lebih banyak dialami oleh perempuan lho.

Mengenai Me Time Sehat Dan Produktif sebagai sarana agar Ibu terhindar dari depresi dijelaskan lebih banyak oleh teh Dessy.

ME TIME YES, DEPRESI NO – Dessy Natalia

 

 

Dessy Natalia atau yang lebih dikenal melalui blog-nya ibujerapah.com adalah seorang Ibu tunggal yang berprofesi sebagai pengajar di Telkom University. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan yang berhubungan dengan literasi dan volunteering.

Ketika beliau sudah duduk menemani saya di depan, saya sempat menanyakan tentang nama bekennya : Ibu Jerapah.

Kok memilih Ibu Jerapah sebagai personal branding? ternyata beliau pernah melihat tayangan dimana Ibu Jerapah melindungi anak-anaknya dari harimau seorang diri. Ibu jerapah itu terus menghentak-hentakan kakinya hingga harimau-harimau tersebut pergi. Sejak saat itu, teh Dessy termotivasi menjadi seperti Ibu Jerapah yang strong.

Kita lanjut bahas tentang hubungan antara depresi dengan me time ya.

Definisi Depresi

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih yang memengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati (mood) dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.

Ciri-ciri Umum-nya antara lain :

  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
  • Berpikir atau mencoba bunuh diri

Sumber : alodokter.com

Nah, teh Dessy Natalia mengatakan depresi itu ada dua, yaitu depresi ringan dan berat. Dan buat Ibu-ibu yang sulit membayangkan depresi itu seperti apa, anggap saja depresi itu seperti Dementor – sang penghisap kebahagiaan dalam cerita Harry Potter.

In short, saat seseorang mengalami depresi, ia tidak lagi merasa bahagia dengan aktivitas yang dilakukannya.

Oleh karena itu, agar tidak merasa depresi, carilah cara agar kita bisa merasa bahagia. Salah satunya dengan ber-me-time, yang tentunya baik untuk kesehatan jiwa dan raga.

Satu lagi saran teh Dessy, jangan pernah sendiri. Carilah teman atau komunitas tempat kita bisa ngobrol, sharing dan mengembangkan diri. Woman empower each other.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

Apakah Teh Dessy Pernah Merasa Depresi? 

Pernah, tapi tidak beliau sadari. Selepas perceraian, Dessy masih tetap sibuk dengan kuliah S2, tesis dan mengurus anak. Ia merasa baik-baik saja. Padahal sesungguhnya ia sedang membangun gunung stress, begitu papar beliau.

Begitu lulus dan mendapat gelar master, barulah depresinya terasa. Sikapnya mulai berubah pada anak dan keluarga terdekat. Hal ini tidak terlepas dari inner child-nya.

How To Overcome It?

Untuk menangani depresinya ini, teh Dessy mencoba berbagai terapi, dan yang terakhir kali dijajal adalah self-healing. 

Beliau juga menyampaikan, Bu Elly Risman pernah mengatakan, “Temuilah inner-childmu, peluklah ia dan berdamailah dengannya”.

Setelah melalui proses terapi dan berdamai dengan inner child-nya, teh Dessy merasa depresinya berangsur-angsur hilang. Ia pun tergerak untuk melihat sisi positif dari hidupnya.

“Selema-lemahnya kita, ternyata kita teh masih bisa memberi untuk orang lain”, ucao beliau.

Dari sinilah kemudian teh Dessy menemukan sarana me time-nya, yaitu melalui kegiatan volunteering. Ada kebahagiaan luar biasa yang beliau dapatkan ketika menjadi sukarelawan.

Dan ternyata ini berhubungan sama bakat beliau lho, hasil analisa yang beliau lakukan via temubakat.com menunjukkan bahwa sifat suka melayani pada diri teh Dessy ini presentasenya paling tinggi.

Wah, ternyata cara kita ber-me-time juga dipengaruhi oleh bakat kita ya?

Masa sih? coba kita simak pemaparan teh Elma berikut ini ya.

MENGENAL ME SEBELUM ME TIME – Elma Fitria

 

 

Elma Fitria adalah Ibu dari 4 orang anak, seorang Ibu Rumah Tangga, praktisi Strength Based Life & Talents Mapping. Blog beliau elmafitria.wordpress.com silakan dikunjungi ya 🙂

Menurut teh Elma, Me Time yang sehat dan produktif adalah me time yang membuat ibu merasakan tiga hal, yaitu :

  1. Tenang
  2. Senang
  3. Berkembang

Me time yang tepat memberikan unsur relaksasi, dan setelah kita merasa rileks, kita bisa lebih meng-aktualisasi diri.

Mengenali diri kita ternyata membantu kita menemukan me time yang cocok dengan bakat kita. Contohnya keselarasan antara bakat teh Dessy dan kebahagiaan yang ia dapat dari menjadi sukarelawan.

Kalau teh Elma gimana? bakat beliau yang paling menonjol adalah berpikir. Beliau senang dan terus berpikir bahkan ketika sedang bergerak. Sehingga me time yang pas untuk beliau adalah duduk sejenak, sendirian, di tempat hening lalu merenung.

Jika setiap hari teh Elma memiliki waktu me time seperti ini, esok harinya ia akan siap berhadapan dengan ke-empat anaknya yang hampir tiap 5 menit sekali memanggil, “Bunda.. Bunda.. Bunda”.

Yang sulung mau apa, yang kedua kebutuhannya apa, anak ketiga dan keempat maunya apa 🙂

Beliau mengatakan, “Sadar gak Bu, kenapa tidak ada satu pun orang yang sama persis di dunia ini? itu karena ketika Allah meniupkan ruh pada rahim Ibu, Allah juga membekali jabang bayi tersebut dengan spesifikasi masing-masing. Ini yang membuat bakat tiap orang berbeda, Ibu yang satu dengan yang lain tidak sama, tantangan yang di hadapi juga berbeda”.

Tanyalah pada diri sendiri, “What kind of mother I will be?”.

Kenali potensi diri kita, agar kita bisa menjadi the best version of us.

Sejujurnya di part ini, saya jadi paham sih, kenapa Ibu-ibu teh ada yang lebih cocok buka usaha, bisnis, jadi pengajar, bergerak di lapangan, kerja kantoran termasuk ibu rumah tangga.

Dalam talkshow ini, teh Elma juga memberi simulasi sederhana untuk mengetahui what kind of person we are melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

“Apakah kita suka bertemu orang?”

“Kita lebih suka berpikir atau bertindak?”

“Lebih sering menggunakan otak kanan/kiri?”

“Suka aktivitas indoor atau outdoor?”

Nah dari pertanyaan sederhana ini akan muncul presentase-presentase.

Saya sendiri merasa lebih nyaman di rumah, suka bertemu orang, lebih sering menggunakan otak kanan dan prefer aktivitas di dalam ruang. I think this is why saya senang menjadi Ibu Rumah Tangga dan saling mengunjungi dengan teman-teman saya.

Teh Elma juga berpesan, agar mejadi Ibu yang bahagia, selain meluangkan waktu untuk me time yang menyenangkan juga produktif, kita perlu berdamai dengan inner child kita. Sama seperti anjuran teh Dessy ya.

Another kicking line yang saya ingat adalah

“Kita mau menabung trauma atau kebahagiaan pada anak kita?”

the choice is ours.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu & Bersenang-senang Dengan Anak

KESIMPULAN

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari talkshow ini adalah, untuk membesarkan anak dengan bahagia, seorang Ibu perlu merasa bahagia. Artinya jauhkan diri dari hal yang bikin depresi. Salah satu caranya adalah dengan meluangkan waktu untuk me time. Harapannya me time ini bisa me-recharge semangat dan bikin kita happy.

Dan dengan happiness yang kita rasakan ini, kita memiliki lebih banyak energi untuk bisa produktif dalam keseharian kita. Baik sebagai IRT, Ibu bekerja, Ibu berbisnis dan lain-lain.

Segini yang bisa saya bagi. Bakal lebih luar biasa feel-nya saat ketemu sama dua Ibu keren ini secara langsung. Saya sampai terharu saat talkshow. Antara merinding dan terinspirasi dari keduanya.

Jazaakumullah buat teh Shanty, teh Elma dan teh Dessy juga semua kontributor dan pembaca 🙂

Special thanks also buat teh Wilda, untuk desain flyer, spanduk dan banner yang kece serta foto-fotonya.

 

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria 🙂

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru 🙂

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu 🙂

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh 🙂 long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? 🙂

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima 😀

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 😃 Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

#Memesonaitu Menjaga Lisan Kita

lisan2

Biasanya saya sedikit takut untuk jujur dalam tulisan saya, lebih disebabkan karena saya takut kehilangan teman-teman, dikritik dan dibully. Tapi semoga tulisan saya kali ini bisa diambil positifnya, dan memberi inspirasi bagi yang membaca.

Arti #Memesonaitu Bagi Saya

Bismillahirrahmaanirrahiim, maaf ya kalau jadi curhat sedikit. Saya sedang belajar menjadi Ibu yang baik, termasuk berhati-hati bicara dengan anak saya, karena seperti kata pepatah, “Children are great imitator, so give them something good to imitate”. Bakal terasa sakitnya ketika anak-anak kita sudah dewasa nanti dan mereka meniru atau menyerap kebiasaan buruk kita sebagai orang tua. Di sisi lain, saya juga seorang manusia biasa yang sedang berjuang melawan sisa-sisa apa yang para ibu sebut ghost of parenting sekaligus struggling to be a better me. Faktanya? Makin besar anak saya, stok kesabaran saya mulai menipis, makin berharap ia cepat paham, mulai menuntut anak saya untuk cekatan saat membereskan mainannya, meminta ia untuk lebih memahami saya, padahal jelas-jelas saya sebagai orang dewasa yang seharusnya lebih memahami dunia anak-anak, karena saya sudah melewati masa kanak-kanak, ya kan?

#memesonaitu menjaga lisan saya dari berkata-kata yang kasar

Dari semua sikap yang paling saya sesali adalah kalau saya marah pada anak saya, tapi semarah-marahnya saya pada putri kecil saya yang berusia 3 tahun, sebisa mungkin saya tidak mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata yang kasar. Kalau iman saya lagi bagus biasanya saya tarik nafas dan mencoba untuk duduk, istigfar, menghindari anak saya barang sebentar ke kamar, me-rem mulut saya begitu ingat hadist riwayat Thabrani ini, “Laa taghdob walakal jannah” yang artinya “Jangan marah, maka bagimu surga”.

Baca juga : Laa Taghdob – Menahan Amarah

By the way, kenapa ya limit kesabaran saya menurun akhir-akhir ini? Sebetulnya hal ini wajar ya, saya juga suka bertanya pada teman-teman saya apakah mereka pernah marah pada anaknya? Dan mereka jawab, “Ya pernahlah”, wajar karena seiring bertambahnya usia anak saya ia makin lincah, nggak bisa diem kalau di rumah, makin kritis yang kalau dikasih tahu balik nanya atau kalau tidak sesuai dengan logikanya ya anak saya nggak bisa langsung sepakat dengan apa yang saya katakan. Bagus, cerdas, mungkin saya saja sebagai Ibu-nya yang harus lebih mengasah skill dalam managemen emosi dan menambah ilmu pengetahuan saya tentang segala sesuatu. Gemes gitu kaaan anak yang masih kecil energinya besar banget dan dipakai untuk mengeksplor berbagai hal setiap harinya.

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat,
akan tetapi orang yang kuat adalah
yang mampu menahan jiwa-nya ketika marah”
[HR. Bukhari Muslim]

I’m not angry all the time, kalau all the time mah kayak Hulk atuh ya, saya hanya marah ketika saya jenuh, terlalu lelah dan saat pikiran saya terganggu oleh beberapa hal, makannya salah satu cara agar saya nggak tersulut emosi adalah menghilangkan pemicunya. Misal nih, kalau pikiran saya mulai diracuni oleh komentar-komentar miring orang lain di sosial media tentang saya, berarti sudah waktunya bagi saya untuk detox socmed. Kalau tersulutnya emosi saya karena kerjaan rumah belum kelar dan lantai yang sudah di pel langsung dipenuhi oleh mainan anak saya kemudian memori masa kecil saya tiba-tiba datang melanda, ya saya harus bisa… bisa apa ya? Bisa menangis dulu sejenak mungkin, hehe, supaya lega dan nggak bikin anak saya menjadi sasaran pelampiasan kegalauan saya.

Bukan apa-apa, ketika kecil, saya biasa di-bully oleh anak-anak nakal, mereka tidak hanya memukul dan menendang saya tapi juga mengata-ngatai saya dengan kata yang ada unsur binatang-nya, maaf saya tidak bisa menyebutkannya disini. Begitu pun orang dewasa, ada saja yang ngomong menggunakan bahasa hewan ketika emosi, yea, I thought people would only use sarcasm when they are out of control and stressed out. Alhamdulillah, saya nggak tergerak sama sekali untuk mengulangi perkataan kasar anak-anak nakal dan orang dewasa tipe ini, tapi juga saya nggak sanggup kalau sekarang setelah menjadi Ibu, bertemu dengan orang tipe ini sering-sering.

Alangkah kagetnya saya, bukan karena saya naif tapi karena saya memang lebih sering beraktivitas di rumah dan ketika naik angkot, ada dua orang remaja berseragam SMA yang dengan santainya ngobrol di angkot sambil di akhir tiap kalimat yang mereka ucapkan ada imbuhan kata-kata dengan unsur binatangnya.

‘Apa mereka nggak lihat ya disini ada anak kecil? Gimana kalau anak saya dengar terus ngikutin?’,

‘Mereka belajar apa sih di sekolah sampai bicaranya seperti itu?’,

‘Gimana perasaan orang tua dan gurunya kalau tahu mereka ngobrol se-enteng itu menggunakan bahasa binatang?’,

Pertanyaan-pertanyaan yang agak sinis ini sontak muncul dari benak saya, reflek gitu. Pantas saja sahabat saya pernah bilang kalau dia lebih memilih naik kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum karena ada kemungkinan kita ketemu orang dengan gaya bicara yang berbeda dan memungkinkan diserap oleh anak kita, perokok yang asapnya bakal sedikit terhisap oleh anak kita, dan lain-lain. Ini membuat saya sadar bahwa saya sebagai seorang Ibu harus bisa menjadi filter pertama bagi anak saya. At least saya tidak bicara seperti itu, tidak ngomong kasar dan tidak bicara menggunakan bahasa yang ada unsur binatangnya.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu & Have Fun Dengan Anak

Lebih mengejutkan lagi bagi saya karena ternyata beberapa anak sekolah hingga kuliah, beberapa ya, nggak semua, bahasanya nggak terkontrol dengan baik. Rasanya pengen bilang, “Kalian masih ngomong pakai bahasa binatang? Hellooow, ini tahun 2017 lhooo!”, come on guys, I thought it was so yesterday. Saya pikir kata-kata kasar macam ini tinggal sejarah yang tertimbun bersama kenangan pahit masa kecil saya. Saya pikir kata-kata yang ada unsur binatangnya itu sudah nggak nge-tren lagi sekarang.

Orang yang mengenyam pendidikan itu diharapkan bisa memiliki tutur kata yang lebih sopan daripada orang yang tidak seberuntung kita, yaitu bersekolah. Orang tua mengirim anaknya sekolah tinggi-tinggi itu karena mereka berharap anaknya jadi lebih baik dari mereka, memberi kontribusi yang lebih baik termasuk berbahasa dengan santun. Orang yang berilmu diharapkan mampu belajar membedakan mana yang baik dan buruk, bukan malah terbawa arus. Sudah tahu jelek kok diikuti? Begitu analoginya.

Tapi saya pun nggak bisa sekonyong-konyong menyalahkan generasi-Y ini, sekolah nggak bisa jadi satu-satunya parameter baik/buruknya tingkah laku dan lisan seseorang, bagaimana pun lingkungan tempat kita beraktivitas sangat berpengaruh terhadap sikap, kebiasaan dan gaya bahasa kita. Bisa jadi mereka seperti itu karena lingkungan tempat mereka dibesarkan mendukung mereka untuk bisa bebas bicara menggunakan bahasa yang ada unsur binatangnya. Ya dengan siapa kita bergaul bakal sedikit banyak mempengaruhi kita. Atau mungkin awalnya mereka korban seperti saya, buruknya mereka menyerap bulat-bulat, menganggap orang yang bicara kasar punya power to control others, kayak keren gitu pengen dianggap gaul. Inilah kenapa kita harus hati-hati dalam bicara, kita nggak pernah tahu apa efeknya bagi orang lain yang mendengar, salah-salah mereka malah ngikutin kan? Bukannya jadi amal jariyah, perkataan kasar yang diucapkan malah menambah timbangan amal buruk di akhirat nanti.

“Ah nggak asik lo, anak muda jaman sekarang kan ngomongnya gini”,

“Serius amat sih hidup lo”,

Pernah banget dikomentarin seperti ini sama beberapa orang, awalnya saya kepikiran, siapa sih yang nggak ingin diterima dalam lingkaran pertemanan dan dianggap asik buat diajak ngobrol maupun hang out? BUT WAIT, nggak asiknya karena apa nih? Karena saya kurang suka nge-gosip? Karena saya kurang update sama berita artis tanah air masa kini? Karena saya nggak lihai untuk ghibah? Karena saya bener-bener nggak bisa mengeluarkan kata-kata yang ada unsur binatangnya?

Mau dianggap asik sama siapa sih? Sama segelintir orang yang menganggap kelompok mereka gaul atau dianggap ASIK SAMA ALLAH SWT?

#Memesonaitu Menjaga Lisan

Senang sih ya kalau bisa dianggap asik sama Allah SWT dan juga semua orang, tapi sayangnya kita nggak bisa mempertahankan beberapa teman kita yang mungkin frekuensinya sudah agak berbeda dengan kita.

lisan3

I’m a mother now, saya ingin anak saya memiliki hidup yang lebih baik dari saya, termasuk menjaga telinganya dari kata-kata yang tidak dibutuhkan oleh otak dan hatinya, seperti kata-kata yang ada unsur binatangnya. Saya tidak bisa mengontrol apa yang orang lain akan bicarakan di hadapan anak saya, bagaimana percakapan antara teman-temannya saat ia mulai bersekolah nanti, obrolan penumpang dengan penumpang lain di kendaraan umum, di pasar, di mall, di jalan, dimana pun anak saya akan beraktivitas nantinya. Saya tidak akan selalu bisa menjaganya seperti sekarang karena ia akan terus tumbuh berkembang. Tapi seminimal-minimalnya, saya sebagai Ibunya akan menjadi filter pertama baginya dalam menyaring kata-kata yang baik dan buruk. Dan sebaik-baik perkataan adalah yang mengajak kita kepada kebaikan.

I’m a mother now. Segala sesuatu yang saya lakukan bakal memberi pengaruh pada anak saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya seorang Ibu yang katanya, semua perkataan saya akan jadi do’a untuk anak saya.

#memesonaitu menjaga lisan saya

Ya, bagi saya, #memesonaitu adalah menjaga lisan saya dari perkataan yang kasar, dari pembicaraan yang kurang berguna, dan dari pendengaran anak saya. Sekali lagi, saya bukan sok suci, justru saya ingin menjadi lebih baik dihadapan Allah SWT, ini dalam rangka belajar dan buat saya #memesonaitu belajar untuk menjaga lisan saya.

Nah, bagaimana nih agar makin memesona dengan lisan yang terjaga?

Seorang Ibu akan lebih memancarkan pesonanya saat tutur katanya lemah lembut, pilihan kata-nya baik, penyampaiannya menyenangkan dan menenangkan. Hal-hal seperti inilah yang dirindukan dari sosok seorang Ibu, sebagai Ibu pembelajar kita tidak boleh menyerah, terus berlatih agar lisan kita makin terjaga. Ada beberapa cara nih agar lisan kita makin memesona, yaitu :

  1. Mendekatkan diri pada Al-Qur’an dan hadist
  2. Bergaul dengan orang-orang yang lembut hatinya dan perkataanya, sehingga kita termotivasi untuk menjaga lisan juga
  3. Menghadiri majelis ilmu, membaca artikel-artikel seputar urgensi menjaga lisan baik dari buku maupun situs-situs di internet
  4. Berlatih untuk berbicara dengan lembut dan sopan di hadapan semua orang, terutama anak kita, pikirkan dulu baik-baik sebelum mengungkapkan segala sesuatu
  5. Senantiasa berdo’a kepada Allah SWT agar hati-pikiran-lisan kita dijaga dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat

    “If everyone is pleased with you and Allah is not, what have you gained? And if Allah is pleased with you, but no one else is, what have you lost?” 

    Okey, demikian sharing mengenai #memesonaitu versi saya. Yuk pancarkan pesona kita sebagai wanita dengan menjaga lisan 😉

    Baca juga : Beautiful Words

    Tulisan ini saya ikut sertakan pada Lomba Blog Pancarkan Pesonamu

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Me-Time Versi Mami Jasmine

    Setiap manusia membutuhkan ruang untuk diri sendiri, baik untuk merenung, beristirahat, meraih semangat kembali, maupun mengilangkan stress, tak terkecuali seorang Ibu rumah tangga seperti saya. Sebagai Mami dari Jasmine, bisa dikatakan kalau saya nempel 7 hari 24 jam termasuk berpelukan saat tidur dengan putri saya sejak ia lahir hingga saat ini, ketika usia Jasmine menginjak 3 tahun.

    Sekilas tentang saya, saya adalah aktivis kampus yang cukup aktif di organisasi, pecicilan dan suka bekerja terutama karena dengan bekerja saya memiliki penghasilan. Setelah menikah, saya mantap resign namun masih beraktivitas, yaitu mengajar di Kelompok Bermain dan menjadi pemandu acara. Salah satu hobi produktif saya adalah menjadi MC/pemandu acara di berbagai acara. Sejak kuliah saya menggeluti bidang ini, saat hamil pun saya masih mengambil beberapa job MC.

    Begitu Jasmine lahir, saya bertekad mengurus dan membesarkan Jasmine sendiri, tanpa dibantu ART maupun dititipkan ke day care. Sebetulnya saya pernah mengerjakan sebuah proyek selama 2 bulan sehingga Jasmine yang kala itu berusia 8 bulan harus masuk ke day care. Saya menangis setiap pagi ketika mengantarnya ke day care, rasa bersalah bercampur tidak tega membuat saya memilih untuk serius menjadi ibu rumah tangga.

    Profesi baru yang saya tekuni ini ternyata tidak semudah yang saya kira. Banyak pekerjaan rumah yang saya rasa sama pentingnya dengan kerjaan di kantor, sama-sama ada deadline, ada keteraturan juga cukup menguras tenaga dan pikiran, belum lagi perihal mengelola emosi. Seperti ucapan sahabat saya yang mengatakan, “Kalau tidak cerdik mengelola emosi, bisa jadi saat anak kita tantrum, alih-alih menenangkan anak, Ibunya malah ikut tantrum”.

    Itulah mengapa, seorang Ibu Rumah Tangga pun butuh yang namanya refreshing, break sejenak dari rutinitas memasak – mengurus anak – menyapu – mengepel – mencuci piring yang ada lagi ada lagi – mengucek pakaian – menjemur – menyetrika – melap debu dan sederet pekerjaan rumah lain yang tidak ada habisnya.

    Bagaimana pun, saya sangat menikmati profesi baru saya ini, sebagai seorang Ibu rumah tangga, karena saya senang bermain dengan anak saya yang lincahnya luar biasa. Atau lebih tepatnya saya sangat menikmati menjadi stay at home mom di 3 tahun pertama. Tahun keempat ini sebagian diri saya mulai merasa jenuh, ingin rasanya kembali beraktivitas di luar rumah sesekali seperti nge-MC lagi atau minta cuti sehari dari tugas rumah lalu tidur atau nonton film seharian, but this just never happen.

    Saya pun mulai mencari-cari celah untuk me-time, time to enjoy being with myself alone. Kalau beberapa ibu-ibu me-time-nya ke salon, dipijit atau facial, belanja online, menulis, dan lainnya, me-time versi saya sederhana banget. Jangan tertawa yaa..

    Me-time versi Mami Jasmine adalah menyetrika dan memasak! Lho kok menyetrika dan memasak? Dimana metime-nya? Sebut saja ini metime colongan karena saya menyetrika sambil menonton Asian Food Channel, salah satu stasiun TV yang menghadirkan acara masak-masak. Saya suka keduanya, menyetrika dan menyimak cooking channel serta bereksperimen di dapur.

    Saya senang saat momen menyetrika tiba, biasanya malam hari sekitar pukul 20.00. Saya akan meminta Jasmine masuk ke kamar dan mendengarkan ayahnya bercerita, sekaligus mengantarkannya tidur. Lalu saya akan menggelar alas dan pakaian yang sudah dijemur. Menyemprotkan pewangi ke pakaian yang akan disetrika menenangkan suasana hati, melihat kaos-kaos Jasmine yang tadinya kusut menjadi rapi seolah menguraikan keruwetan yang sempat singgah di pikiran saya, menggosok kerutan-kerutan pada lengan dan kemeja suami hingga mulus kembali menjadi terapi tersendiri bagi saya pribadi.

    Sambil menyetrika saya menyetel TV kabel, tayangan favorit saya adalah Gordon Ultimate Cooking Course dan Dinner At Tiffany. Gordon Ramsay memasak dengan cepat, tidak bertele-tele, tekniknya beragam dan masakannya terlihat mudah serta lezat sekali, memotivasi saya untuk bilang, “Saya bisa menghidangkan itu!”.

    Saya juga menyukai Tiffany karena ia mengundang teman-temannya untuk makan malam bersama. Saya menyenangi acara memasak yang melibatkan perasaan, keluarga dan persahabatan. Memasak dan mengundang keluarga serta teman-teman saya ke rumah adalah hal yang ingin saya lakukan. Selama memasak, Tiffany akan mengobrol dengan teman-temannya di dapur. Teknik memasak Tiffany berbeda dengan Gordon Ramsay yang sangat ilmiah, teknik Tiffany sederhana namun beliau sering memodifikasi masakan sederhana menjadi lebih mewah dengan menambahkan atau mengganti bahan tertentu, lebih mudah untuk saya aplikasikan di rumah.

    Sejujurnya, semakin sulit teknik memasaknya, saya makin tertarik. Rasanya seperti men-transfer berbagai kerumitan hidup dalam proses memasak, seperti saat mengaduk adonan, memipihkan pie crust, dan mengulek bumbu, its releasing stress. Ketika saya berhasil menghidangkan masakan yang lezat untuk keluarga, saya merasa bahagia. Ini membuat saya semangat dan siap menjalani aktivitas lainnya.

    Selamat metime dan re-charge energy ibu-ibu!

    Tentang Penulis

    Assalamu’alaykum, perkenalkan nama saya Sundari Eko Wati. Saya adalah Mami dari Jasmine (3 tahun) dan lebih sering beraktivitas di rumah. Ketertarikan saya paa bidang menulis sudah ada sejak kecil, biasanya saya menulis di buku diary. Dan sejak memiliki blog saat kuliah, saya mulai suka menerbitkan beberapa curahan pikiran dan hati saya di sundariekowati.wordpress.com

    Tahun ini saya bergabung dengan grup One Day One Post For 99 Days, disinilah saya mulai rutin menulis 2 artikel per minggu, sebelumnya tidak teratur. Terimakasih sudah membaca, doakan ya agar tulisan dengan judul ‘Me-Time Versi Mami Jasmine’ ini bisa masuk antologi 99 Me Time Stories.

     

     

    Cerita Iie : Ramadan, Melahirkan dan Kuliah Gratis di Swedia

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita

    -Iie

    Belajar bisa dari mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari Ibu muda yang satu ini. Seperti yang sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya, sharing antar sesama ibu muda akan membantu kita untuk tahu bahwa bukan hanya kita loh newbe in motherhood community yang sama-sama berjuang menjalankan peran kita sebagai Ibu.

    Sedikit tentang beliau, saya mengenal Iie saat kami masih beraktivitas di Sekolah Bermain Balon Hijau, what a cute name right? SBBH adalah kelompok bermain non-formal yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah Bandung dan diprakarsai oleh 3 orang mahasiswi ITB, lebih lanjut tentang SBBH kita bahas di lain kesempatan ya.

    Iie adalah satu dari sekian banyak fasilitator di SBBH, one thing about her, she seem very mature though her age is younger than me. Terlihat dari sikapnya yang lembut, antusias dan sabar, Iie adalah sosok wanita yang menyayangi anak.

    She also married in a young age! pemilik nama lengkap Dery Hefimaputri ini menikah saat ia masih menjadi mahasiswi Engineering Management di ITB. Kini Iie menetap di Swedia bersama putrinya, Asiyah dan suaminya yang juga berkuliah dan bekerja disana. Alhamdulillah Iie bersedia untuk saya interview dan berbagi mengenai banyak hal. Yuk simak obrolan kami.

    Assalamu’alaykum Iie, apa kabar?

    Wa’alaykumsalam Wr Wb, Alhamdulillah baik dan sehat.

    Setelah cukup lama LDR dengan suami, sekarang Iie sudah tinggal dengan Asiyah dan suami di Swedia ya. Bagaimana rasanya berkumpul bersama dan membangun keluarga di Swedia?

    Iya, setelah LDR Gothenburg- Bandung selama kurang lebih dua tahun, akhirnya mulai Juli 2014 alhamdulillah bisa ikut menemani suami merantau. Rasanya dream comes true, salah satu keinginan terbesar saya adalah bisa membangun keluarga di satu atap, jadi istri seutuhnya, Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebenarnya dimana pun bagi saya ga masalah selama bersama suami dan anak, kebetulan Allah pilihkan Gothenburg-Swedia saat ini. Tiap tempat ada positif negatifnya, tergantung kita mau lebih menekankan yang mana. Wah kalo ditulis detil bisa panjang sekali, hehe.

    Asiyah juga lahir di Swedia ya? Bagaimana pelayanan kesehatan disana?

    Iya, Asiyah lahir Oktober 2014 di Gothenburg. Pelayanan kesehatan disini pada dasarnya gratis selama kita punya nomor sosial disebut juga personnummer, personnummer ini diberikan untuk penduduk Swedia maupun pendatang yang akan tinggal selama minimal setahun.

    Kebetulan personnummer saya baru jadi saat dua minggu menjelang lahiran, agak deg-degan juga tuh karena tanpa personnummer saya harus bayar biaya melahirkan yang sama sekali ga murah (sekitar Rp 45juta- tak hingga, bergantung kerumitan persalinan). Kabarnya bisa sih minta keringanan, tapi kami kurang tahu infonya tentang ini, dan tentu berharapnya gratis aja. Alhamdulillah ternyata personnummer bisa keluar sebelum due date, jadilah persalinan saya gratis, begitupun biaya control setelahnya.

    Biaya control kehamilan sebelum personnummer ada itu mencapai 540 SEK (Rp 870.000). Padahal control kehamilan disini benar-benar sederhana, hanya cek darah, tensi, ukur lingkar perut, dan cek detak jantung (USG hanya dilakukan sekali di usia kehamilan lima bulan, selama kondisi hamil normal/ ibu <35 tahun, dsb).

    Pelayanan kesehatan disini sangat memanusiakan manusia, proses kelahiran didorong sealami mungkin, penuh aura positif, mandiri, dan setiap orang (baik pendatang atau bukan) diperlakukan dengan sangat baik. Beberapa kali saya dengar cerita kelahiran di Indonesia dimana tenaga kesehatan (khususnya perawat atau bidan) yang mudah melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, atau menurunkan semangat ibu melahirkan. Disini hal seperti itu, sejauh pengalaman saya dan orang-orang sekitar, tidak ditemui. Disini bila kehamilan sehat, tidak ada masalah, maka seluruh proses dari pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan akan ditangani oleh bidan. Hanya satu bidan yang menunggui sampai bukaan hampir lengkap, dan paling ada tambahan 2-3 bidan di proses mengejan, benar-benar menjaga privacy, tenang, dan efisien.

    Bidannya pun benar-benar memandang proses kehamilan dan kelahiran adalah hal yang alami, bukan penyakit yang harus penuh kekhawatiran. Bidan berhasil menanamkan sugesti-sugesti positif kepada saya, dan membantu saya memandang proses kelahiran dengan yang seharusnya.

    Saya ingat salah satu wejangan beliau sebelum saya melahirkan, “Menjelang melahirkan nanti, kontraksi memang akan terasa sakit, saya ga akan menjanjikan bilang bahwa itu ga sakit. Tapi, yakinlah, itu adalah sakit yang baik, sakit yang positif, sakit yang menandakan bahwa sebentar lagi anakmu akan hadir dipelukanmu.”

    Kata-kata itu benar-benar indah dan membuat saya semangat menyambut gelombang cinta kontraksi, pengalaman melahirkan jadi momen indah yang menyenangkan, Alhamdulillah ga ada trauma dan sejenisnya.

    Kalau Swedia sendiri, Negara yang seperti apa di mata Iie? is it a family-friendly country?

    Ya, Swedia adalah Negara sosialis, yang tentunya menjunjung tinggi kesamaan dan kesetaraan. Karena semangat kesetaraan itulah, dimana mereka menganggap peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus sama, maka dibuat aneka kebijakan yang mendukung. Contohnya adanya cuti berbayar bagi orang tua (paid parental leave) selama 480 hari yang dapat diambil oleh kedua orang tua, preschool dengan kurikulum yang jelas (biasanya anak-anak diatas usia setahun mulai masuk preschool karena orang tuanya mulai bekerja lagi setelah parental leave usai), kultur yang menomorsatukan urusan keluarga (kalau sewaktu-waktu cuti karena anak sakit, ga ada yang berani protes, family is number one priority).

    Setelah kurang lebih dua tahun disini, saya mau mencoba melihat segala sesuatunya dengan proporsional, ga terlalu silau dengan segala perbedaannya dengan negeri sendiri. Tentu banyak yang bisa dipelajari, tapi ga menutup kemungkinan juga dibeberapa aspek Indonesia masih juara di hati. Misalnya semangat gotong royong, disini apa-apa cenderung mandiri, dan sebagainya.

    Ini Ramadan kedua Iie bersama Asiyah dan suami di Swedia, boleh diceritakan tentang suasana Ramadan disana? Apakah kalian suka ikut iftor jamaai yang diadakan di Masjid-masjid di Swedia atau mengadakan open house di rumah Iie?

    Disini puasa sekitar 19 jam, jadi kalo buka puasa bersama selesainya bisa sangat larut, maghrib saja hampir jam setengah 11 malam. Biasanya tiap tahun kami juga adakan satu atau dua kali saja buka puasa bersama di rumah bersama teman-teman mahasiswa. Keseringan ga bagus juga karena bikin begadang ^^ Salah satu hal yang saya syukuri dari puasa disini adalah jadi bisa lebih focus ibadah, ga banyak terdistrak buka puasa bersama yang kerap kali malah melalaikan.

    Biasanya suami aja yang ke masjid sedangkan saya dan Asiyah di rumah. Alhamdulillah kami tinggal di daerah pendatang muslim, jadi ada mushola di dekat apartemen kami, hanya berjarak lima menit jalan kaki. Kalau ke masjid kota sekitar 30-40 menit naik tram.

    Kalau lebaran biasanya ada warga (WNI yang menikah dengan penduduk setempat atau sudah tinggal menetap di Swedia) yang membuat open house jadi kami silaturahmi kesana.

    Nama lengkap Asiyah adalah…

    Asiyah Rania Sveanisa Adefys

    Artinya…

    Asiyah dari nama Asiyah Binti Muzahim, salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa yang telah dijanijkan surga (bersama Khadijah, Maryam, dan Fathimah). Ia adalah ratu mesir di zaman  Nabi Musa AS, yang juga adalah ibu asuh Nabi Musa AS. Ia adalah ratu yang lembut hatinya, cerdas, dan kokoh tauhidnya. Kami memang bertekad ingin memberikan nama anak-anak kelak dengan nama-nama tokoh muslim/ah, agar mereka dapat meneladani segala kebaikan dalam diri tokoh tersebut.

    Rania berarti ratu, selaras dengan kata Asiyah yang juga adalah ratu mesir di zaman Musa.

    Sveanisa; Svea artinya swedia, nisa artinya perempuan dalam bahasa arab. Kurang lebih perempuan muslimah yang lahir dan tumbuh di Swedia. Biar ada kenang-kenganan dari tempat kelahirannya.

    Adefys; singkatan nama saya dan suami.

    Kalau nggak salah, Asiyah sudah ikut pre-school ya? Udah belajar apa aja nih Asiyah?

    Sekarang Asiyah belum masuk preschool, baru rutin ke öppna förskolan (open preschool) saja. Bedanya apa? Kalo preschool, sebagaimana daycare, anak ditinggal bersama gurunya. Sedangkan öppna förskolan, ibu atau ayah masih menemani mereka bermain, istilahnya seperti playdate yang difasilitasi aja. Di öppna förskolan juga ada kegiatan-kegiatan bersama, setiap rabu outing keluar, setiap kamis sarapan bersama, sering juga ada kunjungan penyuluhan mulai dari dokter gigi, psikolog, fisiologis petugas perpustakaan, dsb. Biasanya kita ke öppna förskolan tiga kali seminggu selama tiga jam.

    Sebagai orang yang pernah mengajar di Kelompok Bermain, bagaimana pandangan Iie terhadap pendidikan usia dini di Swedia?

    Karena Asiyah belum masuk preschool jadi saya belum bisa komentar banyak tentang pendidikan usia dini di Swedia. Hanya sajauh yang saya tahu, preschool disini menerima anak sejak mereka berusia diatas setahun dan sudah bisa jalan. Disini tidak ada daycare untuk anak dibawah usia setahun, karena diharapkan anak dibawah setahun diasuh oleh orang tua secara langsung dan penuh, Negara pun sudah memfasilitasi cuti berbayar selama 480 hari untuk menunjang hal ini.

    Preschool ini berbeda dengan daycare walaupun prinsipnya sih serupa ya, anak dititipkan disekolah, bedanya mereka punya kurikulum dengan standar dan control yang sangat jelas dan ketat. Secara berkala tiap preschool akan dicek, dan kualitas tiap preschool sama, jadi ga ada sekolah unggulan dan sejenisnya. Preschool sendiri ada yang milik pemerintah dan swasta (biasanya yang international), keduanya tetap harus mengacu pada kurikulum Negara dan diperiksa secara berkala.Peraturannya pun sangat ketat, misal bila anak demam kapan boleh masuk sekolah lagi, kalau anak muntah kapan baru boleh masuk sekolah lagi, dan sebagainya.

    Prinsipnya sekolah wajib di Swedia gratis, sekolah wajib sendiri dimulai dari SD tingkat nol (usia lima tahun), jadi preschool tetap bayar dengan batas maksimal 3% gaji orang tua dengan batas 1100SEK (sekitar RP 1,7juta).

    Agustus ini Iie juga akan lanjut S2, apa yang memotivasi Iie untuk kembali bersekolah? Serta Universitas dan jurusan apa yang Iie pilih?

    Saat ini saya sudah diterima di jurusan Management and Economics of Innovation, Chalmers Institute of Technology, Gothenburg.

    Ada beberapa faktor yang mendorong saya untuk sekolah lagi.

    Pertama, memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan diri. Saya merasa ini kesempatan besar bagi saya untuk mengasah mulai dari kemampuan bahasa, softskill, maupun ilmu yang semoga bisa diterapkan dikemudian hari. Kebetulan kuliah disini gratis karena saya telah memiliki izin tinggal dependent suami.

    Kedua, saya menganggap kuliah lagi ini sebagai ‘hiu kecil’ yang akan memaksa saya bergerak dan berpikir secara lebih efisien dan efektif.

    Pernah dengar cerita tentang adanya hiu di baskom ikan kapal nelayan? Mereka meletakan hiu dalam baskom ikan agar ikan-ikan itu terus bergerak dan akhirnya sedikit yang mati setelah sampai daratan.

    Ketiga, saya berharap ilmu yang didapat diperkuliahan dapat saya terapkan untuk maslahat yang lebih luas, baik itu menjadi pendidik maupun membuka lapangan pekerjaan. Sebenarnya saya pun masih terus meminta petunjuk Allah, terus berdoa sampai detik terakhir untuk ditunjukan jalan yang terbaik. Mohon doanya ya.

    Bisa diceritakan lebih detail mengenai mekanisme pendaftaran kuliah disana? Dengan Iie yang saat ini berdomisili di Swedia, apakah surat rekomendasi Dosen, sertifikat IELTS, dan LoA  masih dibutuhkan?

    Segala syarat, jurusan, dan hal-hal terkait kuliah di Swedia bisa dilihat di web universityadmission.se, Swedia memang memiliki portal satu pintu untuk pendaftaran universitas disini. Tiap jurusan boleh jadi mensyaratkan hal yang berbeda. Saya sendiri butuh ijasah (asli dan terjemahan), transkrip (asli dan terjemahan), CV, IELTS, dan beberapa dokumen optional (motivational letter dan surat rekomendasi). Semua dokumen cukup di scan, kalau diterima nanti aslinya ditunjukan saat hari yang ditentukan menjelang masuk nanti. Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah jalur tanpa beasiswa, kalau untuk beasiswa sendiri kebanyakan dari LPDP atau Swedish Institute yang perlu syarat tersendiri ke institusi terkait.

    Untuk mendukung Iie melanjutkan studi, suami Iie akan mengambil Parental Leaving, could u explain what is that?

    Parental leave adalah cuti berbayar (kurang lebih 80% dari salary) untuk kedua orang tua selama 480 hari per anak yang dapat diambil sampai anak berusia 8 tahun. Ada ketentuan tersendiri misal tiap orang tua wajib mengambil masing-masing minimal dua bulan, setelahnya bebas dihabiskan oleh siapa jatah cuti tersebut. Bagi orang tua yang tidak bekerja, juga bisa mengajukan parental leave, dengan dianggap standar gaji terendah.

    Karena disini menjunjung tinggi kesetaraan, maka mereka beranggapan wanita memiliki hak (atau kewajiban?) untuk bekerja. Tapi sebagaimana negara maju, upah tenaga kerja disini tinggi sekali, maka pembantu ataupun babysitter adalah hal langka (saya bahkan ga pernah temukan). Maka untuk menyiasatinya, dibuatlah sistem yang mendukung, salah satunya adanya parental leave ini. Jadi ibu dan ayah bisa tetap bekerja tanpa menelantarkan anaknya yang masih kecil. Setelah cukup umur, anak bisa masuk preschool dan orang tua tetap bekerja dengan mengendepankan work-life balance.

    What have u learn by being a wife and a mother? 

    Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita. Menjadi istri saya belajar bagaimana menundukan ego, menundukan diri dihadapan imam saya, belajar patuh, belajar melayani, yang tentunya berat sekali apalagi di akhir zaman yang serba terbolak-balik ini.

    Menjadi ibu saya belajar bagaimana menjadi teladan, belajar menguatkan kesabaran, belajar senantiasa melantunkan doa sepanjang waktu, belajar membaca perasaan anak, belajar mengenali potensi dan kekurangannya, belajar berkomunikasi, dan masih banyak yang lainnya.

    Saya menyadari bahwa kalaupun akan beraktivitas diluar rumah, harus dipastikan yang utama tidak terbengkalai dan tertunaikan hak-haknya. Kondisi inilah yang membuat saya tidak berani koar-koar akan kuliah lagi karena bagi saya, kuliah itu nomor dua di waktu ini, bisa sewaktu-waktu disudahi kalau menzalimi hak klien utama saya. Dan sejatinya sekolah lagi adalah untuk membentuk diri saya yang lebih baik, maka harus ada standar tertentu apa yang ga boleh dilanggar, apa-apa yang harus tetap dikerjakan oleh saya, dan sebagainya. Lagi-lagi, mohon doanya ya.

    Iie memanfaatkan waktu Me-Time dengan…

    Membaca dan menulis. Saya selalu punya notes kecil tempat saya menumpahkan pikiran atau ide. Selain itu, lihat-lihat resep masakan.

    Untuk me-recharge semangat dalam mengurus keluarga, Iie sering mendengarkan kajian Budi Ashari di youtube, yang fokus pada bahasan keluarga dan dikaitkan dengan Sirah Rasul (Parenting Nabawiyah). Boleh di-share-kan penekanan beliau mengenai peran Ibu dalam Islam?

    Ibu adalah madrasah utama, ibu adalah pondasi umat ini. Setelah mendengar kajian beliau saya jadi memiliki paradigma baru tentang profesi sebagai ibu, khususnya ibu rumah tangga. Saya merasa dikuatkan, bahwa ibu rumah tangga bukanlah profesi yang ‘hanya’. Ia adalah titel berharga yang sudah seharusnya kita banggakan. Bila berpikir ‘hanya’ maka hasilnya pun akan sekedarnya. Tapi saat kita menyadari bahwa kita sedang membentuk generasi, bercita-cita besar akan kebermanfaatan anak kita, menjadikan anak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka semangat yang tumbuh pun lebih besar.

    Ibu adalah profesi paling mulia, yang kadar penghargaannya tidak dapat ditandingi lelaki manapun. Tidak menutup mata, bahwa ada ranah yang para wanita memang dibutuhkan untuk terjun kesana yakni ranah kesehatan dan pendidikan. Maka lingkungan sekitar harus menyokong mereka, membantu terdidiknya anak mereka.

    It’s a wrap! Terimakasih Iie sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya. Semoga obrolan kita ini bisa memberi manfaat dan informasi berharga untuk teman-teman kita, khususnya para Ibu muda. May Allah giving you many good things and grant your wishes in this Ramadan. Please convey my greeting to Asiyah :*

    Happy fasting dan selamat bersekolah lagi Iie!

    * * *

    Yuk baca Cerita Ibu Muda lainnya :

    1. Cita dan Cinta Audia Kursun (Indonesia – Turki)

    Dea Audia & Mustafa Kursun adalah pasangan Indonesia-Turki. Apa aja sih tantangan yang dihadapi kalau nikah campur & syarat nikah sama WNA? Tempat-tempat mana aja di Turki yang berkesan buat Dea? Gimana prosesi pernikahan di Turki? Yuk merapat karena Dea berbagi cerita cita dan cinta-nya disini.

    2. Meet Nunu – A Nuclear Physics Enthusiast, A Mother & Wife

    Nunu, ilmuan Fisika Nuklir yang sedang menempuh program postdoctoral di Jepang, seorang Ibu juga istri. Simak bagaimana Nunu me-manage waktu untuk keluarga dan studi disini,

    3. Uma Hani – Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Aba Fatiha

    Uma Hani, istri Dokter yang membangun interdependency dengan suami. Apa itu interdependencyFind out here.

    4. Kamu Lulusan ITB? Ko Jadi Ibu Rumah Tangga?

    5. “I Love Abu Dhabi” – Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

    I Love Abu Dhabi“, Cerita Nana, jadi Mama-nya Auran plus resep easy baking.Nana adalah lulusan S2 ITB yang selama kuliah master pernah mengikuti programstudent exchange di Samyoung University Korea, kini Nana tinggal di Abu Dhabi dan memilih untuk mengurus anaknya sendiri. 

    6. Cici, Itikaf Sama Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’

    Cici Butuh ‘Strong Why‘, saat mengajak 2 balitanya Itikaf di bulan Ramadhan. Simak tips-nya disini,

     

    Belajar Jadi Ibu & Bersenang-Senang dengan Anak

    Kalau diminta menggambarkan kondisi saat ini, saya pikir, tepatnya saya sedang belajar menjadi seorang Ibu. A better mom. The happy-cheerful-positive mother.

    Predikat Ibu yang serta merta melekat pada wanita yang baru saja melahirkan tidak lantas menjadikan kita-kaum hawa langsung expert dalam segala hal yang berhubungan dengan anak. Bukan berarti instantly kita menjadi orang tua yang super keren juga. Ada banyak adaptasi yang harus dilakukan, bahkan terkadang new mom harus bergelut dengan baby blues.

    Tapi bagaimana pun, whether the people around us pay attention or not, seorang Ibu diharapkan menjadi sosok yang serba bisa, wonder woman, multitasking and so on and so forth. Kuat! Mungkin inilah harapan banyak orang pada seorang Ibu. Kuat dari segi mental, tenaga, pikiran, spiritual.

    Somehow, mother have to overcome their inner problems, dan muncul ke permukaan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan senyuman.

    Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah, that’s why lebih tepat kalau saya sebut, proses yang saya jalani saat ini adalah belajar menjadi seorang Ibu. Kata belajar meringankan guilty feeling yang terkadang muncul saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak seharusnya dilakukan pada anak, baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, saat anak sakit, jatuh, keseleo dan lain-lain. Some parent take it so hard and blame themselves for unable being nice all the time to their kids. However, Ibu juga manusia biasa yang bisa merasa bahagia, sedih, butuh me time.

    The word belajar memberikan ruang yang cukup banyak bagi para ibu untuk memandang diri mereka sendiri sebagai manusia biasa yang sedang melakukan research terhadap diri mereka sendiri-anak-suami-lingkungan sekitar mereka, studying and applying what their learn, termasuk memaklumi dan belajar memaafkan saat kita sebagai Ibu melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengasuhan anak.

    Nah, dalam proses pengasuhan anak, kita juga harus aktif bermain/menghabiskan waktu bersama anak, as it’s written by Bruce Perry,

    children-dont-need-more-things-bruce-perry-life-quotes-sayings-pictures

     

    Terlebih lagi, dalam hadist dikatakan,

    “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi].

    Dalam Islam, bermain, menemani anak beraktifitas, dan melakukan banyak hal untuk menyenangkan hati anak kita, seperti bergurau dan bercanda dengan anak kita merupakan suatu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tinggi di sisi Allah. Subhanallah walhamdulillah.

    Bermain dengan anak ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Jabir berkata,

    Aku mengunjungi Rasulullah Saw yang waktu itu sedang berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain Ra. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.” [HR. Thabarani]

    Hasan dan Husain Ra adalah cucu Rasulullah. Hadits di atas memperlihatkan akhlak Rasulullah sebagai seorang kepala Negara dan Rasul yang bersifat lembut dan suka bermain dengan anak.

    So, parent, get down on the floor and let’s spend time with our kids!

    Waktu favorit saya pribadi bersama Aisya antara lain saat :
    1. Bermain bersama Aisya
    2. Menyuapi Aisya

    Jujur, saya mendapat banyak energi positif dan kebahagiaan saat saya bermain, menghabiskan waktu dengan Aisya, pay fully attention to her-ga nyambi masak/nyapu/ngepel/pegang gadget, creating a toddler project that require team work between me and Aisya. Well, do many constructive things and also playful that grows her smile, excitement and enthusiasm makes me feel really good.

    Tidak dipungkiri ada waktu-waktu saya membiarkannya menonton acara kartun atau bermain mandiri saat saya harus menyelesaikan ‘tugas domestik’. Balik lagi ini mah perkara manajemen waktu dan akhir-akhir ini mulai terbesit keinginan untuk membuat jadwal.

    Jadwal dimana saya harus ‘bekerja’, -pekerjaan di rumah tidak bisa diabaikan toh? A comfort house is the clean one-, time when I need my daughter to understand and be cooperative with me when there are things to be done at home.

    Kemudian waktu saat saya full fokus dan konsentrasi pada pemenuhan kebutuhan Aisya, seperti bermain, mengajarinya sesuatu, melakukan proyek-proyek sederhana antara ibu-anak. Kadang dalam proses memasak yang easy, saya melibatkan Aisya, atau membuatkan dummy-nya. Aisya terbiasa membantu saya membuat pancake, Aisya biasanya mengaduk adonan, memasukan terigu sesendok demi sesendok ke dalam mangkuk, menuangkan susu cair dan terakhir, beberapa hari yang lalu, Aisya meminta izin pada saya untuk memecahkan telur sendiri sebelum dicampurkan ke dalam adonan. Off course, saya memperbolehkannya. Bahkan Aisya kini tertarik menyalakan kompor dan memegang teflon pancake-nya. Ini dalam pengawasan penuh ya.

    Di lain waktu, saya akan memberinya pisau plastik dan memintanya untuk mengiris tempe/pisang/papaya sebagai life learning activity. Segala hal yang berhubungan dengan life learning activity sebenarnya sangat menarik untuk dilakukan, karena selain fun, enjoyable, anak kita mempelajari sesuatu yang bisa menjadi bekal saat ia harus benar-benar melakukannya in real life, -bukan simulasi. Life learning activities yang pernah saya lakukan dengan Aisya adalah mengajaknya menyiram tanaman bersama, melibatkan Aisya dalam membuat kudapan, memotong buah dengan pisau plastik untuk disantap oleh kami, menyendokkan es krim untuk dijadikan toping pada irisan buah.

    Pada dasarnya Aisya tertarik dengan beberapa hal yang saya lakukan. Saat saya menyapu, Aisya akan bilang, ”Dede mau nyapu”. Saat saya mengepel lantai, Aisya akan meminta saya untuk bergantian mengepel lantai. Pun saat saya sedang merendam pakaiannya, ia ingin turut mengucek-ucek pakaiannya sendiri dan dengan happy, mengatakan “Nda, dede cuci baju sendiri”.

    Saya tidak pernah meminta Aisya menjemur pakaiannya, namun ketika saya melakukannya, Aisya juga memilah-milah pakaiannya dan menjemurnya di bagian paling bawah tempat jemuran kami. Pardon me for many “jemuran” words that I use here.

    Permainan yang paling disukai Aisya adalah aktivitas yang memungkinkannya mengkoordinasikan semua organ tubuhnya, seperti jalan-jalan, bersepeda, main di taman-amusement playground-giant playground, Aisya suka sekali memanjat, bahkan di perosotan pun Aisya suka memanjat ke atas. Same thing happened at home. Di rumah Mbah yang terletak di Bandung, kami suka menggelar kasur lipat dengan salah satu sisinya berada di atas sofa, sedemikian sehingga bentuknya mirip perosotan dan Aisya akan memanjat ke sofa-tumpukan bantal di atas sofa-meluncur/meloncat di slide buatan tersebut.

    Ada satu lagi permainan yang digemari Aisya, ini lucu, simple but very interesting for her. Aisya suka main seprei. Saat Akung-nya memasang sprei untuk kasur lipat. Serta merta Aisya akan berlari sambil bilang “Tunggu! Tunggu!”.

    Aisya masuk ke bawah sprei dan.. mereka tertawa bersama, permainan ini dilakukan berkali-kali sampai Aisya lelah tertawa. Yap! Kadang tidak butuh tempat/barang mahal untuk membuat anak kita bahagia. That’s why saya mulai suka membuat karya dengan Aisya dari reuse-able stuff, seperti Koran, kalender yang sudah tidak terpakai, kardus-kardus belanja yang menumpuk di gudang, kotak susu/makanan untuk pot tanaman, dan lain-lain.

    Kami juga memperkenalkan Aisya pada buku-buku, dari mulai serial edukatif lungsuran tante Arum dan Om Doko yang disimpan apik oleh Uti, buku mewarna, dan buku baru  dengan ikut arisan buku yang lagi hits saat ini.

    Terakhir, pengennya punya jadwal rutin untuk me-time, baik melakukan hobi atapun private time with Allah. Get re-charged.

    Menjadi orang tua, bagi saya pribadi, layaknya berusaha mengalahkan ego diri sendiri. Mungkin ada kebiasaan kita yang kurang cocok jika terus dipelihara selama kita menjadi orang tua. If we want our children to be a better version of us, then we first have to do the change. Bisa dibilang, ‘menyamakan suhu’. Betul, kita bisa memfasilitasi anak kita, lebih bagus lagi kita bisa menjalankan visi-misi bersama.

    Contoh : kita ingin anak kita hafidz Qur’an, kita dapat memperdengarkannya tilawah Al-Qur’an setiap hari di waktu-waktu tertentu. Kita juga ikut mencontohkan, turut mengaji di hadapannya dan mengulang ayat-ayat Qur’an secara langsung. Ustadz Yusuf Masyur mengatakan, ulanglah bacaan Al-Fatihah sebanyak 5 kali menjelang anak kita tidur. Insya Allah Surat Al-Fatihah tersebut akan memasuki alam bawah sadarnya dan anak kita akan lebih mudah menghafalnya. Ajarkan satu surat/doa dulu, sampai ia benar-benar paham dan hafal, barusan diajari surat/doa-doa lainnya.

    Hal lainnya, jika ingin anak kita fasih berbahasa asing, selain mengikutkannya kepada bimbel/les bahasa, sebagai orang tua, kita juga dapat dengan aktif mengajaknya berkomuniasi dalam bahasa yang sedang anak kita pelajari. Tidak perlu exactly at the same level with them, setidaknya ‘nyambung’ saat diajak bicara. Tiap orang tua pasti menginginkan anaknya, lebih baik dari dirinya.

    Kalau soal kesabaran, itu menjadi PR seumur hidup yang tingkatannya terus menanjak. Apalagi kalau anak manis, lucu, pintar, soleh/solehah kita mendadak masuk ke fase trouble two. Jika tidak pandai mengelola emosi, bisa-bisa orang tua ikutan tantrum.

    Memang mungkin orang tua ikut tantrum saat anak tantrum?
    Mungkin banget!

    Inilah pentingnya ilmu sebelum amal. Saat ini informasi mengenai psikologi anak dan parenting sudah banyak. Bekali diri kita, sempatkan membaca/mendengar/ikut seminar dan diskusi agar tidak salah langkah dalam menangani sikap-sikap anak. Ingat efek domino, children reflect what they saw. They tend to copying us, the parent and people around them. Anak merekam tindakan kita.

    Saya sendiri ikut grup-wassap yang memfasilitasi bahasan tentang anak dan parenting. That’s help. Selain mendapatkan ilmu, kita juga tahu bahwa we are not alone, banyak Ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan kita. Saling menyemangati, tukar informasi seputar tempat-tempat yang asik-hemat-nyaman untuk hang out anak-anak. Plus, bisa playdate kalau kebetulan domisilinya dekat.

    Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan [harta mereka] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

    At a stressful time, parent throw an anger to their children.

    Marah itu manusiawi, kita adalah individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor/situasi. Akan lebih baik jika kita dapat mengontrol amarah (note to myself). Ada yang menyarankan agar kita take time, menjauh dari anak sebentar, berada di ruangan yang berbeda, setelah tenang kita kembali menemui anak kita. Usahakan anak tidak menghirup aura kontra-positif dari ibunya.

    “Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” [HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440].

    Hadist di atas seolah membenarkan bahwa setiap orang punya waktu-waktu dimana emosinya akan meledak, namun bagi mereka yang mampu menahan diri though they can show it off, Allah akan memberi ganjaran yang luar biasa. Jihad melawan hawa nafsu.

    Salah seorang Ustadz juga pernah menyinggung perihal bakti anak. Bakti anak pada kita kelak, juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap pada anak kita sejak usia dini. Mengenai bakti anak ini, dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya,

    “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

    Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

    Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” [HR Abu Daud]

    Sabda Rasulullah di atas poinnya cukup jelas :
    1. Saat anak kita sedang tumbuh berkembang dan belajar melakukan sesuatu, hargailah usahanya walaupun kecil.
    2. If they make mistake, accept it. Tell them it’s not something good. Let’s not do it again. Give warm hug, forgive them, forgive each other and tell them that as a parent, we believe that they will not make the same mistake. They could be a better person.
    3.
    Tidak terlalu banyak/tinggi menuntutnya dan selalu do’akan yang terbaik untuk anak kita.
    4. Do not cross the line. Jangan memaki dengan makian yang membuat hatinya terluka. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anak yang sering dimaki oleh orang tua-nya sendiri?

    Sangatlah penting bagi orang tua untuk dapat mengenali sifat anaknya dengan baik, salah satu caranya adalah dengan sering berinteraksi secara langsung dengan sang anak. We know them, they know us, both side can communicate well, so hopefully the good environment rise from here.

    Ramadan adalah bulan yang tepat untuk melatih poin kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi, lebih sabar, pengertian dan bijak. Amin.

    Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah,” [HR. Bukhari 6114, Muslim 2609].