Kamu lulusan ITB? Ko Jadi IRT?

“Kamu lulusan ITB? Ko jadi Ibu Rumah Tangga?”,

“Ngga sayang ilmunya?”,

“Ngga kerja?”,

“Ngga kasian sama orang tua kamu yang udah nyekolahin tinggi-tinggi?”,

“Ngga bosen di rumah terus?”,

“Trus ngga punya penghasilan dong. Ngga malu minta duit mulu sama suami?”,

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya dan anak-anaknya dan dia akan ditanya tentang mereka”, 

[HR. Bukhari Muslim]

Di era ini saya merasa support bagi seorang wanita untuk memilih menjadi Ibu Rumah Tangga atau istilah kerennya stay at home mom sudah sangat besar. Mulai dari artikel-artikel berjudul ‘Ibu Pulanglah’ dari ustadz  Budi Ashari yang menekankan bahwa seorang Ibu sebaiknya kembali ke rumah dan melaksanakan kewajiban utamanya yaitu mengurus anak, suami dan rumah karena pahalanya banyak sekali.
Literatur psikologi mengenai pentingnya peranan orang tua di masa golden age juga mulai marak. Dan usia 0-3 tahun, adalah masa dimana orang tua harus membangun bonding yang kuat dengan anak, sebelum anak memasuki usia sekolah dan merasa lebih senang bermain dengan teman-temannya.

Rumah, baik definisinya bangunan atau person (keluarga) harus menjadi tempat ternyaman bagi anak. 

The source is everywhere.

Kalau di Swedia, -seperti yang disampaikan oleh teman saya Iie yang tinggal disana-, orang tua yang bekerja, iya kedua belah pihak, bapak dan ibunya diberikan parental leave oleh pemerintah. Parental leave adalah cuti berbayar (kurang lebih 80% dari salary) untuk kedua orang tua selama 480 hari per anak yang dapat diambil sampai anak berusia 8 tahun. 

Baca selengkapnya di : https://sundariekowati.wordpress.com/2016/06/29/ngobrol-sama-iie-dari-mulai-melahirkan-ramadan-dan-kuliah-di-swedia/

Nah di Indonesia aturannya belum seperti ini 🙂 cuti melahirkan untuk ibu bekerja adalah 3 bulan. Ada sih programnya pak Anies Baswedan (calon gubernur DKI) yang mengusulkan cuti melahirkan bagi bapak bekerja selama 1 minggu (ya lumayan hehe).

Hidup dalam masyarakat majemuk membuat kita harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar mengapa lulusan perguruan tinggi seperti saya dan ibu-ibu lainnya yang memilih menjadi stay at home mom. *Pun sebaliknya bagi Ibu bekerja, pasti ada aja yang bertanya “Ko kerja? Ngga sedih ninggalin anak? Ngga takut anaknya lebih deket sama yang ngasuh”, dsb.

Faktor Penyebab Ibu Memilih Jadi IRT?

Kalau ngomongin faktor, variabelnya banyak ya, antara lain :

1. Ikut suami.

Bisa jadi seoang Ibu menjadi IRT karena ikut suami (baik suaminya bekerja/kuliah lagi) dan di tempat tersebut kurang kondusif jika kedua orang tua bekerja. Ada yang suaminya pindah-pindah tempat dinas (dan keluarga diboyong) ke berbagai daerah di Indonesia/belahan dunia lainnya. Ada juga yang nemenin suami kuliah lagi, contohnya seperti teman saya yang tinggal di Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan lainnya. Bukannya ngga mungkin istri ikut bekerja/bisnis, tapi keduanya sudah membuat kesepakatan dan prioritas.

2. Pengalaman masa kecil

Nggak sedikit dari kita yang pernah diasuh oleh orang lain sedari kecil karena kedua orang tua kita sibuk bekerja. Dan kita merasa betapa nggak enaknya diasuh sama orang lain sedangkan kita butuh banget perhatian dari ortu kita. Pengalaman dan kerinduan inilah yang akhirnya membuat kita memutuskan untuk membesarkan anak kita sendiri. Karena kita nggak tega kalau anak kita mengalami hal yang sama dengan kita saat kecil.

3. Distrust

Ibu yang perfeksionis cenderung nggak percayaan sama orang lain. Khawatir orang lain akan kurang telaten dalam merawat anak kita. Takut pola pendidikan dan asuhannya beda. Sebagai ibu yang melahirkan anak, kita merasa lebih tahu dan kekinian soal pengasuhan anak, kesehatan anak, gizi anak termasuk update tentang metode mpasi yang beragam.

4. What we read & our environment

Apa yang kita baca juga mempengaruhi pola pikir kita. Sama hal-nya dengan lingkungan. Kalau kita sering hang out dengan para ibu yang pro-stay at home mom, sedikit banyak kita akan termotivasi jadi IRT. Buku, literatur di ineternet, seminar yang kita kunjungi juga akan mempengaruhi pola pikir dan our belief. Contohnya saya, karena saya suka baca buku agama, bergaul dengan teman-teman senasib seperjuangan sesama IRT, dengerin ceramah dan segala hal tentang parenting jadi pondasi saya cukup mantap untuk jadi IRT. Meski pilihan ini dilematis banget, kadang bikin galau kalau udah dibanding-bandingin sama Ibu bekerja yang kece, atau saat dipandang sebelah mata.

5. Dukungan suami & keluarga besar

Ada lho temen saya yang malahan, keluarga besarnya juga suaminya sangat bahagia karena dia memutuskan untuk mengurus anaknya sendiri. Because they think its the best. Unik sekali, patut disyukuri. Support keluarga adalah faktor penting yang membuat kita bersemangat jadi IRT.

And many more, mungkin ibu-ibu pembaca yang lain mau menambahkan? 🙂

Saya pribadi kalau dapat pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di paling atas, masih suka baper, masih suka berkilah, antara nggak mau yang bertanya salah kaprah juga mau menjaga perasaan semua orang 🙂

Kamu lulusan ITB? Ko ngga kerja?

Hm, silakan lebih kaget lagi. Bukan hanya saya lho, lulusan PTN yang memilih jadi IRT. Teman-teman saya yang sudah lulus S2, bahkan yang lulusan master dari luar negeri pun ada yang memutuskan jadi IRT. Simply because they think the time with their kids is priceless.

Sampai ada teman yang menulis gini, “I’m glad to gave up my career to raise someone as cute as you”, disertai foto anaknya.

Ngga sayang ilmunya?

Sayang.. Sayang dong kalau ilmu yang sudah saya pelajari ngga diaplikasikan dalam mengasuh anak saya. Dengan menjadi IRT bukan berarti saya ngga bisa berbagi ilmu yang sudah saya pelajari kan?

Justru saya pergunakan semua ilmu yang saya kenyam selama dua puluhan tahun ini untuk mendidik dan membesarkan anak saya. Baik ilmu matematika, agama, tata krama, ilmu masak, beladiri, keterampilan berbahasa, musik, tari, managemen emosi dan lainnya. Saya terapkan di keluarga kecil yang sedang saya bangun bersama-sama dengan suami. Saya masih belajar jadi pendidik yang baik bagi anak saya, doakan terus yaa :’)

Sebuah peradaban berasal dari kumpulan masyarakat. Masyarakat berasal dari kumpulan keluarga. Jika individu-individu dalam keluarga terdidik dengan baik, maka satu keluarga ini akan menjadi keluarga yang baik. Jika tiap keluarga baik berkumpul, maka munculah masyarakat yang baik. Dan masyarakat yang baik akan menghasilkan sebuah peradaban yang baik.

Semuanya berawal dari keluarga, seperti kata mother theresa,

“If you want to change the world, go home and love your family”.

Ngga kasihan sama orang tua yang udah sekolahin tinggi-tinggi?

*brb bawa tissue

Just to clear the air, saya bukannya ngga pernah bekerja. Saya pernah bekerja for almost 2 years di DIKTI (iya saya cuma tenaga honorer kok). Tapi saya pulang hampir tiap weekend to my family sampai-sampai bos saya bilang, ‘kamu masih ngempeng ya sama ibu kamu? kok ke Bandung terus kalau jum’at sore?’, padahal saya sudah besar. Ngapain? Ya memaksimalkan birrul walidain (selama masih bisa) dan jalan-jalan sama adik. 

Bukannya ngga mencoba, saya juga pernah kerja proyekan di Bappeda (yang ini juga hanya 2 bulan), ngelamar lagi buat next term tapi ngga dipanggil (yaa sudahlah, Allah memang lebih ingin saya di rumah). Paling ngenes kalau ada rapat sampai malam, pulang-pulang Aisya udah bobo pules, huhuhu.. Rasa bersalahnya sampai ubun-ubun. Rada kesel gimanaaa gitu kok ya hari itu saya ngga main sama Aisya. Belum lagi tangisan Aisya setiap pagi saat saya menitipkannya di day care terbayang-bayang di kantor. Jadinya pas jam istirahat makan siang selalu saya nanti, untuk pump-ing dan ngebut ke day care dianter suami, untuk mengantarkan ASI sambil melepas kangen sama Aisya. Nyampe kantor biasanya telat seperapat jam, itu juga belum makan siang, dan udah harus meeting lagi. Jadi aja sambil bikin notulensi di rapat saya ngemil mulu 😀 

Di masa-masa ini kerasa banget deh sama saya gimana perjuangan ibu-ibu pemerah ASI. Super! *pas kerja ASI saya sempet seret, dan Aisya ngga suka susu formula

And waaay before I graduated, sambil kuliah saya juga bekerja kok, saya jadi penyiar radio di radio Antassalam selama setahun sebelum lulus, saya juga suka nyambi jualan, saya suka nge-MC dari mulai event-event internasional seperti konfrensi, seminar, acara kemuslimahan, talkshow, muktamar, sampai MC pernikahan saya jabanin. Karena saya suka. Itu keahlian saya 😀

Ngajar juga pernah kok, pas baru lulus banget. Jadi pilihan yang saya buat sekarang, bukan atas dasar saya mentah-mentah emang blom pernah merasakan dunia bekerja. Hanya saja fokus saya saat ini adalah menjadi supporter suami dan menekuni bidang baru : mendidik, mengasuh, mengurus anak dan rumah tangga. Mengasah skill kerumahtangaan yang sebelumnya tertunda.

My husband is really busy, sering dinas keluar kota. Bayangkan jika saya bekerja dan sibuk juga, waktu yang saya alokasikan untuk pekerjaan tidak akan berbanding lurus dengan kesempatan saya belajar jadi ibu yang baik (dan sabar) untuk anak saya.

Regret is something that I can’t live with. 

Mungkin kasihan bukan kata yang tepat ya. Hm, gimana ya.. Bakti sama orang tua itu ngga melulu soal money sebenarnya. Off course we all love money and who doesnt feel happy to be given money by their children. Ya doakan saya yaa agar tetap bisa memberikan bakti terbaik bagi orang tua saya.

One thing I can tell you, dari semua hal yang pernah saya berikan pada ortu saya, saya baru kali ini melihat mereka sangat bahagia, bahagia yang ngga ternilai harganya, bahagia yang membuat lelah mereka lenyap segera, bahagia yang membuat mereka selalu merindu, bahagia saat bertemu Aisya, sang cucu.

Satu lagi deh saya tambahkan, buat yang masih jadi high-quality-jomblo mending maksimalkan bakti kita sama orang tua dulu sebelum kita menikah. Buat kita-kita yang sudah menikah juga terus berupaya jadi anak soleh, doakan kebaikan untuk ortu kita, berikan yang terbaik yang kita bisa, apa aja 🙂

Ngga kerja?

Oh saya kerja! Lha nyuci baju, ngejemur, nyetrika, bersih-bersihin sayuran dan daging, ikan, cumi, udang yang dibeli di mang sayur, rawis-rawis, ngupasin bawang merah + bawang putih, ngeblender bumbu, masak, ngegoreng, baking, cuci piring, nyapu, ngepel, nge-lap kompor, bersihin kaca dan meja dari debu. Itu namanya bukan kerja? Itu kerjaan. Fisik lagi kerjanya.

Belum urusan anak, dari mulai mandiin, ngajak dia makan, nemenin main, ngajarin nyanyi, ngaji, nari, bacain buku, ngelonin kalau mau bobo, ngegendong-gendong kalau lagi rewel. Melatih toilet training, menjaga emosi saat anak lagi tantrum sampai ikutan tantrum juga kalau kurang sabar 😀

Ini pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran lho, makannya jangan salah kalau emak-emak butuh istirahat. Kalau ngga percaya coba deh seharian ngurus anak dan rumah dengan tenang, santai, tanpa terbawa emosi. Yang sabar yaa… Ahaha..

Ngga bosen di rumah terus?

Tempat teraman dan ternyaman bagi anak adalah di rumah. Mau makan tinggal makan masakan bunda. Mau pipis/pup ada toilet. Mau mainan apa aja bebas, dari ruang tamu, pindah ke kamar, ke kasur, bantuin bunda masak-masakan. Dan baru bunda bereskan saat Aisya tidur. 

Kalau baju kotor atau main basah-basahan, bisa langsung ganti dengan baju baru yang wangi habis disetrika mami. 

Aisya bisa ngapaiiin aja sesuka hati di rumah. Kalau udah waktunya sekolah toh kita akan keluar rumah setiap hari. Bikin acara seru sama anak di rumah, bikin jadwal hari ini mau ngapain aja, bikin menu yang berbeda tiap hari, nyoba resep baking yang baru, cuddling dan ketawa bareng anak, seru!

Bosen? Oh pertanyaannya suka bosen ngga ya? Yaa kalau bosen saya suka mengajak Aisya ke playground. Weekend juga kami suka jalan-jalan sama ayah Aisya. Masih sering ke Bandung juga sih ganti-ganti suasana. 

Bosen banget? Yaudah liburan! Yuk dad, kita cuuss ke bandara.. :))

Trus ngga punya penghasilan dong. Ngga malu minta duit mulu sama suami?

Untuk pertanyaan ini, ada teman saya yang menjawab, “yaa ngga apa-apa dong! Kan mintanya sama suami sendiri. Kalau minta sama suami orang baru malu”.

Hehehe..

Iya, malu kok kalau minta uang mah, makannya saya prefer ditransfer aja ke rekening (berasa bisnis online) :p *justkidding 

Untuk menghindari kegamangan, let’s see how Islam see this..

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf”, [QS. Al-Baqarah : 233]

Dan juga berdasarkan hadis riwayat Jabir, “… Bagi mereka (para istri) berhak mendapatkan makanan dan pakaian dengan cara yang patut dari kalian”, [HR. Muslim]

Iya jujur pertanyaan ini menohok, bikin bingung dan krisis diri, kalau udah gini biasanya saya suka membuka-buka lagi buku agama yang membahas soal nafkah istri dalam pernikahan. 

“Satu dinar yang kau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kau gunakan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan untuk orang miskin, serta satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya di antara semuanya adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu“, [HR. Muslim]

Jadi dalam Islam, konteksnya adalah suami berkewajiban mencari nafkah, kalau istri lebih ke mengurus anak dan rumah tangga. Nah, dalam setiap gaji suami itu ada hak istri. Itu yang harus diberikan pada istri oleh suami. Jadi justru bukan istri harus minta-minta dengan penuh rasa malu sama suami, melainkan suami memang perlu memberikan hak tersebut pada istrinya. Hak itu bakal berat pertanggungjawabannya di akhirat nanti kalau tidak ditunaikan.

This why I find so much peace the more I learn about my deen.

Peace yaa!

Berkarya & Bersosialisasi

Menjadi IRT bukan berarti kita saklek banget harus ada di rumah 24 jam sehari. Sebagai mahluk sosial, kita sebagai IRT juga bisa berkarya atau berinteraksi dengan orang lain. Bisa dengan ikutan komunitas-komunitas yang mother-children-friendly, menulis di blog tentang tempat-tempat rekreasi yang family-friendly, berbagi resep masakan via instagram, silaturahim sama teman-teman (kan silaturahim memperpanjang rezeki) sambil playdate anak-anak, menghadiri majelis ilmu, ikutan kelas merajut, menekuni hobi lama, apa aja deh yang bikin kita happy dan ngasi banyaaakk banget manfaat positif sama diri kita juga orang-orang di sekitar kita.

Last but no least, kita harus menghargai pilihan semua orang because we never really know the story behind it. And try to always put ourselves on someone else shoes.

Bagaimana pun dunia ini membutuhkan para wanita yang bekerja juga untuk mengisi berbagai profesi. Seperti dokter, perawat, bidan, baby sitter, ART, dosen, guru TK-SD-SMP-SMA, guru tahsin, trainer, penulis buku, sutradara, produser musik, koki, womanpreneur, karyawati, pegawai instansi pemerintah, pegawai kantin, penjual pakaian dalam wanita daaaan masih banyak lagi 🙂

Warm hug for all mother on earth 🙂

Advertisements

Aisya Udah Diajarin English?

“Aisya udah diajarin bahasa Inggris?”,

” Ngga takut dia bingung nanti?”,

“Suka bingung ngga Aisyanya kalau ngomong?”,

“Ada lho anak temenku ngomongnya bahasa Inggris mulu. Ngomong aja sendirian karena terlalu sering nonton/liat youtube. Ibunya malah ngga ngerti anaknya ngomong apa”,

“Kenapa sih bahasa Inggris?”,

Pertanyaan-pertanyaan di atas beberapa kali berseliweran di telinga saya. Dan saya tertarik untuk menjawabnya melalui tulisan ini 🙂 semoga bisa diambil sisi positifnya yaa.


Aisya udah diajarin bahasa Inggris?

Alhamdulillah sudah 🙂 

Prinsip saya adalah Aisya harus benar-benar menguasai satu bahasa dulu, yaitu bahasa Indonesia. Kalau bahasa ibu sudah mengakar, akan lebih mudah bagi kita saat memperkenalkan bahasa asing. 

Porsi percakapan kami dalam bahasa Indonesia : bahasa Inggris sehari-hari adalah 70 : 30. Penggunaan bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas, karena Aisya juga berbaur dengan teman-teman lain dan dengan keluarga besar, penting bagi Aisya untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa yang dipahami oleh orang banyak. Nggak lucu kan kalau pas ngobrol sama anak-anak seusianya terus ngga nyambung? Hehe

How to introduce english to Aisya? 

OK disini saya akan ceritakan tahapan dan respon Aisya terhadap proses pengenalan bahasa Inggris yang saya lakukan.

1. Before 2 years old

Saya mulai suka mengucapkan beberapa kata dalam bahasa inggris dan menstimulusnya dengan kalimat sederhana dalam bahasa inggris sebelum Aisya genap 2 tahun. Tiap kali saya berbicara dalam bahasa inggris, Aisya akan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengucapkan “lalala” atau “bluabluablua” yang most likely artinya “Bunda ngomong apa sih?”, hahaa. 

Dari situ, saya sempat berhenti menggunakan kata-kata dalam bahasa inggris dalam percakapan kami karena saya pikir Aisya belum tertarik mengenal bahasa baru. 

2. After 2 years old :

Lupa persisnya kapan, tapi Aisya tiba-tiba menunjukkan ketertarikan dalam bahasa inggris dan hal itu membuat saya lebih bersemangat! Semangat untuk berbicara dalam bahasa inggris lagi dengan Aisya.

Saya mulai mengajaknya menyanyi lagu twinkle twinkle little star. Mengenalkan warna-warna dalam bahasa inggris. Saying ‘No’, ‘Yes’. Bertanya ‘are u excited’, atau ‘are u ready?’, pertanyaan sederhana yang memancingnya untuk menjawab yes/no. And that’s already a progress.

I Love You

Adalah salah satu kalimat sederhana pertama yang sering saya ulang-ulang pada Aisya. And she then learn to say ” I love you, mami”.

How sweet is that, right? 🙂

Dari sini saya mulai rajin speak in english with her, dengan harapan dengan mendengar, Aisya mampu merekam word by word and the way it spell. Saya mulai tertarik membacakannya english book dan menonton film kartun yang bisa disimak dengan baik oleh toddler seusia Aisya.

Untuk referensi, saya akan membahas mengenai film kartun favorit kami : Peppa Pig. Despite the movie star are piggies, film ini saya rasa ‘pas’ untuk ditonton sebagai sarana belajar Aisya. Storyline-nya very simple, tempo percakapannya cukup lambat, kalimat-kalimat yang digunakan juga sederhana. Sehingga, it’s easy for Aisya either to listen and repeat what they say or catch new words.

This is where Aisya start calling me, ‘mami’. And ‘daddy’ to ayah. *oh what a bonus ahahaha.

3. Menjelang usia tiga tahun :

Saat ini Aisya menunjukkan progress yang mengagumkan. Ia lebih cepat menyerap kata per kata, dan mulai merangkai kalimat sendiri. Seperti :

“Thank you, Mami”,

“Mami, wait for me”,

” Daddy, what is that?”,

“Jump! Jump!”,

“Open this up”,

” Granpa look, the color is green”,

“Aunty, where are you?”,

” What are you doing?”,

“I’m going to playground”,

” Come here”,

“Let’s go! Come on”,

” Daddy, where are you?”,

“Here I am”,

“I’m fine, mami”, nah kalau kalimat yang ini suka Aisya ucapkan saat dia jatuh/terpeleset ke lantai sambil nyengir.

Dan banyak lagi yang bikin saya dan ayah Aisya terkesima. Untuk lagu, Aisya mulai fasih pronunciation-nya untuk lagu ‘Five Little Monkey’, ‘Daddy Finger’, ‘Twinkle Twinkle Little Star’, dan yang sekarang lagi disukai ‘Let It Go’. 

Di fase ini, Aisya juga sudah bisa menghitung bilingual dari 1 sampai 10 (satu, dua, tiga.. Sampai sepuluh dan one, two, three.. Sampai ten). She could mention some colors in english also mention animals name in english plus their sound.

Metode belajarnya cukup beragam ya dari mulai diajak ngobrol, mendengarkan lagu, menonton film kartun dan membacakan buku. 

Apa kata psikolog tentang mengajarkan bahasa asing pada anak?

Menurut Dra. Diennaryati Tjcokrosuprihatono, M. Psi., perangsangan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya dapat dilakukan sejak dini. Karena dalam 3 tahun pertama kehidupan manusia merupakan masa penyerapan terbesar terhadap stimulus apa pun. Jadi tidak ada batasan umur untuk mengenalkan bahasa asing pada anak.

Suka bingung ngga sih Aisya-nya kalau ngomong?

So far, Alhamdulilla ngga bingung. Bilingual iya. Dalam artian campur-campur.

Contoh, Aisya pernah bilang :

“Mami, aku mau sleep”,

“Mami, aku mau minum air putih, please”,

“Kalau lampu warna green, artinya jalan. Kalau red macet”,

Nah, ketika saya tanya balik, “sleep artinya apa?”, Aisya jawab ” tidur”. Begitu juga dengan warna, Aisya dapat mengartikannya ke dalam bahasa indonesia. 

Bahkan pernah Aisya bilang, “Wake up, wake up! Mami, wake up itu artinya bangun”.

Kalau saya bicara dalam bahasa inggris kemudian Aisya belum tahu artinya dalam bahasa Indonesia, ia akan bertanya, “Itu artinya apa, Mami?”.

“Mami, stand up artinya apa?”, tanya Aisya kemarin. Lalu saya jelaskan bahwa ‘stand up’ artinya berdiri, “Jadi kalau Mami bilang stand up, Aisya berdiri ya”.

Komunikasi dua arah, percakapan sederhana yang lumayan sering, menjelaskan arti-arti kalimat dan mencontohkan aktivitasnya akan membantu anak kita memahami apa yang ia ucapkan dan menghindari kebingunan. Saat mendampinginya nonton acara kartun yang menggunakan bahasa Inggris pun, kita bisa menerjemahkannya atau mereview secara garis besar film-nya bercerita tentang apa.

Kenapa sih bahasa Inggris?

Kenapa yaa saya memperkenalkan Aisya ke bahasa inggris? 🙂 

Simply because I like speak in English and it would be nice if I have a partner to talk with at home.

I’m more confident, comfortable, and expressive when I speak in English.

Tentu saja saya ingin mengajari Aisya banyak bahasa (jika saya mahir dalam bahasa lainnya seperti bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Urdu, bahasa Jerman dll). For now, karena yang saya kuasai bahasa Inggris ya itu dulu deh. Semoga bunda, Aisya dan Ayah bisa belajar bahasa lainnya bareng-bareng. Balik lagi ke prinsip awal, setelah anak menguasai satu bahasa, baru kita bisa memperkenalkan ke bahasa lainnya. Kalau sudah bagus dengan dua bahasa, kita bisa belajar bahasa ketiga. 

Ya, selain bahasa indonesia dan inggris, Aisya juga suka mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Sunda (karena ayahnya orang Sunda).

Ada lho anak temenku ngomongnya bahasa Inggris mulu. Ngomong aja sendirian gitu, karena anaknya terlalu sering nonton/liat youtube. Ibunya malah ngga ngerti anaknya ngomong apa.

Hm, menanggapi yang ini, mungkin ini lebih ke bagaimana orang tua-nya juga meningkatkan kemampuan bahasa inggris ya (see the positive side). Kalau komunikasi ortu-anak jadi membingungkan karena sang anak sering menonton kartun (dengan bahasa pengantar english) ada baiknya ortu memilihkan film-film kartun yang menggunakan bahasa indonesia. Atau cari yang ada subtitle-nya sehingga saat ortu mendampingi anak menonton bisa diceritakan maksud dialognya apa. 

The thing is, menonton film/tayangan youtube hanya sarana belajar (due to learning english ya). Don’t let your child watch it all day long without parental guidance and control.

So, mommies semangaaat ya untuk memperkenalkan bahasa inggris maupun bahasa lainnya pada anak kita. Semangat mengajari dan mendampingi anak kita dalam banyak hal! 

Sesungguhnya saat anak kita belajar sesuatu yang baru, sebagai orang tua, kita juga ikut belajar 🙂

Ke Bali Sama Aisya

Akhir Agustus 2016, saya melakukan perjalanan berdua saja dengan Aisya ke Bali. Kami naik pesawat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Ngurah Rai. Lebih tepatnya kami menyusul ayah Aisya yang sedang dinas disana. 

Buat Aisya ini pertama kalinya ke Bali. Kalau pantai mah, Aisya sudah pernah ke Pangandaran sebelumnya. Kebayang Bunda sih, Aisya bakal seneng banget diajak main pasir dan ke pantai 🙂

Ini merupakan pengalaman berharga bagi saya, karena saya belajar mengepack barang se-efisien mungkin juga managemen team-up sama Aisya.

Tulisan ini diperuntukkan bagi para ibu yang akan berpergian menggunakan pesawat tanpa didampingi suami yaa.

Barang Bawaan : 1 koper + tas jinjing

Dalam perjalanan kali ini, saya hanya membawa 1 koper kecil dan 1 tas jinjing besar. 

Di koper kecil, saya masukkan baju, sebagian besar susu Aisya, sandal Aisya (back-up) dan ban renang. Sementara tas jinjing berisi bekal makanan berat juga snack, dompet dan HP. 

Mungkin membawa bekal nasi terkesan agak konvensional ya, but it helpful. Begitu sampai hotel dan belum sempat strolling around sementara anak sudah lapar, kita bisa segera menyuapinya dengan masakan rumah. Comfort food yang aman dikonsumsi anak. Selain nasi, saya juga membawa sereal, roti dan biskuit.

Transportasi : Pesawat, Taxi, Gojek

Pesawat

Ini adalah transportasi udara yang kami pakai. Untuk maskapainya, kami menggunakan Lion Air. Alhamdulillah untuk penerbangan di pagi hari (pukul 10.00 termasuk masih pagi), maskapai ini relatif ngga delay.

Untuk tiketnya, saya hanya perlu menunjukkan email dari HP kepada petugas dan selanjutnya antri untuk check in. Dapatlah nomor kursi. 

Senangnya karena di bandara kini disediakan playground. Aisya bermain disana bersama anak-anak lain sambil nunggu take off.

Kami duduk di bagian depan pesawat. Karena layer 1-3 banyak yang kosong, saya pun pindah ke layer dua agar bisa leluasa mengajak Aisya melihat pemandangan keluar jendela. Bagian seru-nya adalah saat saya katakan, “Aisya, itu pulau Bali-nya”, ketika hampir sampai.

Selama di perjalanan dan karena waktu tempuh tidak begitu lama, Aisya tidur pulas. Baru ketika akan sampai saya bangunkan.

Taxi

Karena suami masih di Singaraja dan cukup jauh dari Kuta, sesampainya di Bali, saya dan Aisya naik taxi ke hotel. Suami sudah memberitahu saya untuk naik taxi resmi, tapi berhubung rada bingung, saya naik taxi Bali. Biayanya lebih mahal, sekitar 150rb. Taxi resmi hanya 50rb.

Gojek

Saat suami masih bekerja, saya dan Aisya naik gojek ke pantai Kuta (terdekat dari hotel) sampai magrib. Memanfaatkan waktu sambil menunggu suami sampai ke hotel.

Berry Glee Hotel

Berry Glee Hotel adalah tempat kami menginap di hari pertama saya dan Aisya sampai ke Bali. Berhubung suami masih di perjalanan dari Singaraja ke Kuta, saya check in sendiri.

Suami sudah terlebih dahulu membooking hotel ini, sehingga saya hanya perlu menyerahkan KTP suami. Dan langsung dapat kunci kamar + voucher free karaoke untuk malam hari selama setengah jam.

Hotelnya colorful banget. Kamarnya unik, banyak lampu neon dan ada tempat tidur terpisah untuk anak-anak. 

Lobby hotelnya terkoneksi dengan swimming pool dan restoran. Hotel ini juga memiliki tempat main untuk anak, yaitu : main pasir, playground kecil, beberapa kuda-kudaan, area basket dan kolam anak lengkap dengan perosotannya. Aisya senang main disini. Child-friendly banget deh hotelnya.

Kalau pagi-pagi kita renang dan merasa lapar, kita bisa ke restorannya dulu yang ada di atas kolam renang, hehe.

Hal pertama yang saya dan Aisya lakukan setibanya di kamar adalah membuka bekal nasi dan melahapnya habis. Selanjutnya kami berenang dan bermain di area anak.

Kuta-Seminyak Beach-Pandawa

Dua hari dua malam adalah waktu yg cukup padat saat travelling bersama anak. Pastinya kita ngga akan bisa ke banyak tempat dalam 2 hari karena banyak faktor yg dipertimbangkan. Jadi kami manfaatkan liburan pertama Aisya di Bali ini dengan mengunjungi tempat-tempat yang relatif dekat dengan penginapan. Jalan-jalan dilakukan pagi dan sore hari saat udara tidak terlalu panas. Siang hari kami memilih istirahat di hotel (tidur siang) untuk menjaga Aisya dari teriknya sinar matahari. 

Pantai Kuta-Legian-Seminyak sebenarnya terhubung. Tapi amannya, saya ke Kuta saja. Disana Aisya lari-lari di pinggir pantai. Seru. Kami juga menikmati sunset. 

Seminyak

Di Seminyak, pasirnya lebih soft. Lebih enak buat jalan tanpa alas kaki. Nah disini Aisya main pasir. Bedanya dengan Kuta, disini banyak sekali Gukguk. Pas ke Seminyak tentunya ditemani suami 🙂

Kalau Pandawa.. Belum banyak yang bisa kita lakukan disana, kebanyakan pengunjung duduk di pinggir dan menikmati view yang subhanallah indah. Jalan menuju pantai Pandawa ini dilakukan dengan membelah tebing, di kiri kanan masih banyak crane, dan pembangunan. No wonder view-nya luar biasa. Ombaknya besar (cocok untuk peselancar). 

Suami juga membeli Pie Susu Dian disini, katanya ini pie susu terenak.

Food : KFC-Nasi Pedas Bu Andika-Sate

KFC

Di Kuta ada banyak tempat makan. Waktu saya masih berduaan dengan Aisya saja, dari Kuta, karena sudah lapar, saya menyebrang jalan dan makan di KFC. Untuk breakfast, seperti biasa di Hotel.

Nasi Pedas Bu Andika

Nasi pedas Bu Andika ini tersohor banget di Bali. Saat mau makan pun antriannya panjang sekali. Menu-nya ada yang pedas juga tidak. Sambal-nya yang juara. Untuk Aisya, saya pesankan telur ceplok.

Sate

Malam harinya, kami menyempatkan makan sate di jalan Mataram. Sate ayam yang kami pesan dilengkapi dengan kuah gulai dan kami diperbolehkan nambah kuah gulainya lagi. Ibu penjual sate mengatakan pada saya, kalau di jalan Mataram ada banyak tempat makan yang halal. Sate-nya enak banget lho! Thanks ayah.

Oleh-oleh

Kami membeli oleh-oleh di tiga tempat : Krishna, Agung Bali dan satu toko baju sebelah Nasi Pedas Bu Andika.

Krishna terkenal dengan harga jual oleh-oleh yang murah. Di Agung Bali, harganya lebih mahal namun kualitasnya lebih bagus. Untuk tas (kerajinan, tas khas Bali, tas slempang), daster dan oleh-oleh makanan kami prefer membelinya di Krishna. Namun untuk beberapa kaos dan kain, kami membeli di Agung Bali.

Untuk toko baju sebelah Nasi Pedas Bu Andika, baju pantai anak dan wanitanya lucu-lucu juga terjangkau harganya. Malah ada yang lebih murah dari Krishna. Kualitasnya lumayan bagus.

OK mungkin segini dulu yang bisa saya bagikan. Kalau ada yang inget lagi, nanti saya tambahkan 🙂 happy travelling ibu-ibu.