Resep Praktis BAKED POTATO WEDGES 

Sunting

Dari sekian banyak postingan yang saya tulis, mulai dari Kategori My Stories yang isinya lebih ke my personal thought, tentang Positive Parenting , rekam jejak perjalanan wisata kami di Travelling, obrolan-obrolan saya dengan Ibu muda yang saya rangkum di Cerita Ibu Muda sampai Home Cooking, ada satu artikel yang hampir selalu dikunjungi oleh pembaca blog saya yaitu : Fillet Gurame Crispy + Sop Ikan (link).
Padahal artikel tersebut di posting pada tahun 2014, saat saya hamil besar dan memasak spesial untuk Ibu saya yang sedang Milad. Artinya, topik-topik seputar resep masak masih menjadi favorit pembaca 🙂 makasii banyak yaa yang sudah mampir ke blog ini.

Oleh karena itu, salah satu resolusi saya tahun ini adalah memperbanyak postingan mengenai resep masakan rumah ala Mami Aisya (yaaang masih belajar tentunya). Yuk sama-sama belajar, I’ll be glad to receive your comment and advice about my food loh! 😉

Nah, meski di atas judul utama-nya adalah BAKED POTATO WEDGES, tapi ada Fillet Gurame Crispy yang juga feature disana.. Nggak apa-apa yaa, ceritanya kentang-nya ini pelengkap sajian di pagi hari. Selain praktis, 2 menu ini juga mudah diaplikasikan.

Dimana Letak Praktisnya?

Di penghematan waktu-nya. 

Gegara Trisha Southern Kitchen di Asian Food Channel menjamu keponakannya dengan Sloopyjoe dan baked potato, saya jadi kabita untuk mencoba membuatnya. 

Kalau di percobaan pertama saya gagal total karena kentang-nya lamaaa sekali matangnya saat dipanggang, akibat kebanyakan dan langsung saya masukkan ke oven, Alhamdulillah di eksperimen ke-2 sampai ke-3 berhasil.

Agar proses baking tidak memakan waktu lama (dalam rangka penghematan gas), suami menyarakan agar kentangnya direbus dulu, baru setelah 1/2 sampai 3/4 matang, kita lanjutkan prosesnya di dalam oven.

Alasan Menyajikan Potato Wedges?

Wedges – adalah istilah untuk kentang yang dimasak bersama kulitnya. Untuk memasak potato wedges terlebih dahulu saya cuci bersih kentangnya (pilih kentang dengan ukuran sedang/besar) lalu merebusnya di air mendidih hingga agak lunak.

Kenapa memilih varian wedges? Karena setelah saya coba, hasil kentang yang dipanggang dengan kulitnya itu enak sekali lhooo. Crunchy-crunchy gimanaa gitu, apalagi ditambah taburan keju seledri dan penyedap rasa! Hmm, yamm..

Selain itu, nutrisi pada kulit kentang ada banyak.

Nutrisi Dalam Kentang & Kulitnya

1. Kentang yang dimakan beserta kulitnya mengandung 1.600 mg Kalium, yaitu setengah dari jumlah kalium yang dibutuhkan oleh tubuh.

2. Kentang juga kaya serat, dengan mengkonsumi kentang beserta kulitnya artinya telah mengkonsumsi kebutuhan serat sekitar 7 gram atau 1/4 dari kebutuhan per hari.

3. Satu kentang besar dengan kulit mengandung 33% kebutuhan mangan per hari.

4. Mengkonsumsi kentang beserta kulitnya akan menutrisi vitamin C ke dalam tubuh.

5. Satu kentang beserta kulitnya mengandung 46% vitamin B6 yang dibutuhkan tubuh.

Disarikan dari http://m.liputan6.com/health/read/2094895/5-manfaat-makan-kentang-beserta-kulitnya

Selanjutnya, kita langsung ke bahan dan cara masak yaa.

Aisya bantu Mami dan diawasi sama Mami

Bahan – bahan
1. Kentang ukuran besar/sedang

2. Seledri

3. Minyak Sayur

4. Air 

5. Garam & Penyedap Rasa

6. Keju parut

Cara Memasak

1. Cuci bersih kentang beserta kulitnya (jangan dikupas).

2. Potong-potong kentang menggunakan pisau bergerigi, diusahakan potongannya tidak tipis agar saat direbus kemudian dipanggang, bagian luarnya crunchy dan bagian dalamnya juicy.

3. Panaskan air di panci sampai mendidih, masukkan sejumput garam, disusul potongan kentang. Proses ini membuat kentang lebih cepat lunak.

4. Tusuk dengan pisau kecil/tusuk gigi/garpu, pastikan sudah 3/4 lunak.

5. Tiriskan kemudian tata di loyang yang sudah dialasi baking paper, lumuri dengan campuran minyak sayur, garam, penyedap rasa, parutan keju dan potongan seledri.

6. Panggang di oven hingga bagian luar mengeras dan kejunya berubah jadi kecoklatan. Kurang lebih 10-15 menit. Proses pemanggangab ini akan membuay kentang-nya berkerut/menciut sedikit dari ukuran awal sebelum dimasak.

7. Bila sudah well baked, angkat dan sajikan bersama Fillet Gurame/Ayam Goreng atau cukup dengan saus tomat/mayonaise/saus cabai.

Bagaimana? Very simple and worth to try kan? Selamat mencoba resep praktis Baked Potato Wedges ini dan menikmatinya bersama keluarga tercinta 🙂

Untuk resep Gurame klik disini : Fillet Gurame Crispy Dan Sop Kepala Gurame

Baca juga : Tom Yum Kung Bumbu Bangkok

Advertisements

Day 4 #MalaysiaTrip : Batu Caves 


Masih ingat tulisan saya di DAY1 #MalaysiaTrip : Tiket Promo AirAsia – Masjid Jamek – KLCC Park kalau sambil menunggu boarding, saya memanfaatkan free wifi di Bandara Husein Sastranegara untuk nge-blog? Saat itu saya sedang memposting tentang 5 Hal Menarik Dari Farm House Lembang dimana pada finishing line-nya saya menuliskan harapan agar bisa berinteraksi dan berkenalan dengan banyak orang di #MalaysiaTrip kali ini.

Wisata ke Malaysia saat babymoon dan tahun 2016 lalu tidak memberi waktu dan ruang yang cukup bagi saya untuk making connection with some people that I met in Malaysia.

I hope this year, I have a better opportunity, because basically I like communicating, learn new culture and get many friends.

Dan sepertinya awal tahun ini banyak yang ikut meng-amin-kan sehingga Allah mengabulkan do’a saya 🙂 Alhamdulillah..

Di perjalanan menuju Batu Caves pun saya sempat mengobrol (lagi-lagi) dengan seorang Ibu asal Australia. Beliau pergi berlibur berdua saja dengan suaminya karena anak-anaknya baru saja pulang traveling dari China. Beliau juga menanyakan pada saya, apakah Aisya enjoy traveling? I’ll write our full conversation in and the ‘ibroh’ that I get in DO YOUR KIDS ENJOY TRAVELLING? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu

Naik Keretapi Tanah Melayu Komuter 

Ladies Coach Keretapi Tanah Melayu

Agar naik train-nya sekali jalan, suami memandu saya untuk naik Keretapi Tanah Melayu dari stasiun Bank Negara yang letaknya 1 KM dari Masjid Jamek.

Kami membeli tiket KTM Komuter seharga RM 2,3/orang dari Stasiun Bank Negara ke Batu Caves, token-nya berwarna kuning. 

Berbeda dengan RapidKL, waktu menunggu datangnya Keretapi Tanah Melayu ini lebih lama, ada mungkin sekitar 18 menit. Sedangkan perjalanan ke Batu Caves-nya sendiri cukup singkat, hanya 30 menit.

Saya dan Aisya duduk di coach khusus wanita, disinilah saya ngobrol dengan Ibu Angeline, wanita asal Australia berusia 50 tahun-an. 

Setelah dadah-dadah dengan beliau, Aisya dan saya main-main di dekat burung. Untunglah kemarin kami tidak jadi ke Bird Park, karena di Batu Caves ada banyak burung.

BATU CAVES – KUIL HINDU

Sekilas, saya melihat situs yang dinamai dari Sungai Batu ini seperti situs-situs di Indonesia, yaitu Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Candi Hindu lainnya. Bedanya disini ada patung berwarna emas yang sangat besar, disertai anak-anak tangga menuju kuil Gua.

Sebenarnya ada beberapa kuil yang dipakai untuk beribadah di area ini, mostly dipenuhi oleh masyarakat Tamil yang mengenakan pakaian berwarna kuning dengan polesan putih di dahi. Untuk masuk ke kuil tertentu, pengunjung diharuskan melepas alas kaki.

Kami memilih untuk langsung melihat Patung dan Gua paling ikonik disana. Gua ini adalah salah satu kuil Hindu di luar India yang paling populer dan didedikasikan untuk Dewa Murugan. Terletak di Distrik Gombak, Selangor, situs ini menjadi titik fokus festival Hindu, Thaipussam di Malaysia.

Suami berpesan, “Aisya sama Mami tunggu disini aja ya, Daddy mau naik ke atas”. Saya biarkan beliau pergi ke Gua, sementara Aisya & saya main-main dengan burung merpati dan dara. Tak lama..
“Mami, mana Daddy?”, tanya Aisya.

“Daddy naik ke atas”, jawab saya.

“Aku juga mau naik”, ucap Aisya.

“Jangan, kata Daddy kita tunggu disini aja, yuk main-main sama merpati lagi”, bujuk saya.

“Aku mau naik”, Aisya insist.

Harus saya akui kalau Aisya itu suka tantangan, anak yang pemberani, dan kalau menginginkan sesuatu ia akan gigih dan mencari solusi. Jadilah ia berlari, saya mengejarnya, dan Aisya mulai menaiki anak-anak tangga…

Saya raih tangannya, “Ok kita naik, kita susul Daddy lalu turun lagi. Deal?”, Aisya mengangguk.

Beberapa orang adu cepat menaiki tangga ke Goa, supaya tidak bosan jadi dibikin permainan. Beberapa berhenti sebentar, berfoto, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Yang lain ada yang baru setengah jalan lalu turun lagi. 

Saya mencoba untuk tidak melihat ke bawah agar keseimbangan tetap terjaga. Fokus saya adalah menemukan Ayah Aisya lalu meminta beliau menggendong Aisya turun kembali karena saya mulai shaking.

“Ayo jalan. Jalan”, ada suara seorang pemuda yang tiba-tiba menggandeng tangan kiri Aisya (saya memegang tangan kanan Aisya), menyemangati kami. Dan sampailah kami ke tempat Daddy berdiri.

“HAH? AISYA SAMPAI KESINI?”, komentar Ayah.

“Orang Aisya-nya pengen naik”, saya mengatur nafas.

“Thank you for helping my daughter. Where you from?”, I said.

“No problem, I’m from Turkey”, he answered.

Turki? Wah jangan-jangan kenal sama Dea Audia dan Mustafa Kursun, pasangan Indonesia-Turki di Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesian – Turkey Couple)

Lalu kami mengabadikan momen tersebut dengan iphone-nya Ayah.

Karena kami harus membeli beberapa oleh-oleh lagi, makan siang dan check out dari hotel, jadi pukul 12.00 kami sudah masuk ke KTM Komuter lagi. 

Ikan Pari Bakar & Nasi Goreng Thailand

Aroma ikan bakar menggoda suami saya untuk menjadikannya santapan siang terakhir sebelum kami cuuus ke Bandara. Dengan sedikit tergesa-gesa saya memilih Nasi Goreng Thailand yang saya pikir sama dengan Nasi Goreng Pattaya. Saat dihidangkan, lho kok kaya nasi kuning dengan tumis ayam? Tapii presentasinya bagus nget nget..

Tumis ayamnya dilengkapi dengan bawang bombay, kembang kol, bawang daun, jagung pipil, wortel dan buncis. Ayamnya terlebih dahulu dipotong dadu, di-marinade lalu digoreng dan ditumis dengan sayuran yang saya sebutkan. Sementara nasi goreng kunyit-nya diberi telur ceplok dan timun. Waaah bisa jadi ide masakan di rumah nih.

Surprisingly Aisya suka ini! Paket komplit bin kenyang seharga RM 6.

Sesekali saya mencocol ikan milik suami, karena sambal-nya endeus. Biasanya saus Malaysia ngga terasa pedas sama sekali, tapi sambal yang disajikan dengan pari bakar ini memakai cabe rawit dan kecap, jadi paaas di lidah.
Ikan pari bakar + limau hangat RM 9.

Jumpa Uncle Azwan dan Aunty Fatiha

Ceritanya kami sudah di ruang tunggu KLIA2, suami sholat dulu di mushola. Saya sedang berhalangan, jadi menunggu di luar dengan Aisya. 

“Bun, masuk saja. Sepi”, ucap Ayah.

Saat saya masuk, ada seorang pria senyum-senyum ke Aisya. Ketika kami keluar dari Mushola, ia kembali melempar senyum manis.

“Dari sini?”, saya menebak kalau dia warga Malaysia.

“Ye, dari sini”, angguk-nya.

“Mau ke Bandung?”, selidik saya.

“Ye, nak ke Bandung”, jawabnya sopan.

I’m going to Bandung too“, ucap saya.

“Oh, jangan-jangan sama. Flight jam 17.35?”, tanyanya.

“Iya sama”, jawab saya.

“Saya Azwan, wife saya Fatiha. Ini first time saya dengan wife saya ke Indonesia. Wife saya bilang ke Bandung je lah”, ucap beliau sambil mengenalkan diri.

“Oh yaa banyak orang Malaysia ke Bandung, belanja di pasar baru”, ucap saya dan suami.

Selanjutnya kami ngobrol panjang lebar kali tinggi sambil menunggu take off. Suami saya yang hampir selalu update merekomendasikan beberapa tempat yang asik untuk dikunjungi di Bandung seperti Pasar Baru, Lembang, Gasibu dan ikut Car Free Day Dago karena besok adalah hari Minggu. Suami menyarankan mereka untuk membeli kartu Indonesia agar bisa memesan Grab kemana-mana.

Uncle Azwan juga menanyakan apakah mudah mencari halal food di Bandung? Suami menjawab, “Di Bandung hampir semua makanan halal”.

“Tapi sambal-nya pedas, karena kami pakai chilli padi“, saya menambahkan.

“Oh macam sambal di ayam penyet, ke?”, ia melirik suami saya.

“Yaa.. Macam tuu”, suami saya mengiyakan.

Berasa nonton Upin Ipin deh ~

Yang bikin mereka makin klop adalah keduanya bekerja di Kementrian. Suami saya di Kementerian Keuangan dan uncle Azwan di Ministry of Health. 

Terlihat sekali uncle Azwan gemas pada Aisya, ia ingin menjawil dagu Aisya dan merangkulnya, tapi Aisya terlampau lincah untuk ditangkap.

“Saya ingin sekali punya anak. Saya takut takde lagi rizki”, curhat beliau.

My respond to him was, “U and your wife are still young, enjoy your time and go travel to some places while you still have plenty of time”, mereka pengantin baru berusia 23 tahun-an.

Thats why kami pegi belibur, saya ambil cuti 4 hari”, ia memandang Aisya lagi.

Tiba waktunya kami masuk ke pesawat. Perjalanan 2 jam ke Bandung ini terasa lebih cepat, Aisya tidak tidur selama penerbangan. Kami mengoret-oret kertas dengan pulpen, membuat boneka kertas bergambar beruang, Aisya menawarkan sereal pada batita yang terus menerus menangis di kursi belakang, jalan-jalan ke toilet yang Aisya bilang, “Toilet di pesawat kecil ya, Mami”, sampai mencopot dan memakaikan kembali masker di muka ayah.

Saat kami tiba, Bandung sedang diguyur hujan, suami berinsiatif untuk memesankan taxi sekalian untuk uncle Azwan dan aunty Fatiha.

Uncle Azwan sempat bilang, “Sampaikan salam rindu saya pada Yasmin, maybe dia masih ingat uncle Azwan. Kalau ke Malaysia lagi bagi tahu aja mbak, kalau saya ada di Kuala Lumpur lagi, maybe saya bisa temani mas Irfan dan mbak”.

Duh..pesannya meuni puitis gitu buat Jasmine 🙂 ya Insya Allah semoga Bang Azwan dan istri segera dikaruniai keturunan dan next time bisa traveling bareng. Amiiin.

Oh! AND turn out that Beryls chocolate that we are lookong for in airport is SOLD OUT. Next year (kalau ‘mudik’ ke Malaysia lagi) harus coba ke Beryls Chocolate Kingdom nih 🙂

Now this is a wrap! Sekian catatan perjalanan liburan ke Malaysia 18-21 Januari 2017 ini. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat yaa. Amiin.

Thank you hubby, Aisya and Malaysia. What a lovely travelling 🙂 Alhamdulillah…

Baca juga :

DAY2 #MalaysiaTrip : Awana Skyway Genting Highlands

DAY3 #MalaysiaTrip : TAMAN TASIK PERDANA

DAY 3 #MalaysiaTrip : TAMAN TASIK PERDANA

Shalat subuh di Kuala Lumpur dilaksanakan pada pukul 06.00, jadi kita bisa shalat tahajud dulu jam 05.00-nya. Enak ya? 🙂
Suasana jam 7 pagi masih sepi, matahari belum muncul, beda banget sama Cicaheum yang dari jam 6 pagi sudah macet. Atau Bintaro yang kalau ingin pas buka tirai masih dapat pemandangan yang sejuk itu yaa jam 5-an.

Aktivitas mulai terlihat ‘sibuk’ jam 9-an. Saat itulah alas kaki akan saling beradu di stasiun RapidKL. Eh tapi hari ketiga ini suami saya memesan Grab Car ke Taman Tasik Perdana, alasannya karena tidak ada stasiun di dekat sana. 

Kami menunggu Grab-Car di dekat Mydin. Suami saya membeli kartu Malaysia karena di hari pertama, kami sempat lama menunggu datangnya bus Go-KL dari Bukit Bintang ke KLCC Park. Aplikasinya sudah ada tapi ternyata harus menggunakan nomor Malaysia. Dan kemarin malam, suami sempat nostalgia ke tempat beliau makan saat pertama kali datang ke Malaysia bareng teman-teman semasa kuliah yang ternyata bersebelahan dengan hypermarket Mydin. 

“Bun, ternyata Mydin dekat lho dari hotel, trus Ayah nemu tempat makan pertama pas kesini. Dulu Ayah sama teman-teman backpakeran, ikut mandi dan istirahat-nya di Masjid Jamek, itu Masjid yang wajib dikunjungi kalau ke Malaysia. Nanti Bunda kesana ya!”, ucap suami ber-api-api.

Driver Grab mem-pickup dan menurunkan kami di pintu masuk Taman Tasik Perdana.

“Tempat apa ni? Kita pun orang Malaysia tak pernah tengok tempat ni”, ucapan driver-nya bikin kami saling pandang. Lebih tepatnya setelah masuk ke dalam, its like are you joking Mr. Driver? Really because tamannya luas banget, ada playground besar di dalamnya dan FREE ENTRY!

Giant Playground di Taman Tasik Perdana 

Hal pertama yang kami lakukan adalah bermain-main di Taman Dinosaurus. Disini ada banyak permainan, saya langsung menamai tempat ini giant playground. Seriusan playground sebesar ini lengkap dengan ayunan, jungkat-jungkit, terowongan anak, castle, jembatan kayu, perosotan dan area ketangkasan anak lainnya gratis lagi, sayang banget, sepi.. Jadi berasa milik sendiri.. Mau main berapa kali ngga perlu antri, mau jungkir balik, akrobat juga bisa, akhirnya Aisya, Bunda, Ayah, ikut main semua 😀
Playground-nya ada 2 dan sama-sama luas, yang sebelum pulang kami datangi lebih kecil sih dan sama juga, sepi. Kalau playground ini bisa diboyong ke Bintaro/Bandung, Bunda mau nemenin Aisya tiap hari main disini. Puas banget soalnya! Pulang-pulang bisa pulas anak-nya dan Bunda-nya bisa me-time :p

Danau – Teratai – Bamboo House – Sungai di Taman Asri Nan Hijau

Menyusuri Taman Tasik Perdana ini kayanya nggak ada habisnya. Mirip dengan Kebun Raya Bogor, tapi ini lebih luas. Luasnya mencapai 104 ha. 
Taman yang flora-nya bervariasi hijau berseri ini aseli cantiiiiiik pake banget, terutama karena terawat dengan baik. Kami berpapasan dengan petugas kebersihan di dekat sungai yang manggil-manggil Aisya, “Sini dek, sini”. Sempat juga kecegat sama tupai dan kadal besar.. Hiiiiy lariiii..

Lepas dari sungai, kami berfoto di jembatan dan main rumah-rumahan di Bamboo House (PENTING! Di area Bamboo House ini ada Free Wifi lhooo), lalu menikmati angin sepoi di dekat danau sambil meneguk air mineral yang kami bawa dari Hotel, “Haus-nyaa…”, ucap Aisya ngikutin gaya Upin Ipin.

Berhubung sudah mau jum’atan, kami menuntaskan safari di taman yang dulunya bernama Sydney Lake ini – dan pada masa pemerintahan Tun Abdul Razak di tahun 1975, namanya diperbaharui jadi Taman Tasik Perdana – dengan mengunjungi playground yang satu-nya lagi. Playground ini diperuntukkan bagi anak-anak balita, disini Aisya senang -manjat-manjat dengan tali sambil nyanyi, “For the first time in forever, there will be music there be light..” 
Subhanallah anak Bunda teatrikal banget  :’)

Karena Taman yang juga dikenal sebagai Lake Garden ini letaknya persiiis di belakang, eh ralat! Cukup dekat dengan Masjid Negara, awalnya suami mau ngejar sholat Jum’at disana. Tapi setelah mengestimasi jarak dan tenaga yang tersisa, suami saya lebih memilih sholat Jum’at di Masjid Jamek. Kami kembali ke hotel menggunakan Grab Car, kali ini dapet promo jadi gratis, yeaaay ~

Dalam perjalanan pulang Jum’atan dari Masjid Jamek, saya mengirim pesan melalui WhatsApp pada suami untuk membungkus nasi goreng Pattaya, Aisya lahap sekali makan nasi goreng ini semalam, jadi saya pesankan lagi. Kami makan di kamar, sebungkus berdua. 

Berjaya Time Square – Monorail

Sore-nya kami jalan-jalan ke Berjaya Time Square. Untuk sampai ke Berjaya Hills, kami harus turun di perhentian Hang Tuah. Kami baru selesai membaca petunjuk di peta, saat seorang turis bertanya, “Excusme, where is Songgai Besi? I’m sorry I’m new in here and I don’t know which train should I take to Songgai Besi”.
Sebenarnya saya mau menjawab, “I’m also tourist here, and don’t you know that Allan and Barbara Pease write a book about Why Women Can’t Read Maps?”.

Saved by my husband, “Songgai Besi? Hmm, oh Sungai Besi!”, suami saya menunjukkan tempatnya di peta serta jalur train yang harus ia ambil.

“How should I pronounce it?”, tanya pria ini.

“Sungai Besi”, jawab saya. Dan ia mengulanginya.

Kami berjalan beriringan ke lantai atas dan berpisah saat train menuju Hang Tuah datang.

Berjaya Time Square, seperti juga mall lainnya, dihias dalam rangka penyambutan Chinese New Year, dan teman saya yang tinggal di Malaysia bilang biasanya ada SALE besar-besaran setiap tahun baru China, terutama di Sogo dan KLCC. Disini kami hanya window shopping saja lalu pulang naik Monorail yang ternyata lebih dekat ke mall-nya ketimbang naik RapidKL.

Karena sudah larut, malam hari-nya kami makan di restoran india depan Citin Hotel, kali ini saya memesan Chapati. Sebelumnya saya sudah pernah mencicipi Cheese Naan, Tossai dan roti Prata, sekarang ingin tahu rasanya Chapati. Saya pesan satu lembar Chapati saja, makan malam hemat, hanya RM 1,5 saja (Rp. 4.500). 

* * *

Baca juga :

DAY1 #MalaysiaTrip : Tiket Promo AirAsia – Masjid Jamek – KLCC Park

DAY2 #MalaysiaTrip : Awana Skyway Genting Highlands

DO YOUR KID ENJOY TRAVELLING? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu

Jalan-jalan Ke Kuala Lumpur – Melaka 4 Hari

DAY4 #MalaysiaTrip : Batu Caves

DAY 2 #MalaysiaTrip : Awana Skyway Genting Highlands

Bismillah, melanjutkan rekam jejak dari  DAY 1 #MalaysiaTrip : Tiket Promo Airasia – Masjid Jamek – KLCC Park ,hari kedua kami di Malaysia dimulai dengan sarapan pagi di hotel, lalu kembali mengajak kaki ini menuju Masjid Jamek Train Station, orang Malaysia menyebut kereta api train sementara kereta adalah sebutan untuk mobil. Kereta sewa berarti taxi 🙂

“Daddy, aku yang masukkin koin-nya ya”, ucap Aisya setelah mengambil token yang Ayah beli di vending machine. Aisya senang men-tap koin di enter gate dan memasukkan koin di exit gate, bagi Aisya rasanya seperti sedang menabung uang koin di kencleng. RapidKL pun datang tanpa kami harus menunggu lama, ada jam digital dan waktu hitung untuk memprediksi berapa menit lagi train-nya datang. Naiklah kami menuju KL-Central.

Counter Go-Genting & Tiket Awana Skyway

Sampai di KL-Central, kami langsung bertanya ke bagian informasi mengenai counter Go-Genting. Ternyata kami harus naik 1 lantai. Dari eskalator kami belok ke kiri, di paling pojok kiri ada counter tiket yang menjual tiket bus straight to Genting Highlands. Penjual tiket menanyakan jam berapa kami akan kembali, dan dengan mudah kami dapat menentukkan waktu pulang dengan melihat papan berisi jadwal bus Go-Genting kembali ke KL Sentral di sore hari. We pick bus at 10.30 am to go from KL Central-Genting, and bus at 5.00 pm to come back from Genting to KL Central.

Tiket PP sudah di tangan, petugasnya menawari kembali apakah kami mau sekalian membeli tiket Awana Skyway disini? Ya agar lebih praktis kami langsung membeli tiketnya disini.

Harga :

1. Tiket bus Go-Genting RM 4,30/orang. RM 8,60 PP.

2. Tiket Awana Skyway RM 8/orang.

Awana Skyway – Mountain Cable Car

Kalau kata Genting staff yang duduk di sebelah saya saat di bus, Awana Skyway ini baru dibuka lagi after 6 months of reconstruction. Jadi sebelumnya wahana ini ditutup dan tinggi serta lintasannya diperpanjang dari Mountain Cable Car yang sebelumnya. Bahkan wahana seperti Universal Studio yang bertempat di Genting Highlands malah sedang dipugar, mau dibangun tempat wisata baru nampaknya.

Menurut saya Awana Skyway ini juga berfungsi sebagai shortcut transportation bagi kita yang ingin mengunjungi Genting Highlands, waktu tempuhnya berkali-kali lipat lebih cepat ketimbang menggunakan jalan darat, only 10-15 minutes from Awana Station to the final stop, SkyAvenue Station, no traffic above 🙂

Untuk naik ke Awana Skyway, terlebih dahulu kita harus menaiki tangga ke lantai 4 wiiiiw ngga ada lift lagi! Semuanya harus jalan kaki. Sengaja mungkin, pemanasan sebelum akhirnya kita leyeh-leyeh-duduk-terpukau di Awana Skyway dan menikmati keindahan yaaaang subhanallah dari luar jendela. Satu gondola muat untuk maksimal 10 orang, biasanya diisi oleh 1 family or group of people yang saling kenal. Hal ini membuat saya cukup lega, artinya di dalam kami bisa memiliki privacy (kebayang kan kalau disatukan dengan traveler yang lain, kami akan malu untuk foto-foto ekspresif saat naik Awana Skyway). Aisya, saya dan suami duduk bertiga. Bismillah french made cable car-nya mulai melayang…

Selama naik Awana Skyway ini, kita disuguhi pemandangan yang luar biasa, kita bisa melihat jalanan dan mobil-mobil yang terlihat kecil di bawah, menerobos gunung, masuk ke area berkabut tebal, tinggiii sekali. The tallest tower stands at 53 meters high! Merinding saya..

Awalnya saya semangat, lama kelamaan mulai DEG DEG DEG karena makin tinggi, semaaakin tinggiii lagi dan nggak berhenti-henti. Wajar saja, ternyata panjang lintasan Awana Skyway ini 3,38 km kalau Bunda-nya senang tapi rada-rada shaking, Aisya malah loncat-loncat di dalamnya, kalau kata Aisya ini kaya Peppa pig, Mami Pig, George dan Daddy pig waktu naik Ski Lift di musim salju, bedanya disini nggak ada salju (kapan-kapan kita main ski di switzerland yaa nak, amiin). Alhamdulillah she is happy, brave girl 🙂 Bunda senaaang sekali punya anak pemberani.

Because of this great view and sensation, and the cool air, Tanah Tinggi Genting also called ‘Fun World Above The Sky”.

Fun World Above The Sky : Jalan-jalan di Tanah Tinggi Genting

First World Plaza Genting Higlands

Kami turun bersama penumpang lain di SkyAvenue Station yang langsung terkoneksi dengan mall besar. Begitu masuk ke dalam mall ada suara-suara yang menenangkan dan layar-layar besar yang menampilkan gambar pesona alam seperti air sungai, tanaman, hutan, all nature. Mall-nya masih dalam tahap pembangunan jadi kami hanya sight seeing disini sambil menerka-nerka mau kemana lagi..

Kami mencium harum makanan dari lantai paling bawah SkyAvenue Mall. Ada penanda bertuliskan Kedai Makan B5. Otak kami menerjemahkannya, food court ada di basement level 5.

Sampai di B5, suami belanja snack dulu di supermarket yang berada di sebelah Old Town Cafe. Sementara saya ngecek ke kedai makan. Kami sudah duduk di dalam dan siap memesan makanan ketika pramusaji-nya mendekati kami dan bilang, “Disini takde halal“.

“Oh, takde halal?”, suami saya memastikan. Pramusajinya mengiyakan, sambil senyum lagi.

Dalam hati saya bergumam, Ya Allah, baik banget deh mba-mba yang wajahnya mirip artis Korea ini, mau mengingatkan kami kalau sebagai muslim kami harus memilih makanan yang halal *teaaaars

How many possibilities that stranger who care about us reminding us to stay on track?   Padahal kami lapar banget lho dan kalau mba-nya mau cari untung doang, bisa kan beliau ngga jujur sama kami..

Maybe that’s the nature of Malaysian people, their hospitality already touch me in Jalan-jalan ke Kuala Lumpur – Melaka 4 Hari 🙂 Alhamdulillah kami bertemu dengan banyaaak orang-orang yang baik dan ramah selama di Malaysia.

Sambil agak bingung, saya merobek bungkus belvita gratisan yang kami dapat di stasiun kereta (ada sekelompok orang yang membagikan free Belvita disana). Setelah saya lihat iklannya versi Malaysia di youtube menggunakan wifi Hotel, saya jadi paham kenapa brand ini menggunakan Ashraf dan BCL Sinclair sebagai modelnya, tenyata mereka berdua cukup terkenal di Malaysia. Pertama karena Ashraf berasal dari Malaysia dan istrinya, Bunga Citra Lestari juga makin dikenal setelah membintangi My Stupid Boss bersama aktor dan aktris Malaysia lainnya, seperti Chew Kin Wah yang sekarang digaet Ernest di Cek Toko Sebelah.

Balik lagi ke tummy, saya menyuapkan potongan Belvita ke mulut Aisya, sementara suami mengganjal perutnya dengan popsicle

“Yuk, ke atas lagi. Balik ke Kuala Lumpur aja sekarang kalau susah nemu tempat makan disini”, ajak saya.

“Yaudah kalaupun tiket pulang yang jam 5 sore nggak berlaku sekarang, kita beli tiketnya lagi aja”, suami mendukung ajakan saya.

Kami balik lagi ke atas, dan tiba-tiba, ” Bun, ada McD! Makan disini aja ya. Waaah pucuk dicinta ulam tiba, selain jadi satu-satunya resto halal di mall ini. juga karena saya agak kepingin makan di KFC sini sebenarnya, lagi-lagi karena nasi lemaknya dan potato wedges-nya yang gurih. Saya masuk ke McD bersama suami dan Aisya dengan harapan hidangannya serupa dengan KFC.

Well, saat nampan sudah ada di depan mata, ternyata french fries-nya sama seperti di negara sendiri 🙂 TAPI AYAM-nya hmmmm enak sangaaat. Ayah membelikan ice chocolate with whipping cream buat Aisya, she like it.

Salah seorang pramusaji tersenyum dan menyapa kami, “Budak-budak kecil sekarang dah pandai cakap yaa, saye perhatikan dah pandai-pandai”, sambil me-lap meja sebelah dan melihat ke Aisya.

Kemudian ia bicara panjang lebar dalam bahasa Malaysia which I hardly catch.

“Speak urdu?”, tanya saya.

Urdu, yes“, sahutnya.

Aap ka naam kya?“, saya menanyakan namanya.

I’m Reni and you?“, beliau balik bertanya.

Mera naam Sundari. Kesay ho aap?“, saya bertanya bagaimana kabarnya.

Acha hai“, ia bilang kabarnya baik.

You speak urdu?”, beliau terlihat kaget.

“Choti hai”, hanya sedikit ucap saya.

“Where u from?, tanya Reni lagi.

“Indonesia”, kompak saya dan suami menjawab.

“Oh, I’m sorry I thought u guys from here, makannya saya cakap melayu”, pria berwajah india ini tertawa. Reni adalah nama yang bisa digunakan baik untuk pria maupun wanita, pria berusia 40 tahun ini menerangkan pada kami. Dan karena Pakcik Reni banyak cakap, kami sekalian bertanya tempat mana saja yang bisa dikunjungi di area Genting ini.

Kebetulan setelah makan, Aisya pulas kecapean jalan, nggak apa-apalah sekalian kami ngaso, pegel juga mengitari mall besar ini.. Alhamdulillah konser keroncong di perut sudah usai, jadi kami urung untuk segera ke stasiun SkyAvenue, masih pengen jalan-jalan, mumpung disini…

Pakcik Reni, menuliskan beberapa tempat wisata yang bisa kami kunjungi disini dalam secarik kertas, diantaranya :

1. First World Plaza, disini ada theme park besar, wahana bermain anak dan Snow World.

2. Genting Strawberry Farm, untuk kesini bisa naik free shutle bus dari First World Plaza.

Tapi kami hanya ke First World Plaza, yang dekat saja. Disini ada theme park besar, kami menyempatkan diri berfoto di beberapa spot.

Oia, ingin cerita sesuatu yang lucu hari ini. Saat kami strolling around di First World Plaza, ada 2 orang turis memanggil-manggil kami dan bertanya, “Do u speak english?”, and we said yes.

Saya pikir mereka mau minta tolong untuk difoto, karena 2 pria asal Iran tersebut membawa kamera (plus tongsis sebenarnya), but perhaps kan ya.. Lalu, pria yang menggendong anak bilang, “I’m sorry, I bring kid and we have to change..”,

“Oh, diaper?”, naluri keibuan saya langsung ‘ngeh’ kalau bapaknya mau minta pampers buat anaknya. Saya rogoh tas dan mengambil cadangan pampers buat Aisya (kalau di rumah sudah lepas pampers tapi berhubung ini sedang jalan-jalan jadi Bunda sedia aja).

“Just one”, bapak-nya mengacungkan jari telunjuk. Lalu beliau menawarkan apakah mau di-exchange dengan uang? Kami bilang, “No“, its already a pleasure to help you.. 🙂

Sekitar pukul 3.30 sore kami sudah berada di stasiun SkyAvenue lagi, langsung naik ke dalam gondola diikuti seorang Bapak tua – berambut putih – mirip pendekar kungfu.
Di menit-menit awal kami sama-sama diam, hingga akhirnya Sang Bapak membuka suara.

“Mau minum? Ambil, ambilah”, Bapaknya menyodorkan botol air mineral pada Aisya. Suami saya kemudian menaruhnya di kursi.

“Terimakasih, Pak”, ucap kami.

“Saya ambil dua tadi”, jelas Bapak yang baik hati ini.

Sampai di stasiun Awana kebagian waiting list karena jadwal kepulangan kami harusnya kam 5.15 sore. Saya menunggu sambil ngobrol dengan turis lainnya. I did’nt asked for her name, seperti biasa, Aisya yang disapa duluan.

“Hai, what’s your name?”, ucap Ibu yang juga tinggal di Australia ini. Tapi Aisya malah asik lari-larian..

“My name is Jasmine”, sahut saya mewakilkan Aisya. Obrolan pun berlanjut, Ibu ini habis jalan-jalan dengan teman-temannya dari Singapura kemudian lanjut ke Malaysia dan besoknya akan ke Vietam.

“Singapore is really hot ya”, komentar beliau, “Is Indonesia hot?”, beliau menengok ke arah saya..

“Hmm, in some places it is hot like Jakarta – the capital city of Indonesia and in some other places the weather is cool like Genting Highlands, for example Bandung, come visit Indonesia one day”, jawab saya.

Bus pun datang, Alhamdulillah kami masih kebagian seat waiting list. Jadi untuk yang WL itu harus berbaris dan kalau ada kursi kosong, petugas akan memanggil kami. Kira-kira ada 7 orang yang WL dan semuanya bisa masuk.

Masjid India Food Corner One of The Best Dinner Ever

Yap the food I order here, which is Tom Yum is one of the best food I ever taste. Kuahnya kental banget! Beda dengan tomyum di Dago atas ataupun Tomyum yang pernah saya makan baik di Dikti, saat kondangan, maupun saat masak sendiri. Semacam pakai santan tapi saudara suami yang tinggal di Selangor (kami bertemu saat mudik ke Arjasari), itu bukan santan. Hmm apa ya?

So, sebelum memutuskan untuk makan dimana malam ini, setelah kami pulang dari Genting, suami bertanya, “Bun, nggak bosen makan masakan india terus? Kita coba ke tempat makan lain yuk. Ada tempat makan pas Ayah pertama kali ke Malaysia, di sebelahnya Mydin. Deket banget dari sini ternyata. Sekalian beli oleh-oleh aja”.

And here we go, suami membawa kami makan malam di Masjid India Food Corner. Alhamdulillaaah, very delicious, the tom yum is as good as the Nasi Goreng Pattaya.

And to be completely honest, yang bikin dinner kali ini sangat spesial adalah momen-momen kebersamaan yang sudah kami lewati sepanjang hari. Momen dimana kami bertiga ngobrol, bertatap muka, saling memandang. Pertanyaan-pertanyaan simpel seperti, “Mau makan apa? Enak ngga makanannya? Besok kita kemana yaa?”, tanpa harus grasak grusuk buru-buru mau kemana-mana. Santai.

Mau berangkat nunggu Aisya bangun, sepanjang jalan kalau Aisya capek, Ayah akan gendong dengan sukacita. Di train Aisya naik pangkuan saya supaya bisa meraih pegangan, ingin ikut berdiri seperti beberapa penumpang lainnya. Bisa dibilang traveling bertiga kali ini, kami benar-benar menikmati yang namanya quality time.

Kami sempat chit chat dengan pramusaji di food corner sebelah Mydin ini, ternyata beberapa dari mereka berasal dari Medan, Aceh dan Jawa.

All for good cost, Tom Yum + Nasi Goreng Pattaya + Teh Tarik RM 12,5 (Rp. 37.500) murah bingits!

Beryl’s & Cokelat Yummi di Mydin

Selesai makan, kami membeli oleh-oleh di Mydin. Hanya beberapa cokelat untuk dibagikan pada saudara, tetangga, kolega suami di kantor dan konsumi pribadi.

Beberapa oleh-oleh yang kami beli

Cokelat di Malaysia diakui sebagai salah satu rasa cokelat terbaik di dunia, enak dan halal. Cokelat yang paling difavortikan adalah Beryls Chocolate. Sayang di Mydin jalan Masjid India tidak selengkap Mydin di dekat Pasar Seni. Jadi kami hanya membeli beberapa cokelat Beryls batangan seharga RM 9/batang. Rasanya juga enak banget. Selain itu kami membeli Kitkat, Milo, Teh Tarik, Toblerone, Cadburry, Cloud 9, beberapa cokelat lainnya dan Mee Cup pesanan adik saya. Sebenarnya ada Chocolate Kingdom di Bukit Bintang, tapi kami tidak jadi kesana. Kami berencana mencari Beryls lainnya di Bandara.

* * *

Baca juga : 

DO YOUR KID ENJOY TRAVELING? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu

DAY 1 #MalaysiaTrip : Tiket Promo Airasia – Masjid Jamek – KLCC Park

DAY3 #MalaysiaTrip : TAMAN TASIK PERDANA

DAY4 #MalaysiaTrip : Batu Caves

DAY 1 #MalaysiaTrip : Tiket Promo AirAsia – Masjid Jamek – KLCC Park

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Malaysia nampaknya telah mencuri tempat di hati kami, terhitung setelah menikah, kami mengunjungi Negeri Jiran ini sebanyak 3 kali (as couple). Kalau suami sendiri malah sudah 5 kali.

Selain low budget, makanannya terjamin (halal), cokelat-nya enak-enak, orang-orang yang kami temui di Malaysia, baik turis maupun warga asli, bisa dibilang ramah-ramah.

Contoh kecil, baru juga tiba di Bandara Husein Sastranegara, seorang Ibu asal Malaysia yang berpapasan dengan saya di toilet sudah memuji-muji Aisya..

“Banyak cakap yaa anaknya, berapa umurnya? She is tall ya. Rambutnya cantik sekali”, ucap Ibu tersebut.

Hati Bunda mana yang nggak terambil kalau anaknya dipuji? :p mungkin saya GR aja kali yaa hahaa… 

Baiklah setelah cukup lama pending, saya mau mencicil rekaman perjalanan kali ini. Kalau tahun 2016 kami ke Melaka dan menyusuri Melaka River Side menggunakan Cruise, tahun ini ada banyak tempat yang kami kunjungi. Mungkin karena kami hanya pergi bertiga, jadi agak santai dan kemana-mana naik RapidKL, KTM Komuter, GO-KL, Bus, Grab Car juga, otomatis kemana-mana jadi lebih cepat. Sebelumnya kami berangkat dalam grup, jadi selalu ada saat saling tunggu menunggu 🙂

Tempat-tempat yang kami kunjungi selama 4 hari ini antara lain : KLCC Park, Petronas Twin Tower, Bukit Bintang, Genting Highlands, First World Plaza, Taman Tasik Perdana, Berjaya Town Square, dan Batu Caves.

It start with..

Tiket PP AirAsia Bandung – Kuala Lumpur Rp. 500.000/pax (min 3 pax)

Wisata ke Malaysia 18-21 Januari 2017 ini terbilang dadakan, rencananya dalam rangka Milad Aisya yang ke-3, saya ingin sekali celebrate it somewhere to make it more special. Pak suami sebelumnya sudah membeli tiket ke Bali (which I also looove Bali) tapi one way. Untuk pulangnya, masih menunggu ada tiket murah. Nah! Di masa menunggu itulah Big Sale AirAsia mem-broadcast tiket PP Bandung-Kuala Lumpur Rp. 500.000/pax dengan minimum pemesanan 3 pax. Pas kan dengan jumlah personel keluarga kecil kami. Aisya kami belikan seat sendiri karena ia sudah above 2 years.

Tanpa pikir panjang, kami pun mem-booked tiket. Pak suami bilang, “Gini aja, pesawat ke Kuala Lumpur kan pagi banget, kalau keburu kita ke Malaysia, kalau engga, kita ke Bali”,- nothing to lose.

Jam 06.00 itu sudah mulai traffic di Cicaheum, memesan Uber/Grab/Taxi biasa sepagi itu sama saja dengan limit goes to zero. Oleh karena itu, kami pun meminta tolong tetangga untuk mengantar kami ke Bandara, berhubung orang tua saya sedang Umroh dan mobil yang biasa mereka pakai ditinggal di garasi.

Barang Bawaan : 1 Koper Sedang + 1 Ransel Suami + 1 Tas Rilakkuma + 1 Tas Selempang Suami

Koper sedang berisi baju-baju saya dan Aisya. Untuk perjalanan selama 4 hari, saya membawa 4 potong baju dan 1 baju tidur. Baju Aisya ada sekitar 8 potong, karena saya selalu bawa back up untuk anak yang nantinya saya simpan di tas kecil Rilakkuma beserta bekal saat kami jalan-jalan di Malaysia.

Ransel suami berisi 4 potong baju suami dan seperangkat kamera bpro. Tas selempang suami berisi dompet, paspor dan HP.

Aisya di longue Husein Sastranegara dengan koper kami dan saya membawa tas kecil Rilakkuma

Penerbangan pukul 08.00 dari Bandara Husein Sastranegara Menuju KLIA2

Di loungue untuk penerbangan internasional tidak ada playground anak seperti waktu saya – berdua saja dengan Aisya – menunggu domestic flight ke Bali.

Tapiii, suasana di dalamnya sangat nyaman. Ada nursery room (tuh kan kalau emak-emak mah ngecek yang begini duluan). Banyak kursi, sofa, dan tempat untuk tiduran yang disediakan. Ruang tunggunya cozy banget, thanks to Pak Ridwan Kamil 🙂 Kami menunggu cukup lama disini, wifi yang kenceng saya manfaatkan untuk blogging

Long story short, kami naik maskapai yang didominasi warna merah itu, Aisya sempat merajuk, “Nggak mau naik yang red, Daddy. Mau naik yang warna-nya blue“.

Ayah menenangkan Aisya dengan, “Semuanya warna red, De. Nggak ada lagi warna lain. Dede mau naik Garuda? Nanti ya April”.

KLIA 2 – KL Sentral – Masjid Jamek

Sesampainya di KLIA2, hawa-hawa luar negeri mulai tercium. Ketemu sama orang-orang dari berbagai negara disini. Banyak sekali turis yang mengunjungi Malaysia, there must be something about this country that attract them. 

Lolos dari imigrasi, kami segera mengambil trolley agar Aisya bisa balapan sama Mami (Aisya naik di atas koper dan didorong Ayah), sementara Mami lari kecil di sebelahnya. Pura-pura ngejar supaya anaknya seneng..

Ber-‘pusing-pusing’ di Bandara yang mirip Mall besar ini memakan waktu kurang lebih 1 jam.. Pemanasan sebelum kaki diajak jalan-jalan. Kami melanjutkan perjalanan dengan Bus Transportation Hub KLIA2-KL Sentral seharga RM 12/orang dan RM 6/anak. Totalnya RM 30. Kami berangkat pukul 12.20 dari basement Bandara.

Di bus inilah Aisya berkenalan dengan Uncle Davin. Uncle Davin berasal dari Australia, beliau sudah pernah ke Bali dan Flores. Pantas saja beliau bilang, ” Indonesia Bagus”, saat tahu kami dari Indonesia. Kalau mau lihat video-nya bisa berkunjung ke instagram saya @sundarieko (maklum belum bisa upload video di blog).

Pssst, karena saya dan suami duduk terpisah (saya sendiri), suami bersebelahan dengan Uncle Davin saya perhatikan suami ngobrol cukup lancar dengan Om bule 🙂 Alhamdulillah Ayah mulai percaya diri! mungkin karena saya sering ngajak Aisya speak english, Ayah juga jadi termotivasi.. 

Tiba di KL Sentral, waktu menunjukkan pukul 13.30, cukup cepat ya perjalanan dengan bus dari KLIA2 ke KL Sentral. 

KL Sentral adalah hub (pangkalan) yang menghubungkan beberapa moda transportasi seperti RapidKL, KLIA express, Monorel, KTM Komuter, dan lainnya (kami juga membeli tiket bus Go-Genting sekaligus tiket Awana Skyway disini). Bentuknya seperti stasiun besar, banyak orang lalu lalang kesana-kemari, various people from different culture. Ketika sampai kesini lagi ada pertunjukkan dari badut-badut lucu, waaah Aisya dikasi balon! Ow it’s like an official birthday 🙂 

Di KL Sentral pada hari pertama, kami membeli token RapidKL (RM 1,5) ke arah Masjid Jamek. 

Cara membeli token di Vending Machine ini mudah lho, kita tinggal memilih alat transportasi apa yang akan kita pakai bus/rapidKL/KTM Komuter/KLIA express, lalu memilih stasiun yang kita tuju. Di layar akan muncul total biaya yang dikalkulasikan berdasarkan jarak dan jumlah token yang diminta, misal train dari KL Sentral ke Masjid Jamek harga tiketnya 1,5 RM, dikali 2 jadi RM 3,0 (Aisya free), selanjutnya kita tinggal memasukan lembaran/koin ringgit Malaysia ke dalam vending machine-nya. Kembalian dan token akan keluar dari bagian bawah mesin. Jangan lupa tap token in enter gate dan memasukkan token di exit gate.

Dalam sekejap, kami sudah tiba di stasiun Masjid Jamek. Sayang masjidnya sedang direnovasi (bagus banget desainnya, mirip Masjid Nabawi) jadi hanya dibuka untuk pelaksanaan sholat Jum’at saja, selain itu pengunjung tidak diperkenankan masuk. Alhamdulillah pak suami dapat rizki sholat Jum’at disini, suami bilang saat sholat orang dari segala bangsa ada bahkan ada yang Jum’atan pakai kaos oblong.

Hotel Citin Masjid Jamek

Kami menginap di Hotel Citin, Masjid Jamek-nya pelengkap saja supaya mudah dicari, patokannya Masjid Jamek tinggal jalan dikiit. Meski kamarnya lebih kecil daripada Pacific Express Hotel –where we stay last year– dan tidak ada kolam renangnya, namun hotel dengan charge per malam Rp. 230.000-an ini cukup nyaman untuk diinapi kami bertiga, lokasinya strategis, dekat dari stasiun RapidKL dan shuttle bus Go-KL, banyak tempat makan yang ramah di dompet, dekat ke hypermarket Mydin yang super affordable (disana banyak cokelat branded dengan harga miring) buat oleh-oleh, saya juga membeli kerudung untuk Ibu saya di pasar kaget yang berada di sekeliling hotel. Apa lagi yaa? Oh breakfast-nya! Lumayan banget ini.. I like the potato wedges.

Kami memilih untuk istirahat dulu karena cukup lelah berjalan kaki dan membawa barang, -eh tapi Aisya ko ngga bobo-bobo ya? Hihi- baru malam hari kami akan mengajak Aisya melihat fountain show di KLCC Park.

Happy Birthday Jasmine Aisya!

Tanggal 18 Januari 2017 ini usia Aisya bertambah, selamat 3 tahun Aisya 🙂 semoga Aisya jadi anak sholehah, sehat dan kuat terus, jago masak, cerdas, santun, akhlaknya baik.. Amiin.

Aisya antusias sekali melihat pertunjukkan air mancur-nya. Kami menari berputar-putar ala india mengikuti alunan musik yang mengiringi dancing water fountain-nya.

Sebelum mengunjungi taman di area Petronas Twin Tower ini, kami jalan-jalan naik Go-KL dulu di sekitaran Bukit Bintang. Go-KL adalah free bus yang beroperasi di Kuala Lumpur.
Adzan magrib baru berkumandang pukul 19.30 malam. Selama di Malaysia kami meng-qasar sholat kami, sekitar pukul 9 malam kami pulang karena lapar. Hanya ada 1 tempat makan lagi yang buka di dekat Hotel Citin, hari pertama di Malaysia, saya memesan nasi Ayam dan Milo untuk makan malam dan Mee goreng saat lunch 🙂

Siang hari sebelum kami istirahat, saya tidak merasa begitu lapar, karena sebelumnya ngemil-ngemil bekal peach flatbread pizza yang saya beli sore hari dan sosis goreng. 

Its save our tummy on board #keMalaysiapunbawabekal #alwaysbekal #lovebekal #saveourtummyonboard

Berlanjut ke DAY2 #MalaysiaTrip : Awana Skyway Genting Highlands (klik link berikut

https://sundariekowati.wordpress.com/2017/02/21/day-2-malaysiatrip-awana-skyway-genting-highlands/

Baca juga : 

DAY3 # MalaysiaTrip : TAMAN TASIK PERDANA
DAY4 #MalaysiaTrip : Batu Caves
DO YOUR KID ENJOY TRAVELING? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu
Jalan-jalan ke Kuala Lumpur – Melaka 4 Hari

DIY TUMBLR LAMP Made By Aisya 

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak subuh, Bandung sudah diguyur hujan deras. Agak siangan hujan pun reda meski masih mendung-mendung sedikit. Grandpa pun mengajak Aisya naik kereta-kereta api-an di Bandung Indah Plaza. Pulangnya kami mampir sebentar ke Baltos (Balubur Town Square). Mall yang menyatu dengan pasar tradisional dan toko-toko yang menjual berbagai alat dapur, elektronik, pakaian, kain, kerudung, sepatu, buku, mainan anak, stationery, dan banyaaak lagi, semacam perpaduan antara pasar baru dengen BEC tapi lebih rapi dan simple. Beberapa brand ternama juga membuka outlet disini, seperti Zoya, Wardah, Elzatta Hijab dan Dian Pelangi.

Mumpung cuaca lagi mendukung untuk stay at home aja, jadi Mami terpikir untuk melakukan kegiatan yang asik dan memakan waktu yang cukup lama dengan Aisya, yaitu bikin karya!

Awalnya sih Mami liat aunty Arum yang nyusun-nyusun stik es krim tinggiii sekali dari kemarin dan bentuknya agak kompleks. Pas Mami tanya buat apa, ternyata tantenya Aisya yang masih sekolah kelas VIII Mts ini mau menghias tempat untuk tumblr lamp.

Aha! Saya rasa bakal asik juga nih bikin DIY Tumblr Lamp (tempatnya) sama Aisya. Ini dia alat dan bahannya.

Alat dan Bahan
1. Stik Es Krim, beli di Pasar lantai D2 Baltos, harga 2000/pack.

2. Lem Fox (minta punya aunty Arum).

3. Tumblr lamp tipe warm, beli di Baltos lantai D2, harga Rp. 55.000 (banyak tipe-nya, ada yang kuning, putih, merah, hijau, ungu, warna-warni tinggal pilih dan bayar aja).

Cara Membuat

1. Rekatkan beberapa stik es krim sekaligus untuk alas lampu tidur. Bagian ini Aisya yang me-lem dan menempel. Alhamdulillah sudah rapi (Mami tidak menyangkaa hebat!).

2. Buat kerangka dengan menumpuk masing-masing 4 stik es krim hingga berbentuk seperti gambar kedua di atas.

3. Susun semua kerangka dengan tinggi sesuai keinginan kita, kalau kami sampai tumblr lamp-nya bisa masuk saja.

4. Masukkan tumblr lamp ke dalam wadah lampu tidur dari stik es krim tadi (tentunya setelah lem kering).

5. A for Aisya. For finishing touch, saya bentuk huruf A menggunakan sisa stik es krim untuk diletakkan di bagian paling atas.

6. Lampu tidur siap dipajang di sudut ruangan. Colokkan kabel tumblr lamp ke stop kontak dan atur jenis cahaya yang diinginkan : berpedar/konsisten/kelap-kelip.


Last, turn the lights off, enjoy a lovable romantic night with family 🙂

Ternyata seru juga yaa bikin-bikinan yang seperti ini, memang dibutuhkan waktu yang cukup lama dan sabar, but thats the point of today activities. Selamat mencoba moms, mudah kan?

DO YOUR KID ENJOY TRAVELING? – Percakapan di Keretapi Tanah Melayu 

Travel is learning that the journey is as memorable as the destination

 Ika Natassa – Critical Eleven

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Banyak orang berpergian, sedikit yang menuliskan catatan perjalanan. Di era digital ini, people prefer to upload their activities in instagram, path, facebook, twitter, u name it! Sometime no caption, saking banyaknya.

Awalnya saya juga lebih senang meng-unggah foto di instagram, selain simpel, terkadang sebuah foto mampu menceritakan banyak hal yang kata-kata terlalu terbatas untuk mendeskripsikannya. 

Lalu bagaimana kalau saya lupa detail-detailnya? Setiap orang ingin mengenang sesuatu yang indah saat menua kan? Atau sesederhana agar anak saya bisa mengingat-ingat kembali kemana saja orang tua-nya membawa Aisya di masa kecil. A Milestone.

Menuliskan rekam jejak juga bisa menjadi referensi bagi teman-teman lain yang mungkin ingin pergi ke destinasi yang kita kunjungi. Lengkap dengan rekomendasi penginapan, pilihan dan tarif transportasi, tempat makan, dan cerita-cerita lainnya yang mewarnai perjalanan kita.

Travel quote di paragraf paling atas mengingatkan saya untuk mencatat kejadian-kejadian kecil bersejarah yang saya alami ketika traveling. Kadang destinasi wisata-nya tidak terlalu ‘wah’ tapi hubungan antar manusia yang terjalin selama perjalanan itulah yang membekas di hati kita.

Bagi saya, percakapan singkat di ladies coach Keretapi Tanah Melayu dengan Angeline –  Ibu asal Australia berusia 50 tahunan -membawa saya pada renungan yang lebih dalam. 

“Travel is the simple chance of re-inventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger”, lagi saya kutip dari novel Critical Eleven yang sedang diadaptasi menjadi film lebar dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai pelakon utama-nya.

DO YOUR KID ENJOY TRAVELING?

Mrs. Angelie : Do your kid enjoy traveling?

Saya : Hmm, actually it feels like we a bit forcing her to go to some places that we want to visit

Mrs. Angeline : Have u go to bird park?

Saya : no, not yet

Saya : But yesterday we went to Taman Tasik Perdana and play in a giant playground, so i think it pay the guilty pleasure

Mrs. Angeline : yea.. Yea.. 

Mrs. Angeline : I kinda miss the time when my children are still little. We used to take them to the zoo, bird park, places like that. Now that they are all grown up, I kinda miss that time..

Saya : How old are they?

Mrs. Angeline : one 18 and one 16

Saya : Why didn’t they come with you?

Mrs. Angeline : They just coming back from traveling from China, so I don’t think that they are interested in Malaysia. Because its China, you know..

Mrs. Angeline : My husband and I came here because we never been to Malaysia, so we think, yea let’s come here

Mrs. Angeline : Where you from?

Saya : Indonesia

Mrs. Angeline : O yea, we’ve been to Bali. Because it near from Australia, and its beach, that’s the only place I ever visit in Indonesia..

Saya : yea.. Many tourist there

Mrs. Angeline : Oh! you should go to Langkawi, we went there. Its a beautiful place. Traveling is good for children, they can learn new culture

Sepuluh kata terakhir yang beliau ucapkan sambil tersenyum ke Aisya ini membuat saya menggali lebih dalam tujuan traveling..

THE IDEA OF TRAVELING

Kapan saya mulai akrab dengan kata ‘traveling‘? 

Jawabannya adalah sejak menikah.

Mungkin karena suami bertekad mengunjungi 30 provinsi di Indonesia. Mungkin juga karena beliau sering mengajak saya jalan-jalan ke tempat-tempat yang lagi nge-hits, mencicipi menu di restoran yang baru buka, ifhar jamaai sama temen-temennya di Hotel, – which I never tried that with my friends before -, traveling ke Bali, Singapura, Malaysia. Bahkan saudara kami sampai bilang, “Kalian udah kaya mudik aja ya, setahun sekali ke Malaysia”.

Mungkin Malaysia dengan nasi lemak, tom yum, roti-roti india, nasi goreng thailand, Beryls chocolate, mee cup, milo sejuk, teh tarik dan keramahannya merupakan destinasi terjauh yang bisa kami tempuh abring-abringan untuk saat ini. I know some people would rather visit Bangkok yang culture-nya lebih ‘kaya’, or maybe Japan tetangga pun bilang, “Kuala Lumpur itu ngga ada bedanya sama Jakarta”.

Betul. Padat, pejalan kaki dimana-dimana. Jam 8 malam, suara sepatu beradu, orang-orang bergerombol naik eskalator. Pulang untuk esok pagi berangkat lagi. They were busy working for living.

Tempat wisata? Beberapa wahana malah buatan, bukan wisata alam yang memukau seperti pantai-pantai di Flores, Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, Wakatobi, Green Canyon Pangandaran, bukan pula pegunungan seperti Bromo, Rinjani, Kebun Buah Mangunan di Yogyakarta, entah ada atau tidak Lodge seperti di Bandung, kami belum mengeksplor semua tempat.

Call me ‘katrok’ but here.. I found many people from various culture. Banyaknya turis yang mengunjungi Malaysia juga bukti kalau ada sesuatu disini yang membuat mereka datang.. Ini semacam nyicil..

Pas kemarin jemput Om di kampus ITB, saya bilang ke Aisya, “Mami dulu sekolah disini”.

“Waktu kecil Mami sekolah disini?”, sekarang Aisya gantian nanya, “Mami mau sekolah lagi ngga?”,

Reflek saya jawab, “Mau dek”, tapi pelan. 

Saya ingat kamus Oxford yang saya baca pertama kali, keren kelihatannya, buka-buka untuk melihat pronounciation dari kata-kata yang saya pelajari. A rehearsel sebelum mengikuti lomba story telling di UPI – saat saya masih SMP. Dibantu Harry Potter, kosakata dan pelafalan saya bertambah bagus, tekniknya adalah setiap kalimat yang diucapkan Harry/Hermione/Ron saya repeat, bahkan saya sempat mengajari teman saya how to tell a story with a teatrical act. Mungkin bakat teatrikal Aisya ‘turun’ dari saya. Kamu boleh kok ikutan casting film kalau ada peran yang kamu inginkan, kalau udah besar, KALAU KAMU MAU.. 

U could be everything that u want Aisya, I’m not gonna force you to fulfiil the dreams that I can’t achieve back then 🙂

And so, dari SMP itulah saya ingin sekolah di Oxford, setengah-setengah sih percaya dirinya. 

Saat membaca pengumuman SPMB dan nama saya tertera di pilihan pertama kemudian memulai hari pertama saya dengan taplok, teman-teman yang jadi juara umum di sekolahnya, anak olimpiade dan sederet prestasi kece-nya di rangkaian OSKM, lalu duduk di kelas menyimak mata kuliah Kalkulus, Aljabar Linear, mempelajari Complex Analysis, berjuang memahami apa itu maximum likelihood methods, “Ngapain kita (me)naksir kalau peluangnya sedikit?”, gitu analoginya kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari. 

Saya paling suka integral, diferensial dan limit. “If a limit of an integral goes from zero to infinity, that would be?”, ini kalimat favorit saya dari dosen Kalkulus di kelas. Saya sering menirukannya, enakeun ngomongnya hihi..

Hingga akhirnya Estimasi Permeabilitas Pada Reservoar Terbatas Menggunakan Ensemble Kalman Filter menjadi pengantar final saya menuju wisuda Sarjana Science, I realize that its the best prestige I could present to my parent. That time.

Allah has lead me here.. 15 tahun setelah saya pengen tapi angin-angin-an buat sekolah ke Europe, sampai saat ini ibarat hamil, saya masih mengidam-idamkan untuk pergi kesana. Sekedar menemani suami ambil master di Belanda/Swedia juga boleh.. Saya ikut-ikut community college-nya atau course-nya aja. That would be fine 🙂 yang terpenting Aisya dan Ayah sekolah di LN. Amiiin Ya Allah.

Ya jadi buat saya, kemana pun suami tiba-tiba memberitahu saya kalau beliau sudah booked tiket untuk traveling and we should pack then go, saya syukuri. Alhamdulillah bisa punya waktu yang benar-benar berkualitas bertiga. 

TRAVELING IS A QUALITY TIME

In some case, travel make us trapped in a situation where gadget cannot be our partner to ‘talk’ anymore, mostly in a place where no wifi and no signal. And this situation giving us a chance to have an actual conversation, the one with eye contact and ear to hear.

Somehow, traveling kini menjadi bagian dari hidup saya, yang dulunya lebih milih tidur dan nonton film sebagai sarana liburan. 

Definisi traveling dari asalnya hanya tok jalan-jalan bergeser menjadi quality timeThe time we spent with our children is treasure. Sangat menarik saat bu Angeline mengatakan, “Now that they are all grown up, I kinda miss that time”.Anak kita cepat sekali bertambah usia-nya. Manfaatkan momen kanak-kanak mereka sebaik-baiknya. Ibu Angeline rindu mengajak anak-anaknya tamasya ke kebun binatang! As simple as that..

Invest your best in your children. Be there while you can, make everyday count, for the time you’ll miss them.. When they are all grown up and…

U may fill the dots with your own thought 🙂

Melihat banyaknya anak muda yang traveling dengan backpaker mereka, saya tidak yakin apakah mereka masih highschool tapi sepertinya iya, ditambah Ibu Angeline yang menceritakan kalau anak-anaknya traveling ke China sementara beliau dan suaminya jalan-jalan ke Malaysia, membuat saya bertanya-tanya, off course I didn’t ask for further more, rasanya kurang sopan yaa baru kenal udah nanya macem-macem. 

Padahal saya ingin tahu how they manage it?

Akhirnya saya menjawab pertanyaan itu sendiri. Mungkin dari kecil anak-anaknya dilatih menabung. Like, save your money to travel, traveling will make you rich by experiencing new things and learn new culture, mungkin begitu wejangan orang tuanya.

Dan harusnya orang yang sering traveling itu makin wise ya. Kan udah mingle with different kind of culture and people. Harapannya punya growth mindset dan bijak dong seperti not judge easily, talk wisely, act properly..

If not..

SO WHAT TRAVELING DO TO YOU?

Kalau traveling ngga bikin kita (minimal saya) belajar hal baru atau jadi lebih ‘terbuka’ pikirannya, rugi dong?

Teh Patra, super teen moms yang menikah di usia 17 tahun dan melahirkan anak pertamanya di usia 18 tahun dan anaknya ini sekarang lagi kuliah di Melon Carneige University Qatar dan dia juga mengulas tentang Ummi-nya yang sukses mendidik 6 anaknya padahal nikahnya masih terbilang remaja dan lagi bahkan Teh Patra-nya studi sampai S2. And their family still stick together up until now..

Buat yang mau nikah dini bisa berguru sama beliau ya 🙂

“Buat saya traveling itu investasi“, ucap Teh Patra saat mengisi taklim alumni pascasarjana ITB beberapa tahun lalu di CC Barat.

Investasi itu sejatinya menghubungkan kita pada sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Atau membuat kita makin kaya. Kaya akan pengalaman, kaya akan budaya, kaya raya.

Bukannya ngga mungkin, kita kenalan sama orang baru, lanjut ngobrol seru, ada timbal balik dan tau-tau dia mau ngajak kerjasama. Flight yang awalnya hanya rekreasi naik pangkat jadi perjalanan bisnis. Meski skala-nya masih kecil ya ngga apa-apa tho..

Koneksi sekenceng wifi ini pastinya harus dipupuk, dimulai dari sapa menyapa, senyum, ngajak ngobrol, bertukar pengalaman, merekomendasikan tempat baru, seperti saat Ibu Angeline mencetuskan kata “Langkawi”, saya jadi tahu destinasi wisata lain yang bisa saya kunjungi kalau tahun depan ada rizki buat jalan-jalan ke Malaysia lagi.

Siapa tahu obrolan asik berbuah nomor cantik, bisa kontak-kontakan, janjian ketemu lagi, traveling bareng, jadi ‘keluarga’ pas kita jalan-jalan ke negara dia atau seperti saya bilang, you guys create something together 🙂

Memperlebar sayap kita.

Ada satu pertanyaan pada diri saya sendiri sih, yaitu, “Apakah traveling membuat saya lebih beriman?”

Traveling yang suami saya senangi ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. 

Tentunya saya belajar dari traveling-traveling sebelumnya. Ada kalanya charger saya ketinggalan di hotel, saya nyadarnya di rumah.. 

Pernah juga saat malam-malam naik Cruise menyusuri Melaka River Side, saya khilaf nggak bawa celana panjang buat Aisya. Waktu itu agak ripuh di kamar, saya unpack barang, masuk-masukin bekal dan buru-buru pencet lift ke bawah karena sudah ditunggu rombongan. 

Dua kejadian di atas membuat saya berani mengaktivasi fungsi sweeping, iya kaya waktu jurit malam pas osjur trus senior-nya sweeping takut-takut ada yang tertinggal. As a couple we are a team! So check and remind the other to re-check.

Alhamdulillah up until now, managemen traveling keluarga kami membaik 🙂 berkat do’a-do’a keluarga dan teman-teman semua. Semoga makin membaik. Amiin Ya Rabb.

Sekarang saya senang me-manage barang-barang yang akan dibawa, menyiapkan bekal, nge-checklist apakah semua sudah masuk koper?
Membagi-bagi mana yang bagusnya masuk ke ransel kecil, perlu bawa minum refiil dari hotel atau engga, ancang-ancang back up baju Aisya kalau-kalau kenapa-napa di penerbangan jadi diselipin juga di tas bekal. 

Paspor dipegang siapa? Siapa yang nanti dorong koper dan siapa yang gendong Aisya? Ayah pesan makan apa, Bunda makanannya mau yang mana? Saling coba. Pesan satu minum untuk bertiga, biar romantis.. (Hemat..hemat..buat beli oleh-oleh).

Nge-pack dan misah-misahin mana oleh-oleh buat kantor, tetangga, buat di Bandung dan buat ke Arjasari. Saya jadi suka aja. Simple yaa tapi butuh managemen yang baik juga 🙂

Saya bersyukur, Aisya start it earlier. Alhamdulillah wa syukurillah and thanks to hubby. 

Traveling is good for children, they can learn new culture – Mrs. Angeline

As good as this sentence, traveling with good intention suppose to bring all the excitment and a joy of exploring new places into a better level.

Level of wisdom, level of behaving, and level of our iman…

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung 

[QS. Al-Jumuah : 10]

I will support my husband and my children to travel to some places. May all the journey we made unite us as one, and become a more sakinah mawadah warahmah tiil Jannah. Amin.

Terimakasih sudah membaca 🙂 jika dirasa bermanfaat silakan di-share.