MY MUM IS A WONDER | Review Buku Anak

7229751

Pic from Goodreads

This book is very beautiful, its my first impression. 

Michele Messaoudi, menuangkan kata-kata berima, menyentuh, dan value yang bagus dalam My Mum Is A Wonder. Halaman pertama pada ceritanya saja sudah memberi muatan positif dan membuat saya jatuh hati.

Every morning when I arise,
It always comes as a surprise
To see my mum dressed and ready,
Reading Qur’an by the baby

Kalimat-kalimat yang tertuang dengan ciamik di tiap halamannya ini juga didukung oleh ilustrasi yang cantik. Saya suka dengan ilustrasi yang dibuat oleh Rukiah Peckham ini. Entah kenapa saya suka dengan gambar-gambar seperti yang ada di buku ini 🙂

In a unqiue way, membaca buku cerita anak terbitan The Islamic Foundation United Kingdom ini seringnya membuat saya merasa lebih tenang.

Cerita dalam buku ini mengasingkan saya dari hiruk pikuk rutinitas harian, dan membawa saya ke dunia yang tenang, nyaman, damai. Menunjukkan sisi-sisi lembut dari seorang Ibu dan somehow, membuat saya berkata ke diri sendiri, “I want to be that kind of mother”.

Ya, saya sengaja memilih buku ini untuk dibacakan ke Aisya, tujuannya banyak. But in fact, buku ini memberi saya lebih banyak pembelajaran. Sebetulnya ada beberapa buku anak lain yang memberi efek tenang pada saya, jadi saat saya lagi gusar, saya terkadang menenangkan diri dengan membaca buku cerita anak. Hihi.

Judul Buku : My Mum Is A Wonder
Penulis : Michele Messaoudi
Ilustrator : Rukiah Peckham
Penerbit : The Islamic Foundation UK
Terbitan Pertama : Tahun 1999
ISBN : 978-0-86037-298-1

Buku yang saya pegang ini cetakan ke-7, yaitu tahun 2017. Subhanallah. Oia, buku ini terdiri dari 20 halaman ya.

 

Baca juga : DEEP IN THE SAHARA – MAURITANIAN WOMEN IN MALAFA| REVIEW BUKU ANAK

My Mum Is A Wonder – Bercerita Tentang Apa Sih?

“A young boy’s lively account of his mother’s wonderful work brings into full view the joy of Muslim family life, with all its warmth, love and focus on pleasing Allah.”

My Mum Is Wonder bercerita mengenai seorang anak laki-laki yang tinggal bersama Ayah, Ibu dan adiknya. Anak laki-laki ini mengamati berbagai hal yang dilakukan Ibunya, ia mengagumi Ibunya, ia juga belajar banyak hal dari Sang Ibu.

Menurut anak laki-laki ini, his mum is a wonder, karena :

  • Saat ia bangun, ia melihat Ibunya sudah berpakaian rapi, duduk membaca Al-Qur’an sambil ditemani adik bayi dan kucingnya
  • Ibunya memberi ia pelukan hangat yang membuat ia berani mandi di pagi hari
  • Ketika ia sakit, Ibunya rela meninggalkan tempat tidurnya dan mengompres keningnya
  • Ibunya suka memberi kepada yang fakir, menengok teman-temannya yang baru melahirkan termasuk silaturahim kepada nenek yang sudah tua

And many more. I like all that part, and this one below is my favorite. 

DSC_0499

Hal-hal yang Ibunya lakukan bisa dibilang sederhana tapi mengena di hati anaknya. The little amazing things lah ya. Keteladan Ibunya ini masuk ke alam bawah sadar anak. Dan mendidik lewat keteladanan adalah yang semestinya kan ya.

Di akhir cerita, anak laki-laki ini digambarkan sudah dewasa dan tanpa ragu-ragu ia mengurus Ibunya yang sudah renta. He said, that it is a thank you for his mother and bring him closer to Jannah.

Baca juga : PEPPA PIG AND I LOVE YOU GAME | REVIEW BUKU ANAK

Buku Ini Recommended Gak?

Recommended banget! Di goodreads ratingnya 4,79.

Read by yourself deh Moms, supaya betul-betul bisa merasakan energi positif dari buku ini.

Where Can We Find This Book?

Buku ini saya beli tahun 2017 di Little Tree Library – Buku Islam Impor, harganya masih sama kok, Rp. 135.000′-

Di periplus.com juga ada, harganya Rp. 128.000,- tapi estimasi waktu pengirimannya 10-20 hari.

Silakan dipilih mau pesan kemana, cek dulu saja link yang saya infokan ya. Btw, asik ya sekarang mah, mau pesan buku apa saja bisa online.

Okay dear Moms, and friends, ini review buku cerita anak My Mum Is A Wonder dari saya. Semoga membantu. Buat yang punya dan pernah baca buku ini juga, mangga tambahkan testi di kolom komentar ya.

And don’t hesitate to share this post 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Nanan Nuraini – Lanjut Studi Ke Bristol Dengan 2 Balita

IMG-20170630-WA0000

Nanan Nuraini adalah seorang Ibu dari 2 anak, juga founder komunitas Ceria – Cerita Ibu dan Anak yang saat ini sedang merampungkan kuliah di Bristol, Inggris.

Saya sendiri tergabung dalam komunitas Ibu Ceria setelah berkenalan dengan Nuy – sapaan akrabnya,  ketika mengunjungi saya pasca melahirkan Aisya di Borromeus. Beliau adalah teman suami saya di PAS Salman.

Tahun lalu, Umay Wafi dan Nuraisya ini mengatakan bahwa beliau dan keluarganya akan pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi. Wah, menurut saya ini kabar yang luar biasa. Saya tertarik untuk mendengar cerita Nuy yang lanjut S2 lagi setelah memiliki 2 anak. Untuk itu, saya menghubungi Nuy di momen Ramadan-Lebaran yang masih hangat ini untuk sharing di Cerita Ibu Muda.

Teruntuk para Ibu Muda, melalui wawancara ini, Nuy berbagi mengenai motivasi sekolah lagi, perjuangan mendapatkan beasiswa LPDP, alasan memilih jurusan yang sekarang ditekuni, apa saja yang harus dipersiapkan ketika istri akan bersekolah di LN dan membawa serta keluarga. Selamat menyimak yaa 😊

Assalamu’alaykum Nuy. Apa kabar nih? Sehat-sehat kan Umay, Abah, Abang dan Nuraisya?

‘Alaykumussalam Alhamdullillah semunya sehat, tapi Abang lagi batuk. Disini lagi musim panas, kemarin suhu-nya mencapai 25 dercel. Terus kadang-kadang hujan dan suhu-nya sampai 18 dercel. Jadi anak-anak pada batuk.

Gimana rasanya melewatkan Ramadan di Bristol yang jarak antara selesainya tarawih dengan sahur hanya terpaut 2 jam saja?

Awalnya terasa berat karena melihat jam-nya, “Wah lama banget nih puasanya, 19 jam. Sahur jam 2, adzan shubuh jam 3 terus adzan magrib jam setengah  10”, batin saya.

Ternyata, pas dijalani sama kaya shaum di Indonesia, memang lebih lama sih tapi ngga terasa capek atau lapar. Terus, kalau mau buka dengan masakan Indonesia ngga bisa jajan, harus masak sendiri. Jadi mau ngga mau terpaksa belajar bikin cireng, bihun goreng, rendang, segala macem masak sendiri atau ngga main ke rumah teman-teman yang orang Indonesia juga.

Kalau lagi Ramadan gini, aktivitas apa yang paling terasa perubahannya?

Nah, yang paling terasa adalah perubahan jam tidur anak-anak. Biasanya anak-anak tidur paling lambat jam 10. Sekarang karena buka jam setengah 10 malam di Masjid, pulang dari Masjid jam 22.15. Sholat isya jam 23.00 terus tarawih sampai 12. Jadi anak-anak tidur jam 11 atau 12. Akibatnya anak-anak bangunnya siang, kalau Abang ikut sahur terus tidur lagi, bakal bangun jam 11 siang. Tapi kalau ngga ikut sahur bangunnya jam 9 atau jam 10 pagi sudah bangun.

Gimana suasana Idul Fitri di Bristol?

Tentang suasana Idul Fitri di Bristol bisa dilihat di netcj.co.id/Suka-Cita-Lebaran-di-Bristol-Inggris ya. Yang bisa saya ceritakan disini, saat Idul Fitri banyak tempat untuk melaksanakan sholat Ied. Sholat Ied dimulai jam 7 dan penuh banget karena umat muslimnya banyak dan masjidnya kecil. Kami sholat di AshShahaba Masjid, dekat dari rumah hanya perlu berjalan kaki selama 5 menit. Khutbah pada sholat Ied menggunakan bahasa yang berbeda, tergantung Masjid-nya. Ada yang menggunakan bahasa Inggris, Arab atau Somali.

Usai sholat, kami bersalaman dan menyantap makanan ringan, kue-kue khas timur tengah, berbagai minuman seperti teh, kopi, susu, jus juga roti, kue tart dan lain-lain.

Anak-anak banyak yang diajari sedekah disini. Mereka bawa bungkusan untuk anak-anak lainnya. Isinya permen, cokelat, biskuit, balob dan dibagi-bagikan di Masjid.

Anak-anak perempuan yang masih kecil mengenakan gaun yang cantik lengkap dengan rambut yang dihias. Sedangkan orangtua-nya berpakaikan sederhana, didominasi oleh warna hitam.

Karena kami tinggal di flat dengan 3 keluarga muslim lainnya, pulang dari Masjid kami lanjutkan dengan sarapan di saah satu flat yang paling besar. Makan opor, balado, tauco, sup buah, telur, capcay dan lainnya.

Siang jam 12-an kami berkunjung ke rumah orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Bristol. Ruamhnya luas sekali, halaman rumahnya seperti lapangan bola dilengkapi dengan prosotan, trampoline besar, ride on, jadi anak-anak anteng main di playground rumah ini. Makanan Indonesia pun banyak tersaji. Di area ini kami juga berfoto dan bernyanyi.

Panitia dari Al Hijrah Bristol, bikin kuis buat anak-anak tentang pengetahuan Islam. Hadiah yang disediakam membuat anak-anak semangat menjawab dan tambah happy karena dapat hadiah saat lebaran. Acara ini di-organize oleh beberapa komunitas orang Indonesia di Bristol.

Lalu tamat. Lebarannya hanya satu hari dan tidak ada libur lebaran. Alhamdulillah karena kami memiliki sahabat orang Malaysia, jadi hari Rabu-nya kami ‘Lebaranan’ lagi dengan makan-makan di rumahnya.

Selama Ramadan, kuliah tetap jalan yaa. By the way, Nuy kuliah dimana? Dan apa yang bikin Nuy merasa sreg dengan jurusan ini?

Alhamdulillah jadi selama ini hanya dua kali kuliah dan setelah itu kuliahnya udah beres, jadi hanya pernah merasakan puasa sambal kuliah 2 kali. Kuliahnya di University of Bristol jurusan Psychology Of Education.

Sebetulnya saya selalu tertarik dengan perkembangan anak dan dunia ibu terutama ibu muda. Tapi sayangnya, saat memilih jurusan, saya ngga kepikiran nyari jurusan family studies. Jadi saya ngambilnya langsung ke psikologi atau perkembangan Pendidikan. Nah yang Perkembangan Pendidikan ini kemarin saya ngga nemu, nemunya di Belanda.

Akhirnya saya mencari universitas di Inggris yang memiliki development of psychology dan ngga nemu. Ternyata sebenarnya ada di Lanchester. Tapi karena saat itu saya ngga tahu jadi saya ngga ambil jurusan itu. Dan jurusan Psychology Of Education adanya di UCL dan di Bristol. Ke UCL ini saya sudah terlambat daftarnya, satu-satunya pilihan daftar ke Bristol dan Alhamdulillah diterima.

Biasanya kan ibu-ibu memutuskan untuk S2 saat belum memiliki momongan atau baru mempunyai satu anak dengan konsekuensi anaknya tinggal di Indonesia atau ada pihak keluarga yang ikut. Nah Nuy kan sudah memiliki 2 anak, keduanya balita. Kalau boleh tahu, apa yang memotivasi Nuy untuk mantap bersekolah kembali?

Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah sebelum menikah. Saya tidak ada rencana menikah sambal kuliah. Plan awal saya, setelah lulus S1 langsung S2 ambil profesi psikolog. Tapi faktanya saya menikah selagi kuliah dan melahirkan selepas wisuda.

Nah setelah jadi ibu mikir-mikir lagi nih, beneran mau kuliah lagi? Ntar ninggalin anak, apalagi kalau ambil Master Psikologi itu padat banget, Sabtu saja masih ada kuliah. Akhirnya saya tunda keinginan untuk kuliah itu dan saya melupakannya.

Kemudian suami sekolah lagi, ambil master. Saya juga belum kabita saat melihat suami kuliah lagi, hanya komentar, “Oh dia kuliah lagi. Yaudah”, gitu aja.

Tapi saat hamil anak kedua (Nuraisya), suami bilang, “Gimana kalau kamu coba ambil kuliah lagi. Cobain yang LPDP”.

Terus saya bilang, “Males ah ngapain? Anak udah mau dua, ngapain sih kuliah lagi?”.

“Ya cobain aja, ngga ada salahnya kan mencoba”, kata suami lagi.

Kemudian saya nurut sama suami. Saya coba belajar Bahasa inggris, ambil tes IELTS, ketika hasilnya keluar dan cukup, saya langsung daftar LDPD. Eh ternyata dapat deh.

Habis itu baru saya mikir, “Haduh dapet nih LDPD, artinya harus beneran kuliah nih”.

Ini bikin saya galau, mikirin gimana nih harus kuliah, dah dapet beasiswa tapi saat itu saya belum bener-bener pengen kuliah, baru merasa, “Kayaknya asik nih kuliah di luar negeri tapi belum betul-betul mantap”.

Saking stress-nya, saya sakit tipes. Selama 1 minggu saya dirawat di Rumah Sakit dan hampir sebulan istirahat total di rumah. Setelah sembuh dari tipes, saya ikut program persiapan beasiswa dan nyari tempat kuliah. Terus dapet deh disini, di Bristol Alhamdulillah.

Selain dorongan dari suami, saya juga ingin mempunyai ilmu yang bisa saya pertanggungjawabkan pada komunitas saya. Saat ini saya mengelola satu komunitas namanya Ceria (Cerita Ibu dan Anak).

Dan supaya lebih percaya diri dalam memfasilitasi teman-teman lainnya di komunitas ini, saya harus cari ilmu lagi. Salah satunya dengan kuliah lagi. Semoga nanti bisa mempraktekkan ilmunya kepada para Ibu. Dan juga saya pengen punya sebuah rumah yang bisa memfasilitasi para ibu khususnya Ibu muda untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang keluarga, perkembangan anak, psikologi anak dan sebagainya secara cuma-cuma.

Di Inggris ini ada yang namanya Family and Children Center, di tempat ini para ibu dari mulai ibu hamil dan Ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun difasilitasi oleh pemerintah berupa informasi seputar Ibu dan anak, dibantu kebutuhannya, susu-nya, segala macam.

Ada semacam support group yang memang difasilitasi oleh pemerintah. Jadi ngga perlu ikut seminar berbayar, karena semuanya sudah difasilitasi oleh pemerintah. Jujur saya jarang banget ada seminar parenting disini atau saya gaptek? Entahlah. Yang jelas, semuanya memang sudah difasilitasi disini.

Bahkan saya juga ingin memberikan fasilitas yang namanya home visit bagi  para Ibu. Disini, ibu-ibu sejak hamil hingga anaknya berusia 5 tahun tadi bakal dikunjungi secara berkala oleh health visitor dan mereka akan menanyakan bagaimana keadaan ibunya, keadaan anaknya, kondisi ekonominya. Kalau ekonominya kurang bagus, para Ibu ini bisa mengajukan benefit.

Benefit ini berupa pengajuan uang untuk membeli kebutuhan ibu ini. Itulah impian saya.

Sekarang kita ngobrolin tentang beasiswa LPDP yaa. Dari semua tahapan yang ada, proses mana yang Nuy anggap paling menantang?

Sejujurnya, untuk proses penerimaan beasiswa saya santai banget. Kalau diterima Alhamdulillah, ngga juga ngga apa-apa. Karena awalnya tadi ngga begitu ingin pengen kuliah, cuma pengen terus dimotivasi suami untuk daftar LPDP.

Namun saya tetap yakin akan menerima beasiswa LPDP ini, tujuannya untuk menenangkan diri. Tenang, saya pasti diterima, karena nanti kan akan ditanya, “Kenapa kamu yakin diterima? Kenapa kamu yang harus jadi penerima beasiswa?”, oleh pewawancara.

Jadi salah satu tips-nya untuk pemburu beasiswa, kita harus yakin diterima. Usaha dulu, urusan hasil serahkan sama Allah. Husnudzan sama Allah, Insya Allah apa pun yang terjadi kita bakal tetap tenang dan bersyukur.

Selanjutnya, tantangannya buat saya adalah melawan diri sendiri.
Karena saat itu saya lagi hamil trimester akhir dan harus persiapan IELTS, administrasi LPDP dan lainnya.

Terus merasa deg-degan meski awalnya santai banget karena orang yang daftar LPDP keren-keren banget!

Beneran deh, bikin saya jiper pas kenalan sama orang-orang di sesi wawancara, apalagi LGD. Di LGD ini saya ngga banyak ngomong karena teman-teman yang lain pada jago ngomong. Apalah saya ini, grogi, hehe.

Jadi, bisa dibilang saya ini santai tapi harap-harap cemas. Antara ingin kuliah tapi ngga pengen ninggalin anak lama-lama pas kuliah, soalnya sejak melahirkan saya ngga pernah ‘kerja’ fulltime seharian. Tidak kebayang sama saya, kuliah full ninggalin anak-anak. Sedih banget pasti disana.

Eh, ternyata, di UK ini kuliahnya ngga selama yang saya kira. Alhamdulillah.

Satu lagi, sebagai penerima beasiswa ini harus ada yang dipertanggungjawabkan saat nanti saya kembali ke Indonesia, ini juga tantangan untuk saya.

Sambil kuliah kan Nuy juga jualan tempe nih. Ide jualan tempe ini datang karena Nuy suka banget tempe atau gimana? Boleh berbagi bagaimana cara bikin tempe ala Nuy? Dan kepada siapa saja biasanya Nuy menjual tempe-nya?

Saya ngga bikin tempe. Tapi saya jadi distributor tempe. Suami saya punya teman pembuat tempe dari Birmingham, tempe-nya itu enak sekali. Kami membeli tempe dari beliau, lalu tempenya dikirim dan kami jual di Bristol. Karena di Bristol hanya ada tempe beku – tidak fresh, saat saya berjualan tempe, orang-orang pada nyariin deh.

Dengan ikut menemani Nuy, otomatis Abay turut mencari pekerjaan disana ya. Susah ngga sih kalau pas baru pindahan terus langsung cari kerja disana? Dan apa saja yang perlu dipersiapkan kalau kita mau memboyong seluruh anggota keluarga ke UK?

Hal  ini pernah di post oleh suami saya di blog saya, silakan berkunjung ya, ke nanannuraini.wordpress.com

Untuk mendapatkan pekerjaan di UK, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari kenalan yang sudah bekerja di UK.

Di UK ini untuk bekerja profesional agak sulit karena membutuhkan sertifikasinya tersendiri. Contoh jika saya kita ingin menjadi guru TK maka saya harus memiliki sertifikasi mengajar sebagai guru TK. Dan setrifikasi ini berbeda-beda untuk guru TK, guru SD dan seterusnya, bukan hanya ijazah dan ada level-levelnya.

Juga tergantung bekerjanya dimana. Saat tiba disini saya silaturahim dengan teman yang sedang menempuh Phd dengan kerjaan sampingan sebagai cleaner/pembersih. Sangat wajar seorang student memiliki pekerjaan kasar seperti buruh, karena ini merupakan pekerjaan yang paling mudah dicari dan gajinya lumayan jika dibandingan dengan kurs di Indonesia.

Awalnya suami saya kerjanya illegal. Kerja illegal itu kita melamar ke sebuah tempat, gajinya tidak ditransfer dan kita tidak menandatangani kontrak kerja. Setelah itu, dengan pengalaman kerja yang beliau miliki akhirnya suami melamar kerja dan diterima kerja di kantor POS, di supermarket, di kampus Bristol juga pernah.

Dari segi persiapan, untuk melamar kerja, kita harus membuat National Insurance Number dan bikin rekening di Bank. Nah, syaratnya kalau mau bikin NIN kita harus benar-benar terdaftar sebagai orang yang benar-benar tinggal di Inggris.

Dan untuk memboyong keluarga ke UK ini harus mempersiapkan uang dalam jumlah besar, karena biayanya mahal sekali. Untuk info biayanya bisa langsung cek ke link ini www.immigration-health-surcharge.service.gov.uk/checker/type

Hal ini penting, karena saat membuat visa, ada uang minimal yang harus ada di tabungan. Ini bisa diakali dengan meminjam uang dari teman dan diendapkan di rekening kita selama satu bulan. Kalau tiketnya pintar-pintar saja cari yang murah.

Dalam hal biaya hidup selama di Bristol, saya sangat berterimakasih pada beasiswa LPDP karena uang dari LDPD selama 6 bulan pertama yang saya terima sebagai living allowance sendiri, cukup untuk menghidupi saya dan keluarga selama disini. Apalagi di bulan ke-7 saya juga mendapatkan tunjangan keluarga, jadi beasiswa ini sangat membantu.

Kalau Abang Wafi dan Dik Nuraisya sendiri gimana? Betah kah disana, suka main kemana saja dan bagaimana adaptasinya di sekolah?

Awalnya Abang ingin cepat pulang ke Indonesia. Sekarang Abang sudah sekolah di Nursery yaitu sekolah untuk anak usai 3-4 tahun dan Abang happy banget di sekolahnya karena Abang sudah bisa Bahasa Inggris dan mengobrol serta bermain dengan teman-temannya. Dan, disini kami tinggal bersama tiga keluarga Indonesia lainnya yang memiliki anak-anak yang masih kecil juga, jadi Abang senang banget.

Karena disini banyak banget taman, biasanya kami main ke taman dan ruang hijau terbuka untuk piknik, main, lari-lari, main scooter, ya main ke taman saja sudah bikin anak senang.

Bristol sendiri merupakan salah satu kota terbaik untuk keluarga, fasilitasnya benar-benar ramah anak. Ada family room hampir di setiap mall, ada tempat main di setiap library-nya terus ada children center yang free. Sekolah juga free dari umur 3 tahun.

Kalau Abang adaptasinya lumayan bagus karena pada dasarnya anaknya gaul dan cepat belajar Bahasa Inggris. Makin lama, Abang makin mudah bergaul dengan teman-temannya, bahkan jadi bos di sekolah. Guru di sekolah Abang bilang, setiap anak di Nursery mendengarkan Abang dan kalau tidak mendengarkan, Abang bakal ngomel-ngomel.

Terakhir, whats your message to all mother who also have a desire to continue their study again?

Pertama, tanya sama suami. Kalau suami mengizinkan, apa lagi yang ditunggu? Segera cari beasiswa dan universitas yang disukai.

Kuliah di luar negeri itu asik banget. Jadwalnya ngga padat, paling lama seminggu itu kuliah hanya 8 jam. Rekor lain ada kuliah tambahan yang full dari jam 10.00-17.00. Untuk lecture – duduk manis menghadiri kuliah hanya sebentar, namun tugasnya sangat banyak dan harus menggunakan Bahasa inggris yang tidak semudah menulis dalam bahasa Indonesia. Harus betul grammar-nya, tata bahasa-nya dan lain-lain. Tantangannya terbesarnya adalah memanaje waktu untuk belajar, mengerjakan tugas kuliah sembari mengurusi rumah, mengasuh anak dan melayani suami karena disini tidak ada yang namanya ART.

Kalau suami mengizinkan dan rizkinya ada, pergilah bareng-bareng dengan keluarga. Suami sangat mendukung saya kuliah lagi, namun saya ingin berangkat bersama-sama. Saya pribadi sangat tidak menyukai LDR, baik sama suami maupun dengan anak. Saya lebih memilih hidup susah senang bersama. Kami berdua sudah sepakat untuk menjalani hidup ini bareng-bareng.

Harus ekstra sabar dan rela mengorbankan waktu tidur.

Dengan 2 anak yang aktif saya tidak bisa mengerjakan tugas dengan tenang kecuali ada suami yang menjaga anak. Berhubung suami kerjanya shift malam sehingga pagi hari istirahat, biasanya saya gantian menjaga anak dengan suami. Kalau suami saya menjaga anak, saya bisa mengerjakan tugas, pergi ke lounge di atas, atau ke perputakaan. Saya juga sering mengerjakan tugas saat anak-anak sudah tidur di malam hari.

Itu saja, terimakasih teh Ai atas kesempatannya. Assalamu’alaykum.

*

‘Alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah Nuy, harusnya saya yang berterimakasih nih karena sudah bersedia berbagi di Cerita Ibu Muda. Well, subhanallah ya ada impian ada kemudahan jalan, ridho suami jadi salah satu penetunya ya untuk melanjutkan sekolah lagi atau tidak.

Gimana nih Ibu-ibu yang sudah membaca cerita Nuy, terpicu untuk melanjutkan studi lagi kah? 🙂 Semoga Allah SWT beri rizki-Nya untuk kita ya. Anyway terimakasih sudah mampir, semoga postingan ini menginspirasi banyak Ibu dan menuai banyak manfaat ya. Amiin.

 

 

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria 🙂

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru 🙂

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu 🙂

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh 🙂 long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? 🙂

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima 😀

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 😃 Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rini Inggriani, biasa saya sapa Rini adalah alumni ITB jurusan Farmasi dan Profesi Apoteker. Satu angkatan dengan saya, anak kami pun lahirnya hanya terpaut 2 hari. Umar lahir tanggal 16 Januari dan Aisya lahir tanggal 18 Januari di tahun yang sama, tahun 2014 🙂

Iseng-iseng nge-google, muncul nama panggilan “Inggi” dan “Nisrina Mumtaz” untuk Rini, waaah jangan-jangan ini nama pena beliau! Ternyata benar, Rini pernah menggunakan nama-nama ini dalam blog lawas-nya juga saat menjadi kontributor artikel.

Kalau dalam 3 buku yang sudah beliau terbitkan, nama yang digunakan tetap Rini Inggriani, S.si, Apt kok 🙂 Saya harus belajar banyak nih dari Ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini agar lebih produktif berkarya dari rumah.

Langsung saja yuk, kita simak seni-nya menulis dan menerbitkan buku sambil mengasuh anak juga aktif di organisasi ITSAR ala Mbak Inggi!

Assalamu’alaykum Rini 😊 Gimana kabar Umar, Rini, Suami dan calon adiknya Umar?

Wa’alaikumussalaam. Alhamdulillah, Ndari, baik-baik.Doakan sehat selalu ya.. 😊

Sekarang Umar sudah 3 tahun ya? Kalau dede bayi di kandungan sudah menginjak trimester berapa?

Iya, alhamdulillah Umar udah 3 tahun. Kalau yang kedua, ini trimester 2 akhir, masuk 27 weeks, Ndari 😊

Wah udah 6 bulan yaa, hasil USG terbaru perempuan atau laki-laki lagi nih dede-nya? 😊

Insyaallah yang ini perempuan

Alhamdulillaaah sepasang ya. By the way, Rini juga biasa dipanggil Inggi, ya?

Iyaa Ndari, sama Nisaul sebenernya. Soalnya *Nisaul tau, di rumah, panggilan Rini sama Ayah, ya Inggi.. Sekarang kadang kalau nulis di beberapa web gitu (kontributor artikel), memang pakai nickname nya Inggi. Duluu banget, pernah punya nama pena, tapi pas masih kuliah sih, namanya Nisrina Mumtaz..😁

*yang ingin tau siapa Nisaul, semoga saya bisa menghadirkan sosok beliau di Cerita Ibu Muda ya 🙂

Waaah, kalau gitu aku ikutan manggil “Mba Inggi”, ya? Suka deh sama nickname-nya. Selain menjadi kontributor artikel di web, mbak Inggi juga sudah menerbitkan 3 buku ya?

Iya, Alhamdulillah sudah meluncurkan 2 buku antologi dan 1 buku solo.

Salah satu buku yang ditulis Mbak Inggi berjudul “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Nah untuk buku Antologi-nya lebih ke fiksi/non-fiksi? 

Buku yang pertama adalah antologi pertama. Judulnya “Perempuan-perempuan Ganesha”. Ini buku antologi tentang 18 perempuan yang kuliah di ITB. Bercerita tentang masa-masa saat kuliah di ITB, atau pasca kampusnya. Dimana perkuliahan di ITB membawa dampak bagi kehidupannya. Penulis buku ini beda-beda angkatannya. Seneng banget bisa diajak proyek buku ini. Seperti batu loncatan yang memang sudah Allah sediakan 😊 

Buku ini terbit di tahun 2014, bulan Februari, ga lama setelah melahirkan anak pertama yaitu Umar.. 😁
Buku kedua, sekaligus buku solo perdana.. Judulnya “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bulan Februari 2016. Buku ini bercerita tentang seluk beluk kuliah di jurusan Farmasi. Mulai dari apa yang harus dipersiapkan saat mau masuk jurusan Farmasi, ritme perkuliahan di Farmasi dan apa saja yang akan dipelajari, juga dihadapi, dan kehidupan pasca kampusnya. Oh iya, sama ada testimoni dari alumni Farmasinya. Biar lebih mengena hehe. Buku ini juga jadi sebuah rekor buat diri sendiri. Dari dulu, memang punya satu keinginan. Minimal selama hidup punya satu buku yang ditulis sendiri.. Kenapa? Karena ingin setidaknya jika wafat kelak, ada satu karya yang bisa saya tinggalkan untuk masyarakat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Minimal bagi saya dan pembacanya 😁

Buku ketiga adalah antologi kedua, judulnya “Anak-Anak Kolong Langit”. Ini bercerita tentang perjuangan saat kita menempuh pendidikan. Ada yang bercerita bagaimana perjuangan menghadapi kesulitan ekonomi, atau culture shock saat menjalankan pendidikan di luar negeri, dan lain-lain. Buku ini terbit sekitar bulan April 2016, ga lama setelah buku kedua terbit. Alhamdulillah.. menjadi penyemangat juga buat terus menulis 😊

Baca juga : Cerita Iie Ramadan – Melahirkan – Kuliah Gratis di Swedia

Wiii keren bangeeet 😍 Barakallah yaa. Oia, untuk buku solo Mbak Inggi kan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), bagaimana dengan 2 buku Antologi-nya? Apakah diterbitkan oleh penerbit mayor/indie?

Kalau 2 buku antologinya diterbitkan sama penerbit indie, Ndari.Tapi kalau untuk ISBN, buku antologi ke-2 sudah ada ISBN nya, sedangkan yang pertama belum ada ISBN nya.

Buku antologi pertama, “Perempuan-perempuan Ganesha” diterbitkan oleh Nulis Buku. Dan untuk antologi yang kedua, “Anak-anak Kolong Langit” diterbitkan oleh Gelaran Jambu Daar El Fikr di Kediri. Yang ngurusin ke penerbit ada bagiannya, jadi saya tinggal tau jadi buku cetaknya aja..😁

Dari menentukkan ide – menulis – hingga naskahnya siap diterbitkan, prosesnya gimana Mbak Inggi?

Kalau proses standarnya sih, setelah dapat ide, kita coba buat outlinenya dulu. Outline ini yang akan memandu kita dalam menyelesaikan naskah, lalu kita selesaikan naskah sesuai outlinenya. Setelah selesai, lakukan self editing. Setelah itu baru kita bisa cari penerbit yang kira-kira sesuai dengan naskah kita. Nonfiksi atau fiksi baiknya tetep ada outline, meskipun kalau outline untuk fiksi lebih fleksibel ya, tapi tetep berfungsi untuk menjaga agar cerita kita ga nge-blur kemana-mana. Itu standarnya.

Kalau pas buat naskah untuk antologi kemarin, memang saya ga pake outline karena ceritanya based on true story jadi udah kebayang saat menulisnya, dan ending-nya gimana. Cenderung pendek juga, sekitar 5-6 halaman. Beda kalau menulis novel yang jumlah halamannya bisa sampai ratusan. 

Untuk buku solo tentang farmasi, rini dapet infonya dari grup Indscript Creative. Ini salah satu agen penulis.Jadi, peluang-peluang menulis buku, bisa dapat dari sana juga selain kita kirim ke setiap penerbit ya. Jadi kemarin ada peluang dari Gramedia Pustaka Utama untuk berkontribusi dalam serial kuliah jurusan apa, dan Farmasi belum ada yang buat, jadi saya coba kirim outline-nya dan Alhamdulillah di acc. Kalau ini, sebelum dikasih ke penerbit, ada editor internalnya dulu.

Wiii keren! Tahapannya banyak banget yaa ternyata hihi. Apakah Mbak Inggi ada jadwal khusus untuk menulis dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan 1 naskah?

Ada Ndari, biasanya minimal banget 1 jam untuk menulis tiap harinya. Biasanya nulis di blog, tapi akhir-akhir ini belum nulis di blog lagi, karena ada deadline yang lain 😁

Kalau waktu untuk menyelesaikan naskah relatif ya, ga ada waktu patokannya.Waktu menyelesaikan buku yang Farmasi itu, dikasih deadline untuk menyelesaikan naskah 2 minggu 🙈

Tapi, karena nonfiksi, dan sudah ada outline nya yang fix, dan beberapa data awal sudah ada, Alhamdulillah kekejar. Itupun dengan di awal, nulis hanya bermodalkan tablet, karena saat pekan pertama deadline itu, kita lagi pergi ke luar pulau

Kalau untuk naskah antologi kemarin, bisa cepet kalau sudah ada bayangannya, 1-3 hari sudah dengan editing karena panjang tulisan juga ga banyak ya.

Nah, yang lagi belajar sekarang itu menulis novel..🙈🙊 Jujur, buat saya menulis fiksi itu challenging banget. Target di tahun ini, Insya Allah ingin coba menulis novel. Cuma kadang suka mentok, dan tergoda buat nulis nonfiksi lagi.

Baca juga : Meet Nunu, a Nuclear Physics Enthusiast, a Mother & Wife

Subhanallah, saya makin terkesima nih! semoga Novel perdana-nya rilis tahun ini ya, Amiin. Nah trus kalau lagi writer block, apa yang Mbak Inggi lalukan supaya semangat menulis muncul kembali?

Iyaa.. writer’s block ini sering banget hinggap… Hiks 😅😅 Kalau lagi di posisi ini, selalu balik lagi ke azzam ingin menjadi orang yang bermanfaat dan punya sesuatu yang bisa diwariskan kelak. 

Harapan saya, tulisan yang saya buat dapat menjadi amal unggulan di hadapan Allah SWT.

Suami juga sering ngasih semangat, terus aja menulis, sampai nanti, insyaallah akan ada buah dari keistiqomahan itu… 
Pernah ikut grup menulis, ada yang bilang, membaca itu membuat kita mengenal dunia, dan menulis, membuat kita dikenal dunia. Meskipun memang tujuan menulis bukan buat dikenal ya, tapi spiritnya, untuk berbagi.

Sharing is caring… 😊☺

Jadi setiap menulis kita harus selalu meluruskan niat ya Mbak Inggi? karena nantinya akan ada PR pemasaran buku yang kita buat. Kalau keinginan kita berkarya ya fokus disitu gitu ya.. Klo fokus kita menghasilkan uang dengan menerbitkan buku, beda lagi niatnya ya? 

Iya Ndari, yang kerasa sama saya, niat itu penting banget dan bisa jadi cara kita buat bangkit kalau lagi dilanda males, dan lain-lain. 

Kalau fokusnya menghasilkan uang dari menulis buku, ya berarti kita ada target untuk buat buku best seller, pembacanya juga semakin banyak, artinya kebermanfaatannya pun insyaallah jauh lebih banyak. Tapi di sisi lain, kalau kejarannya adalah menghasilkan uang, bisa juga kita terjebak arus, misal dengan menulis apa yang orang suka, dicari penerbit, bahkan dengan mengorbankan idealisme kita misalnya… Kalau fokus ke karya, sharing, dan terus menulis, idealisme nya akan bertahan, insyaallah.

Waaah filosofinya keren :’) Sedikit curhat, saya masih kesulitan mencari waktu untuk menulis. Ada kala-nya pas ide lagi muncul langsung dicatat di aplikasi WP di smartphone. Beberapa kali menunggu anak saya tidur di malam hari baru menulis, imbasnya saya baru tidur pukul 1 pagi. Mbak Inggi ada tips untuk saya?

Sebenernya sama kok, saya juga kadang masih kesulitan mencari waktu buat menulis yang bener-bener pas, karena di rumah fokus utamanya memang menyelesaikan peran sebagai istri dan ibu dulu ya. Apalagi dengan anak yang balita yang masih sangat butuh diperhatikan dan didengarkan.

Biasanya suka membuat to do list setiap harinya. Ga detail tapi berisi hal-hal pokok yang ditargetkan untuk diselesaikan hari itu, termasuk menulis minimal sekali. Kalaupun ga bisa karena kondisi badan yang akhir-akhir ini suka mudah lelah, ya ga dipaksain juga jadinya. Masuk ke to do list besok lagi… 

Yang Ndari lakukan, saat ada ide langsung catat di smartphone itu udah bagus. Jangan biarkan ide menghilang begitu saja, tanpa terekam 😁 

Kalau ada deadline, biasanya saya komunikasikan sama suami. Izin untuk lebih banyak pegang gadget dan gantian suamu main bareng Umar, kalau Umar belum tidur. Saya biasanya memang meminimalisir pegang gadget kalau ada suami.

Baca juga : Kamu Lulusan ITB? Ko jadi Ibu Rumah Tangga?

Nah bicara tentang peran sebagai Ibu & istri, apa sih yang membuat Mbak Inggi memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, padahal Mbak Inggi lulusan Farmasi dan profesi Apoteker ITB?

Pada awalnya memang setelah melahirkan, baru memutuskan untuk resign karena memang ritme kerja di RS dan ada shift malam. Punya newborn, kalau kerja shift malam, siapa yang ngurus nanti? hehe. Meskipun saat itu masih tinggal bareng ortu dulu, saya dan suami sepakat untuk tidak menitipkan anak pada kakek neneknya. Kalaupun hire khadimat, bayi newborn kan malam hari masih cenderung sering bangun ya, ga jamin juga ada yang mau begadang untuk mengurus anak.. jadi dipilihlah resign.. 

Dan sampai sekarang masih memilih di rumah.. karena apa? Semakin banyak belajar, ternyata memang semakin banyak yang tidak saya ketahui. Semakin banyak belajar tentang parenting, jadi tersadarkan bahwa amanah anak ini bukan hal yang main-main. Alhamdulillah sekarang diberi kesempatan di rumah, ya disyukuri. Karena saya hanya ingin bisa menjawab kelak, saat Allah bertanya tentang bagaimana amanah anak ini saya tunaikan.Bukan berarti ibu bekerja tidak menunaikan amanah dengan baik ya. Tapi, saya mungkin bukan tipe yang sanggup sabar menghadapi anak setelah bekerja di luar seharian.

Anak dititipkan dalam kondisi fitrah. Dan semoga kelak ketika kembali pada Allah pun, tetap dalam fitrahnya, menjadi hamba yang bertaqwa dan jelas, itu bukan perkara yang mudah ya. Jadi, ini ikhtiar saya sekarang. 

Perjuangan saya saat ini ya di rumah, tentu berbeda dengan kondisi ibu-ibu yang lain ya… 😊

Baca juga : #KaryaCeria Tips Bonding Suami – Istri

Dari semua perkembangan Umar, kapan fase yang paaaling berkesan buat Mbak Inggi?
Semua fase pertumbuhan anak pastilah berkesan ya buat seorang ibu. Anak yang tadinya kecil, bayi, belum bisa apa-apa, semakin hari semakin banyak perkembangannya. Alhamdulillah, amazing banget ya.
Yang paling berkesan kalau dulu ngerasanya pas Umar mulai belajar jalan. Jadi reminder juga buat mengingat hidup yang udah diamanahin sama Allah.Kalau sekarang sih, suka amaze kalau Umar suka ngingetin tentang Allah, hehe. Anak mah masih fitrah sekali ya…
Hal-hal so sweet yang Umar lakuin banyak banget, hehe. Tipe anak yang perhatian, cukup perasa juga. Misal, waktu awal-awal mual muntah, Umar suka bilang, “Ummi udah belum muntahnya, biar umar yang siram muntahnya..” 😁😁😁 Suka mijitin juga, dan sigap ngasih kebutuhan Umminya.

Wooow melting dengernya :’) pasti Umar merasa sayang sekali sama Mbak Inggi ya. Kalau sounding ke Umar tentang calon adiknya, gimana?

Sounding nya kalau umar insyaallah mau punya adik, adiknya masih di dalam perut sama kaya Umar dulu. Diajak buat ikut ke dokter, merasakan gerakan adiknya dalam perut, ngajak ngobrol, dan lain-lain. Jadi lebih sering bilang sayang ke Umar, hehe.. karena ga mau Umar ngerasa ada saingan nantinya…😅

Iyaa penting banget ya ungkapan sayang dari orang tua ke anak ini, supaya nanti setelah adiknya lahir Umar juga sayang sama adiknya 🙂 Oia Umar juga sering diajak camping ya? Pernah lihat foto Umar lagi ikut camping ITSAR

Iya, Umar pernah diajak camping 2x… Dua-duanya di M-Camp ITSAR 😁

Anaknya survival ya Umar, by the way ITSAR itu apa mbak Inggi?

ITSAR itu LSM yang bergerak di bidang pembinaan remaja muslim usia SMP. Saya dan suami memang turut aktif dan fokus di pembinaan organisasi Rohani Islam SMP. Masing-masing sekolah biasanya memiliki ekskul Rohis/DKM dan saat ini ada beberapa SMP di Bandung yang udah bareng di ITSAR. Biasanya kita ada pertemuan buat bahas agenda apa aja yang mau kita lakukan dan evaluasi… 😁 Dulunya ITSAR ini forum aja, forum alumni-alumni yang peduli dengan pembinaan remaja. Jadi alumni beberapa SMP ini kumpul buat gerak bareng karena merasa kalau gerak sendiri akan lebih sulit dan lebih lambat untuk mencapai tujuan. Nah, alhamdulillah tahun 2015 lalu udah jadi LSM..

Jadi ITSAR itu seperti induk dari beberapa rohis SMP dan program-program rohis di breaking down dari mind map/blue print ITSAR ya?

Iya ndari… Seperti itu.. tapi setiap rohis SMP yang bareng kita, punya agenda internalnya juga di sekolahnya masing2…ITSAR juga memfasilitasi kegiatan gabungan rohis2 tsb, misal Camping ITSAR atau biasa disebut MCamp (Muslim Camp), ada LKO ITSAR, pelatihan mentor, futsal bareng, dll… Jadi adik2 kenal sama teman2 dari rohis smp lain..

Di ITSAR ini Mbak Inggi dan suami jadi pembina-nya?

Kalau suami jadi ketua ITSAR, Rini sih bendahara. Tapi kita ya merangkap-merangkap semua..😆Hehe, ya jadi pembina juga… Konseptor juga…

Baca juga : Uma Hani, Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Suami

Menginjak usia 3 tahun Umar pasti makin pintar yaa, aktivitas apa aja nih yang biasa dilakukan di rumah? 😊 lihat di instagram @riniinggriani kayanya tematik banget ya..

Kalau di rumah kadang masih random juga sih, berusaha ngikutin lesson plan nya Sabumi. Tapi, kadang kalau lagi ga bisa ngikutin, apa yang ada aja. Umar suka pengen buat sesuatu dari buku 365 kreasi seru atau 365 kreasi kertas dan karton karya Fiona Watt. Disitu banyak banget yang bisa dibuat, jadi kalau ga ada ide, bisa ambil dari situ. Umar juga otomatis ambil buku dan bilang, mau buat apa hari ini Ummi? Atau kita searching printable yang sesuai dengan usia Umar 😁

Apakah menurut Mbak Inggi, kumpulan Cerita Ibu Muda yang saya post di blog ini bisa menjadi sebuah buku? Jika ya, apa yang harus diperbaiki hingga layak terbit, termasuk ke penerbit mana sebaiknya sebagai pemula?

Iyaaa Ndari, kumpulan Cerita Ibu Muda ini bisa banget jadi buku. Karena sekarang memang tema yang lagi banyak dicari berkisar tentang wanita, parenting, ibu-ibu muda yang menginspirasi dan tema-tema sejenis.

Untuk penerbit, sebenarnya kalau mau menunggu, ke penerbit mayor lebih enak ya, karena tanpa modal. Cuma konsekuensi-nya lama di waktu menunggunya. Kalau mau yang agak cepat, bisa ke penerbit indie.

Sebenernya penerbit mayor/indie sama saja ya kalau memang tujuan kita menerbitkan buku untuk menyebarkan inspirasi dan ide kita. Banyak buku yang indie atau self publishing, tapi penjualannya juga lebih oke dari yang diterbitkan oleh penerbit mayor.

Terakhir, dimana kami bisa membeli/mendapatkan ketiga buku mba Rini? 

Buku “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi” bisa diperoleh di Gramedia, buku Perempuan-perempuan Ganesa, bisa search di nulisbuku.com, dan buku Anak-anak Kolong Langit, bisa hubungi saya aja.. 😁

Oke, mbak Inggi, Alhamdulillah semua pertanyaan sudah terjawab 🙂 terimakasih atas waktu dan kesediaannya berbagi ya. Sebenarnya dari obrolan kita, saya tidak hanya belajar tentang menulis dan menerbitkan buku tapi juga tentang kepedulian terhadap dunia remaja. Subhanallah, salut sama perpaduan Mbak Inggi dan suami yang sama-sama passionate sama pembinaan remaja muslim karena fase remaja juga merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak.

Barakallah ya, semoga karya-karya mbak Inggi menjadi amal jariyah, terwujud naskah novel-nya tahun ini dan kehamilan keduanya lancar hingga persalinan. Amiin.

Daaan, terimakasih sudah membaca, hope you all get many inspiration from here. Let’s share 🙂

Baca juga Cerita Ibu Muda lainnya :

Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil, Butuh ‘Strong Why’

“I Love Abu Dhabi”, Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki)

Confession of A #30Yo Mami

Me-Time Versi Mami Jasmine

Setiap manusia membutuhkan ruang untuk diri sendiri, baik untuk merenung, beristirahat, meraih semangat kembali, maupun mengilangkan stress, tak terkecuali seorang Ibu rumah tangga seperti saya. Sebagai Mami dari Jasmine, bisa dikatakan kalau saya nempel 7 hari 24 jam termasuk berpelukan saat tidur dengan putri saya sejak ia lahir hingga saat ini, ketika usia Jasmine menginjak 3 tahun.

Sekilas tentang saya, saya adalah aktivis kampus yang cukup aktif di organisasi, pecicilan dan suka bekerja terutama karena dengan bekerja saya memiliki penghasilan. Setelah menikah, saya mantap resign namun masih beraktivitas, yaitu mengajar di Kelompok Bermain dan menjadi pemandu acara. Salah satu hobi produktif saya adalah menjadi MC/pemandu acara di berbagai acara. Sejak kuliah saya menggeluti bidang ini, saat hamil pun saya masih mengambil beberapa job MC.

Begitu Jasmine lahir, saya bertekad mengurus dan membesarkan Jasmine sendiri, tanpa dibantu ART maupun dititipkan ke day care. Sebetulnya saya pernah mengerjakan sebuah proyek selama 2 bulan sehingga Jasmine yang kala itu berusia 8 bulan harus masuk ke day care. Saya menangis setiap pagi ketika mengantarnya ke day care, rasa bersalah bercampur tidak tega membuat saya memilih untuk serius menjadi ibu rumah tangga.

Profesi baru yang saya tekuni ini ternyata tidak semudah yang saya kira. Banyak pekerjaan rumah yang saya rasa sama pentingnya dengan kerjaan di kantor, sama-sama ada deadline, ada keteraturan juga cukup menguras tenaga dan pikiran, belum lagi perihal mengelola emosi. Seperti ucapan sahabat saya yang mengatakan, “Kalau tidak cerdik mengelola emosi, bisa jadi saat anak kita tantrum, alih-alih menenangkan anak, Ibunya malah ikut tantrum”.

Itulah mengapa, seorang Ibu Rumah Tangga pun butuh yang namanya refreshing, break sejenak dari rutinitas memasak – mengurus anak – menyapu – mengepel – mencuci piring yang ada lagi ada lagi – mengucek pakaian – menjemur – menyetrika – melap debu dan sederet pekerjaan rumah lain yang tidak ada habisnya.

Bagaimana pun, saya sangat menikmati profesi baru saya ini, sebagai seorang Ibu rumah tangga, karena saya senang bermain dengan anak saya yang lincahnya luar biasa. Atau lebih tepatnya saya sangat menikmati menjadi stay at home mom di 3 tahun pertama. Tahun keempat ini sebagian diri saya mulai merasa jenuh, ingin rasanya kembali beraktivitas di luar rumah sesekali seperti nge-MC lagi atau minta cuti sehari dari tugas rumah lalu tidur atau nonton film seharian, but this just never happen.

Saya pun mulai mencari-cari celah untuk me-time, time to enjoy being with myself alone. Kalau beberapa ibu-ibu me-time-nya ke salon, dipijit atau facial, belanja online, menulis, dan lainnya, me-time versi saya sederhana banget. Jangan tertawa yaa..

Me-time versi Mami Jasmine adalah menyetrika dan memasak! Lho kok menyetrika dan memasak? Dimana metime-nya? Sebut saja ini metime colongan karena saya menyetrika sambil menonton Asian Food Channel, salah satu stasiun TV yang menghadirkan acara masak-masak. Saya suka keduanya, menyetrika dan menyimak cooking channel serta bereksperimen di dapur.

Saya senang saat momen menyetrika tiba, biasanya malam hari sekitar pukul 20.00. Saya akan meminta Jasmine masuk ke kamar dan mendengarkan ayahnya bercerita, sekaligus mengantarkannya tidur. Lalu saya akan menggelar alas dan pakaian yang sudah dijemur. Menyemprotkan pewangi ke pakaian yang akan disetrika menenangkan suasana hati, melihat kaos-kaos Jasmine yang tadinya kusut menjadi rapi seolah menguraikan keruwetan yang sempat singgah di pikiran saya, menggosok kerutan-kerutan pada lengan dan kemeja suami hingga mulus kembali menjadi terapi tersendiri bagi saya pribadi.

Sambil menyetrika saya menyetel TV kabel, tayangan favorit saya adalah Gordon Ultimate Cooking Course dan Dinner At Tiffany. Gordon Ramsay memasak dengan cepat, tidak bertele-tele, tekniknya beragam dan masakannya terlihat mudah serta lezat sekali, memotivasi saya untuk bilang, “Saya bisa menghidangkan itu!”.

Saya juga menyukai Tiffany karena ia mengundang teman-temannya untuk makan malam bersama. Saya menyenangi acara memasak yang melibatkan perasaan, keluarga dan persahabatan. Memasak dan mengundang keluarga serta teman-teman saya ke rumah adalah hal yang ingin saya lakukan. Selama memasak, Tiffany akan mengobrol dengan teman-temannya di dapur. Teknik memasak Tiffany berbeda dengan Gordon Ramsay yang sangat ilmiah, teknik Tiffany sederhana namun beliau sering memodifikasi masakan sederhana menjadi lebih mewah dengan menambahkan atau mengganti bahan tertentu, lebih mudah untuk saya aplikasikan di rumah.

Sejujurnya, semakin sulit teknik memasaknya, saya makin tertarik. Rasanya seperti men-transfer berbagai kerumitan hidup dalam proses memasak, seperti saat mengaduk adonan, memipihkan pie crust, dan mengulek bumbu, its releasing stress. Ketika saya berhasil menghidangkan masakan yang lezat untuk keluarga, saya merasa bahagia. Ini membuat saya semangat dan siap menjalani aktivitas lainnya.

Selamat metime dan re-charge energy ibu-ibu!

Tentang Penulis

Assalamu’alaykum, perkenalkan nama saya Sundari Eko Wati. Saya adalah Mami dari Jasmine (3 tahun) dan lebih sering beraktivitas di rumah. Ketertarikan saya paa bidang menulis sudah ada sejak kecil, biasanya saya menulis di buku diary. Dan sejak memiliki blog saat kuliah, saya mulai suka menerbitkan beberapa curahan pikiran dan hati saya di sundariekowati.wordpress.com

Tahun ini saya bergabung dengan grup One Day One Post For 99 Days, disinilah saya mulai rutin menulis 2 artikel per minggu, sebelumnya tidak teratur. Terimakasih sudah membaca, doakan ya agar tulisan dengan judul ‘Me-Time Versi Mami Jasmine’ ini bisa masuk antologi 99 Me Time Stories.

 

 

Confession Of A #30Yo Mami

My interest has always been singing and dancing. I began dancing since I was in elementary school, doing ballet. At a very young age I already perform at theater Baranang Siang. I guess from that moment, my heart tied up with stage.
I always love being in a stage, stared by many eyes. Either I dance, singing or MC-ing. I don’t like make up, but when it come to dance, I’ll put on the best. It was on junior high school when I change my interest from a balle dancer into a traditional dancing. I like the music, gamelan, karawitan, and exploring various kind of traditional dances that Indonesia owns. My fave that time is Tari Merak which I perfom in Landmark along with other participants and was very memorable to me cause it shows in TV.

My interest in traditional dancing has lead me to be the chief of LISES SMA 5 Bandung. LISES stand for Lingkup Seni Sunda. I do both karawitan, – since I fall for the music too – and dancing.

Then I stop.

I choose to hijrah when I’m about to graduate from Highschool. I suddenly have a will to wear hijab. Its the calling inside me and I think that it a must, after reading this ayat..

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down over themselves [part] of their outer garments. That is more suitable that they will be known and not be abused. And ever is Allah Forgiving and Merciful 

[QS. Al-Ahzab : 59]

How about singing? I become more serious about singing by joining a vocal group, having an amateur band with my friends, singing The Cranberries and taking vocal course. Also! I participated in many singing competition during my highschool time.
This was one of my weird day when a university student came to me and asked whats my goal in life. I confidently answered, “I want to be a singer. Isn’t it obvious?”.

“No, that’s not your dream. You’ll be a great mother one day”, his reply made me jaw drop!

Not only I’m not really into kids but also, singing is my A-list that time, plus, “Who wants to be in marriage?”, that was my thought that time, cause as a teenager I still searching for freedom.

Besides singing and dancing, I also involved in Story Telling competition and once in a blue moon, modelling – not bad though, I made it to finalist.

One day on my 3rd year, I started to learn about Islam more through mentoring. But all these time I already stunned by the soft-hearted akhwat-akhwat DKM Al-Furqon SMA 3 Bandung whose mosque is at the top of our Highschool. 

I just cameback from Bali, when I decided to cover up my hair, my chest, my body with veil and long dress. I cried the moment I entered the class.. It took 17 years for me to know about this ayat, I feel so late to do this, I’m afraid I can’t be who I was, but a friend who care to me because of this deen convince me that I do the right thing.

Its never late to change..

So I started a new life, I didn’t dance anymore. I only sing in front of females in public and sometime with male friends and friends who knows I like singing and fine with it..

TRUE FRIENDS CARE ABOUT OUR AKHIRAH

Nowdays I’ve been thinking and also grateful to Allah by sending me friends who are not only kind, friendly, care and stay with me with my ‘uniqueness’, but also they always remind me to be a good person. They forgive me for the silly things I did, be with me at my lowest point and still accept me when I need their presents..

Alhamdulillah.

PUBLIC SPEAKING JOURNEY

I’ve been speaking – not writing – in english since I was at junior highschool. I took a course, I join English Competition, mostly story telling and began speaking english to my friends at highschool. At college, I assume that most people understand english, so I speak english to anyone.

My dear friend who are former announcer at Antassalam Radio Bandung contacted me, saying that she will resign from the radio and pick me to replace her seat, announcing at English News Programme on the Islamic-Dangdut-based radio located in Antapani. Wow! Its not far from my home, I could reach that place by ojek. And so I signed thw contract and dig in my broadcasting talent for a year. I really like being a radio announcer, moreover when your listener give a call and we could give them a lil chit chat. Some of them will share their worries, sadness, listening to their stories enrich me, grow my symphaty.

But then I have to focus on my Final Project, and a year is enough for me, I’m willing to expand my public speaking carrier in MC-ing.

Hosted for International Conference on Biomathematics 2007 has open up my way to be a Master of Ceremony in many other international event, include the International Retro Night by the International Students of ITB. In search for a better income, I learn to MC-ing in bahasa Indonesia and taking many other events, dare myself to try many ways of MC-ing. From a formal conference, to a talkshow and finally wedding MC 🙂

At college I met specific people who are expert in photography and cinematography. Soon this become my new toys. I installed adobe premier, try making short movies, advertisement, shooting, cameraming, directing, editing that takes patience and made me loss my weight because I edited one film in 4 days. Lack of sleep and too much excited. I like directing the most, taking scenes and editing. I like to cut whats not appropriate to be shown and match the songs when the scenes fade. 

My lecture was questioning whether I am a math student or not when she checked that no mathematical software in my laptop. I realize that I have to put this aside and put more attention on my study if I want to graduate. That was my 5th year.

And again, one of my senior told me, “Sundari, you have many talents and interest. Pick one, you cannot pursue all”.

I didn’t notice. I still believe that I could do many things in a row, include blogging.

Once I’m having S.Si beside my name, and the reality asking me to earn more certain amount of money for living. I drop all of my interest. I stopped arranging radio programme at Salman Digital Radio 2.0 and no one has ever live it up again after I left, they tried but can’t hold long enough, maybe this is the reason why Salman choose to launch a TV. They made a breakthrough, film Iqro is on Cinema this year!

I worked for Kemenristek Dikti as a temporary employee. I’m lucky enough cause I still get an MC job during my time here. And for almost 2 years, I also tried to running a business with my friends. It doesnt give us a significant result. So after changing many business, I stopped (again).

At 2012, I tried to apply for Master Degree in UK. I send my IELTS certificate along with resume, letter of motivation, my transcript, and recommendation letter from my dearest lecture to some universities. I applied for Public Relation and Political Economy. I was more interested in Public Relation.

Alhamdulillah it finally meet my requirements, I get and offer letter and Letter of Acceptance from Liverpool Hope University. The next step is looking for the scholarship. It takes time.. I postponed.. 

Realizing that my age has turn to 25, I change my priority. I have to get married first then I could re-think about going abroad, to my dream land – Europe – and taking a higher education. 

I met the man who loves me to the bone at the end of the year 2012. We were friends but not so close cause we study in different university and he is 2 years younger than me. I know him from the Salman Radio where he contributed as one of the announcer the time I left it.

“Would u marry me?”, he asked on the seminar we attended. I was surprise because I didn’t really know this guy, we met couple times but just that.

His answer to my question of why he proposed me sounds light and funny, he said, ” You pretty and you were math student”.

What kind of phylosophy is that.. Haha..

He explain to me that he always would want to have a wife that graduated from Mathematics, hopping that his children will be as smart as the mother. Oh I tricked you..

Our process is very simple and having less drama. After the serious talk we made, we do istikharah and we visit both of our family to disscus about the marriage plan.

I remember this words that my dad whisper to me, “Two people who are not meant to be together, however close they are, Allah will separate them. And two people who are meant to be together, however far they are, however high the mountain is, no matter how windy the road is, Allah will let them find a way to be united”. 

Alhamdulillah Allah SWT made everything so easy, both family agreed and we get marry 5 months later. This made me believe that he is the one 🙂

Now here I am, 5 years after the sacred vow, typing while my 3 years old – talkactive – energic – daughter – fall asleep. Alhamdulillah she grow up well :’)

I remember this line from Glee – a drama musical movie whose Sarah Jessica Parker featured in the season 5. She said, “This age is the best time to re-invet ourselves”.

The word RE-INVET OURSELVES catched my heart. Its like a BAM BAM BAM!

I collected the memories that I have, experience that I’ve been through, my milestone, talents, interest, dreams, conversation that I make with people who saying things that turn out to be true.

I am a mother now. Do I want to be a great mom? YES I WOULD. 

“Once a woman become a mother, she stopped being a picture and start being a frame”.

Please gimme guidance to be a better Mom everyday ya Allah..

And where do all my passion fly? Out of nowhere.. Nowdays, I did’nt dance but I could teach my Aisya one or two moves. My playlist has changed from Pop/Pop Alternative into children songs that I happily sing with my baby. The last time I hold mic to host an event is when I was on 5 months pregnancy. And the macro photography which I really fond of was just history, I didn’t hunt photos with digital camera or borrowing my friend DSLR like I used to again. And film? Oh does Viva Video counted? I play with it to make documentary videos of my sweetest girl couple times..

I devoted myself to take care of my child by myself. It comes from within. 

But then.. Then I see some people who growing up..

At times, it is very painful to see how people you’ve known before growing from zero to hero, while I seem sink from Hero to Zero. Sometime I miss that ‘stage’, the fans, be a sanguin girl who taaaaalks all the time and do whatever she wants. Watching marathon movies at night, ah! but my life now is more interesting than a movie 😀

Re-invent ourselves..

Lately I’ve been remembering about all great things I achieved before today. Could it happen again? Will I have my glory again? 

Lately I’ve been thinking, maybe its time to discover what I’m really into and focus on one passion right now..

What would that be? I’m still searching. This time, I hope I could have a longer lasting succeed.

Nothing GREAT comes EASY. It take a little patience and lots of faith. But Allah always has perfect timing.

Dear me, do not compare your beggining to someone else middle. 

“Be confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we aren’t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and aren’t- that you will truly succeed” – (anonymous)

Jarak yang kita tempuh mungkin berbeda, waktu yang kita butuhkan mungkin lebih lama, keep moving forward, make a progress! Jangan menyerah, meski satu detik lagi t’lah usai. 

Note : Tulisan ini saya ikut sertakan dalam Giveaway Ruang Baca dan Tulis dengan tema Perempuan yang Menginspirasi dalam rangka memperingati International Woman’s Day. Semoga refleksi diri saya ini bisa menginspirasi para perempuan untuk bisa fokus pada salah satu impiannya dan gigih meraihnya. Juga bagi para Ibu agar bisa menemukan ‘mutiara’ dan mendukung anaknya dalam mengasah bakat/minatnya sedari kecil. Terakhir bagi para wanita se-usia saya yang mungkin mengalami ke-galau-an, post power syndrome, dan kebingungan lainnya, you are not alone Mom, bersama-sama mari kita bangun kepercayaan diri, belajar lagi, mencoba menggali passion baru. Remember, its never too late to set up a new goal in our life. Let’s re-invent ourselves 🙂

Much much love.

Cita dan Cinta Audia Kursun (Indonesian-Turkey Couple)

Assalamu’alaykum 🙂
Hi, I’m back with ngobrol-ngobrol sama Ibu muda. Kali ini, topik yang saya pilih adalah tentang nikah campur/cross cultural marriage.

Nikah sama bule? Saya masih menyimpan buku dengan judul ini di rumah, hihi dibaca saat masa-masa kuliah. Alhamdulillah kesampaian nikah sama bule Arjasari alias orang Sunda aseli hahaa..

Kontras sama Dea, nyonya muda yang satu ini nikah sama bule dalam arti sebenarnya, bule Turki lagi! jangan-jangan saudaraan sama yang nolongin Aisya waktu jalan-jalan di Batu Caves Malaysia seperti yang saya ceritakan di Hazerbaba Pistachio Turkish Delight

Saudaraan atau engga yang jelas, saya kenalnya sama Dea Audia Santi – nya, karena alumni UPI jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini juga satu organisasi dengan suami saya di Pembinaan Anak-anak (PAS) Salman, yang sekre-nya di gedung kayu Salman ITB.

Kenal banget sih engga, beruntung Dea-nya baik jadi mau menjawab semua pertanyaan dari saya hihi. Makasi banyak yaa Dea. 

Selama tinggal di Turki, Dea dan Mustafa termasuk rajin mengirimkan netizen reportartion ke NET.TV (stasiun TV ter-kece kalau kata teh Sarah Sechan mah). Perjalanan cinta Dea dan Mustafa Kursun pernah dimuat di Buku Long Distance Heart 3 (LDH 3) dan Majalah Aquila Sytle Singapura, dimana Dea menceritakan tentang Long Distance Relationship-nya bersama pria warga Negara Turki yang kini menjadi suaminya.

Berawal dari cita-cita ingin menjelajahi Turki sejak SMA, semesta mendukungnya untuk tak hanya berangkat ke tempat yang diimpikannya, namun juga bertemu separuh jiwa-nya. 

Apa aja sih tantangan yang dihadapi kalau nikah campur? Apa aja persyaratan nikah sama WNA? Tempat-tempat mana aja di Turki yang berkesan buat Dea? Gimana prosesi pernikahan di Turki? Apa masakan Indonesia kesukaan Mustafa? Yuk merapat karena Dea berbagi cerita cita dan cinta-nya disini 🙂

First I’d like to say, selamat yaa untuk suami Dea yang menjuarai lomba pidato berbahasa Indonesia di KBRI tahun lalu. Hadiahnya apa nih?

Terima kasih tetehcim hihihihi. Hadiahnya diundang presiden RI untuk ikut upacara kemerdekaan di istana Negara, tiket PP Indonesia-Turki, jalan-jalan ke Jakarta dan jogja, plus uang saku.

Mention 5 things you love about Turkey!

1. History! Turki adalah Negara yang setiap jengkal wilayanya mempunyai nilai sejarah tinggi. Terutama sejarah Islamnya.

2. Aya Sofia! Kita bisa lihat bentuk toleransi yang nyata di masjid yang dahulunya adalah sebuah gereja.

3. Kiz kullesi and Boshporus sea! Mengingatkan tentang perjuangan suami ketika berusaha mendapatkan saya hehehe

4. Seasons! Setiap musim punya keunikan tersendiri, and my favorite one is Autumn. Musim paling romantic sekaligus musim dimana saya melangsungkan pernikahan bersama suami hehehe.

5. People

Mereka sangat ramah, terutama jika mendengar kita berasal dari Indonesia. Seketika mereka akan merasa kita adalah saudaranya karena Negara kita adalah salah satu Negara dengan penganut islam terbesar di dunia. 

Turki adalah Negara yang..

Saya impikan untuk dikunjungi bertahun-tahun lalu. Saya selalu berdoa agar bisa berkunjung ke Negara ini bagaimanapun caranya. Sempat mencoba ikut beasiswa tapi stop ditengah jalan karena kuliah di Indonesia berada ditengah jalan. Allah ternyata memberikan saya bonus lebih, yaitu memberikan saya suami yang berkewarganegaraan Turki. 

Saya menginjakan kaki di Negara ini untuk pertama kalinya tahun 2014. Saya ingat tangis pertama yang tumpah ketika mendengar lantunan adzan di Negara itu. Saya ingat tangis-tangis lain yang tumpah ketika suami mengajak saya berkeliling Istanbul untuk pertama kalinya. 

Saya memeluk suami dan mengatakan terima kasih sudah menjadi perantara Allah dalam mewujudkan mimpi saya. 

Saya menyukai ketetraturan disana, saya menyukai sistem transportasinya, saya suka menjelajah disana. Turki sudah menjadi rumah kedua untuk saya.

‘Kehidupan’ di Turki dimulai pukul? 

Dimulai pukul 8.00 atau 8.30 pagi untuk siswa sekolah dan pekerja kantoran. Biasanya siswa sekolah pulang pukul 3 sore, untuk jam pulang kantor biasanya pukul 4-5 sore. Untuk musim panas, biasanya sekolah libur dan untuk pekerja kantoran mulai bekerja pukul 8.30 pagi sampai pukul 5 sore (masih terang benderang jam segitu tuh ehehhe). Untuk musim dingin, sekolah dimulai pukul 8.30 dan selesai pada pukul 4 sore.

Kalau musim panas, biasanya toko-toko tutup lebih malam karena jam 8 disana masih terang benderang, kalau winter biasanya tutup lebih awal, sekitar pukul 5-6 sore. Untuk pusat perbelanjaan (mall) tutup sekitar pukul 10 malam.

Nah kalo weekend, biasanya ‘kehidupan’ mulai pukul 10 pagi hehehe karena mereka biasanya tidur lagi setelah solat subuh dan bangun pukul 10 langsung sarapan.  

Selama tinggal disana Visa apa yang Dea pakai?

Visa pertama yang dipakai adalah E-Visa (visa kunjungan yang berlaku 30 hari). Sampai sana langsung urus izin tinggal (IKAMET).

Kangen nggak sama Indonesia-Bandung, khususnya Pandeglang?

Kangen banget!!! Makanannya ngangenin, makanan Turki kurang bumbu *eh 😀 

Kalo ke pandeglang kangen sama keluarga dan sahabat deket, kangen banget! Kadang suka nangis, terutama pas lagi winter. Mellow mellow gimanaaaa gitu hehehe.

Gimana kesan lebaran pertama bareng keluarga Emus? Kabarnya tiap Idul Fitri selalu ada Festival Gula disana dan yang berangkat solat Ied hanya para lelaki, betul nggak?

Festival gula belum pernah liat sih. Tapi kalau Lebaran Idul Fitri identik dengan gula, itu benar adanya! hehehe. 

Hidangan makanannya full manis. Makanan khas idul fitri disini adalah BAKLAVA. Baklava dibuat dari adonan mirip pangsit yang ditumpuk-tumpuk trus dipanggang dan disiram air gula. Rasanya? Bikin giung hehehe. Makanan khas lainnya adalah Lokum atau Turkish delight, kalo pernah nonton Narnia pasti tau bentuk Turkish delight hehehe. 

*yang penasaran sama bentuk Turkish Delight, bisa lihat disini

Selanjutnya adalah Sharma. Sharma adalah makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus daun anggur, rasanya mirip arem-arem sedikit, cuma bedanya si daun ‘arem-arem’ versi Turki ini bisa dimakan hehehe. 

Nah yang wajib ada di lebaran orang Turki adalah permen dan coklat, anak-anak kecil biasanya datang ke rumah-rumah buat minta permen dan coklat.

Untuk solat Ied di masjid hanya dilakukan kaum pria, biasanya perempuan di rumah. Awal-awal sedih banget karena gabisa ikut sola ied di masjid, padahal waktu itu udah siap mau berangkat ke masjid. Kalau mau solat Ied berjamaah, kita bisa datang ke KBRI atau KJRI.

Sebelum menikah dengan pria Turki, pernah kebayang nggak sih kalau Dea akan menjalani nikah campur? Apa sih tantangan terberat dari menjalani cross-cultural marriage (in this case, with a Turkish Man) Dan gimana cara Dea dan Mustafa menanganinya?

Gak pernah sama sekali, mikirnya jodoh gak jauh-jauh dari orang Pandeglang. Gataunya si tulang rusuk melenceng jauh ke Turki hehehe. Tantangan terbesar sih biasanya miss-komunikasi karena kendala bahasa. Tapi lama-lama masalah tersebut jarang muncul hehehe. Saya dan suami gak pernah marah lebih dari satu hari. Biasanya langsung baikan, biasanya kita pake winwin solution buat nyelesein masalah kita. Soal budaya dan perbedaan madzhab gak terlalu ketara masalahnya hehehe. 

Sebenernya orang Turki terkenal keras, tapi suami berbeda dari kebanyakan orang Turki. Mungkin ini karena didikan Mama mertua yang kentel banget. Keluarga mertua perempuan sebenernya berasal dari kawasan laut hitam, orang-orang kawasan laut hitam terkenal keras dan mudah marah. Tapi mama mertua dan suami gak termasuk orang yang punya dua karakteristik itu. Ya walaupun kadang suka nyempil sih dikit-dikit (gen tidak membohongi hehehe), tapi engga sampe yang teriak-teriak. Banyak loh suami-suami yang gak malu marahin istrinya di tengah jalan sambil nunjuk-nunjuk.

Beberapa temen ada yang bermasalah dengan mertuanya, karena katanya mertua Turki jahat-jahat. Kayaknya kalo konflik menantu mertua itu gak Cuma di Turki ya, di Indonesia juga banyak. Apalagi kalo tinggal serumah, potensi bermasalahnya besar. Soal galak-galak itu saya jawab engga juga kok, mertua saya Alhamdulillah engga begitu. Saya gak pernah disuruh-suruh beliau, kalaupun saya tinggal disana lebih dari seminggu. 

Kalo dibilang orang Turki itu suka banget bersih-bersih, iya bener banget! Rumah orang Turki adalah rumah terbersih yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Sampai pintu aja di-lap hehehe.

Bagaimana prosesi resepsi pernikahan di Turki?

Prosesi pernikahan disana itu bergelimang emas dan uang hehehe.

Tiap daerah beda adat biasanya dan yang paling kentel adat-nya tuh di desa-desa.

Saya akan menjelaskan adat pernikahan disana secara umum yang saya alami.  Ada sekitar 5 tahapan yang dilalui pasangan Turki sebelum menikah. Panjang ya? Kemarin saya hanya mengalami satu tahapan saja yaitu Duğun (Resepsi pernikahan) saja. Tahapan menuju pernikahan itu adalah:
1. Söz

 Soz berati perjanjian, semacam “tunangan” tapi tidak seresmi dan seserius tunangan. Biasanya ditahap ini keluarga membuat semacam pemberitahuan bahwa anaknya mempunyai hubungan dengan anak dari keluarga si fulan yang ditandai dengan pertukaran cincin. Ditahap ini ada beberapa perempuan yang sudah meminta hadiah kepada si calon. 

Hadiahnya bisa berupa emas, pakaian, sepatu, handuk-handuk yang sudah dihias, patik (rajutan yang mirip sepatu/ kaos kaki yang dibuat  dari benang wol dan biasanya dipakai di musim dingin) beserta rajutan lain dan lain sebagainya.

2. Nişan (tunangan). 

Di tahap ini ditandai dengan pertukaran cincin juga dan tahapnya lebih serius. Tahap ini mirip ‘tradisi’ lamaran di Indonesia. Keluarga calon pengantin pria datang ke keluarga calon pengantin perempuan. Mereka membawa ‘seserahan’ seperti di Indonesia. Terkadang keluarga perempuan juga sudah ‘meminta’ seserahan apa yang harus dibawa oleh calon pengantin laki-laki. 

Hantaran yang utama adalah emas. Emas dinilai sebagai lambang kemakmurah pengantin perempuan di Turki

Karena itu tak jarang mereka meminta emas yang harganya fantastis luar biasa. Hal inilah yang sebenarnya menyebabkan lelaki Turki menikah di usia matang (sekitar 30 tahunan) karena mereka mengumpulkan uang untuk tuntutan ‘mahar emas’ dari calon pengantin perempuan. 

Sebelum masuk ke tahap ini biasanya keluarga sudah membicarakan soal mahar yang harus diberikan oleh keluarga lelaki di tahap sebelumnya. Soal mahar, perlu diakui kalau perempuan Turki memiliki standar mahar yang tinggi, katanya tradisi ini terilhami dari cara Rosulullah meminang Siti Aisyah. Kala itu Rosulullah meminang Siti Aisyah dengan ratusan unta, ribuan kambing dan lain-lain. Jika dirupiahkan, jumlahnya sangat fantastis. Nah, karena ini sebagian masyarakat Turki meminta mahar yang cukup besar kepada calon pengantin lelaki. Alasan lainnya adalah emas tersebut untuk ‘simpanan’ darurat para pengantin, untuk keadaaan yang tak terduga. 

Saat prosesi ini, biasanya dipisahkan antara tempat untuk perempuan dan laki-laki. Setelah mereka resmi tukar cincin dan serah terima hadiah, biasanya lelaki dan perempuan dan laki-laki langsung memisahkan diri. Tradisi zaman Ottoman ini masih kental di kota kelahiran suami saya. 

Nah pada tahap ini biasanya si calon gelin (pengantin perempuan) menunjukan keahliannya dalam menuangkan teh kepada tamu undangan hehehe. 

Tradisi meminun teh sudah mendarah daging di kehidupan bermasyarakat orang Turki. Rasanya bukan Turki jika tidak minum teh.

3. Kına Gecesı

Prosesi ini hanya dilakukan oleh calon gelin di kediamannya. Diselenggarakan oleh keluarga calon gelin. Kina gecesi berati malam kina (henna atau pacar). Malam ini mirip malem midadodareni ala jawa atau tradisi siraman ala sunda dan Jawa. Malam Kina biasanya diisi oleh tarian-tarian dengan menggunakan pakaian tradisional ala perempuan Ottoman. 

Calon gelin begitu dimanjakan dimalam ini, duduk di kursi khusus calon gelin dan sesekali ikut berdansa dengan tamu undangan. Puncaknya adalah ketika calon gelin diberi tutup kepala warna merah yang dijuntaikan sampai menutupi wajahnya. Mereka duduk di sebuah kursi yang dikelilingi beberapa penari yang menyanyikan lagu khas kina gecesi dengan membawa lilin di tangannya. Nyanyian tersebut mempunyai arti yang sangat dalam, maka tak jarang beberapa dari calon gelin menangis haru di malam ini. 

Kemudian calon mertua perempuan datang menghampiri calon gelin untuk memberikan koin emas yang disimpan diatas telapak tangan yang sudah dibubuhi henna. Sebelum calon mertua memberi emas, biasanya calon gelin tidak akan menutup telapak tangannya. Setelah emas didapat, calon gelin menutup kedua telapak tangannya dan ditutup dengan penutup tangan berwarna merah. Maka berakhirlah prosesi malam henna. Malam dimana keluarga melepas anak perempuannya untuk diserahkan ke pengantin pria.

4. Nikah

Sampailah para calon pengantin pada prosesi sakral ini. Prosesi dimana ijab dan qobul diucapkan. Kalau di Indonesia, acara ini sangat sakral sekali sehingga tak sedikit yang membuat prosesi nikah dibuat sesempurna mungkin. Yang saya lihat di Turki, acara akad nikah ini tidak sesakral di Indonesia. Tak jarang ada yang mengadakan prosesi ini dengan pakaian seadanya, kadang dilakukan malam hari (seperti yang dilakukan saudara saya), pakaian yang digunakan calon dan keluarganyapun biasa saja. Bahkan saya melihat penghulu akad nikah saudara saya hanya menggunakan celana pendek saja. 

Ketika saya bertanya pada suami, apa di turki acara akad nikah tidak dianggap spesial? Dia sih jawab spesial, mungkin saja pemaknaannya saja yang berbeda dengan orang Indonesia. Ijab dan qabul ala Turki tidak sepanjang ijab dan Qabul Indonesia. 

Pengantin hanya ditanyakan beberapa pertanyaan seputar kesiapan menikah oleh penghulu dan mereka menjawab “evet” (yang berati iya). 

Ketika penghulu menanyakan  bukti pernikahanpun hanya dibuat di kertas kosong yang diisi dengan calon pengantin, imam nikah, saksi dari kedua belah pihak. Informasi di kertas terbutlah yang nanti menjadi informasi di buku nikah mereka. Oya, buku nikah Turki hanya terdiri dari satu buah, kalau di Indonesia perepuan dan  laki-laki memiliki buku nikah sendiri kan. Mungkin karena dirasa kurang sakral, keluarga teman Malaysia saya yang menikahi perempuan Turki mengininkan prosesi akad nikah ini diulang ketika teman saya melakukan resepsi di Malaysia. Oya,perempuan Turki tidak wajib didampingi wali nikah ketika akan menikah nanti. Hal ini dilakukan karena mereka dianggap sudah dewasa untuk melakukan pernikahan. Ada yang bilang kalau wanita juga bisa jadi penghulu, saya pernah lihat satu kali di facebook teman saya. Mungkin di beberapa daerah ada tradisi yang berbeda, sekali lagi ini hanya prosesi yang pernah saya lihat langsung hehehe.

5. Duğun 

Prosesi inilah yang dianggap sangat penting di Turki. Biasanya calon pengantin tak tanggung-tanggung melakukan apa saja agar pernikahannya meriah. Zaman sekarang, umumnya resepsi pernikahan dilakukan di gedung-gedung, tapi ada juga yang masih melakukan di rumahnya. Hal ini dipengaruhi oleh tipe hunian masyarakat Turki dewasa ini. Karena kebanyakan menetap di apartemen, menyewa gedung adalah pilihan yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Karena rumah mertua saya juga di apartemen, jadi saya melakukan resepsi di gedung. 

Saya menikah pukul 7 malam. Pukul 10 pagi saya pergi ke salon untuk berdandan. Tidak ada kehebohan berarti menjelang resepsi. Di Indonesia, menjelang resepsi saya dan keluarga sudah sibuk lahir batin. Disini biasa saja, seperti tidak ada acara besar yang akan terjadi hehehe. Di salon biasanya pengantin mulai dicabuti alis dan rambut-rambut halus di area wajah dengan menggunakan benang. 

Percayalah, anda sekalian tidak akan mau mencoba sensasi ini yang konon sangat menyakitkan. Saya tidak melakukannya karena sudah diperingatkan oleh teman saya yang sudah mengalami sebelum saya. Saya lihat adik ipar saya melakukan ini dan wajahnya merah-merah. Perempuan Indonesia tidak mempunyai rambut halus di area wajah, kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Selesai berdandan, kami pergi ke studio foto untuk mengambil beberapa foto pasca nikah. 

Keluar dari studio foto kami dikerubungi anak-anak kecil yang meminta ‘ampau’, – tradisi ini kadang memaksa. Tujuannya memang untuk berbagi rezeeki, tapi terkadang beberapa anak melakukan aksi nekad. Tradisi ini sudah dilarang di beberapa kota karena membahayakan, ada beberapa anak yang tertabrak mobil pengantin ketika memaksa meminta uang. Bahkan ada pengantin pria yang meninggal ditembak oleh gerombolan pemuda yang meminta uang, si pengantin tidak mau memberi uang, akhirnya nyawa melayang.

Setelah ini kami kembali ke rumah, bersiap-siap untuk pergi ke gedung pernikahan. Ada satu tradisi yang tidak saya lakukan ketika acara ini, yaitu ketika adik laki-laki saya memutarkan selendang merah sebanyak tujuh kali ke pinggang saya. Acara ini sangat sakral sekali, saya melihat sodara saya menangis ketika melakukan tradisi ini. Saat itu tidak ada anggota keluarga saya yang ikut ke Turki untuk merayakan resepsi pernikahan kami. Malam sebelum hari resepsi kami menyusun handuk-handuk untuk disematkan di kaca spion mobil. 

Handuk memiliki filosifi tersendiri untuk perempuan Turki. Handuk memiliki arti kebersihan. Perempuan Turki juaranya untuk soal kebersihan. 

Makanya, handuk tak pernah absen di hantaran seserahan pengantin pria untuk pengantin wanita.

Tiba saatnya kami berangkat ke gedung pernikahan, sebelum berangkat kami memanjatkan beberapa doa. Setelah itu kami naik mobil pengantin, saat itulah kegaduhan dimulai. Pernikahan Turki identik dengan keramaian, ketika ada pengantin lewat, pasti suara klakson mobil menggema disepanjang jalan. Ada yang melakukan tradisi menari dulu sebelum berangkat ke gedung pernikahan dengan lagu dan tarian khas Turki. Sesampainya di gedung, saya langsung masuk ruangan gelin. Biasanya di ruangan tersebut berisi pengantin dan orang tua si perempuan yang biasanya diisi dengan kata-kata romantis orang tua terhadap mempelai perempuan. Setelah itu kami masuk gedung, tepuk tangan bergemuruh di penjuru gedung. Kami kemudian duduk di bangku pengantin. 

Sebenarnya acara resepsi pernikahan di Turki sangat identik dengan tari-tarian khas Turki, tetapi kemarin kami isi dengan ceramah. Selesai ceramah mulailah prosesi memberikan amplop. 
Di Indonesia, biasanya hadiah uang disimpan di amplop, di Turki kita akan memberikan uang secara langsung dengan digantung di selendang yang dikalungkan di pengantin. Untuk perempuan biasanya menggunakan selendang berwarna merah, sedangkan laki-laki berwarna putih. Selendang tersebut akan ramai dengan uang dan koin-koin emas. Tujuannya untuk ancang-ancang ketika keluarga si pemberi menikah, maka kita akan memberikan hadiah dengan nominal yang sama atau bahkan lebih. Jadi kalau kasih amplop sedikit biasanya akan langsung ketahuan hehehe. 

Saya diberikan hadiah gelang emas oleh mertua saya. Hadiah gelang emas itu bernama bilezik

Bizelik ini wajib diberikan mertua kepada pengantin perempuan dan biasanya pengantin boleh menentukan berapa bilezik yang harus diberikan mertua.

Mertua saya sendiri mengajak saya ke toko emas dan meminta saya memilih sendiri bilezik yang saya suka. Selain itu mertua saya juga membelikan saya beberapa barang yang saya suka. Tradisi membelanjai pengantin Turki ini wajib dilakukan mertua (katanya hehehe). Oya, ada tradisi unik dipernikahan Turki. Biasanya para lajang di Indonesia akan mencuri bunga melati hiasan pengantin perempuan, di Turki para lajang akan menuliskan namanya di sepatu pengantin perempuan, katanya yang namanya hilang diakhir pernikahan maka pernikahannya sudah dekat. Setelah itu kami melakukan prosesi lempar bunga. 

Untuk pakaian pernikahannya sendiri kami menggunakan pakaian pernikahan standar Internasional. Umumnya pakaian pengantin perempuan berwarna putih mirip pengantin-pengantin Eropa dan suami menggunakan setelan jas. Sebenarnya ada setelan jas adat Turki, tetapi suami saya kurang suka modelnya, jadi waktu menikah kemarin dia pakai setelan jas biasa. Mungkin karena Turki sekarang sudah menjadi negara sekuler, jadi pernikahanpun gayanya sudah internasional. 

Saya pernah berkunjung ke salah satu museum di kota Konya yang menampilkan pakaian adat pernikahan zaman Otooman dulu. Tentunya sangat berbeda sekali dengan pakaian adat pernikahan Turki zaman sekarang.

Untuk makanan jangan harap akan ada makan besar ala prasmanan Indonesia. Umumnya mereka hanya memberi kue-kue kering dan cake plus jus atau cola yang dibagikan oleh pelayan. Kalau mau merogoh kocek lebih dalam kita bisa membeli paket makanan, harga seporsinya lumayan. Untuk orang kaya mungkin tidak masalah, kemarin kami hanya memberi kue  kecil dan cake itu tadi hehehe.

Dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk menikah dengan WNA?

Tiap negara mempunyai peraturan yang berbeda. Untuk dokumen pernikahan menikah dengan orang Turki tidak sesulit menikah dengan warga negara lain. Sebelumnya tanyakan terlebih dahulu ke KUA setempat perihal pernikahan dengan WNA, setiap KUA mempunyai kebijakan yang berbeda juga. 

KUA daerah saya meminta surat izin dari RT, RW, Lurah, Kecamatan sama seperti pasangan calon Indonesia lainnya. Yang membedakan adalah surat izin menikah dari Kedutaan Turki yang wajib saya berikan. Untuk itu ketika akan menikah, saya dan calon pergi ke KBRT untuk meminta surat izin menikah dari pemerintah Turki. 

Dokumen yang dibawa adalah Akta lahir, Kartu Keluarga, KTP dan Passpor. 

Setelah itu mereka memberikan dokumen yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebanyak satu lembar dengan membayar sebesar 75.000. Setelah itu dokumen dibawa ke KUA. 

Syarat lain adalah surat perlakuan baik dari kepolisian, harusnya sih gratis karena itu tugas mereka. Cuma kemarin saya diminta satu juta hanya untuk surat tersebut. Kesel? Banget! Akhirnya saya kasih mereka 200.000, kita harus tegas! Kemarin saya tanya mereka dimana peraturannya? Teman-teman saya tidak membayar sama sekali untuk dokumen ini. Mereka cuma bilang, “biasanya sih satu juta”. Selesai surat kepolisian selesailah dokumen pernikahan saya di KUA. 

Untuk biaya administrasi pernikahan kami dikenakan biaya resmi sekitar 650.000 rupiah. Ada teman saya yang dikenakan biaya hampir tiga juta, intinya kita harus tegas dan mau bertanya “peraturannya mana” dan banyak baca di internet. Minimalkan celah korupsi dan suap. 

Setelah akad nikah, kami kembali ke jakarta untuk melaporkan pernikahan kami. Setelah itu kami diberi dokumen yang sudah dibungkus rapi dan diberi cap kedutaan untuk dikirim ke negara Turki. Kami harus mengirimkannya lewat POS, tidak diperbolehkan dibawa bersama kami. Kami sendiri juga tidak tahu alasannya, tapi ada teman yang membawa sendiri dan langsung diberikan ke catatan sipil Turki. 

Dokumen pernikahan itulah yang nantinya kita pakai untuk mendapatkan buku nikah versi Turki. 

Sekarang proses itu tidak usah dijalankan, ketika kita melaporkan pernikahan kita, mereka akan menuliskan email ke catatan sipil kota duami. Oya, suami saya menggunkan visa kunjungan selama 30 hari ketika melangsungkan pernikahan dengan saya.

Mayoritas para Ibu di Turki bekerja/stay at home?

Stay at home. Ada yang memang ingin dan ada yang diminta suaminya untuk tidak bekerja karena menurut mereka tugas mencari nafkah adalah tugas suami. Tapi sekarang sudah banyak ibu yang bekerja. Biasanya kalau punya anak, mereka titipkan ke nenek mereka atau dititipkan ke tempat penitipan bayi atau anak. 

Jarang ada keluarga Turki yang memiliki pengasuh, untuk urusan mengasuh anak biasanya mereka lakukan sendiri. Oya satu lagi, asisten rumah tangga di Turki harga sewanya mahal, maka dari itu biasanya perempuan Turki mengurusi tektek bengek urusan rumah tangga sendiri tanpa dibantu dengan asisrten rumah tangga. 

Agaknya ini juga banyak dilakukan perempuan Indonesia ya, soal rumah tangga memang lebih baik diurusi oleh istri hehhe, tapi kalau ada rezeki lebih kita bisa memperkerjakan asisten rumah tangga.

Apa masakan Indonesia kesukaan Mustafa?

Bakso dan rendang! Pasti kalo ke Indonesia, makanan itu yang Mustafa minta pertama kali. Kalau di rumah, saya sering masak bakso hehehe.

Menurut Mustafa, Dea adalah istri yang..

Ini mustafa yang jawab ya 😀

She is a life-time partner I can do everything with her. Not a good housewife in classical terms but supports me (sometines forces me) in every point of life. 

I hope she can be the woman behind a successful man.

Kalau lagi berantem, how do you guys cooling down?

Awalnya sih pasti diem-diem-an dulu. Terus mulai komunikasi, berbicara dari hati ke hati. Mengungkapkan semuanya secara verbal dan non verbal. Misalnya meluk, nangis, cium hehehe.  Biasanya yang mulai tuh Mustafa, keliatan yang gamau kalah siapa 😀

Kegiatan yang Dea dan Mustafa enjoy doing together?

Travelling

Kami suka banget nyambangin tempat baru pake mobil tua kami. Biasanya cari jalan alternatif yang gak banyak dipake orang, karena bakal nemu banyak hal baru disana. 

Saya inget perkataan suami saya, “I enjoy when I travel just with u” sambil megang tangan saya, eaa eaa eaaa 😀

When you reach your lowest point, u will.. 

Nangis of course. Trus curhat abis-abisan sama suami, biasanya suka langsung dipeluk trus dikasih kata-kata penguat. Saya kuat! Saya pasti bisa! Abis nangis biasanya diajak makan es krim atau makan hehehe.

Kalau lagi me-time, Dea bakal?

Tidur, nonton, nulis, foto-foto heehhee.

Nampaknya Mustafa sudah fasih berbahasa Indonesia ya, bagaimana dengan Dea?  

Bahasa Turki saya buruk sekali. Di rumah biasanya kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (keliatan kan kenapa suami bisa lancar bahasa Indonesianya hehehe). Saya belajar bahasa Turki kalau berkunjung ke mertua, karena mertua tidak bisa berbahasa Inggris, mau tidak mau harus berkomunikasi dengan bahasa Turki.

I could say seni çok seviyorum tetehcım!”  artinya aku cinta banget sama kamu tetehku sayang! :*

Mother tongue-nya Turkçe, salah satu bahasa yang paling banyak dipakai diberbagai Negara. Beberapa negaranya pecahan soviyet juga pakai bahasa turki. Tentunya beberapa Negara yang dulunya merupakan Negara kekuasaan Ottoman juga mengerti bahasa Turki, sampai suku Uyghur di Cina. Suku Uyghur di cina merupakan campuran dari bangsa Cina yang menikah dengan orang Turki. 

Struktur bahasanya mirip sama sturktur bahasa Jepang, serumpun dengan bahasa Korea, Jepang Mongolia, Tungusic, Ainu. Makanya kadang ada beberapa kata di bahasa Turki yang mirip bahasa Korea karena berasal dari family yang sama yaitu Altaic. Untuk kosa katanya sendiri beragam, ada yang berasal dari bahasa Arab dan farsi (Iran).

Ada beberapa yang beranggapan Bahasa Turki adalah bahasa Arab, anggapan itu salah besar! Turki mempunyai bahasanya sendiri yaitu rkçememang pada zaman Ottoman alphabet Turki mirip dengan Alfabet Arab, tapi berbeda sekali. 

Setelah Mustafa Kemal Ataturk menjadi presiden, Tulisan Alfabet bahasa Turki berubah menjadi Alfabet latin. Bahkan saking niatnya memperkenalkan tulisan latin ini, Mustafa Kemal Ataturk sampai mengenalkan satu-satu kepada warganya. Menurut saya struktur bahasa Turki lebih sulit dari bahasa Indonesia hehehe (dasar aja males belajar :p)

Mayoritas penduduk Turki adalah muslim, namun kabarnya Turki adalah Negara sekuler. How do you and your husband respond to this issue?

Awal-awal bikin saya kaget sih. Dalam pikiran saya Turki sangat islami, tetapi setelah sampai Turki agak kecewa karena mereka banyak yang sekuler. 

Di Istambul dan Izmir misalnya. Karena Istanbul adalah kota pariwisata, jadi wajar kalau Istanbul cukup sekuler. Jangan kaget kalo liat perempuan buka-bukaan di musim panas, orang pacaran cipika cipiki di tempat umum, perempuan berhijab dan ngeroko, apalagi kalau main ke pantai (harus ngucap istigfar berkali-kali deh). 

Waktu ke Izmir, pas saya naik bus, ada perempuan yang melihat saya dari atas sampai bawah karena pakaian yang saya kenakan. Komunitas non muslim di Izmir juga cukup besar. Tapi ini juga kontras dengan beberapa masyarakat yang islami. Contoh kecilnya keluarga besar kami di Duzce. Mereka terbilang cukup islami. Budaya islam masih kenal disana, contohnya pergaulan antara pria dan wanita. Saya merasa canggung kalau berkumpul dengan laki-laki. 

Untuk mesjid, saya lihat di Indonesia beberapa masjid menggabungkan tempat berwudhu antara perempuan dan laki-laki. Di Turki, tempat berwudhu benar-benar dibedakan. 

Soal pakaian pun, kebanyakan muslim berjilbab disana tidak menggunakan celana ketat, tetapi terkadang mereka ‘asal’ ketika berkerudung (biasanya anak muda). Terkadang saya bisa melihat leher mereka. Perempuan berhijab disana biasanya menggunakan pardesu atau ferace (pakaian khas Turki), kalaupun menggunakan celana, biasanya menutup sampai lutut.

Kalian kan pengen jadi traveller-couple, udah bertualang kemana aja nih Dea dan ? Ceritakan dong tempat-tempat yang must visit disana..

Selama kurun waktu dua tahun saya dan suami berkunjung ke beberapa kota di Turki. Beberapa diantaranya adalah Istanbul. Izmir, Sakarya, Bolu, Duzce (kota mertua), Zonguldak, Konya, Denizli, Safranbolu, Kutahya, Eskisehir, dan Ankara tentunya (karena kami menetap di Ankara). 

Kami merekomendasikan menjelajahi semua kota hehehe. Kalau mau lihat kota yang paling islami, bisa berkunjung ke Konya. 

Di Konya kita bisa melihat makam ulama sufi terkenal Jallaluddin Rumi sekaligus melihat tarian sufi Turki yang sangat ikonik (diselenggarakan setiap malam minggu jam 7 malam dan gratis). 

Nah, Konya juga kota yang paling banyak gratisannya hehehe. Beberapa tempat wisata boleh dimasuki secara gratis, termasuk makam Rumi. 

Kalau mau melihat peninggalan sejarah yang diceritakan di 3 kitab suci kita bisa memilih Izmir, mengunjungi kota tua Efes serasa kembali ke zaman dahulu. Disana kita juga bisa menemukan rumah Siti Maryam (Ibunda nabi Isa A. S) dan gua yang dipercaya sebagai gua ashabul Kahfi. 

Sejatinya setiap kota di Turki memiliki landmarknya sendiri-sendiri. Jadi gak akan pernah bosen kalau jalan-jalan di turki.  Kamipun belum selesai sepenuhnya menjelajadi Ankara, ternyata tempat bersejarah di Ankara sangat banyak sekali. Semoga rencana kami menjelajadi seluruh Turki bisa terwujud! Aamiin!

Makanan Turki terfavorit Dea apa?

Couldnt say no Iskender Kebab!!! Awalnya ngerasa aneh. Makan daging tapi dicampur Yoghurt, tapi lama-lama kerasa enaknya. Must try kalo ke Turki. Variasi kebab terenak! 

Makanan lainnya adalah konya pidesi. Pide adalah pizza khas Turki, uniknya pide ini ukurannya sangat panjang dan rasanya nikmat! 

Satu lagi adalah kofte, perkedel Turki yang rasanya juara. Yang paling terkenal adalah sultan ahmet koftesi, tempatnya tak jauh dari Aya Sofia, sebenarnya untuk rasa sama saja. Mungkin karena sudah lama dan melegenda jadi kofte tersebut selalu ramai pengunjung (bahkan kadang waiting list).

Hal yang paling berkesan di Turki?

Ketika jalan-jalan ke Istanbul sama suami, disana saya nangis. Gak nyangka ucapan mimpi yang diulang-ulang bisa jadi kenyataan. 

Di hari itu juga saya bisa melihat Aya Sofia dan barang-barang peninggalan Nabi Muhammad di Topkapi palace. 

Saya nangis, terharu, merasa sangat dekat dengan Rosulullah. Saya juga nangis pas datang ke makam Ayub Al-Anshari. Sahabat Rosulullah yang dipilih Untanya untuk bermalam. Saya nangis, mau juga seperti beliau, diinapi manusia terbaik di dunia. Siapa yang mau nolak? Bahkan ada anak kecil yang meraung-raung kala itu ke Rosulullah. Saya merasa sangat terberkati sekali dengan itu, merasa Allah sangat baik sekali pada saya.

* * *

Membaca keseluruhan cerita Dea sejujurnya membuat hati saya bergetar, siapa sih yang nggak ingin impiannya terwujud? 🙂 pastinya harus disertai ikhtiar. 

Dreams don’t work unless you do.

Dari cerita Dea juga saya jadi tambah yakin bahwa Allah memeluk impian-impian kita, mungkin belum sekarang waktunya, atau Allah punya rencana yanh lebih indab, dan mimpi kita terwujud dengan cara yang tidak terduga, seperti Dea yang menjemput Cita-nya melalui Cinta-nya.

Terimakasih Dea Audia Santi dan Mustafa Kursun 🙂 So many beautiful and historical places in Turkey, hopefully I can go there with my family one day! Please pray for me.

Sama satu lagi, semoga kapan-kapan kita bisa jalan-jalan bareng yaa 😉 amiin.

Curious on how they met? Please kindly visit : mylongdistancestory.tumblr.com 

* * *

Klik link Cerita Ibu Muda lainnya disini:

1. Nunu, ilmuan Fisika Nuklir yang sedang menempuh program postdoctoral di Jepang, seorang Ibu juga istri. Simak bagaimana Nunu me-manage waktu untuk keluarga dan studi disini,

https://sundariekowati.wordpress.com/2017/01/15/meet-nunu-a-nuclear-physics-enthusiast-a-mother-wife/

2. Uma Hani, istri Dokter yang membangun interdependency dengan suami. Apa itu interdependency? Find out here,

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/12/22/cerita-uma-hani-jadi-istri-dokter-membangun-inter-dependency-dengan-aba-fatiha/

3. Kamu Lulusan ITB? Kok Jadi Ibu Rumah Tangga?

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/11/28/kamu-lulusan-itb-ko-jadi-irt/

4. “I Love Abu Dhabi“, Cerita Nana, jadi Mama-nya Auran plus resep easy baking. Nana adalah lulusan S2 ITB yang selama kuliah master pernah mengikuti program student exchange di Samyoung University Korea, kini Nana tinggal di Abu Dhabi dan memilih untuk mengurus anaknya sendiri. 

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/10/17/i-love-abu-dhabi-cerita-nana-mama-nya-auran-juga-resep-baking/

5. Cici Butuh ‘Strong Why‘, saat mengajak 2 balitanya Itikaf di bulan Ramadhan. Simak tips-nya disini,

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/06/30/cici-itikaf-bareng-duo-bocil-butuh-strong-why/

6. Cerita Iie (Dery Hefimaputri) Ramadhan, melahirkan dan Kuliah Gratis di Swedia. Disini Iie berbagi pengalamannya saat melahirkan di Swedia, pelayanan kesehatan disana, tentang parental leave, sistem pendidikan disana termasuk kuliah gratis di Swedia.

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/06/29/ngobrol-sama-iie-dari-mulai-melahirkan-ramadan-dan-kuliah-di-swedia/