Painted Ice Cream Stick Box #DIY

IMG_20180309_130132

Kotak warna-warni dari stik es krim ini adalah wadah kabel. Seriusan? iya bener.

Lagi-lagi bikinnya bareng Aisya, tinggal tempel stik es krim pakai lem fox ke kardus bekas sepatu Aisya. Trus, setelah stik es krim-nya menempel dengan paripurna, tinggal di brush pakai cat air deh 🙂

Baca juga : Rainbow Rice Craft #sensoryplay

Cat air-nya juga ini bukan merk terkenal kok. Dulu beli yang biasa saja (harganya) di Harmoni – supermarket murmer di Bintaro. Tapiii tetap oke kan hasilnya?

Untuk bikin kotak wadah kabel ini saya bagi tugas dengan Aisya. Aisya yang menempelkan stik-nya dan saya yang mengecat. Kenapa? karena saat saya ajak Aisya untuk painting, ia lebih tertarik mencelupkan kuasnya ke air, lalu ke salah satu warna, kemudian dicampur dengan warna lain, diputar-putar. Pas dioleskan eh warna-nya terlihat gelap, haha.

Saat itu Aisya lagi ingin mencampur-campur warna, jadi saya take over the job deh.

Karena pakai cat sederhana, bukan cat tembok atau cat air untuk melukis di kanvas, jadi ya gampang-gampang saja mengaplikasikannya pada stik es krim.

As easy as, celupkan kuas ke air, putarkan di watercolor pocket box-nya (pilih warna-warna  dasar yang mencrang), and what I did next is just painting our stick ice cream box.

Nah, kalau sudah dilukis semua, langsung dijemur atau diangin-angin sebentar saja ya. Untuk wadah kabelnya, saya beri sekat tambahan supaya lebih rapi. Bisa terisi 3 kabel charger HP lah.

Gimana? lumayan lucu kaaan? 🙂

Saya suka suasana rumah yang rapi. Setelah bikin tempat khusus camilan Aisya dari kardus, saya juga ingin agar kabel-kabel HP tidak menjuntai begitu saja di lantai. Agar lebih rapi, setiap habis me-recharge, kabelnya saya gulung dan taruh di kotak ini.

HP-nya juga bisa ikut diberdirikan di antara sekat-sekat yang saya buat.

Bahan dan Cara Membuat

Mau bikin yang seperti ini juga? Kalau iya, bahan terpentingnya ada 4, yaitu :

  1. Kardus bekas. Kardus apa pun, ukurannya juga bebas. Saya pilih kardus bekas Aisya yang mungil karena kabel charger HP di rumah saya juga ngga banyak. Segini cukuplah.
  2. Lem Fox. Ini lem yang ada di rumah, belum pernah pakai lem lain. Ada yang pengalaman pakai lem yang lain mungkin? cerita-cerita di komen yaa.
  3. Stik es krim. Masih banyak sisa bikin tempat tumblr lamp (dulu saya beli stik es krim-nya di Baltos).
  4. Cat Warna. Saya pakai yang biasa saja. Pakai yang ber-merk bakal lebih kece pastinya.

Baca juga : DIY TUMBLR LAMP Made By Aisya

Untuk cara bikinnya, please kindly follow this step.

Setelah kardus bekasnya tersedia, Mommies bisa mengajak ananda mengoleskan lem ke semua sisi kardus. Lalu tempelkan stik es krim-nya.

Oh ya! there was a funny moment. Aisya senang sekali bermain-main dengan lem fox ini. Ia bilang, lem-nya seperti cat putih sehingga asik mengoles-oles.

Meski saya memintanya untuk mengoleskan sedikit lem saja, Aisya kadang mengambil terlalu banyak. Untuk mengantisipasi agar lem-nya tidak menumpuk, saya rapikan dan ambil kelebihan lem. Lalu saya oleskan ke sisi yang lain.

Untuk sisi yang lebih panjang, stik-nya saya susun seperti di foto. Dan untuk sisi yang lebih pendek, stik-nya saya ‘tidurkan’ (foto paling kanan). Supaya variatif aja. Mommies mau menyusunnya seperti apa, silakan didiskusikan dulu dengan ananda yaa.

As I mention above, kalau stik es krimnya sudah rekat. Mommies dan ananda bisa mulai mengecat stik-nya. One by one. Saya memilih mengecat beberap stik dengan warna yang sama. Mommies bebas ya, se-kreatif mungkin aja 🙂

Itu dia cara buatnya, its a piece of cake, kan? Pas banget minggu ini bakalan ada long weekend, DIY Painted Stick Ice Cream Box ini bisa jadi pengisi liburan Mommies dengan ananda lho!

Terimakasih sudah mampir, semoga suka dengan postingan saya. Happy Long Weekend all.

 

 

 

 

 

 

 

BANANA MUFFIN

Screenshot (20)

Pagi-pagi, nyeruput teh tarik sambil ngunyah homemade banana muffin ituu, rasanya enak bangeet. Perfect match lah bahasanya.

Siapa yang suka banana muffin? Cuuung ya 🙂 karena saya mau bagi-bagi resep banana muffin disini.

BEDA NGGA SAMA BANANA BREAD?

Oh jelas beda, yang bikin beda antara lain :

  • Loyang. Loyang yang digunakan untuk bikin Banana Bread biasanya berbentuk persegi panjang (sama size dengan loyang Brownies) atau berbentuk bulat yang tengahnya ada bolongnya. Sedangkan loyang muffin berbentuk bulat tapiii kecil-kecil. Satu loyang bisa berisi 4 hingga 9, bahkan ada yang lebih ya. Loyang milik saya berisi 9 slot.
  • Waktu Memanggang. Memanggang dengan loyang muffin/cupcake membutuhkan waktu yang lebih sedikit. That’s why I’m happy to make either cupcake/muffin. Lebih cepat jadi lumayan menghemat gas (saya pakai oven tangkring). Kalau memanggang Banana Bread di loyang Brownies, butuh waktu 50-60 menit. Untuk bikin Banana Muffin hanya butuh 40-45 menit.
  • Bahan-bahannya. Saya menambahkan 1 sdm susu UHT ketika membuat Banan Muffin, sementara pada Banana Bread, tidak menggunakan susu.

Cukup 3 dulu deh, perbedaannya. Ada yang mau menambahkan? 🙂

Baca juga : Moist Vanilla Cupcake

Oia, there’s also one thing about baking that attract me. Dulu, saya belum begitu tertarik belajar membuat kue. Baru sekarang-sekarang saja, Alhamdulillah sudah mencoba beberapa resep.

Standar enak tidaknya, ditentukan oleh Aisya. Kalau Aisya lahap makannya dan rikues terus, artinya kami berhasil membuat kue/kukis/cupcake/muffin tersebut. Pastinya di lidah saya juga harus oke. Nampaknya selera manis saya dan Aisya sama deh.

Kegiatan baking-baking-an ini membuat saya bahagia. Ada rasa senang ketika saya mengaduk adonan, melihat adonannya puff-ing, juga saat menunggu adonannya matang. Lebih senang lagi begitu dicicipi, ternyata rasanya sesuai ekspektasi. Yummm.

Untuk bikin muffin ini misalnya, saya akan melirik jam di menit ke 20 untuk mengecek apakah adonannya sudah mengembang atau belum. Biasanya saya putar juga agar matangnya merata.

Nah, sambil menunggu inilah saya suka nyambi mengerjakan yang lain. Seperti mencuci piring, membereskan mainan Aisya, menjemur pakaian dan lain-lain di 20 menit pertama dan 20 menit kedua.

Karena kalau hanya tok nunggu bakal gemes sendiri liat pergerakan jarum jam. Dan dikit-dikit ditengokin muffin-nya. Daripada harap-harap cemas gitu, saya memilih untuk menyibukkan diri. I set my timer tapi yaa, kalau ngga asik dengan yang lain eeh! gosong deh muffin-nya.

Sehingga saat muffin-nya matang, I already finish like 2 or 3 things in a row. Kemudian tinggal meluruskan kaki, menyeduh teh tarik hangat dan menikmati muffin-nya bersama Aisya.

Finish 2-3 things in a row ini juga bikin saya merasa produktif lho. Ga rugi waktu dan rasa happy-nya sama kayak beli baju dapat harga sale.

Baca juga : Homemade Almond Crispy Cheese – by me

So, as I promised, ini dia resep untuk 9 muffin ya. Ga perlu mixer, cukup pakai whisk dan spatula kok!

🍰 RESEP BANANA MUFFIN 🍰

Bahan :
1. Pisang yang matang banget 3 buah
2. Margarin 2 sdm
3. Gula putih 5,5 sdm
4. Telur 2 butir (suhu ruang)
5. Tepung serba guna 5 sdm
6. Susu UHT 1 sdm
7. Garam sejumput
8. Chocolate chips untuk taburan

Cara Memasak :
1. Aduk margarin dengan gula menggunakan whisk sampai teraduk cukup rata
2. Masukkan telur, kocok bersama
3. Tambahkan tepung serba guna juga garam, aduk lagi sampai semua tercampur dengan baik
4. Beri 1 sdm susu, aduk lagi
5. Haluskan pisang dengan garpu, lalu masukkan ke dalam adonan, aduk dengan teknik folding sampai mix well aja (dont over mix/under mix)
6. Panaskan oven tangkring dengan suhu sedang dan tuang adonan banana muffin ke loyang cupcake
7. Lalu beri toping chocolate chips dan keju parut
7. Panggang selama 40-45 menit, biasanya setelah 40 menit rumah bakal harum sama aroma pisang + chocolate chips (yumm)
8. Tengok, bila ditusuk tidak ada yang menempel artinya sudah matang yaa
9. Angkat dan sajikan, dimakan hangat-hangat dengan secangkir teh tarik menurut saya lebih enak 🙂

Tips : biasanya di menit 30 saya akan buka oven dan memutar posisi loyang agar matangnya rata.

Semoga resep ini bermanfaat yaa. Sebelumnya saya pernah mencoba bikin dengan taburan keju parut di atasnya, but I personally prefer the chocolate banana muffin rather than the cheese on top, how about you?

Moist Vanilla Cupcake

Screenshot (17)

“Mami, aku mau bantuin bikin cupcake yaa,” Aisya langsung mengaduk adonan dalam mangkuk sementara saya mengocok putih telur dengan mixer.

Setelah kami tambahkan putih telur yang sudah mengembang dan mencolek sedikit adonan, saya tambahkan lagi gula putih. Nyamm, manisnya sudah pas! Tiba waktunya memanaskan oven tangkring dan menuangkan adonan.

“Lho kok bukan brownies, Mami? Aisya gamau makan cupcake yang ini. Aisya kan sukanya brownies,” tampang Aisya agak kesal saat tahu kami tidak menambahkan lelehan dark cooking chocolate ke dalam adonan.

“Iya Aisya. Ini namanya Vanilla Cupcake. Mami ingin coba bikin yang basic dulu. Ingin tahu berhasil atau ngga tekniknya. Kalau sudah jadi Aisya coba yaa,” jelas saya.

Aisya langsung masuk ke ruang keluarga, ia masih manyun. Sekitar 15 menit di dalam otang, cupcake-nya mulai mengembang.

“Aisya sini, lihat cupcake-nya rise up!” ucap saya

“Ngga kelihatan ah sama Aisya. Gendong, Mami,” ia mulai tertarik tapi agak gengsi.

“Waah iya Mami. Cupcake-nya mengembang. Aisya mau Mami. Mau satu, Mami. Kaya waktu makan brownies, Aisya boleh ambil satu duluan,” pintanya antusias.

Hm, meski agak ragu, saya keluarkan dulu cupcake-nya dan menusukkan tusuk sate ke dalam. Tidak ada adonan yang menempel saat ditarik kembali. Artinya sudah matang. Penasaran, saya comot 2 cupcake dan membiarkan yang lain masuk ke dalam oven lagi.

Aisya menaiki bangku kuning, mengambil meses di atas kulkas. Sementara saya memarut keju untuk topingnya.

Kami cicipi cupcake-nya yang masih hangat. Bismillah.. “Hmm, enak banget cupcake-nya, Mami,” mata Aisya berbinar.

“Iya, lembut ya,” timpal saya sambil mengunyah.

“Gimana, Aisya suka ngga Vanilla Cupcake-nya?” tanya saya.

“Suka, Mami. Aisya mau bawa buat bekal ke sekolah trus dibagikan ke teman-teman ya,” ucapnya. Wah boleh banget nih idenya. Saya simpan 2 di rumah dan sisanya dibawa ke sekolah

Alhamdulillah, ada satu resep lagi yang kami buat dan Aisya suka. Resepnya mudah kok. Gak percaya? boleh dicoba dulu lho Buuuk 🙂

Baca juga : Tiramisu Cheesecake #HOMEMADE

🍰 MOIST VANILLA CUPCAKE 🍰

Resep untuk 9 cupcake

Bahan :
1. Margarin 2 sdm
2. Gula putih 6,5 sdm
3. Telur 2 butir
4. Tepung serba guna 5 sdm
5. Garam sejumput
6. Susu UHT plain 2 sdm

Cara Membuat :
1. Kocok margarin dengan whisk bersama dengan 3,5 sdm gula putih
2. Masukkan kuning telur, aduk rata
3. Menggunakan hand mixer, kocok putih telur dengan kecepatan rendah hingga berbuih. Lalu tambahkan 3 sdm gula putih sedikit-sedikit sambil dikocok dengan kecepatan tertinggi sampai mengembang
4. Tambahkan terigu ke dalam adonan yang berisi campuran margarin + gula putih + kuning telur until all mix together
5. After that, taburkan sejumput garam + susu UHT (cukup 2 sdm saja)
6. Ambil sedikit putih telur yang sudah mengembang, campurkan ke adonan cake dengan teknik folding (aduk lipat). Saya bagi 3 term. Ambil putih telur, masukkan ke adonan vanilla cake, aduk rata. Ulangi langkah-nya hingga 3 kali
7. Setelah adonannya teraduk dengan baik, pindahkan ke cetakan cupcake
8. Panggang selama kurang lebih 40-45 menit dengan api sedang. Tusuk adonan dengan tusuk sate, jika tidak ada yang menempel artinya sudah matang. Biasanya saya cek di menit ke-20 kalau belum matang secara merata saya putar posisi loyangnya. Yang depan jadi di belakang
9. After well cook, diamkan dulu di bagian atas oven setelah api dimatikan (sebentar saja). Lalu angkat, makan hangat-hangat lebih terasa moist dan enaaak ❤

Tips : Buatlah cupcake saat kondisi tubuh sedang fit, ready & happy! Beberapa kali saya bikin cake ketika sedang lelah malah gagal :p maybe positivity affect what we bake 😉

Baca juga : 5 Langkah Mudah Bikin Tepung Oat Di Rumah

And ya, I rarely add baking powder/baking soda to my batter. So far, the cake that I made rise pretty well. Kecuali untuk resep yang benar-benar butuh baking powder, baru saya pakai bp.

Gimana mudah kaaan resepnya? Sudah dicoba? kalau sudah lemme know how it taste yaa. Thank you for visiting me Moms.

Rainbow Rice Craft #sensoryplay

IMG_20180312_132637

Sejak Aisya sekolah, kami mulai jarang bikin karya di rumah. Saya pikir kegiatan berkarya sudah cukup dilakukan di Kober. Sehingga, pulangnya Aisya bisa bermain sepuasnya bersama teman atau main apa saja di rumah.

Main apa? apa saja. Petak umpet, main bola, masak-masakan, dokter-dokteran, bengkel-bengkelan. Main puzzle, nyanyi, nari, kemah-kemahan dan masih banyak lagi.

Tentang bermain, I personally think that, anak-anak lebih sehat ketika bermain dengan sesama anak-anak. Namun ada kalanya Aisya juga bermain dengan teman yang lebih dewasa. Juga main sama Mami, Ayah serta kakek neneknya.

Terpenting buat saya, tetap didampingi saat bermain. Atau pastikan teman mainnya baik, aura-nya positif dan tidak memberi pengaruh buruk. Kalau kebawa-kebawa tentunya perlu difilter yaa sama kita (sebagai Ibunya).

Sebetulnya di rumah Aisya masih suka menggunting, menempel, menggambar dan mewarnai. Oia sekarang ia sedang gemar menulis huruf dan angka! I guess that’s whats also keep her busy 🙂

Baca juga : THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

Okay, kembali ke bikinan. Senin ini kami mencoba bikin karya lagi. Aaand that’s feel good. Berasa sudah menerapkan home education aja, haha.

Kalil ini kami bikin rainbow rice. Warnanya macam-macam, jadi meskipun ga jadi mejikuhibiniu, saya sebut beras pelangi saja supaya mudah. Bikinnya mudah kok, yang jelas harus siap lihat beras-beras berserakan dan me-lap food coloring yang tidak sengaja jatuh ke lantai.

Yap! salah satu rule sebelum bikin karya adalah Sang Ibu harus SIAP dengan segala konsekuensi. Kalau saya bikin area dulu yang boleh dijadikan tempat bereksperimen, yaitu di dekat taman belakang. Catatannya, berasnya tidak boleh loncat ke rumput sintesis. Itu aturan yang saya sampaikan pada Aisya.

Pada saat mewarnai, saya alasi mangkuk-mangkuk dan mainan masak-masakan Aisya menggunakan flyer dari supermarket. Tujuannya, meminimalisir kemungkinan lantai kotor. Antisipasi saja, pada kenyataannya kemana-mana juga pewarnanya.

Okay, eksperimen dengan pewarna makanan ini sudah pernah dilakukan Aisya dan Ayahnya saat mereka membuat homemade playdough. Berhubung kami baru membeli pewarna baru dan saya lagi harus cuci piring pagi itu, saya ajak Aisya bikin rainbow rice. 

Aisya yang baru selesai sarapan dan masih dalam kostum tidurnya langsung antusias mengikuti saya ke dapur. Singkat cerita, saya sediakan alat dan bahannya, dan mempersilakan Aisya mencampur-campur warna sendiri. Setelah cucian piring rampung, baru saya nimbrung.

Melalui aktivitas ini, saya ingin Aisya melihat perubahan warna yang terjadi ketika mencampurkan pewarna yang berbeda dengan beras. Kemudian meminta ia mengamati apa yang terjadi jika dua atau lebih pewarna digabung.

Baca juga : Banana Oat Pancake Made By Aisya #DIYPOPUPBOOK

Rainbow Rice As Sensory Play

Bermain beras pelangi seperti ini juga masuk kategori sensory play ya Moms. Manfaat #sensoryplay banyak, diantaranya :

  • Melatih Perkembangan Otak. Semakin banyak informasi/pengalaman yang diberikan, semakin lengkap dan banyak bank data yang tersimpan dalam otak. Stimulasi ini membuat cara kerja otak semakin aktif.
  • Melatih Regulasi Diri. Tujuan yang diharapkan adalah menempatkan anak pada just right state, dimana anak pada level ini lebih tenang dan siap utk menerima stimulasi.
  • Meningkatkan Bonding. Ketika orang tua menemani dan bermain bersama anak, saat itu pula orang tua sendang membangun ikatan batin dan kedekatan bersama buah hati.
  • Membantu Berbagai Perkembangan : bahasa, motorik halus kasar, kognitif, sosial emosional, dan kreativitas.

(Sumber : http://elhanalearningkit.com/manfaat-sensory-play-untuk-balita)

Alat Dan Bahan Bikin Rainbow Rice

IMG_20180312_101127

Tanpa basa-basi lagi, saya akan share alat dan bahan bikin rainbow rice yang saya yakin sudah familiar ini yaa.

What To Prepare :

  1. Beras secukupnya
  2. Pewarna makanan
  3. Mangkuk dan sendok untuk mengaduk beras dan pewarnanya

Step To Make It :

  1. Pertama, saya minta ambil mengambil beras secukupnya. Kenapa tidak boleh banyak-banyak? karena beras itu fungsi utamanya untuk dimakan. Dimasak jadi nasi. We have to use it wisely 🙂
  2. Beras yang sudah dimasukan ke mangkuk, lalu dituangkan ke panci kecil berwarna pink. Ceritanya Aisya lagi menggoreng nasi.
  3. Saya minta Aisya mengambil satu botol kecil pewarna makanan dan meneteskan sedikit-sedikit agar perubahan warnanya bisa diamati. Jika Aisya ingin warnanya lebih pekat, boleh ditambahkan lagi.
  4. Pertama, Aisya menggunakan warna pink, lalu kuning, hijau dan terakhir mencampurkan semua warnanya.

Aisya berhasil membuat lima campuran warna yang wujudnya menjadi : beras kuning, beras pin, beras hijau, beras pelangi dan beras butek. Butek? haha, I pick this word karena Aisya mencampur semua warna dengan cukup banyak sehingga berasnya berwarna kecoklatan.

Satu tambahan beras oranye, itu saya yang mencampurkan warna kuning dan merah. Untuk beras pelangi cantik, kami dapatkan dengan mencampur beras pink, kuning dan hijau jadi satu.

Baca juga : DIY KARTU ANGKA

What Can We Make From Rainbow Rice?

This slideshow requires JavaScript.

Puas memandangi cantiknya beras warna warni ini, saya kepikiran untuk bikin craft. Sayang kan kalau ujung-ujungnya dibuang, sebaiknya dimanfaatkan saja.

Kebetulan kami membuat wadah dari kotak yang kedua sisinya sudah ditempeli stik es krim, sementara dua sisi lainnya masih polos. Aha! munculah ide untuk mendekorasi sisi-sisi tersebut dengan beras pelangi.

Selain kotak ini, ada beberapa lagi kreasi kami dengan beras pelangi.

Here it is :

Kotak Pelangi

Caranya lagi-lagi mudah. Hanya butuh rainbow rice dan lem fox (lem yang ada di rumah).

Aisya ambil satu stik es krim dan mengoleskan lem fox ke sisi yang mau ditempeli rainbow rice, kemudian menaburkan beras-berasnya. Step by step-nya bisa dilihat di galery ya.

Gimana cantik kan kotak pelanginya? bisa dipakai untuk menyimpan gunting, atau jarum pentul, juga tempat menampung beras pelangi-nya.

Hiasan Gelas Pelangi

IMG_20180312_184850_742

Kami ambil gelas hiasan yang seharusnya jadi tempat lilin, but the candle was long gone. Lalu Aisya tuangkan rainbow rice-nya ke dalam gelas mungil ini. Ia sematkan setangkai tanaman dan dipajang di rak buku. Looks pretty lah 🙂

Pohon Pelangi

IMG_20180313_214147

Yang ini, kami menepelkan rainbow rice-nya di sketch book. Pertama, saya gambar dulu pohonnya, Aisya beri lem fox dan menaburkan beras pelanginya. Diamkan beberapa saat, dan jadilah pohon pelangi.

Nasi Goreng Pelangi

IMG_20180313_100025

Same with making pohon pelangi, hanya yang ini bentuknya semacam boboko berisi beras pelangi. Kami namakan nasi goreng pelangi.

Bunga Pelangi

IMG_20180314_083602

Last, ini bunga pelangi! tanaman berwarna hijau yang berbunga pelangi.

Baca juga : DIY TUMBLR LAMP Made By Aisya

Semua rainbow rice craft ini bisa dipajang loh. Untuk sketch book juga bisa kita ambil, laminating dan simpan di rak/di atas lemari/floating shelves/dekat TV sebagai hiasan. Pasti bakal bikin suasana rumah lebih colorful deh!

As for me, ntah kenapa lihat-lihat pelangi seperti ini bikin mood jadi happier lho.

Ada yang pernah bikin rainbow rice craft juga? bikin apa aja nih? yuk share di komen yaaa Moms 🙂

Makasi yaa sudah mampir, semoga postingan ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

THINGS I ENJOY DOING WITH MY DAUGHTER

 

IMG_20170513_132134

There are many activities that I enjoy doing with my daughter and I believe you too. Di postingan kali ini saya bikin list kegiatan favorit yang suka saya lakukan bareng Aisya.

Apa aja? kindly check this out Moms..

MASAK

This slideshow requires JavaScript.

Alhamdulillah, saya merasa beruntung sekaligus bersyukur diberi anak perempuan yang naturally suka ingin tahu, ingin ikut, dan senang belajar memasak.

Seringnya Aisya membantu saya ketika membuat pancake, bolu, kukis, cupcake dan brownies. Ketika bikin per-kue-an, Aisya kebagian tanggung jawab untuk mengocok telur dan bahan-bahan lainnya. Untuk bikin kukis, Aisya juga ikut mencetak adonannya.

Sekarang Aisya sudah ingin memecahkan telur sendiri. Masih saya pegangi, antisipasi agar telurnya tidak pecah dan menggelosor ke lantai.

Kalau kami pakai mixer, bahan-bahan yang sudah saya takar tinggal dimasukkan saja oleh Aisya ke dalam standing mixernya. Tapi untuk membuat adonan dengan menggunakan whisk dan spatula, biasanya saya aduk lagi sampai semua bahan tercampur rata setelah Aisya kocok.

Repot ga sih masak bareng anak?

Hm, saya memang ingin melibatkan Aisya ketika saya memanggang sesuatu. Untuk masak sayur dan menu lainnya belum. Repot sih tidak terlalu, karena saya pun hanya bikin kue/kukis/cupcake yang sederhana seperti Bolu Pisang, Brownies, Kastangel, dan Almond Crispy Cheese.

Paling yang bikin suka greget adalah ketika Aisya ingin turut memasukkan bahan-bahan ke dalam mangkok. Seperti menambahkan terigu, gula dan lain-lain yang masih harus saya takar. The thing is Aisya ingin melakukannya sendiri.

Akhirnya make a deal sih, Aisya boleh menuangkan bahan lain, tapi saya takar dulu. Harusnya sudah saya siapkan per magkuk kecil ya bahan-bahannya 😀

Atau saat Aisya mengocok dengan semangat, kadang adonannya ada yang keluar dari mangkuk. Nah, disini saya suka bawel “Aisya pelan-pelan aja, look the batter is spread out to the floor,”. Kalau sudah begini Aisya seringkali menenangkan dengan bilang, “Ini gampang kok Mami, tinggal di lap aja. Tenang ya Mami, Aisya ambil tissue dulu,”.

Hahaha, melihat responnya, saya jadi tertawa malu. Kadang, anak ini memang lebih dewasa dari Emaknya.

Baru-baru ini Aisya juga rikues untuk bikin nasi goreng sendiri. Begini kira-kira dialognya..

“Mami, aku mau makan nasi goreng,” ucapnya.

“Oke, Mami masakin yaa,” saya langsung berjalan ke dapur.

“Ngga mau. Aisya mau masak sendiri,” pintanya.

“Masak SENDIRI???” saya agak kaget.

Saya berusaha menunjukkan sikap proaktif dengan tidak langsung mematahkan semangatnya dengan mengatakan sebaiknya saya yang masak dan Aisya menunggu sambil bermain. Saya biarkan otak saya mengatur sebuah rencana.

Okey, setelah langkah-langkahnya tergambar jelas, saya mulai menyiapkan alat dan bahannya. Saya siapkan pisau dan talenan plastik. Kemudian meng-geprek bawang putih. Memecahkan telur dan menempatkannya dalam mangkuk kecil. Memasang wajan berisi sedikit minyak goreng di atas kompor. Serta mendekatkan nasi, garam serta penyedap rasa.

Terakhir, saya ambil bangku kuning kecil agar Aisya bisa memasak dengan nyaman.

Tiba saatnya memasak, Aisya tinggal mencacah bawang putih yang sebelumnya sudah saya geprek. Dan mencemplungkan bawang putih, telur, nasi dan bumbu-bumbu secara bertahap. Oia, Aisya meminta api-nya kecil saja, and I set that for her 🙂

Dengan spatula, Aisya berusaha mengoseng telur dan membulak-balikan nasi. This part was pretty hard for her. Jadi saya bantu dulu sampai nasi dan bumbu-bumbunya tercampur rata, lalu saya berikan lagi spatulanya pada Aisya. Tak lupa, saya ajak Aisya mencicipi nasi gorengnya dulu.

Wah, ternyata rasanya enak! Aisya langsung lahap menyantap nasi goreng buatannya sendiri.

Kembali tentang repot ngga repot. Sedikit repot, tapi saat melihat Aisya yang semangat belajar memasak, saya merasa perlu memfasilitasinya. Apalagi antusiame-nya datang dari sang anak.

Melihat Aisya yang gigih belajar jadi kebahagiaan tersendiri buat saya. Senang gitu, melihat di umurnya yang masih 4 tahun, Aisya berani bersentuhan dengan dapur, wajan, mixer, dan peralatan memasak lainnya.

Cooking is fun, though.

Yep. Jadi masak-memasak adalah kegiatan pertama yang suka saya lakukan bersama anak.

MENGGAMBAR & MEWARNA

This slideshow requires JavaScript.

“Mami, bisa gambar ulat ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar bola basket ngga?”

“Bisa,”

“Mami, bisa gambar unta ngga?”

“Hmm, unta yah? Bisa, insya Allah,”

“Kalau gambar anak ayam?”

“Bisa, bisa..”

“Gambar Robocar Poli, bisa?”

“Robocar Poli? Hehe, yang itu Mami belum bisa. Gimana kalau minta Uncle nge-print aja lalu Aisya warnai?”

Waduh Nak, kalau robot-robotan Mami kayaknya perlu belajar dulu nih.

Saya memang suka menggambar dan mewarna. Ngga jago yaa. Ketika Aisya meminta saya menggambar sesuatu, terutama orang, insya Allah saya bisa. Sesuai imajinasi saya atau melihat dulu gambar-gambar yang lucu, lalu membuat gambar yang serupa dengan modifikasi sedikit.

Kami suka membeli buku gambar kosong. Lalu digambar dan diwarnai oleh Aisya (kadang bersama-sama). Aisya juga mulai sering menggambar, terutama orang yang sedang memegang balon. Menggambar anak perempuan dengan temannya atau dede bayi. Dan menggambar Ayah, Mami serta Aisya.

Untuk anak 4 tahun, menurut saya sih sudah lumayan ya. Karakter yang ia gambar biasanya sudah dilengkapi dengan mata, hidung, mulut, telinga, rambut, pita untuk anak perempuan, anak laki-lali ngga pakai anting, ada tangan juga kaki.

Ketika mewarna, Aisya suka warna warni seperti pelangi. Dunno why, but again I think its good because it make the picture colorful 🙂

Selain buku gambar polos seharga Rp. 2.500,- yang kami beli di warung, Aisya juga punya buku mewarna. Aisya suka mengajak saya, Ayahnya dan teman-temannya untuk ikut mewarna. Baik menggunakan pensil warna, crayon, spodil maupun cat air.

MEMBACA BUKU & MENDONGENG

Ada kejadian unik kemarin subuh. Sekitar pukul 4 pagi, Aisya bangun. Mendengar suaranya, otomatis saya terbangun.

“Mami, tolong bacain buku,” ucapnya dengan suara khas bangun tidur yang masih agak serak dan lembut.

Saya pikir Aisya ngigau, saya tawarkan untuk membacakannya surat-surat pendek, karena terkadang Aisya juga terbangun tengah malam dan minta disenandungkan ayat-ayat Al-Qur’an di juz terakhir.

“Bacain buku, Mamii, yang Sesame Street” pintanya.

Saya ajak diri saya untuk melek sepenuhnya, saya pencet stop kontak dan mengambil buku berjudul “5 Minute Stories”. Rupanya Aisya ingat, sebelum tidur ia minta dibacakan 3 cerita dari buku ini, namun baru 2 cerita sudah keburu terlelap.

“Aisya mau dibacakan yang Bert’s Birthday?” tanya saya, menunjukkan halaman dengan cerita dengan judul tersebut.

“Mau, Ok mirip ya Mam, sama Big Bird New Nest,” jawab Aisya.

Dalam hati saya membatin, ‘Wah, nih anak hapal juga ya judul yang saya bacakan semalam, hihi’. The last story that I read before she fallen asleep is Big Bird New Nest.

“Iya, mirip ya Bert dan Bird. Kalau Big Bird yang gimana?” saya tes apakah Aisya benar-benar awake at that time.

“Yang yellow badannya and big. Bert juga same, yellow, tapi ngga ada bulu-nya,” aha! Ternyata Aisya benar-benar bangun.

Akhirnya, saya bacakan cerita di buku Sesame Street itu. Lagi-lagi, baru selesai dua judul, Aisya kembali terlelap.

Anytime she asked me to tell her stories or read her a book, saya selalu semangat! Mungkin karena saya suka membacakan nyaring dan mendongeng, jadi senang aja kalau Aisya minta diceritakan. Off course I’m also very glad of her interest in book 🙂

Oia, foto yang sebelah kanan itu, kami bikin wayang kertas. Seperti biasa, saya gambar lalu warnai dan digunakan sebagai alat peraga saat mendongeng. Ceritanya tentang Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso yang belajar antri.

Baca juga : Roro Jongrang & Bandung Bondowoso Belajar Antri

MAIN DI PLAYGROUND

Screenshot_2018-02-09-18-16-19

Entah kenapa, saya juga senang menemani Aisya main di playground. Menemani Aisya jadi penjual burger, sushi, es krim dan saya jadi pelanggannya. Melihat kelincahannya memanjat, loncat-loncat di trampolin, main games, termasuk kadang-kadang saya ngikut saat Aisya naik perosotan hahaa..

Ya, sekali-kali aja kok. Penasaran karena jaman saya kecil dulu belum ada perosotan panjang dengan penutup atau perosotan model balon yang enak banget saat meluncur dan mendarat.

Baca juga : TAMAN TASIK PERDANA

NYANYI & MENARI

IMG_20171222_144550

 Saat mengantar Aisya untuk latihan nari tahun lalu, tak disangka, saya sangat menikmatinya. Aisya dan teman-temannya menari diiringi lagu “Aku Bisa”, mereka tampil dalam rangka memperingati hari Ibu.

Setelah anak-anaknya latihan, terkadang di sesi terakhir, Bu Inday (koreografer-nya) meminta para Ibunya ikut menari. Ya supaya anak-anaknya makin semangat kali ya. Sekalian supaya Ibu-ibunya bisa memantapkan gerakan anak-anaknya di rumah.

Jadilah saya ikut menghapalkan musik dan gerakannya. And I really enjoy it! Apalagi latihannya di ruangan dengan cermin besar. Mirip tempat latihan balet, terutup, dan tidak ada pria dewasa. Jadi bebas ber-ekspresi yaa.

BERKEBUN

Belum bisa dibilang berkebun sih sebenarnya. Kami baru saja ikut playdate berkebun dan pulang membawa 4 pot berisi tanaman Selada, Sukulen, Basil dan Mint. Ditambah, Aisya dapat hadiah dari teman sekolahnya berupa tanaman Stroberi yang dibawa dari Kebun neneknya di Sumedang.

Sebelumnya, suami sudah memanggil tukang untuk mempercantik taman. Dengan bertambahnya tanaman di rumah, kami jadi semangat melongok ke halaman depan. Pagi-pagi, saya perhatikan sudah tumbuh tinggi belum ya? Buahnya sudah ranum belum ya?

Aisya suka ikut mengamati dan menyiram tanaman, memetik stroberi yang sudah matang juga kadang mengambil beberapa ‘bunga’ untuk diberikan ke saya.

“Mami, buah stroberi-nya kok warnanya hijau trus putih, trus baru merah?” begitu tanya Aisya.

“Iya, prosesnya gitu. Pertama hijau dulu, lalu jadi warna putih. Kalau masih putih berarti belum matang. Pas warnanya berubah merah semua, ada putihnya dikit gapapa, itu artinya sudah bisa dimakan,” jawab saya

Minggu lalu saya juga mencoba menanam cengek, dan kemarin lusa saya benamkan setengah jeruk purut beserta bijinya di pot. Harapannya dua-duanya ikut tumbuh dan berbuah. Amiiin.

Menanam dan merawat tanaman seperti ini ternyata bisa bikin hati senang dan rileks yaa 🙂

TRAVELING

Berkaca dari pengalaman weekend minggu lalu, saat kami naik travel ke Bintaro dan pulang kembali ke Bandung, saya jadi makin sadar kalau Aisya itu teman yang asik dan kooperatif selama di perjalanan.

Saya ceritakan secuil yaa. Travel yang sudah kami pesan ternyata delay. Walhasil, kami harus menunggu selama 2,5 jam tanpa kejelasan. Mood saya lagi swing banget hari itu (I’m on my period). Alhamdulillah Aisya anaknya bisa menjaga dan mengembalikan mood positif saya. Saat menunggu, saya tawarkan mau balik atau lanjut daaan Aisya ingin tetap berangkat.

Beberapa kali Aisya menghibur saya dengan melongok keluar, “Mami, bentar ya Aisya cek travelnya sudah datang blum,”.

“Aha! Aisya ada ide. Sambil nunggu, kita belanja dulu yuk,” sambil menggandeng tangan saya ke Circle K.

Terakhir ia menanyakan pada mbak-mbak di depan dan mendapatkan informasi kalau sebentar lagi bakal datang travelnya

“Yeaaay, Mami, akhirnya datang juga ya travelnya!” semangat Aisya pun menular ke saya.

Setelah naik, Aisya bobo. Sampai rest area, saya bangunkan untuk menemani saya ke toilet. Sebagai hadiah karena Aisya mengembalikan mood positif, saya perbolehkan Aisya beli cemilan yang ia mau 🙂

Saya juga menikmati perjalanan pulang ke Bandung, di jalan kami bobo, main “Pak Polisi” menyebutkan nama-nama buah dan makanan, ngobrol, makan, dan bermain-main dengan imajinasi kami sendiri.

Setiap kami traveling, Aisya memang jarang sekali rewel. Seringnya energi-nya masih pol aja kemana pun kami pergi. Bahkan saat Mami dan Ayahnya lelah setelah mengunjungi banyak tempat, Aisya masih punya tenaga untuk bermain di dalam hotel. Alhamdulillah.

Sikap Aisya yang positif selama traveling inilah yang bikin saya ikut semangat 🙂

SHOLAT BERJAMAAH & MENGAJI

Ketika Aisya bilang, “Mami, Aisya mau solat. Aisya jadi imam-nya yaa,”.

Dan saat Aisya minta saya membacakan surat-surat pendek untuknya, lalu ia mengikuti. Saya senang sekali. Surat-surat pendek plus surat Al-Fatihah yang saya bacakan adalah surat-surat yang sudah ia hapal. Agar hapalannya terjaga, saya suka membacakan dari Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq hingga terakhir, surat yang sedang ia hapalkan sekarang.

Aisya mau mengulang ayat demi ayat saja saya sudah senang.

Pun ketika Aisya bilang mau jadi imam, saya persilakan. Saat keinginan untuk solat datang dari dirinya sendiri itulah yang bikin saya senang. Saat solat berjamaah magrib misalnya, kadang saya kerasakan bacaan dan ternyata Aisya mengikuti (sudah bisa surat yang saya baca tersebut). Subhanallah, mendengarnya saya haru sekali 🙂 Alhamdulillah Alhamdulillah.

Aisya hanya boleh menjadi imam ketika solat bersama saya (dan makmum perempuan lainnya). Jika ada ayahnya, kami beri pengertian bahwa Ayahnya-lah yang jadi imam. Pelan-pelan.

Momen-momen mendekatkan diri pada Allah ini juga menjadi salah satu kegiatan favorit saya dengan Aisya.

Okay, that’s the 8 things that I enjoy doing with my daughter. Kalau Ibu-ibu suka melakukan kegiatan apa aja nih yang seru sama anak? 🙂 share yuks..