Ada Apa Aja Di Belitong Timur?

Perahu – Aisya – Pantai Serdang

Ini adalah hari terakhir kami di Belitung, kami bersiap sejak subuh, memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal dan membopong Aisya yang masih mengantuk untuk sarapan. “Bobo-nya dilanjutkan di mobil ya de”, ucap Ayah.
Pagi ini kami akan berangkat ke Belitung Timur, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Belitung Timur menggunakan mobil sewa dari tempat kami menginap. Review Central City Hotel ada di MAIN KE BELITUNG #GarudaPoin ya. Selesai menyantap mie dan roti panggang (dua-duanya karbo ya), kami naik ke mobil dan meluncur ke Belitong Timur.

Bang Fedi, driver kami nampaknya sudah biasa menyetir jauh. Lagi-lagi jalanan terlihat sepi, hanya ada satu dua mobil yang melintas di jalan yang kami lalui. Kalau lagi traveling begini, saya sulit memejamkan mata karena tidak mau melewatkan pemandangan yang indah di luar jendela mobil. Di kiri-kanan jalan bisa kita lihat kebun-kebun, rawa, sungai, rumah-rumah lucu, toko-toko, alun-alun dan lain-lain. 

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata – tampak depan

Tujuan pertama kami pagi ini adalah mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata. Saya sudah semangat ingin masuk dan membaca karya-karya yang ada di dalam, hanya perlu membayar Rp. 50.000 rupiah kok dan kita bisa mendapatkan buku saku. Sayangnya saat kami tiba masih tutul, jadi kami hanya berfoto di depan bangunannya saja. Desain museum ini yang saya bilang cukup merepresentasikan rumah-rumah timpo duluk yang berwarna-warni di Belitung. 

Museum yang luas ini dikelola oleh Andrea Hirata sendiri (bukan sama pemerintah) dan di dekat museum bisa kita lihat rumah orang tua Andrea Hirata yang berwarna kuning. Daripada menunggu lama sampai museumnya buka, kami memilih untuk meneruskan wisata ke sekolahnya Lintang.
Baca juga : Island Hopping Di Belitong

SD Muhammadiyah Gantong

Ini adalah replika dari sekolahnya Lintang, Ikal, Arai yang ada di film Laskar Pelangi. Sengaja dipindahkan ke tempat yang lebih mudah dijangkau oleh pengunjung karena lokasi aslinya berada jauuuh di dalam hutan. Disini kami bertemu dengan anak laki-laki bernama Dendi. Dendi sengaja mengayuh sepedanya untuk main kesini. 

Aisya dan Dendi di depan pintu kelas

“Mami, gurunya ada ngga?”, tanya Aisya mengintip dari celah pintu.
“Ngga ada sayang, libur”, jawab saya sekenanya, hehe.

“Boleh masuk ngga ke kelasnya?”, tanya Aisya lagi.

“Boleh kalau udah dibuka sama Pak Tua”, jawab Dendi.

“Dendi sekolahnya kelas berapa?”, kali ini saya yang bertanya.

“Kelas enam”, jawab Dendi.

Setelah ngobrol dan berfoto di beberapa spot, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Serdang.

Pantai Serdang

Kami sampai ke pantai Serdang sekitar pukul 10 pagi. Pantainya sepiiii sekali, hanya ada 3 orang warga lokal yang berendam di pinggir pantai, yaitu seorang Ibu dan dua orang anaknya. Pantainya indaaah sekali, pasirnya putih, sayang di beberapa area ada sampah sisa maraknya turis di malam Senin. Di pinggir pantai ada beberapa perahu dengan warna mencolok yang parkir, mungkin para nelayan yang pulang tadi pagi sengaja menambatkannya disana. Air lautnya bersih, pantulan sinar matahari di air membuat saya terkesima. Subhanallah beautiful.

Kalau dikelola dengan baik, pantai ini pasti akan menarik lebih banyak pengunjung. Di area pantainya ada playground untuk anak, sementara Aisya dan Fayyadh main ditemani Ibu-ibunya, para Bapak memesan air kelapa dan gorengan. 

Taman Cemara ini masih satu lokasi dengan Pantai Serdang

Ada satu makanan yang menurut saya enyaaak, rasanya seperti pempek, isinya telur dan diberi bumbu kacang, mereka menyebutnya Bakso. Whatever the name is, makanan ini enak dan bikin kenyang πŸ™‚

Danau Kaolin

Tempat terakhir yang kami singgahi sebelum ke Bandara adalah Danau Kaolin. Danau ini terbentuk dari limbah pabrik kaolin, kaolin ini bahan yang bisa kita jumpai di beberapa kosmetik. Amazingly, limbah yang dihasilkan terbendung dan jadi daya tarik yang indah, warna danaunya hijau toska. Sayangnya area ini terasa sangat silau dan panas, jadi kalau kesini sebaiknya bawa payung dan kacamata yaa.

Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin

Bandara di Belitung ini tidak terlalu besar, begitu sampai di depan pintu kita bisa langsung masuk, memeriksakan tas dan koper kita di mesin X-Ray kita, lalu check in. Untuk kepulangan ini, saya kembali menunjukkan foto KTP saya, plus fotokopi KTP suami saya, baru setelah itu saya diberi surat keterangan yang bisa saya gunakan sampai Bandara Soekarno Hatta.

“Disini ngga ada Starbucks ya?”, tanya saudara saya. Jawabannya ngga ada, resto fast food juga ngga ada, adanya satu kantin yang menjual berbagai minuman dengan beberapa menu seperti soto daging dan soto ayam. That’s what we order for lunch. 

Okey, for this last post of Main-Ke-Belitung-Trilogy, I just want to keep it this simple. Thank u for visiting my blog. Ayo main ke Belitung! πŸ˜‰

Island Hopping Di Belitong

Crystal clear water at Pulau Pasir

Are you ready to follow our journey? πŸ˜‰ Buat teman-teman yang belum tahu gimana ceritanya Aisya bisa ‘terdampar’ di pulau-pulau di Belitong, please kindly visit Main Ke Belitung #GarudaPoin 

Disitu, saya sharing tentang garuda poin dan diskon 90% dari Maskapai Garuda pluuus drama di Bandara karena saya lupa bawa KTP, sure I’m not proud of this, but perhaps the information that I put there could give a little help to those who needs, cheers!

Ok, lanjut yaa. Hari kedua di Belitong, kami berencana untuk Island Hopping. Island Hopping ini starting point-nya dari Tanjung Kelayang yang jaraknya sekitar 20 Km dari Centra City Hotel. Hm, lumayan jauh juga ya secara dari Dago ke Caheum saja yang jaraknya 10 Km bisa memakan waktu 1 jam kalau naik mobil, eh tapi itu kan Bandung yang ada beberapa layer macet dan lampu merahnya. Karena jalanan di Belitong ini lengang banget, jarak 20 Km bisa ditempuh dengan waktu lebih cepat, kira-kira 50 menit-lah, didukung oleh kondisi jalan yang bagus, no traffic light, dan naik motor. Di tengah jalan, kami sempat isi ulang bensin literan dulu sambil beli snack untuk Aisya dan Fayyadh.

Jalanan kosong, ‘pertamini’ & Aisya

Sampai di Tanjung Kelayang, kami langsung ganti pakaian (saya engga, hanya suami dan saudara). Disana ada toilet yang bersih. Lalu kami menyewa pelampung dan boat dari Kedai Asahan (rumah makan di pinggir pantai). Kami berenam naik satu boat, pengemudinya Bapak-bapak yang sudah ubanan tapi masih jagjag, makasih ya Pak sudah membawa kami jalan-jalan di laut πŸ™‚
Pulau yang kami tuju pertama kali adalah Pulau Lengkuas, perjalanan menuju dan dari Pulau Lengkuas ini sangat berkesan buat saya, kenapa? Baca terus yaa..

Naik Boat Ke Pulau Lengkuas

View from our boat

Waktu kami ajak naik ke boat, Aisya nggak mau. Diminta pakai pelampung juga ogah. Tapi setelah dibisiki oleh Ayah, Aisya lama-lama mau pakai pelampung, selama di boat Aisya diaaam saja, biasanya kan ceriwis, malah sempat nangis.. Setelah sampai di Pulau Lengkuas, Aisya masih kerung, main pasir nggak mau, main ke pantai belum mau. Maunya peluk saya saja sambil minum air kelapa.

“De, Ayah mau naik ke mercusuar, dede disini aja ya”, kata Ayah, bikin Aisya melepas pelukannya dan tertarik ikut Ayahnya. Tapi nggak jadi, karena ada 360-an anak tangga yang harus dinaiki untuk sampai ke atas dan Ayah nggak kuat kalau sambil bawa Aisya. 

Tiba-tiba Aisya bilang, “Mami, aku mau ganti baju”.

“Ganti baju beach?”, saya memastikan.

“Iya”, jawab Aisya.

Saya tersenyum dan mengganti pakaian yang Aisya pakai dengan baju renang lungsuran tante Arum. Yipiiiee Aisya sudah semangat lagi nih. Langsung deh Aisya-nya lari ke pinggir pantai, nyanyi lagu Moana sambil main ombak dan menghampiri Fayyadh yang sudah lebih dulu main pasir.

Main pasir di beningnya pantai Pulau Lengkuas

Sekarang mau bahas sedikit tentang asal muasal nama Pulau ini ya. Awalnya sih saya pikir pulau ini dinamakan Pulau Lengkuas karena bentuknya seperti Lengkuas kalau dilihat dari atas mercusuar, dimana lengkuas adalah bumbu masak yang suka saya pakai kalau bikin opor, kari dan tumis-tumisan. Ternyata analisis sotoy saya itu meleset. Jadi yang betul adalah, di pulau ini ada mercusuar dan rumah panjang berwarna putih, dahulu orang Belanda menyebutnya “Long House”. Karena agak sulit melafalkan “Long House”, orang Belitong bilangnya “Lengkuas”, sejak saat itulah pulau ini famous dengan sebutan Pulau Lengkuas. Pasir di pantai ini lembuuut sekali, di bagian atas ya yang belum tersentuh air pantai, kalau di pinggir pantai nggak terlalu lembut tapi juga nggak nempel ke tangan. Ada batu-batu kecil di pantainya sehingga kita, terutama anak-anak harus hati-hati saat berjalan di pantai supaya nggak kecugak kaki-nya. Saat Aisya main air dan pasir saya iseng-iseng mengumpulkan potongan kerang yang lucu-lucu.

Pasir putih yang lembut di Pulau Lengkuas

Aisya masih asik main di pantai saat Ayah mengajak kami hopping to another island, Bapak nelayan yang membawa kami menyarankan agar kami pergi ke Pulau Pasir, saya setuju saja sama Bapaknya dan di tengah jalan Ayah dan Abi Fayyadh ditawari untuk snorkeling sama Bapaknya. Tentu saja suami saya said yes untuk snorkeling. Aisya memperhatikan Ayahnya yang terlihat lucu memakai peralatan snorkeling sambil ketawa-ketawa, setelah Ayah nyebur, Aisya menaburkan remahan cracker yang kami beli agar ikannya berkumpul mendekati Ayah. Kami nggak lama kok berhenti di tengah lautnya karena ingin segera melihat Pulau Pasir. 

Ada yang mood-nya lebih happy nih πŸ™‚

Mesin perahu kembali menyala, bau bensinnya sedikit tercium, kami mulai berlayar dan terombang-ambing lagi di lautan yang luas, tapi ada yang berbeda. Aisya terlihat lebih senang, nggak takut lagi duduk di boat, bahkan senyum-senyum gembira. Hihi Alhamdulillah Aisya sudah berani yaa, saya senang deh lihat Aisya enjoy selama di boat.

‘Surga’ Di Pulau Pasir

Perahu yang kami naiki berlabuh dengan smooth di Pulau Pasir. Saya memilih untuk loncat dari boat dan tidak turun menggunakan tangga. Pantainya sangat mempesona, its dreamy..

Pulau Pasir, oh Subhanallah indah bangeeet. Berasa di Maldives saya mah ahaha, nggak usah jauh-jauh ke Maladewa disini juga lautnya beniiiing banget. Pulau pasir ini kecil sekali, pulaunya terbentuk dari gundukan pasir putih yaaang kalau diinjak itu lembut syekali. Disini sudah nggak pakai aba-aba, Aisya langsung nyemplung dengan berani dan main air dengan bahagia. Lagi-lagi saya ikut bahagia melihatnya. Ombak di pulau-pulau Belitong cenderung landai jadi relatif aman untuk anak-anak bermain. Suasana disini so peaceful, rasanya ingin berlama-lama disini.. Its so pretty, you have to see it by yourself to feel what I feel. Subhanallah.. Its like a heaven on earth..

My brave girl!

Karena pulau-nya berada di tengah laut dan kecil, otomatis pulau pasir ini bersih banget. Nyaman banget laying down disini. Kita bisa bermanja-manja dengan air lautnya, mengagumi keindahan warna air lautnya yang bak gradasi warna dari krem – bening – hijau toska – biru, melihat pulau lain dari sini dan memandangi langit yang luas. Dan kalau beruntung kita bisa menemukan bintang laut disini..

Crystal clear water at Pulau Pasir

Oh, could we stay here longer?
Ahaha, sayangnya kami harus beranjak menuju pulau selanjutnya, kurang puas sih tapi harus lihat sikon juga ya. Matahari semakin terik, kulit anak-anak sudah terlihat tanned, jadi kami lanjut lagi hopping ke pulau Garuda dan Kepayang tapi nggak turun. Di Pulau Kepayang ini katanya best buat makan ikan, tapi suami memilih untuk kembali ke Tanjung Kelayang, sekalian kami meneruskan traveling hari ini ke Tanjung Tinggi, tempat syuting film Laskar Pelangi.

Tanjung Kelayang

Sementara Ayah dan saudara kami berteduh di rumah makan Asahan, Aisya yang masih ingin berlama-lama di pantai asik sendiri main di Tanjung Kelayang. Pantai ini juga nggak kalah indah meski Pulau Pasir tetap juara. Tanjung Kelayang adalah pantai yang tenang, tidak berombak, kalau pun ada kecil sekali. Banyak perahu yang parkir di pantai ini, para nelayannya dari pagi sampai sore mengantar penumpang ke pulau-pulau dan malam harinya memancing. Mumpung pakaian saya belum kering, saya temani Aisya bermain. Kami berburu harta karun, harta karunnya itu cangkang kerang!

Saya dan Aisya akan mencari sea shell, kalau kelihatan ada cangkang kerang, Aisya akan menggali pasir dan mengambil cangkang kerangnya. “Mami, aku mau clean up sea shell-nya ya”, kata Aisya sambil membawa ‘harta karun’ temuannya ke laut. Semua cangkang kerang yang berhasil dikumpulkan kami masukan ke keresek dan dibawa pulang, lumayan buat oleh-oleh untuk grandpa, uti, aunty, uncle, bibi, seeemuanya! Hehehe.

Look, we find many sea shell πŸ™‚

Tibalah waktunya makan siang, kami memesan 1 porsi ikan Bulat dan tumis kangkung untuk dimakan bersama. Aisya dan Fayyadh makan siang dengan telor ceplok karena ikannya berbumbu pedas. Untuk minumnya, suami saya meminta segelas jeruk hangat dan ketika dihidangkan, lho kok kaya air mineral? Hehe. 

Ternyata jeruk yang mereka gunakan adalah jeruk kunci, jeruk khas Belitong yang air perasannya berwarna bening, tapi rasa jeruknya kuat. Jeruk kunci ini biasa ditanam di rumah masing-masing, jadi semacam home industry juga bagi orang Belitong. Di rumah makan Asahan ini juga kita bisa mandi, ada banyak kamar mandi untuk bilas disana. Beberapa baju yang basah juga kami jemur sambil menunggu sore tiba, lumayan kan jadi nggak terlalu berat di tas.Oia untuk biaya sewa pelampung, snorkeling, dan Island Hopping kami hanya perlu membayar Rp. 600.000 dan untuk makan siangnya all Rp. 191.000, murah yaaa. Ya Allah semoga rizki Bapak-bapak ini makin lancar ya Allah, Amiin.

Ikan Bulat

Ada satu hal lagi yang menarik dari orang-orang Belitong. Mereka sangat ramah, helpful dan cinta damai. Sampai ada yang bilang, “Disini orang simpan motor ada kuncinya di pinggir jalan pun nggak ada yang ambil. Disini aman”. 

Daaan benar saja, saat kami mau berangkat ke Tanjung Tinggi, saudara kami baru sadar kalau kunci motornya ngegantung sedari tadi di motornya dan nggak ada yang bawa kabur itu motor sewaan. Tapi sayangnya, mesinnya nggak bisa nyala saat di-starter. Beberapa orang datang membantu menyalakan motor, mendorong dan memeriksa motornya, mereka bilang, kemungkinan ACCU-nya habis. Alhamdulillah orang Belitong ramah-ramah, pihak hotel pun segera mengirim motor baru setelah suami saya menelepon, hebatnya lagi, mereka tidak membuat kami menunggu lama, hanya 30 menit! Padahal jaraknya 20 Km, mungkin mereka ngebut yaa.. Service excellent deh. 

Tanjung Tinggi – Pantai Laskar Pelangi

“Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

Laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa”

Lantunan lagu Laskar Pelangi diatas reflek berputar di kepala saya saat tiba di pantai ini. Tanjung Tinggi dikenal juga dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi, jelas karena lorong yang terbentuk oleh banyaknya batu granit raksasa di pantai ini menjadi tempat Ikal, Arai dan teman-teman lain berlarian di film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata – orang asli Belitong -, pasca rilis, film dan novelnya membuat lebih banyak orang berkunjung ke Belitong, and this actually good. Bang Fedi yang mengantar kami jalan-jalan ke Belitong Timur di hari ketiga mengatakan bahwa, sekarang banyak orang Belitong yang tidak bekerja di tambang timah lagi, beberapa tambang sudah tutup sehingga mata pencaharian penduduk disini sekarang adalah berkebun dan menjadi nelayan, seperti yang saya sebutkan di atas, pagi-sore mereka mengantar tamu ke pulau dan malamnya mencari ikan. Masyarakat Belitong berharap dengan berkembangnya pariwisata di Belitong, perekonomian mereka akan membaik, itulah mengapa saat ini beberapa hotel mulai dibangun, begitu juga dengan pengadaan taxi. Masih banyak yang harus diperbaiki agar Belitong makin cantik dan memikat lebih banyak turis.

“Ibarat anak sekolah, Bali itu udah kuliah. Kalau Belitong masih anak SD”, lagi kata Bang Fedi. Bang Fedi ini lulusan sekolah pariwisata dan bekerja di pemerintahan, kalau libur beliau ambil job sampingan yaitu menyewakan mobil sekaligus jadi driver dan tour guide-nya.
Balik lagi ke Tanjung Tinggi, di pantainya itu banyak anak-anak dan remaja yang berenang, baik dengan ban biasa, pelampung, ban angsa yang lagi hits di foto-foto selebgram, ada juga yang pakai boat karet sambil mendayung. Kami menahan diri untuk bergabung dengan pengunjung lainnya di pantai karena Ayah mengajak kami mengitari batu-batu granitnya terlebih dahulu. Kami masuk ke lorong yang terbentuk dari dua batuan yang saling berhadapan, manjat ke batu granit yang agak besar (saya harus ekstra hati-hati karena licin), turun lagi ke bawah dan menyusuri jalan di antara batu granit. Jujur saya kagum sama Aisya yang berani naik-naik ke batu granit dan ber-pose disana hihi peace.

Ayah melompat, terlihat Aisya dan Fayyadh sedang main pasir dari kejauhan.

Beberapa lorong terlalu sempit untuk kami lewati dan enaknya manjat-manjatnya lepas alas kaki supaya lebih kuat berpijak. Puas berkeliling, kami cari tempat yang cukup private, tinggi airnya cukup aman buat Aisya main air dan cukup dekat untuk Aisya dan Fayyadh main pasir. Kalau dilihat-lihat area ini mirip teluk mini yaa πŸ™‚ Beberapa remaja pria berlarian dan loncat dari atas batu granit langsung ke air, lalu mereka main perang-perangan dengan saling melempar segenggam pasir. Spirit of the youth yaa..

Happy Jasmine chillin’ with Ayah

Di area Tanjung Tinggi ini juga dilengkapi dengan tempat bilas dan Masjid, jadi buat yang mau mandi dan solat terfasilitask dengan baik yaa. Sebagai penutup perjalanan kami hari ini, malam harinya kami mencicipi Mie Atep Belitung yang terkenal. Kabarnya, kalau artis-artis main ke Belitong pun makannya disini. 

Mie Atep Belitung

Pic taken from Trip Advisor

Tempatnya sederhana di rumah yang berbentuk ruko, pas kami datang tempatnya penuh jadi kami antri dulu. Nggak lama, banyak orang yang ikut mengantri di belakang kami, wiiih kayaknya everyone favorite nih Mie Atep Belitung. Saya yang memang lapar bersyukur banget ketika dua orang Bapak mempersilakan kami duduk di tempatnya karena mereka sudah selesai makan. Kami memesan 2 piring Mie dan 2 gelas teh hangat (Aisya sepiring dengan saya). Mie Atep ini khas banget karena koki-nya hanya satu dan sudah nenek-nenek, sudah lama juga nenek tersebut jadi chef disini. Ada 4 orang lain yang membantu, semuanya wanita, yang satu kasir, dan yang 3 lagi bantu-bantu menambahkan cakue, emping, mengambilkan minum, memasangkan sendok dan garpu serta mengantarkan Mie ke meja-meja pengunjung. But nobody touch the noodle and the kuah but the grandma..

Rasanya gimana? Hmm kuahnya itu manis, agak sedikit mirip rasa kwetiau Langkawi tapi thank God, kuah Mie Atep ngga se-lekoh kwetiau Langkawi. Nah rasa manisnya itu seperti rasa manis yang jadi ‘selai’ di lumpia basah. Mungkin bahannya sama hanya yang ini ditambah kuah jadi lebih encer. Isian di dalamnya ada mie, cakue, emping, udang dan kentang. Enak disantap hangat-hangat. Makin malam, antrian makin panjang, kami segera membayar dan pulang ke hotel karena besoknya kami harus berangkat ke Belitong Timur pagi sekali. Artinya, malam ini harus beres packing supaya subuh-subuh nggak hectic hehe.

Thanks for reading our traveling story. To be continued to Ada Apa Aja Di Belitong Timur? Yaa πŸ™‚

MAIN KE BELITUNG #GarudaPoin

Oh! Her Smile πŸ˜‰ #PulauLengkuas

Suami saya memiliki kartu anggota GarudaMiles Silver yang artinya beliau telah melakukan 10 kali penerbangan / akumulasi perjalanannya mencapai 10.000 tier miles dengan maskapai Garuda. Dari web GarudaMiles.com saya mengetahui beberapa keuntungan dari keanggotaan GarudaMiles Sliver, antara lain : 
1. Mendapatkan miles

2. Menghadiahkan award tiket

3. Menukarkan miles dengan Upgrade Award

4. Checkin counter khusus di Bandara Soekarno-Hatta

5. Mendapatkan 5 kg tambahan kuota bagasi

6. Persentase Tier Miles

7. Prioritas dalam daftar tunggu reservasi tiket

Nah, tanggal 23 Desember 2016 lalu, suami saya mendapatkan info Confirmed! 90% OFF Garuda Miles Redemptions dan beliau langsung meminta saudara kami yang rumahnya dekat dari Mall Kota Kasablanka untuk meng-issued tiket kami ber-enam ke Belitung long weekend ini, 22-24 April 2017. Berikut kutipan dari web-nya :

Garuda Indonesia is launching a promotion on award ticket redemptions. Through the end of the year, you can get 90% off when you use Garuda Indonesia miles for redemptions for flights between February 1 and May 31, 2017. This is absolutely incredible.

Diskon yang ditawarkan sangat menggiurkan lho,yaitu 90% off! Jadi untuk berangkat dari Jakarta menuju Belitung yang jarak penerbangannya terhitung 4000 miles itu, kami hanya perlu membayar 400 miles. Kalau diuangkan biayanya sekitar Rp. 300.000/orang PP. Lumayan banget yaaa mengingat Belitung adalah salah satu heaven on earth-nya Indonesia yang kaya akan eksotisme pantai. 

Alhamdulillaaah, rezeki Aisya jalan-jalan lagi, jalan-jalan hemat maksudnya, yes we are low budget family traveler! Kalau bisa menekan pengeluaran dengan mendapatkan tiket promo/menukarkan poin saat maskapai Garuda memberi diskon 90% seperti ini kenapa engga? Kami juga lebih memilih menginap di Hotel bintang 2 atau bintang 3 yang fasilitasnya cukup bagus dengan harga yang pas di kantong, rata-rata hotel bintang 3 dilengkapi dengan kolam renang, kamar yang nyaman dan breakfast yang beragam. Hotel bintang 2, rate per night-nya lebih murah meski tidak ada pool dan sarapannya sederhana, kalau begini artinya kami memang sengaja tidak mengutamakan makan pagi di hotel dan siap untuk wisata kuliner di tempat yang kami kunjungi! Lupakan pool sejenak, di Belitung banyak pantai, jadi main air-nya di Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, dan pantai lainnya saja. Menghemat uang dengan mencari tiket promo dan memilih hotel yang terjangkau seperti ini, membuat budget yang ada bisa dialokasikan untuk menyewa alat transportasi, menjajal kuliner khas di tempat wisata dan membeli oleh-oleh yang (agak) banyak untuk keluarga.

A Little ‘DRAMA’ In Soekarno-Hatta

Playground di Bandara

Liburan kali ini ada ada beberapa kejadian yang in the end terasa lucu. Pertama, malam hari sebelum berangkat saya mendapatkan informasi bahwa naskah yang saya kirimkan untuk proyek buku 99 Me Time Stories grup ODOP For 99 Days terpilih dari sekian banyak yang mengirimkan naskah, saya sudah deg-deg-an dan berharap kalau memang tahun ini bisa menerbitkan beberapa buku ((AMIIN)), tidak masalah baik buku Antologi/Solo, goal saya adalah berkarya dan ingin agar tulisan-tulisan saya menjadi Amal Jariyah bagi saya kelak, sama seperti apa yang Mbak Inggi utarakan dalam Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi. Alhamdulillah saya senang bukan kepalang, langsung sujud syukur, akhirnyaaa satu keinginan terwujud, saya berdoa semoga tahun ini Allah SWT memberi saya banyaaak kebahagiaan, Amiiin.

Kedua, malam Sabtu itu juga, teman kami Dea dan Mustafa datang berkunjung. Mereka mau berburu buku di Bih Bad Wolf sekalian memenuhi undangan pernikahan kerabat mereka di Bekasi. Saya juga senaaang karena bisa silaturahim dan cerita-cerita sama pasangan Indonesia-Turki ini, buat yang pengen tahu lebih banyak tentang interaccial marriage yang mereka jalani, Dea sudah pernah berbagi dengan saya di Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki). Kebetulan they both kangen sama Turkish Delight dan pas banget di rumah masih ada teh Doguz oleh-oleh dari teman kami yang baru pulang studi dari Turki dan Lokum-manisan khas Turki yang juga oleh-oleh dari saudara kami sepulang Umroh. Semoga green tea Turki dan manisan yang kami suguhkan bisa mengobati rasa kangen kalian sama Turki yaa πŸ™‚

Dea, Emus, Ayah dan Aisya

Ketiga, ini paling lucu. Saya pikir Trip ‘SERU’ Ke Langkawi adalah satu-satunya perjalanan kami yang penuh drama, saya nggak menyangka kalau kali ini juga ada derai-derai keringat hehe. I already pack all the things, sejujurnya 2 hari sebelum berangkat kepala saya migrain, jadi sedikit kurang fokus menyiapkan semua hal. Suami saya juga mendadak sakit pulang dari Diklat, saya sempat bilang, “Yaudah ngga usah berangkat aja gimana?”, secara gitu ya kami berdua lagi kurang fit. Tapi semangat suami untuk jalan-jalan tidak padam, minum campuran air perasan jeruk nipis dan madu serta tidur yang cukup. Saya cek semua, baju, sendal jepit untuk di pantai, alat main pasir Aisya, bekal susu dan camilan Aisya, semua sudah dibawa.
Saya santai saja di Bandara, ketika sampai ke counter check in, “Bu, KTP-nya?”

“KTP-nya, bu?”, tagih petugas-nya lagi.

“KTP saya ketinggalan”, saya langsung sadar kalau KTP saya bersatu dengan Paspor dan tidak saya bawa karena minggu depannya akan berangkat lagi ke Bangkok, supaya praktis dan ngga tercecer maksudnya, eh jadi malah blass lupa!

“Identitas yang lain ada? Apa pun deh, Bu”, ucap petugasnya.

“Nggak ada”, saya jarang bawa dompet kalau traveling karena tas rilakkuma kecil yang saya bawa selalu penuh dengan perbekalan Aisya. 

Ketinggalan KTP Di Bandara, What To Do?

TETAP TENANG, ‘Kalau tenang pasti ada jalan’, batin saya. Saya mencoba take it easy dan at that moment saya benar-benar legowo, tawakal kalau memang ngga bisa banget check in tanpa ID saya nggak jadi berangkat juga ngga apa-apa. 

Dari sekian banyak penerbangan yang saya lakukan (buset dah! Emang udah berapa kali mak?), baru kali ini saya ketinggalan yang namanya kartu identitas. Tepatnya sih karena sudah lama ngga melakukan penerbangan domestik (masa sih? Kan tahun lalu Ke Bali Berdua Sama Aisya), pasti karena migrain (yakali). Ya intinya mah LUPA, yaudah mau digimanain lagi kan? Namanya juga manusia, ada khilafnya, please jangan di bully ya. Air mata sih setetes dua tetes ngeclak, tapi inner voice dari Bapak saya tiba-tiba berdesir di telinga..

“Mbak, hal yang kamu tangisi hari ini, akan kamu tertawakan di kemudian hari” – Bapak.

Saya usap bulir air mata yang sempat menetes, berusaha tetap tenang dan yakin in the future saya pasti menertawakan ke-konyol-an saya hari ini DAN ini menjadi PELAJARAN BERHARGA buat saya, next time I’ll always bring my ID.

Kemudian saya mendengar petugasnya bilang, “Ada orang ngga di rumah, Bu? Minta kirim foto KTP Ibu aja kirim via bbm trus Ibu ke bagian Help Desk For Special Needs minta surat keterangan ya Bu”.

That was the first sign of a result of being calm, ‘Tuh kan kalau tenang bakal terbuka jalannya’, saya bergumam sendiri lalu segera menghubungi adik ipar. Alhamdulillah Sarah sudah pulang dari Tahsin dan ada di rumah, saya langsung minta beliau untuk memfoto dan mengirimkan foto KTP saya. Tak lama foto KTP saya delivered Alhamdulillaaah wasyukurillah, tante-nya Aisya jadi malaikat penyelamat saya hari ini – this is the second prove that a clear mind will lead us to the solution. Di kounter Special Needs saya hanya diminta menunjukkan foto KTP dari HP saya dan tanda tangan sebanyak 3x. Setelah itu saya diberikan surat keterangan yang bisa saya tunjukkan pada petugas saat boarding. “Kun faya kun”, Allah Maha Menghendaki, kalau di Lauh Mahfuz sudah tertulis bahwa takdir akan membawa saya menemani suami dan Aisya ke Belitong, maka jadilah. Subhanallah.

Di Punthuk Setumbu, Rangga bilang sama Cinta kalau traveling itu penuh kejutan. Kejutan ini yang bikin traveling lebih dari sekedar wisata. 

One problem solved, saya masih agak deg-deg-an sih. Bismillah, mari kita lihat ada kejutan apa lagi di traveling keluarga kali ini.. 

Modo, Hara dan Poli dari Garuda

Halooo, ini Hara!

To cool down the ‘atmosphere’, now I want to talk about happy things that we experienced during our flight with Garuda Indonesia. Di penerbangan kali ini banyaaaak banget hal yang bikin happy terutama karena Garuda Airlines memberi banyak fasilitas buat penumpangnya, terutama buat anak piyik kaya Aisya. Karena masih batita, Aisya diberikan selimut selama perjalanan (ini sih pas pulang) dan selama 3 kali penerbangan, Aisya dapat 3 boneka. Kok tiga kali? Iya penerbangan pertama dari Jakarta-Belitung, Aisya dapat boneka Modo, lalu pulangnya kami naik pesawat kecil dulu dari Belitung-Palembang (transit sebentar di Bangka), Aisya dikasih Hara dan lanjut naik pesawat dari Palembang-Jakarta, Aisya diberi Poli.

“Mami look its a tiger, rawwrr. Mami look it has a tail!”, Aisya girang banget waktu main sama Hara – sang Panthera Tigris Sumatrae. Begitu dikasih Poli, Aisya juga langsung mengepakkan kedua sayap boneka Elang tersebut ke udara. Daaan, ini pertama kalinya Aisya kenalan sama yang namanya Komodo, hmm saya memang belum pernah menunjukkan hewan jenis ini pada Aisya. Modo ini unik lhoo karena warnanya putih! Jadilah selama penerbangan kami nggak bobo, karena asik bikin mini puppet show di pesawat. Hihi lucu dan seru.

Selamat Datang Di Kabupaten Belitung


Saya pernah menonton film Laskar Pelangi yang fenomenal itu, tapi sudah cukup lama. Penulisnya, Andrea Hirata membuat turis lebih banyak datang ke Belitong setelah film-nya rilis. Belitong, is really beautiful and peaceful. Its like a hidden treasure to me. 

Jalanan di Belitung sangat bagus, lengang tidak banyak motor, mobil, dan yang lalu lalang. Udara di Belitong juga sangat sangat sangat FRESH! Rumah penduduknya rata-rata masih bergaya tempo dulu, dengan pintu kayu dan jendela garis-garis, beberapa rumah memiliki sumur di luar yang digunakan untuk menimba air dan mencuci piring. Uniknya, rumahnya berwarna-warni dengan taman dan pagar sederhana, bikin adem mata. Ada keinginan untuk memotret rumah-rumah disana tapi khawatir kurang ahsan, Alhamdulillah museum kata Andrea Hirata desainnya mirip colorful housing yang ada di Belitong, jadi cukup merepresentasikan rumah-rumah disana. Nanti saya tunjukkan fotonya yaa.

Fasilitas Di Central City Hotel

Disini Hotel-hotel pun baru mulai dibangun. Mall dan bioskop juga nggak ada, adanya toko yang lumayan besar, itu juga hanya 2 tingkat. Speaking about Hotel, kami menginap di Central City Hotel. Memang sih letaknya tidak terlalu dekat dengan pantai, but we’re lucky karena airnya bersih. Ada hotel yang lokasinya di dekat pantai dan air-nya berwarna kuning. Kamarnya nyaman dan cukup luas, dilengkapi AC dan water heater, koneksi wifii juga lumayan bagus tapi not all the timebreakfast-nya cukup beragam, ada nasi, mie, sayur, daging ayam, bubur, roti, kopi, teh dan susu. Biaya menginap disini Rp. 200.000/malam, affordable right? Karena di Belitong ini belum ada layanan grab/uber/gojek, taxi pun adanya baru-baru ini, kami memilih untuk sewa motor dengan charge Rp. 70.000/hari. Disini juga jarang ada SPBU jadi untuk mengisi bahan bakar motor yang disewa dari Hotel, kami beli bensin literan di warung-warung. 

Kalau teman-teman mau menginap disini, lokasinya ada di Jalan Veteran No.7, Parit, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung ya.

Pantai Tanjung Pendem

Pesawat yang kami naiki landing di tanah yang basah habis terguyur hujan, katanya memang 2 hari ini hujan lebat terus. Berhubung sudah sore, setelah menyimpan barang di Hotel, kami main dulu ke pantai yang dekat. Namanya pantai Tanjung Pendem. Sebelum masuk, kita harus membayar retribusi sebesar Rp. 2000/orang. Di dekat pantainya ada area bermain untuk anak. Pantai Tanjung Pendem ini didominasi oleh pasir, area lautnya lumayan jauh dari tempat parkir. Lautnya tenaaaaang sekali, disini Aisya dan Fayyadh (anaknya saudara) main pasir saja di pinggir pantai karena banyak anak-anak kepiting yang keluar dari lubang di dekat area lautnya. 

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Aisya dan Fayyadh di Ruma Makan

Malamnya kami menjajal kuliner khas Belitung di Ruma Makan Belitong Timpo Duluk di Jalan Lettu Mad Daud, Kampung Parit, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.

Desainnya lagi-lagi jadul, di dindingnya ada banyak foto, nampan dan pajangan lainnya. Mereka juga memajang TV klasik di sudut ruangan.
Makanannya? Hmm sedaaap. Saya memesan Nasi Gemok seharga Rp. 20.000, nasinya gurih seperti nasi uduk, disajikan dengan ikan bilis (ukurannya lebih besar dari ikan bilis yang ada di RM Minang) dan kuah santan bercampur Belimbing. Selain menu satuan, rumah makan yang lokasinya berhadapan dengan Masjid Jamek Hidayatullah ini juga menyediakan paket menu untuk beberapa orang, yaitu 1 bakul nasi dengan beragam lauk. Oia satu lagi yang saya suka, mereka menggunakan piring seng lho untuk tempat makannya. Kalau main ke Belitung, I recommend you to eat here.

Setelah makan kami strolling around sebentar sambil cari baju renang buat Fayyadh karena besok kami akan Island Hopping ke beberapa pulau. Ke pulau mana saja dan berapa budget-nya? Aisya senang ngga naik boat? Pulau mana yang paling bening? Click this post yaa Island Hopping Di Belitong

Cantik itu Bahagia #OramiJoinandWin

“Definisi cantik menurut Moms?”, begitu bunyi pertanyaan yang ada di poster lomba blog Ceritakan Definisi Cantik Versi Kamu #OramiJoinandWin yang diadakan oleh Orami.co.id ini. Sebelum saya ungkapkan apa itu cantik versi saya, kita buka kamus KBBI dulu yuk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian cantik adalah..

Cantik/can-tik/ 1) elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2) indah dalam bentuk dan buatannya;

— molek 1) sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2) cantik (bagus) sekali antara (bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi);

Kalau kita perhatikan definisi cantik menurut KBBI, cantik itu bisa dalam rupa, wajah, bentuk dan per-buatannya, jadi cantik itu sebetulnya tidak terbatas di fisik saja ya. Saya sepakat! percuma dong kalau wajahnya ayu tenan tapi hatinya tidak bahagia, karena kecantikan hakiki berasal dari hati. Wanita yang paras-nya sedang-sedang saja, sedap dipandang dan hatinya bahagia, wah pasti kecantikannya bakal terpancar dengan maksimal. Ya, menurut saya seorang wanita bakal terlihat paling cantik saat ia bahagia, oleh karena itu, definisi cantik menurut saya adalah bahagia.

Cantik Itu Bahagia

Kebahagiaan yang terpancar akan membuat kita terlihat lebih cantik, aura kita lebih positif dan tentunya akan menarik perhatian dari sekeliling kita. Nah, ada banyak cara untuk bahagia, dari mulai yang butuh banyak uang sampai tidak perlu mengeluarkan sepeser pun. Kita bisa banget merasa bahagia dengan hal-hal sederhana yang kita lakukan lho!

Ini dia 5 cara bahagia agar makin cantik versi saya : 

1. Banyak-banyak Bersyukur

Count our blessings instead of our worries – that’s the first thing that we have to do. Kalau satu hari saja kita memusatkan pikiran dan perhatian kita pada nikmat-nikmat yang sudah Allah SWT berikan pada kita, seperti tubuh yang sehat, bisa tidur nyenyak, rezeki yang nge-pas dimana pas kita butuh pas ada, tetangga yang baik, makanan bergizi yang tersaji di meja, rumah mungil yang nyaman, pekerjaan yang membawa kita keliling Indonesia, anak-anak yang ceria, udara yang minim polusi di pagi hari, sampai ke matahari yang masih terbit dari Timur, wah kalau disebutkan satu-satu ternyata banyak banget nikmat yang Allah SWT kasih untuk kita ya. 

Tidakkah nikmat-nikmat yang luar biasa ini patut kita syukuri? Dan bukankah dengan banyak-banyak bersyukur Allah SWT akan memberi kita lebih banyak kebahagiaan?

“Dan sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan aku tambahkan nikmat-Ku kepada kamu..”

[QS. Ibrahim :7]

Lihat teman-teman seperjuangkan sudah punya 3 anak sementara kita baru punya 1 anak, syukuri. Alhamdulillah Allah SWT mempercayai kita dengan 1 amanah, lihat anak yang lincah, jarang sakit, dan cerdas pasti bikin kita bahagia. Bersyukur karena Allah SWT justru memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk belajar menjadi Ibu yang baik dan mencurahkan kasih sayang yang cukup untuk anak kita sebelum ia siap berbagi dengan adiknya nanti. 

Punya banyak anak? lebih bersyukur lagi, ingat ada beberapa orang yang mungkin sangat merindukan kehadiran anak di keluarga mereka. Banyak anak banyak rezeki, kaaan. Rumah selalu ramai dengan celotehan anak-anak, nggak bakal sepi deh! 

Kalau belum punya anak? sabar dan tetap bersyukur bisa quality time sama suami dengan bebas, kalau sudah ada anak, apalagi banyak, bakal susah cari waktu untuk nge-date berdua. Belum lagi kalau mau berangkat kemana-mana nggak bisa langsung cuuus, harus memandikan anak dulu, menyiapkan bekal makanan dan pakaian, bawa-bawa gendongan/stroller everywhere we go. Aktivitas kita nggak sepraktis dulu lagi.

Nikmati setiap momen yang kita jalani, berterimakasih-lah pada Allah SWT atas apa yang kita miliki saat ini agar kita selalu bahagia. Karena hati yang bahagia adalah kunci dari kecantikan sejati.

2. Berhenti Membandingkan Diri Sendiri Dengan Orang Lain

Kalau dengan membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang menurut kita lebih bahagia, lebih keren, lebih prestatif dari kita lalu kita termotivasi, itu bagus. Tapi kalau malah bikin kita makin terpuruk dan kufur nikmat? Wah lebih baik fokus sama diri sendiri dulu. Lagipula, kata ‘membandingkan’ juga kurang tepat menurut saya. Kalaupun mau membandingkan, variabel-nya harus sama persis sedangkan manusia yang kembar indentik saja selalu memiliki perbedaan. Artinya, nggak bijak banget deh membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Setiap orang unik dengan misi penciptaannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu diberi bekal perjalanan yang beda, yaitu : bakat dan kekuatan yang beda. Dan tentu saja, diberi lika-liku hidup yang beda, karena setiap orang dibentuk oleh Allah dengan cara yang beda. Different life for every single person.

– Elma Fitria

Seperti kata Teh Elma, setiap orang itu spesial, dan mengemban amanah penciptaan dari Allah SWT masing-masing. Sah-sah saja mengagumi orang lain, tapi bukan berarti kita bisa membandingkan diri sendiri dengan orang lain mentah-mentah, harus dilihat dulu faktor mana yang membuat kita nggak sama. Saya pribadi lebih memilih untuk set my own goal, mau jadi apa, pencapaian apa yang ingin saya raih tahun ini, dibuat parameternya dan menghargai setiap baby step yang saya lakukan, belajar sabar dari proses yang saya jalani, Alhamdulillah lebih fokus pada visi-misi diri sendiri membuat saya lebih bahagia.

Mulai sekarang, berhentilah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, start too feel beautiful about ourselves and be happy!

3. Berbagi Kebahagiaan 

Giving is amazing. Salah satu cara untuk bahagia adalah dengan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita. Contohnya, berbagi cerita bahagia dengan keluarga, berbagi oleh-oleh traveling dengan teman kita, berbagi masakan yang kita buat dengan tetangga kita dan banyak lagi, termasuk berbagi sebagian rizki kita pada orang yang kurang mampu.

 
Sesekali luangkanlah waktu untuk mengasah kepekaan hati kita dengan pergi ke pelosok daerah. Lihatlah anak-anak di kampung yang masih kecil sudah membantu orang tuanya ngarit, pulang sekolah langsung ganti seragam dan ngangon kambing, anak-anak SD yang berjejer di jalan sambil ngais adiknya pake samping sementara Ibunya sibuk berjualan, meski begitu, anak-anak ini selalu tersenyum gembira saat kita sapa. Mereka saja bisa tetap bahagia dengan segudang aktivitas mereka, masa kita nggak? Berbagilah dengan anak-anak ini, bisa dengan mengajari mereka keahlian yang kita punya, sekadar memberikan permen atau membalas senyum polos saat bertemu mereka.

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas Lagi Maha Mengetahui.

[QS. Al-Baqarah : 261]

Sesekali, kunjungilah panti jompo, bacakan buku, ajak bercanda, dan dengarkan cerita dari orang-orang tua yang lama tidak ditengok anak-cucu-nya ini. Mereka rindu merasa dibutuhkan dan disayangi, dan sedikit waktu yang kita luangkan untuk bercengkrama dengan kakek nenek ini sudah membuat mereka sangat bahagia.

Mainlah ke panti asuhan, lihatlah bayi-bayi lucu yang ditinggalkan oleh orang tuanya disana, ada yang disimpan di depan pintu, ada juga yang sengaja dititipkan dulu dan nanti ketika kondisi Ibu memungkinkan, akan diambil lagi. Bawalah sekardus susu, pakaian bayi atau uang untuk menyantuni mereka. Berbagi bersama mereka akan membuat hidup kita terasa lebih berarti.

Dengan berbagi kebahagiaan kita akan mendapatkan multiple happiness. Kebayang kan? Kebahagian yang berlipat-lipat ini bakal bikin kecantikan kita makin bersinar dan menularkannya ke sekitar kita. Jadi cantik berjamaah dong πŸ˜‰

4. Hindari Pundung-pundungan

Laa taghdob walakal jannah” – Jangan marah, maka bagimu surga [HR. Thabrani].

Siapa mau surgaaa? Wah semua ngacung yaa πŸ™‚ Rasulullah menganjurkan kita untuk menahan amarah/ngambek/pundung-pundungan, karenaaa kalau kita berhasil menahan emosi insya Allah akan mendapatkan tempat di surga. Susah sih buat nggak mudah pundung ketika ada hal yang mengusik kebahagiaan kita, tapi bukan berarti kita nggak bisa mencoba menahan diri ketika akan marah kan? 

Lagipula coba kita pikir baik-baik, saat kita marah pasti muncul kerutan-kerutan di wajah kita, mulut kita manyun-manyun berbusa, wah ini bisa bikin kita less beautiful lho! Makannya penting banget yang namanya mengelola emosi. Hindari hal-hal yang memicu amarah kita, lakukan meditasi sederhana seperti menyendiri beberapa saat, melipir ke taman lihat yang hijau-hijau bikin penat hilang, atau di rumah bisa dengan berwudhu – sholat – curhat sama Allah SWT minta agar feeling kita positif lagi, dengarkan musik yang menenangkan pikiran pas jam istirahat di kantor, tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan pelan-pelan saat lagi pundung dan latihan untuk selalu tersenyum supaya emosinya jadi cantik kembali.

5. Smile More!

Pakai lipstik berkualitas yang dibeli di orami.co.id tapi ogah senyum? Waaah perona bibirnya nggak akan bikin kita makin cantik dong, yang ada malah orang lain bakal males dekat-dekat sama kita. Bakal kalah deh sama perempuan yang pakai lip balm tipis-tipis tapi senyumnya selalu merekah, pasti wanita ini terlihat cantiiik sekali.

There is a saying, “A smile is the best makeup a girl could wear” by Marilyn Monroe. So, put on your best make up and smile dear beautiful woman πŸ˜‰ 

Kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri seorang wanita akan membuat wanita terlihat makin cantik. Tapi bukan berarti kecantikan fisik itu nggak perlu diperhatikan. 

Pernah dengan hadist riwayat Muslim yang ini, kan? “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan”. Artinya kita juga wajib menjaga kecantikan fisik kita. Nggak perlu dengan kosmetik mahal-mahal kok, cukup dengan mandi teratur dan rajin menggosok gigi, memakai lotion dan bedak sebelum keluar rumah agar kulit kita terjaga dari teriknya sinar matahari, menyemprotkan deodoran spray agar ketiak kita tidak bau dan bikin orang lain nyaman berada di dekat kita, mengenakan pelembab bibir agar tidak kering selama beraktivitas, dan mengenakan pakaian yang bagus agar indah dilihat. Kalau sabun, shampoo, odol, dan kosmetik kita habis, belanja online dulu aja di Produk Kecantikan dan Kesehatan Orami, shopping juga salah satu cara ibu-ibu untuk merasa happy πŸ™‚

Okey, inilah cantik versi saya, yaitu kecantikan yang berasal dari hati yang bahagia. Yuk praktekan 5 tips cara bahagia yang saya tulis ini, dijamin saat bercermin kita bakal terlihat lebih cantik πŸ˜‰

Cantik itu bahagia.

Be happy, be beautiful!

Terimakasih sudah mampir πŸ™‚ Oia, tulisan ini juga saya ikutsertakan dalam lomba blog #OramiJoinandWin 

Lomba Blog #OramiJoinAndWin

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria πŸ™‚

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru πŸ™‚

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu πŸ™‚

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh πŸ™‚ long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? πŸ™‚

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima πŸ˜€

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 πŸ˜ƒ Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

Icip-icip Teh Jepang-Turki-KL-Bangkok

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim”

[HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud]

Silaturahim membawa rezeki? Iya banget. Alhamdulillah hubungan baik yang saya dan suami jaga dengan teman-teman memberi kami banyak rezeki, termasuk oleh-oleh dari beberapa negara yang ditinggali/dikunjungi oleh teman-teman kami. Karena di rumah ada oleh-oleh teh dari Turki, Japanese Matcha & Milk, Thailand tea dan teh tarik yang kami beli saat berlibur ke Malaysia, jadi saya mau memberi review dari bermacam teh ini yaa. Mangga disimak πŸ™‚

1. Japanese Matcha & Milk

Alhamdulillah pertengahan Februari 2017 saya bisa reunian lagi sama Nunu, yang belum tau siapa Nunu boleh kenalan dulu ya sama ilmuan fisika nuklir yang lagi lanjut postdoc di Jepang ini ya Meet Nunu : A Nuclear Physics Enthusiast – A Mother & Wife

Kami sempat ngobrol-ngobrol di D’Kiosk Baltos sehari sebelum Nunu balik lagi ke Tsukuba, beliau hanya 2 minggu saja di Bandung untuk mengurusi pernikahan adiknya. Syifa – putri Nunu sudah bersekolah, jadi mereka ngga bisa berlama-lama disini. Ah, padahal masih kangen πŸ™‚ Saya benar-benar tidak menyangka lho kalau Nunu membawakan oleh-oleh buat saya mengingat kesibukan dan padatnya jadwal beliau di Bandung, anyway jazaakillah yaa Nunuu.

Nah salah satu oleh-oleh yang excitedly saya bawa pulang adalah serbuk minuman Matcha & Milk. Iyap, saya ketularan suka matcha juga gara-gara suami saya addicted to matcha. Sahabat saya ini sudah mewanti-wanti saya dengan bilang, “Matcha di Jepang lebih pahit Ai, kalau matcha disini kan manis ya. Coba seduh dengan air panas dan airnya sedikit aja”.

Saya mengambil secangkir gelas dan menuruti wejangan Nunu, saya sobek bagian atas sachet Matcha & Milk, menuangkannya ke cangkir kecil dan menyeduhnya dengan air panas. Setelah diaduk, saya seruput sedikit-sedikit, rasanya? Sedikit bitter, as she warned me πŸ˜‰ Hm, nampaknya selera saya agak berbeda dari Nunu yang prefer meminum Matcha & Milk hangat-hangat. Maklum karena indera perisa saya Indonesia banget, jadilah saya tambahkan ice cube dan susu kental manis hingga rasanya pas di lidah, ahaha. Meminjam bahasa gaul remaja Indonesia saat ini, buat saya Matcha & Milk yang dingin lebih mantap-s(e)oul! Apalagi nyeruput sambil menggigit piscok dan matcha chocolate, yumm berasa lagi piknik di festival hanami nih..

2. Doguz Yesil Cay Sade – Turkey Green Tea

Hmm, another green tea flavour from Turkey! “Pertama kalinya diajak nge-cay, Ira bingung. Lho kok ngacai? Haha.. Ternyata di Turki nge-cay itu nge-teh”, curhat Elvira, adik angkatan saya di Matematika yang baru pulang dari Turki. Ira mengambil studi selama 2 bulan dalam rangka konsultasi dengan profesor di MANA?? berkaitan dengan desertasinya. Alhamdulillah karena suami Ira tinggal di Bintaro kami sempat bertemu, tepatnya Ira silaturahim ke rumah saya dan membawakan oleh-oleh teh Turki serta kacang pistachio, makasiiih banyak yaaa πŸ™‚

Ariza, suami Ira, bilang kalau teh Turki itu rasanya lebih pahit dari teh di Indonesia. Tapi karena ini teh celup, semoga saja rasanya nggak terlalu pahit. Dan sebagai informasi tambahan, di Turki itu kalau bikin teh pakai teko bertingkat, wah udah kaya bis yaa. Teko di bagian paling bawah diisi teh dan bagian atas diisi air. CMIIW ya.

Okey, let’s unboxing this Dous. Jadi, dalam bahasa Turki, huruf g yang ada curek di atasnya itu luruh, makannya Ira bilang, “Dibacanya Dous, teh”. 

Suami saya suka minum teh ini pagi-pagi, benar saja karena teh celup, rasa pahitnya nggak terlalu strong. Bakal terasa lebih lengkap kalau minum teh Turki sambil mengunyah Turkish Delight. Alhamdulillah di rumah ada juga manisan Turki ini dari saudara kami yang pulang umroh, sama seperti yang orang tua saya beli pas umroh juga. Penasaran gimana rasanya manisan tradisional Turki ini? Klik aja HAZERBABA PISTACHIO TURKISH DELIGHT – Paduan Mochi, Dodol Cina & Gurihnya Pistachio

3. Teh tarik Malaysia

Kalau ini sih oleh-oleh yang kami beli saat berkunjung ke Kuala Lumpur. Sejak diperkenalkan teh tarik sachet-an sama suami, saya jadi suka menyeduh teh ini hangat-hangat pagi hari, ngga tiap hari hanya pas pengen aja.
Kenapa saya lebih suka teh tarik hangat? karena rasanya cukup light untuk diminum pagi-pagi, ngga terlalu manis, dan hangatnya bikin enak dilambung. Kebetulan minggu lalu bikin Banana Bread ala Mami Jasmine, jadilah santap-santap bolu pisang-nya makin asik dengan secangkir teh tarik.

4. Thailand Tea

Atuh jaman kiwari mah, minum Thai tea nggak harus ke Bangkok dulu ya? Bener banget! Teh Thailand yang lebih sering saya minum dengan banyak es ini kami beli di Trans Studio Mall Bandung, pas ada bazaar. Kalau yang warnanya oranye ini rasanya manis banget ya, airnya harus banyak. Nah yang satu lagi rasanya mirip teh tarik Malaysia, dan ternyataaa memang teh tarik tapi dari Thailand, oleh-oleh dari teman kami yang jalan-jalan ke Bangkok that come along with bumbu praktis Tom Yum Kung. Enak banget lho pagi-pagi sarapan Tom Yum Kung Bumbu Bangkok dan minum Thai tea πŸ˜‰

Ok, sekian review dari saya tentang 4 teh dari 4 negara yang berbeda yang ada di rumah saya. Nuhun pisan pada teman-teman yang sudah berbaik hati silaturahim dan ngasi oleh-oleh, semoga rizki kalian dilipatgandakan oleh Allah SWT yaa Amiin πŸ™‚ Jazaakumullah khairan jazaa.

5 Langkah Mudah Bikin Tepung Oat

Assalamu’alaykum πŸ™‚ Kamis ini terasa seperti Jum’at bagi saya. Naik travel jam 6 pagi dari Bintaro menuju Bandung dan baru mendarat di kantor kakeknya Aisya yang depan-depanan sama Baltos pukul 11.00 LUAR BIASAH KAN? 5 jam di perjalanan. Wajar saja karena this weekend will be a long weekend. Biasanya kan macet yang bikin kendaraan hampir kaya parkir di tol itu pas hari Jum’at ya, jadilah Kamis ini terasa bagaikan Jum’at. Tadi sih jalanan menuju Bekasi didominasi oleh truk-truk besar, mungkin ini juga menjadi salah satu faktor penyebab macet. Alhamdulillah setelah melewati rest area KM 57, jalannya lebih lancaaarrr..

Salah satu misi saya ke Bandung bersama keluarga minggu ini adalah selain mau menghadiri syukuran kaka ipar yang mau berangkat umroh, saya juga mau meminta Bapak Ibu saya mencicipi bolu pisang buatan saya. Begitu sampai di kantor Grandpa – begitu Aisya menyebut kakeknya – Aisya langsung menyodorkan bolu pisang dan langsung dimakan oleh kakek tercinta.

“Mbak, Bapak dari kemarin-kemarin ingin makan bolu pisang. Mau berhenti di pinggir jalan buat beli tapi nggak jadi-jadi. Alhamdulillah kesampaian juga makan bolu pisang. Grandpa makan ya Dede”, ucap Bapak.

“Enak banget ini, lebih enak dari yang Bapak suka beli, Grandpa makan satu lagi ya”, kakeknya Aisya mencomot satu iris lagi dan mengunyahnya sampai habis.

“Mbak bikin atau beli ini?”, pertanyaan Bapak yang ini bikin saya ngga sabaaar menceritakan perjuangan di balik bikin bolu pisang.

Jadi, kemarin saya dan Aisya hujan-hujanan buat nyari pisang ambon. Awalnya sih rintik-rintik, jadi pakai payung ke Alfamidi yang dekat dari rumah, eeeh adanya pisang Sunpride.

Though its ok to make a banana bread with sunpride tapi saya keukeuh ingin memakai pisang ambon. Kami pun menyebrang dan menyetop angkot menuju Harmoni. Masuk ke Harmoni Alhamdulillah dapat pisang ambon seset, itu lho yang sudah diseset-seset dua-dua.

Nah saya lebih memilih yang ini, beli 2 seset supaya ngga mubazir, karena besok pagi mau ke Bandung, kalau beli banyak dan sisa sayang yaa.. Kecuali adik ipar mau makanin pisang tiap hari πŸ™‚ Sayang sekali saat mau pulang hujannya makin deras, tapi nggak apa-apa deh, toh jarak dari Harmoni ke rumah cukup dekat, saya pesan gojek saja supaya bisa langsung dibuat sorenya, Aisya juga sudah kelihatan ngantuk soalnya..

Akhirnya kami pulang dan ketika Aisya terlelap di kamar, saya bismillah lagi, mau bikinΒ Banana Bread ala Mami JasmineΒ dengan sedikit modifikasi, cuma nambahin 1 sdm gula merah lagi dan nambah setengah pisang lagi dari resep awal.

Penampakan bolu pisang yang rich of banana

Rasa pisang-nya jadi lebih rich karena saya tambahkan lagi setengah pisang jadi totalnya saya menggunakan 2 and a half banana. Lebih manis juga, enak deh, senaaang rasanya, lebih senang lagi karena Bapak saya suka hehe – mission accomplished! – Mau nawarin ke Ibu, ternyata Ibu shaum sehingga sisa-nya saya bawa pulang untuk ceminal manis berbuka ibu nanti. Okey, cukup dulu bahas banana bread-nya, sekarang mau beralih ke cerita tentang bikin tepung oat yaa.

Aisya sukaaa sekali membantu saya memasak, masak ini adalah salah satu life learning activity for toddler yang menyenangkan buat Aisya. Paling semangat bikin kukis, boleh dilihat salah satu karya kami disiniΒ Chewy Cookies Karya Aisya – Bake With KidsΒ selain cookies, Aisya juga senangΒ bikinΒ pancake, dan brownies. Untuk bikin 3 kudapan favorit Aisya ini kami biasa memakai tepung oat. Alasannya karena tepung oat kaya serat, sehat, dan ternyata tepung oat lebih bagus dari tepung gandum juga tepung terigu lho!

Dokter Spesialis Gizi Bunda Heart Centre, Elia Indrianingsih mengatakan, “Setiap 100 gram oat memiliki serat larut sebanyak 5,1 gram dan protein sebanyak 16 gram. Sedangkan gandum hanya memiliki 2,2 gram serat larut dan 13,7 gram protein”.

SumberΒ http://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150226080842-262-34985/oat-ternyata-lebih-sehat-dari-gandum/

Daaan tepung oat-nya kami buat sendiri di rumah. Gimana caranya? JustΒ follow this 5 easy stepsΒ to make a homemade oat flour :

1. Sediakan Oat

Oat adalah bahan utama untuk membuat tepung oat. Kalau ibu-ibu punya leftover oat atau bisa juga sengaja membelinya langsung, nah oat ini bisa diolah menjadiΒ homemade oat flour. Saya pakai Quacker Oat.

2. Siapkan food processor

Saya lebih menyarankan ibu-ibu menggunakan food processor untuk menggiling quick cooking oatmeal daripada menggunakan blender, karena blender saya rusak setelah beberapa kali dipakai menghaluskan oat.

3. Masukkan Oat & Biarkan Food Processor Bekerja

Tuang oat yang mau dibikin tepung oat secukupnya ke dalam food processor. Lalu switch tombol agar mata pisau-nya bekerja. Setelah dirasa dan dilihat sudah cukup halus, ibu bisa memutar lagi agar food processor berhenti berputar.

4. Tepung Oat Sudah Jadi!

Taraaa, kalau sudah jadi butiran-butiran halus begini artinya oat kita sudah jadi tepung oat dan siap diolah menjadi kue, kukis maupun kue dadar.

5. Simpan Di Toples/Wadah Tertutup

Segera simpan di toples/wadah tertutup lainnya. Setelah tepung oat-nya jadi, saya akan langsung menyimpan tepung oat ini di dalam toples, jadi anytime akan saya pakai, saya tidak perlu menggilingnya lagi.

Gimana, praktis kan? Yuk bikin tepung oat sendiri πŸ˜‰