Cerita Iie : Ramadan, Melahirkan dan Kuliah Gratis di Swedia

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita

-Iie

Belajar bisa dari mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari Ibu muda yang satu ini. Seperti yang sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya, sharing antar sesama ibu muda akan membantu kita untuk tahu bahwa bukan hanya kita loh newbe in motherhood community yang sama-sama berjuang menjalankan peran kita sebagai Ibu.

Sedikit tentang beliau, saya mengenal Iie saat kami masih beraktivitas di Sekolah Bermain Balon Hijau, what a cute name right? SBBH adalah kelompok bermain non-formal yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah Bandung dan diprakarsai oleh 3 orang mahasiswi ITB, lebih lanjut tentang SBBH kita bahas di lain kesempatan ya.

Iie adalah satu dari sekian banyak fasilitator di SBBH, one thing about her, she seem very mature though her age is younger than me. Terlihat dari sikapnya yang lembut, antusias dan sabar, Iie adalah sosok wanita yang menyayangi anak.

She also married in a young age! pemilik nama lengkap Dery Hefimaputri ini menikah saat ia masih menjadi mahasiswi Engineering Management di ITB. Kini Iie menetap di Swedia bersama putrinya, Asiyah dan suaminya yang juga berkuliah dan bekerja disana. Alhamdulillah Iie bersedia untuk saya interview dan berbagi mengenai banyak hal. Yuk simak obrolan kami.

Assalamu’alaykum Iie, apa kabar?

Wa’alaykumsalam Wr Wb, Alhamdulillah baik dan sehat.

Setelah cukup lama LDR dengan suami, sekarang Iie sudah tinggal dengan Asiyah dan suami di Swedia ya. Bagaimana rasanya berkumpul bersama dan membangun keluarga di Swedia?

Iya, setelah LDR Gothenburg- Bandung selama kurang lebih dua tahun, akhirnya mulai Juli 2014 alhamdulillah bisa ikut menemani suami merantau. Rasanya dream comes true, salah satu keinginan terbesar saya adalah bisa membangun keluarga di satu atap, jadi istri seutuhnya, Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebenarnya dimana pun bagi saya ga masalah selama bersama suami dan anak, kebetulan Allah pilihkan Gothenburg-Swedia saat ini. Tiap tempat ada positif negatifnya, tergantung kita mau lebih menekankan yang mana. Wah kalo ditulis detil bisa panjang sekali, hehe.

Asiyah juga lahir di Swedia ya? Bagaimana pelayanan kesehatan disana?

Iya, Asiyah lahir Oktober 2014 di Gothenburg. Pelayanan kesehatan disini pada dasarnya gratis selama kita punya nomor sosial disebut juga personnummer, personnummer ini diberikan untuk penduduk Swedia maupun pendatang yang akan tinggal selama minimal setahun.

Kebetulan personnummer saya baru jadi saat dua minggu menjelang lahiran, agak deg-degan juga tuh karena tanpa personnummer saya harus bayar biaya melahirkan yang sama sekali ga murah (sekitar Rp 45juta- tak hingga, bergantung kerumitan persalinan). Kabarnya bisa sih minta keringanan, tapi kami kurang tahu infonya tentang ini, dan tentu berharapnya gratis aja. Alhamdulillah ternyata personnummer bisa keluar sebelum due date, jadilah persalinan saya gratis, begitupun biaya control setelahnya.

Biaya control kehamilan sebelum personnummer ada itu mencapai 540 SEK (Rp 870.000). Padahal control kehamilan disini benar-benar sederhana, hanya cek darah, tensi, ukur lingkar perut, dan cek detak jantung (USG hanya dilakukan sekali di usia kehamilan lima bulan, selama kondisi hamil normal/ ibu <35 tahun, dsb).

Pelayanan kesehatan disini sangat memanusiakan manusia, proses kelahiran didorong sealami mungkin, penuh aura positif, mandiri, dan setiap orang (baik pendatang atau bukan) diperlakukan dengan sangat baik. Beberapa kali saya dengar cerita kelahiran di Indonesia dimana tenaga kesehatan (khususnya perawat atau bidan) yang mudah melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, atau menurunkan semangat ibu melahirkan. Disini hal seperti itu, sejauh pengalaman saya dan orang-orang sekitar, tidak ditemui. Disini bila kehamilan sehat, tidak ada masalah, maka seluruh proses dari pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan akan ditangani oleh bidan. Hanya satu bidan yang menunggui sampai bukaan hampir lengkap, dan paling ada tambahan 2-3 bidan di proses mengejan, benar-benar menjaga privacy, tenang, dan efisien.

Bidannya pun benar-benar memandang proses kehamilan dan kelahiran adalah hal yang alami, bukan penyakit yang harus penuh kekhawatiran. Bidan berhasil menanamkan sugesti-sugesti positif kepada saya, dan membantu saya memandang proses kelahiran dengan yang seharusnya.

Saya ingat salah satu wejangan beliau sebelum saya melahirkan, “Menjelang melahirkan nanti, kontraksi memang akan terasa sakit, saya ga akan menjanjikan bilang bahwa itu ga sakit. Tapi, yakinlah, itu adalah sakit yang baik, sakit yang positif, sakit yang menandakan bahwa sebentar lagi anakmu akan hadir dipelukanmu.”

Kata-kata itu benar-benar indah dan membuat saya semangat menyambut gelombang cinta kontraksi, pengalaman melahirkan jadi momen indah yang menyenangkan, Alhamdulillah ga ada trauma dan sejenisnya.

Kalau Swedia sendiri, Negara yang seperti apa di mata Iie? is it a family-friendly country?

Ya, Swedia adalah Negara sosialis, yang tentunya menjunjung tinggi kesamaan dan kesetaraan. Karena semangat kesetaraan itulah, dimana mereka menganggap peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus sama, maka dibuat aneka kebijakan yang mendukung. Contohnya adanya cuti berbayar bagi orang tua (paid parental leave) selama 480 hari yang dapat diambil oleh kedua orang tua, preschool dengan kurikulum yang jelas (biasanya anak-anak diatas usia setahun mulai masuk preschool karena orang tuanya mulai bekerja lagi setelah parental leave usai), kultur yang menomorsatukan urusan keluarga (kalau sewaktu-waktu cuti karena anak sakit, ga ada yang berani protes, family is number one priority).

Setelah kurang lebih dua tahun disini, saya mau mencoba melihat segala sesuatunya dengan proporsional, ga terlalu silau dengan segala perbedaannya dengan negeri sendiri. Tentu banyak yang bisa dipelajari, tapi ga menutup kemungkinan juga dibeberapa aspek Indonesia masih juara di hati. Misalnya semangat gotong royong, disini apa-apa cenderung mandiri, dan sebagainya.

Ini Ramadan kedua Iie bersama Asiyah dan suami di Swedia, boleh diceritakan tentang suasana Ramadan disana? Apakah kalian suka ikut iftor jamaai yang diadakan di Masjid-masjid di Swedia atau mengadakan open house di rumah Iie?

Disini puasa sekitar 19 jam, jadi kalo buka puasa bersama selesainya bisa sangat larut, maghrib saja hampir jam setengah 11 malam. Biasanya tiap tahun kami juga adakan satu atau dua kali saja buka puasa bersama di rumah bersama teman-teman mahasiswa. Keseringan ga bagus juga karena bikin begadang ^^ Salah satu hal yang saya syukuri dari puasa disini adalah jadi bisa lebih focus ibadah, ga banyak terdistrak buka puasa bersama yang kerap kali malah melalaikan.

Biasanya suami aja yang ke masjid sedangkan saya dan Asiyah di rumah. Alhamdulillah kami tinggal di daerah pendatang muslim, jadi ada mushola di dekat apartemen kami, hanya berjarak lima menit jalan kaki. Kalau ke masjid kota sekitar 30-40 menit naik tram.

Kalau lebaran biasanya ada warga (WNI yang menikah dengan penduduk setempat atau sudah tinggal menetap di Swedia) yang membuat open house jadi kami silaturahmi kesana.

Nama lengkap Asiyah adalah…

Asiyah Rania Sveanisa Adefys

Artinya…

Asiyah dari nama Asiyah Binti Muzahim, salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa yang telah dijanijkan surga (bersama Khadijah, Maryam, dan Fathimah). Ia adalah ratu mesir di zaman  Nabi Musa AS, yang juga adalah ibu asuh Nabi Musa AS. Ia adalah ratu yang lembut hatinya, cerdas, dan kokoh tauhidnya. Kami memang bertekad ingin memberikan nama anak-anak kelak dengan nama-nama tokoh muslim/ah, agar mereka dapat meneladani segala kebaikan dalam diri tokoh tersebut.

Rania berarti ratu, selaras dengan kata Asiyah yang juga adalah ratu mesir di zaman Musa.

Sveanisa; Svea artinya swedia, nisa artinya perempuan dalam bahasa arab. Kurang lebih perempuan muslimah yang lahir dan tumbuh di Swedia. Biar ada kenang-kenganan dari tempat kelahirannya.

Adefys; singkatan nama saya dan suami.

Kalau nggak salah, Asiyah sudah ikut pre-school ya? Udah belajar apa aja nih Asiyah?

Sekarang Asiyah belum masuk preschool, baru rutin ke öppna förskolan (open preschool) saja. Bedanya apa? Kalo preschool, sebagaimana daycare, anak ditinggal bersama gurunya. Sedangkan öppna förskolan, ibu atau ayah masih menemani mereka bermain, istilahnya seperti playdate yang difasilitasi aja. Di öppna förskolan juga ada kegiatan-kegiatan bersama, setiap rabu outing keluar, setiap kamis sarapan bersama, sering juga ada kunjungan penyuluhan mulai dari dokter gigi, psikolog, fisiologis petugas perpustakaan, dsb. Biasanya kita ke öppna förskolan tiga kali seminggu selama tiga jam.

Sebagai orang yang pernah mengajar di Kelompok Bermain, bagaimana pandangan Iie terhadap pendidikan usia dini di Swedia?

Karena Asiyah belum masuk preschool jadi saya belum bisa komentar banyak tentang pendidikan usia dini di Swedia. Hanya sajauh yang saya tahu, preschool disini menerima anak sejak mereka berusia diatas setahun dan sudah bisa jalan. Disini tidak ada daycare untuk anak dibawah usia setahun, karena diharapkan anak dibawah setahun diasuh oleh orang tua secara langsung dan penuh, Negara pun sudah memfasilitasi cuti berbayar selama 480 hari untuk menunjang hal ini.

Preschool ini berbeda dengan daycare walaupun prinsipnya sih serupa ya, anak dititipkan disekolah, bedanya mereka punya kurikulum dengan standar dan control yang sangat jelas dan ketat. Secara berkala tiap preschool akan dicek, dan kualitas tiap preschool sama, jadi ga ada sekolah unggulan dan sejenisnya. Preschool sendiri ada yang milik pemerintah dan swasta (biasanya yang international), keduanya tetap harus mengacu pada kurikulum Negara dan diperiksa secara berkala.Peraturannya pun sangat ketat, misal bila anak demam kapan boleh masuk sekolah lagi, kalau anak muntah kapan baru boleh masuk sekolah lagi, dan sebagainya.

Prinsipnya sekolah wajib di Swedia gratis, sekolah wajib sendiri dimulai dari SD tingkat nol (usia lima tahun), jadi preschool tetap bayar dengan batas maksimal 3% gaji orang tua dengan batas 1100SEK (sekitar RP 1,7juta).

Agustus ini Iie juga akan lanjut S2, apa yang memotivasi Iie untuk kembali bersekolah? Serta Universitas dan jurusan apa yang Iie pilih?

Saat ini saya sudah diterima di jurusan Management and Economics of Innovation, Chalmers Institute of Technology, Gothenburg.

Ada beberapa faktor yang mendorong saya untuk sekolah lagi.

Pertama, memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan diri. Saya merasa ini kesempatan besar bagi saya untuk mengasah mulai dari kemampuan bahasa, softskill, maupun ilmu yang semoga bisa diterapkan dikemudian hari. Kebetulan kuliah disini gratis karena saya telah memiliki izin tinggal dependent suami.

Kedua, saya menganggap kuliah lagi ini sebagai ‘hiu kecil’ yang akan memaksa saya bergerak dan berpikir secara lebih efisien dan efektif.

Pernah dengar cerita tentang adanya hiu di baskom ikan kapal nelayan? Mereka meletakan hiu dalam baskom ikan agar ikan-ikan itu terus bergerak dan akhirnya sedikit yang mati setelah sampai daratan.

Ketiga, saya berharap ilmu yang didapat diperkuliahan dapat saya terapkan untuk maslahat yang lebih luas, baik itu menjadi pendidik maupun membuka lapangan pekerjaan. Sebenarnya saya pun masih terus meminta petunjuk Allah, terus berdoa sampai detik terakhir untuk ditunjukan jalan yang terbaik. Mohon doanya ya.

Bisa diceritakan lebih detail mengenai mekanisme pendaftaran kuliah disana? Dengan Iie yang saat ini berdomisili di Swedia, apakah surat rekomendasi Dosen, sertifikat IELTS, dan LoA  masih dibutuhkan?

Segala syarat, jurusan, dan hal-hal terkait kuliah di Swedia bisa dilihat di web universityadmission.se, Swedia memang memiliki portal satu pintu untuk pendaftaran universitas disini. Tiap jurusan boleh jadi mensyaratkan hal yang berbeda. Saya sendiri butuh ijasah (asli dan terjemahan), transkrip (asli dan terjemahan), CV, IELTS, dan beberapa dokumen optional (motivational letter dan surat rekomendasi). Semua dokumen cukup di scan, kalau diterima nanti aslinya ditunjukan saat hari yang ditentukan menjelang masuk nanti. Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah jalur tanpa beasiswa, kalau untuk beasiswa sendiri kebanyakan dari LPDP atau Swedish Institute yang perlu syarat tersendiri ke institusi terkait.

Untuk mendukung Iie melanjutkan studi, suami Iie akan mengambil Parental Leaving, could u explain what is that?

Parental leave adalah cuti berbayar (kurang lebih 80% dari salary) untuk kedua orang tua selama 480 hari per anak yang dapat diambil sampai anak berusia 8 tahun. Ada ketentuan tersendiri misal tiap orang tua wajib mengambil masing-masing minimal dua bulan, setelahnya bebas dihabiskan oleh siapa jatah cuti tersebut. Bagi orang tua yang tidak bekerja, juga bisa mengajukan parental leave, dengan dianggap standar gaji terendah.

Karena disini menjunjung tinggi kesetaraan, maka mereka beranggapan wanita memiliki hak (atau kewajiban?) untuk bekerja. Tapi sebagaimana negara maju, upah tenaga kerja disini tinggi sekali, maka pembantu ataupun babysitter adalah hal langka (saya bahkan ga pernah temukan). Maka untuk menyiasatinya, dibuatlah sistem yang mendukung, salah satunya adanya parental leave ini. Jadi ibu dan ayah bisa tetap bekerja tanpa menelantarkan anaknya yang masih kecil. Setelah cukup umur, anak bisa masuk preschool dan orang tua tetap bekerja dengan mengendepankan work-life balance.

What have u learn by being a wife and a mother? 

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita. Menjadi istri saya belajar bagaimana menundukan ego, menundukan diri dihadapan imam saya, belajar patuh, belajar melayani, yang tentunya berat sekali apalagi di akhir zaman yang serba terbolak-balik ini.

Menjadi ibu saya belajar bagaimana menjadi teladan, belajar menguatkan kesabaran, belajar senantiasa melantunkan doa sepanjang waktu, belajar membaca perasaan anak, belajar mengenali potensi dan kekurangannya, belajar berkomunikasi, dan masih banyak yang lainnya.

Saya menyadari bahwa kalaupun akan beraktivitas diluar rumah, harus dipastikan yang utama tidak terbengkalai dan tertunaikan hak-haknya. Kondisi inilah yang membuat saya tidak berani koar-koar akan kuliah lagi karena bagi saya, kuliah itu nomor dua di waktu ini, bisa sewaktu-waktu disudahi kalau menzalimi hak klien utama saya. Dan sejatinya sekolah lagi adalah untuk membentuk diri saya yang lebih baik, maka harus ada standar tertentu apa yang ga boleh dilanggar, apa-apa yang harus tetap dikerjakan oleh saya, dan sebagainya. Lagi-lagi, mohon doanya ya.

Iie memanfaatkan waktu Me-Time dengan…

Membaca dan menulis. Saya selalu punya notes kecil tempat saya menumpahkan pikiran atau ide. Selain itu, lihat-lihat resep masakan.

Untuk me-recharge semangat dalam mengurus keluarga, Iie sering mendengarkan kajian Budi Ashari di youtube, yang fokus pada bahasan keluarga dan dikaitkan dengan Sirah Rasul (Parenting Nabawiyah). Boleh di-share-kan penekanan beliau mengenai peran Ibu dalam Islam?

Ibu adalah madrasah utama, ibu adalah pondasi umat ini. Setelah mendengar kajian beliau saya jadi memiliki paradigma baru tentang profesi sebagai ibu, khususnya ibu rumah tangga. Saya merasa dikuatkan, bahwa ibu rumah tangga bukanlah profesi yang ‘hanya’. Ia adalah titel berharga yang sudah seharusnya kita banggakan. Bila berpikir ‘hanya’ maka hasilnya pun akan sekedarnya. Tapi saat kita menyadari bahwa kita sedang membentuk generasi, bercita-cita besar akan kebermanfaatan anak kita, menjadikan anak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka semangat yang tumbuh pun lebih besar.

Ibu adalah profesi paling mulia, yang kadar penghargaannya tidak dapat ditandingi lelaki manapun. Tidak menutup mata, bahwa ada ranah yang para wanita memang dibutuhkan untuk terjun kesana yakni ranah kesehatan dan pendidikan. Maka lingkungan sekitar harus menyokong mereka, membantu terdidiknya anak mereka.

It’s a wrap! Terimakasih Iie sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya. Semoga obrolan kita ini bisa memberi manfaat dan informasi berharga untuk teman-teman kita, khususnya para Ibu muda. May Allah giving you many good things and grant your wishes in this Ramadan. Please convey my greeting to Asiyah :*

Happy fasting dan selamat bersekolah lagi Iie!

* * *

Yuk baca Cerita Ibu Muda lainnya :

1. Cita dan Cinta Audia Kursun (Indonesia – Turki)

Dea Audia & Mustafa Kursun adalah pasangan Indonesia-Turki. Apa aja sih tantangan yang dihadapi kalau nikah campur & syarat nikah sama WNA? Tempat-tempat mana aja di Turki yang berkesan buat Dea? Gimana prosesi pernikahan di Turki? Yuk merapat karena Dea berbagi cerita cita dan cinta-nya disini.

2. Meet Nunu – A Nuclear Physics Enthusiast, A Mother & Wife

Nunu, ilmuan Fisika Nuklir yang sedang menempuh program postdoctoral di Jepang, seorang Ibu juga istri. Simak bagaimana Nunu me-manage waktu untuk keluarga dan studi disini,

3. Uma Hani – Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Aba Fatiha

Uma Hani, istri Dokter yang membangun interdependency dengan suami. Apa itu interdependencyFind out here.

4. Kamu Lulusan ITB? Ko Jadi Ibu Rumah Tangga?

5. “I Love Abu Dhabi” – Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

I Love Abu Dhabi“, Cerita Nana, jadi Mama-nya Auran plus resep easy baking.Nana adalah lulusan S2 ITB yang selama kuliah master pernah mengikuti programstudent exchange di Samyoung University Korea, kini Nana tinggal di Abu Dhabi dan memilih untuk mengurus anaknya sendiri. 

6. Cici, Itikaf Sama Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’

Cici Butuh ‘Strong Why‘, saat mengajak 2 balitanya Itikaf di bulan Ramadhan. Simak tips-nya disini,

 

Fresh-Lovely Staycation At House Sangkuriang

 

Screenshot (118)

Berhubung punya anak yang gemar berenang, tiap milih hotel pasti diusahakan yang ada kolam renangnya. Dan hotel bintang 3 seperti House Sangkuriang sudah mengakomodir kebutuhan kami ini.

House Sangkuriang yang terletak di Jalan Sangkuriang No.1, Dago ini memiliki kolam renang berlatar pohon-pohon berdaun hijau yang memberikan kesan fresh, juga bikin kita berasa dikeliling oleh “hutan”, (meski buatan ya).

Ini memberikan kami nuansa yang berbeda dari infinity pool-nya U Janevalla – the latest hotel we stayed in.

Baca juga : U JANEVALLA – HOTEL MINIMALIS DENGAN INFINITY POOL BERLATAR KOTA BANDUNG

Eh tapi, kalau mau merasakan sensasi hutan beneran, bisa lho jalan kaki di Taman Hutan Babakan Siliwangi seperti yang dilakukan oleh suami dan anak saya, sementara saya menghabiskan pagi dengan membaca buku. Setelah pemanasan, baru deh Aisya berenang.

The Pool

Kolamnya memang tidak terlalu besar, namun cukup buat Aisya dan adik saya berenang bolak-balik. Setelah berenang Aisya bisa langsung bergabung bersama saya dan ayahnya sarapan di pinggir kolam.

Oya saat berenang ada kejadian seru! tiba-tiba kami melihat tupai yang loncat di atas pohon. Ini menjadi tontonan menarik selama beberapa menit, hihi.

Selain kolam renang, ada juga lho taman kecil – kita cukup menuruni tangga ke bawah, disana ada sepeda-sepedaan dan bangku taman. Taman yang agak besar tersedia di lantai 3, namun kami tidak mampir kesana.

What I really like from this hotel yaitu tadi, suasana fresh dari hijaunya pepohonan.
We woke up with a view like this
, seger!

Kalau yang bikin lovely sih karena Ayah jadi punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama Aisya. At night, mereka sempet nari bareng pakai lagunya Naura yang “Berani Bermimpi”.

Saya langsung video-in, karena momen seperti ini terbilang langka and precious at the same time. I was dancing since elementary school tiil highschool. So dancing is one of the thing that I like to do with my daughter. Well, now its more like to just move my body because I don’t really dance or perform anymore 🙂 We dance to release some energy and get new happy energy back. And dancing with dad? It’s even better. Aisya was really excited when his dad taught her some moves from this song. She asked daddy to play the song again for three times. Guess this is a fun way to strenghten the bonding between father & daughter..

Buat yang mau kasih ide ke suami buat kegiatan weekend  bareng anak ini, boleh lihat gerakannya disini

Baca juga : STAYCATION AT AYAARTTA HOTEL YOGYAKARTA

Terus yang bikin lovely lagi adalah, Ayah bisa lepas sejenak dari kerjaan dan handphone-nya. Make some quality time with Aisya. Buat saya ini turut me-recharge cinta di antara kami. Rasanya adeeem banget kalau lihat Aisya dan Ayahnya lagi bercengkrama. Bikin saya punya energi yang cukup selama seminggu ke depan.

Ayah mengambilkan sereal kesukaan Aisya dan menyuapkannya. Lalu mandiin, bikin gambar unicorn dan mewarnai bareng.

Simple thing, but meaningful. Time that spent together.

Restoran

Oia, restorannya itu memiliki beberapa tempat. Untuk yang dekat kolam, itu sekaligus jadi smoking area ya. Nah, di dalam ada lagi tempat makan yang bersatu dengan kursi-kursi lobi tempat kita bisa menunggu tamu/check in/check out atau sekedar ngobrol santai.

Ada juga semacam private room yang bebas asap rokok dan muat untuk keluarga kecil. Disinilah tempat favorit kami saat sarapan selain the one beside the pool.

Kalau mau makan siang/malam di luar ngga perlu kuatir. Banyak tempat makan di area ini. Lebih tepatnya beragam. Tempat makan di sekitar House Sangkuriang yang kami sambangi ada 3, yaitu : McD, Noah Barn.s dan kedai ayam goreng kalasan di dekat hotel (ayamnya enaaak banget, harganya cuma 16.000-an sudah sama tempe, tahu, lalapan plus sambal). Good news is, menuju ketiga tempat ini kami hanya perlu berjalan kaki.

Price And Room Complimentary

Nah, biaya menginapnya sekitar Rp. 550.000,-/malam. Saat masuk kamar, kita akan mendapatkan hotel complimentary dan fasilitas, seperti :

  • Camilan : chiki, oreo, dll
  • Teh, creamer dan gula dalam bentuk sachet
  • Kopi Torabika Cappuccino 
  • Air mineral, Floridina, dan minuman lain di dalam kulkas,
  • Ada setrika yang bisa dipakai, juga
  • Hair dryer
  • Bathroom kit dengan odol bermerk ukuran kecil.

Waaah cukup banyak yaa!

Kita juga bisa meminjam mukena untuk solat lho. Saya sedang berhalangan saat menginap di House Sangkuriang. Jadi, ketika mendengar adzan ashar, Aisya berinisiatif untuk menelpon resepsionis. Awalnya saya menanyakan apakah ada mukena untuk anak kecil di hotel? resepsionisnya menjawab tidak ada.

Percakapan disambung oleh Aisya yang ingin bicara langsung dengan resepsionisnya, kira-kira begini,

“Ya udah deh Pak, gak apa-apa, pinjem mukena Ibu-ibu aja,” ucap Aisya.

“Adek mau sholat ya?” tanya Bapak resepsionis.

“Iya,” jawab Aisya.

“Ok, tunggu sebentar yaa,” tak lama, setelah telepon ditutup, mukena pun diantar dan dipakai solat munfarid oleh Aisya.

Buat yang kepengen staycation di daerah Dago, dengan nuansa hutan yang tenang with affordable price, House Sangkuriang boleh dicoba. Apalagi lokasinya dekat dengan Dago dan Cihampeulas.

 

 

 

 

 

Berkomunikasi Dengan Anak

Screenshot (113)

Akhir minggu ini kami memutuskan untuk mengajak Aisya ke bioskop. Film kartun yang kami pilih berjudul Small Foot. Alur ceritanya sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Konflik utamanya adalah miss-persepsi. Para yeti menganggap “small foot” – panggilan untuk manusia – adalah monster. In the other hand, manusia-manusia pun menganggap yeti itu monster

What should we do?” tanya Migo pada seluruh yeti di Himalaya, ia meminta pendapat bagaimana agar kesalahan pahaman ini bisa diluruskan

We have to COMMUNICATE,” jawabnya sendiri. Akhirnya para yeti menuruni gunung, mendekat ke pemukiman manusia. They try to communicate dengan bahasa tubuh bahwa mereka bukan monster dan ingin berteman dengan manusia.

Tentu ceritanya ga se-simpel ini, lebih menarik dan lagu-lagunya enak 🙂 Film yang recommended buat anak-anak. Buat yang pengen nonton selengkapnya, silakan kunjungi bioskop bersama keluarga yaa.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Here I just want to share the highlight.

Komunikasi itu penting, namun kadang tidak mudah dilakukan. Betul banget sih menurut saya, salah satu jalan keluar untuk meluruskan sebuah miss-persepsi adalah dengan berkomunikasi. Untuk bisa berkomunikasi, kita memerlukan hati yang terbuka, telinga yang mau mendengar dan lidah yang bisa ditahan sejenak dari buru-buru mengeluarkan komentar/judgement, also eye contact.

So, who likes communicating? I do!

I communicate a lot with my daughter. Kemarin pagi, kami membahas lagi apa yang diobrolkan semalam. We have a long conversation and its not an easy one. It was very deep even for me.. And that’s just me. I took many minutes to listen, to explain, to calm her rather than ask her to stop talking about what she wants to talk.

Tentu saja kalau sudah kepanjangan waktu diskusinya, dan kami perlu mengerjakan yang lain, saya  akan katakan, “Sudah dulu ya bahas ini, kita lanjutkan lagi nanti,”. Nanti itu bisa besok, bisa nanti malam.

Kadang ketika seorang anak sedang tertarik pada sebuah topik, ia akan terus-menerus bertanya dan membahasnya. Sebagai orang dewasa kadang kita menunjukkan sikap yang kurang proaktif, seperti,

“Kan kita udah bahas ini kemarin, kok dibahas lagi sih?”

“Ini kan sudah pernah dijelaskan, memang belum paham?”

“Kamu kok nanya-nanya terus tentang hal ini? Udah dong, bosen, bahas yang lain yuk?”

Hihi, kadang saya juga suka tergelitik melontarkan kalimat tersebut, namun sebisa mungkin saya tahan. Saya ingin mengerti apa yang ada di kepala anak saya. Cara berpikir orang dewasa dan anak kan berbeda ya.

Buat saya, kalau Aisya masih penasaran akan sesuatu dan dia membahasnya berhari-hari, saya akan ladeni. Saya sadar, saya memiliki kesabaran yang cukup untuk diskusi dengannya, jadi selama masih bisa, saya akan tuntaskan obrolannya sampai ia betul-betul paham.

Pertanyaan Aisya itu kadang ada yang mudah dijawab, tapi kadang ada yang daleeem banget sampai bikin saya mikir, sadar trus nangis sendiri. Seperti pertanyaan yang Aisya tanyakan kemarin-kemarin..

“Mami, nanti kan Aisya bakal tumbuh besar, terus jadi Ibu-ibu seperti Mami. Trus nanti lama-lama Aisya jadi nenek-nenek. Kalau udah jadi nenek-nenek, Aisya bakal meninggal ngga?”

“Mami, surga itu seperti apa? kalau sudah meninggal Aisya bakal masuk surga ngga?”

Dan banyak lagi pertanyaan filosofis yang bikin hati saya bergetar saat menjelaskan. Apakah semua yang meninggal akan masuk surga? Bagaimana caranya agar bisa masuk surga? Surga itu seperti apa? Gimana supaya di surga bisa ngumpul lagi sekeluarga?

Oh, I’m in tears. It’s really really deep.

Saya jelaskan berulang-ulang, disesuaikan dengan usia Aisya. Saya katakan, kalau selama hidup kita jadi orang baik, rajin solat,  ngaji, nurut sama orang tua, suka berbagi dengan teman, insya Allah kita akan masuk surga.

Gitu.

Pertanyaan Aisya dan jawaban yang saya beri juga sangat menggugah hati, mengingatkan diri sendiri : harus prepare untuk kehidupan di akhirat nanti..

Baca juga : ANTARA LOMBA, PIALA, KOLABORASI, & CITA-CITA #CAREERDAY

Saya ingin ceritakan satu hal lagi. ini berhubungan dengan miss-persepi dan solusinya masih dengan berkomunikasi.

Di hari libur, saat kami hanya istirahat di rumah saja, Aisya biasa bermain dengan temannya. Nah, hari itu Aisya main di rumah tetangga. Tiba-tiba ia pulang membawa jajanan dan sejumlah uang yang tidak sedikit.

“Aisya jajan pakai uang siapa? tadi kan ngga dikasih uang waktu mau main?” tanya Ayahnya.

“Pakai uang Aisya! Aisya dikasih uang sama teman, terus jajan bareng,” jelas Aisya.

“Masa pakai uang teman jajannya? Ayo kembalikan uangnya ke teman,” ucap Ayahnya.

Aisya bersikeras mengatakan itu uangnya, ia diberi uang oleh temannya dan merasa uang itu miliknya. Saat Ayahnya mulai marah, saya coba ajak Aisya ngobrol.

Let’s hear from her side,” ajak saya. Saya ingin benar-benar tahu kronologi kejadiannya dan memahami cara berpikir Aisya. Setelah dijelaskan dengan tenang tanpa judgement, saya dan Ayahnya jadi lebih paham.

Lalu saya datangi rumah tetangga sambil membawa uang, untuk mengganti uang yang tadi Aisya pakai jajan. We made it clear.

Aisya cerita, saat main di rumah temannya ini, sang teman mengajaknya jajan. Aisya bilang, ia tidak dibekali uang oleh Mami dan temannya ini langsung mengambil dompet dari lemari. Ia mengeluarkan selembar 20.000-an dan memberikannya untuk Aisya. Lalu mereka pergi jajan bersama dengan langkah riang.

Anak-anak kecil ini belum mengerti nominal uang, apakah Rp. 20.000 itu besar atau tidak, apa bedanya dengan Rp. 2000. Bahkan mungkin mereka juga belum tahu kalau yang berwarna biru dan merah itu sangat besar.

Bagi Aisya dan temannya, it’s like sharing, tapi berbaginya bukan makanan melainkan uang. As simple as that. 

Ibu temannya pun mengatakan ia kaget, anaknya mengambil dompet dari lemari. Saat itu Ibunya sedang solat. Biasanya sang anak minta izin dulu, boleh tidak ambil uang di dompetnya. Berhubung Ibunya sedang solat jadi tidak ada orang yang bisa dimintai izin di rumah. Dan karena uang di dalam dompetnya itu adalah uangnya yang terkumpul saat lebaran, jadi teman Aisya merasa fine-fine saja berbagi uang dengan Aisya. She is very generous ya 🙂

Saya meminta maaf pada Ibunya, begitu pun sebaliknya. Tak lupa uang pengganti saya berikan juga. Lalu kami berdua berpesan pada anak-anak kami, lain kali, kalau mau jajan minta izin dulu ya pada Ibu-nya masing-masing.

Rasanya menyenangkan bisa meluruskan miss-persepsi dengan berkomunikasi. Dalam kasus ini saya berkomunikasi dulu dengan anak saya, saya pahami cara ia berpikir agar tidak salah persepsi. Ternyata bisa kan memberitahu anak dengan memahaminya terlebih dahulu.

Baca juga : FITRAH ANAK ITU BAIK

Oia, salah satu efek positif dari komunikasi yang saya lakukan dengan anak, ia pun berkembang jadi anak yang komunikatif.

Saat homevisit, gurunya mengatakan, di sekolah Aisya itu :

  • Berani mengungkapkan pendapatnya (termasuk perasaannya baik pada teman/gurunya). Contohnya, saat ia merasa sedih akibat perbuatan salah seorang temannya, Aisya akan mengakatakannya, “Aku sedih, kalau kamu bicara seperti itu,” misalnya.
  • Suka bertanya untuk hal-hal yang masih ingin digali. Aisya tidak takut ketika memiliki pendapat yang berbeda dari yang lain.
  • Teguh terhadap apa yang ia yakini. Selain itu, Aisya suka mengingatkan jika ada temannya yang berbuat yang tidak baik.

Keberanian mengemukakan pendapat dan rasa percaya dirinya ini bisa jadi lahir dari diskusi yang sering kami lakukan. Aisya bisa mengeluarkan argumentasinya ketika diskusi dengan saya – I’m open to hear her thought

Ketika kita mendengarkannya, otomatis anak merasa dihargai pendapatnya, Ia merasa berharga dan kepercayaan dirinya muncul.

Saya merasa berkomunikasi adalah cara yang baik untuk saling memahami. Dengan berkomunikasi pun sebetulnya kita bisa menghindari kemarahan yang tidak diperlukan. Yes it took longer time, but I prefer this way 🙂 COMMUNICATING ❤

Antara Lomba, Piala, Kolaborasi, & Cita-Cita #CareerDay

 

Seorang psikolog mengatakan, “Di usia dini, sebaiknya anak-anak diperkenalkan pada kolaborasi dan kerjasama. Bukan kompetisi.”

Penting sekali bagi anak-anak untuk menghargai keunikan dirinya dan temannya. Jika dari usia dini hawa kompetisi sudah terasa, maka anak-anak akan berkembang untuk bersaing. Padahal aspek kolaborasi dan kerjasama penting sekali untuk diasah sejak kecil.

Kira-kira begitu yang saya tangkap dari tulisan sang psikolog. Forgive me, saya lupa nama psikolognya, hihi.

Saya lebih senang saat anak saya perform dan bukan berlomba. Saat perfom, baik itu menari, nyanyi, ngaji, dan ditonton banyak orang, otomatis anak perlu belajar untuk berani, percaya diri dan menangani rasa malu/gugupnya.

Soft skill tersebut juga dibutuhkan dalam menjalani hidup ke depannya.

Sama hal-nya dengan lomba, anak-anak perlu menunjukkan soft skill yang baik. Bedanya dinilai, ada pengumuman dan saat pembagian piala, akan ada saja anak yang menangis karena tidak mendapatkannya.

Baca juga : SEPOTONG ES KRIM & TANGISAN

Saya akan ceritakan masa kecil saya sedikit. Dari mulai TK hingga SMA, saya sering ikut lomba. Waktu masih kecil, biasanya nenek/orang tua saya yang mendaftarkan saya ke berbagai lomba, sepert : peragawati, saritilawah, fashion show busana muslim, lomba pencak silat dan mewarnai.

Dari sekian banyak lomba, seringnya saya merasa mudah untuk menang walaupun tidak selalu juara I.

Selain itu, saya juga sering melakukan pertunjukkan, seperti menari balet di Teater Baranangsiang maupun mempertujukan pencak silat bunga dan disaksikan banyak orang.

Entah karena memang suka atau karena sudah sering ikut lomba, saya lanjut ikut lomba-lomba saat SMP dan SMA. Namun saya memilih lomba yang saya kuasai. Seperti story telling dan menyanyi. Selain itu, saya tetap perform, yaitu menari tradisional di berbagai acara.

Saya berkembang menjadi anak yang biasa ditonton oleh publik, I even like it!

Baca juga : 7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Uniknya, meskipun saya pernah mengikuti berbagai lomba, saya tidak begitu ingin mengikutikan Aisya ke lomba-lomba. Entahlah, konsep menang kalah yang kadang mengundang tangisan nampaknya saya anggap sebagai hal yang beresiko untuk hati Aisya (dan saya).

Dan karena saya lebih menyukai konsep performing yang memadukan antara keberanian, percaya diri dan kolaborasi.

Aisya sudah pernah perform, ia menari bersama anak-anak lain di Gathering ITBMotherhood dimana anak-anak ini harus belajar kompak, dan mengingat gerakan tariannya.

 

Anak-anak berlatih di depan cermin, its really fun! Teh Inday sangat piawai dalam melatih gerakan, bikin anak nyaman di ruangan dan saat istirahat diselingi dengan permainan-permainan yang membuat mereka semakin akrab.

Hari H, anak-anak semangat sekali menari di atas panggung diiringi lagu “Aku Bisa”. Usai perform, anak-anak ini masuk ke backstage dan masing-masing diberi bingkisan. All happy. Oia videonya bisa dilihat disini ya Aku Bisa “Hari Ibu”

Awalnya saya tertarik, saat guru di sekolah mengatakan akan diadakan Career Day dan anak-anak boleh memakai kostum profesi yang mereka inginkan. Namun ketika gurunya menambahkan bakal ada Lomba Fashion Show, saya langsung deg-deg-an.

“Apa ngga pawai/parade aja, Bu dan ngga dilombakan?” tanya saya. Dan gurunya menjawab, awalnya akan ada parade dulu baru lomba.

Qodarullah, Aisya suka ikut lomba. Tapi lomba yang pernah diikuti hanya skala sekolah dan lingkungan rumah seperti lomba 17-an. Itu juga saya pulang lebih awal tanpa menunggu pengumuman (kabuuur).

Lalu saya tanya pada anak saya, “Jasmine profesinya mau apa? desainer aja ya?” tanya saya, maklum emak hemat pengennya ga beli/sewa kostum. Jadi terpikir memadu-padankan pakaian yang ada di lemari saja.

Koordinator orang tua murid di kelas juga sempat memberi ide, “Jadi traveler aja Jasmine. Nanti bawa kamera pocket dan topi pantai,”. Wah boleh juga nih idenya.

Buuut, Jasmine maunya jadi dokter.

Hmm, berhubung masih istirahat di rumah pasca demam (Jasmine-nya), saya yang tidak bisa bawa motor jauh-jauh minta tolong ke kakeknya untuk membeli jas dokter cilik di Kosambi. Alhamdulillah dapat info dari grup Ibu-ibu ada jas dokter yang harganya sangat terjangkau di Kosambi (lebih murah dari online shop yang kisarannya 100rb-an).

Pas datang, ternyata jas-nya kebesaran. Well, it gives me an idea untuk bikin jas kedodorannya terlihat seperti long blazer. Saya jahit bagian belakang sedikit, melipat bagian lengan yang kepanjangan, membuat lambang palang merah dari kertas lipat kemudian ditempel ke saku dan menyematkan name tag “DOKTER JASMINE” di sisi kanan baju.

Saya pilihkan ia over all berwarna kuning cerah, kerudung bunga-bunga, memakaikan kacamata lucu dan melengkapi tampilannya dengan sepatu kaca plastik yang menyala ketika diinjak.

And she ready to go!

Sebenarnya hari itu Jasmine agak moody, namun sampai sekolah, ketemu teman-teman, ceria lagi deh Alhamdulillah. Teman-teman di sekolah memakai kostum yang lucuuu-lucuuu, gagah, unik, bikin gemeees 🙂

Seusai parade, ada Bapak dan Ibu Polisi yang memberi penyuluhan. Anak laki-laki yang memakai pakaian polisi sontak antusian dan ramai-ramai foto bersama. Terus, datang Ibu Dokter yang membawa peralatan dokter, anak-anak banyak sekali yang bertanya.

 

Nah beres parade dan penyuluhan, lomba fashion show-nya dimulai. Yang pertama lomba adalah anak-anak kober.

Sambil menunggu giliran, saya dekati Jasmine, “Masih mau ikut lomba?” tanya saya. Jasmine mengangguk.

“Kalau gitu, nanti senyum ya pas fashion show. Jangan lupa salam. Tapi yang terpenting Jasmine have fun aja ya sama teman-teman,” pesan saya. Aaah I just want her to enjoy walking in catwalk and play with her friends..

Saat tiba giliran Jasmine, tentunya saya beri support. She seem shy, still smiling but not making any pose or turning around. Salam juga engga sama jurinya padahal bu guru sudah kasih arahan untuk menyalami juri.

ia bilang, “Jasmine malu Mami. Dilihat sama orang-orang yang Jasmine belum kenal. Ibu-ibunya banyak banget tadi,”. Saya katakan tidak apa-apa dan minta ia bermain lagi dengan teman-temannya.

When it comes to playing, feelingnya kembali positif. Di kelasnya hampir semua anak perempuan jadi dokter, hanya ada seorang yang jadi koki. Anak laki-lakinya ada yang jadi polisi, tentara, pilot. So I think, they playing a role, and that’s good. 

Menjelang dzuhur, sudah banyak yang pulang. Jasmine masih asik bermain dengan Liam. Kejar-kejaran, manjat-manjat, naik perosotan, ayunan. Saya biarkan saja. Saya memang tipe Ibu yang senang saat Jasmine bermain dengan bahagia bersama temannya.

Menurut saya, bermain dengan teman yang sebaya itu sehat untuk kebutuhan jiwanya.

Dan tiba-tiba terdengar suara mic. Wah bakal ada pengumuman pemenang nih. Saya kira tidak akan diumumkan hari itu.

Bu guru mengajak siswa kelas yang tersisa, Jasmine dan Liam untuk mendengarkan pengumuman. I told Jasmine, kalau tidak menang gapapa yaa. Untungnya Jasmine sudah hafal theme song Asian Games.

Ia pun bernyanyi, “Kalau menang itu prestasi, kalau kalah jangan frustasi. Kalau menang solidaritas, kalau kalah sportifitas,”.

Saya acungi jempol, baguuus kalau pun kalah kita sportif aja yaa.

Pemenang Kober sudah diumumkan. Ada beberapa kategori dan saya tidak begitu memperhatikan.

Tiba-tiba, “Jasmine. Ayo Jasmine maju ke depan,” ucap MC. Saya, gurunya dan Jasmine beradu pandang. Jasmine yang dipangku oleh gurunya diajak berdiri. Rasanya kami bertiga tidak menyangka kalau Jasmine akan memenangkan kategori Juara Ter-Keren haha.

It’s simply because saya lihat yang lain banyak yang kostumnya lebih oke, kece, totalitas.

Saya ucapakan selamat pada Jasmine dan memeluknya. Jasmine menggengam pialanya dan bertanya, “Kok Jasmine yang menang?”

Gurunya menjawab, “Karena Jasmine tadi berani saat jalan di catwalk dan senyum,”.

Ia menoleh ke saya. Untuk melengkapi jawaban Bu Guru, saya katakan, “Karena hari ini, untuk lomba kali ini, Allah mengizinkan Jasmine yang menang,”.

Hanya itu jawaban yang terlintas di kepala saya.

Kenapa Jasmine yang menang dan bukan temannya yang lain yang kostumnya lebih maksimal? saya tidak tahu. The only thing that I know is that Allah let her win.

“Allah Maha Baik ya Jasmine, yuk kita berterimakasih pada Allah. Alhamdulillah,” ucap saya.

Baca juga : Ayo Membacakan Nyaring

Hikmah lain yang saya petik dari career day ini adalah, kadang saat anak-anak kita bercita-cita jadi apa, namun ketika dewasa cita-cita kita berubah. Saya pribadi memiliki cita-cita yang belum terwujud. Meski begitu saya tetap bahagia akan pilihan saya menjadi IRT,  sambil menulis saat ini.

Dengan semua bekal ‘manggung’ saya, ketika kuliah akhirnya saya tahu mau berkarir di bidang apa. Public Speaking it is! 

Saya sudah mantap menekuni bidang ini. Saya mulai siaran di radio dan menjadi pemandu acara untuk event internasional dan nasional. I enjoy being a Master Of Ceremony. Bahkan sempat apply untuk S2 di bidang Public Relations.

BUT. For now I can’t pursue it 🙂 Kini saya menikmati menghabiskan waktu di rumah, mengasuh anak, dan menulis. But who knows maybe one day I am awake, or set another goal. It’s never too old to reach a dream kan ya.

What I learn from this life is, bakat dan minat itu tidak cukup untuk membuat seseorang meraih impiannya. Harus ada konsistensi dan usaha yang gigih. Put a lot of effort to reach the dreams.

Untuk Jasmine, saya tidak akan mengatur ia harus jadi apa saat dewasa. Saat ini ia ingin jadi dokter, tapi kalau sudah besar Jasmine ingin jadi desainer, saya akan support. Mau jadi pengusaha, saya supportMau jadi apa pun boleh, as long as she passionate about it.

Bahkan saat memilih jadi IRT, kita pun harus passionate menjadi IRT-nya 🙂

Karena saya melihat orang-orang sukses adalah orang yang menekuni apa yang menjadi passionnya. Konsisten mengasah dan membangun dirinya dalam passionnya. Be an expert di passionnya.

Okay, ini aja yang mau saya bagikan di #parentshare kali ini. Kalau Ibu-ibu dulu cita-citanya jadi apa, dan sekarang sudah tercapai belum? silakan sharing di komen yaa.

 

 

 

 

 

 

SEPOTONG ES KRIM, TANGISAN & KONSISTENSI

Screenshot (105)

Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Aisya minta dibelikan es krim. Saya bilang, “Boleh sayang beli es krim,TAPI kalau sudah ngga pilek ya.”

“Ngga mau! Mau sekarang!” ucapnya.

“Kalau sekarang kan masih flu, nanti ya kalau sudah sembuh kita beli es krim,” saya bujuk lagi.

“Mami kok gitu? Mami kok jahil sama Aisya?” protesnya.

Mami ngga jahil, justru Mami sayang sama Aisya. Kalau sekarang Mami belikan es krim, nanti makin banyak ingusnya. Kalau Mami jahil ya Mami belikan aja supaya Aisya tambah meler,” saya coba beri pengertian.

Aisya keukeuh ingin es krim, bahkan saat naik motor pun badannya goyang-goyang ke kiri dan kanan sambil nangis dan teriak. Saya mencoba menyikapinya dengan tenang, “Aisya boleh teruskan nangisnya di rumah ya. Sekarang kita lagi di motor, berbahaya kalau Aisya goyang-goyang. Dan kalau Aisya teriak nanti dikira Mami nyulik Aisya.”

Tangisnya tidak berhenti, sampai rumah masih merengek, “Kenapa Mami ga belikan es krim? Biasanya kalau Aisya nangis Mami belikan,”.

Gumaman Aisya menyadarkan saya kalau tangisannya ia gunakan sebagai ‘senjata’. Logikanya sudah berjalan dengan cukup baik. ketika masuk akhirnya perhatiannya teralihkan. Dan Aisya sudah tidak membahas es krim lagi.

Baca juga : Bunda, Kenapa Marah?

 

Saya pun mencoba merefleksikan kejadian hari itu. Saya sedang mencoba konsisten terhadap ucapan saya. Beli es krim boleh saat kondisi tubuh sedang sehat, kalau lagi flu jangan dulu.

Tapi di sisi lain saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘Apakah bersikap konsisten itu harus terlihat menyiksa anak?’ Sampai anak ceurik ngagoak bahasa sundanya mah. Ada ngga sih cara yang lebih baik dalam mempertahakan sebuah rule agar meminimalisir air mata? hihi. (Yaa, karena baru kali ini Aisya nangis seperti itu di jalan dan cukup mengirishati saya. Sampai-sampai saya berpikir kenapa nggak saya kabulkan saja yaa permintaannya).

Alhamdulillah esoknya saya berkesempatan sharing sama teh @fetri_ayyasha dan beliau bilang, saat kita menerapkan teori parenting perlu lihat sikon juga. Ternyata kita tidak bisa menelan apa yang kita baca mentah-mentah lalu mengaplikasikannya, harus menyesuaikan dengan factual condition juga.

Pas main ke rumah Icha (teman di sekolah, anak dari teh Fetri), lagi-lagi Mamang es krim lewat. Saya sudah sounding lagi ke Aisya untuk tidak beli es krim. Tapi Aisya melihat temannya beli.

Berkaca pada kejadian kemarin, saya pun memikirkan win win solution. Saya katakan, “Okay, boleh makan es krim tapi sedikiiit yaa. Atasnya saja,”.

Entah karena soundingnya berhasil atau memang sudah kenyang, Aisya hanya makan setengah batang es dung-dungnya. Saya lega, cara ini lebih efektif ketimbang cara sebelumnya.

Esok paginya, saya mencoba sounding lagi pada Aisya. “Aisya, nanti pulang sekolah kan mau main ke rumah teman lagi, jadi ngga beli es krim ya. Kita langsung ke rumah teman Aisya aja ya!”.

Aisya mengiyakan tanpa berargumen terlebih dahulu. Dan saat pulang sekolah pun tidak ada drama es krim lagi. Aisya berpegangan dengan temannya dan bermain bersama di rumah temannya ini.

Baca juga :

7 KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK YANG BISA ORANG TUA PERBAIKI

Dari kejadian ini saya belajar bahwa sounding ke anak itu tidak bisa sekali jadi atau tiba-tiba dengan harapan anak akan langsung menuruti perkataan/permintaan kita.

Sounding pada anak perlu dilakukan beberapa kali juga harus bertahap.

Seperti cara saya agar Aisya tidak membeli es krim saat masih flu. Dengan memberi keringanan dan diskusi yang panjang (yang tentunya menguras emosi) akhirnya Aisya mau memahami kenapa harus puasa makan es krim dulu jika kondisi tubuh belum fit.

 

Pengalaman ini jadi bekal yang saya bawa di hari-hari berikutnya. Saya belajar lebih sabar dalam memberi pengertian, dengan intonasi yang diusahakan halus. Salah satunya sounding dalam rangka membujuk Aisya supaya mau minum obat penurun panas ketika demam.

Aisya menolak minum obat karena pahit, lalu saya jelaskan, “Memang agak pahit, tapi ada rasa anggurnya juga kan dan Aisya tahu kan ini supaya Aisya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh boleh beli es krim lagi,”.

“Teman-teman Aisya juga saat sakit minum obat. Aisya juga pasti berani minum obat,”.

“Okay, sekarang Mami beri pilihan, mau diminum sedikit-sedikit trus minum air mineral atau sekali teguk lalu minum banyak air?”, saya beri ia pilihan yang goal-nya itu sama-sama minum obat dan tidak ada opsi tidak minum obat.

“Mami sayang sama Aisya, Mami ingin Aisya sembuh,”.

Terus-terus sounding, prosesnya cukup memakan waktu (serta emosi) namun berhasil juga membuat Aisya memegang sendiri cup berisi sirup pereda demam dan menelannya hingga tersisa sedikit lalu menyedot aqua gelas. Subhanallah.

Told her at the begining, “Mami mau Aisya minum obat tapi dengan persetujuan Aisya,”. Saya tidak mau memaksa, saya minta ia berhenti menangis dulu saat mau minum obat, mengelus dada dan mengarahkannya untuk menarik nafas dan membuangnya beberapa kali dulu sampai ready minum obat.

Dan ternyata saat minum obat ia tenang, tidak ada gerakan ingin memuntahkan, malah rileks Aisyanya.

Rasa obat tidak seburuk perkiraan Aisya, dan minum obat tidak perlu seperti dicekokin (saya hanya minta Aisya minum obat jika diperlukan, bila batuk pilek biasanya di-boost dari buah-buahan).

And its done, just like that. Mood Aisya kembali baik dan saya membacakan cerita yanglucu untuk mengantarnya tidur. Ia menyimak, tertawa lalu terlelap. Alhamdulillah.

Phuket City Tour : Wisata, Kulineran, Belanja dan Main di Pantai Patong

Wat Chalong

Wat Chalong – Phuket

Berbeda dengan Bangkok, Phuket terasa lebih tenang. Phuket cocok untuk turis yang menginginkan liburan lebih santai.

Namun harga makanan dan oleh-oleh yang lebih mahal disini membuat saya kangen Bangkok, haha. Di Bangkok, kita bisa menemukan barang bagus dengan harga yang sangat terjangkau. Jadilah saat berkunjung ke Phuket kami tidak membeli banyak oleh-oleh seperti saat ke Bangkok.

Di Bangkok ada tempat belanja yang terkenal di kalangan orang Indonesia, dengan penjual yang bisa berbahasa Indonesia juga. Saya masih ingat, nama tokonya Kon Fai di Asiatique. Lho kok jadi membahas tentang Bangkok ya?

Yuk lanjut cerita tentang Phuket City Tour, tapi buat yang mau baca-baca tentang Bangkok boleh mampir kesini ya SAWADEE KHA! BANGKOK (PART1)

Hm, mulai dari mana ya ceritanya? dari hotel tempat kami menginap saja ya.

Aspery Hotel – Hotel Bintang 3 Dekat Patong Beach

Kami menginap di Aspery Hotel, hotel ini mendapatkan review yang bagus dari grup-grup traveler. Hal ini membuat kami tidak ragu untuk mem-booking kamar dari hotel yang letaknya dekat dengan pantai Patong.

Biaya menginap disini Rp. 300.000,-/malam, sudah termasuk breakfast. Kamar kami memiliki 2 tempat tidur, yang satu lebih kecil. Kemudian ada kursi panjang bisa dipakai duduk maupun menyimpan barang.

Lemarinya juga besar, kita bisa menggantungkan pakaian yang akan dipakai selama beberapa hari ke depan disini. Oia, sama seperti Maiyada resort di Phi Phi Island, hotel ini juga menyediakan tempat menjemur pakaian di balkonnya.

Baca juga : PHI PHI ISLAND : PRETTY PEACEFUL DREAMY

Anak-anak senang bermain di Patong beach, bila ada pasir yang menempel di pakaian, biasanya saya bilas dulu di kamar mandi lalu menjemurnya di beranda.

Breakfast-nya lumayan enak, saya suka dengan kentang yang mereka sajikan. Staf hotelnya rata-rata bisa berbahasa Inggris dengan logat Thai yang kental. Manager dan staf hotelnya ramah, saat check out dari hotel, masing-masing anak diberi jus mangga untuk diminum di dalam mobil.

Patong Beach Phuket

Berhubung Patong Beach jaraknya dekat dari Aspery Hotel, setelah sarapan, kami langsung berjalan kaki ke pantai bersama anak-anak. Namanya juga anak-anak, bermain dengan ombak saja bikin mereka bahagia luar biasa.

Ombaknya tidak setenang di Phi Phi Island, agak besar namun relatif aman. Orang tua juga mendampingi di sekitaran mereka.

Udara masih dingin saat kami tiba di pantai, sinar matahari belum naik jadi warna air lautnya belum terlihat biru. But that’s okay.

Selain ombak, ada hal menarik lainnya di Patong buat anak-anak yang aktif ini. Pertama disini ada amusement playground. Setelah puas main di playground, anak-anak beralih ke burung.

Yap! ada banyak burung di Patong beach. Beberapa masyarakat Phuket membawa makanan burung dan menebarkannya ke tanah, kemudian dipatuk burung-burungnya. Sesekali Aisya berlarian menuju burung, namun ia juga berani meminta makanan burung dan ikut membagikannya bersama masyarakat Phuket yang baik hati.

Sehabis bermain di pantai, kami kembali ke hotel dan siap-siap keliling Phuket. Kami diajak jalan-jalan ke banyak tempat oleh driver kami, ada beberapa tempat yang berkesan buat saya. Namun ada juga yang so, so haha.

Saya akan membaginya ke dalam tiga kategori, yaitu wisata kota, wisata kuliner dan destinasi belanja. Here it is..

Wisata Kota : Wat Chalong, Karon View Point, Big Bee Farm Phuket, Shiburapa Orchid

Wat Chalong

Wat Chalong berada di peringkat teratas di hati saya karena kuilnya cantik sekali. Kuil-kuil di Thailand memang di desain dengan sangat apik. Yang bikin berkesan adalah detail pada dinding, warna emas yang mendominasi dan ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung bagaimana penganut Buddha di Phuket beribadah. It’s a unique experience for me.

I have to admit that I like artsy thing. Kontras-kontras yang ada di kuil ini punya daya tarik tersendiri.

Di kawasan Wat Chalong juga ada semacam tungku besar tertutup yang mengeluarkan bunyi seperti petasan, saking kerasnya saya sampai kaget! Berkali-kali lagi bunyinya..

Ada beberapa kuil di area Wat Chalong, saya hanya masuk ke dua kuil yang nampaknya memiliki fungsi berbeda. But still, keduanya digunakan untuk sembahyang. Namun yang satu dipenuhi patung Buddha dan lukisan, sementara yang satunya lagi dipenuhi orang-orang yang sedang berdoa sambil membawa dupa, dan menyelipkan lembaran kertas di dekat patung Buddha yang sedang duduk.

Karon View Point

Karon View Point2

Jika kami berkunjung ke Phuket lagi, saya ingin menginap dekat pantai Karon. It looks more pretty than Patong. Dari pinggir jalan, saat masih di van, saya bisa melihat pantai ini lebih ramai ketimbang Patong beach. Air lautnya juga terlihat segar – perpaduan toska dan biru.

Sayang kami hanya mengunjungi Karon View Point saja. But the view from above is amazing. Kalau dilihat-lihat lengkungan di pantai serta pulau kecil di bagian kanannya seolah membuat lafadz Allah. What do u think?

Untuk sampai ke Karon View Point cukup menaiki beberapa anak tangga, tidak sebanyak tangga-tangga kecil menurun di Pattaya View Point. Di atas ada teropong untuk melihat ke kawasan pantai Karon. Aisya dibantu Ayah untuk memasukkan koin ke dalam agar teropongnya bisa berfungsi.

Baca juga : “KHOB KHUN KHA” PATTAYA

Big Bee Farm Phuket

Big Bee Farm Phuket adalah tempat dimana madu berkualitas dijual, harganya juga ‘selangit‘. Sebotol madu bisa mencapai Rp. 1.000.000,- Disini kami hanya sight seeing dan membeli es krim madu, sluuurp delicious!

Selain madu, di Big Bee Farm Phuket, ada camilan-camilan seperti rice cracker dan lain-lain. Kami juga diajak melihat langsung lebah-lebahnya di taman belakang.

Shiburapa Orchid

Ini tempat oleh-oleh juga, namun produk ungulan Shiburapa Orchid adalah kacang mede yang diproduksi dalam berbagai macam rasa. Kami diperbolehkan masuk ke bagian belakang dan mencicipi kacang mede-nya. Enak-enak juga!

Wisata Kuliner : Marina Halal Resto, Kesuma, Royal Palace

Marina Halal Resto

Untuk review tempat makan, saya akan mulai dari tempat makan yang menunya terasa sangaaat sedap di lidah. Marina Halal Resto, restoran yang nampaknya sederhana dari luar ini ternyata memiliki cita rasa yang lezat lho!

Kami memesan menu yang berbeda dan saling icip. Nyaaam! hampir semua makanan yang kami order lezat-lezat lho. Ada nasi goreng kepiting, mint chicken rice, tom yum seafood, dan lain-lain. Tidak sempat difoto, karena kami langsung makan dengan lahap.

Bagi saya, tetap tom yum dan teh tarik juaranya, hihi. Tom yum disini paling enak deh dari semua tom yum yang pernah saya coba. Soal harga, sepadan sama rasa ya.

Saking enaknya masakan disini, kami jadi pengen kesana lagi di perjalanan pulang ke Bandara. Namun waktunya tidak cukup, jadi tidak bisa mampir lagi deh.

Nah di restoran yang semua karyawatinya berjilbab ini, ada toilet yang nyaman dan kami diperbolehkan solat di dalam rumah. Ada ruangan khusus di dalam rumah yang memuat sajadah dan banyak mukena digantung. Kami bisa solat dengan khusyuk setelah makan siang.

Oya untuk memesan makanan, kita perlu menunjukkan jari tangan pada gambar yang terpampang di buku menu. Tiap makanan memiliki gambar dan nomor sendiri yang memudahkan baik pengunjung maupun pramusaji-nya untuk mengutarakan dan mencatat pesanan kita.

Dengan begitu, language barrier bisa diatasi ya, secara kami tidak bisa bahasa Thai dan mereka tidak paham bahasa Indonesia/Inggris. Untungnya pada saat membayar, driver kami yang fasih berbahasa melayu bisa membantu melancarkan transaksi. Maklum, struk-nya pun keluar dalam bahasa Thai yang sulit kami baca, haha.

You guys have to try to come to Marina Halal Resto kalau jalan-jalan ke Phuket yaa!

Kesuma & Royal Palace

Kesuma dan Royal Palace adalah dua tempat makan yang berada dekat dengan hotel kami. Kesuma menyediakan halal food, sedangkan Royal palace mostly masakan India, tapi ada juga Thai food.

Karena berada di pinggir jalan, otomatis harga dan kualitasnya di bawah Marina. But it still okay.

Di Royal Palace, saya memesan Mango Sticky Rice. Nasi ketannya berwarna hijau, disajikan dengan mangga, santan dan hiasan berupa bunga. Tampilannya cantik, namun jujur mango sticky rice yang saya makan di Bangkok rasanya lebih enaaak.

Sama-sama dijual di pinggir jalan sih, tepatnya di pelataran Platinum Mall. Waktu itu sedang ada food festival, kami langsung memilih mango sticky rice untuk makan malam. Tak disangka, buah mangganya maniiss dan saat dipadukan dengan santan, wuih top banget rasanya!

Oya, kami juga membeli pancake halal di depan hotel, enak dan lebih murah dari harga di Phi Phi Island.

Baca juga : 9 MAKANAN YANG WAJIB KAMU COBA SAAT KE BANGKOK

Destinasi Belanja : Phuket Weekend Market,
Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket, Big C extra Jungceylon Mall

Phuket Weekend Market

Belum afdol rasanya kalau berkunjung ke Thailand dan tidak jalan-jalan ke weekend market/floating market/any kind of market. Beruntung sekali kami datang ke Phuket saat akhir pekan, jadi minggu sore bisa jalan-jalan ke Phuket Weekend Market.

Ini pertama kali saya mengunjungi weekend market, saat ke Bangkok saya tidak sempat ke Chatuchak atau Neon Market, hanya menyambangi Pratunam saja.

Begitu sampai di Phuket Weekend Market, kami segera memilih buah-buahan dan menyantapnya di taman kecil pinggir pasar. Kami membeli durian, mangga dan rambutan untuk dimakan ramai-ramai.

Beres ngemil, kami masuk lagi dan mencari barang-barang yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga pakaian disini memang lebih mahal dari Bangkok, variasi modelnya pun terbatas, tidak seperti di Pratunam.

Saya hanya membeli dress putih bergambar gajah yang sudah saya idamkan, untuk Aisya dan long dress over size untuk Uti.

Bisa dibilang segala ada di Phuket Weekend Market. Tas, pakaian, sabun-sabunan, gantungan kunci, bumbu-bumbu masak, dan banyak lagi. But I prefer to buy some snacks include bumbu-bumbu di Big C.

Oya buat penggemar kaos, kita bisa membeli kaos-kaos dengan kualitas bagus serta affordable  di Madunun, di bawah ini review-nya ya.

Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket

Madunun T-Shirt & Souvenirs Phuket menjual berbagai kaos, dengan ukuran dan bahan yang beragam. Di Madunun, kita juga bisa menemukan tas-tas dan souvenir lainnya.

Kami membeli cukup banyak kaos disini untuk oleh-oleh, kalau beli 10 gratis satu lho! Kaos anak memiliki banyak desain, kita bisa pilih mau yang mana. Packaging-nya lucu, kaosnya digulung dan dimasukkan ke dalam toples plastik, bisa buat hampers yaa.

Lagi-lagi toko ini dikelola oleh muslim, penjualnya pun ada beberapa yang bisa berbahasa melayu. Bahkan sebelum masuk ke toko, kami di-briefing dulu. Dengan menggunakan toa, Bapaknya bilang, “Kalau Jogja punya Dagadu, Bali punya Joger, Phuket punya Madunun.”

Lalu kami tertawa mendengar kalimat pembuka tersebut, setelah itu kami dipersilakan berburu kaos di Madunun. Toko ini recommended buat kalian pecinta kaos or simply mau menghadiahi oleh-oleh kaos dari Phuket untuk keluarga/kerabat/teman-teman.

Big C extra Jungceylon Mall 

Nah kalau Big C ini tempat yang bikin saya nyaman, karena disini saya bisa belanja banyak snack dan bumbu masak (buat pribadi dan oleh-oleh). Kalau saya lihat, beberapa makanan di Big C harganya lebih murah daripada yang saya lihat di Phuket Weekend Market.

Agar banyak saudara dan teman yang kebagian, camilan yang paling banyak kami masukkan ke keranjang belanja adalah permen, Thai tea, bumbu tom yum, dan rumput laut. And we bought a special honey for my dad. Ayah saya bilang, madu Thailand itu beda rasanya. Manis.

He likes the one that we bought in Pattaya, so I bought a honey again in Phuket. Sekarang sudah habis madunya. Kami beli 2, satu di Big C dan satu lagi di Sevel yang ada logo halalnya.

Sekarang sudah lebih banyak snack Thailand yang berlogo halal. Pilihannya banyak plus nge-gemesin. Katanya sih Thailand  ingin menarik lebih banyak minat turis muslim untuk berlibur ke Thailand. Oleh karena itu, baik hotel, tempat makan dan camilan pun banyak yang halal sekarang.

Muslim di daerah Phuket dan Thailand sendiri ada sekitar 30%. No wonder, wanita berjilbab tidak menjadi pemandangan asing disini. At store, street, even in the airport banyak karyawan yang berjilbab.

Balik ke Big C lagi, di perjalanan menuju Tuk Tuk, Aisya melihat badut pembuat balon. Akhirnya kami ikut antri demi mendapatkan balon berbentuk bunga, bayarnya seikhlasnya kita mau berapa aja boleh, tinggal dimasukkan ke kotak.

Dan kocaknya, saat saya dan Aisya duduk menunggu di luar mall Jungceylon sementara suami masih jalan sambil dorong troley, ada seorang bapak-bapak menghampiri Aisya dan menyodorkan uang.

Aisya menggelengkan kepala dan menarik tangannya, dia tidak mau menerima uangnya.

Lalu saya katakan, “No thank you, we are tourist.” khawatir disangka kami lagi ngapaiiin gitu kan duduk di depan mall. Padahal duduknya juga di tempat yang proper kok, bukan di lantai.

Take this, my daughter is just in the same age like you,” kata Bapak berparas Timur Tengah itu.

Oh ternyata Aisya mengingatkan sang Bapak pada anaknya, mungkin beliau LDR-an ya dan rindu pada sang anak 🙂 Well this just another proof to me that anywhere we go, there are always good people around us (uangnya tetap tidak kami ambil).

Baca juga : 8 THAILAND SNACK YANG COCOK DIJADIKAN OLEH-OLEH

Okay teman-teman, cukup panjang juga cerita jalan-jalan di Phuket ini, hihi. Padahal hanya city tour. Semoga sanggup baca sampai selesai yaa, hihi.

Eh pada penasaran ga sih sama jasa travel dan tur-nya? Selama di Phuket, kami menggunakan jasa dari toursphuketthailand.com

Buat yang mau jalan-jalan ke Phuket dan memakai jasa tur ini, bisa lihat paket perjalanan di web atau menghubungi via e-mail toursphuketthailand@hotmail.com dan WA +66801394423 (Pak Anwar namanya).

Kami pakai jasa travel ini dari :

  • Bandara-Hotel dan Hotel-Bandara : Biaya Rp 440.000,- menggunakan van kapasitas 10 orang
  • Phuket One Day City Tour : Biaya Rp. 121.000,-/orang untuk tur keliling Phuket selama 10 jam menggunakan van dengan kapasitas 10 orang
  • Mengantar dan menjemput ke Pelabuhan sebelum naik cruise ke Phi Phi Island.

Sebagai bonus, saya sertakan foto driver kami selama di Phuket ya. Namanya Manari Ahmad, dipanggilnya Mr. Yee. Orangnya asik, bisa bahasa Thai dan Melayu, suka ngajak ngobrol di perjalanan, cinta sama musik dangdut dan Sabyan Gambus. Lagu favoritnya pas di mobil sih “Lagi Syantik,” ahaha.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat yaa. Terimakasih sudah membaca 🙂

U Janevalla – Hotel Minimalis Dengan Infinity Pool Berlatar Kota Bandung

Screenshot (52)

Minggu lalu saya memposting catatan perjalanan kami ke Phi Phi Island, Thailand. Buat yang mau kesana dan lagi cari-cari info penginapan, akomodasi dan biayanya, boleh banget klik PHI PHI ISLAND : PRETTY PEACEFUL DREAMY

Nah, minggu ini mau move on sejenak dari pesona Phi Phi Island (haha) dan mau bikin review U Janevalla Hotel dulu ya. Kami staycation disini sebelum jalan-jalan ke Phuket. Jadi postingan tentang tur di Phuket-nya dipending dulu. Minggu depan I’ll write about it, promise!

Selain staycation di Yogyakarta pada awal tahun, kami juga menyempatkan staycation di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, yaitu Bandung. Dan kami memilih untuk menginap di U Janevalla Hotel.

Baca juga : STAYCATION AT AYAARTTA HOTEL YOGYAKARTA

Hotel ini dekat sekali dengan SD saya dulu, coba tebak SD apa namanya? tempat main saya pas SD itu ya ke Balai Kota. Terus SMA saya juga ga jauh-jauh dari area ini, kadang saya jalan kaki ke BIP sama sahabat setelah pulang sekolah. Jadi sambil staycation, saya ceritakan ke anak tempat-tempat yang berkesan buat saya saat di bangku sekolah.

Okay, apa sih yang menarik dari U Janevalla Hotel? ada beberapa. Saya bakal share sama teman-teman semua, silakan disimak ya.

U Janevalla Hotel – Hotel Di Tengah Kota Bergaya Minimalis

 

Saya tidak yakin mana yang lebih tepat, minimalis / semi-scandinavian? mana yang cocok menurut teman-teman? lemme know in the comment yaa 🙂

Jelas sekali hotel ini memiliki sentuhan desain scandinavian. Just like my home, dindingnya di cat putih dan khusus kamar berwarna abu. Bahkan lantainya pun tidak berubin, sehingga warna abu sangat mendominasi.

Baca juga : TAMAN MUNGIL AISYA #SCANDINAVIANHOME

Bagian ceiling pun dibiarkan terbuka, kita bisa melihat pipa dan kabel yang ada di atas. Bukan karena masih dalam tahap renovasi, namun inilah gaya yang ditonjolkan oleh U Janevalla Hotel.

All Day Dining Restaurant & Lobby

Konsep minimalis sudah nampak di lobi. Lobinya sederhana, ada di pojok kanan, dengan meja berwarna putih serta lampu-lampu yang menggantung.

Sementara di All Day Dining Restaurant-nya, ornamen kayu lebih banyak muncul dari mulai meja hingga kursi. Well I like woods, jadi saya nyaman sarapan di pagi hari, breakfastnya juga beragam.

Kamar

Ketika masuk kamar, saya langsung suka dengan gantungan baju yang dibiarkan di ruang terbuka tanpa lemari, lampu gantung dan meja yang menempel pada dinding. Simply karena saya suka ide space saving.

Kamarnya jadi terasa seperti apartemen/studio sih menurut saya. Very simple dan cocok buat yang menginginkan ketenangan, karena warna kalem seperti ini biasanya menciptakan suasana tenang yang dibutuhkan untuk berpikir.

Ada jendela besar, dimana cahaya pagi bisa leluasa menerangi kamar, dan dari sana kita bisa melihat mall pertama yang ada di kota kembang ini, yaitu Bandung Indah Plaza.

Oia, hotel bergaya minimalis yang juga saya suka ada di Pattaya, namanya A-One Star Hotel. I really really like the room concept with an affordable price. Butuh reviewnya? okay ini dia link-nya “Khob Khun Kha” Pattaya – Menginap di A-One Star Hotel Pattaya

Now let’s go to our favourit spot, its the rooftop!

U Janevalla Rooftop : Infinity Pool, Bar, Garden And Aeroplane

Bukan berarti di rooftop-nya bertengger sebuah pesawat ya, namun sambil berenang, kita bisa melihat pesawat yang melintasi tengah kota ini. Terlebih lagi, saat pagi, kita bisa melilhat pemandangan kota Bandung yang masih sejuk. Dan malam harinya, kita bisa menikmati keheningan Bandung dengan lampu-lampu cantik.

Selain kolam renang, di lantai atas ini taman dan bar juga. Gimana? lumayan asri kan tamannya? adem deh disini. Dan malam harinya, kita bisa menikmati keheningan Bandung dengan lampu-lampu cantik.

Berhubung anak saya gemar berenang, jadi setiap pagi dan sore kami berenang. Alhamdulillah ia berani lho berenang di kolam yang airnya dingin kalau pagi dan sore ini.

Selain menikmati fasilitas hotel, kami juga berjalan-jalan ke mall, tinggal jalan kaki. Nah, di sebelah kanan hotel itu ada penjual ayam goreng, dan enaaakk banget rasanya! Kalau kebetulan lewat daerah sini, cobain aja, Saya lupa nama kedainya, tapi jaraknya hanya beberapa langkah dari U Javenalla Hotel kok.

Hotel yang berada di Jl. Aceh No.65, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung ini juga menguntungkan bagi kita yang mau jalan-jalan di sekitaran. Cukup jalan kaki, kita bisa sampai ke Balai Kota, bermain-main di tamannya. Buat yang ingin ke mall, di dekat situ ada BIP dan banyak tempat makan serta outlet lainnya. Penyuka buku juga bisa mampir ke Gramedia untuk membeli atau sekedar sight seeing buku-buku baru.

Biaya Menginap Di U Janevalla Hotel

(Last pic taken from Hotelopeida karena saya tidak sempat memfoto bagian depan Hotel)

Dengan membayar Rp. 540.000,-/malam, kami mendapatkan kamar yang cukup luas dan juga :

  • Sekotak susu UHT plain 250 ml (harusnya dapat 2 namun tinggal 1 saat itu),
  • Boleh memilih 3 variasi teh untuk diseduh di dalam kamar
  • Free 2 minuman yang ada di kulkas
  • Bisa memilih aroma sabun (kami pilih aroma teh yang bikin rileks)

Saya pribadi sangat menikmati berenang di rooftop bareng anak dan adik, seru, view-nya bagus dan terutama anak saya happy – itu udah bikin kebahagiaannya menular ke saya. We certainly have a good time here, with all the facilities.

So, would u have a staycation in U Janevalla Hotel? 🙂

 

 

 

 

 

Phi Phi Island : Pretty Peaceful Dreamy

Screenshot (1)
Like Malaysia, our trip to Phi Phi Island also give me beautiful memories
. The warmth of the people never failed to touch my heart, also its beach and food that suit my tongue 🙂

So, today, while the kid going to school, I make some time to write down our experience in Phi Phi Island. Hope this will be useful for you.

Tahun lalu, kami berkesempatan mengunjungi banyak tempat dalam satu tahun, yaitu ke Langkawi, Belitung dan Bangkok. Namun tahun ini suami cukup sibuk sehingga sulit mencari waktu liburan.

Baca juga : Trip Seru Ke Langkawi

Liburan awal tahun kami habiskan dengan staycation di Yogyakarta, selebihnya staycation di kota kembang tercinta dan baru awal Agustus ini kami berlibur lagi ke Phuket dan Phi Phi Island.

I’ve heard about Phi Phi couple of times, tapi saya tidak begitu eager untuk pergi kesana. This year, suami mengejutkan saya dengan menunjukkan tiket yang sudah ia beli ke Phuket. So, we packed our bags and go!

Sebetulnya kami menghabiskan 4 hari 5 malam di Phuket dan Phi Phi Island. Namun saya ingin menceritakan tentang keindahan Phi Phi Island dulu, baru disambung dengan Tour Di Phuket (insya Allah I’ll post it next week).

As for me, Phi Phi Island is pretty, peaceful and dreamy.

My husband also agree with me, and our travel company said the same. Here are some interesting thing in Phi Phi through my eyes.

Naik Sea Angle Beyond Luxury Boat ke Phi Phi Island

Sea Angle Beyond Luxury Boat adalah akomodasi yang kami pakai untuk sampai ke Phi Phi Island dari Pelabuhan di Phuket. Kami dijemput oleh driver yang juga kami gunakan untuk one day tour di Phuket dan van yang memuat 14 kursi tersebut mengantar kami hingga fishing port.

Setelah sampai, kami diberi stiker yang berisi nomor kursi. Semua pengunjung harus duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada stiker. Tak lama, bunyi khas cruise terdengar, petugas memanggil kami untuk masuk ke dalam.

It’s my first time going on a cruise. Di Langkawi, kami naik kapal feri biasa. Maka dari itu, saya cukup terkesima dengan cruise yang bertingkat ini, hihi.

Kami duduk di lantai satu. Di bagian bawah ada toilet dan ruangan yang lebih bagus. Di lantai dua dan tiga ada beberapa tempat duduk bagi penumpang yang ingin menghirup udara segar sambil menikmati hamparan laut dan bukit-bukit di sisinya.

Kita juga bisa membeli makanan ringan di dalam cruise, kadang petugasnya juga menjajakan makanan ke kursi penumpang. We bought Pringles for 40 Baht.

Saat berangkat, semua penumpang diberi banana muffin, minuman (boleh pilih mau teh atau kopi) dan plastik hitam. Antisipasi jika penumpang mabuk laut. Ombak di laut memang bergelombang hari itu, jadi perahu bergoyang ke kanan dan ke kiri. Membuat saya shok haha, baru pertama merasakan mabuk laut soalnya..

No need to be shy, others are also feel the same. Ketika pulang, saya memilih untuk berada di ruang terbuka (lantai 2 dan 3). Cara ini efektif untuk mencegah diri saya merasa mual. Selain itu, saya dan teman-teman seperjalanan bisa berfoto dan berangin-angin ria.

Dengan paket tour yang kami pilih, kami bisa hopping ke beberapa pulau tanpa turun. Biasanya boleh turun, namun karena ombaknya sedang tinggi, hari itu kami hanya diperkenankan melihat pulau-pulau dari atas cruise.

Makan Siang Di Phi Phi Island

Dengan membayar Rp. 500.000,-/orang untuk paket Phuket – Phi Phi by Sea Angle Beyond PP, kami juga dapat makan siang lho. Ala prasmanan dan bisa coba semuanya. Menunya enak-enak, ada ayam goreng dan sup yang rasanya pas di lidah, spaghetti dan lain-lain.

We also have a little chit chat with a nice brother from Iran, his name is Mehdi. Kenalannya sih di cruise, dan lebih banyak ngobrol sama suami saya. Sepertinya uncle Mehdi yang ramah ini suka sama anak-anak, karena senang main-main sama Aisya.

He said, “I’m very happy to meet brother and sister from Indonesia. I’ll wait for you to visit my country. I have a home in Teheran, small but enough for you three. Come, and I’ll show you how to cook Iranian food.”

Saya tuh suka ga enak kalau diundang ke rumah teman dan ngga datang wkwkwk, apalagi saya suka belajar masak. Insya Allah, semoga kapan-kapan bisa jalan-jalan ke Iran yaa. Amiin.

Jangan salah lho, semua juga berawal dari keinginan. Jadi, pas saya buka-buka diary – di diary ini saya nulis curhatan, catatan kajian, life plan, juga coretan serta gambaran Aisya – dan pas lagi mau mindahin rangkuman ceramah Pak Aam, ga sengaja kebuka halaman yang bertuliskan, “2018 ke Phi Phi Island/Bangkok lagi,” and voila! Alhamdulillah tahun ini keinginan saya terwujud. Saya lupa pernah menuliskannya padahal. Ke Bangkoknya sih ngga kesampaian, tapi setidaknya ke Phi Phi Island tercapai.

Baca juga : SAWADEE KHA! BANGKOK (PART1)

Gara-gara catatan ini saya jadi semangat, yang penting tuliskan dulu impian-impian saya. Kalau Allah berhendak dan itu terbaik buat kita, pasti Allah akan let that happen 🙂

Oya, kami juga sempat membeli pancake di kafe dekat pantai. Kami kira pancakenya sama seperti pancake pada umumnya. Ternyata, pancake disini bentuknya mirip martabak. Pancake yang kami pesan rasa pisang-nutella. Yumm enak sekali!

Sekarang lanjut ke penginapan di Phi Phi Island ya.

Maiyada Resort Sea View

Okay, saya mau me-review resort ini ya. Berhubung Phi Phi Island adalah pulau yang tidak besar, kemana-mana kami jalan kaki saja. Turun dari cruise, kami jalan kaki ke hotel, ga begitu jauh kok.

Di Phi Phi Island, ada beberapa Masjid. Kami solat dzuhur berjamaah di Masjid dekat hotel ini bersama seroang warga Thailand. Wanita-wanita berjilbab pun tidak asing disini. Di hotel tempat kami menginap, mbak-mbak resepsionis juga semua karyawannya wanitanya berkerudung. Subhanallah ya!

Kami menginap di lantai 3, buka pintu geser yang bening, langsung deh bisa melihat laut dan resort lain yang sedang di bangun. Sejuk deh liatnya. Oya biaya menginap disini Rp. 600.000,- an/malam ya.

Kamarnya luas, ada lemari besar, kulkas mini dan yang unik disediakan tempat untuk menjemur pakaian. Jadi pakaian renang yang basah berpasir bisa dicuci lalu dijemur di balkon.

Hotel ini dekat sekali dengan salah satu pantai di Phi Phi Island. Lagi-lagi hanya perlu berjalan kaki bahkan tanpa alas, karena langsung terhubung dengan pasir pantai.

Sayangnya, hujan turun sepanjang sisa sore. Jadi kami tidak bisa mengeksplor pulau ini. Berbekal jas hujan, saat tinggal rintik-rintik, kami menyusuri pantai yang sedang surut airnya. Kami bertemu bintang laut dan kepiting kecil yang sedang laying down dan sembunyi di balik pasir.

Makan malam dan sarapan di hotel, menunya standar makanan Thailand. Pagi sebelum sarapan, anak-anak berenang dulu. But Whoops! kami lalai lihat jadwal, ternyata pool baru boleh dipakai pukul 10.00, maafkan kami petugas kolam *nyengir malu*

Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan dan langsung ke pantai saja. Ternyata airnya sudah penuh sampai sisi pantai lho!

Phi Phi Island : Pantai Cantik Dengan Ombak Landai

Kesan pertama saya, pantai ini dreamy, damai, landai. Pulau Pasir di Belitung juga dreamy menurut saya. Namun perpaduan pantai dengan bukit-bukit menjadi pesona tersediri di Phi Phi Island. Belum lagi gradasi warna air laut, aduhai cantiknya..

Baca juga : Island Hopping Di Belitung

Ombak yang landai disini tentu membuat kami merasa aman mengajak anak-anak main di pantai. Mereka terlihat sangat bahagia kena deburan ombak.

Anak happy, Mamak juga happy. Ah simple jadi Ibu mah ya..

Dari pagi sampai pukul 10.00 kami menghabiskan waktu disini, sementara Bapak-bapak Beach Hopping pakai long-tail boat untuk berkeliling ke pulau-pulau sekitar. Oya, Maya Bay lagi ditutup karena sedang dibersihkan dulu, so we didn’t go there.

But worry not, cause here are some report from my husband 🙂

Snorkling Dan Beach Hopping Dengan Long-Tail Boat

Ada percakapan menarik antara suami dan pemilik long-tail boat bernama Mohamed ini, seharusnya 1 perahu dinaiki 3 orang, tapi pagi itu hanya suami dan satu rekannya yang berminat beach hopping.

Suami bertanya pada sang Bapak, “Is it okay, just two people?” 

“Its okay,” jawab Pak Mohamed.

Paket yang suami saya ambil adalah 3 jam beach hopping yang dibayar seharga Rp. 600.000,- not include snorkling. Untuk snorkling harusnya bayar lagi, tapi Pak Mohamed malah memberikan suami dan rekannya peralatan untuk snorkling FOR FREE.

Suami sempat menolak dan bertanya kenapa Bapaknya baik sekali, jawabannya bikin saya tersentuh, “Its okay, free for you. Because we are muslim,”.

Ya Allah Pak, semoga rizkinya lancar jaya ya Pak, Amiin. Perjalanan ini tambah berkesan karena kami berjumpa dengan orang-orang yang treat us really nice. Thank you, thank you..

Waktu di Phuket juga, resepsionis hotel memberi Aisya permen agar nangisnya berhenti, akibat ngantuk. Pas check out masing-masing anak dikasih jus mangga, dan di bandara, Aisya dibuatkan balon dari sarung tangan oleh petugas, ada mata dan lengkungan senyum yang digambar dengan pulpen di balon jarinya.

Dear Phi Phi Island, you surely are a call back 🙂 Ada yang mau ke Phi Phi setelah baca postingan ini? hihi manggaaa.

In this last photos, I’ll show you the other beautiful sides of Phi Phi Island, when we taking a walk there.. 🙂