Featured
Posted in Cerita Ibu Muda

Cerita Iie : Ramadan, Melahirkan dan Kuliah Gratis di Swedia

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita

-Iie

Belajar bisa dari mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari Ibu muda yang satu ini. Seperti yang sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya, sharing antar sesama ibu muda akan membantu kita untuk tahu bahwa bukan hanya kita loh newbe in motherhood community yang sama-sama berjuang menjalankan peran kita sebagai Ibu.

Sedikit tentang beliau, saya mengenal Iie saat kami masih beraktivitas di Sekolah Bermain Balon Hijau, what a cute name right? SBBH adalah kelompok bermain non-formal yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah Bandung dan diprakarsai oleh 3 orang mahasiswi ITB, lebih lanjut tentang SBBH kita bahas di lain kesempatan ya.

Iie adalah satu dari sekian banyak fasilitator di SBBH, one thing about her, she seem very mature though her age is younger than me. Terlihat dari sikapnya yang lembut, antusias dan sabar, Iie adalah sosok wanita yang menyayangi anak.

She also married in a young age! pemilik nama lengkap Dery Hefimaputri ini menikah saat ia masih menjadi mahasiswi Engineering Management di ITB. Kini Iie menetap di Swedia bersama putrinya, Asiyah dan suaminya yang juga berkuliah dan bekerja disana. Alhamdulillah Iie bersedia untuk saya interview dan berbagi mengenai banyak hal. Yuk simak obrolan kami.

Assalamu’alaykum Iie, apa kabar?

Wa’alaykumsalam Wr Wb, Alhamdulillah baik dan sehat.

Setelah cukup lama LDR dengan suami, sekarang Iie sudah tinggal dengan Asiyah dan suami di Swedia ya. Bagaimana rasanya berkumpul bersama dan membangun keluarga di Swedia?

Iya, setelah LDR Gothenburg- Bandung selama kurang lebih dua tahun, akhirnya mulai Juli 2014 alhamdulillah bisa ikut menemani suami merantau. Rasanya dream comes true, salah satu keinginan terbesar saya adalah bisa membangun keluarga di satu atap, jadi istri seutuhnya, Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebenarnya dimana pun bagi saya ga masalah selama bersama suami dan anak, kebetulan Allah pilihkan Gothenburg-Swedia saat ini. Tiap tempat ada positif negatifnya, tergantung kita mau lebih menekankan yang mana. Wah kalo ditulis detil bisa panjang sekali, hehe.

Asiyah juga lahir di Swedia ya? Bagaimana pelayanan kesehatan disana?

Iya, Asiyah lahir Oktober 2014 di Gothenburg. Pelayanan kesehatan disini pada dasarnya gratis selama kita punya nomor sosial disebut juga personnummer, personnummer ini diberikan untuk penduduk Swedia maupun pendatang yang akan tinggal selama minimal setahun.

Kebetulan personnummer saya baru jadi saat dua minggu menjelang lahiran, agak deg-degan juga tuh karena tanpa personnummer saya harus bayar biaya melahirkan yang sama sekali ga murah (sekitar Rp 45juta- tak hingga, bergantung kerumitan persalinan). Kabarnya bisa sih minta keringanan, tapi kami kurang tahu infonya tentang ini, dan tentu berharapnya gratis aja. Alhamdulillah ternyata personnummer bisa keluar sebelum due date, jadilah persalinan saya gratis, begitupun biaya control setelahnya.

Biaya control kehamilan sebelum personnummer ada itu mencapai 540 SEK (Rp 870.000). Padahal control kehamilan disini benar-benar sederhana, hanya cek darah, tensi, ukur lingkar perut, dan cek detak jantung (USG hanya dilakukan sekali di usia kehamilan lima bulan, selama kondisi hamil normal/ ibu <35 tahun, dsb).

Pelayanan kesehatan disini sangat memanusiakan manusia, proses kelahiran didorong sealami mungkin, penuh aura positif, mandiri, dan setiap orang (baik pendatang atau bukan) diperlakukan dengan sangat baik. Beberapa kali saya dengar cerita kelahiran di Indonesia dimana tenaga kesehatan (khususnya perawat atau bidan) yang mudah melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, atau menurunkan semangat ibu melahirkan. Disini hal seperti itu, sejauh pengalaman saya dan orang-orang sekitar, tidak ditemui. Disini bila kehamilan sehat, tidak ada masalah, maka seluruh proses dari pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan akan ditangani oleh bidan. Hanya satu bidan yang menunggui sampai bukaan hampir lengkap, dan paling ada tambahan 2-3 bidan di proses mengejan, benar-benar menjaga privacy, tenang, dan efisien.

Bidannya pun benar-benar memandang proses kehamilan dan kelahiran adalah hal yang alami, bukan penyakit yang harus penuh kekhawatiran. Bidan berhasil menanamkan sugesti-sugesti positif kepada saya, dan membantu saya memandang proses kelahiran dengan yang seharusnya.

Saya ingat salah satu wejangan beliau sebelum saya melahirkan, “Menjelang melahirkan nanti, kontraksi memang akan terasa sakit, saya ga akan menjanjikan bilang bahwa itu ga sakit. Tapi, yakinlah, itu adalah sakit yang baik, sakit yang positif, sakit yang menandakan bahwa sebentar lagi anakmu akan hadir dipelukanmu.”

Kata-kata itu benar-benar indah dan membuat saya semangat menyambut gelombang cinta kontraksi, pengalaman melahirkan jadi momen indah yang menyenangkan, Alhamdulillah ga ada trauma dan sejenisnya.

Kalau Swedia sendiri, Negara yang seperti apa di mata Iie? is it a family-friendly country?

Ya, Swedia adalah Negara sosialis, yang tentunya menjunjung tinggi kesamaan dan kesetaraan. Karena semangat kesetaraan itulah, dimana mereka menganggap peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus sama, maka dibuat aneka kebijakan yang mendukung. Contohnya adanya cuti berbayar bagi orang tua (paid parental leave) selama 480 hari yang dapat diambil oleh kedua orang tua, preschool dengan kurikulum yang jelas (biasanya anak-anak diatas usia setahun mulai masuk preschool karena orang tuanya mulai bekerja lagi setelah parental leave usai), kultur yang menomorsatukan urusan keluarga (kalau sewaktu-waktu cuti karena anak sakit, ga ada yang berani protes, family is number one priority).

Setelah kurang lebih dua tahun disini, saya mau mencoba melihat segala sesuatunya dengan proporsional, ga terlalu silau dengan segala perbedaannya dengan negeri sendiri. Tentu banyak yang bisa dipelajari, tapi ga menutup kemungkinan juga dibeberapa aspek Indonesia masih juara di hati. Misalnya semangat gotong royong, disini apa-apa cenderung mandiri, dan sebagainya.

Ini Ramadan kedua Iie bersama Asiyah dan suami di Swedia, boleh diceritakan tentang suasana Ramadan disana? Apakah kalian suka ikut iftor jamaai yang diadakan di Masjid-masjid di Swedia atau mengadakan open house di rumah Iie?

Disini puasa sekitar 19 jam, jadi kalo buka puasa bersama selesainya bisa sangat larut, maghrib saja hampir jam setengah 11 malam. Biasanya tiap tahun kami juga adakan satu atau dua kali saja buka puasa bersama di rumah bersama teman-teman mahasiswa. Keseringan ga bagus juga karena bikin begadang ^^ Salah satu hal yang saya syukuri dari puasa disini adalah jadi bisa lebih focus ibadah, ga banyak terdistrak buka puasa bersama yang kerap kali malah melalaikan.

Biasanya suami aja yang ke masjid sedangkan saya dan Asiyah di rumah. Alhamdulillah kami tinggal di daerah pendatang muslim, jadi ada mushola di dekat apartemen kami, hanya berjarak lima menit jalan kaki. Kalau ke masjid kota sekitar 30-40 menit naik tram.

Kalau lebaran biasanya ada warga (WNI yang menikah dengan penduduk setempat atau sudah tinggal menetap di Swedia) yang membuat open house jadi kami silaturahmi kesana.

Nama lengkap Asiyah adalah…

Asiyah Rania Sveanisa Adefys

Artinya…

Asiyah dari nama Asiyah Binti Muzahim, salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa yang telah dijanijkan surga (bersama Khadijah, Maryam, dan Fathimah). Ia adalah ratu mesir di zaman  Nabi Musa AS, yang juga adalah ibu asuh Nabi Musa AS. Ia adalah ratu yang lembut hatinya, cerdas, dan kokoh tauhidnya. Kami memang bertekad ingin memberikan nama anak-anak kelak dengan nama-nama tokoh muslim/ah, agar mereka dapat meneladani segala kebaikan dalam diri tokoh tersebut.

Rania berarti ratu, selaras dengan kata Asiyah yang juga adalah ratu mesir di zaman Musa.

Sveanisa; Svea artinya swedia, nisa artinya perempuan dalam bahasa arab. Kurang lebih perempuan muslimah yang lahir dan tumbuh di Swedia. Biar ada kenang-kenganan dari tempat kelahirannya.

Adefys; singkatan nama saya dan suami.

Kalau nggak salah, Asiyah sudah ikut pre-school ya? Udah belajar apa aja nih Asiyah?

Sekarang Asiyah belum masuk preschool, baru rutin ke öppna förskolan (open preschool) saja. Bedanya apa? Kalo preschool, sebagaimana daycare, anak ditinggal bersama gurunya. Sedangkan öppna förskolan, ibu atau ayah masih menemani mereka bermain, istilahnya seperti playdate yang difasilitasi aja. Di öppna förskolan juga ada kegiatan-kegiatan bersama, setiap rabu outing keluar, setiap kamis sarapan bersama, sering juga ada kunjungan penyuluhan mulai dari dokter gigi, psikolog, fisiologis petugas perpustakaan, dsb. Biasanya kita ke öppna förskolan tiga kali seminggu selama tiga jam.

Sebagai orang yang pernah mengajar di Kelompok Bermain, bagaimana pandangan Iie terhadap pendidikan usia dini di Swedia?

Karena Asiyah belum masuk preschool jadi saya belum bisa komentar banyak tentang pendidikan usia dini di Swedia. Hanya sajauh yang saya tahu, preschool disini menerima anak sejak mereka berusia diatas setahun dan sudah bisa jalan. Disini tidak ada daycare untuk anak dibawah usia setahun, karena diharapkan anak dibawah setahun diasuh oleh orang tua secara langsung dan penuh, Negara pun sudah memfasilitasi cuti berbayar selama 480 hari untuk menunjang hal ini.

Preschool ini berbeda dengan daycare walaupun prinsipnya sih serupa ya, anak dititipkan disekolah, bedanya mereka punya kurikulum dengan standar dan control yang sangat jelas dan ketat. Secara berkala tiap preschool akan dicek, dan kualitas tiap preschool sama, jadi ga ada sekolah unggulan dan sejenisnya. Preschool sendiri ada yang milik pemerintah dan swasta (biasanya yang international), keduanya tetap harus mengacu pada kurikulum Negara dan diperiksa secara berkala.Peraturannya pun sangat ketat, misal bila anak demam kapan boleh masuk sekolah lagi, kalau anak muntah kapan baru boleh masuk sekolah lagi, dan sebagainya.

Prinsipnya sekolah wajib di Swedia gratis, sekolah wajib sendiri dimulai dari SD tingkat nol (usia lima tahun), jadi preschool tetap bayar dengan batas maksimal 3% gaji orang tua dengan batas 1100SEK (sekitar RP 1,7juta).

Agustus ini Iie juga akan lanjut S2, apa yang memotivasi Iie untuk kembali bersekolah? Serta Universitas dan jurusan apa yang Iie pilih?

Saat ini saya sudah diterima di jurusan Management and Economics of Innovation, Chalmers Institute of Technology, Gothenburg.

Ada beberapa faktor yang mendorong saya untuk sekolah lagi.

Pertama, memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan diri. Saya merasa ini kesempatan besar bagi saya untuk mengasah mulai dari kemampuan bahasa, softskill, maupun ilmu yang semoga bisa diterapkan dikemudian hari. Kebetulan kuliah disini gratis karena saya telah memiliki izin tinggal dependent suami.

Kedua, saya menganggap kuliah lagi ini sebagai ‘hiu kecil’ yang akan memaksa saya bergerak dan berpikir secara lebih efisien dan efektif.

Pernah dengar cerita tentang adanya hiu di baskom ikan kapal nelayan? Mereka meletakan hiu dalam baskom ikan agar ikan-ikan itu terus bergerak dan akhirnya sedikit yang mati setelah sampai daratan.

Ketiga, saya berharap ilmu yang didapat diperkuliahan dapat saya terapkan untuk maslahat yang lebih luas, baik itu menjadi pendidik maupun membuka lapangan pekerjaan. Sebenarnya saya pun masih terus meminta petunjuk Allah, terus berdoa sampai detik terakhir untuk ditunjukan jalan yang terbaik. Mohon doanya ya.

Bisa diceritakan lebih detail mengenai mekanisme pendaftaran kuliah disana? Dengan Iie yang saat ini berdomisili di Swedia, apakah surat rekomendasi Dosen, sertifikat IELTS, dan LoA  masih dibutuhkan?

Segala syarat, jurusan, dan hal-hal terkait kuliah di Swedia bisa dilihat di web universityadmission.se, Swedia memang memiliki portal satu pintu untuk pendaftaran universitas disini. Tiap jurusan boleh jadi mensyaratkan hal yang berbeda. Saya sendiri butuh ijasah (asli dan terjemahan), transkrip (asli dan terjemahan), CV, IELTS, dan beberapa dokumen optional (motivational letter dan surat rekomendasi). Semua dokumen cukup di scan, kalau diterima nanti aslinya ditunjukan saat hari yang ditentukan menjelang masuk nanti. Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah jalur tanpa beasiswa, kalau untuk beasiswa sendiri kebanyakan dari LPDP atau Swedish Institute yang perlu syarat tersendiri ke institusi terkait.

Untuk mendukung Iie melanjutkan studi, suami Iie akan mengambil Parental Leaving, could u explain what is that?

Parental leave adalah cuti berbayar (kurang lebih 80% dari salary) untuk kedua orang tua selama 480 hari per anak yang dapat diambil sampai anak berusia 8 tahun. Ada ketentuan tersendiri misal tiap orang tua wajib mengambil masing-masing minimal dua bulan, setelahnya bebas dihabiskan oleh siapa jatah cuti tersebut. Bagi orang tua yang tidak bekerja, juga bisa mengajukan parental leave, dengan dianggap standar gaji terendah.

Karena disini menjunjung tinggi kesetaraan, maka mereka beranggapan wanita memiliki hak (atau kewajiban?) untuk bekerja. Tapi sebagaimana negara maju, upah tenaga kerja disini tinggi sekali, maka pembantu ataupun babysitter adalah hal langka (saya bahkan ga pernah temukan). Maka untuk menyiasatinya, dibuatlah sistem yang mendukung, salah satunya adanya parental leave ini. Jadi ibu dan ayah bisa tetap bekerja tanpa menelantarkan anaknya yang masih kecil. Setelah cukup umur, anak bisa masuk preschool dan orang tua tetap bekerja dengan mengendepankan work-life balance.

What have u learn by being a wife and a mother? 

Menjadi istri dan ibu adalah jihadnya wanita, amanah utama kita. Menjadi istri saya belajar bagaimana menundukan ego, menundukan diri dihadapan imam saya, belajar patuh, belajar melayani, yang tentunya berat sekali apalagi di akhir zaman yang serba terbolak-balik ini.

Menjadi ibu saya belajar bagaimana menjadi teladan, belajar menguatkan kesabaran, belajar senantiasa melantunkan doa sepanjang waktu, belajar membaca perasaan anak, belajar mengenali potensi dan kekurangannya, belajar berkomunikasi, dan masih banyak yang lainnya.

Saya menyadari bahwa kalaupun akan beraktivitas diluar rumah, harus dipastikan yang utama tidak terbengkalai dan tertunaikan hak-haknya. Kondisi inilah yang membuat saya tidak berani koar-koar akan kuliah lagi karena bagi saya, kuliah itu nomor dua di waktu ini, bisa sewaktu-waktu disudahi kalau menzalimi hak klien utama saya. Dan sejatinya sekolah lagi adalah untuk membentuk diri saya yang lebih baik, maka harus ada standar tertentu apa yang ga boleh dilanggar, apa-apa yang harus tetap dikerjakan oleh saya, dan sebagainya. Lagi-lagi, mohon doanya ya.

Iie memanfaatkan waktu Me-Time dengan…

Membaca dan menulis. Saya selalu punya notes kecil tempat saya menumpahkan pikiran atau ide. Selain itu, lihat-lihat resep masakan.

Untuk me-recharge semangat dalam mengurus keluarga, Iie sering mendengarkan kajian Budi Ashari di youtube, yang fokus pada bahasan keluarga dan dikaitkan dengan Sirah Rasul (Parenting Nabawiyah). Boleh di-share-kan penekanan beliau mengenai peran Ibu dalam Islam?

Ibu adalah madrasah utama, ibu adalah pondasi umat ini. Setelah mendengar kajian beliau saya jadi memiliki paradigma baru tentang profesi sebagai ibu, khususnya ibu rumah tangga. Saya merasa dikuatkan, bahwa ibu rumah tangga bukanlah profesi yang ‘hanya’. Ia adalah titel berharga yang sudah seharusnya kita banggakan. Bila berpikir ‘hanya’ maka hasilnya pun akan sekedarnya. Tapi saat kita menyadari bahwa kita sedang membentuk generasi, bercita-cita besar akan kebermanfaatan anak kita, menjadikan anak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka semangat yang tumbuh pun lebih besar.

Ibu adalah profesi paling mulia, yang kadar penghargaannya tidak dapat ditandingi lelaki manapun. Tidak menutup mata, bahwa ada ranah yang para wanita memang dibutuhkan untuk terjun kesana yakni ranah kesehatan dan pendidikan. Maka lingkungan sekitar harus menyokong mereka, membantu terdidiknya anak mereka.

It’s a wrap! Terimakasih Iie sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya. Semoga obrolan kita ini bisa memberi manfaat dan informasi berharga untuk teman-teman kita, khususnya para Ibu muda. May Allah giving you many good things and grant your wishes in this Ramadan. Please convey my greeting to Asiyah :*

Happy fasting dan selamat bersekolah lagi Iie!

 

 

 

Posted in Positive Parenting, Tokoh Favoritku

Mami Aisya Belajar Positive Parenting dari Mami-nya Rudy Habibie

“Maaamiii”, panggil Aisya.

“Maaamiii’, panggilnya lagi.

“Iya sayang”, saya senyum.

Mendengar Aisya memanggil saya ‘Mami’, jadi ingat film Rudy Habibie yang kami tonton pada hari Sabtu lalu. Rudy, -sapaan akrab Pak BJ Habibie kala kecil- juga memanggil ibunya ‘Mami’. Wah sama ya dengan Aisya hehe..

Aisya berlari kecil di pinggir jalan, menggengam 4 bungkus permen di tangannya, dua untuknya dan dua lagi untuk tantenya. Aisya sudah mandi dan rapi sekali pagi-pagi, ayahnya memandikan Aisya saat saya memasak. Beres memasak, saya juga ikut bersih-bersih, ngga mau kalah dengan Aisya.

“Mana Aisya, Yah?”, tanya saya pada suami, ketika keluar toilet.

“Pergi sama Tante dan Om”, jawab suami santai.

Whaaatttt? Bohong ya? Masa ikut olahraga? Kemana? Ke Sabuga? Kalau kenapa-napa di jalan gimana? ko ngga bilang siiih? Kan bisa ketok pintu kamar mandi, kasih tau kalau mau ikut”, dengan panik saya bombardir suami dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Ke Monumen di Unpad. Ih, Bunda khawatir banget. Ngga akan apa-apa ko”, komentar suami.

“Tadi Aisya-nya yang pengen ikut, orang ke ayah juga bilang gini,

 ‘Ayah jangan kesini (motor), dede mau berangkat sama Tante dan Om’”, tambahnya.

“Yak an, seenggak-nya bisa ketok-ketok pintu toilet dan minta izin sama Bunda sebelum berangkat”, timpal saya.

“Takut ngga Bunda izinin kalau dikasih tahu dulu”, suami ketawa jahil.

‘Hhhh.. Ya Insya Allah Aisya bakal baik-baik saja’, batin saya.

 Saya menunggu dan mengestimasi waktu yang tepat untuk menelepon adik-adik saya, estimasi waktu dimana mereka sudah beres olahraga dan makan bubur di dekat Telkom Japati, tempat kami biasa makan kalau sudah jalan santai disana.

“Mas, lagi makan bubur?”, telfon saya.

“Iya mba”, jawabnya sambil mengunyah.

“Aisya ngga kenapa-napa?”, tanya saya.

“Engga mba”, jawab adik.

“Aisya makan bubur juga ngga?”, tanya saya lagi.

“Iya mba”, jawabnya lagi.

Saya tutup teleponnya, lega karena Aisya juga diajak sarapan bubur sama Mas Doko dan Tante Arum. Sekalian juga titip Mas belikan kulit pangsit di supermarket untuk bikin pisang-cokelat goreng ala Eceu Uun di Arjasari. Kalau Piscok atau pisang aroma biasanya pakai kulit lumpia, di Stand Ceu Uun yang ada di SD Al-Huda Arjasari, piscok-nya dibalut kulit pangsit, jadinya lebih kriuk dan bergelembung. Suka aja. Pengen bereksperimen. Kebetulan di rumah Akung ada pisang ambon dan Nutella.

Di warung ada sih pisang nangka, di rumah juga ada pisang tanduk, both udah kematengan banget. Meski Bapak dan suami saya suka overcooked banana, sayaprefer pisang ambon aja, yang masih segar dan manis-nya pas. Iya di lidah saya hehe.. But hey, I bet they’ll like it!

“Bun, bingung nih ayah di rumah, ngga ada Aisya sepi”, keluh suami tiba-tiba.

Hm, benar juga ya, biasanya kalau ada Aisya rumah jadi rame banget dan ada aja yang Bunda lakukan sama Aisya. Hihi sekarang Aisya sudah besar, udah ngga nempel-nempel terus sama Bunda. Dari yang selalu Bunda gendong sampe Bunda tuturin kalau Aisya jalan-jalan, main sama teman, berkunjung ke rumah orang lain, karena khawatir Aisya jatuh, kejeduk, memastikan Aisya makan, posesif deh Bunda, dan sekarang Aisya udah bisa jalan-jalan bebas sama Tante dan Om.

Sambil menunggu Aisya pulang, saya memutuskan untuk menuangkan apa terngiang-ngiang di kepala saya pasca menonton film Rudy Habibie. Sabtu setelah menempuh perjalanan Bandung-Purworejo PP dengan kemacetan luar biasa, saya, suami, om dan tante pergi ke bioskop. Tante Arum sebenarnya ingin menonton Sabtu Bersama Bapak, saya antara Finding Dory atau Rudy Habibie. Antrian yang panjang membuat saya duduk saja sambil menemani Aisya yang tidur lelap sedari kena angin sepoi di motor.

Ternyata pilihan akhir jatuh pada 4 tiket Rudy Habibie.

Saat menonton, banyak sekali adegan yang membuat saya menangis.

Banyak hal yang baru saya ketahui, seperti saya baru tahu kalau Pak BJ Habibie lahir kemudian dibesarkan saat penjajahan Jepang masih berlangsung. Saat itu pesawat tempur sering mengudara dan meledakkan beberapa tempat. That’s why Rudy Habibie kecil menolak saat Papi-nya memotivasi Rudy Habibie untuk membuat pesawat.

“Rudy jangan bikin pesawat tempur, Rudy bikin pesawat yang bisa mempertemukan orang dari jarak yang jauh”, begitu kira-kira kalimat yang saya ingat.

Dan Pak Habibie sudah memiliki miniature pesawat sejak kecil. Beliau menunjukkan ketertarikan pada pesawat sejak kecil and please imagine this, orang tuanya sudah menanamkan kepercayaan pada Pak Habibie kecil di jaman tersebut kalau Pak Habibie akan mampu membuat pesawat. What a great parent!

Papi pak Habibie meninggal saat beliau masih duduk di kelas 2 SD, meninggalkan sang istri beserta ke-8 anaknya. Pak Habibie sendiri merupakan anak ke-4 dari 8 bersaudara.

Fakta selanjutnya yang mengejutkan saya adalah, ternyata paspor Pak Habibie berwarna hijau saat berkuliah di Jerman. It’s mean, beliau bersekolah dengan biaya sendiri, bukan ikatan dinas/dibiayai Negara. Kebayang ya how expensive the tuition fee that time, even up until now kalau kita bayar sendiri..

Hal ini membuat saya kepo berbuah kagum dengan sosok Mami Pak Habibie. Nama lengkap beliau adalah Raden Ajeng Tuti Marini Puspowardojo. Wanita asal Yogyakarta yang menikah dengan Alwi Abdul Jalil Habibie ini terus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti kemana suami membawanya. Singkat cerita (sebenarnya panjang), setelah Pak Alwi wafat.. pada akhirnya Mami Pak Habibie pindah ke Bandung beserta ke-8 anaknya, setelah sebelumnya Pak Habibie sendiri telah merantau terlebih dahulu untuk bersekolah di SMP 5 Bandung. Mami Pak Habibie mengembangkan beberapa usaha di Bandung, dari mulai bisnis kos-kosan hingga ekspor-impor. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Mami Pak Habibie ini tidak jarang menyetir cukup jauh, seperti Bandung-Jakarta sendirian untuk me-running bisnisnya dan menyekolahkan anak-anaknya. Termasuk menyekolahkan Pak Habibie hingga ke luar negeri.What kind of business that could pay a tuition fee? It must be big!

Mami Pak Habibie adalah wanita yang tegar, tidak mudah menyerah dan punya visi yang kuat sehingga beliau semangat sekali membangun bisnis yang sukses mengantarkan ke-8 anaknya menuju masa depan yang terbaik. What an inspiration, a mother with a vision!

Kalau dilihat dari filmnya, Mami Pak Habibie juga tipe orang tua yang menghargai proses. Di situasi Indonesia yang baru merdeka, sempat mengalami krisis moneter, beliau tidak menuntut anak-anaknya segera lulus-bekerja dan membantunya. Atau bagian ini tidak diceritakan seluruhnya karena fokus filmnya adalah tentang Pak Habibie. At least dari sepenggal kisah Pak Habibie, kita bisa melihat kalau Mami Pak Habibie sangat sabar mendukung studi Pak Habibie.

I don’t know if she ever imagine that her son will become one of influential person in the world.

That’s a kind of amazing parenting story.

Papi Mami Pak Habibie put their believe in Habibie that he could create a plane since Pak Habibie was a little kid.

Ini yang patut saya contoh sebagai seorang Ibu, yaitu menanamkan kepercayaan pada anak, bahwa she can do her dreams. Mengatakan betapa istimewanya dia dan kesediaan saya mensupportnya. Kepercayaan yang kita tanamkan pada anak di golden age tersebut akan menumbuhkan kepercayaan dirinya dan iya akan merasa bahwa dirinya berharga, baik, bisa dan istimewa. Hal ini memotivasi anak untuk percaya diri dalam menangani berbagai tantangan yang menerpanya kelak.

Raising Aisya like raising hope. 
Maybe I should’ve name her ‘Hope’.

Beberapa kali, in desperate time, diperlihatkan sisiinsecure Pak Habibie yang sangat manusiawi, sebagai penyeimbang bahwa orang sesukses beliau bukan tanpa masa-masa sulit. Beliau menangis saat merasa gagal, saat homesick. Menelepon Mami-nya untuk secara implisit mencari tahu apakah uang bulanan sudah terkirim? That time Pak Habibie belum makan dan sedang lapar sekali.

Hampir setiap menghadapi masalah, Pak Habibie menangis dan berdoa dalam shalatnya..

Yes, that’s the right thing to do when we are at a low point..
we are so.. fragile..

Kenapa tidak? Kalau orang sekeren Pak Habibie saja menangis, berdoa, meminta dalam shalat-nya. Bersimpuh dan menengadahkan tangan pada-Nya,why can’t we also do that?

Kadang ada keruwetan dunia yang tidak cukup logis untuk dipecahkan dengan problem solving.

We need Allah. 
Tidak ada yang mustahil bila Allah sudah berkehendak.

I have always believe, di balik orang sukses, pasti ada orang tua yang menanamkan kepercayaan pada anak-anaknya, ada team/sahabat yang solid. Ada istri/suami yang menopang kepercayaan yang telah diberikan orang tua.

Bagi saya, sosok Mami Pak Habibie adalah salah satu sosok yang menerapkan positive parenting.


And so does his Papi, who said

Lihat mata air itu,
kamu harus jadi seperti mata air itu, Rudy. 
Lihatlah jika mata airnya jernih, pasti sekelilingnya akan jernih. 
Namun jika mata airnya keruh, di sekelilingnya pun akan jadi jelek.

 

Posted in Cerita Ibu Muda

Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’.

Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadr karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”,
[HR. Bukhari Muslim]

10 hari terakhir di bulan Ramadan adalah momen yang sangat spesial. Hampir seluruh umat muslim di dunia ‘mengencangkan ikat pinggang’, berburu-mencari-menanti dengan harap akan Malam Lailatul Qadr.

Itikaf menjadi magnet tersendiri, siapa sih yang tidak ingin berlama-lama di Masjid, tilawah, mendengar kajian, sholat dan melakukan ibadah lainnya, making an intimacy with Allah?

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” [QS. Al-Qadr : 1-5].

Bagaimana dengan mom with babies, apakah visible untuk Itikaf sehari-semalam penuh? Bagaimana mengantisipasi anak-anak kita yang mungkin berlarian, menyemarakkan Masjid dengan suara-suara mereka atau bahkan kebosanan? Apa saja yang perlu kita siapkan jika membawa balita Itikaf?

Frikza Etsia Pramadina, sahabat saya akan berbagi pengalamannya Itikaf bersama duo bocil, Ahmad (3,5 tahun) dan Ibrahim (1,5 tahun).

 

Bagi Cici, Ramadan adalah..

Salah satu sayang Allah untuk kita. Allah datangkan bulan mulia di antara bulan-bulan lainnya. Bulan yang penuh keutamaan dan keistimewaan. Di saat surga itu begitu mahal, Allah datangkan bulan ramadhan, bulan obral pahala.

Apakah Ahmad sudah belajar shaum?

Ahmad sedikit banyak tahu tentang shaum, yaitu menahan diri. Kalau ingin makan, tahan sampai adzan maghrib dst. Belum minta Ahmad shaum sih. Hanya tanya aja, Ahmad mau shaum? Kadang jawab iya kadang nggak. Kalau jawab nggak, kami bilang,

“iya Ahmad masih kecil jadi belum wajib shaum”, gitu. Semoga nggak keliru ya.

Boleh di share pengalaman itikaf bareng Ahmad dan Ibrahim sampai tahun ini?

Pengalaman i’tikaf bareng duo bocil, dulu pas Ahmad setaun dan Ibrahim di kandungan, udah di bawa. Tahun depan-nya Ahmad 2 tahun-an dan ibrahim masih bayi.

Sekarang Ahmad 3,5 tahun dan Ibrahim 1,5 tahun. Jadi pertama kali itu pas Ibrahim masih bayi ya agak berat karena Ahmad masih ‘ibu oriented‘ dan Ibrahim masih bergantung banget sama Cici. Heboh, ngantuk, ngerasa gampang abis batre😀

Tapi ya dijalani aja karena dari awal kan memang maunya i’tikaf dan ajak anak i’tikaf.

Do they enjoy stay in Masjid all day long?

Semoga ya…Karena kami usahain banget anak nggak tertekan dan malah punya kesan negatif dengan masjid dan berdiam di masjid.

Kalau malam mah pada tidur, paling bayi sesekali bangun. Siang berpetualang! abi dan ibunya cari cara gimana amalan harian tercapai tapi hak pengasuhan anak tetap terpenuhi. Sejujurnya

Cici ngerasa dengan i’tikaf justru jadi lebih padat berisi. Baik untuk yang dewasa maupun anak-anak. Secara amaliah ibadah  lebih terkondisikan. Anak-anak juga ketemu banyak media belajar baru.

Persiapan dan bekal apa saja yang harus dilakukan/dibawa saat mengajak Balita kita Itikaf di Masjid?

Pertama, niat dan tujuan i’tikaf.

Strong why itu paling penting kalau menurut Cici, karena tiap tahun akan ketemu kondisi yang berbeda. Selama strong why-nya dapet, insyaAllah Allah antarkan pada how-nya.

Hehe, abstrak ya? kalau yang teknis :

  1. Make sure masjid yang mau dituju ramah anak, mudah akses untuk sahur dan berbuka dan programnya bagus.
  2. List barang-barang yang harus dibawa, khusus untuk anak-anak, kami bawa mainan dan buku yang sudah mereka pilih untuk dibawa i’tikaf juga makanan ringan, roti dan makanan berat lainnya jikalau kami sulit menemukan makan siang untuk mereka.

Kalau Masjid yang Cici pilih untuk Itikaf?

Ini udah tahun ke-5 dan sempet ganti-ganti masjid.

Paling suka, berkesan, alhamdulillah yang saat ini. Mungkin karena anak-anak juga udah lebih besar ya. Tapi secara 3 point itu alhamdulillah pas banget.

Ramah banget sama anak, bahkan diakomodir dan tiap peserta saling dukung untuk pengasuhan anak. Disediakan mainan, bahkan untuk makan siang anak bisa ambil dari makan sahur.

Di sini juga peserta ada target amalan yaumiyan jadi lebih semangat aja gitu itikafnya ^^

Kegiatan apa saja yang Ahmad dan Ibrahim lakukan saat Cici sedang beribadah?

Ahmad mah udah besar ya, jadi seringnya main ^^ nggak banyak ke Cici. Paling sesekali, minta dibacain buku atau hal-hal semacam minta perhatian lainnya. Ibrahim yang masih nempel.

Jadi kalau dijadwal biasanya :

  • 00.00 – 07.00 : bangun-amaliah pribadi.
    Ibrahim kadang bangun saat itu, tapi nempel aja, nggak minta main atau jalan-jalan.
  • 07.00-11.00 : ikhlaskan untuk anak-anak waktunya.
    Nemenin anak saat minta main, jalan-jalan, bacain buku, dsb. Kalau bisa sambil murajaah atau setoran.
  • 11.00-13.00 : biasanya Ibrahim tidur, jadi bisa balasin chat hehe. Masih ada yang diurusin juga soalnya.
  • 13.00-18.00 : setengah-setengah antara target amalan pribadi  dan anak.
  • 18.00-21.00 : fokus lagi untuk anak aja, kecuali sesekali bisa nyambi.
  • 21.00-00.00 : amaliah pribadi, kadang tidur juga😀

Apakah Cici dan suami bergantian menjaga anak/berbagi tugas selama Itikaf?

Kalo kami secara khusus nggak ada pembagian jam. Di saat cici ngerasa mulai ngga mampu lagi (he he, bahasanya..), minta tolong ke suami untuk handle.

What do u wish on Idul Fitri?

Pengabulan (ada istilah ini ga ya? :D) .
Harapan agar Allah menerima, mengabulkan, setiap permohonan ampunan, menerima sujud, ruku’, sholat kita, shaum kita..

Bagaimana jika ibu dengan balita tidak memungkinkan untuk berangkat Itikaf ke Masjid?

Pertama, wanita itu dikasih keistimewaan sama Allah.
Disebutkan dalam hadist, jika seorang wanita sholat lima waktu (nggak disebut sholat sunahnya), shaum di bulan Ramadan (nggak disebut shaum sunnahnya), dan menjaga dirinya, maka ia bisa masuk surga dari pintu manapun. Sementara, hanya Abu Bakar di kalangan sahabatlah manusia selain wanita yang dijanjikan Rasulullah bisa masuk surga dari pintu mana pun.

Kebayang kan amalan Abu Bakar segimana? yang katanya kalau ditimbang dengan gunung Uhud tetap akan lebih berat timbangan kebaikan Abu Bakar. Atau jika seluruh kebaikan manusia di muka bumi ini digabung, tetap kebaikan Abu Bakar lebih berat.

Tapi wanita, dengan 3 hal di atas bisa mendapat jaminan yang sama dengan Abu Bakar.

Jadi untuk kami, perkara ajak anak itikaf itu bukan sekedar karena ingin Qiyamul Lail enak akhirnya memaksakan diri ajak anak itikaf. Kenikmatan ibadah kan bukan sekedar dari yang tampak itu. Tapi lebih ke nilai dan budaya keluarga yang ingin kami bangun.

Ramadan yang semarak dengan Qur’an, mengkondisikan anak pada lingkungan positif, dan menjadikan itikaf sebagai sebuah kebiasaan.

Nah  itu dia pengalaman itikaf bersama bocil dari Cici, nuhun ya atas sharing-nya, semogan tulisan ini bermanfaat bagi para ibu yang ingin membawa serta anaknya itikaf ke masjid.

Jadi lebih semangat buat Itikaf nih! Jazaakumullah Khairan Katsira.

Selamat Itikaf Cici, Gamma, Ahmad dan Ibrahim.

 

Posted in My Stories

Belajar Jadi Ibu & Have Fun dengan Anak

Kalau diminta menggambarkan kondisi saat ini, saya pikir, tepatnya saya sedang belajar menjadi seorang Ibu. A better mom. The happy-cheerful-positive mother.

Predikat Ibu yang serta merta melekat pada wanita yang baru saja melahirkan tidak lantas menjadikan kita-kaum hawa langsung expert dalam segala hal yang berhubungan dengan anak. Bukan berarti instantly kita menjadi orang tua yang super keren juga. Ada banyak adaptasi yang harus dilakukan, bahkan terkadang new mom harus bergelut dengan baby blues.

Tapi bagaimana pun, whether the people around us pay attention or not, seorang Ibu diharapkan menjadi sosok yang serba bisa, wonder woman, multitasking and so on and so forth. Kuat! Mungkin inilah harapan banyak orang pada seorang Ibu. Kuat dari segi mental, tenaga, pikiran, spiritual.

Somehow, mother have to overcome their inner problems, dan muncul ke permukaan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan senyuman.

Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah, that’s why lebih tepat kalau saya sebut, proses yang saya jalani saat ini adalah belajar menjadi seorang Ibu. Kata belajar meringankan guilty feeling yang terkadang muncul saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak seharusnya dilakukan pada anak, baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, saat anak sakit, jatuh, keseleo dan lain-lain. Some parent take it so hard and blame themselves for unable being nice all the time to their kids. However, Ibu juga manusia biasa yang bisa merasa bahagia, sedih, butuh me time.

The word belajar memberikan ruang yang cukup banyak bagi para ibu untuk memandang diri mereka sendiri sebagai manusia biasa yang sedang melakukan research terhadap diri mereka sendiri-anak-suami-lingkungan sekitar mereka, studying and applying what their learn, termasuk memaklumi dan belajar memaafkan saat kita sebagai Ibu melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengasuhan anak.

Nah, dalam proses pengasuhan anak, kita juga harus aktif bermain/menghabiskan waktu bersama anak, as it’s written by Bruce Perry,

children-dont-need-more-things-bruce-perry-life-quotes-sayings-pictures

 

Terlebih lagi, dalam hadist dikatakan,

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi].

Dalam Islam, bermain, menemani anak beraktifitas, dan melakukan banyak hal untuk menyenangkan hati anak kita, seperti bergurau dan bercanda dengan anak kita merupakan suatu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tinggi di sisi Allah. Subhanallah walhamdulillah.

Bermain dengan anak ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Jabir berkata,

Aku mengunjungi Rasulullah Saw yang waktu itu sedang berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain Ra. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.” [HR. Thabarani]

Hasan dan Husain Ra adalah cucu Rasulullah. Hadits di atas memperlihatkan akhlak Rasulullah sebagai seorang kepala Negara dan Rasul yang bersifat lembut dan suka bermain dengan anak.

So, parent, get down on the floor and let’s spend time with our kids!

Waktu favorit saya pribadi bersama Aisya antara lain saat :
1. Bermain bersama Aisya
2. Menyuapi Aisya

Jujur, saya mendapat banyak energi positif dan kebahagiaan saat saya bermain, menghabiskan waktu dengan Aisya, pay fully attention to her-ga nyambi masak/nyapu/ngepel/pegang gadget, creating a toddler project that require team work between me and Aisya. Well, do many constructive things and also playful that grows her smile, excitement and enthusiasm makes me feel really good.

Tidak dipungkiri ada waktu-waktu saya membiarkannya menonton acara kartun atau bermain mandiri saat saya harus menyelesaikan ‘tugas domestik’. Balik lagi ini mah perkara manajemen waktu dan akhir-akhir ini mulai terbesit keinginan untuk membuat jadwal.

Jadwal dimana saya harus ‘bekerja’, -pekerjaan di rumah tidak bisa diabaikan toh? A comfort house is the clean one-, time when I need my daughter to understand and be cooperative with me when there are things to be done at home.

Kemudian waktu saat saya full fokus dan konsentrasi pada pemenuhan kebutuhan Aisya, seperti bermain, mengajarinya sesuatu, melakukan proyek-proyek sederhana antara ibu-anak. Kadang dalam proses memasak yang easy, saya melibatkan Aisya, atau membuatkan dummy-nya. Aisya terbiasa membantu saya membuat pancake, Aisya biasanya mengaduk adonan, memasukan terigu sesendok demi sesendok ke dalam mangkuk, menuangkan susu cair dan terakhir, beberapa hari yang lalu, Aisya meminta izin pada saya untuk memecahkan telur sendiri sebelum dicampurkan ke dalam adonan. Off course, saya memperbolehkannya. Bahkan Aisya kini tertarik menyalakan kompor dan memegang teflon pancake-nya. Ini dalam pengawasan penuh ya.

Di lain waktu, saya akan memberinya pisau plastik dan memintanya untuk mengiris tempe/pisang/papaya sebagai life learning activity. Segala hal yang berhubungan dengan life learning activity sebenarnya sangat menarik untuk dilakukan, karena selain fun, enjoyable, anak kita mempelajari sesuatu yang bisa menjadi bekal saat ia harus benar-benar melakukannya in real life, -bukan simulasi. Life learning activities yang pernah saya lakukan dengan Aisya adalah mengajaknya menyiram tanaman bersama, melibatkan Aisya dalam membuat kudapan, memotong buah dengan pisau plastik untuk disantap oleh kami, menyendokkan es krim untuk dijadikan toping pada irisan buah.

Pada dasarnya Aisya tertarik dengan beberapa hal yang saya lakukan. Saat saya menyapu, Aisya akan bilang, ”Dede mau nyapu”. Saat saya mengepel lantai, Aisya akan meminta saya untuk bergantian mengepel lantai. Pun saat saya sedang merendam pakaiannya, ia ingin turut mengucek-ucek pakaiannya sendiri dan dengan happy, mengatakan “Nda, dede cuci baju sendiri”.

Saya tidak pernah meminta Aisya menjemur pakaiannya, namun ketika saya melakukannya, Aisya juga memilah-milah pakaiannya dan menjemurnya di bagian paling bawah tempat jemuran kami. Pardon me for many “jemuran” words that I use here.

Permainan yang paling disukai Aisya adalah aktivitas yang memungkinkannya mengkoordinasikan semua organ tubuhnya, seperti jalan-jalan, bersepeda, main di taman-amusement playground-giant playground, Aisya suka sekali memanjat, bahkan di perosotan pun Aisya suka memanjat ke atas. Same thing happened at home. Di rumah Mbah yang terletak di Bandung, kami suka menggelar kasur lipat dengan salah satu sisinya berada di atas sofa, sedemikian sehingga bentuknya mirip perosotan dan Aisya akan memanjat ke sofa-tumpukan bantal di atas sofa-meluncur/meloncat di slide buatan tersebut.

Ada satu lagi permainan yang digemari Aisya, ini lucu, simple but very interesting for her. Aisya suka main seprei. Saat Akung-nya memasang sprei untuk kasur lipat. Serta merta Aisya akan berlari sambil bilang “Tunggu! Tunggu!”.

Aisya masuk ke bawah sprei dan.. mereka tertawa bersama, permainan ini dilakukan berkali-kali sampai Aisya lelah tertawa. Yap! Kadang tidak butuh tempat/barang mahal untuk membuat anak kita bahagia. That’s why saya mulai suka membuat karya dengan Aisya dari reuse-able stuff, seperti Koran, kalender yang sudah tidak terpakai, kardus-kardus belanja yang menumpuk di gudang, kotak susu/makanan untuk pot tanaman, dan lain-lain.

Kami juga memperkenalkan Aisya pada buku-buku, dari mulai serial edukatif lungsuran tante Arum dan Om Doko yang disimpan apik oleh Uti, buku mewarna, dan buku baru  dengan ikut arisan buku yang lagi hits saat ini.

Terakhir, pengennya punya jadwal rutin untuk me-time, baik melakukan hobi atapun private time with Allah. Get re-charged.

Menjadi orang tua, bagi saya pribadi, layaknya berusaha mengalahkan ego diri sendiri. Mungkin ada kebiasaan kita yang kurang cocok jika terus dipelihara selama kita menjadi orang tua. If we want our children to be a better version of us, then we first have to do the change. Bisa dibilang, ‘menyamakan suhu’. Betul, kita bisa memfasilitasi anak kita, lebih bagus lagi kita bisa menjalankan visi-misi bersama.

Contoh : kita ingin anak kita hafidz Qur’an, kita dapat memperdengarkannya tilawah Al-Qur’an setiap hari di waktu-waktu tertentu. Kita juga ikut mencontohkan, turut mengaji di hadapannya dan mengulang ayat-ayat Qur’an secara langsung. Ustadz Yusuf Masyur mengatakan, ulanglah bacaan Al-Fatihah sebanyak 5 kali menjelang anak kita tidur. Insya Allah Surat Al-Fatihah tersebut akan memasuki alam bawah sadarnya dan anak kita akan lebih mudah menghafalnya. Ajarkan satu surat/doa dulu, sampai ia benar-benar paham dan hafal, barusan diajari surat/doa-doa lainnya.

Hal lainnya, jika ingin anak kita fasih berbahasa asing, selain mengikutkannya kepada bimbel/les bahasa, sebagai orang tua, kita juga dapat dengan aktif mengajaknya berkomuniasi dalam bahasa yang sedang anak kita pelajari. Tidak perlu exactly at the same level with them, setidaknya ‘nyambung’ saat diajak bicara. Tiap orang tua pasti menginginkan anaknya, lebih baik dari dirinya.

Kalau soal kesabaran, itu menjadi PR seumur hidup yang tingkatannya terus menanjak. Apalagi kalau anak manis, lucu, pintar, soleh/solehah kita mendadak masuk ke fase trouble two. Jika tidak pandai mengelola emosi, bisa-bisa orang tua ikutan tantrum.

Memang mungkin orang tua ikut tantrum saat anak tantrum?
Mungkin banget!

Inilah pentingnya ilmu sebelum amal. Saat ini informasi mengenai psikologi anak dan parenting sudah banyak. Bekali diri kita, sempatkan membaca/mendengar/ikut seminar dan diskusi agar tidak salah langkah dalam menangani sikap-sikap anak. Ingat efek domino, children reflect what they saw. They tend to copying us, the parent and people around them. Anak merekam tindakan kita.

Saya sendiri ikut grup-wassap yang memfasilitasi bahasan tentang anak dan parenting. That’s help. Selain mendapatkan ilmu, kita juga tahu bahwa we are not alone, banyak Ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan kita. Saling menyemangati, tukar informasi seputar tempat-tempat yang asik-hemat-nyaman untuk hang out anak-anak. Plus, bisa playdate kalau kebetulan domisilinya dekat.

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan [harta mereka] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

At a stressful time, parent throw an anger to their children.

Marah itu manusiawi, kita adalah individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor/situasi. Akan lebih baik jika kita dapat mengontrol amarah (note to myself). Ada yang menyarankan agar kita take time, menjauh dari anak sebentar, berada di ruangan yang berbeda, setelah tenang kita kembali menemui anak kita. Usahakan anak tidak menghirup aura kontra-positif dari ibunya.

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” [HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440].

Hadist di atas seolah membenarkan bahwa setiap orang punya waktu-waktu dimana emosinya akan meledak, namun bagi mereka yang mampu menahan diri though they can show it off, Allah akan memberi ganjaran yang luar biasa. Jihad melawan hawa nafsu.

Salah seorang Ustadz juga pernah menyinggung perihal bakti anak. Bakti anak pada kita kelak, juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap pada anak kita sejak usia dini. Mengenai bakti anak ini, dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya,

“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” [HR Abu Daud]

Sabda Rasulullah di atas poinnya cukup jelas :
1. Saat anak kita sedang tumbuh berkembang dan belajar melakukan sesuatu, hargailah usahanya walaupun kecil.
2. If they make mistake, accept it. Tell them it’s not something good. Let’s not do it again. Give warm hug, forgive them, forgive each other and tell them that as a parent, we believe that they will not make the same mistake. They could be a better person.
3.
Tidak terlalu banyak/tinggi menuntutnya dan selalu do’akan yang terbaik untuk anak kita.
4. Do not cross the line. Jangan memaki dengan makian yang membuat hatinya terluka. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anak yang sering dimaki oleh orang tua-nya sendiri?

Sangatlah penting bagi orang tua untuk dapat mengenali sifat anaknya dengan baik, salah satu caranya adalah dengan sering berinteraksi secara langsung dengan sang anak. We know them, they know us, both side can communicate well, so hopefully the good environment rise from here.

Ramadan adalah bulan yang tepat untuk melatih poin kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi, lebih sabar, pengertian dan bijak. Amin.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah,” [HR. Bukhari 6114, Muslim 2609].

 

 

 

 

 

 

Posted in My Stories

Blessful Ramadan

Di malam-malam bulan Ramadan kali ini, saya beberapa kali berselancar di dunia maya, tepatnya You Tube. Dari awal pencarian mengenai suasana Ramadan di berbagai belahan dunia hingga nyasar ke mualaf di beberapa Negara. As its been reported in many media, number of muslims are increasing in many countries like Europe, USA, Korea and one of the video that I saw is from Russia.

Sister Julia, dengan aksen inggrisnya yang bagi saya sangat menarik, karena jujur saja suka aksen orang Russia saat berbahasa Inggris, bercerita bahwa dalam Islam, “Woman are like diamonds”.

Dari yang beliau pelajari, Islam menempatkan wanita dalam posisi yang tinggi, melindungi wanita, bahkan after the divorce dalam syariat Islam, ada hak-hak anak dan wanita yang tetap harus dipenuhi oleh ex-husband.

Julia juga mengatakan bahwa “Rasulullah is a good example of a human being that every man could look up to”. Julia kemudian menceritakan bahwa Rasul pernah berlutut saat istrinya, Aisyah r.a hendak naik ke punggung kuda. Karena kuda-nya terlalu tinggi bagi Aisyah, Nabi Muhammad SAW mempersilakan Aisyah r.a berpijak di lutut Rasulullah.

Lanjut lagi, Julia mengatakan kita bisa belajar dari Rasulullah mengenai cara memperlakukan istri, karena Rasulullah sangat baik dalam memperlakukan istrinya.

Wow, what an insight for me.
And that’s just open up my mind to learn more about Rasulullah’s character.

By watching the video, saya juga makin merasa its important to learn history of how my believe brought up until now. Dengan mengetahui sejarah, saya bisa lebih memaknai dan cinta terhadap kepercayaan saya. Dan, mulai memikirkan how the best way to introduce about Rasulullah to Aisya.

Salah satu hal yang juga menampar saya adalah ketika seorang mualaf mencoba mensyiarkan Islam, dan bahasan yang saya ‘klik’ adalah tentang Ramadan. He tries to explain Ramadan and what Ramadan is about through the video. He said, Ramadan is a holy month which Allah wants us to experience how it feel to be hungry-fasting from Shubuh time until Maghrib time, but not only that, Ramadan is a month where we have to do many good things like, shadaqoh, not gossiping about others, didn’t tell a lie, control our emotion, etc. Only on 1 month, Allah asked us to be closer to him and connected more deep and intense with him. Hanya satu bulan loh, Allah nggak minta tiap bulan.

Bisakah dalam 1 bulan itu, kita menjauh dari segala perbuatan yang menjauhkan kita dari Allah?
Seem like the God didn’t ask much for us, only 1 month.

Could we?

Jika kita benar-benar bisa melakukan what’s the God want in this Ramadan, harusnya Ramadan jadi momen yang bikin semua orang jadi lebih baik, and the world will become more peaceful. Mengingat prinsip sedekah, zakat dan berlomba memberi makan kepada yang berpuasa, pada bulan ini juga diharapkan, orang-orang yang kekurangan dapat merasakan nikmatnya berbuka puasa bersama, dan mendapat rizki yang lebih..

Lebih menohok lagi saat dia mengatakan, banyak orang mengantri menonton film di bioskop pada suatu malam, it doesn’t matter for them untuk mengantri panjang, pegal, keringatan, yang penting mereka mendapat kepuasan saat menonton film tersebut. They’ve been waited for the movie to be released.

Which at the same night, ada orang-orang yang juga berbondong-bondong ke Masjid, it doesn’t matter for them untuk datang lebih awal ke Masjid, berburu shaf terdepan, bersikutan dengan jamaah lain demi mereguk nikmatnya taraweh di bulan Ramadan. Orang-orang ini sudah lama merindukan Ramadan because they know there are many blessing of the Ramadan month.

These people, tahu betul keutamaan yang ada di bulan Ramadan, that’s why mereka lebih rajin lagi dalam beribadah, berlelah-lelah dalam meraih takwa, menambah kedekatan dengan Al-Qur’an, giat tarawehan, itikaf,  mencari keberkahan dalam sahur dan saat berbuka merupakan waktu yang dinanti-nanti dengan syahdu, apalagi saat kita berbagi dalam iftor jamaai. Konsisten hingga takbir Idul Fitri berkumandang.

It’s very beautiful.

Sebenarnya blessing apa aja sih yang ada di bulan Ramadan?

Dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Ibnu Abu Anas mawla at-Taymiyyiin telah mengabarkan kepada saya, bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah Ra. berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW bersabda,

“Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta penyeru menyeru, ‘Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan” [HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Malik, al-Baihaqi, Ad-Darimi, Ibnu Hiban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dan Ath-Thabrani].

Oleh karena itu, di bulan ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan mengharapkan pengampunan dosa dari Allah SWT.

“Antara shalat-shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya akan menghapus dosa-dosa yang diperbuat seorang hamba selama ia menghindari dosa-dosa besar” [HR. Muslim].

Di bulan ini, semua kebaikan dilipat gandakan. This month also a good time to get in touch with Qur’an karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, tepatnya firman pertama turun pada 17 Ramadan.

“Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar [QS. Al-Qadr 1:5].

“Barang siapa yang shalat pada malam Lailatur Qadr karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni [HR. Bukhari Muslim].

Mengenai itikaf di 10 hari terakhir di bulan Ramadan, -balik lagi ke youtube-, seorang warga London mengatakan bahwa, if we think that there is something wrong in our life, the best thing to do is talk to the God. Just the two of us. We and Allah. So, at the last 10 days in Ramadan, I will vanish from my friends and social media to do itikaf. After that, we will feel refresh and could see the solution due to our problems.

Saya sendiri jadi merenung -sambil berhamburan titik-titik airmata tentunya-,
if we need something to fight and to celebrate, I think what we do in Ramadan, if we could stay away from our nafs, it’ll be something that worth to celebrate on Eid.

Since we know, the hardest battle is the one with our-self ego and lust.

The point is, kita harus berusaha memaknai Ramadan kembali, paham ilmu dan beramal dengan baik. Raih keuntungan dan keutamaan dalam Ramadan ini. Sehingga Ramadan dan Idul Fitri tidak hanya sekedar perayaan dan tradisi yang keceriaanya segera selesai setelah masa cuti kerja habis.

I myself have to dive more deep in this deen.

By being a muslim, life supposed to be easier and more peaceful. But we were influenced by manything in life like the culture, our environment, the way we raised, people around us. Belum lagi keyakinan yang mungkin lama tidak di charge membuat kita melakukan rutinitas dalam keyakinan kita sebagai sebuah tradisi saja. Hopefully I can find more light and get closer to Allah. Ameen.

Thanks for reminding me, good people.

 

Posted in Aktivitas Aisya

Aisya Diserbu Kelinci

‘Diserbu’, itulah kesan pertama saya saat kelinci-kelinci yang ada di Lactasari Mini Farm berlomba mendongakkan kepala untuk mendapat suapan dari Aisya.

Berbekal celemek dan kerangjang kecil berisi wortel, sosin dan sebotol susu dengan sigap Aisya melayani costumernya : Kelinci. Ya! Yang paling berani memberikan potongan wortel dan sosin ke mulut kelinci diantara Aisya, Bunda dan tante Arum adalah Aisya.

Gadis kecilku yang pemberani ini bisa dibilang suka banget sama yang namanya hewan. No wonder Aisya betah berlama-lama di kandang. Setiap pulang ke Arjasari, Aisya juga sering menarik-narik telunjuk saya, “Bunda, ayo ke kandang sapi”, ajaknya setiap pagi dan sore. Eits! jangan salah, di area kandang sapi juga banyak hewan lainnya seperti kambing, bebek, soang, ayam, burung, dan ikan. Bagi Aisya ini adalah ‘wahana’ yang attractive dan tak bosan menjelajahi kandang demi kandang di desa Pak Aki.

“Dimakan”, ucap Aisya saat kelinci-kelinci di roof top Paris Pan Java Mall itu mengunyah apa yang Aisya beri.

“Hihi, dimakan sama kelicinya”, lagi ujar Aisya tertawa tertawa geli.

The rabbits was so up and close with Aisya so she could touch their mouth when the feed them. Karena kelincinya banyak dan mereka makan dengan lahap, Aisya juga jadi semangat untuk menyuapi. Aisya juga memotong sosinnya jadi dua atau tiga bagian.

“Aisya, kenapa sosin-nya dipotongin?”, tanya saya.

“Iya, kalau enggak nanti rebutan”, jawab Aisya.

“Oh, supaya semua kelinci kebagian ya”, saya tersenyum, cerdas juga anak ini.

“Kelinciiiii, jangan rebutaaaan”, teriak Aisya sesekali saat kelinci-kelinci mengerubuti sosin di tangan Aisya.

Oh Gosh, what a priceless moments.

Bunda bahagia sekali melihat ekspresi Aisya yang antusias, semangat, dan telaten saat memberi makan kelinci-kelinci. It’s so obvious that it’s a right choice to take her here. Sebenarnya plan membawa Aisya kesini udah ada sejak beberapa waktu lalu, namun ke-pending karena letaknya yang cukup jauh dari rumah kalau ditempuh by angkot. Juga pengennya ada temen playdate gitu biar rame. Alhamdulillah hari ini tante Arum bisa ikut dan kami naik gojek supaya cepat sampai.

Belum juga habis isi keranjang, Bunda sudah tidak sabar membawa Aisya melihat kambing. Aisya berlari kecil mendekati kandang kambing, siap menyodorkan botol berisi susu ke mulut kambing. Sambutan para kambing sangatlah meriah, yang satu dan lain saling susul menyusul untuk meraih botol susu yang ditawarkan Aisya. Bahkan ada kambing yang sepertinya siap melompati pagar karena leher dan kakinya terjulur keluar demi mendapatkan setetes susu.

I pulled her back.
Simply because I’m panic! khawatir Aisyanya ketarik oleh kambing-kambingnya.

Alih-alih memberikannya pada kambing, saya menuntun Aisya kembali ke kandang kelinci yang meski ukurannya besar, namun lebih imut lah dari kambing. Dan membiarkan kelinci-kelinci tersebut taste the milk. Lalu petugasnya bilang kalau kelinci tidak diperbolehkan minum susu itu. Jadi kita balik lagi ke kandang kambing.

Tante Arum lah yang selanjutnya memberanikan diri maju dikit-dikit untuk memberikan susu pada kambing yang seem very thirsty. Tante berhasil!

It’s OK. Aku berani”, ucap tante Arum. Proving that she brave enough-not like me- dan juga meyakinkan kalau aman-aman aja kok, kambingnya nggak akan menyeruduk kita.

Karena bunda masih takut melepas Aisya, akhirnya “Bismillah”, bunda mendekat ke kandang kambing. Aisya dan Bunda memegang botol susu berbarengan. Yeay, akhirnya Aisya meminumkan susu pada kambing.

Selain kelinci dan kambing, hewan yang aktif mengeluarkan bunyi adalah sapi dan domba. Hanya ada dua sapi dan dua domba disana. Kandang sapi bersebelahan dengan kandang kelinci juga marmut. Sementara kandang domba bersebrangan dengan kandang kambing. Disana juga ada Siberian husky. Tapi kita hanya boleh memberikan makanan pada kelinci dan kambing. Selebihnya dilihat dan diajak berinteraksi dari luar kandang saja.

Aisya juga tertarik dengan saung kecil yang ada di sebelah kandang domba. Ada bangku kecil untuk duduk dan berfoto dengan background ‘Lactasari’.

“Bunda, dede renovasi dulu”,

“Rumahnya direnovasi”, kata Aisya mengitari saung kecil itu.

Oh, Aisya pasti teringat adegan di film Masha and The Bear saat mereka sedang merenovasi rumah.
Atap yang begitu dekat menstimulus Aisya untuk ‘ceritanya’ merenovasi bagian atas tersebut.

Tidak berhenti disitu, Aisya lalu duduk di bangku dan memperhatikan domba yang bermain kejar-kejaran sama di kandangnya sambil berbunyi “Mbeee, mbeee”. Tak lama petugasnya datang membawa banyak daun. Lalu hening, domba-nya khusyu menyantap hidangan siang.

“Aisya senang?”, tanya saya.

“Senang”, wajah Aisya berseri

“Mau kesini lagi kapan-kapan?”, tanya saya lagi.

“Mau”, jawabnya.

“OK, nanti kita kesini lagi ya sama Ayah. Sekarang Aisya cuci tangan dulu”, pinta saya.

Kami mencuci tangan di wastafel kemudian menukarkan tiket masuk dengan sebotol susu segar rasa cokelat. Petugasnya mengatakan, susu ini juga bisa dikonsumsi bayi, “Nggak pake bahan pengawet ko”, jelasnya.

Untuk masuk kesini, kami hanya membeli 1 tiket untuk Aisya. Harga 1 tiket adalah Rp. 60.000, sudah termasuk biaya untuk 1 orang pendamping. Tante Arum ikut masuk dan dihitung sebagai pendamping juga sehingga saya hanya perlu menambahkan Rp. 10.000 saja. Worth it lah buat dapet pengalaman yang menyenangkan bersama kelinci, kambing, sapi, domba, marmut dan Siberian husky. Kadang-kadang ada kadal yang lewat juga sih..

 

Posted in Aktivitas Aisya

Selasa di Pustakalana

Bunda ingin sekali mengajak Aisya feel the experience to feed the goat and rabbits di Lactasari Mini Farm PVJ. Sebetulnya, kandang Sapi-Kambing-Ayam-Bebek  banyak di sekitar rumah Pa Aki, Aisya bahkan pernah ngasih ‘jukut’ untuk kambing dan domba di Arjasari. It’s just I thought it would be more intense untuk meminumkan susu pada kambing di Lactasari Mini Farm dan kelinci yang lucu akan membuat Aisya very enthusiastic! Namun belum adanya teman yang bisa diajak playdate kesana, jadilah Selasa ini Aisya dan Bunda berkunjung ke perpustakaan anak di bilangan Taman Cibeunying. Teman saya, Ayu juga akan datang.

Saya membayangkan di Perpustakaan ini, pasti akan ada banyak anak which Aisya could share the curiosity and laugh, and maybe she will be more interested in books.

Sesampainya di Pustakalana, ketertarikan Aisya tertuju pada I describe it as mini playground-Rumahan kecil dengan perosotan-, yang ada di depan pintu masuk Simpul Library-nya. Aisya sangat asik bermain perosotan dan sesekali menggoda saya dengan mengatakan, “Bunda jangan ikut masuk ya”, seraya tersenyum sambil menutup pintu Rumahan lalu ber-sliding ria.

Saya mulai melirik jam, menimbang-nimbang mungkin sebaiknya Bunda dan Aisya let’s go aja ke PVJ, kalau Aisya memang inginnya main di playground aja. Karena di PVJ ada Miniapolis-playground yang lebih besar kan? It was when I ordered Gojek to take us to PVJ when she suddenly pull the door and said, “Bunda, dede mau masuk ke dalam perpus”.

Ups! Harus cancel ke driver-nya nih.

We’re in. Saya yang sedari di luar kurang memperhatikan kondisi di dalam mulai berbaur dengan ibu-ibu dan anak-anak di ruangan mungil ini. Beruntung sekali, saat kami masuk lagi ada workshop membuat boneka tangan dari kertas. Dan sebelumnya sudah ada prolog melalui Story Telling. Hooraaay! An activity for Aisya.

Pesertanya para krucils yang dibantu oleh mba-mba instruktur Pustakalana. Kertas yang digunakan adalah amplop cokelat (itu loh yang muat untuk angpau) dengan ujung atas tergunting dan menyisakan bagian bawah yang utuh dengan panjang amplop cukup untuk dimasuki tangan anak-anak.

We’ll make boneka beruang. Pertama-tama, Aisya dan anak-anak lain dipandu untuk memasangkan telinga pada ujung bawah amplop. Kini ujung bawah amplop yang sebelumnya sudah dilipat sedikit oleh instruktur menjadi bagian kepala boneka kertas. Pada pembuatan boneka kertas ini, Aisya lebih banyak bereskplorasi dengan lem dan perekatan. Next step, anak-anak diminta untuk merekatkan bagian dalam telinga yang berwarna hitam, menempelkan stiker mata, tangan, moncong juga hidung beruang dari kancing baju. For final touch, Aisya menghias boneka kertasnya dengan warna warni spidol. Tadaaa! Ini boneka kertas Aisya.

Pustakalana1

“Ayooo, boneka beruangnya dikasih nama”, ajak mba instruktur.

Adzan dzuhur berkumandang, Aisya larut dalam buku juga educational-game yang ada disana. Niat kami untuk pulang pun urung saat Aisya tetiba akrab dengan Ayla dan kakak-nya yang juga dipanggil Aisya. Dua gadis kesayangan Ayu dan Kresna, teman Bunda yang baru datang siang hari. Yes, our first daughter have the same name, Aisya. Oh thanks a bunch for sharing the food, this place, the ride Ayu and Kresna.

Sadar ada kakak yang namanya sama, my daughter introduce herself as “Jasmine”.

My Jasmine Aisya biasanya ga mudah langsung akrab dengan teman sebayanya, but this time they kinda match. Aisya berpelukan dengan Ayla, mereka bermain puzzle bersama juga berlari-larian. Sangat menarik melihat bagaimana Ayla dan Jasmine Aisya berinteraksi, awalnya ada rebut-rebutannya tapi ga sampai ada yang nangis, lama kelamaan Aisya mau berbagi bahkan mereka bekerjasama mencocokkan puzzle-puzzle hewan. Itu keren menurutku. Bravo Ayla and Jasmine Aisya!

A day well spent. Aisya mingle with new friends and having new experience today. When she gathered the circle to join other kids in creating a hand-paper-doll with the instructor, she stepped out of her comfort zone. I’m a proud mom and so happy!

Alhamdulillah.

Di Pustakalana biaya per kedatangan 10rb/anak. Untuk member ada harga khusus, bisa dilihat di flyer di bawah  ini ya. Kemarin sih dikasih tahu juga kalau mulai hari Rabu, 1 Juni 2016 harga member akan naik sebesar 10rb (udah include biaya peminjaman buku). Fyi, mayoritas buku di Pustakalana ini adalah buku anak berbahasa Inggris. Kalau baca di flyer, kegiatan rutin mingguan yang diadakan oleh Pustakana cukup variatif. Ada Yoga for mom and kids,  mendongeng dan workshop kriya. Wah hopefully next time bisa kesini lagi dan ikut kelas Yoga-nya. Bakal seru nih kalau Bunda yoga bareng sama Aisya🙂